Nasihatku untuk ‘Salafiyun’ dan yang terjebak di dalamnya
(
pokoknya rugi gak baca ini sampai selesai) …
by Abu Faqih 
Jun,.... atau Abu Faqih.... atau siapapun.... membaca tulisan antum, ana jadi ingat idiom : menyanyikan lagu usang. Sebenarnya,... jika kita membuka beberapa halaman ke belakang; niscaya kita akan menemukan tulisan yang semisal.
Ini merupakan komentar ringan ana atas apa yang antum tulis. Kalau antum cerita tentang 'salafi' yang antum kenal semenjak 1993; kalau boleh nanya : "Antum mengenalnya di tahun 1993 itu dengan jasad antum atau cuma membaca tulisan di internet yang juga banyak mempunyai starting analysis di tahun serupa ?". Kalau antum telah mengenal 'salafi' di tahun 1993, tentu waktu itu antum masih berada di Jawa. Dan seberapa jauh perkenalan antum dengan 'salafi' dari tahun 1993, dari apa yang ana baca; nampaknya antum hanya berdasarkan metode kitabah (alias mbaca-mbaca tulisan) atau gosip sana sini saja.
Kalau antum berkomentar bahwa 'salafi' itu sebenarnya bodo dan cuman 'nggaya' pinter dengan mencatut nama dosen2 LIPIA; itu merupakan hak antum. Setiap orang boleh saja berkomentar demikian. Dan tentu,... komentar2 ini bukanlah sesuatu yang baru. Tapi, ana pun tentu boleh berkomentar : "Realitas dan kenyataan mendustakan perkataan antum !!". Karena tulisan antum nampaknya antum batasi dengan kejadian di dalam negeri, maka ana pun berkata dan berkomentar dalam konteks dalam negeri. Realitas membuktikan bahwa buku-buku dan halaqah-halaqah yang diadakan oleh 'salafi' jelas lebih berilmu dibandingkan dengan halaqah IM, HT, atau yang lainnya. Ini kenyataan mas ! Dan karena ana hanyalah seorang yang berkuliah di jurusan Kehutanan dan Lingkungan di IPB Bogor; maka ana katakan : "Rata-rata kualitas diniyyah dari para aktifis IM, HT, dan yang lain adalah di bawah 'salafi'; baik mahasiswa, pegawai, atau dosen (PAI)nya ". Eitt.. mohon dibaca santai kalimat ana ini. Ana nulis tidak ada tendensi macem-macem. Ana hanya nulis realitas. Dan bagi mahasiswa IPB yang kebetulan aktif di MyQ; ana terbuka untuk beradu fakta. Sudah menjadi maklum jika halaqah IM tidak melazimkan mengkaji kitab. Sudah sangat lazim........ Dan sudah sangat lazim mereka dalam halaqah hanya beretorika dan mengkaji waqi' alias berita-berita koran yang dengan itu ingin menumbuhkan semangat. Ya.... semangat tanpa ilmu. Tapi alhamdulillah punya semangat, daripada nggak ada. Dan tengoklah pula di kampus-kampus yang lain seperti STAN, UI, ITB, UGM, ITS, dan UNAIR. Siapa yang melazimkan halaqah keilmuan ? 'Salafi' atau bukan 'salafi' ? Jawablah dengan jujur wahai kaum yang berpikir. Itu baru komunitas akademika formal yang sangat ana kenal. Siapa yang melazimkan untuk membuka kelas-kelas bahasa Arab ? Komunitas 'salafi' atau IM ? Jawablah dengan jujur wahai pecinta kejujuran ! Menginjak di kelas-kelas ma'had diniyyah dalam negeri, ana juga melihat dirasah yang diberikan oleh ma'had2 'salafi' juga lebih dalam dan lebih 'ilmi. Khusus untuk point ini ma'had-ma'had non salafi' yang ada di Jabotabek sepanjang pengetahuan ana. Atau kita bisa perbandingkan, situs atau blog dalam negeri yang berisi tentang agama. Mana yang lebih ilmiah antara situs 'salafi' atau non salafi ?
Mengenai perselisihan di antara 'salafi', jawaban ini telah ditulis oleh teman ana : Abu Salma. Silakan kunjungi
www.abusalma.wordpress.com Ringkasnya : Salafy tidaklah mengenal perpecahan, karena salafy adalah nisbat orang yang kepada manhaj salaf. Manhaj yang selamat. Jikalau ada person-person yang menyelisihi manhaj salaf dengan melazimkan perpecahan, maka dia bukanlah salafy; walau dia ngaku salafy. Pengakuan semata tidaklah cukup bukan ? Ana kira itu telah ma'ruf.
Antum katakan bahwa 'salafi' fanatik buta ? Mmmmm..... ini pun kalimat usang yang terus diulang. Tidak ada fanatik-fanatikan dalam istilah 'salafi' mas... Kalau tolok ukur antum fanatik dan bukannya seseorang apakah dia mau membaca tulisan/buku orang lain; maka klaim ini tidak mutlak benar. Kalau tulisan/buku yang ditulis tersebut berasal dari orang yang komitmen terhadap Al-Qur'an dan As-Sunnah dan bermanhaj salaf (walau mungkin ada satu atau dua ketergelinciran); maka 'salafi' dalam hal ini open minded. Terbuka. Tapi kalau yang antum maksud bahwa 'salafi' harus membaca buku2 karangan orang yang menyimpang dalam manhajnya; maka ini adalah perkataan yang bodoh. Apakah antum akan menyuruh 'salafi' membaca buku-bukunya Muhammad Al-Ghazaly ? Antum kenal kan dengan buku super hitamnya yang berjudul : As-Sunnah baina Ahlil-Fiqh wa Ahlil-Hadits. Buku ini penuh pencacian terhadap As-Sunnah dan ulama Ahlus-Sunnah. Dan buku ini pula yang sering dijadikan rujukan kaum orientalis dan kaum Syi'ah untuk menyerang Shahihain. Khusus untuk kaum Syi'ah ini, maka ana punya pengalaman ketika membaca buku2nya Husein Al-Habsyi (pentolan Syi'ah Rafidlah asal Bangil yang telah mati). Begitu maksud antum ? Atau,... antum akan berkilah : "Jangan baca buku itu, tapi baca buku beliau yang lain yang berjudul : Laisa minal-Islam". Lha ini,.... jika antum mengatakan demikian; semakin menunjukkan ketidak jelasan manhaj dan sikap antum dalam al-wala' wal-bara'. Karena jika kita terima usul antum tersebut, maka tentu akan membuka kekaguman bagi pembaca. Lantas, akan membuatnya akan mencari-cari bukunya yang lain yang kemudian ketemulah buku sesatnya.... yang kemudian ia tidak bisa membedakan lagi antara yang haq dan yang bathil. Kebenaran dan kebathilan ia telan semua. Atau,.... antum menyuruh 'salafi' membaca Tafsir Fii Dhilalil-Qur'an-nya Sayyid Quthb ? Kalau misalnya ada seorang 'salafi' yang punya hobi membaca kitab tersebut, maka ana anggap ia kurang kerjaan. Masih banyak kitab Tafsir lain yang jauh lebih bagus dan bermutu dibandingkan kitab tersebut. Tentu antum tidak asing dengan kritik para ulama tentang kitab Fii Dhilalil-Qur'an tersebut. Mulai dari pikiran mu'tazilah, takfir, shufi, dan yang lainnya. Dan harus diakui bahwa penulisnya memang bukan mufasir, tetapi seorang sastrawan. Kalau antum menolak pernyataan ana ini, tolong deh buat statement pada ana yang menyatakan bahwa beliau ini memang seorang ulama dan mufasir yang ulung. Bukan sekedar sastrawan dan pemikir saja. Lantas,.... apakah salah jika seorang 'salafi' tidak membaca kitab Tafsir tersebut. Juga Dr. Al-Qardlawi yang dulu pernah dipuji oleh pak isih_sinau ( ? ) sebagai seorang pakar hadits. Namun dalam beberapa kesempatan, beliau ini justru tidak menunjukkan pujian yang diberikan oleh pak isih_sinau tersebut. Dulu contohnya pernah ana sebut. Juga bagaimana sikapnya terhadap beberapa hadits dalam Shahihain (mengenai maut disembelih, status orang tua Nabi, dan yang lain-lain). Juga,........ beberapa fatwa beliau yang sangat-sangat tasahul terhadap Ahlul-Kitab, Syi'ah, dan wanita.
Hmmm.... secara khusus antum membuat kolom pujian pada Al-Qardlawi ya ? Ana akui bahwa satu atau dua kesempatan Syaikh Bin Baaz dan Syaikh Al-Albani memuji beliau. Tentu memuji terhadap apa-apa yang patut untuk dipuji. Tapi ketika beliau berdua mengkritik, apakah juga antum tampilkan. Silakan cari kritikan beliau berdua terhadap Al-Qardlawi. Kalau mencarinya dengan benar, insyaAllah ketemu. Antum ini lah yang sebenarnya tidak proporsional mas............ Apalagi memakai tolok ukur SBY segala. Sebenarnya hal yang semacam ini tidak perlu dikomentari. Dulu Pak Amin Rais ketika menjabat sebagai ketua PAN dan ketua MPR juga menerima pimpinan Ahmadiyyah (yang jelas-jelas dinyatakan minoritas non Islam). Kalau ada yang mau berhusnudhan, mereka menerima dalam kapasitas sebagai tuan rumah terhadap tamunya. Itu kalau kita mau berhusnudhan. Jadi,... itu bukan tolok ukur bukan ? Semoga para pemimpin negara kita diberikan oleh Allahpengetahuan agama dan menjalankannya.
Sekali lagi,.... apakah antum akan mengharuskan "anak-anak yang baru ngaji" (meminjam terminologi antum) itu dengan pemikiran-pemikiran super aneh dan para penyimpang manhaj salaf ini ? Justru ana merasa kasihan jikalau anak-anak yang baru ngaji seperti ana ini terjejali onggokan-onggokan pemikiran yang tidak bermanfaat bagi agama dan dunianya. Kacian.... oh kacian.......
Kalau antum katakan bahwa : IM, HT, JT. MMI, dan yang lainnya harmonis; justru itu sama sekali tidak menambah kekaguman ana. Naas ! Maaf, konteks yang sedang kita bicarakan tentu tidak menyinggung hak-hak muslim secara umum seperti menengok ketika sakit, menolong kesulitan tetangga muslim, mengantar jenazah ke kuburan, dan yang lainnya. Tentu yang kita maksud ini berkaitan dengan fikrah Diniyyah. Pada kesempatan formal,... memang kelompok-kelompok itu mesra. Dan memang manhaj mereka adalah manhaj sayur sop. Campur aduk. Semua masuk. Kalau 'salafi' diundang pertemuan gado-gado tersebut, wajar saja kalau tidak mau datang. Buat apa ? Duduk-duduk dengan mereka hanya membuat kita semakin lemah. Pelo untuk mengatakan al-haq dengan dalih persatuan umat. Dan itu kenyataannya. Betapa banyak tokoh-tokoh IM atau PKS yang 'pelo' mengatakan kebathilan itu adalahkebathilan gara-gara mereka telah duduk di satu halaqah dengan "seterunya". Dan tidaklah mengherankan bagi ana kalau IM itu merupakan jama'ah gado-gado yang memasukkan semua unsur. Pokoknya yang ngaku Islam, masuk. Syi'ah masuk. Shufi masuk. Quburi masuk. Mu'tazili masuk. Ini bukan reka-reka lho yaa.... Kenyataan ! Apalagi kalau kembali di negeri asalnya sana di Mesir dan sebagian negara Arab. O iya,.... pernyataan bahwa IM, JT, atau HT itu akur-akur saja nampaknya perlu ditinjau kembali ya.... Kalau di kesempatan formal memang iya. Ya karena faktor 'pelo' itu tadi. Tapi kalau kembali di halaqah masing-masing; nampaknya tidak lho ! Ada tetangga ana yang keluar (sebagai guru) dari sebuah SDIT di Bogor hanya gara-gara didominasi oleh orang-orang IM. Hayo.... siapa yang dari Bogor ngacung ! Itu tuh... pengajian-pengajian Darmaga, Bogor yang 'saingan' antara IM dan HT. Ini bukan dalam konteks fastabiqul-khairat. Tapi memang benar-benar saingan dalam memperebutkan massa. Bahkan pernah aktifis-aktifis HT blingsatan karena ada selebaran yang mengatakan bahwa HT memperbolehkan mencium wanita ajnabiyyah. Disinyalir kuat, selebaran itu dari IM. Kejadian ini terjadi di Kelurahan Padasuka (Perumahan Taman Pagelaran), Kecamatan Ciomas, Bogor. Di daerah ini banyak tinggal aktifis dan pentolan-pentolan IM dan HT (dalam satu komunitas). Ini realitas mas............ bukan reka-reka dan bukan pula data sekunder. Ana tinggal di Bogor.
Tentang fiqh,.... katanya 'salafi' tidak memperbolehkan adanya ruang perbedaan. Kata siapa mas ? Ana gak tahu apakah perkataan ini berdasarkan analisis holistik atau cuma analisis di atas meja (desk analysis) saja. Antum contohkan terhadap kitab Shifat Shalat Nabi. Oke... oke... Silakan antum buka
www.salafyitb.wordpress.com Setelah membuka, apakah di situ tergambar di benak antum bahwa harus seperti Syaikh Al-Albani dalam Shifat Shalat Nabi ? Sudah pernah buka belum itu blog mas ? Bahkan di Forum Fiqh MyQ ana barusan menyinggung fiqhiyyah yang berbeda dengan pendapat Syaikh Al-Albani dalam kitab beliau tersebut (yaitu dalam masalah : Sikap Tangan ketika Berdiri I'tidal Setelah Rukuk). Apalagi antum menghiperbolakan masalah isbal yang kata antum : Harus Setengah Betis. Kata siapa mas dengan penggunaan kata "harus" ini ? Coba deh antum terjun di dunia nyata dengan duduk mendengarkan di halaqah-halaqah asatidzah 'salafi'. Bukan hanya sekali atau dua kali ana mendengar bahwa celana/sarung/pakaian yang syar'i itu ada dalam 3 keadaan :
1. Setengah betis (ini paling utama)
2. Antara betis sampai di atas mata kaki (boleh/mubah)
3. Antara lutut dan betis (boleh - akan tetapi lebih baik dihindari - makruh tanzih)
Dan yang perlu antum ketahui bahwa pembahasan antara boleh tidaknya isbal, juga dibawakan oleh 'salafi' yang menukil pendapat dari kalangan Ahlus-Sunnah mutaakhkhirin. Silakan buka diskusi di
www.salafyitb.wordpress.comDan tolong deh, kalau berkomentar jangan sampai bernada merendahkan Sunnah sepeti ini :
Celana pun harus setengah betis, jika belum maka diragukan ‘kesalafiannya’.
Setengah betis adalah Sunnah dan utama mas !
Terus,........ antum dalam tulisan antum di awal sedikit menyimpulkan bahwa seakan-akan 'salafi' tidak pernah membahas tentang LDII, NII, Inkarus-Sunnah, dan lain-lain ya ? Waduh... waduh..... perkataan antum itu maju dulu, ilmunya ketinggal di belakang. Kalau antum mau, bisa ana tunjukkan di edisi berapa tahun berapa contoh majalah-majalah 'salafi' membahas secara khusus firqah sesat tersebut. Bukan hanya sekali mas.............. Juga, berkunjunglah ke tasjilat2 'salafi', insyaAllah antum akan mendapatkan kajian rudud kepada firqah sesat yang antum maksudkan itu. Dan justru, yang ana temui rudud terhadap firqah sesat itu lebih banyak dari 'salafi' dibandingkan IM, HT, apalagi JT. Ya.... mungkin yang kelihatan wah rududnya terhadap firqah2 sesat itu karena Pak Hartono nulis buku khusus tentang itu dan dicetak. Dan ini diklaim mewakili rududnya orang-orang seperti antum. Begitu ? Dan ana minta mas TS untuk mengecek, baik di majalah Syari'ah, Al-Furqan, dan As-Sunnah; proporsi antara kajian ilmi dan rudud-nya banyakan mana ? Kalau antum mengatakan banyak rududnya : Silakan kasih ana data valid. Kebetulan ana banyak koleksi majalah-majalah yang disebutkan itu. [makanya..... kalau mbaca yang bener ya.... jangan cuma sepotong-sepotong. baca juga iklan obat habbatus-sauda'-nya biar sehat antum punya pikiran)