Penulis Topik: Penyimpangan Pemikiran Abu Salma Al Atsari  (Dibaca 2049 kali)


Offline Hak Jawab

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Okt 2006
  • Tulisan: 16
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« pada: 04 Desember 2006, 08:36:15 »
Mengkritisi Jawaban Abu Salma
(Seputar Bedah Buku Siapa Teroris Siapa Khawarij)




Judul tulisan Ustadz Abu Salma Al Atsari: “Menjawab Tuduhan Meluruskan Kesalahpahaman”. Dimuat di-blog Abu Salma, dan disebarkan di forum MyQuran.org oleh beberapa ikhwan Salafi. Tulisan itu dua seri, menjawab bedah buku “Siapa Teroris Siapa Khawarij” (STSK) karya Ustadz Abduh Zulfidar Akaha di Universitas Brawijaya Malang, bedah buku di Masjid Dakwah Islam Matraman Jakarta, dan menjawab VCD bedah buku STSK tersebut di Masjid Al Furqan, Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia (DDII) di Jl. Kramat Raya 45 Jakarta. 

Sebelum mengemukakan catatan, saya ingin menyampaikan beberapa pesan, antara lain: (a) Ketika mengkritisi tulisan Abu Salma, tidak berarti saya menentang Ahlus Sunnah. Abu Salma dan kawan-kawan insya Allah Ahlus Sunnah, tetapi Ahlus Sunnah bukan hanya mereka. Ahlus Sunnah ada di berbagai tempat, baik yang tegas menyebut dirinya Ahlus Sunnah atau yang tidak. (b) Tulisan ini dan yang serupa dengannya dimaksudkan untuk membangun sikap dialogis dalam menyikapi perbedaan. Sejauh setiap orang memiliki hujjah, hendaklah pihak-pihak lain menghormatinya. (c) Saya yakin, tulisan-tulisan seperti ini sangat sulit untuk mengubah cara berpikir para ikhwan Salafi, sebab pendirian sudah terbentuk sangat kuat, kecuali jika Allah menghendakinya. Namun hal ini setidaknya menjadi bukti bahwa apa yang diklaim oleh Salafi selama ini mendapat tanggapan beragam dari Ummat Islam. Sebagian menerima klaim itu, sebagian lain tidak mampu berkomentar apa-apa, dan sebagian lagi menolak.

Dan terakhir, mohon maaf jika disini ditemukan hal-hal yang tidak berkenan di hati. Astaghfirullaha liy wa lakum, innahu Ghafurur Rahiim.


Berikut catatan-catatan yang bisa dikemukakan:


1.   Tulisan Ustadz Abu Salma berjudul “Menjawab Tuduhan Meluruskan Kesalahpahaman”. Secara umum, tulisan ini sudah bisa disebut sebagai bantahan (radd) terhadap acara bedah buku STSK. Sebagai bantahan bedah buku, sudah ada wujud-nya, tetapi apakah ia memadai untuk menjawab seluruh isu yang dibahas dalam bedah buku tersebut, itu perkara lain. Tiga acara bedah buku ini kalau ditotal mungkin bisa mencapai 10 jam pembicaraan. Berarti sangat banyak isu-isu yang harus dibahas disana, jika ingin hasil yang memuaskan. Namun, di kalangan Salafi, hal seperti ini sering diklaim sebagai bantahan yang sempurna. Dalam pembicaraan, mereka biasa mengatakan, “Tenang saja! Buku Abduh itu sudah dibantah oleh ustadz kita dengan dalil yang kokoh!” Jika ada bantahan, seharusnya ikhwan Salafi jangan cepat puas, tapi cobalah melakukan tarjih. Hal ini penting agar yang kita cari itu murni kebenaran, bukan hujjah-hujjah semu sekedar untuk memuaskan kebanggaan kelompok.   

2.   Abu Salma sangat sering menampilkan syair-syair Arab dalam tulisannya. Hal ini sebenarnya bagus, syair-syair itu akan semakin memperindah kualitas tulisan. Hanya saja yang patut dicatat, Abu Salma sering menempatkan syair-syair itu di awal-awal tulisan, sehingga dengan cara itu beliau berusaha mengokohkan posisi dirinya, dan secara halus mulai memojokkan pihak-pihak yang akan dibantahnya. Contoh dalam tulisan di atas ialah syair berikut: “Seandainya bukan penghinaan terhadap singa maka saya serupakan mereka dengannya. Akan tetapi singa jarang di dapat diantara binatang ternak.” Syair ini saja sudah mengandung tiga serangan, yaitu: Satu, kata ‘penghinaan’ yang menunjukkan maksud penulis. Dua, penyerupaan dengan singa. Tiga, sifat singa lebih tinggi dari binatang ternak. Ini serangan bertingkat tiga yang intinya memojokkan semua. Disarankan, kalau memuat syair Arab, letakkan ia di tengah-tengah atau di akhir tulisan, jangan di awal tulisan. Jadi, kemukakan dulu kekuatan hujjah-hujjah Anda, setelah itu baru perkokoh dengan syair yang tepat. Hal ini lebih fair daripada merasa “menang sebelum bertanding” karena dibantu oleh syair-syair.

3.   Secara keseluruhan ada 6 poin tuduhan yang dijawab oleh Abu Salma. Poin yang paling banyak dibahas ialah poin pertama, tentang istilah Salafi sebagai nisbat, selebihnya isu-isu dibahas secara ringkas. Dari banyak tulisan yang saya baca tentang kedudukan istilah Salafi, termasuk tulisan Syaikh Salim ‘Ied Al Hilaly dan Syaikh Ali Hasan Al Halabi, isinya rata-rata sama. Apa yang dilakukan Abu Salma bisa dikatakan menggabungkan semua tulisan-tulisan itu. Sebenarnya ada pembahasan panjang tentang perkara ini dari pihak yang tidak setuju, tetapi terlalu panjang jika dipaparkan disini. Disini cukup kita singgung satu pendapat saja, yaitu perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah. Dalam Majmu’ Fatawa, beliau mengatakan, “Tidak tercela orang yang menampakkan madzhab salaf dan dia menisbatkan diri kepadanya serta berbangga dengan madzhab salaf, bahkan wajib menerima hal tersebut menurut kesepakatan karena tidaklah madzhab salaf kecuali benar”. (Majmu’ Fatawa IV:149). (Komentar Abu Salma: Ucapan Syaikh, “menisbatkan diri kepadanya” maksudnya menisbatkan diri kepada madzhab Salaf, dan sebutan nisbat kepada madzhab Salaf adalah Salafiy).

CATATAN: Syaikhul Islam memulai perkataannya dengan kata laa ‘aiba, artinya tidak aib, tidak tercela, tidak hina, dsb. Kata seperti ini maksudnya tentu bukan: Hendaklah kalian, wajib bagi kalian, sunnah hukumnya, lebih afdhal, dsb. La ‘aiba itu tidak tercela, artinya boleh. Jika memang boleh, berarti sah-sah saja seseorang bernisbat ke istilah itu. Atau, boleh juga dia tidak memakai penamaan itu. Lalu bagaimana dengan Syaikhul Islam sendiri? Apakah beliau memakai nisbat As Salafi Al Atsari? Ternyata tidak. Hampir-hampir kita tidak pernah mendengar Syaikhul Islam menuliskan namanya, misalnya Taqiyuddin Abdul Halim Ibnu Taimiyyah As Salafi. Jika beliau mengatakan boleh, tetapi beliau tidak pernah memakai nisbat seperti itu, berarti perkara ini bukan termasuk penting menurut Ibnu Taimiyyah rahimahullah. Wallahu a’lam.

Bahkan pada nukilan di atas, cara menerjemahkannya perlu diperbaiki. Kalau melihat teks aslinya, mungkin yang lebih tepat seperti ini: “Tidak tercela bagi siapa yang menampakkan madzhab Salaf dan berintisab kepadanya, dan berbangga kepadanya, akan tetapi wajib baginya menerima hal itu (madzhab Salaf) dengan cara menyepakatinya, sebab madzhab Salaf itu tidak ada padanya, selain kebenaran.” Dalam soal intisab (memakai penamaan), Syaikhul Islam menghukuminya laa ‘aiba (tidak tercela), tetapi dalam menyepakati kebenaran madzhab Salaf, beliau menghukuminya wajib. Intinya, mengimani kebenaran manhaj Salafus Shalih lebih utama dari sekedar memakai nama Salafi.


« Edit Terakhir: 04 Desember 2006, 08:42:34 oleh Hak Jawab »

Offline Hak Jawab

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Okt 2006
  • Tulisan: 16
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #1 pada: 04 Desember 2006, 08:37:32 »
[color=b;ack]Mengkritisi Jawaban Abu Salma
(Seputar Bedah Buku Siapa Teroris Siapa Khawarij)
Lanjutan 1




4.   Setelah menyimpulkan tentang istilah Salafi (kesimpulan tuduhan pertama), Ustadz Abu Salma menukil perkataan Ustadz Abduh ZA, lalu mengomentarinya: “Apabila al-Ustadz (Abduh ZA. –pen) menafikan sebagai nisbat kepada madzhab salaf, maka berarti al-Ustadz telah jatuh kepada celaan terhadap mereka –para ulama sebelum Ibnu Taimiyah-. Karena apabila mereka tidak bernisbat kepada madzhab Salaf maka kepada apakah mereka bernisbat??”

CATATAN: Ustadz Abu Salma, Antum kan sering menasehati ikhwan Salafi tertentu dengan perkataan: “Ittaqillah ya Akhi!” Maka, saya pun mengharapkan Antum juga berhati-hati ketika mengomentari pernyataan orang lain. Perkataan Antum di atas jelas merupakan tuduhan kepada Abduh ZA. Antum menuduhnya TELAH MENCELA ulama-ulama sebelum Ibnu Taimiyyah rahimahullah. Sebenarnya apa yang disampaikan oleh Abduh ZA, hanyalah soal PENAMAAN (nisbat), bukan ruju’-nya seseorang kepada madzhab Salaf. Ulama-ulama sejak dulu ruju’ kepada madzhab Salaf, tetapi dalam soal nama, mereka kebanyakan tidak memakai nama As Salafi atau Al Atsari. Bahkan sampai saat ini banyak ulama-ulama Salafi yang tidak memakai nama itu. Contoh, Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali, Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i rahimahullah, Syaikh Yahya An Najmi, Syaikh Abdul Malik Ramadhani Al Aljazairi, dsb. Antum pernah melihat mereka menyebut namanya dengan nisbat As Salafi Al Atsari?

Antum berkata, “Karena apabila mereka tidak bernisbat kepada madzhab Salaf maka kepada apakah mereka bernisbat??” Akhi rahimakallah, Antum harus bedakan benar antara NISBAT dengan ITTIBA’. Nisbat itu memakai nama yang dikaitkan dengan perkara-perkara tertentu, sedangkan ittiba’ berarti mengikuti suatu ajaran tertentu. Kewajiban Syar’i yang kita terima ialah mengikuti (ittiba’) Salafus Shalih (Surat An Nisaa’: 115), adapun soal nama terserah masing-masing orang, asalkan baik dan terpuji.     

5.   Setelah menyebutkan pendapat Syaikh Shalih Fauzan Al Fauzan tentang esensi mengikuti manhaj Salaf, Abu Salma mengatakan: “Adapun jika maksudnya adalah sebagai penisbatan kepada madzhab salaf, sebagai pengakuan bahwa madzhab salaf adalah madzhab yang paling haq, bukan dalam rangka tazkiyatun lin nafsi apalagi hizbiyah. Untuk membedakan diri dari firqoh-firqoh yang sedang berkembang pesat di zaman ini, untuk membedakan diri dari hizbiyah yang membinasakan dimana tiap hizb bangga dengan apa yang ada pada mereka masing-masing, maka penisbatan dan penyebutan kata as-Salafiy, al-Atsariy, as-Sunniy atau yang semisalnya adalah suatu penisbatan terpuji.”

CATATAN: Ini adalah kalimat-kalimat yang membatalkan dirinya sendiri. Abu Salma mengatakan bahwa istilah Salafi bukan untuk mentazkiyah diri sendiri (menganggap diri suci, atau memiliki kemuliaan tertentu). Tetapi penjelasan selanjutnya menjelaskan bahwa kaum Salafi merasa lebih benar dari firqoh-firqoh, dari hizbi-hizbi yang ada, sehingga perlu identitas PEMBEDA. Kalau tidak bermaksud mensucikan diri di tengah Ummat Islam, buat apa harus diadakan identitas (penamaan) tertentu? Bahkan perhatikan kalimat berikut, “Untuk membedakan diri dari firqoh-firqoh yang sedang berkembang pesat di zaman ini, untuk membedakan diri dari hizbiyah yang membinasakan.” Firqah-firqah yang dimaksud tentu bukan Firqatun Najiyyah (kelompok yang selamat), sebab firqah terakhir ini jumlahnya satu (wahida), sedangkan Abu Salma menulis ‘firqah-firqah’. Lebih menarik lagi, Abu Salma mengatakan bahwa setiap hizb (partai) bangga dengan apa yang ada pada dirinya. Lalu bagaimana dengan Abu Salma sendiri yang sampai “jungkir-balik” membela istilah Salafi itu? Apakah itu juga bukan bagian dari membanggakan kelompok? Tanpa harus diberitahu pun, perbuatan itu akan mencerminkan isi hati. 

6.   Abu Salma mengatakan: “Karena Salafiy sejati tidaklah menvonis sesat, bid’ah, fasik bahkan kafir melainkan dengan ilmu dan kehati-hatian. Mereka tidaklah akan menerapkan hukum sebelum menegakkan syarat-syaratnya dan menghilangkan penghalang-penghalangnya. Mereka senantiasa berpijak atas dasar ilmu dan bashiroh. Apabila ada sekelompok kaum yang menyelisihi hal ini, maka ketahuilah, ia bukanlah salafiyah sedikitpun.

CATATAN: Mohon perhatikan kalimat terakhir, “Apabila ada sekelompok kaum yang menyelisihi hal ini, maka ketahuilah, ia bukanlah Salafiyah sedikit pun.” Jadi, disini ada Salafi sejati dan ada Salafi yang cuma ngaku-ngaku. Pertanyaannya, siapakah Salafi sejati? Apakah Abu Salma, guru-gurunya, dan teman-temannya masuk di dalamnya? Jika membaca kegigihan Abu Salma dalam membela istilah Salafi dan menyebutkan sifat-sifatnya, mudah disimpulkan bahwa Salafi sejati adalah diri mereka. Selanjutnya, bagaimana dengan Salafi palsu? Abu Salma menegaskan dengan kalimat, “IA BUKANLAH SALAFIYAH SEDIKIT PUN.” Sejak semula Abu Salma menegaskan bahwa Salafiyah adalah manhaj para Shahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in radhiyallahu 'anhum. Dengan kata lain ia adalah ajaran Islam itu sendiri. Bahkan ajaran Islam yang masih murni, ketika belum tercampur ajaran-ajaran lain. Jika seseorang atau sekelompok orang dikatakan BUKAN SALAFIYAH SEDIKIT PUN, berarti tidak ada kebaikan Islam dalam dirinya. Salafiyah adalah Islam, atau ia adalah Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Maaf Akhi, kalimat Antum itu sangat berat, karena disana ada kata SEDIKIT PUN. Padahal di kalangan ahlul bid’ah, di antara mereka masih ada yang menjalankan shalat lima waktu. Paling tidak kebaikan Salafiyah itu masih ada padanya, meskipun mungkin hanya sekian bagian. Ustadz Abu Salma harus berhati-hati ketika menulis, jangan tergoda oleh kalimat-kalimat hiperbola, tetapi tidak mengukur konsekuensi hukum di baliknya.
   

« Edit Terakhir: 04 Desember 2006, 08:43:33 oleh Hak Jawab »

Offline Hak Jawab

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Okt 2006
  • Tulisan: 16
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #2 pada: 04 Desember 2006, 08:38:29 »
Mengkritisi Jawaban Abu Salma
(Seputar Bedah Buku Siapa Teroris Siapa Khawarij)
Lanjutan 2




7.   Abu Salma berkata: “Adapun tuduhan salafiyin fanatik terhadap guru-guru, tokoh-tokoh dan ulama-ulamanya, ini juga tuduhan yang tidak benar. Karena salafiy tidak pernah fanatik kepada seorang pun kecuali kepada Rasulullah saw. Adapun fenomena yang ditangkap, tentang adanya sebagian oknum yang mengatasnamakan diri sebagai salafiy, lalu mereka menerapkan al-Wala’ (loyalitas) dan al-Baro’ (disloyalitas) kepada individu tertentu atas dasar fanatisme, maka ini bukanlah manhaj salaf.”
 
CATATAN: Akhi rahimakallah, secara teori, perkataan Antum ini benar. Tetapi dalam praktek, ia sangat sulit dicari buktinya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa ikhwan Salafi mencukupkan pengajian hanya dari ustadz-ustadznya sendiri, hadir di majlis-majlisnya sendiri, membaca majalah-majalahnya, membaca buku-buku dari penerbitnya, dan lebih sering menyebut nama-nama ulama tertentu saja. Ini sudah rahasia umum. Biarpun Antum mengingkari dengan 1000 alasan, tetapi kenyataan tidak mudah diubah. Sudah banyak diketahui, sebagian kalangan Salafi dekat dengan ulama-ulama Salafi dari Markaz Imam Al Albani. Salafi ini mengakui bahwa Syaikh Rabi’ Salafi, Syaikh Muqbil Salafi, Syaikh Aman Jami Salafi, Syaikh Yahya Najmi Salafi, tetapi mereka lebih condong ke ulama-ulama dari Markaz Imam Al Albani di Yordan. Bahkan Ustadz Abdurrahman At Tamimi (guru Abu Salma) dipercaya oleh murid-murid Al Albani untuk mengawasi peredaran buku-buku dari ulama-ulama di Markaz Al Albani yang beredar di Indonesia. Jika memang mereka hanya fanatik kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, tentunya tidak mencukupkan diri dengan majlis-majlis itu, tetapi juga mau melihat majlis-majlis lain. Toh, ukurannya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, sedangkan Ummat beliau di Indonesia ini banyak, bukan hanya Salafi. Tetapi langkah seperti ini jika dibicarakan akan segera ‘ditebas’ oleh tahdzir keras yang melarang mereka duduk-duduk dengan ahli bid’ah atau menimba ilmu darinya.

Ucapan Abu Salma: “…tentang adanya sebagian oknum yang mengatasnamakan diri sebagai salafiy, lalu mereka menerapkan al-Wala’ dan al-Baro’ kepada individu tertentu atas dasar fanatisme, maka ini bukanlah manhaj salaf.” Secara teori benar dan sudah seharusnya demikian. Tetapi dalam praktek, tidak selamanya begitu. Sampai ada seorang ustadz yang mengkritik, bahwa ada sebagian orang yang sangat fanatik kepada Syaikh Al Albani rahimahullah. Hingga jika beliau menghukumi suatu hadits sebagai shahih, dha’if, atau palsu, maka penghukuman beliau ini lebih dipercaya daripada yang dilakukan oleh Imam Tirmidzi dan imam-imam lainnya (selain Imam Bukhari dan Muslim). Padahal Salafi sangat kenal dengan prinsip berikut: “Setiap kebaikan itu dengan mengikuti As Salaf (para pendahulu yang shalih), dan setiap keburukan dengan mengikuti Al Khalaf (orang-orang jaman kemudian).” Dari segi jaman, Imam-imam hadits di atas adalah jaman Salaf.           

8.   Abu Salma mengomentari pernyataan Halawi Makmun bahwa Salafi sering menukil perkataan Syaikhul Islam, tetapi setelah dicek tidak ada perkataan itu. Abu Salma mengatakan: “Adapun tuduhannya bahwa salafy sering sekali mengatasnamakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, padahal setelah dicek ternyata Ibnu Taimiyah tidak mengatakan sebagaimana demikian keadaannya, maka ini juga tuduhan belaka yang tidak ada buktinya. Mana bukti atas tuduhan ini?!! Apabila ada bukti, maka diskusi dapat berlanjut, apabila tidak ada maka cukup sampai di sini.”

CATATAN: Perkataan Halawi Makmun bahwa Salafi SERING menukil perkataan Ibnu Taimiyyah, padahal beliau tidak mengatakan seperti yang dinukil. Hal ini perlu dibuktikan secara ilmiah. Siapa di antara Salafi yang berbuat seperti itu? Apakah perbuatan itu sering dilakukan, atau jarang-jarang, atau bahkan tidak pernah sama sekali. Tampaknya, Ustadz Halawi perlu membuktikan kata SERING di atas. Tetapi dalam kasus yang menimpa Syaikh Ali Hasan Al Halabi, memang beliau pernah menukil perkataan Ibnu Taimiyyah, padahal Ibnu Taimiyyah tidak mengatakan perkataan itu. Dari buku Tahdzir Fitnatut Takfir, yang disusun Syaikh Ali Hasan, di halaman 17-18, beliau menukil perkataan palsu dari Ibnu Taimiyyah. Beliau juga membelokkan perkataan Ibnu Katsir dan Syaikh Muhammad Ibrahim rahimahumallah dari tempatnya. Hal ini berdasarkan fatwa Lajnah Daimah Saudi, No. 21517, tanggal 14 Jumadits Tsani 1421 H. Contoh yang mirip kasus ini ialah buku Syaikh Khalid Al Anbari yang berjudul Al Hukmu bi Ghairi Ma Anzalallah. Lajnah Daimah juga menurunkan fatwa pelarangan terhadap peredaran buku tersebut. Jadi buktinya ada, bukan hanya asal menuduh. Namun kalau diklaim bahwa banyak Salafi yang melakukan perbuatan serupa, khususnya ketika menukil perkataan-perkataan Ibnu Taimiyyah, saya tidak tahu.
 
« Edit Terakhir: 04 Desember 2006, 08:44:55 oleh Hak Jawab »

Offline Hak Jawab

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Okt 2006
  • Tulisan: 16
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #3 pada: 04 Desember 2006, 08:39:25 »
Mengkritisi Jawaban Abu Salma
(Seputar Bedah Buku Siapa Teroris Siapa Khawarij)
Lanjutan 3



           
9.   Abu Salma mengatakan: “Dengan demikian, ketika fitnah perpecahan dan perselisihan datang bertubi-tubi, bid’ah dan penyimpangan semakin menyebar, maka adalah suatu hal yang niscaya, menguji manusia dengan kesesuaian mereka terhadap sunnah, dan memilah-milah guru di dalam menuntut ilmu. Inilah sikap salafiyun yang sering disalahartikan dengan fanatisme terhadap ulama-ulama mereka saja. Inilah sikap salafiyun yang sering disalahpersepsikan dengan menyibukkan diri untuk mencari-cari kesalahan kelompok-kelompok Islam saat ini, padahal mereka hanyalah bermaksud menguji kesesuaian kelompok-kelompok tersebut terhadap as-Sunnah.”

CATATAN: Dalam buku Al Hatstsu ‘Alat Tib’is Sunnah Wa Tahdziri Minal Bida’i Wa Bayanu Khataraha, karya Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad, seperti yang diterjemahkan Abu Salma sendiri, lalu dimuat di situs pribadinya. Disana Syaikh Abdul Muhsin mensinyalir adanya bid’ah baru, yaitu menguji manusia. Jika seseorang “lulus” diuji dengan sekian pertanyaan, maka dia termasuk Ahlus Sunnah; Jika tidak “lulus”, maka posisinya masuk golongan ahli bid’ah. Menguji manusia yang dimaksudkan oleh Abu Salma di atas apakah seperti kenyataan yang dikatakan oleh Syaikh Abdul Muhsin itu? Wallahu a’lam. Jika seandainya perkara pengujian ini benar, siapa yang berhak menguji manusia? Apakah Salafi berhak menguji pihak-pihak di luar Salafi? Jika berhak, apakah Salafi sudah mewakili gambaran pengamalan Sunnah yang sempurna? Jika Salafi merasa paling Sunnah, mana yang seharusnya ditempuh, menguji manusia atau mendakwahi mereka? Jika kelompok-kelompok di luar Salafi memiliki sekian kesalahan, apakah Salafi bersih sama sekali dari kesalahan sehingga layak menjadi “penguji”? Dalam kalimat Antum di atas, jelas ada ketakaburan besar. Seolah yang memegang Sunnah di kalangan Ummat ini hanya kalangan Salafi. Lebih ironinya, jika Salafi mendapat kritik dari luar Salafi, meskipun dikritik berdasarkan Sunnah, para pengeritiknya serta-merta dituduh sebagai anti Sunnah, tidak sepakat dengan manhaj Salaf, dangkal ilmu, tidak bisa berdalil, pendukung Hizbi, pemecah-belah, dll. Mereka boleh bebas mengeritik, tetapi kalau dikritik emosi.

Coba perhatikan penggalan kalimat Abu Salma yang terakhir, “…padahal mereka (Salafi –pen.) hanyalah bermaksud menguji kesesuaian kelompok-kelompok tersebut terhadap as-Sunnah.” Masya Allah, ini adalah tazkiyah (penyucian diri) yang luar biasa. Satu ayat saja dari Al Qur’an sebagai komentarnya: “Dan demikianlah Kami jadikan kalian sebagai Ummat pertengahan (adil dan pilihan), agar kalian menjadi saksi atas perbuatan manusia dan agar Rasul (Nabi Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kalian.” (Surat Al Baqarah: 143). Disini, yang berhak memegang amanah menguji Ummat Islam adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Adapun setelah beliau wafat, amanah itu dipegang oleh para ulama waratsatul anbiya’ (pewaris Nabi). Ulama tersebut bisa darimana saja, tidak harus dari Yordan, Yaman, atau Saudi. Siapa saja yang paling kuat hujjah-nya menurut Kitabullah dan Sunnah shahihah, dia lebih layak diikuti. Demikianlah karakter Al Jamaah seperti yang disifati oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu 'anhu sebagai: “Bersepakat atas kebenaran meskipun engkau seorang diri, maka engkau adalah Al Jamaah ketika itu.”         
   
10.   Ketika mengomentari perkataan Bapak Budi Azhari, dari DPW PKS Jakarta, dimana beliau mengatakan bahwa ada yang lebih kasar dari Syaikh Rabi’ Al Madhali, yaitu Syaikh Muhammad Aman Jami. Abu Salma mengatakan: “Ucapan Pak Budi Azhari bahwa Syaikh Muhammad Aman al-Jami rahimahullahu lebih kasar daripada Syaikh Rabi’ bin Hadi hafizhahullahu dan syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullahu, adalah berangkat dari sikap apriori, kebencian dan kejahilannya terhadap hakikat Syaikh Muhammad Aman al-Jami. Padahal, tidak musti setiap kekasaran dan ketajaman lisan pasti buruk. Apalagi apabila ditujukan kepada ahlul bid’ah pengagung kesesatan, kesyirikan dan kebid’ahan yang keras kepala.

CATATAN: Perhatikan kalimat terakhir, “Apalagi apabila ditujukan kepada ahlul bid’ah pengagung kesesatan, kesyirikan dan kebid’ahan yang keras kepala.” Siapakah ahlul bid’ah yang mengagungkan kesesatan, kesyirikan, dan kebid’ahan ini? Tentu saja yang dimaksud Abu Salma adalah PKS atau Ikhwanul Muslimin (IM). Mengapa PKS? Sebab pihak yang memiliki korelasi dengan bahasan isu di atas ialah IM, bukan lainnya. Saran saya, hati-hati ustadz atas ucapan Antum! Perkataan Antum bisa berkonsekuensi TAKFIR terhadap pihak yang dituduh sebagai pengagung kesesatan, kesyirikan, dan bid’ah. Melakukan kesesatan saja salah, apalagi mengagungkan kesesatan? Ingat selalu, syirik itu merupakan pembatal pertama keimanan. Bahkan Syaikh Bin Baz rahimahullah dalam bukunya membahas pembatal lain, yaitu kafir hukumnya bagi orang-orang yang tidak mengkafirkan orang musyrik. Kalau Antum sebut disini ada kelompok yang mengagungkan kesesatan, kesyirikan, dan kebid’ahan sekaligus, apalagi yang bisa dikatakan? Apakah mereka masih bisa dianggap Muslim? Hati-hati Ustadz, jangan-jangan Antum mulai tergoda dengan manhaj-nya Luqman Ba’abduh.


« Edit Terakhir: 04 Desember 2006, 08:46:16 oleh Hak Jawab »

Offline Hak Jawab

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Okt 2006
  • Tulisan: 16
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #4 pada: 04 Desember 2006, 08:40:27 »
Mengkritisi Jawaban Abu Salma
(Seputar Bedah Buku Siapa Teroris Siapa Khawarij)
Lanjutan 4


 
 
11.   Abu Salma: “Tentu saja Pak Budi Azhari akan kebakaran “kumis”, karena syaikh Muhammad Aman al-Jami rahimahullahu adalah ulama ahlus sunnah penghancur kebid’ahan, kesesatan, tahazzub, ta’ashshub, bid’ah, kesyirikan dan segala model penyimpangan lainnya.”

CATATAN: Ustadz, mohon Antum jangan lepas kendali! Kontrol diri dengan baik. Perkataan Antum ini menyalahi TAUHID. Tidak ada yang menghancurkan kebathilan atau memenangkan kebenaran, selain Allah Ta’ala. Dalam Al Qur’an: “Bersabarlah (wahai Muhammad), dan tidaklah kesabaranmu itu, melainkan karena (pertolongan) Allah.” (Surat An Nahl: 127). Lebih tepat kita katakan, “Dengan hujjah Syaikh Aman Jami, alhamdulillah Allah hancurkan bid’ah, dhalal, syirik, dan lainnya.” Masak Salafi tidak peka dengan perkara seperti ini?

Lebih parah lagi, lihatlah kalimat di atas, “…penghancur kebid’ahan, kesesatan, tahazzub, ta’ashshub, bid’ah, kesyirikan dan segala model penyimpangan lainnya.” Masya Allah, apakah ini ciri Salafi? Apakah ini ciri dai penyeru tauhid? Laa quwwata illa billah. Akhi, Antum seperti orang Rafidhah (Syiah) yang memberikan sifat-sifat Uluhiyyah kepada makhluk. Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun. Padahal para ulama Sunnah itu kalau memuji seseorang, setelahnya mereka selalu berkata, “Kami tidak mensucikan seseorang atas Allah.”

Jika Syaikh Aman Jami penghancur segala model penyimpangan, lalu apa peranan Allah Ta’ala setelah itu? Apakah Allah berhenti berperan mengalahkah kebathilan, lalu menyerahkan amanah itu kepada Syaikh Aman Jami? Inna lillah wa inna ilaihi ra’jiun. Antum ini terlalu terbawa oleh emosi sehingga hal-hal mendasar seperti ini dilupakan.

Syaikh Muhammad Aman Jami hanyalah manusia biasa. Kalau beliau memiliki bantahan-bantahan terhadap penyimpangan, paling hanya sebagian bantahan, bukan seluruhnya. Lagi pula, beliau bukan orang pertama dalam hal ini. Menurut informasi yang saya terima, karya tulis beliau tidak banyak. Bantahan buku tentu sifatnya teori, bukan penghancuran kebathilan secara sempurna. Untuk menghancurkan kebathilan tentu dibutuhkan kekuatan, lebih dari sekedar hujjah-hujjah dalam buku. Bahkan seandainya Syaikh Aman Jami terjun dalam amar makruf nahi munkar menentang kebathilan, hal itu lingkupnya di Kerajaan Saudi. Sedangkan penyimpangan itu ada di mana-mana, sejak dari Andalusia (Spanyol) sampai ke Indonesia. Hal ini semakin menjadi bukti bahwa perkataan penghancur segala model penyimpangan itu adalah kebathilan besar yang harus diingkari. Ia tidak benar dari segala sisi. Hanya Allah saja yang berkuasa menghancurkan kebathilan di seluruh permukaan bumi.

Perhatikan ayat berikut: “Dan Allah memusnahkan kebathilan dan meneguhkan kebenaran dengan kalimat-kalimat-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang ada di dada.” (Surat As Syuraa: 24). Perhatikan juga ayat ini: “Akan tetapi Kami melontarkan yang hak kepada yang bathil, maka serta-merta ia (yang bathil itu) lenyap. Kecelakaan bagi kalian karena mensifati (Allah dengan Sifat-sifat yang tidak layak).” (Surat Al Anbiyaa’: 18).     

12.   Ketika mengomentari Halawi Makmun, Abu Salma mengatakan: “Namun, ada satu hal yang tampaknya perlu sedikit diberi catatan, yaitu penyebutan istilah salafi Yamani. Iya, istilah ini mulai terkenal di kalangan kaum muslimin semenjak buku yang ditulis oleh saudara Abu Abdurrahman ath-Thalibi, “Dakwah Salafiyah Dakwah Bijak” turun di pasaran. Sebutan ini bagaikan gaung bersambut, hampir setiap harokiyin mengenal istilah ini dan menyebutkannya, tidak terkecuali juga al-Ustadz Abduh Zulfidar Akaha. Sesungguhnya, istilah seperti ini adalah suatu tafriq (pemecahbelahan) dan taqsim (pemilah-milahan) yang tidak dikenal sebelumnya. Taqsim semacam ini adalah taqsim yang buruk dan jelek.”

CATATAN: Alhamdulillah, ana sudah siapkan kajian tersendiri terhadap pernyataan Antum ini. Kajiannya cukup panjang, meskipun pangkalnya hanya istilah “Salafi Yamani”. Sekedar sebagai gambaran, dalam terjemah buku Al Hatstsu ‘Alat Tib’is Sunnah, karya Syaikh Abdul Muhsin Abbad, yang ana peroleh dari blog Abu Salma (milik Antum). Disana Abu Salma memberikan catatan kaki terhadap naskah itu sebanyak 18 catatan kaki. Di catatan kaki no. 16, Abu Salma mengatakan: “…Syaikh al-Allamah Abdul Muhsin al-Abbad telah menjelaskan kekeliruan klaim Jarh wa Ta’dil ini dalam transkrip tanya-jawab beliau dengan seorang YAMANI, yang dimuat di situs www.calltoislam.com (Forum). Silakan dirujuk karena besar manfaatnya.” Dengan demikian, sebenarnya Abu Salma tidak keberatan dengan istilah Yamani itu. Ini buktinya, beliau juga menyebut istilah Yamani. Tinggal sekarang, Antum akui mereka sebagai Salafi atau tidak? Jika dianggap Salafi berarti istilah Salafi Yamani tidak masalah. Toh, Antum juga mengatakan istilah itu. Tetapi jika mereka sudah dianggap bukan Salafi alias ahlul bid’ah, maka istilah yang saya pakai masih relatif lebih lunak. Sebagai gambaran, misalnya datang seorang pemuda Salafi dari Yaman, lalu kita katakan kepadanya, “Anta Salafi Yamani li annaka min diyari Yaman.” (Anda ini Salafi Yamani, sebab Anda berasal dari negeri Yaman). Apakah salah kalimat ini? Perkara ini akan dirinci panjang-lebar, insya Allah.
 
« Edit Terakhir: 04 Desember 2006, 08:47:08 oleh Hak Jawab »

Offline Hak Jawab

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Okt 2006
  • Tulisan: 16
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #5 pada: 04 Desember 2006, 08:41:20 »
Mengkritisi Jawaban Abu Salma
(Seputar Bedah Buku Siapa Teroris Siapa Khawarij)
-Selesai-




13.   Abu Salma: “Adapun tuduhan bahwa al-Ustadz Luqman Ba’abduh cs. adalah teroris dan khowarij sesungguhnya, maka tidak ada kata yang patut diucapkan melainkan sang mubaligh Halawi Makmun sedang mengigau dan bercermin, karena dia sedang menuduh dirinya sendiri. Bukankah dia sendiri yang mengadopsi manhaj ‘takfir’ (baca : takpir), menyesat-nyesatkan dan mudah menvonis?!! Saya telah melihat rekaman VCD bedah buku “Siapa Teroris Siapa Khowarij” yang juga dihadiri oleh sang Mubaligh, dan sungguh sangat menyedihkan sekali, ada seorang mubaligh yang sangat arogan, emosional dan yang berpemahaman takfiri seperti dirinya menghujat dirinya sendiri…”

CATATAN: Ini adalah perkataan serius dari Abu Salma. Sungguh, saya telah membaca buku Mereka Adalah Teroris  karya Luqman Ba’abduh, cetakan II, yang sudah diperbaiki disana-sini. Di dalamnya benar-benar saya temukan pemikiran TAKFIR Luqman Ba’abduh kepada Ummat Islam di negara-negara Muslim tertentu. Nanti insya Allah akan saya tunjukkan dimana bukti-bukti takfir itu. Sebagian sudah disebutkan Ustadz Abduh ZA dalam bukunya, STSK. Dalam beberapa kesempatan saya perhatikan, Abu Salma cukup membela posisi Luqman Ba’abduh. Lihatlah, betapa sinisnya Abu Salma kepada saya, tetapi betapa lunaknya beliau kepada Luqman Ba’abduh. Sekalian saja, nanti akan saya tunjukkan dimana letak sikap INKONSISTEN Ustadz Abu Salma ini menghadapinya kelompok Luqman Ba’abduh.

Paling tidak Akhi, coba Antum baca tulisan Ustadz Salafi lainnya, yaitu Ustadz Arifin Badri dan Ustadz Firanda Andirja. Disana beliau juga menolak pemikiran takfir Luqman Ba’abduh. Jika Antum benar-benar ingin menegakkan hujjah atas ahlul bid’ah, ini kesempatan Antum mengingatkan Luqman Ba’abduh Cs. Jika Antum tidak berani bersikap tegas terhadap mereka, seperti Antum selama ini tegas kepada kalangan Haraki/Hizbi, berarti sikap bara’ah Antum terhadap “ahlul bid’ah” sifatnya TEBANG-PILIH. Mana yang tidak suka ditebang, mana yang suka disayang. Para Ahlus Sunnah jelas harus menentang pemikiran takfir dan termasuk pihak-pihak yang membelanya.

14.   Abu Salma: “Kepada sang mubaligh (Halawi Makmun –pen), saya hanya ingin mengucapkan: Bila kejelekan menampakkan kedua taringnya pada suatu kaum, maka mereka akan menyerangnya secara berkelompok dan sendiri-sendiri.”

CATATAN: Ini adalah sebuah sidiran. Seolah, selama ini muncul gelombang kritikan beruntun kepada Salafi. Kritikan-kritikan itu dianggap sebagai serangan-serangan, baik secara perorangan atau berkelompok. Sebenarnya, sampai disini posisi manhaj Salafus Shalih (Ahlus Sunnah Wal Jamaah) tetap kokoh seperti sedia kala, sebab sasaran kritik itu memang bukan kepada manhaj Salaf, tetapi kepada suatu kaum yang sering mengklaim paling “Salafiyah”. Bagi Abu Salma dan kawan-kawan, kalau merasa bahwa menguji manusia dengan Sunnah adalah suatu keniscayaan, maka kritikan-kritikan seperti ini tentu akan diterima dengan lapang-dada. Semoga. Allahumma amin.



Secara umum, tulisan Abu Salma di atas sudah memadai untuk disebut sebagai bantahan. Tetapi nilai bantahan itu kurang jika dikaitkan dengan 3 acara bedah buku di Universitas Brawijaya Malang, di Matraman Jakarta, dan di DDII Jakarta (format VCD). Khususnya untuk isu-isu yang disampaikan oleh Ustadz Halawi Makmun, Abu Salma hanya memberikan komentar ringkas. Padahal disana ada hal-hal fundamental yang perlu dijawab dengan hujjah yang jelas. Dan dari keseluruhan bantahan ini, Abu Salma terjatuh dalam banyak kesalahan, hingga kesalahan yang sangat fatal yang para Ahlus Sunnah seharusnya selamat darinya. Siapa yang menyangka bahwa di sela-sela tulisan Abu Salma tersebut bisa ditemukan benih-benih takfir? Semoga hal itu segera disadari dan diakhiri sesegera mungkin. Allahumma amin.

Kepada Abu Salma dan para Salafiyun, mohon jangan marah karena pembahasan seperti ini. Jika Antum berkeyakinan bahwa membantah kebathilan adalah termasuk jihad, mudah-mudahan perkara ini termasuk di dalamnya. Semula saya hanya ingin berkomentar tentang istilah “Salafi Yamani”, tetapi setelah mencermati lebih dalam, ternyata ada banyak masalah dalam tulisan berjudul “Membantah Tuduhan, Meluruskan Kesalahpahaman” itu. Oleh karena itu perkara ini perlu didahulukan sebelum lainnya. Jika ada bagian-bagian yang kurang berkenan, silakan ditanggapi. Demikian yang bisa dikemukakan. Afwan katsiran atas semua kesalahan dan kekurangan. Syukran jazakumullah atas semua perhatiannya.

Wallahu a’lam bisshawaab. Washallallah ‘ala Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabih ajma’in. Walhamdulillah Rabbil ‘alamin. Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakaatuh.




Abu Abdurrahman (min thulabil ilmi)
[26 November 2006].

« Edit Terakhir: 04 Desember 2006, 08:51:04 oleh Hak Jawab »

Offline fei shin muslim

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 2.440
  • Lokasi: klaten-bandung-jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • Hanya manusia biasa
    • Lihat Profil
« Jawab #6 pada: 04 Desember 2006, 08:44:16 »
ok..
kita kan yari kesepakatan dan saling menasehati ya akh.....
Karena Al Haq itu Lebih kami Cintai

Akan lahir dari ilmu: kemuliaan walaupun orangnya hina, kekuatan walaupun orangnya lemah, kedekatan walaupun orangnya jauh, kekayaan walaupun orangnya fakir, dan kewibawaan walaupun orangnya tawadhu'

Wahab bin Munabbih - rahimahullah

Offline Abu Al-Jauzaa

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.466
  • Jenis kelamin: Pria
  • Namaku : Abu Al-Jauzaa'
    • Lihat Profil
    • Blog Abu Al-Jauzaa'
« Jawab #7 pada: 04 Desember 2006, 10:17:28 »
membaca tulisan pak abu abdirrahman ath-thalibi,...... ana serasa membaca tulisan-tulisan umumnya ikhwah MyQ. Umuuum sekali. Dan maaf jika ana katakan : Tidak ilmiah.
Kutip
4.   Setelah menyimpulkan tentang istilah Salafi (kesimpulan tuduhan pertama), Ustadz Abu Salma menukil perkataan Ustadz Abduh ZA, lalu mengomentarinya: “Apabila al-Ustadz (Abduh ZA. –pen) menafikan sebagai nisbat kepada madzhab salaf, maka berarti al-Ustadz telah jatuh kepada celaan terhadap mereka –para ulama sebelum Ibnu Taimiyah-. Karena apabila mereka tidak bernisbat kepada madzhab Salaf maka kepada apakah mereka bernisbat??”

CATATAN: Ustadz Abu Salma, Antum kan sering menasehati ikhwan Salafi tertentu dengan perkataan: “Ittaqillah ya Akhi!” Maka, saya pun mengharapkan Antum juga berhati-hati ketika mengomentari pernyataan orang lain. Perkataan Antum di atas jelas merupakan tuduhan kepada Abduh ZA.
Terlihat antum tidak cermat dalam menelaah gaya bahasa yang disampaikan akh abu salma. Sebenarnya gaya bahasa ini juga disampaikan ustadz arifin dan firanda ketika mengomentari tulisan akh Abduh ZA. Sama. Banyak menggunakan kata "apabila". Jawaban itu ingin memberikan gambaran yang jelas, sehingga ia (abu salma) ingin membantah dengan segala kemungkinan jawaban. Silakan ikhwah semua melihat gaya bahasa Abu Salmaa secara keseluruhan di situsnya.
Kutip
Ulama-ulama sejak dulu ruju’ kepada madzhab Salaf, tetapi dalam soal nama, mereka kebanyakan tidak memakai nama As Salafi atau Al Atsari. Bahkan sampai saat ini banyak ulama-ulama Salafi yang tidak memakai nama itu. Contoh, Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali, Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i rahimahullah, Syaikh Yahya An Najmi, Syaikh Abdul Malik Ramadhani Al Aljazairi, dsb. Antum pernah melihat mereka menyebut namanya dengan nisbat As Salafi Al Atsari?
Betul,....... namun sebagaimana telah disebutkan oleh akh abu salma, bahwa permasalahan pembahasan adalah tentang penisbatannya. Syaikh Bin Baaz walaupun masyhur tidak memakai "al-atsary" atau "as-salafy" telah memfatwakan bahwasannya nisbat nama tersebut adalah boleh. Sebagian besar telah dijawab oleh akh Abu Salmaa. Dan mengenai nama itu sendiri (yaitu as-salafy atau al-atsary) yang dipakai setelah nama asli, para ulama salafy juga telah memberikan pandangannya yang berbeda-beda. Contoh, ana pernah membaca perkataan Syaikh Rabi' bahwasannya pemakaian nama al-atsary atau as-salafy dibelakang nama asli itu bukan suatu kewajiban. Namun menisbatkan kepada istilah "as-salafy" atau "al-atsary" dalam pemahaman beragama, maka itu adalah wajib. Nampaknya pemahaman ini yang belum antum resapi sehingga komentar-komentar antum justru yang terlihat rancu.
Kutip
6.   Abu Salma mengatakan: “Karena Salafiy sejati tidaklah menvonis sesat, bid’ah, fasik bahkan kafir melainkan dengan ilmu dan kehati-hatian. Mereka tidaklah akan menerapkan hukum sebelum menegakkan syarat-syaratnya dan menghilangkan penghalang-penghalangnya. Mereka senantiasa berpijak atas dasar ilmu dan bashiroh. Apabila ada sekelompok kaum yang menyelisihi hal ini, maka ketahuilah, ia bukanlah salafiyah sedikitpun.”

CATATAN: Mohon perhatikan kalimat terakhir, “Apabila ada sekelompok kaum yang menyelisihi hal ini, maka ketahuilah, ia bukanlah Salafiyah sedikit pun.” Jadi, disini ada Salafi sejati dan ada Salafi yang cuma ngaku-ngaku. Pertanyaannya, siapakah Salafi sejati? Apakah Abu Salma, guru-gurunya, dan teman-temannya masuk di dalamnya? Jika membaca kegigihan Abu Salma dalam membela istilah Salafi dan menyebutkan sifat-sifatnya, mudah disimpulkan bahwa Salafi sejati adalah diri mereka.
Ana juga tidak habis pikir perkataan abu salma di atas juga dikritisi oleh akh abu abdirrahman. Secara esensi sebenarnya telah betul, dimana akh abu salma telah menjelaskan kaidah-kaidahnya. Yang lucunya adalah akh abu abdirrahman memberikan semacam polemik dengan pertanyaan : "Apakah salafy sejati itu adalah akh abu salma, guru-gurunya, dan teman-temannya ?". Inilah yang nampaknya telah dikembangkan. Pertanyaan serupa itu seperti halnya jikalau kita ditanya : "Apakah muslim sejati itu seperti antum, guru-guru antum, dan teman-teman antum ?". Sebenarnya ini adalah pertanyaan retorika belakan yang tidak perlu dijawab. Akh abu abdirrahman ini nampaknya mencari-cari apa yang telah jelas dan kemudian menampakkannya sehingga ia kesankan ini merupakan sesuatu hal yang samar/rancu. Akh abu abdirrahman, jikalau antum tanya kepada ikhwah salafy : Apakah antum salafy sejati ? niscaya mereka "berat" untuk menjawab. Karena apa ? itu lho ada embel-embel sejati. Ini sama halnya ketika ada pembahasan masalah istirja' ketika ada pertanyaan : "Apakah antum mukmin ?".
Maka jikalau antum paksanakan untuk bertanya, maka jawabannya adalah : "insyaAllah, kami adalah seorang salafy". Sama dengan jawaban : "insyaAllah, kami adalah mukmin". Baca pembahasan ini dalam beberapa kitab aqidah.
Kutip
7.   Abu Salma berkata: “Adapun tuduhan salafiyin fanatik terhadap guru-guru, tokoh-tokoh dan ulama-ulamanya, ini juga tuduhan yang tidak benar. Karena salafiy tidak pernah fanatik kepada seorang pun kecuali kepada Rasulullah saw. Adapun fenomena yang ditangkap, tentang adanya sebagian oknum yang mengatasnamakan diri sebagai salafiy, lalu mereka menerapkan al-Wala’ (loyalitas) dan al-Baro’ (disloyalitas) kepada individu tertentu atas dasar fanatisme, maka ini bukanlah manhaj salaf.”
 
CATATAN: Akhi rahimakallah, secara teori, perkataan Antum ini benar. Tetapi dalam praktek, ia sangat sulit dicari buktinya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa ikhwan Salafi mencukupkan pengajian hanya dari ustadz-ustadznya sendiri, hadir di majlis-majlisnya sendiri, membaca majalah-majalahnya, membaca buku-buku dari penerbitnya, dan lebih sering menyebut nama-nama ulama tertentu saja. Ini sudah rahasia umum. Biarpun Antum mengingkari dengan 1000 alasan, tetapi kenyataan tidak mudah diubah.
Ini adalah haq akhi. Dan sesuatu hal yang wajar jikalau ikhwah salafy mengikuti ulama yang terpercaya, yang kokoh ilmunya, dan yang selamat pemahaman serta aqidahnya. Banyak sekali perkataan para ulama terdahulu tentang kaidah menuntut ilmu ini. Mungkin salah satunya yang dapat ana nukil adalah perkataan dari Adl-Dlahhak bin Mujahim :
ﻪﻨﻮﺫﺨﺄﺗ ﻦﻤﻋ ﺍﻭﺮﻈﻨﺎﻔ  ﻦﻳﺪ ﻢﻠﻌﻠﺍ ﺍﺫﻫ ﻦﺇ
"sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Maka lihatlah kepada siapa kamu mengambilnya".
Ini adalah perkataan yang haq insyaAllah. Dan ini bukan perkataan yang menunjukkan kefanatikan.
Apakah dengan pernyataan antum di atas antum ingin mengatakan bahwa orang salafy hendaknya juga membaca buku tokoh2 IM seperti Sayyid Quthb, Hasan Al-Banna, Yusuf Al-Qaradlawi, dan yang lainnya ? Apakah ini yang antum maksud ? Apakah dengan ini antum ingin menganjurkan kepada ikhwah Salafy untuk membaca kitab Mafahimnya Hizbut-Tahrir, Fadlaailnya Jama'ah Tabligh, dan yang lainnya ? Justru perkataan antum menggambarkan ketidakfahaman antum tentang hal ini.
Dan sesuatu hal yang wajar jika ikhwah salafy tidak bermajelis dengan para asatidz IM, HT. JT, dan yang lainnya. Karena mereka tahu beberapa penyimpangan yang mereka lakukan, terlepas antum setuju atau tidak. Dan ini bukanlah fanatik akhi !! Tidak perlu ana ungkapkan satu persatu kebathilan dari beberapa kelompok dakwah tersebut beserta tokohnya. Di net pun bisa antum dapatkan dengan mudah. Dan yang satu, apakah ikhwah salafy melazimkan suatu perkara yang di situ tidak ada dalil shahih dan penjelasannya dari ulama salaf ? Dan sekali lagi, ini bukan fanatik.
Kutip
Sampai ada seorang ustadz yang mengkritik, bahwa ada sebagian orang yang sangat fanatik kepada Syaikh Al Albani rahimahullah. Hingga jika beliau menghukumi suatu hadits sebagai shahih, dha’if, atau palsu, maka penghukuman beliau ini lebih dipercaya daripada yang dilakukan oleh Imam Tirmidzi dan imam-imam lainnya (selain Imam Bukhari dan Muslim). Padahal Salafi sangat kenal dengan prinsip berikut: “Setiap kebaikan itu dengan mengikuti As Salaf (para pendahulu yang shalih), dan setiap keburukan dengan mengikuti Al Khalaf (orang-orang jaman kemudian).” Dari segi jaman, Imam-imam hadits di atas adalah jaman Salaf
Siapa dia ? Imma Syaikh Al-Albani sendiri tidak pernah mengatakannya.
Kutip
CATATAN: Perkataan Halawi Makmun bahwa Salafi SERING menukil perkataan Ibnu Taimiyyah, padahal beliau tidak mengatakan seperti yang dinukil. Hal ini perlu dibuktikan secara ilmiah. Siapa di antara Salafi yang berbuat seperti itu? Apakah perbuatan itu sering dilakukan, atau jarang-jarang, atau bahkan tidak pernah sama sekali. Tampaknya, Ustadz Halawi perlu membuktikan kata SERING di atas. Tetapi dalam kasus yang menimpa Syaikh Ali Hasan Al Halabi, memang beliau pernah menukil perkataan Ibnu Taimiyyah, padahal Ibnu Taimiyyah tidak mengatakan perkataan itu. Dari buku Tahdzir Fitnatut Takfir, yang disusun Syaikh Ali Hasan, di halaman 17-18, beliau menukil perkataan palsu dari Ibnu Taimiyyah. Beliau juga membelokkan perkataan Ibnu Katsir dan Syaikh Muhammad Ibrahim rahimahumallah dari tempatnya. Hal ini berdasarkan fatwa Lajnah Daimah Saudi, No. 21517, tanggal 14 Jumadits Tsani 1421 H. Contoh yang mirip kasus ini ialah buku Syaikh Khalid Al Anbari yang berjudul Al Hukmu bi Ghairi Ma Anzalallah. Lajnah Daimah juga menurunkan fatwa pelarangan terhadap peredaran buku tersebut. Jadi buktinya ada, bukan hanya asal menuduh. Namun kalau diklaim bahwa banyak Salafi yang melakukan perbuatan serupa, khususnya ketika menukil perkataan-perkataan Ibnu Taimiyyah, saya tidak tahu.
Perlu dicatat bahwa kedua buku yang diisyaratkan oleh akh abu abdirrahman tersebut adalah membahas tentang Takfir dan masalah Hukum Berhukum Selain yang Diturunkan Allah. Karena dua hal ini, dua syaikh tersebut (Syaikh 'Ali dan Syaikh Khalid) seringkali dituduh dengan tuduhan murji'ah oleh kaum takfiri. Sama seperti halnya pemikiran yang dibawa oleh Halawi Makmun yang terekam dalam kepingan cd. Maka tidak heran jika Halawi Makmun berpendapat seperti itu.
Dan sebagai informasi, telah keluar Fatwa Lajnah Ad-Daaimah yang menyatakan pemikiran irja' dalam kitab Syaikh 'Ali. Namun hal ini dibantah oleh Syaikh 'Ali dan pernyataan pembelaan Syaikh 'Ali tersebut mendapat "pembelaan" pula dari Syaikh 'Utsaimin. Pembahasan ini ada dalam majalah Adz-dzakhiirah beberapa edisi lalu.
'alaa kulli haal, di bagian mana syaikh 'Ali memelintir fatwa Ibnu Taimiyyah ? Sebagai catatan ana pernah membaca pembahasan kitab Tahdzir min Fitnatit-Takfir karya Syaikh 'Ali dan Al-Hukmu karya Syaikh Khalid. Jangan-jangan antum juga "dengar-dengar" juga seperti kasus penukilan berita antum dari Metro TV.

Dan seterusnya.............
'afwan, ana hanya merespon dari obrolan akh abu abdirrahman di atas. akh ibnu burhan lebih pantas menanggapinya karena tulisan ini tertuju padanya....... Allaahu a'lam

Offline Pembela Salafy

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2006
  • Tulisan: 84
    • Lihat Profil
« Jawab #8 pada: 04 Desember 2006, 13:43:15 »
@ Ustadz Abu Abdurrahman (hak jawab)
ahsanta wa jazakallahu khaira
apa yang antum sampaikan sangat bagus dan sesuai fakta. kalau ada orang lain tidak setuju itu biasa.

biasanya memang kalau ada 'oknum' yang dianggap dari IM, biasanya IM-nya yang diserang. seperti kasus meninggalnya syekh jamilurrahman yang dibunuh seseorang yang dianggap orang IM.

tapi kalau ada 'oknum' salafi yang melakukan kesalahan, biasanya dia 'dilindungi' dan bagi yang menyerangnya akan dicap sebagai melawan ahlussunnah atau menentang dakwah salafiyah.

Offline Abu Al-Jauzaa

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.466
  • Jenis kelamin: Pria
  • Namaku : Abu Al-Jauzaa'
    • Lihat Profil
    • Blog Abu Al-Jauzaa'
« Jawab #9 pada: 04 Desember 2006, 14:53:10 »
biasanya memang kalau ada 'oknum' yang dianggap dari IM, biasanya IM-nya yang diserang. seperti kasus meninggalnya syekh jamilurrahman yang dibunuh seseorang yang dianggap orang IM.
nukil dari bukunya pak abduh ya ? hanya klarifikasi saja.......
Ana pernah mendengar bagaimana kasus pembunuhan syaikh jamilurrahman tersebut yang kurang lebih sama dengan apa yang diceritakan dalam kitab Maqtaal Syaikh Jamilurrahman. Yang bercerita ini adalah seorang ustadz di Jatim yang ikut dalam jihad Afghan dimana beliau berada di lokasi dan waktu saat syaikh dibunuh. Memang benar bahwasannya syaikh dibunuh oleh satu orang yang membawa senjata. Namun indikasi bahwa si pembunuh tersebut berasal dari IM atau simpatisan IM, maka ini berdasarkan atas dzann yang kuat. Apa pasal ? Sudah menjadi rahasia umum bagi orang yang turut berjihad di Afghan bahwasannya di sana terdiri dari beberapa "kubu". Dan yang paling memusuhi "kubu" salafi adalah dari kalangan shufi dan harakah (IM masuk di dalamnya). Dan juga dhann yang memperkuat bahwa orang tersebut berasal dari IM adalah pertempuran dimana kubu yang anti salafy menyerang Kunar (daerah yang didiami oleh salafy) yang berlangsung selama beberapa hari (kalau tidak salah 5 hari). Panglima "kubu" salafy dipimpin oleh salah seorang mujahidin dari Makkah, Saudi Arabia. Pasar di bom. Banyak kaum muslimin yang terbunuh dalam pertempuran itu. Siapa para penyerangnya akhi ? Antum mungkin sangat akrab dengan nama2 mereka yang wajahnya sering muncul di majalah2 dalam negeri (yang dikomandoi oleh orang IM). Sangat terkenal.......
Itu kesaksian dari seorang yang turut berjihad di Kunar Afghanistan bersama Syaikh Jamilurrahman Al-Afghani. Ana mendengar ini dari kaset rekaman ustadz tersebut milik adik ana. Jadi, ......... kalau antum berkomentar dengan menukil argumantasi dari pak abduh ZA yang notabene tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya (hanya berasumsi), mungkin informasi dari ana perlu antum jadingan sebagai perbandingan........

Offline isih sinau

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2006
  • Tulisan: 413
    • Lihat Profil
« Jawab #10 pada: 04 Desember 2006, 15:26:04 »
@ Al Ustadz Abu Al-Jauzaa
Antum keliru jika menganggap penulis STSK tidak memiliki teman yang pernah berjihad di afghanistan atau teman yang belajar di pakistan.
kebetulan ana hadir waktu bedah buku STSK di jogja, Ustadz Abu Rusydan yang menjadi salah seorang pembicara juga merupakan alumni perang afghan. beliau mengatakan bahwa IM tidak terlibat dalam pembunuhan Syaikh Jamilurrahman. dan waktu kejadian, beliau sedang berada bersama Abdu Rabbi Rasul Sayyaf, dan Syaikh Sayyaf memuji-muji Syaikh Jamilurrahman. sehari -atau dua hari- kemudian setelah mendengar kabar syahidnya Syaikh Jamilurrahman, Syaikh Sayyaf menangis dan tampak sekali kesedihan di wajahnya.

saya kira yang mengetahui tentang sesuatu itu bisa saja lebih dari satu orang. tapi bisa saja masing2 orang yang mengetahui sesuatu akan menyikapi sesuatu itu dari kecenderungannya dan apa yang dianggapnya benar.

afwan, dari tulisan antum, itu juga kalo tidak salah tangkap: antum kelihatannya setuju bahwa yang membunuh Syaikh adalah orang IM dan antum menganggap bahwa itu adalah perbuatan IM secara institusi?
afwan kalo saya salah dalam memahami.

Offline Abu Al-Jauzaa

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.466
  • Jenis kelamin: Pria
  • Namaku : Abu Al-Jauzaa'
    • Lihat Profil
    • Blog Abu Al-Jauzaa'
« Jawab #11 pada: 04 Desember 2006, 15:35:01 »
ana tidak mengatakan bahwa yang membunuh syaikh jamilurrahman adalah IM secara institusi yang mendapat mandat resmi dari mursyid aam-nya. tidak akhi. ana hanya dapat menyimpulkan bahwasannya syaikh dibunuh oleh orang ikhwanul-muslimin. itu saja.
Dan satu lagi, ana juga tidak mengingkari bahwasannya banyak kaum muslimin selain salafiyyin yang ikut berjihad di afghan. Ini telah jamak diketahui. Sebagian ikhwah FPI juga ada yang ikut. Juga beberapa ikhwah yang lainnya...........

Offline anginbukit

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 292
    • Lihat Profil
« Jawab #12 pada: 04 Desember 2006, 17:13:02 »
ana hanya dapat menyimpulkan bahwasannya syaikh dibunuh oleh orang ikhwanul-muslimin. itu saja.

Sebuah tuduhan berat.

Tuduhan ini akan tetap menjadi sebuah fitnah, hingga pribadi yang dituduh tadi benar2 mengaku dalam 2 hal:
1. Ia (si tertuduh) mengaku bahwa ia seorang pengikut ikhwanul muslimin
2. Ia (si tertuduh) mengaku telah melakukan pembunuhan tersebut.

"Orang yg salah memang selalu gelisah dg kesalahannya.Tapi orang yang benar akan tenang dengan kebenarannya" (penulis buku Belajar dari Akhlak Ulama Salafy)

Offline orang islam

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Okt 2006
  • Tulisan: 84
    • Lihat Profil
« Jawab #13 pada: 05 Desember 2006, 09:33:00 »
Namun indikasi bahwa si pembunuh tersebut berasal dari IM atau simpatisan IM, maka ini berdasarkan atas dzann yang kuat.
wong si pembunuh cuma pernah bekerja sebagai reporter di sebuah media yang ada hubungannya dengan IM, kok disimpulkan dia sebagai orang IM? apa kalo yahya zaini punya teman orang salafi lalu bisa disimpulkan bahwa dia orang salafi?

Kutip
Dan yang paling memusuhi "kubu" salafi adalah dari kalangan shufi dan harakah (IM masuk di dalamnya).
kebalik. yg benar: yg paling memusuhi sufi dan harakah (IM masuk di dalamnya) adalah dari kalangan salafi.

Kutip
Dan juga dhann yang memperkuat bahwa orang tersebut berasal dari IM adalah pertempuran dimana kubu yang anti salafy menyerang Kunar (daerah yang didiami oleh salafy) yang berlangsung selama beberapa hari (kalau tidak salah 5 hari). Panglima "kubu" salafy dipimpin oleh salah seorang mujahidin dari Makkah, Saudi Arabia. Pasar di bom. Banyak kaum muslimin yang terbunuh dalam pertempuran itu. Siapa para penyerangnya akhi ? Antum mungkin sangat akrab dengan nama2 mereka yang wajahnya sering muncul di majalah2 dalam negeri (yang dikomandoi oleh orang IM). Sangat terkenal.......
tolong bukti (sumber) dan sebutkan saja nama yang antum maksud.

Offline musthafa

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Sep 2006
  • Tulisan: 595
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #14 pada: 06 Desember 2006, 01:06:56 »
Mengkritisi Jawaban Abu Salma
(Seputar Bedah Buku Siapa Teroris Siapa Khawarij)


sepakat akh...
memang kesalafiyahan kita bukan dengan istilah atau ngaku-ngaku salafy, tapi dengan manhaj seperti apa kata imam ibn taymiyyah......
jangan sampai dengan penamaan salafy justru akan merusak citra salaf sholeh.....
dan mungkin saja bisa membuat orang taqlid




Judul tulisan Ustadz Abu Salma Al Atsari: “Menjawab Tuduhan Meluruskan Kesalahpahaman”. Dimuat di-blog Abu Salma, dan disebarkan di forum MyQuran.org oleh beberapa ikhwan Salafi. Tulisan itu dua seri, menjawab bedah buku “Siapa Teroris Siapa Khawarij” (STSK) karya Ustadz Abduh Zulfidar Akaha di Universitas Brawijaya Malang, bedah buku di Masjid Dakwah Islam Matraman Jakarta, dan menjawab VCD bedah buku STSK tersebut di Masjid Al Furqan, Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia (DDII) di Jl. Kramat Raya 45 Jakarta. 

Sebelum mengemukakan catatan, saya ingin menyampaikan beberapa pesan, antara lain: (a) Ketika mengkritisi tulisan Abu Salma, tidak berarti saya menentang Ahlus Sunnah. Abu Salma dan kawan-kawan insya Allah Ahlus Sunnah, tetapi Ahlus Sunnah bukan hanya mereka. Ahlus Sunnah ada di berbagai tempat, baik yang tegas menyebut dirinya Ahlus Sunnah atau yang tidak. (b) Tulisan ini dan yang serupa dengannya dimaksudkan untuk membangun sikap dialogis dalam menyikapi perbedaan. Sejauh setiap orang memiliki hujjah, hendaklah pihak-pihak lain menghormatinya. (c) Saya yakin, tulisan-tulisan seperti ini sangat sulit untuk mengubah cara berpikir para ikhwan Salafi, sebab pendirian sudah terbentuk sangat kuat, kecuali jika Allah menghendakinya. Namun hal ini setidaknya menjadi bukti bahwa apa yang diklaim oleh Salafi selama ini mendapat tanggapan beragam dari Ummat Islam. Sebagian menerima klaim itu, sebagian lain tidak mampu berkomentar apa-apa, dan sebagian lagi menolak.

Dan terakhir, mohon maaf jika disini ditemukan hal-hal yang tidak berkenan di hati. Astaghfirullaha liy wa lakum, innahu Ghafurur Rahiim.


Berikut catatan-catatan yang bisa dikemukakan:


1.   Tulisan Ustadz Abu Salma berjudul “Menjawab Tuduhan Meluruskan Kesalahpahaman”. Secara umum, tulisan ini sudah bisa disebut sebagai bantahan (radd) terhadap acara bedah buku STSK. Sebagai bantahan bedah buku, sudah ada wujud-nya, tetapi apakah ia memadai untuk menjawab seluruh isu yang dibahas dalam bedah buku tersebut, itu perkara lain. Tiga acara bedah buku ini kalau ditotal mungkin bisa mencapai 10 jam pembicaraan. Berarti sangat banyak isu-isu yang harus dibahas disana, jika ingin hasil yang memuaskan. Namun, di kalangan Salafi, hal seperti ini sering diklaim sebagai bantahan yang sempurna. Dalam pembicaraan, mereka biasa mengatakan, “Tenang saja! Buku Abduh itu sudah dibantah oleh ustadz kita dengan dalil yang kokoh!” Jika ada bantahan, seharusnya ikhwan Salafi jangan cepat puas, tapi cobalah melakukan tarjih. Hal ini penting agar yang kita cari itu murni kebenaran, bukan hujjah-hujjah semu sekedar untuk memuaskan kebanggaan kelompok.   

2.   Abu Salma sangat sering menampilkan syair-syair Arab dalam tulisannya. Hal ini sebenarnya bagus, syair-syair itu akan semakin memperindah kualitas tulisan. Hanya saja yang patut dicatat, Abu Salma sering menempatkan syair-syair itu di awal-awal tulisan, sehingga dengan cara itu beliau berusaha mengokohkan posisi dirinya, dan secara halus mulai memojokkan pihak-pihak yang akan dibantahnya. Contoh dalam tulisan di atas ialah syair berikut: “Seandainya bukan penghinaan terhadap singa maka saya serupakan mereka dengannya. Akan tetapi singa jarang di dapat diantara binatang ternak.” Syair ini saja sudah mengandung tiga serangan, yaitu: Satu, kata ‘penghinaan’ yang menunjukkan maksud penulis. Dua, penyerupaan dengan singa. Tiga, sifat singa lebih tinggi dari binatang ternak. Ini serangan bertingkat tiga yang intinya memojokkan semua. Disarankan, kalau memuat syair Arab, letakkan ia di tengah-tengah atau di akhir tulisan, jangan di awal tulisan. Jadi, kemukakan dulu kekuatan hujjah-hujjah Anda, setelah itu baru perkokoh dengan syair yang tepat. Hal ini lebih fair daripada merasa “menang sebelum bertanding” karena dibantu oleh syair-syair.

3.   Secara keseluruhan ada 6 poin tuduhan yang dijawab oleh Abu Salma. Poin yang paling banyak dibahas ialah poin pertama, tentang istilah Salafi sebagai nisbat, selebihnya isu-isu dibahas secara ringkas. Dari banyak tulisan yang saya baca tentang kedudukan istilah Salafi, termasuk tulisan Syaikh Salim ‘Ied Al Hilaly dan Syaikh Ali Hasan Al Halabi, isinya rata-rata sama. Apa yang dilakukan Abu Salma bisa dikatakan menggabungkan semua tulisan-tulisan itu. Sebenarnya ada pembahasan panjang tentang perkara ini dari pihak yang tidak setuju, tetapi terlalu panjang jika dipaparkan disini. Disini cukup kita singgung satu pendapat saja, yaitu perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah. Dalam Majmu’ Fatawa, beliau mengatakan, “Tidak tercela orang yang menampakkan madzhab salaf dan dia menisbatkan diri kepadanya serta berbangga dengan madzhab salaf, bahkan wajib menerima hal tersebut menurut kesepakatan karena tidaklah madzhab salaf kecuali benar”. (Majmu’ Fatawa IV:149). (Komentar Abu Salma: Ucapan Syaikh, “menisbatkan diri kepadanya” maksudnya menisbatkan diri kepada madzhab Salaf, dan sebutan nisbat kepada madzhab Salaf adalah Salafiy).

CATATAN: Syaikhul Islam memulai perkataannya dengan kata laa ‘aiba, artinya tidak aib, tidak tercela, tidak hina, dsb. Kata seperti ini maksudnya tentu bukan: Hendaklah kalian, wajib bagi kalian, sunnah hukumnya, lebih afdhal, dsb. La ‘aiba itu tidak tercela, artinya boleh. Jika memang boleh, berarti sah-sah saja seseorang bernisbat ke istilah itu. Atau, boleh juga dia tidak memakai penamaan itu. Lalu bagaimana dengan Syaikhul Islam sendiri? Apakah beliau memakai nisbat As Salafi Al Atsari? Ternyata tidak. Hampir-hampir kita tidak pernah mendengar Syaikhul Islam menuliskan namanya, misalnya Taqiyuddin Abdul Halim Ibnu Taimiyyah As Salafi. Jika beliau mengatakan boleh, tetapi beliau tidak pernah memakai nisbat seperti itu, berarti perkara ini bukan termasuk penting menurut Ibnu Taimiyyah rahimahullah. Wallahu a’lam.

Bahkan pada nukilan di atas, cara menerjemahkannya perlu diperbaiki. Kalau melihat teks aslinya, mungkin yang lebih tepat seperti ini: “Tidak tercela bagi siapa yang menampakkan madzhab Salaf dan berintisab kepadanya, dan berbangga kepadanya, akan tetapi wajib baginya menerima hal itu (madzhab Salaf) dengan cara menyepakatinya, sebab madzhab Salaf itu tidak ada padanya, selain kebenaran.” Dalam soal intisab (memakai penamaan), Syaikhul Islam menghukuminya laa ‘aiba (tidak tercela), tetapi dalam menyepakati kebenaran madzhab Salaf, beliau menghukuminya wajib. Intinya, mengimani kebenaran manhaj Salafus Shalih lebih utama dari sekedar memakai nama Salafi.