Penulis Topik: Nasihatku untuk ‘Salafiyun’ dan yang terjebak di dalamnya (1/2)  (Dibaca 10365 kali)


Offline al-muhandis

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 409
  • Lokasi: Bandung - Surabaya
  • Jenis kelamin: Pria
  • Allah Ghayatuna !!
    • Lihat Profil
« Jawab #30 pada: 10 April 2007, 11:15:29 »
ii..capek deh...ane rasa debat gini nggak ada akhirnya :(
Brigade Izzudin Al Qossam Lanah Bandung...

Offline Abdul Ghafur

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Mar 2007
  • Tulisan: 728
    • Lihat Profil
« Jawab #31 pada: 10 April 2007, 11:19:24 »
kok serba tidak jelas sih?
ini siapa "jun" atau "abu faqih" dan siapa pula yang dimaksud oleh abu al-jauzaa?

hati-hatilah wahai saudara-saudaraku.
jangan menuduh sembarangan sebelum ada bukti yang nyata.

untuk moderator, kalau topik ini dianggap fitnah, sebaiknya ditutup saja. kecuali jika TS mau menjelaskan maksud tulisannya dengan jelas.

Offline abie1102

  • Moderator
  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Jan 2007
  • Tulisan: 8.230
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #32 pada: 10 April 2007, 11:20:37 »
Kutip
Duh, yang salafi jangan kebakaran jenggot dulu donk. Kan TS udah kasih istilah salafi dengan tanda petik ('salafi'). Tidak menggeneralisir. Saya sangat menghormati dakwah salafiyah. Tapi tulisan TS seakan-akan menyuarakan hati kecil saya. Memang sulit menerima kenyataan, tapi itu adalah fakta. Mari kita bersihkan dakwah salafiyah dari fitnah-fitnah.
@TS barakallahu fik
Apa termonologi kebakaran jenggot akh ? Biasa saja kok. Bahkan ana buat gaya penulisan ana mirip dengan gaya penulisan TS. Adem..... adem......
TS tidak menyebut dirinya IM, HT, JT, dan yang lainnya. Dan tentu TS tidak menyebut dirinya 'salafi' (dengan tanda petik). Apakah TS ini yang dimaksud salafi (tanpa tanda petik) ? Yang 'salafi' telah disebut objeknya. Lantas siapa (sekali lagi) salafi itu ?
Ah,... istilah dengan atau tanpa tanda petik ini hanyalah rekaan TS saja kok. Maksud TS telah mafhum kok. Kok,... kok... kok....

Yah, sutra lah kalo ga ngerasa gitu. Soalnya saya amati temen-temen baik yang salafi ato yang lain mudah sekali terpancing. Jangan berprasangka buruk dulu, pesan saya ber-husnudzonlah. Keep Cool, OK!  %peace%

kok serba tidak jelas sih?
ini siapa "jun" atau "abu faqih" dan siapa pula yang dimaksud oleh abu al-jauzaa?

hati-hatilah wahai saudara-saudaraku.
jangan menuduh sembarangan sebelum ada bukti yang nyata.

untuk moderator, kalau topik ini dianggap fitnah, sebaiknya ditutup saja. kecuali jika TS mau menjelaskan maksud tulisannya dengan jelas.

Buru-buru banget sih...bukannya model beginian dari dulu udah BUUUAAAAAAAAAANNYYAAAAAAK BANGET!!! Kalo dibilang bosen, an juga bosen banget.
Ntar kecian Mod-nya. Dikirain tendensius terhadap thread tertentu (hati kecil berkata: tapi kadang emg gt sih, af1 mod  %peace%). Padahal Mod kan udah berusaha objektif dan adil. Tapi silahkan sih buat mod kalo mo ditutup. hehe...
« Edit Terakhir: 10 April 2007, 11:26:13 oleh abie1102 »


Offline Ali Akbar

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 66
    • Lihat Profil
« Jawab #33 pada: 10 April 2007, 11:22:32 »
@Abu Al-Jauzaa

Ana yakin Abu Faqih ini insyaallah lain dengan yang antum bilang "Orang baru muka lama"

@TS

Sepertinya saya kenal sama al-Akh Abu Faqih :)

OOT


abu faqih yg mana sih? abu faqih banyak amat. apa itu abu faqih al-khozin alumni LIPIA yg nulis buku tentang poligami yang diterbitin i'tishom yg sekarang ngajar di ma'had imarat bandung?

jadi nebak2 nih siapa gerangan abu faqih. soalnya kalo abu faqih yang pernah 'diskusi' dengan para salafi di salah satu situs mereka, kayaknya bukan deh. gaya bahasanya lain. wallahu a'lam.

Ternyata Abu Faqih memang banyak  :malu:

Offline Abu Al-Jauzaa

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.466
  • Jenis kelamin: Pria
  • Namaku : Abu Al-Jauzaa'
    • Lihat Profil
    • Blog Abu Al-Jauzaa'
« Jawab #34 pada: 10 April 2007, 11:54:02 »
Alhamdulillaahu,... nama Abu Faqih banyak. Abu Faqih, sebuah nama kunyah yang bagus. Ya, memang pak Ali Akbar. Dugaan ana semula meleset. Alhamdulillah. Ana tidak merasa gembira ketika dugaan ana betul. Justru ana gembira jika dugaan ana tidak betul. Ana ralat perkataan ana dengan senang hati.

Offline kiripayun

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 734
  • Lokasi: jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #35 pada: 10 April 2007, 16:34:54 »
Abu Faqih itu dulu saya mengenal tulisan dia di forum sebuah blog yg sekaang sudah beda tampilannya.Dia seorang penulis buku.Segini aja yah..nanti saya dituduh tajassus nih heheheh

Offline thalhah

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Mar 2007
  • Tulisan: 1
    • Lihat Profil
« Jawab #36 pada: 10 April 2007, 17:06:14 »
bukankah si empunya tulisan yg keliatannya "menasihati" salafi tuh kesannya juga menghujat?
bercerminlah dalam nurani fitrahmu yaa akhi
mintalah hidayah kepada Allah, dan terimalah hidayah al haq dengan kejujuran dan kesabaran
sholatlah kemudian munajatlah kpd Allah

Offline PRYSMIAN

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Feb 2007
  • Tulisan: 43
    • Lihat Profil
« Jawab #37 pada: 10 April 2007, 18:10:29 »
Ustadz Abu aw kiripayun,

Sering ana mendengar istilah "ilmiah", Menurut antum tulisan ilmiah itu seperti apa sih ? apakah bisa dinilai dg menuliskan banyak ayat2 dan hadits2 yg berhubungan ? krn pengalaman setiap baca artikel "Salafiyyun" sering hrs mengerutkan kening dulu br mengerti maksudnya , apakah tdk lebih baik hanya menulis satu,dua ayat dan hadits kemudian scr ringkas langsung dinukil qoul ulama shg mudah ditarik kesimpulan? apakah tulisan DR. Yusuf Al Qorodhowy yg ringkas antum katakan tdk memenuhi kategori ilmiah ? juga apakah tulisan artikel yg mencoba menerapkan ilmu (aqidah,fiqh,dll) scr praktis ke daily life  (seperti artikel2 Ust. DR Attabiq Luthi-yg ana sukai) juga tdk bisa dikatakan ilmiah ?

Mengenai kajian,  kl antum cukup jeli, sebenarnya banyak kajian2 yg diadakan di yayasan yg berafiliasi ke PKS, contoh di YAPIDH Bekasi, tiap ahad pagi ada kajian tafsir, fiqh dan hadits yg diasuh 3 ust. scr bergantian (DR Ahzami,Ust. Muhammadun MA (dosen baru LIPIA) dan Ust Qusyairi MA (S2 Ibn Suud , fak. hadits).
utk  mahad2 salafiyun, menurut ana mrk seharusnya juga  mengadakan baca Al Qur'an dg tajwid yg benar, pengalaman berinteraksi dg beberapa "salafiyun" , mrk rata2 lumayanlah u/berdiskusi tapi - maaf - tajwidnya amburadul . Insya Allah ana mau usulkan hal ini ke masjid dekat rumah  yg rutin mengadakan kajian.

Klaim kajian2 salafiyun lebih dalam ? hmm..ana rasa hanya metodenya saja yg berbeda, kajian2 salafiyun lebih cenderung menarjih ke 1 pendapat dan menyalahkan yg lain, sedangkan kajian ikhwah , jika ada 2 pendapat maka menarjih yg kuat dan memahami yg lain seperti ungkapan "saya benar tp ada kemungkinan salah, dia salah tapi ada kemungkinan benar" ,"jika tdk memahami perbedaan, maka mrk belum mencium bau fiqh'.

Mengenai banyak ucapan2 yg melecehkan ulama2 yg "tdk sealiran", ana teringat waktu ziarah suyukh ke salah satu masyaikh PKS, disayangkan sekali pelecehan thd PKS, apakah mrk tdk sadar (yg lulusan LIPIA) bhw  scr tdk langsung mrk menjelekkan2 guru2nya seperti ke ust. Muslih, ust. Daud Rasyid dan ust. Salim Segaf ?  apakah mrk hafidzullah masuk dalam 72 golongan ? (berani sekali org awam yg berani berkata seperti itu)

Mengenai Sayid Qutb, (kl antum mau lebih both side-ana koq yakin nggak ya) ada buku yg dijadikan disertasi doktoral adn mendapat cumlaud di Univ. Ibn Suud (pengarangnya lupa), diterjemahkan 3 jilid - ana kebetulan dirumah punya jilid 1 "Pedoman memahami Tafsir Fi Dzilal" .

Utk tarbiyah, pengalama ana  , pas ikut MR yg tdk berbackgroud agama ya, kl diliat dari kemampuan tafsir dan haditsnya.., yamemang segitu, tapi yg lebih penting adl ukhuwah,control diri,salin mengisi dan menimbulkan sense of muslim yg berdaya guna, sedangkan pas pindah ke MR yg berbackground syar'i, memang lebih nyaman dan tenang.

Gitu aja ... , Wallahua'lam

Offline rudiy

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Mar 2007
  • Tulisan: 20
    • Lihat Profil
« Jawab #38 pada: 10 April 2007, 18:30:21 »
Kita tahu tujuan dari IM, HT, JT, Aa gym dll, sangat mulia sekali yaitu menjdikan islam itu SOLUSI, tapi SALAFI kok malah mau menjatuhkan, setahu ane yang mau menjatuhkan islam itu BUSH dan antek2nya, aneh bin ajaib ada apakah di balik ini....?

Offline haitan

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 1.378
  • Lokasi: Bandung
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #39 pada: 10 April 2007, 21:22:21 »
Assalamu 'alaikum wr. wb.

Kita tidak perlu terburu-buru, tetapi marilah kita sama tholabul ilmi untuk kebaikan bersama. Jika ada perbedaan pandangan itu hal biasa, dan masing-masing kaum muslimin mempunyai pandangannya terhadap sesuatu itu. Jika ada yang benar kita dapat ikuti, tetapi jika tidak tepat menurut pandangan kita, kita dapat memberikan pandangannya juga. Sehingga kaum muslimin dapat tumbuh untuk membangun ummat Islam dari waktu-ke-waktu.

Dan sekarang ini, meskipun kita sekarang ini mudzakarah tentang hal-hal yang banyak dibicarakan (Baca: saling memberikan komentar), tetap saja kita akan mengalami kesulitan untuk membangun. Karena informasi itu sudah tersebar, sehingga kita sendiri perlu memberikan informasi yang seimbang, dan kaum muslimin dapat kembali mendapatkan pencerahan, tidak hanya dari satu arah saja.

http://abdurrahman.wordpress.com/2007/03/25/fatwa-fatwa-ulama-ahlus-sunnah-tentang-jamaah-tabligh/#comment-223

Situs di atas ini merupakan beberapa pandangan yang disampaikan para ulama salafi terhadap usaha da'wah, tetapi ketika kami memberikan pandangan kembali. Ternyata tulisan kami itu dihapusnya, tidak ditampilkan, sehingga kita sulit untuk dapat saling membuka pencerahan, apalagi membangun. Oleh karena itu, dengan tulisan-tulisan yang disampaikan sebagai bahan yang pertama ini, dapat menjadi sebuah pencerahan dan kita semua perlu belajar mawas diri.

Pengalaman untuk saling berinteraksi dengan para pergerakan ini sudah lama-lama hari, kadangkala ada yang mengenakan dan kadangkala ada yang tidak mengenakan. Tetapi waktu lagi yang menjadi perhatian kita semua, dan sekarang pergerakan yang lebih dekat ke pergerakan usrah (IM) sekarang dapat saling berinteraksi dengan usaha da'wah. Berbeda dengan beberapa tahun yang lalu, dan kami sendiri merasakan bagaimana pandangan yang kurang mengenakan itu dari pergerakan itu. Jadi waktu lagi yang memberikan suasana dan kesempatan untuk tumbuh,

Sama halnya dengan Salafi sekarang ini, mungkin saja tidak mengenakan, tetapi ada juga yang mengenakan. Kami sendiri mendapatkan hal itu, mungkin kalau membaca tulisan situs itu, tidak mengenakan. Tetapi masih banyak manfaat yang diperoleh dari yang disampaikan itu. Misalkan saja, kita dapat melakukan pendalaman terhadap sumber-sumber yang menjadi landasan yang dipergunakan.

Tetapi meskipun begitu, kita harus dapat membangun untuk saling melakukan pencerahan. Termasuk dengan tulisan-tulisan pertama itu. Apakah sdr. semua berkeinginan kalau kami memberikan pencerahan feedback terhadap tulisan yang ada di situs itu? Bergantung lagi kepada waktu yang tepat atau tidak dilakukannya.

Sdr. Abu Al-Jauzaa beberapa waktu yang lalu pernah meminta kami sendiri untuk membaca kitab silsilah hadits shohih dari syeikh al-banni RH untuk No.1-3, kalau hanya memperhatikan yang tidak mengenakan saja, maka mungkin saja kebaikan atau semangat dari 3 hadits itu tidak kami peroleh. Sehingga dengan tiga hadits tersebut telah mendorong kami untuk terus memberikan semangat dan targhib kepada teman-teman kami untuk lebih giat dalam usaha da'wah ini.

http://haitanrachman.wordpress.com (Moh. Haitan Rachman)

http://usahadawah.com (Madrasah Da'wah dan Islam)

http://indonesianstrategic.wordpress.com (INDONESIAN STRATEGIC 2025)

Offline Abdul Ghafur

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Mar 2007
  • Tulisan: 728
    • Lihat Profil
« Jawab #40 pada: 10 April 2007, 22:55:32 »
Kayaknya thread ini memang mesti di-close. Semakin tidak jelas juntrungannya.

Btw, untuk abu al jauzaa & kiripayun, sebutkan saja di sini siapa yg antum maksud dg abu faqih? Tapi tolong disertai dg alasan & bukti yg kuat.

(anak tetangga ane namanya faqih juga. Tapi bapaknya gak kenal apa itu myquran)

a

Offline Abu Al-Jauzaa

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.466
  • Jenis kelamin: Pria
  • Namaku : Abu Al-Jauzaa'
    • Lihat Profil
    • Blog Abu Al-Jauzaa'
« Jawab #41 pada: 11 April 2007, 08:53:32 »
Akh PRYSMIAN .................

Kalau dahi antum perlu berkerut dahulu ketika ingin memahami tulisan 'salafi', nampaknya dahi antum berbeda dengan dahi ana ya. Alhamdulillah, dahi ana tidak sering berkerut untuk membaca sebuah artikel (please relax....). Cuma kalau perlu waktu untuk memahami, itu betul. Ada bahasan ringkas, ada pula bahasan detail. Tidak perlu antum memaksa ana untuk berkomentar lebih jauh terhadap kitab-kitab Dr. Yusuf Al-Qardlawi di Thread ini. Ana hampir mencapai titik jenuh untuk mengulang-ulang apa yang telah ana tulis. Sebagian kitab beliau, ana telah membacanya. Sebagian komentar ana............ telah ana tuliskan di Forum ini. Ya....ya...ya.... kalau antum menganggap itu ilmiah, ya silakan saja. Gak ada yang nglarang.

Mengenai ta'lim,.... bukankah ana telah menyebutkan bahwa memang ADA kajian ilmu yang diselenggarakan oleh IM. Tapi tolong deh bedakan antara kata ADA dan LAZIM. Ya terima kasih antum telah menyebutkannya. Dan mungkin ana juga bisa menambahkannya. Ana sangat paham jikalau antum katakan di bilangan Jakarta ini 'banyak' ta'lim ilmu. Ya.... karena banyak faktor. Namanya juga ibu kota, pusat segala-galanya. Pasti ADA. Ya.... sebagai gambaran saja. Jikalau kita ingin menemukan durian di bukan musimnya, Jakarta lah tempatnya. Mungkin permisalan ini dapat antum pahami.
Tegasnya begini : ........... apakah antum temui dalam kebanyakan (kalau ga boleh dibilang setiap) ta'lim rutin yang diselenggarakan IM/PKS itu membahas tentang 'aqidah, As-Sunnah, memberantas syirik dan bid'ah secara istimrar ? Jawablah akhi dengan pengamatanmu yang jeli !! Apakah antum temui di kebanyakan (kalau ga boleh dibilang setiap) ta'lim rutin yang diselenggarakan IM/PKS mengkaji kitab (ustadznya pegang kitab dan diikuti muridnya pegang kitab dengan menyimak penjelasan sang ustadz). Tentunya, apa yang ana bicarakan ini di luar konteks si murid tidak bisa membeli kitab atau mampu membeli tapi tidak menemukan kitab rujukan si ustadz. Jawablah itu wahai saudaraku !! Wah,..... kalau antum menemui seorang 'salafi' yang tajwidnya amburadul; sepertinya ini di luar konteks keumuman ya. Kalau sekedar diistilahkan 'banyak' menemui; ana pun juga begitu. Tapi tentu itu tidak akan ana jadikan hujjah ana dalam pembahasan ini. Bukan pembelaan diri. Karena yang namanya di masyarakat, sangat beragam. Ada yang beginner, intermediate, atau expert.
Sebagai tambahan akhi - untuk memperkuat apa yang ana katakan - keluarlah sedikit dari kota Jakarta, yaitu di Bogor (kota). Semakin jarang akan antum temui kajian2 sebagaimana yang antum sebutkan. Kalau di bilang ADA, ya memang ADA. Dan ini ana bisa sebutkan (ustadz Fulan membahas Tafsir Ibnu Katsir, dan yang lain). Tapi konteks pembicaraan kita adalah : "Apakah menjadi suatu KELAZIMAN ?".
Dan beda akhi jikalau antum temui kajian 'salafi'. Setiap ada kajian rutin di suatu tempat adalah lazim ditanyakan : "Sedang mengkaji kitab apa ?". "Kemarin pembahasan haditsnya sampai hadits nomor berapa ?". "Penjelasan ustadz sampai halaman berapa ?". Adakah kajian IM/PKS yang melazimkan seperti ini akhi ? Maaf,.... perkataan ana bukan sebagai pengunggulan yang berlebih-lebihan. Tapi ini realitas. Tolong disikapi dengan coool............

Tentang masalah fiqh,............ Ana jadi aneh sama antum. Keanehan ana ini disebabkan antum merasa aneh jikalau dalam kajian fiqh yang diadakan oleh 'salafi mentarjih satu pendapat. Ya tentu itu yang harus dilakukan setelah mengemukakan berbagai macam pendapat. Itulah manhaj para ulama. Coba deh antum tanyakan ke ustadz-ustadz antum yang kebetulan punya titel minimal Lc.; apakah para ulama mereka ketika memberikan penjelasan satu masalah tidak mentarjih satu pendapat. Atau,......... antum lihat di kitab-kitab Fiqh. Baik besar maupun kecil. Jumhur ulama pasti mentarjih salah satu pendapat (jikalau ada khilaf) dan meninggalkan pendapat yang lain dengan menjelaskan kelemahan pendapat tersebut. Inilah kaidah berilmu yang benar akhi.
Tapi mungkin yang antum maksud bukan ini. Mungkin yang antum maksud bahwasannya 'salafi' tidak menampilkan pendapat-pendapat lain yang berseberangan dengan pendapat yang ditarjih. Begitu ? Kalau misalnya ini yang antummaksud, maka ini bisa iya bisa pula tidak. Ini tergantung mad'unya. Jikalau mad'unya adalah para pemula dan rata-rata belum mutamakin dalam ilmu, maka biasanya diberikan pembahasan yang ringkas dan sederhana dengan dalil dari Al-Qur'an dan As-Sunnah Ash-Shahiihah. Dan ini banyak ana temui. Sebab, kalau diterangkan secara detail tentang khilaf, maka bagi konsumsi mereka tentu tidak pas. Bahkan sering juga di antara mereka yang menyentil : "Kesimpulannya apa ?".
Dan bila mad'unya bukanlah orang-orang pemula, maka diberikan pembahasan panjang lebar, khilaf, dalil masing-masing khilaf, dan kemudian tarjih atas permasalahan. Ini banyak akh. Mungkin saja antum belum pernah menemui karena memang tidak mencari. Bagaimana ikhwah-ikhwah 'salafi' ? Ada komentar ? Mungkin antum ingin hadir di kajian Fathul Bari ? Atau silakan datang di Masjid Imam Ahmad Bogor hari Ahad jam 10.00. Kebetulan pas mengkaji Taudlihul-Ahkaam yang merupakan Syarah Bulughul-Maram karya Ibnu Hajar. Di situ jikalau ada khilaf yang perlu untuk dijelaskan, akan dijelaskan. Tapi sering juga diringkas. Atau antum bisa beli kitabnya yang mengulas perbedaan beberapa masalah fiqhiyyah.

Yang aneh bagi ana,.......... banyak sekali dari asatidz IM/PKS yang ketika membahas masalah2 fiqh bersikap tidak tegas (sehingga membingungkan). Contohnya ketika ditanya tentang satu permasalah yang kemudian dijawab oleh ustadz dengan jawaban A. Kemudian ada pertanyaan susulan yang menanyakan amalan B; dan lantas dijawab oleh sang ustadz : A dan B boleh. Ini merupakan perbedaan fiqhiyyah. Sering sekali jawaban2 diplomatis diberikan hanya karena alasan "menjaga persatuan/ukhuwah". Ingat akhi,......... setiap perkataan itu ada tempatnya. Beberapa jawaban di syariahonline pun menyiratkan demikian.

Tentang masalah cela-mencela ana kira tidak perlu ana ulang di sini karena telah terwakili darijawaban ana sebelumnya.

Masalah Sayyid Quthb. Ini yang membuat aneh ana. Banyak catatan telah diberikan, tapi seolah-olah disembunyikan. Mengapa ? Karena beliau adalah tokoh IM dan bergelas "Asy-Syahid". Kalau ada catatan tentang kesalahan, terangkan dong. Secara realitas saja akhi,..... terjemahan-terjemahan Fii Dhilalil Qur'an (oleh Gema Insani Press dan yang lainnya) telah banyak beredar. Dan dikaji dan disitir dalam berbagai macam halaqah. Mengapa orang IM seakan 'diam' saja ketika memang ada banyak catatan terhadap buku tersebut. Apalagi antum sertakan dalam tulisan antum di atas tentang desertasi doktoral : "Pedoman memahami Tafsir Fi Dzilal". Lebih dikenal mana antara karya Sayyid Quthb tersebut dengan karya si Doktor ? Jawablah terus terang akhi ! Lebih banyak mana cetakannya antara karya Sayyid Quthb dengan karya si Doktor ? Dan mengapa dalam cetakan asli ataupun terjemahan tidak diberikan catatan kaki (tahqiq) atas koreksi kesalahan fatal Sayyid Quthb dalam Tafsirnya tersebut ? Atau pertanyaan ekstrimnya : Setelah mengetahui banyak kesalahan Sayyid Quthb dalam Tafsirnya, mengapa harus tetap mengkaji mempelajari, dan menganjurkan untuk mempelajari Fi Dhilal ? Apakah tidak ada kitab Tafsir lain sebagai badal (pengganti) yang lebih bagus ? Jawab ana : Banyak .................
Kutip
Kayaknya thread ini memang mesti di-close. Semakin tidak jelas juntrungannya.

Btw, untuk abu al jauzaa & kiripayun, sebutkan saja di sini siapa yg antum maksud dg abu faqih? Tapi tolong disertai dg alasan & bukti yg kuat.

(anak tetangga ane namanya faqih juga. Tapi bapaknya gak kenal apa itu myquran)
Sepetinya main tebak-tebakan kita nggak usah diterusin. Ana memancing itu sekedar sebagai bumbu saja (walau dalam hati tetap menebak-nebak - ya tentu dengan dasar alasan-alasan relevan). Lagi pula apa yang ana duga juga kemungkinan salah. Jadi ga usah diperpanjang. Begitu to ?
« Edit Terakhir: 11 April 2007, 09:45:09 oleh Abu Al-Jauzaa »

Offline SPIONASE

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2006
  • Tulisan: 392
  • Jenis kelamin: Pria
  • Hentikan pembodohan terhadap rakyat!
    • Lihat Profil
« Jawab #42 pada: 11 April 2007, 12:07:09 »
Kalau soal aqidah & fiqh saya banyak ngikutin orang2 yang disebut 'salafi'. Saya juga pernah (meskipun udah lama sekali) baca buku karangannya orang wahabi. Jadi sedikit banyak saya faham cara berfikirnya orang2 'salafi'. Banyak koq yang saya setujui dari mereka seperti menjaga aqidah, memberantas bid'ah, mengutamakan ilmu dll. Bahkan saya coba amalkan meskipun berat.

Cuma ada beberapa hal yang saya merasa nggak sanggup ngikuti. Pertama, menyerang pendapat ulama2 yang berbeda pemikiran, walaupun tujuannya bagus tapi saya koq rasanya nggak sampai hati alias nggak tega. Yang kedua, saya tidak sanggup untuk berdiam diri ketika masalah umat membayang di depan mata. Kalau saja saya ini cukup berani menyerang pendapat ulama dan kalau saja saya ini bisa cuek melihat palestina dijajah mungkin sudah lama saya bisa berjalan bersama dengan para 'salafi'. Tapi nggak usah berandai2 deh. Membuka pintu untuk setan
Bang-bang tut akar kolang-kaling Siapa yang kentut ditembak raja maling  Bang-bang tut akar trembesi Siapa bikin ribut boleh dieksekusi

Offline Abu Bakar Al Kidiri

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Mar 2007
  • Tulisan: 419
  • Lokasi: Malang
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #43 pada: 11 April 2007, 13:03:08 »
@SPIONASE
Pendapat anda yang pertama, tidak sembarangan membantah pendapat orang, itu sifat salafi. Kalaupun membantah pendapat orang itu adalah membantah kesesatan pendapatnya. Sifat salafi yang lainnya mungkin seperti pendapat anda.

Pendapat anda yang kedua, apakah salafi berdiam diri terhadap masalah umat? Begitu gencarnya dakwah tauhid, memberantas bid'ah, dan kurafat apakah salafi diam saja? Pengajian-pengajian digalakkan, pemahaman hadits disebar, tafsir Al Qur'an diperkuat, bedah buku, tulisan-tulisan artikel dan sebagainya untuk mengajak persatuan umat di bawah manhaj yang benar apakah bukti salafi berdiam diri atas masalah umat? Tidak, masalah umat itu banyak.
Contoh nih, pergi ke Makam Wali songo untuk berziarah tapi bukan ziarah malah minta sesuatu di kuburan. Ini dibahas salafi, ini penting karena ini adalah masalah tauhid.
Contoh lagi, tahlilan untuk orang mati, ini penting maka dari itulah dibahas.
Contoh lagi adalah maulidan, ini juga penting karena itulah dibahas.
Kalau yang anda maksud membahas politik, salafi juga membahasnya dan telah berbuat sesuatu, apa itu? Menentang demokrasi. Itulah yang telah dilakukan salafi. Sedangkan apa yang telah diperbuat salafi untuk bangsa ini? Ada yaitu tidak memberontak.
Kalau anda tanya apa yang salafi perbuat untuk umat Islam, jawabnya, Banyak orang yang sekarang faham tauhid, faham apa itu sunnah dan bid'ah, bahkan sampai-sampai ahlu bid'ah yang tidak tahu bid'ahpun sekarang berkoar-koar soal bid'ah.
Antum nggak tahu akhi, banyak juga ikhwan-ikhwan salafi yang pergi ke Palestina. Apa itu harus dipublish? Teman-teman saya sesama salafi juga pergi ke Palestina. Apa itu juga harus dipublish? Hanya orang-orang sombonglah yang harus memberitahu amalan ibadahnya. Nggak akhi, satu-satunya yang diutamakan dalam beribadah adalah tidak berbuat riya', sekalipun amalan antum itu meniru sunnah apakah harus dipublish?
Ingat akhi setan itu mengalir sebagaimana darah mengalir.
Dan katakanlah: "Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.
{Q.S Al Isra' ayat 111}

Offline haitan

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 1.378
  • Lokasi: Bandung
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #44 pada: 11 April 2007, 13:29:12 »
Assalamu 'alaikum wr. wb.

Y
@SPIONASE
Pendapat anda yang pertama, tidak sembarangan membantah pendapat orang, itu sifat salafi. Kalaupun membantah pendapat orang itu adalah membantah kesesatan pendapatnya. Sifat salafi yang lainnya mungkin seperti pendapat anda.

Pendapat anda yang kedua, apakah salafi berdiam diri terhadap masalah umat? Begitu gencarnya dakwah tauhid, memberantas bid'ah, dan kurafat apakah salafi diam saja? Pengajian-pengajian digalakkan, pemahaman hadits disebar, tafsir Al Qur'an diperkuat, bedah buku, tulisan-tulisan artikel dan sebagainya untuk mengajak persatuan umat di bawah manhaj yang benar apakah bukti salafi berdiam diri atas masalah umat? Tidak, masalah umat itu banyak.
Contoh nih, pergi ke Makam Wali songo untuk berziarah tapi bukan ziarah malah minta sesuatu di kuburan. Ini dibahas salafi, ini penting karena ini adalah masalah tauhid.
Contoh lagi, tahlilan untuk orang mati, ini penting maka dari itulah dibahas.
Contoh lagi adalah maulidan, ini juga penting karena itulah dibahas.
Kalau yang anda maksud membahas politik, salafi juga membahasnya dan telah berbuat sesuatu, apa itu? Menentang demokrasi. Itulah yang telah dilakukan salafi. Sedangkan apa yang telah diperbuat salafi untuk bangsa ini? Ada yaitu tidak memberontak.
Kalau anda tanya apa yang salafi perbuat untuk umat Islam, jawabnya, Banyak orang yang sekarang faham tauhid, faham apa itu sunnah dan bid'ah, bahkan sampai-sampai ahlu bid'ah yang tidak tahu bid'ahpun sekarang berkoar-koar soal bid'ah.
Antum nggak tahu akhi, banyak juga ikhwan-ikhwan salafi yang pergi ke Palestina. Apa itu harus dipublish? Teman-teman saya sesama salafi juga pergi ke Palestina. Apa itu juga harus dipublish? Hanya orang-orang sombonglah yang harus memberitahu amalan ibadahnya. Nggak akhi, satu-satunya yang diutamakan dalam beribadah adalah tidak berbuat riya', sekalipun amalan antum itu meniru sunnah apakah harus dipublish?
Ingat akhi setan itu mengalir sebagaimana darah mengalir.

Sdr. Abu Bakar,

Kita perlu memberikan catatan dalam pengajaran yang dilakukan salafi ini, supaya tidak menimbulkan beberapa hal yang kadangkala muncul dalam hal-hal yang kurang pada tempatnya. Sehingga memberikan kontra-produktif bagi kaum muslimin sendiri. Senang atau tidak senang hal ini merupakan sebuah keadaan.

http://haitanrachman.wordpress.com (Moh. Haitan Rachman)

http://usahadawah.com (Madrasah Da'wah dan Islam)

http://indonesianstrategic.wordpress.com (INDONESIAN STRATEGIC 2025)