Ath-Thalibi : Setelah menyebutkan pendapat Syaikh Shalih Fauzan Al Fauzan tentang esensi mengikuti manhaj Salaf, Abu Salma mengatakan: “Adapun jika maksudnya adalah sebagai penisbatan kepada madzhab salaf, sebagai pengakuan bahwa madzhab salaf adalah madzhab yang paling haq, bukan dalam rangka tazkiyatun lin nafsi apalagi hizbiyah. Untuk membedakan diri dari firqoh-firqoh yang sedang berkembang pesat di zaman ini, untuk membedakan diri dari hizbiyah yang membinasakan dimana tiap hizb bangga dengan apa yang ada pada mereka masing-masing, maka penisbatan dan penyebutan kata as-Salafiy, al-Atsariy, as-Sunniy atau yang semisalnya adalah suatu penisbatan terpuji.”
CATATAN: Ini adalah kalimat-kalimat yang membatalkan dirinya sendiri. Abu Salma mengatakan bahwa istilah Salafi bukan untuk mentazkiyah diri sendiri (menganggap diri suci, atau memiliki kemuliaan tertentu). Tetapi penjelasan selanjutnya menjelaskan bahwa kaum Salafi merasa lebih benar dari firqoh-firqoh, dari hizbi-hizbi yang ada, sehingga perlu identitas PEMBEDA. Kalau tidak bermaksud mensucikan diri di tengah Ummat Islam, buat apa harus diadakan identitas (penamaan) tertentu? Bahkan perhatikan kalimat berikut, “Untuk membedakan diri dari firqoh-firqoh yang sedang berkembang pesat di zaman ini, untuk membedakan diri dari hizbiyah yang membinasakan.” Firqah-firqah yang dimaksud tentu bukan Firqatun Najiyyah (kelompok yang selamat), sebab firqah terakhir ini jumlahnya satu (wahida), sedangkan Abu Salma menulis ‘firqah-firqah’. Lebih menarik lagi, Abu Salma mengatakan bahwa setiap hizb (partai) bangga dengan apa yang ada pada dirinya. Lalu bagaimana dengan Abu Salma sendiri yang sampai “jungkir-balik” membela istilah Salafi itu? Apakah itu juga bukan bagian dari membanggakan kelompok? Tanpa harus diberitahu pun, perbuatan itu akan mencerminkan isi hati.
Tanggapan : Sekali lagi ath-Thalibi terjebak di dalam pemahamannya sendiri yang kontradiktif. Apakah ath-Thalibi menolak akan terpecahbelahnya umat Islam menjadi firqoh-firqoh? Tentu saja tidak. Namun, ath-Thalibi dalam uraiannya menunjukkan bagaimana dirinya menolak adanya tafaruq yang membinasakan di tengah-tengah umat Islam. Saya ingin bertanya kepada ath-Thalibi? Apakah syi’ah, khowarij, murji’ah, jahmiyah, mu’tazilah, shufi dan sebagainya itu kelompok sesat atau bukan? Insya Alloh ath-Thalibi akan bersepakat dengan saya bahwa mereka sesat. Apakah mereka telah punah? Jika ath-Thalibi bersepakat dengan saya dia akan mengatakan tidak, kelompok-kelompok tersebut masih eksis/ada dan bertransformasi ke dalam bentuk-bentuk lainnya.
Mungkin bedanya saya dengan ath-Thalibi adalah di dalam mengidentifikasi jelmaan kelompok-kelompok sesat ini di dalam formasi yang baru. Pembahasan ini adalah pembahasan yang panjang dan butuh pembahasan tersendiri. Namun yang pasti, bukankah setiap kelompok itu memiliki ciri khas tersendiri yang mereka akan terbedakan antara satu dengan lainnya.
Adapun harokah-harokah kontemporer, misalnya simpatisan IM, maukah mereka disebut sebagai syabab HT? atau sebaliknya? Saya yakin mereka tidak mau. Kalau seandainya mau, maka itu hanyalah retorika belaka yang kosong dari kebenaran. Maukah orang PKS mencoblos PKB saat pemilu? Saya yakin tidak mau? Kenapa? Bukankah sama-sama islam? Sama-sama partai Islam? Berbasis massa Islam? Kenapa koq tidak mau? Karena manhaj mereka berbeda.
Mungkin akan ada yang berkata, “saya Islam, saya bukan HT, bukan IM atau kelompok-kelompok lainnya”. Maka saya katakan kepadanya, “khowarij –menurut pendapat yang rajih- Islam atau bukan? Syiah –sebagiannya- Islam atau bukan? Shufi Islam atau bukan?” Maka mau tidak mau haruslah ia menjawab Islam. Lantas saya tanyakan kepadanya, “Islam yang manakah anda? Padahal kelompok-kelompok tersebut juga Islam!” walau mungkin ia akan bersikukuh dengan ucapannya bahwa ia hanyalah Islam saja, namun pastilah ia akan memaksudnya dengan Islam sesuai dengan al-Qur’an dan as-Sunnah.
Baik, al-Qur’an dan as-Sunnah adalah hujjah tak terbantahkan bagi ummat islam. Namun bukankah kelompok-kelompok Islam yang menyimpang juga menggunakan keduanya sebagai hujjah? Walaupun dengan pemahaman mereka masing-masing. Lantas dengan pemahaman apakah anda memahami keduanya? Seorang muslim sejati pasti akan mengatakan menurut pemahaman as-Salaf ash-Shalih.
Pertanyaannya sekarang adalah, apakah IM, HT, JT dan sebagainya adalah Islam? Tentu, mereka adalah islam? Apakah mereka berhujjah dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah? Tentu. Apakah mereka memahami keduanya dengan pemahaman salaf? Sebagian besar mungkin mengklaim demikian, namun klaim belaka tidaklah menunjukkan hakikat sebenarnya. Walau begitu, mereka memiliki pemahaman aqidah, manhaj dan pemikiran yang berbeda-beda. Hal ini merupakan suatu sunnatullah. Namun apakah semua perbedaan ini adalah benar?
Tentu saja tidak! Karena kebenaran itu tidak berbilang. Perselisihan dan perpecahan itu adalah adzab dan kesesengsaraan. Ini adalah realita nubuwah. Jadi, bertahazzub, masuk ke dalam golongan yang ada pendiri, tahun diberdirikan, ketua, anggota dan lain sebagainya, tiap golongan memiliki manhaj tersendiri, dan menjadikannya sebagai dasar wala’ dan baro’, maka ini semua adalah bentuk tafarruq. Orang IM mau tidak mau maka ia adalah ikhwani, orang HT adalah tahriri, orang JT adalah tablighi dan seterusnya. Ini adalah konsekuensi yang tidak bisa tidak.
Oleh karena itu, tidak ada celanya menampakkan diri kepada madzhab dan manhaj salaf, berintisab kepadanya dan berbangga-bangga dengannya, bahkan wajib menerimanya dengan kesepakatan para ulama, karena tiadalah pada manhaj salaf melainkah hanyalah kebenaran. Apabila ini dikatakan sebagai bentuk hizbiyah juga, maka tidaklah mengapa, karena hizbi-nya disandarkan kepada as-Salaf, apabila dikatakan sebagai bentuk ashobiyah maka tidaklah mengapa, karena ashobiyahnya kepada madzhab yang ma’shum yaitu madzhab salaf. Kebenaran pastilah memiliki lawan, yaitu kebatilan, dan keduanya akan terus bergumul dan bertikai hingga hari kiamat. Imam Ibnul Qoyyim di dalam al-Kafiyah asy-Syafiyah (217) berkata
والحق منصور وممتحن فلا تعجب فهذي سنة الرحمن
Kebenaran itu akan menang dan mendapat ujian, maka janganlah
Heran, sebab ini adalah sunnah ar-Rahman (sunnatullah).
Ath-Thalibi : Abu Salma mengatakan: “Karena Salafiy sejati tidaklah menvonis sesat, bid’ah, fasik bahkan kafir melainkan dengan ilmu dan kehati-hatian. Mereka tidaklah akan menerapkan hukum sebelum menegakkan syarat-syaratnya dan menghilangkan penghalang-penghalangnya. Mereka senantiasa berpijak atas dasar ilmu dan bashiroh. Apabila ada sekelompok kaum yang menyelisihi hal ini, maka ketahuilah, ia bukanlah salafiyah sedikitpun.”
CATATAN: Mohon perhatikan kalimat terakhir, “Apabila ada sekelompok kaum yang menyelisihi hal ini, maka ketahuilah, ia bukanlah Salafiyah sedikit pun.” Jadi, disini ada Salafi sejati dan ada Salafi yang cuma ngaku-ngaku. Pertanyaannya, siapakah Salafi sejati? Apakah Abu Salma, guru-gurunya, dan teman-temannya masuk di dalamnya? Jika membaca kegigihan Abu Salma dalam membela istilah Salafi dan menyebutkan sifat-sifatnya, mudah disimpulkan bahwa Salafi sejati adalah diri mereka. Selanjutnya, bagaimana dengan Salafi palsu? Abu Salma menegaskan dengan kalimat, “IA BUKANLAH SALAFIYAH SEDIKIT PUN.” Sejak semula Abu Salma menegaskan bahwa Salafiyah adalah manhaj para Shahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in radhiyallahu ‘anhum. Dengan kata lain ia adalah ajaran Islam itu sendiri. Bahkan ajaran Islam yang masih murni, ketika belum tercampur ajaran-ajaran lain. Jika seseorang atau sekelompok orang dikatakan BUKAN SALAFIYAH SEDIKIT PUN, berarti tidak ada kebaikan Islam dalam dirinya. Salafiyah adalah Islam, atau ia adalah Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Maaf Akhi, kalimat Antum itu sangat berat, karena disana ada kata SEDIKIT PUN. Padahal di kalangan ahlul bid’ah, di antara mereka masih ada yang menjalankan shalat lima waktu. Paling tidak kebaikan Salafiyah itu masih ada padanya, meskipun mungkin hanya sekian bagian. Ustadz Abu Salma harus berhati-hati ketika menulis, jangan tergoda oleh kalimat-kalimat hiperbola, tetapi tidak mengukur konsekuensi hukum di baliknya.
Tanggapan : Saya tidak habis fikir, apakah ini manhaj ilmiah seorang penulis buku yang konon laris bak kacang goreng, yang katanya berupaya berpegang kepada amanat ilmiah, tanpa tendensi pribadi dan buruk sangka, dengan analisa dan kacamata ilmiah yang tajam??? Namun, melihat bantahan ath-Thalibi di atas, saya benar-benar menjadi sangsi dan ragu, akan keilmiahan buku “DSDB”.
Apabila ath-Thalibi mau tenang, ilmiah dan tidak emosional, tentunya dia tidak akan berkata-kata sebagaimana ucapannya di atas. Wahai saudaraku Aba Abdirrahman ath-Thalibi hadaakallohu, tenanglah dan simaklah penjelasan saudaramu ini dengan baik.
Pertama, ketahuilah, bahwa ucapan saya di atas adalah intisari dari ucapan al-‘Allamah Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu. Beliau rahimahullahu berkata :
السلفية هي اتباء منهج النبي صلى الله عليه و سلم وأصحبه لأنه مَن سلفنا تقدموا علينا, فاتباعهم هو السلفية. وأما اتخاذ السلفية كمنهج خاص ينفرد به الإنسان ويضلّل من خالفه من المسلمين ولو كانوا على حقّ فلا شك أن هذا خلاف السلفية.
“Salafiyyah adalah ittiba’(penauladanan) terhadap manhaj Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan sahabat-sahabatnya, dikarenakan mereka adalah salaf kita yang telah mendahului kita. Maka, ittiba’ terhadap mereka adalah salafiyyah. Adapun menjadikan salafiyyah sebagai manhaj khusus yang tersendiri dengan menvonis sesat orang-orang yang menyelisihinya walaupun mereka berada di atas kebenaran, maka tidak diragukan lagi bahwa hal ini menyelisihi salafiyyah!!!”
Beliau rahimahullahu melanjutkan :
لكن بعض من انتهج السلفية في عصرنا هذا صار يضلل كل من خالفه ولو كان الحق معه واتخاذها بعضهم منهجا حزبيا كمنهج الأحزاب الأخرى التي تنتسب إلى الإسلام وهذا هو الذي ينكر ولا يمكن إقراره.
“Akan tetapi, sebagian orang yang meniti manhaj salaf pada zaman ini, menjadikan (manhajnya) dengan menvonis sesat setiap orang yang menyelisihinya walaupun kebenaran besertanya. Dan sebagian mereka menjadikan manhajnya seperti manhaj hizbiyah atau sebagaimana manhaj-manhaj hizbi lainnya yang memecah belah Islam. Hal ini adalah perkara yang harus ditolak dan tidak boleh ditetapkan.”
Syaikh melanjutkan lagi :
فالسلفية بمعنى أن تكون حزبا خاصا له مميزاته و يضلل أفراده سواهم فهؤلاء ليسوا من السلفية شيء. وأما السلفية التي هي اتباع منهج السلف عقيدة وقولا وعملا واختلافا واتفاقا وتراحما وتوادا كما قال النبي صلى الله عليه و سلم ((مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم كمثل الجسد الواحد إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالحمى والسهر)). فهذه هي السلفية الحقة.
“Jadi, salafiyah yang bermakna sebagai suatu kelompok khusus, yang mana di dalamnya mereka membedakan diri (selalu ingin tampil beda) dan menvonis sesat selain mereka, maka mereka bukanlah termasuk salafiyah sedikitpun!!!.6
Apakah anda akan mengatakan hal yang sama dengan ucapan ini wahai ath-Thalibi???
Kedua, Tidaklah tersamar bahwa orang yang mengklaim tidak dengan serta merta selamat dari klaimnya, ia harus menunjukkan bukti. Dengan demikian tidak semua orang yang menyandarkan diri sebagai salafiyun maka dengan serta merta mereka adalah salafi! Saya katakan, benar perkataan anda, bahwa memang ada dalafi sejati dengan salafi palsu yang hanya ngaku-ngaku. Namun, apakah saya berani mengklaim bahwa saya adalah salafi sejati dan selain saya adalah palsu? Ma’adzallohu. Ini adalah tuduhan buruk, jelek dan fitnah kepada saya. Ini adalah tuduhan yang berangkat dari prasangka belaka dan kesimpulan yang gegabah.
Wahai ath-Thalibi, anda senantiasa menyeru untuk tidak mudah menvonis, menuduh dan semisalnya, namun anda amat seringkali melakukan hal yang berlawanan dengan ucapan anda. Wahai ath-Thalibi, apakah anda pernah membelah dada saya dan melihat bahwa maksud ucapan saya adalah saya mentazkiyah diri saya sebagaimana yang anda maksudkan???
Bahkan, apabila anda membaca risalah-risalah di dalam blog saya, niscaya anda akan faham, bahwa saya sedang menasehati saudara-saudara saya yang memiliki penyelewengan dalam sebagian manhaj mereka. Dan ucapan saya di atas adalah untuk siapa saja, muthlaq dan tidak boleh dita’yin kepada individu-individu tertentu.
Ketiga, anda tampaknya juga perlu belajar masalah hukmul mu’ayan dan hukmul muthlaq. Karena bukanlah artinya Laisu minas Salafiyyah sya’iun atau “ia bukanlah salafiyah sedikitpun” menyimpan masalah takfir di dalamnya. Memang benar bahwa salafiyah itu adalah ajaran Islam itu sendiri yang masih murni. Namun bukan artinya, orang yang tidak memiliki ‘alamat (tanda-tanda) salafiyah sedikitpun maka ia adalah non muslim alias kafir. Tidak demikian! Karena taqdir dari ucapan di atas adalah dalam masalah manhaj, yaitu manhaj salaf. Karena manhaj salaf memiliki karakteristik yang khas yang tidak dimiliki oleh kelompok lainnya. Adapun amalan, maka siapapun dapat beramal walaupun ia pembesar dan pembela kesyirikan, baik sholat, zakat, shodaqoh maupun lainnya. Namun yang dimaksud bukanlah hal ini. Maka perhatikanlah wahai saudaraku.
(Bersambung –insya Alloh-)
1 Al-Imam al-‘Allamah Ibnu Baz rahimahullahu berkata di dalam Ad-Da’watu ilallohi wa Akhlaaqud Du’aat menjelaskan ayat di atas :
فأوضح سبحانه الكيفية التي ينبغي أن يتصف بها الداعية ويسلكها، يبدأ أولا بالحكمة، والمراد بها: الأدلة المقنعة الواضحة الكاشفة للحق، والداحضة للباطل؛ ولهذا قال بعض المفسرين: المعنى: بالقرآن؛ لأنه الحكمة العظيمة؛ لأن فيه البيان والإيضاح للحق بأكمل وجه، وقال بعضهم: معناه: بالأدلة من الكتاب والسنة.
“Alloh Yang Maha Suci menjelaskan bagaimana cara/kaifiat yang sepatutnya bagi seorang da’i di dalam mengkarakteristiki cara dakwahnya dan menitinya, yaitu hendaklah dimulai pertama kali dengan hikmah, dan yang dimaksud dengan hikmah adalah dalil-dalil argumentasi yang tegas lagi terang yang dapat menyingkap kebenaran dan menolak kebatilan. Dengan demikian sebagian ulama ahli tafsir menafsirkan al-Hikmah dengan Al-Qur’an, dikarenakan Al-Qur’an merupakan hikmah yang paling agung, dan juga di dalam al-Qur’an terdapat penjelas dan penerang kebenaran dengan bentuk yang paling sempurna. Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa maknanya adalah dengan dalil-dalil dari al-Kitab dan as-Sunnah.” [Lihat : Ad-Da’watu ilalloh wa Akhlaq ad-Du’aat oleh Imam Ibnu Baz rahimahullahu, download dari Maktabah Sahab as-Salafiyah :
www.sahab.org. ]
2 Al-Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullahu berkata di dalam Tafsir Al-Qur’anil Azhim (II/7) menafsirkan : “Alloh Ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya yang mukmin agar saling berta’awun di dalam aktivitas kebaikan yang mana hal ini merupakan al-Birr (kebajikan) dan agar meninggalkan kemungkaran yang mana hal ini merupakan at-Taqwa. Alloh melarang mereka dari saling bahu membahu di dalam kebatilan dan tolong menolong di dalam perbuatan dosa dan keharaman.” [Lihat : “Intisari Ta’awun Syar’i”, Markaz Imam Albani,
www.geocities.com/abu_amman].
3 Diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam asy-Syu’bah no. 824. Dinukil melalui perantaraan Sittu Duror min Ushuli Ahlil Atsar, karya Fadhilatus Syaikh ‘Abdul Malik Ramadhani al-Jaza`iri, Maktabah al-Furqon, cet. VI, 1422/2001, hal. 41. Lihat pula terjemahannya yang berjudul “6 Pilar Utama Dakwah Salafiyah” oleh Fadilatul Ustadz Abu Abdillah Mubarok Bamu’allim, Lc., Pustaka Imam Syafi’I, Cet. I, Muharam 1425/Maret 2004, hal. 88.
4 Min Buthunil Kutub (I/26) oleh Yusuf bin Muhammad al-‘Atiq; dinukil dari “Meluruskan Sejarah Wahhabi” karya saudara saya yang mulia, al-Ustadz Abu Ubaidah as-Sidawi, Pustaka Al-Furqon, Gresik, cet. I, Sya’ban, 1427.
5 Diwan asy-Syafi’i hal. 44, tahqiq DR. Imil Badi’ Ya’qub.
6 Liqo’ul Babil Maftuuh, pertanyaan no. 1322 oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin; dinukil dari Aqwaalu wa Fataawa al-Ulama’ fit Tahdziri min Jama’atil Hajr wat Tabdi’, penghimpun : Kumpulan Para Penuntut Ilmu, cet. II, 1423/2003, tanpa penerbit.