Penulis Topik: Nasihatku untuk ‘Salafiyun’ dan yang terjebak di dalamnya (1/2)  (Dibaca 10364 kali)


Offline haitan

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 1.378
  • Lokasi: Bandung
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #15 pada: 09 April 2007, 20:14:16 »
@om haitan
trus om klu seandainya ada nih golongan islam yg penuh dgn kesesatan, yg pandai bgt berdalih sana sini, dan

dia memiliki wibawa, karismatik dan berkarakteristik spt om bilang. apa dia akan menjadi pemimpin dimasa depan?

wah serem dong om klu gt.

apa ga sebaiknya kita cari pemimpin yg sesuai berdasarkan quran dan hadis aja jgn berdasarkan wibawa dan

sejenisnya  %peace%


Dik. Azra,

Di lain waktu kita bahas ini, karena ini merupakan yang sesuatu yang kurang banyak diperhatikan oleh kaum muslimin saat ini.
http://haitanrachman.wordpress.com (Moh. Haitan Rachman)

http://usahadawah.com (Madrasah Da'wah dan Islam)

http://indonesianstrategic.wordpress.com (INDONESIAN STRATEGIC 2025)

Offline haitan

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 1.378
  • Lokasi: Bandung
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #16 pada: 09 April 2007, 20:29:24 »
Assalamu 'alaikum wr. wb.

Kita kadangkala perlu membuka diri terhadap perubahan yang ada, apakah itu penjelasan dari salafi atau yang lainnya. Dengan begitu kita akan mengerti juga terhadap pertumbuhan itu. Ketika salafi memberikan pemahaman atau juga penjelasan-penjelasannya secara terbuka, maka jika kita mempunyai pandangan yang berbeda, kita dapat sampaikan secara terbuka juga. Kita tidak mungkin menyampaikan secara sembunyi-sembunyi, sedangkan yang lainnya secara terbuka. Sehingga pertukaran informasi itu tidak menjadi balance, tetapi meskipun begitu kita harus mempunyai karakter islam dalam proses ini.

Kami mempunyai pengalaman, jika kami berbeda dengan seorang ulama, ya sudah jangan disampaikan dan pegang saja pandangan kita sendiri. Itu di nasehatkan oleh teman yang lebih dekat ke salafi, sehingga kadangakala menjadi rancu, kita mendengar pandangan salafi, sedangkan ketika berbeda kita dianjurkan untuk memegang sendiri.

Kami berikan contoh di bawah ini, http://abdurrahman.wordpress.com/2007/03/15/benarkah-bumi-mengelilingi-matahari/#comment-249

Situs itu menjelaskan sebuah teori "Matahari Mengelilingi Bumi", terus kita harus mengikutinya sebagai bukti bahwa itu merupakan pandangan manhaj salafush sholeh. Jelas ini tidak bisa begitu saja diterima, karena boleh jadi ada pandangan lainnya. Kami coba sampaikan pandangan itu dan tentunya dengan fakta-fakta dan penjelasannya, supaya kita semua bisa berpikir lebih terbuka. Tetapi mungkin saja pandangan kami itu akan menganggu terhadap pandangan yang "dianggap" manhaj salaf itu, dikarenakan disampaikan oleh seorang ulama salafi. Pandangan itu tidak ditampilkannya di dalam bagian itu. Sehingga bagaimana kita bisa membangun keseimbangan di kalangan kaum muslimin, sedangkan kita masih menganggap bahwa satu pandangan saja yang benar.

Oleh karena itu, dengan tulisan paling awal yang disampaikan oleh teman kita, tidak perlu serta merta kita tolak, tetapi kita telaah juga apa yang menjadi latar belakangnya. Jangan sampai kita hanya tolak-menolak, tetapi saling berusaha memperhatikan nasehat yang disampaikan oleh teman yang lain, meskipun bukan satu guru saja. Karena awalnya salafi memberikan argumen atau penjelasan secara terbuka, maka seharusnya juga kaum yang lain memberikan nasehat juga secara terbuka. Sehingga jangan sampai karena tidak saling menasehati di antara kaum muslimin, akhirnya yang benar itu hanya satu golongan sedangkan yang lainnya adalah salah. Ini jelas merupakan pandangan yang tidak tepat.

http://haitanrachman.wordpress.com (Moh. Haitan Rachman)

http://usahadawah.com (Madrasah Da'wah dan Islam)

http://indonesianstrategic.wordpress.com (INDONESIAN STRATEGIC 2025)

Offline Falco

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 31
  • Love Our Nature!!!!!!!
    • Lihat Profil
« Jawab #17 pada: 09 April 2007, 20:37:37 »
hati-hati!!! jangan2 ini adalah strategi musuh2 Islam untuk memecah belah kekuatan ummat Islam. ga semua IM,MMI,JT,salafy,dll isinya orang baik,ga jamin orang yang ngikut jama'ah ini itu trus ntar masuk surga,coz di dalam jama'ah itu ada yg baek dan ada yang belum baik, NO MATTER WHAT'S UR FLAG, ASALKAN SESUAI QUR'AN DAN SUNNAH LET'S FIGHT 2GETHER :tembakin:
A MAN TERORRIST IS ANOTHER FREEDOM FIGHTER FOR HIS CLAN !!!!!!!!!!!!!!!!

Offline haitan

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 1.378
  • Lokasi: Bandung
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #18 pada: 09 April 2007, 20:45:13 »
Nasihatku untuk ‘Salafiyun’ dan yang terjebak di dalamnya (2/2)

(lanjutan..)

by Abu Faqih   %peace%

....
8. Terakhir untuk saudaraku seiman dan seperjuangan, seluruhnya tanpa kecuali … mari kita berjalan bersama, duduk bersama, membicarakan hal-hal yang dibutuhkan umat. Sungguh umat bingung melihat perilaku aktifis Islam seperti ini. Mereka tak ada tempat bertanya dan tak ada yang menolong ketika butuh pertolongan, maka datanglah misionaris yang akan menerkam mereka.  Anda tahu, bahwa orang kafir bertepuk tangan karena kita saling bercakaran? Jangan-jangan mereka mengucapkan ‘terima kasih’ karena PR mereka untuk menghancurkan  kita sudah diselasaikan oleh kita sendiri
....

Sdr. Jun,

Kami telah membaca semua bagian dalam tulisan itu, dan bagian (8) merupakan yang harus kita biasakan dalam kehidupan kita saat ini. Dan secara jujur hal ini tidak mudah. Tetapi jika dimulai dari yang kecil, Insya Allah, dengan hal yang besar dapat dilakukannya. Dan semuanya bergantung kepada kita semua. Kami sangat senang untuk duduk bersama, untuk bermudzakarah, untuk minum bersama sambil membuka kitab-kitab ulama dahulu yang telah ditulis dengan waktu dan sarana yang sangat terbatas. Misalkan Kitab Riyadhush Sholihin mengajarkan bagaimana kita dapat berlaku sebagai muslim yang sholeh, dan kita dianjurkan untuk berlatih membentuk suasana agama dalam diri kita dan di lingkungan kita. Masih banyak lagi kitab para ulama yang perlu dipelajari dengan baik.

Ajakan yang ditulis ini perlu menjadi perhatian kita bersama. Semuanya bergantung kepada kita semua, kami sangat senang untuk dapat mewujudkan dari waktu ke waktu. Silahkan kita mulai dari mudah dan kecil.







http://haitanrachman.wordpress.com (Moh. Haitan Rachman)

http://usahadawah.com (Madrasah Da'wah dan Islam)

http://indonesianstrategic.wordpress.com (INDONESIAN STRATEGIC 2025)

Offline manjaniq

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2007
  • Tulisan: 26
    • Lihat Profil
« Jawab #19 pada: 09 April 2007, 21:28:44 »
uh ??? ???banyak juga penjelasannya,,,aku mau komentar apa yang...buat topik baru dung,,,yang semangat2....ok O0 O0 O0 O0

Offline haitan

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 1.378
  • Lokasi: Bandung
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #20 pada: 10 April 2007, 06:31:46 »
Nasihatku untuk ‘Salafiyun’ dan yang terjebak di dalamnya
( :koran: pokoknya rugi gak baca ini sampai selesai) …

by Abu Faqih   %peace%

   Saya telah lama mengenal kelompok ‘salafi’, tepatnya sejak tahun 1993. Kelompok lain sekitar tahun itu juga, atau 94-an, seperti IM, HT, dan Jamaah Tabligh. Pengamatan saya sampai hari ini, ada hal yang tidak berubah pada diri ‘salafi’, yaitu hobi menuduh, memfitnah, mencela, imma dalam bentuk kajian di majelis ta’lim (lalu dikasetkan),  bulletin da’wah, majalah dan buku-buku, belakangan di internet (saya memiliki arsip-arsipnya). Semuanya dibungkus dengan istilah dan kedok  nasihat dan tahdzir, atas nama Ahlus Sunnah wal Jamaah. Maka tidak heran selama itu saya mengenal ‘salafi’, selama itu pula saya tidak berminat mengikutinya. Maka tidak aneh, jika para pemuda yang baru ngaji, termakan provokasi oleh satu atau dua makalah ‘salafi’  yang berisi propaganda, dan pembunuhan karakter bagi yang lainnya. Setelah itu, tahu-tahunya berkata ‘Saya tinggalkan IM’, ‘Dulunya saya IM, sekarang ‘salafi’, (lha promosi ..  siapa yang nanya? Becanda kok)   Anak kecil bila melihat mahasiswa memang  kagum dengan intelektualitasnya, tetapi profesor melihat mahasiswa, tentu berkata ‘Anda harus banyak belajar.’ Tidak sedikit dosen-dosen LIPIA yang heran dengan perilaku pemuda ‘salafi.’ Maka wajar jika saya tidak pernah menganggap ‘salafi’ itu dalam ilmunya, hebat kajiannya, pokoknya tob abiss!.kalla tsumma kalla. Anehnya jika diajak diskusi atau dialog ilmiah terbuka, mereka menghindar.    Jadi, mereka menggunakan strategi Hit n Run (pukul dan lari). Sesungguhnya Ahlus Sunnah terkenal dalam hujjahnya, tinggi akhlaknya, sementara ‘salafi’? sangat ‘dalam’ hujatannya, dan bermasalah dari sisi akhlak. Insya Allah nanti akan saya tunjukkan bukti-buktinya

....

Sdr. Jun,

Ini merupakan sebuah keadaan, yang perlu kita perhatikan bersama. Kita mengakui bahwa jalan yang ditempuh pada salafush sholeh dahulu telah memberikan sebuah kebaikan yang banyak bagi kita semua. Hanya saja akhirnya istilah salaf sendiri menjadi sangat mengerucut. Ini merupakan sebuah keadaan yang tidak dapat dipungkiri di kalangan kaum muslimin.
http://haitanrachman.wordpress.com (Moh. Haitan Rachman)

http://usahadawah.com (Madrasah Da'wah dan Islam)

http://indonesianstrategic.wordpress.com (INDONESIAN STRATEGIC 2025)

Offline miqu

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 2.512
  • Jenis kelamin: Pria
  • Adalet Ve Kalkinma
    • Lihat Profil
« Jawab #21 pada: 10 April 2007, 07:17:31 »
Kutip
Tapi antum masih belum faham tentang salafi, dan mungkin antum juga salah masuk salafi. Atau wallahu'alam bishawab, saya juga tak tahu tentang TS.

Kayaknya sih salah masuk atau salah lihat.

Tapi bagaimanapun juga, hal2 yang dimaksud oleh TS itu memang ada. Sekalipun sangatlah konyol untuk kemudian menjadi antipati terhadap manhaj salaf gara2 segilintir org yg ngaku2 salaf seperti yg dikatakan TS
« Edit Terakhir: 10 April 2007, 07:22:17 oleh miqu »

Someday I'll fall and I'll die.
But any day that I don't fall I am alive and I am continuing the fight.

Offline Ali Akbar

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 66
    • Lihat Profil
« Jawab #22 pada: 10 April 2007, 09:56:25 »
@TS

Sepertinya saya kenal sama al-Akh Abu Faqih :)

OOT

Offline heartbreaker

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2007
  • Tulisan: 26
    • Lihat Profil
« Jawab #23 pada: 10 April 2007, 09:59:32 »
Salafi bin Wahabi adalah FIRQAH. Titik.

Mereka kerapkali memberi cap kepada kelompok lain sebagai ahli bidah, sementara mereka membiarkan bidah besar bercokol di Arab Saudi.

Offline orang islam

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Okt 2006
  • Tulisan: 84
    • Lihat Profil
« Jawab #24 pada: 10 April 2007, 10:19:45 »
@TS

Sepertinya saya kenal sama al-Akh Abu Faqih :)

OOT


abu faqih yg mana sih? abu faqih banyak amat. apa itu abu faqih al-khozin alumni LIPIA yg nulis buku tentang poligami yang diterbitin i'tishom yg sekarang ngajar di ma'had imarat bandung?

jadi nebak2 nih siapa gerangan abu faqih. soalnya kalo abu faqih yang pernah 'diskusi' dengan para salafi di salah satu situs mereka, kayaknya bukan deh. gaya bahasanya lain. wallahu a'lam.

Offline orang islam

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Okt 2006
  • Tulisan: 84
    • Lihat Profil
« Jawab #25 pada: 10 April 2007, 10:24:24 »
Nasihatku untuk ‘Salafiyun’ dan yang terjebak di dalamnya

... Tidak sedikit dosen-dosen LIPIA yang heran dengan perilaku pemuda ‘salafi.

kayaknya alumni LIPIA deh...

Offline Abu Al-Jauzaa

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.466
  • Jenis kelamin: Pria
  • Namaku : Abu Al-Jauzaa'
    • Lihat Profil
    • Blog Abu Al-Jauzaa'
« Jawab #26 pada: 10 April 2007, 10:42:37 »
Nasihatku untuk ‘Salafiyun’ dan yang terjebak di dalamnya
( :koran: pokoknya rugi gak baca ini sampai selesai) …

by Abu Faqih   %peace%
Jun,.... atau Abu Faqih.... atau siapapun.... membaca tulisan antum, ana jadi ingat idiom : menyanyikan lagu usang. Sebenarnya,... jika kita membuka beberapa halaman ke belakang; niscaya kita akan menemukan tulisan yang semisal.

Ini merupakan komentar ringan ana atas apa yang antum tulis. Kalau antum cerita tentang 'salafi' yang antum kenal semenjak 1993; kalau boleh nanya : "Antum mengenalnya di tahun 1993 itu dengan jasad antum atau cuma membaca tulisan di internet yang juga banyak mempunyai starting analysis di tahun serupa ?". Kalau antum telah mengenal 'salafi' di tahun 1993, tentu waktu itu antum masih berada di Jawa. Dan seberapa jauh perkenalan antum dengan 'salafi' dari tahun 1993, dari apa yang ana baca; nampaknya antum hanya berdasarkan metode kitabah (alias mbaca-mbaca tulisan) atau gosip sana sini saja.

Kalau antum berkomentar bahwa 'salafi' itu sebenarnya bodo dan cuman 'nggaya' pinter dengan mencatut nama dosen2 LIPIA; itu merupakan hak antum. Setiap orang boleh saja berkomentar demikian. Dan tentu,... komentar2 ini bukanlah sesuatu yang baru. Tapi, ana pun tentu boleh berkomentar : "Realitas dan kenyataan mendustakan perkataan antum !!". Karena tulisan antum nampaknya antum batasi dengan kejadian di dalam negeri, maka ana pun berkata dan berkomentar dalam konteks dalam negeri. Realitas membuktikan bahwa buku-buku dan halaqah-halaqah yang diadakan oleh 'salafi' jelas lebih berilmu dibandingkan dengan halaqah IM, HT, atau yang lainnya. Ini kenyataan mas ! Dan karena ana hanyalah seorang yang berkuliah di jurusan Kehutanan dan Lingkungan di IPB Bogor; maka ana katakan : "Rata-rata kualitas diniyyah dari para aktifis IM, HT, dan yang lain adalah di bawah 'salafi'; baik mahasiswa, pegawai, atau dosen (PAI)nya ". Eitt.. mohon dibaca santai kalimat ana ini. Ana nulis tidak ada tendensi macem-macem. Ana hanya nulis realitas. Dan bagi mahasiswa IPB yang kebetulan aktif di MyQ; ana terbuka untuk beradu fakta. Sudah menjadi maklum jika halaqah IM tidak melazimkan mengkaji kitab. Sudah sangat lazim........ Dan sudah sangat lazim mereka dalam halaqah hanya beretorika dan mengkaji waqi' alias berita-berita koran yang dengan itu ingin menumbuhkan semangat. Ya.... semangat tanpa ilmu. Tapi alhamdulillah punya semangat, daripada nggak ada. Dan tengoklah pula di kampus-kampus yang lain seperti STAN, UI, ITB, UGM, ITS, dan UNAIR. Siapa yang melazimkan halaqah keilmuan ? 'Salafi' atau bukan 'salafi' ? Jawablah dengan jujur wahai kaum yang berpikir. Itu baru komunitas akademika formal yang sangat ana kenal. Siapa yang melazimkan untuk membuka kelas-kelas bahasa Arab ? Komunitas 'salafi' atau IM ? Jawablah dengan jujur wahai pecinta kejujuran ! Menginjak di kelas-kelas ma'had diniyyah dalam negeri, ana juga melihat dirasah yang diberikan oleh ma'had2 'salafi' juga lebih dalam dan lebih 'ilmi. Khusus untuk point ini ma'had-ma'had non salafi' yang ada di Jabotabek sepanjang pengetahuan ana. Atau kita bisa perbandingkan, situs atau blog dalam negeri yang berisi tentang agama. Mana yang lebih ilmiah antara situs 'salafi' atau non salafi ?

Mengenai perselisihan di antara 'salafi', jawaban ini telah ditulis oleh teman ana : Abu Salma. Silakan kunjungi www.abusalma.wordpress.com
Ringkasnya : Salafy tidaklah mengenal perpecahan, karena salafy adalah nisbat orang yang kepada manhaj salaf. Manhaj yang selamat. Jikalau ada person-person yang menyelisihi manhaj salaf dengan melazimkan perpecahan, maka dia bukanlah salafy; walau dia ngaku salafy. Pengakuan semata tidaklah cukup bukan ? Ana kira itu telah ma'ruf.

Antum katakan bahwa 'salafi' fanatik buta ? Mmmmm..... ini pun kalimat usang yang terus diulang. Tidak ada fanatik-fanatikan dalam istilah 'salafi' mas... Kalau tolok ukur antum fanatik dan bukannya seseorang apakah dia mau membaca tulisan/buku orang lain; maka klaim ini tidak mutlak benar. Kalau tulisan/buku yang ditulis tersebut berasal dari orang yang komitmen terhadap Al-Qur'an dan As-Sunnah dan bermanhaj salaf (walau mungkin ada satu atau dua ketergelinciran); maka 'salafi' dalam hal ini open minded. Terbuka. Tapi kalau yang antum maksud bahwa 'salafi' harus membaca buku2 karangan orang yang menyimpang dalam manhajnya; maka ini adalah perkataan yang bodoh. Apakah antum akan menyuruh 'salafi' membaca buku-bukunya Muhammad Al-Ghazaly ? Antum kenal kan dengan buku super hitamnya yang berjudul : As-Sunnah baina Ahlil-Fiqh wa Ahlil-Hadits. Buku ini penuh pencacian terhadap As-Sunnah dan ulama Ahlus-Sunnah. Dan buku ini pula yang sering dijadikan rujukan kaum orientalis dan kaum Syi'ah untuk menyerang Shahihain. Khusus untuk kaum Syi'ah ini, maka ana punya pengalaman ketika membaca buku2nya Husein Al-Habsyi (pentolan Syi'ah Rafidlah asal Bangil yang telah mati). Begitu maksud antum ? Atau,... antum akan berkilah : "Jangan baca buku itu, tapi baca buku beliau yang lain yang berjudul : Laisa minal-Islam". Lha ini,.... jika antum mengatakan demikian; semakin menunjukkan ketidak jelasan manhaj dan sikap antum dalam al-wala' wal-bara'. Karena jika kita terima usul antum tersebut, maka tentu akan membuka kekaguman bagi pembaca. Lantas, akan membuatnya akan mencari-cari bukunya yang lain yang kemudian ketemulah buku sesatnya.... yang kemudian ia tidak bisa membedakan lagi antara yang haq dan yang bathil. Kebenaran dan kebathilan ia telan semua. Atau,.... antum menyuruh 'salafi' membaca Tafsir Fii Dhilalil-Qur'an-nya Sayyid Quthb ? Kalau misalnya ada seorang 'salafi' yang punya hobi membaca kitab tersebut, maka ana anggap ia kurang kerjaan. Masih banyak kitab Tafsir lain yang jauh lebih bagus dan bermutu dibandingkan kitab tersebut. Tentu antum tidak asing dengan kritik para ulama tentang kitab Fii Dhilalil-Qur'an tersebut. Mulai dari pikiran mu'tazilah, takfir, shufi, dan yang lainnya. Dan harus diakui bahwa penulisnya memang bukan mufasir, tetapi seorang sastrawan. Kalau antum menolak pernyataan ana ini, tolong deh buat statement pada ana yang menyatakan bahwa beliau ini memang seorang ulama dan mufasir yang ulung. Bukan sekedar sastrawan dan pemikir saja. Lantas,.... apakah salah jika seorang 'salafi' tidak membaca kitab Tafsir tersebut. Juga Dr. Al-Qardlawi yang dulu pernah dipuji oleh pak isih_sinau ( ? ) sebagai seorang pakar hadits. Namun dalam beberapa kesempatan, beliau ini justru tidak menunjukkan pujian yang diberikan oleh pak isih_sinau tersebut. Dulu contohnya pernah ana sebut. Juga bagaimana sikapnya terhadap beberapa hadits dalam Shahihain (mengenai maut disembelih, status orang tua Nabi, dan yang lain-lain). Juga,........ beberapa fatwa beliau yang sangat-sangat tasahul terhadap Ahlul-Kitab, Syi'ah, dan wanita.
Hmmm.... secara khusus antum membuat kolom pujian pada Al-Qardlawi ya ? Ana akui bahwa satu atau dua kesempatan Syaikh Bin Baaz dan Syaikh Al-Albani memuji beliau. Tentu memuji terhadap apa-apa yang patut untuk dipuji. Tapi ketika beliau berdua mengkritik, apakah juga antum tampilkan. Silakan cari kritikan beliau berdua terhadap Al-Qardlawi. Kalau mencarinya dengan benar, insyaAllah ketemu. Antum ini lah yang sebenarnya tidak proporsional mas............ Apalagi memakai tolok ukur SBY segala. Sebenarnya hal yang semacam ini tidak perlu dikomentari. Dulu Pak Amin Rais ketika menjabat sebagai ketua PAN dan ketua MPR juga menerima pimpinan Ahmadiyyah (yang jelas-jelas dinyatakan minoritas non Islam). Kalau ada yang mau berhusnudhan, mereka menerima dalam kapasitas sebagai tuan rumah terhadap tamunya. Itu kalau kita mau berhusnudhan. Jadi,... itu bukan tolok ukur bukan ? Semoga para pemimpin negara kita diberikan oleh Allahpengetahuan agama dan menjalankannya.

Sekali lagi,.... apakah antum akan mengharuskan "anak-anak yang baru ngaji" (meminjam terminologi antum) itu dengan pemikiran-pemikiran super aneh dan para penyimpang manhaj salaf ini ? Justru ana merasa kasihan jikalau anak-anak yang baru ngaji seperti ana ini terjejali onggokan-onggokan pemikiran yang tidak bermanfaat bagi agama dan dunianya. Kacian.... oh kacian.......

Kalau antum katakan bahwa : IM, HT, JT. MMI, dan yang lainnya harmonis; justru itu sama sekali tidak menambah kekaguman ana. Naas ! Maaf, konteks yang sedang kita bicarakan tentu tidak menyinggung hak-hak muslim secara umum seperti menengok ketika sakit, menolong kesulitan tetangga muslim, mengantar jenazah ke kuburan, dan yang lainnya. Tentu yang kita maksud ini berkaitan dengan fikrah Diniyyah. Pada kesempatan formal,... memang kelompok-kelompok itu mesra. Dan memang manhaj mereka adalah manhaj sayur sop. Campur aduk. Semua masuk. Kalau 'salafi' diundang pertemuan gado-gado tersebut, wajar saja kalau tidak mau datang. Buat apa ? Duduk-duduk dengan mereka hanya membuat kita semakin lemah. Pelo untuk mengatakan al-haq dengan dalih persatuan umat. Dan itu kenyataannya. Betapa banyak tokoh-tokoh IM atau PKS yang 'pelo' mengatakan kebathilan itu adalahkebathilan gara-gara mereka telah duduk di satu halaqah dengan "seterunya". Dan tidaklah mengherankan bagi ana kalau IM itu merupakan jama'ah gado-gado yang memasukkan semua unsur. Pokoknya yang ngaku Islam, masuk. Syi'ah masuk. Shufi masuk. Quburi masuk. Mu'tazili masuk. Ini bukan reka-reka lho yaa.... Kenyataan ! Apalagi kalau kembali di negeri asalnya sana di Mesir dan sebagian negara Arab. O iya,.... pernyataan bahwa IM, JT, atau HT itu akur-akur saja nampaknya perlu ditinjau kembali ya.... Kalau di kesempatan formal memang iya. Ya karena faktor 'pelo' itu tadi. Tapi kalau kembali di halaqah masing-masing; nampaknya tidak lho ! Ada tetangga ana yang keluar (sebagai guru) dari sebuah SDIT di Bogor hanya gara-gara didominasi oleh orang-orang IM. Hayo.... siapa yang dari Bogor ngacung ! Itu tuh... pengajian-pengajian Darmaga, Bogor yang 'saingan' antara IM dan HT. Ini bukan dalam konteks fastabiqul-khairat. Tapi memang benar-benar saingan dalam memperebutkan massa. Bahkan pernah aktifis-aktifis HT blingsatan karena ada selebaran yang mengatakan bahwa HT memperbolehkan mencium wanita ajnabiyyah. Disinyalir kuat, selebaran itu dari IM. Kejadian ini terjadi di Kelurahan Padasuka (Perumahan Taman Pagelaran), Kecamatan Ciomas, Bogor. Di daerah ini banyak tinggal aktifis dan pentolan-pentolan IM dan HT (dalam satu komunitas). Ini realitas mas............ bukan reka-reka dan bukan pula data sekunder. Ana tinggal di Bogor.

Tentang fiqh,.... katanya 'salafi' tidak memperbolehkan adanya ruang perbedaan. Kata siapa mas ? Ana gak tahu apakah perkataan ini berdasarkan analisis holistik atau cuma analisis di atas meja (desk analysis) saja. Antum contohkan terhadap kitab Shifat Shalat Nabi. Oke... oke... Silakan antum buka www.salafyitb.wordpress.com Setelah membuka, apakah di situ tergambar di benak antum bahwa harus seperti Syaikh Al-Albani dalam Shifat Shalat Nabi ? Sudah pernah buka belum itu blog mas ? Bahkan di Forum Fiqh MyQ ana barusan menyinggung fiqhiyyah yang berbeda dengan pendapat Syaikh Al-Albani dalam kitab beliau tersebut (yaitu dalam masalah : Sikap Tangan ketika Berdiri I'tidal Setelah Rukuk). Apalagi antum menghiperbolakan masalah isbal yang kata antum : Harus Setengah Betis. Kata siapa mas dengan penggunaan kata "harus" ini ? Coba deh antum terjun di dunia nyata dengan duduk mendengarkan di halaqah-halaqah asatidzah 'salafi'. Bukan hanya sekali atau dua kali ana mendengar bahwa celana/sarung/pakaian yang syar'i itu ada dalam 3 keadaan :
1.  Setengah betis (ini paling utama)
2.  Antara betis sampai di atas mata kaki (boleh/mubah)
3.  Antara lutut dan betis (boleh - akan tetapi lebih baik dihindari - makruh tanzih)
Dan yang perlu antum ketahui bahwa pembahasan antara boleh tidaknya isbal, juga dibawakan oleh 'salafi' yang menukil pendapat dari kalangan Ahlus-Sunnah mutaakhkhirin. Silakan buka diskusi di www.salafyitb.wordpress.com
Dan tolong deh, kalau berkomentar jangan sampai bernada merendahkan Sunnah sepeti ini :
Kutip
Celana pun harus setengah betis, jika belum maka diragukan ‘kesalafiannya’.
Setengah betis adalah Sunnah dan utama mas !

Terus,........ antum dalam tulisan antum di awal sedikit menyimpulkan bahwa seakan-akan 'salafi' tidak pernah membahas tentang LDII, NII, Inkarus-Sunnah, dan lain-lain ya ? Waduh... waduh..... perkataan antum itu maju dulu, ilmunya ketinggal di belakang. Kalau antum mau, bisa ana tunjukkan di edisi berapa tahun berapa contoh majalah-majalah 'salafi' membahas secara khusus firqah sesat tersebut. Bukan hanya sekali mas.............. Juga, berkunjunglah ke tasjilat2 'salafi', insyaAllah antum akan mendapatkan kajian rudud kepada firqah sesat yang antum maksudkan itu. Dan justru, yang ana temui rudud terhadap firqah sesat itu lebih banyak dari 'salafi' dibandingkan IM, HT, apalagi JT. Ya.... mungkin yang kelihatan wah rududnya terhadap firqah2 sesat itu karena Pak Hartono nulis buku khusus tentang itu dan dicetak. Dan ini diklaim mewakili rududnya orang-orang seperti antum. Begitu ? Dan ana minta mas TS untuk mengecek, baik di majalah Syari'ah, Al-Furqan, dan As-Sunnah; proporsi antara kajian ilmi dan rudud-nya banyakan mana ? Kalau antum mengatakan banyak rududnya : Silakan kasih ana data valid. Kebetulan ana banyak koleksi majalah-majalah yang disebutkan itu. [makanya..... kalau mbaca yang bener ya.... jangan cuma sepotong-sepotong. baca juga iklan obat habbatus-sauda'-nya biar sehat antum punya pikiran)

« Edit Terakhir: 10 April 2007, 11:22:57 oleh Abu Al-Jauzaa »

Offline Abu Al-Jauzaa

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.466
  • Jenis kelamin: Pria
  • Namaku : Abu Al-Jauzaa'
    • Lihat Profil
    • Blog Abu Al-Jauzaa'
« Jawab #27 pada: 10 April 2007, 10:46:34 »
Kembali ke lingkup LIPIA. Antum nyinggung-nyinggung tentang Penulis Risalah Bid'ah dan Al-Masaail yang kemudian menyitir sebagian lulusan LIPIA yang mengatakan : Laa yanfa' (tak bermanfaat). Namun di saat yang sama antum mengatakan : mengambil manfaat dari buku tersebut. Aneh bin ajaib. Kontradikstif, dan terus terang,........ ana gak tahu apa maksudnya. Perkataan hasad dan dengki adalah hal yang lazim. Entah karena penyakit se-jaman dan se-tempat (bahasa kasarnya : kalah ilmu dan kalah populer) atau karena apa, ana ga tahu. Padahal anak-anak LIPIA banyak yang datang di halaqah beliau di Jakarta. Nah,... ini mewakili si lulusan LIPIA yang mana ? LIPIA versi teman antum. Maaf, ana pribadi tidak terlalu silau dengan kata-kata LIPIA. Mungkin karena ana bodo, jadi ga merasa terlalu kagum.
Coba antum tanya ke bagian maktabah LIPIA, siapa yang paling sering mengunjungi dan hafal letak kitab di maktabah LIPIA ? Maaf, sekali, ini sebenarnya juga bukan tolok ukur. Cuma sebagai penambah ilustrasi terhadap rujukan ke-LIPIA-an antum saja. Kalau antum dan rekan ingin menanggapi tentang dua kitab beserta Penulisnya, ya silakan. Kebetulan antum kan mungkin satu kota. Punya akses menuju beliau, ana kira. Bagian mana yang mengandung makna : Laa yanfa' itu. Jadi permasalahannya jelas.
Kalau antum punya banyak catatan terhadap bukunya pak Andi Bangkit, tolong catat pula berbagai talbisnya Penulis buku IM Anugrah Allah yang Terzalimi. Kita komparasikan kedudukan dua buku tersebut. Jadi jelas............ Ana sudah baca buku Pak Andi bangkit.

Antum juga mengungkit-ngungkit masalah pencelaan. Pertanyaan : "Apakah mencela orang yang menyimpang itu tidak diperbolehkan secara mutlak ?". Nampaknya ini tidak perlu ana ulang uraiannya. Telah banyak yang nulis. Tapi di sini ana juga tidak membenarkan perilaku sebagian orang yang ngaku salafi tapi ghulluw dalam menerapkan metode ini. Setiap perkataan itu ada tempatnya.

Mengenai masalah Al-Ma'tsurat. Nampaknya ini juga sebagai reaksi orang yang sama atas Thread yang dibuat oleh akh Abdul-Alim. Kata antum : Dusta orang yang mengatakan bahwa IM mewajibkan membaca dan menghafal Al-Ma'tsurat. Ana kira ini perkataan antum semata. Beda kata antum, beda pula kata Pak Ahmad Sarwat, Lc. dalam syariah.online. Kata beliau bahwa dulu memang diwajibkan oleh Hasan Al-Banna.
Kutip dari: Ahmad sarwat, Lc.
Al-Ma'tsurat itu disusun oleh Hasan Al-Banna, yang berisi zikir-zikir yang pernah dibaca oleh Rasulullah , namun urutannya dan jumlahnya tidak ada ketetapan dari beliau Salallahu Alaihi Wassalam. Dan kalau mau didalami lagi, dzikir yang pernah dibaca beliau SAW tidak terbatas hanya pada yang disusun oleh Al-Banna, tetapi lebih banyak lagi. Dahulu beliau meminta kepada para pendukung dakwahnya untuk melazimkan diri selalu membaca dzikir ini pada setiap pagi dan petang, dengan urutan yang seperti itu bahkan secara berjamaah bersama-sama.
Dan ana contohkan kejadian kongkritnya. Mungkin antum kenal dengan seorang lulusan LIPIA yang bernama Ustadz Eka Habibullah, Lc. (Syari’ah). Beliau ini dikenal sebagai aktifis PKS dan IM. Di Masjid Perumahan Alam Tirta Ciomas Bogor, beberapa saat yang lalu beliau mau menggalakkan Al-Ma’tsurat-an kepada jama’ah habis shalat. Lho,.... ini kan merupakan kecenderungan-kecenderungan yang mengarah pada apa yang dikritikkan oleh ’salafi’. Ini realitas mas !!

IM sangat memperhatikan aqidah ya ? O...o... perkataan seperti antum juga sering ana dengar dari orang-orang yang bernada defense. Kalau ada orang IM yang menulis tentang aqidah. Ya betul, memang ada. Ada orang IM yang berbicara tentang aqidah, ya betul ini ada. Tapi kalau kita berbicara IM secara umum, secara totalitas orang-orang yang ada di dalamnya beserta manhaj dakwah yang diembannya; mungkin perkataan ya yang ana ucapkan tadi berubah menjadi : Tidak. Ini kenyataan di lapangan. Sejak kapan ya halaqah IM melazimkan membicarakan aqidah, tauhid, dan kesyirikan secara mendalam dan istimrar. Kalau pernah, ya betul. Tapi bedakan antara melazimkan dan pernah. Bukan menjadi kebiasaan halaqah-halaqah IM secara umum bahwa mereka membahas Tauhid Uluhiyyah dan Asma' wa Shifat sebagaimana 'salafi'. Bukan menjadi kebiasaan halaqah-halaqah IM membiasakan memberantas kesyirikan dan kebid'ahan yang terjadi di masyarakat. Ini realitas dan penemuan lapangan oleh seorang Abu Al-Jauzaa'. Bisa ditengok halaqah di masjid-masjid besar kota Bogor seperti Al-Ghiffari, Masjid Raya, dan Al-Hurriyah. Atau bisa dicek di Kecamatan Ciomas tempat mangkal para pentolan dan aktifis IM dan HT seperti Masjid Al-Muhajirin, Al-Ikhwan, dan yang lainnya.

Tentang nasyid,........ ana ga tahu. Antum itu ngritik siapa ? Antum mengira bahwa 'salafi' secara umum tidak tahu fatwa Syaikh Ibnu 'Utsaimin, Syaikh Al-Albani, dan yang lainnya tentang masalah ini. Kalau betul antum mengira sepertiini, maka ana anggap ubun-ubun antum itu seperti telur. Terlalu menjulang tinggi (baca : sombong). Banyak ustadz dan thullabul-'ilm yang telah mengetahui hal ini mas, walau ana akui banyak di antara yang awam yang tidak mengetahuinya. Tapi tolong deh copas di sini fatwa para ulama tersebut. Inti yang bisa ana katakan adalah bahwa : Nasyid boleh asal tidak dibuat sebagai kelaziman sehingga melalaikan dari membaca/mendengarkan Al-Qur'an. Serta tidak diiringi alat musik. Seperti ini ga fatwanya mas ? Kalau yang antum dapatkan berbeda, coba deh di copas ke sini. Yang membedakan adalah bahwa IM itu menjadikan nasyid sebagai suatu yang berlebih-lebihan. Banyak pendendang nasyid yang lebih hafal syair nasyid tersebut daripada juz 30 (bukan 30 juz). Itu yang diingkari. Bahkan,... nasyid dijadikan salah satu sarana dakwah yang utama. Bikin kontes. Belum lagi musik-musiknya. Mungkin antum akan kembali menyanggah, bukankah musik juga khilaf. Khilafnya siapa dan siapa dan sebenarnya bagaimana kedudukan pembahasan khilaf tersebut. Ana tidak akan mengulang apa yang telah banyak ditulis di Forum ini. Ana katakan : Fatwa tasahul tentang musik menelorkan "lagu rohani" Allahu Akbar versi Band Pink (atau siapalah ana ga begitu hafal) yang konon mendapat penghargaan dari Pak Menteri Pemuda dan Olah Raga. Kemudian "lagu rohani" tersebut diubah versi dangdut oleh OM-OM tanah air. Ini ana dengar di sebuah perjalanan naik bus. Dan konon pula menjadi best seller waktu ramadlan kemarin. Oooooo... duniaku.....

Ah.... sudahlah......... sebagaimana yang antum juga katakan, ana sebenarnya juga males komentari tulisan antum. Penutupan komentar antum tentang fiqh aulawiyyatnya Dr. Al-Qardlawi hanyalah hiperbola untuk melemahkan semangat kaum muslimin dalam mengkaji ilmu. Anggaplah ana sebagai intel di MyQ. Paman ana marsekal, saudara ana tentara. Tapi Abu Al-Jauzaa' hanyalah sebagai orang kecil di dunia nyata. Dianggap intel juga boleh. Sebab, kalaumisalnya pemerintah minta bantuan ana untuk menyampaikan informasi tentang teroris, ya ana berikan sesuai dengan pengetahuan ana. OK ?
Kutip
Semoga Allah memaafkan saya, Astaghfirullahal ‘Azim, dan mohon maaf kepada ‘salafi’ kalau ada kata-kata ynag memanaskan telinga, sungguh IM, HT, MMI, dan JT, sebelumnya amat sering merasakan itu (bahkan lebih perih rasanya),  yang terlontar dari lisan  atau tulisan kelompok ‘salafi.’ Anda. Namun pada akhirnya menjadi biasa dan kebal.
Ana mbaca tulisan antum biasa saja. Sebagaimana kata antum, ana sudah "kebal" karena mendapat vaksin untuk itu. Ana baca tulisan antum dengan santai. Dan ana harap,.... ikhwah MyQ yang membaca tulisan ana pun dapat bersikap santai. Tidak usah pake kata-kata tendensius. Sebenarnya ana dapat menyebutkan peristiwa dan tokoh IM dan HT Bogor (setidaknya yang ana anggap tokoh lah) di Forum ini untuk memperkuat tulisan ana di Forum ini. Tapi gak usahlah.............. Semoga Allah memperbaiki niat dan amal kita. Amien.

Offline abie1102

  • Moderator
  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Jan 2007
  • Tulisan: 8.230
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #28 pada: 10 April 2007, 11:01:56 »
Duh, yang salafi jangan kebakaran jenggot dulu donk. Kan TS udah kasih istilah salafi dengan tanda petik ('salafi'). Tidak menggeneralisir. Saya sangat menghormati dakwah salafiyah. Tapi tulisan TS seakan-akan menyuarakan hati kecil saya. Memang sulit menerima kenyataan, tapi itu adalah fakta. Mari kita bersihkan dakwah salafiyah dari fitnah-fitnah.
@TS barakallahu fik


Offline Abu Al-Jauzaa

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.466
  • Jenis kelamin: Pria
  • Namaku : Abu Al-Jauzaa'
    • Lihat Profil
    • Blog Abu Al-Jauzaa'
« Jawab #29 pada: 10 April 2007, 11:08:50 »
Kutip
Duh, yang salafi jangan kebakaran jenggot dulu donk. Kan TS udah kasih istilah salafi dengan tanda petik ('salafi'). Tidak menggeneralisir. Saya sangat menghormati dakwah salafiyah. Tapi tulisan TS seakan-akan menyuarakan hati kecil saya. Memang sulit menerima kenyataan, tapi itu adalah fakta. Mari kita bersihkan dakwah salafiyah dari fitnah-fitnah.
@TS barakallahu fik
Apa termonologi kebakaran jenggot akh ? Biasa saja kok. Bahkan ana buat gaya penulisan ana mirip dengan gaya penulisan TS. Adem..... adem......
TS tidak menyebut dirinya IM, HT, JT, dan yang lainnya. Dan tentu TS tidak menyebut dirinya 'salafi' (dengan tanda petik). Apakah TS ini yang dimaksud salafi (tanpa tanda petik) ? Yang 'salafi' telah disebut objeknya. Lantas siapa (sekali lagi) salafi itu ?
Ah,... istilah dengan atau tanpa tanda petik ini hanyalah rekaan TS saja kok. Maksud TS telah mafhum kok. Kok,... kok... kok....
« Edit Terakhir: 10 April 2007, 11:13:04 oleh Abu Al-Jauzaa »