Akh PRYSMIAN .................
Kalau dahi antum perlu berkerut dahulu ketika ingin memahami tulisan 'salafi', nampaknya dahi antum berbeda dengan dahi ana ya. Alhamdulillah, dahi ana tidak sering berkerut untuk membaca sebuah artikel (please relax....). Cuma kalau perlu waktu untuk memahami, itu betul. Ada bahasan ringkas, ada pula bahasan detail. Tidak perlu antum memaksa ana untuk berkomentar lebih jauh terhadap kitab-kitab Dr. Yusuf Al-Qardlawi di Thread ini. Ana hampir mencapai titik jenuh untuk mengulang-ulang apa yang telah ana tulis. Sebagian kitab beliau, ana telah membacanya. Sebagian komentar ana............ telah ana tuliskan di Forum ini. Ya....ya...ya.... kalau antum menganggap itu ilmiah, ya silakan saja. Gak ada yang nglarang.
Mengenai ta'lim,.... bukankah ana telah menyebutkan bahwa memang ADA kajian ilmu yang diselenggarakan oleh IM. Tapi tolong deh bedakan antara kata ADA dan LAZIM. Ya terima kasih antum telah menyebutkannya. Dan mungkin ana juga bisa menambahkannya. Ana sangat paham jikalau antum katakan di bilangan Jakarta ini 'banyak' ta'lim ilmu. Ya.... karena banyak faktor. Namanya juga ibu kota, pusat segala-galanya. Pasti ADA. Ya.... sebagai gambaran saja. Jikalau kita ingin menemukan durian di bukan musimnya, Jakarta lah tempatnya. Mungkin permisalan ini dapat antum pahami.
Tegasnya begini : ........... apakah antum temui dalam
kebanyakan (kalau ga boleh dibilang setiap) ta'lim rutin yang diselenggarakan IM/PKS itu membahas tentang 'aqidah, As-Sunnah, memberantas syirik dan bid'ah secara istimrar ? Jawablah akhi dengan pengamatanmu yang jeli !! Apakah antum temui di
kebanyakan (kalau ga boleh dibilang setiap) ta'lim rutin yang diselenggarakan IM/PKS mengkaji kitab (ustadznya pegang kitab dan diikuti muridnya pegang kitab dengan menyimak penjelasan sang ustadz).
Tentunya, apa yang ana bicarakan ini di luar konteks si murid tidak bisa membeli kitab atau mampu membeli tapi tidak menemukan kitab rujukan si ustadz. Jawablah itu wahai saudaraku !! Wah,..... kalau antum menemui seorang 'salafi' yang tajwidnya amburadul; sepertinya ini di luar konteks keumuman ya. Kalau sekedar diistilahkan 'banyak' menemui; ana pun juga begitu. Tapi tentu itu tidak akan ana jadikan hujjah ana dalam pembahasan ini. Bukan pembelaan diri. Karena yang namanya di masyarakat, sangat beragam. Ada yang beginner, intermediate, atau expert.
Sebagai tambahan akhi - untuk memperkuat apa yang ana katakan - keluarlah sedikit dari kota Jakarta, yaitu di Bogor (kota). Semakin jarang akan antum temui kajian2 sebagaimana yang antum sebutkan. Kalau di bilang ADA, ya memang ADA. Dan ini ana bisa sebutkan (ustadz Fulan membahas Tafsir Ibnu Katsir, dan yang lain). Tapi konteks pembicaraan kita adalah : "Apakah menjadi suatu KELAZIMAN ?".
Dan beda akhi jikalau antum temui kajian 'salafi'. Setiap ada kajian rutin di suatu tempat adalah lazim ditanyakan : "Sedang mengkaji kitab apa ?". "Kemarin pembahasan haditsnya sampai hadits nomor berapa ?". "Penjelasan ustadz sampai halaman berapa ?". Adakah kajian IM/PKS yang melazimkan seperti ini akhi ? Maaf,.... perkataan ana bukan sebagai pengunggulan yang berlebih-lebihan. Tapi ini realitas. Tolong disikapi dengan coool............
Tentang masalah fiqh,............ Ana jadi aneh sama antum. Keanehan ana ini disebabkan antum merasa aneh jikalau dalam kajian fiqh yang diadakan oleh 'salafi mentarjih satu pendapat. Ya tentu itu yang harus dilakukan setelah mengemukakan berbagai macam pendapat. Itulah manhaj para ulama. Coba deh antum tanyakan ke ustadz-ustadz antum yang kebetulan punya titel minimal Lc.; apakah para ulama mereka ketika memberikan penjelasan satu masalah tidak mentarjih satu pendapat. Atau,......... antum lihat di kitab-kitab Fiqh. Baik besar maupun kecil. Jumhur ulama pasti mentarjih salah satu pendapat (jikalau ada khilaf) dan meninggalkan pendapat yang lain dengan menjelaskan kelemahan pendapat tersebut. Inilah kaidah berilmu yang benar akhi.
Tapi mungkin yang antum maksud bukan ini. Mungkin yang antum maksud bahwasannya 'salafi' tidak menampilkan pendapat-pendapat lain yang berseberangan dengan pendapat yang ditarjih. Begitu ? Kalau misalnya ini yang antummaksud, maka ini bisa iya bisa pula tidak. Ini tergantung mad'unya. Jikalau mad'unya adalah para pemula dan rata-rata belum mutamakin dalam ilmu, maka biasanya diberikan pembahasan yang ringkas dan sederhana dengan
dalil dari Al-Qur'an dan As-Sunnah Ash-Shahiihah. Dan ini banyak ana temui. Sebab, kalau diterangkan secara detail tentang khilaf, maka bagi konsumsi mereka tentu tidak pas. Bahkan sering juga di antara mereka yang menyentil : "Kesimpulannya apa ?".
Dan bila mad'unya bukanlah orang-orang pemula, maka diberikan pembahasan panjang lebar, khilaf, dalil masing-masing khilaf, dan kemudian tarjih atas permasalahan. Ini banyak akh. Mungkin saja antum belum pernah menemui karena memang tidak mencari. Bagaimana ikhwah-ikhwah 'salafi' ? Ada komentar ? Mungkin antum ingin hadir di kajian Fathul Bari ? Atau silakan datang di Masjid Imam Ahmad Bogor hari Ahad jam 10.00. Kebetulan pas mengkaji Taudlihul-Ahkaam yang merupakan Syarah Bulughul-Maram karya Ibnu Hajar. Di situ jikalau ada khilaf yang perlu untuk dijelaskan, akan dijelaskan. Tapi sering juga diringkas. Atau antum bisa beli kitabnya yang mengulas perbedaan beberapa masalah fiqhiyyah.
Yang aneh bagi ana,.......... banyak sekali dari asatidz IM/PKS yang ketika membahas masalah2 fiqh bersikap tidak tegas (sehingga membingungkan). Contohnya ketika ditanya tentang satu permasalah yang kemudian dijawab oleh ustadz dengan jawaban A. Kemudian ada pertanyaan susulan yang menanyakan amalan B; dan lantas dijawab oleh sang ustadz : A dan B boleh. Ini merupakan perbedaan fiqhiyyah. Sering sekali jawaban2 diplomatis diberikan hanya karena alasan "menjaga persatuan/ukhuwah". Ingat akhi,......... setiap perkataan itu ada tempatnya. Beberapa jawaban di syariahonline pun menyiratkan demikian.
Tentang masalah cela-mencela ana kira tidak perlu ana ulang di sini karena telah terwakili darijawaban ana sebelumnya.
Masalah Sayyid Quthb. Ini yang membuat aneh ana. Banyak catatan telah diberikan, tapi seolah-olah disembunyikan. Mengapa ? Karena beliau adalah tokoh IM dan bergelas "Asy-Syahid". Kalau ada catatan tentang kesalahan, terangkan dong. Secara realitas saja akhi,..... terjemahan-terjemahan Fii Dhilalil Qur'an (oleh Gema Insani Press dan yang lainnya) telah banyak beredar. Dan dikaji dan disitir dalam berbagai macam halaqah. Mengapa orang IM seakan 'diam' saja ketika memang ada banyak catatan terhadap buku tersebut. Apalagi antum sertakan dalam tulisan antum di atas tentang desertasi doktoral : "Pedoman memahami Tafsir Fi Dzilal". Lebih dikenal mana antara karya Sayyid Quthb tersebut dengan karya si Doktor ? Jawablah terus terang akhi ! Lebih banyak mana cetakannya antara karya Sayyid Quthb dengan karya si Doktor ? Dan mengapa dalam cetakan asli ataupun terjemahan tidak diberikan catatan kaki (tahqiq) atas koreksi kesalahan fatal Sayyid Quthb dalam Tafsirnya tersebut ? Atau pertanyaan ekstrimnya : Setelah mengetahui banyak kesalahan Sayyid Quthb dalam Tafsirnya, mengapa harus tetap mengkaji mempelajari, dan menganjurkan untuk mempelajari Fi Dhilal ? Apakah tidak ada kitab Tafsir lain sebagai badal (pengganti) yang lebih bagus ? Jawab ana : Banyak .................
Kayaknya thread ini memang mesti di-close. Semakin tidak jelas juntrungannya.
Btw, untuk abu al jauzaa & kiripayun, sebutkan saja di sini siapa yg antum maksud dg abu faqih? Tapi tolong disertai dg alasan & bukti yg kuat.
(anak tetangga ane namanya faqih juga. Tapi bapaknya gak kenal apa itu myquran)
Sepetinya main tebak-tebakan kita nggak usah diterusin. Ana memancing itu sekedar sebagai bumbu saja (walau dalam hati tetap menebak-nebak - ya tentu dengan dasar alasan-alasan relevan). Lagi pula apa yang ana duga juga kemungkinan salah. Jadi ga usah diperpanjang. Begitu to ?