Nasihatku untuk ‘Salafiyun’ dan yang terjebak di dalamnya (2/2) (lanjutan..)
by Abu Faqih
4. Dalam berbagai pernyataan terlihat sekali, ‘salafi’ merasa paling salafi, ahlus sunnah, firqah najiyah, thaifah manshurah, paling benar hujjahnya, paling pintar ulamanya, pokoknya tob abizz! Yang lain laa yafqah syai’an (gak ngerti apa-apa),_sementara yang berbeda dengan mereka dianggap ahlul bid’ah, ruwaibidhah, jahil, dll. Pokoknya laa Yabqa wahid (tak tersisa satu pun), pernah mengalami serangan ‘salafi.’ Komentar: Laa Tuzakkuu anfusakum, wahuwa a’lamu bimanittaqa (jangan kalian merasa suci, dan Dia mengetahui siapa yang bertaqwa). Naudzu billah! Orang baik tidak akan merasa baik, sebab jika ada orang baik merasa sudah baik, berarti dia sombong. Orang ikhlas ketika merasa ikhlas berarti dia belum ikhlas. Saya telah membaca beberapa karya tokoh ‘salafi’ Indonesia, nuansa merasa paling pintar sangat terasa, seperti Al Masaail dan Risalah Bid’ah (saya akui kedua buku itu bagus, saya pun banyak mengambil manfaat darinya, tetapi ada alumni LIPIA yang berkata buku Risalah Bid’ah itu la yanfa’- tidak bermanfaat) penulisnya banyak berkata, ‘Saya berkata’, ‘Saya katakan’, kalau penulisnya adalah ulama mungkin tidak apa-apa, tapi siapa Anda? Padahal ‘salafi’ lainnya, yakni Umar As Sewed telah mentahdzir Anda, dan mencela dengan gelar-gelar yang menyakitkan. Itu urusan antuma berdua deh. Adalagi, pemilik blog Abusalma. Wordpress.com, yakni Andi Bangkit yang membuat buku Menyingkap Kerancuan dan Syubhat Ikhwanul Muslimin, sebagai buku bantahan Al Ikhwan Al Muslimun Anugerah Allah Yang Terzalimi. Andi Bangkit ini lebih parah lagi, lebih banyak ia menggunakan ‘Saya berkata’, ‘Saya katakan’ di banding ustadznya itu, belum lagi bantahannya yang kekanak-kanakan dan jauh dari substansi masalah. Saya sudah baca bukunya, ternyata banyak catatan saya atas buku itu. Mulai dari pemakaian bahasa yang over kasar seperti bodoh, tidak mengerti agama, jahil, kufur, khawrij, dll, atau salah faham yang amat akut, pembahasan yang ngelantur, berlagak tahu di banyak hal ternyata keliru, banyak menafsiri ucapan orang dengan pikiran sendiri agar cocok dengan tuduhannya, satu lagi nampaknya ia belum mencium aroma khilafiyah fiqih. Kalau ada waktu, insya Allah, akan saya bahas buku itu. Sungguh Imam Ibnul Qayyim mencela pemakaian ‘Aku berkata’, ‘Menurut pendapatku’, karena kesan sombong sangat terasa. Saya hanya berharap mudah-mudahan kita semua bisa menjadi Ahlus Sunnah yang sebenarnya, thaifah manshurah, dan firqah najiyah, dan Allah Tabaraka wa Ta’ala membimbing kita ke arah sana.
Perilaku ‘salafi’ telah membuat garis hitam putih, bahwa kebenaran hanya ada pada Anda sedang yang lainnya jika berbeda adalah salah dan sesat. Dunia ini seakan hanya ada dua manusia, ‘salafi’ dan non salafi (ahli bid’ah). Ini mengingatkan saya kepada ayat Ana khairu minhu (Aku lebih baik darinya), ucapan Iblis La’natullah ‘Alaih. Hal biasa dalam buku atau tulisan kelompok ‘salafi’ penulisnya mengatakan ‘Kebenaran telah disampaikan,’ atau ‘Iqamatul Hujjah (menegakkan Hujjah),’ ‘Ulama-ulama sunnah sudah menegaskan,’ seakan hujjah hak ‘salafi’ saja yang menggunakan dan layak menafsirinya. Seakan label ulama cuma untuk masyaikhnya saja. Pokoknya yang beda tafsiran pasti salah. Sungguh, penentu surga atau neraka seseorang adalah Allah Ta’ala, bukan ‘salafi’. Sadar gak ya?
5. Terbiasa menggunakan label buruk, berkata kasar, menuduh, dan fitnah, kepada pihak lain, bahkan ulama.
Komentar: Mencaci maki seorang muslim adalah fasik dan membunuhnya adalah kufur (HR. Bukhari dan Muslim). Saya menegaskan, ini bukanlah perilaku mereka semua, melainkan bebarapa saja, walau di banyak sisi mereka sama saja, karena taqlidul a’ma (taqlid buta).
Yusuf al Qaradhawy –yang menjadi ketua Ikatan Ulama Internasional- diplesetkan menjadi Yusuf al Quradhi (nisbat pada Yahudi Bani Quraidhah), ‘Aduwullah (musuh Allah), Ibnul Yahud (Anak Yahudi), Al Qaradha (penggunting), ini pada tahun 90-an. Ikhwanul Muslimin menjadi Ikhwanul Muflisin (Persaudaraan orang-orang bangkrut), Abu Bakar Ba’anjir (plesetan dari nama Ust. Abu Bakar Ba’asyir), Jalaluddin Rahmat menjadi Dajjaluddin Rahmat, atau Dhalaluddin Rahmat (ini pada tahun 90-an), ya dia Syiah, alangkah baiknya dikatakan semoga Allah memberinya hidayah, semoga Allah meluruskan jalannya, dibanding memaki-maki.
Menuduh Quburiyun kepada IM dan JT, saya telah membaca den berinteraksi dengan orang IM, ternyata mereka sangat anti dengan hal itu. Bahkan jika orang-orang nyekar ke kubur qabla dan ba’da ramadhan mereka mengingkari kebiasaan itu. Bahkan kebiasaan di masyarakat seperti nujuh bulanan, nishfu sya’ban, tahlilan, membaca rawi dan barzanji, mereka juga mengingkarinya, hanya saja mereka tidak mau konfrontatif. Bahkan ketika musim ‘Muludan’ para penggemar Maulid sering menghembuskan ‘Hat-hati terhadap kelompok GAM (Gerakan Anti Maulid),’ maksudnya PKS. Ini langsung saya dengar di daerah saya dari ceramah seorang habib. Perlu Anda tahu, PKS juga disebut Wahabi oleh NU dan kalangan ‘alawiyin.
IM mewajibkan membaca dan menghafal Al Ma’tsurat, ini dusta, dusta, dan dusta. Jika yang dimaksud ‘wajib menghafal’ adalah sebagaimana guru mewajibkan hafalan surat-surat pendek kepada muridnya di TPA atau sekolah, jelas itu hal yang wajar. Adapun katanya IM melazimkan dalam setiap pertemuan di baca Al Ma’tsurat, jelas dusta. Demikian saya ketahui dari mereka.
IM dan lainnya, tidak perhatian dengan masalah aqidah. Ini juga dusta. Banyak buku yang ditulis tokohnya tentang aqidah, bahkan ketika awal mereka ta’lim, yang dibahas adalah makna syahadat, macam-macam tauhid, al wala wal bara, tentang ma’rifatullah, Rasul dan Islam. Masih sangat banyak fitnah lainnya.
6. ‘Salafi’ sering mencela orang yang berbeda fiqih dengan mereka.Komentar: Banyak contohnya seperti nasyid, IM diserang habis-habisan. Padahal masalah nasyid adalah benar-benar masalah perbedaan pendapat ulama. Masa gak tau sih? Kalau benar-benar tidak tahu berarti Anda jangan bicara fiqih deh, karena kata para ulama ‘Orang yang tidak tahu perselisihan pendapat fikih para fuqaha, berarti dia belum mencium aroma fiqh.’ (Lha, kalo aromanya aja belum tau apa lagi isinya?) kalau Anda sudah tahu bahwa nasyid itu memang perbedaan pendapat, kenapa sulit sekali untuk berjiwa besar menerima perbedaan?
Yang mengharamkan –itupun tidak mutlak- adalah Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Syaikh bin Baz, Syaikh al Albany, Syaikh Shalih Fauzan, dll. Yang membolehkan seperti Ibnu Hazm, Ibnu Nahwi, Ibnu Thahir, Al Ghazaly, Ahmad Syurbashi, Ali ath Thanthawy, Mutawalli Asy Sya’rawy, Al Qaradhawy, Muh. Al Ghazaly, dll.
Memakai celana di bawah mata kaki (isbal), juga khilafiyah. Yang mengharamkan kita tahu-lah siapa orangnya. Tapi, harusnya mereka juga memperhatikan bahwa ada juga yang tidak mengharamkan, seperti Imam Asy Syafi’I memakruhkan (kecuali jika sombong maka haram), Ibnu Abdil Bar menegaskan masalah isbal dan pakaian adalah bagian dari adat disebuah daerah (tentu selama tidak buka aurat lho), juga Ibnu Hajar, haram jika sombong, begitu pula saudara-saudara kita di PERSIS. Lalu, gimana kalo sudah setengah betis tapi sombong juga? Karena merasa sudah paling menjaga sunah. Percuma’kan? Hayooo … siapa tuh .. Semoga Allah Ta’ala memberikan pahala bagi Anda yang tidak isbal. Amin.
Juga masalah Al Ma’tsurat, yang katanya beberapa haditsnya dhaif. Padahal banyak kitab kumpulan doa pasti ada yang dhaif sepeti Kalimatut thayyibah-nya Ibnu Taimiyah, atau Al Adzkarnya An Nawawi. Lalu kenapa mereka berdua gak di cela? Lagi pula berdoa juga gak apa-apa pakai redaksi perkataan sendiri. Apakah ada haditsnya doa berbunyi Ya Allah, mudahkanlah urusan anakku yang hendak SPMB. Tapi apakah salah doa ini? Ya tidak, yang salah kalau itu dianggap dari Nabi. Jangan lupa, banyak ulama yang membolehkan menggunakan hadits lemah selama untuk fadhailul ‘amal, termasuk doa. Seperti Imam Abdurrahman al Mahdi, Ahmad, Abu Zakaria al Anbari, Sufyan ats Tsauri, Tirmidzi, Ibnu Rajab al Hambali, Ibnu Mai’in, Sufyan bin ;Uyainah, Ibnu Hajar, An Nawawi, Daqiq al Id, Izzuddin bin Abdussalam, dll.mereka membolehkan menggunakan hadits dhaif untuk fadhailul amal, tentu dengan syarat-syaratnya. Adapun yang melarang adalah Imam Bukhari, Ibnu Hazm, Ibnul Araby, Abu Syamah, Syaikh Muh. Syakir, Syaikh al Albany, dll. Maka sungguh mengherankan ‘salafi’ yang tidak henti-hentinya mengkritik Al Ma’tsurat, maka wajar ada Ustadz dari IM begitu pulang dari Saudi Arabia mengatakan bahwa mereka yang mengkritik mungkin gak ngerti fiqih atau mungkin memang mengikuti hawa nafsu kebencian yang luar biasa kepada IM. Sehingga asal bicara, tanpa mau membaca kitab ulama secara utuh. Pokoknya kalau dari IM, ya salah. Titik. Ini namanya ‘Ainus Sukhti (mata kebencian). .
Atau khilaf fiqih kontemporer, seperti da’wah melalui parlemen dan partai, para ulama kontemporer berbeda pandangan. (anehnya, ‘salafi’ membid’ahkan partai karena bukan sarana dakwah Rasulullah, lha Anda sendiri mendirikan yayasan dakwah, emangnya nabi pernah berdakwah pakai yayasan atau forum komunikasi Ahlus Sunnah wal jamaah? Bid’ahin juga donk? Kalau Anda bilang ‘partai’kan bikin pecah umat,’ akhee .. sebelum ada partai juga, umat udah pecah gara-gara beda madzhab fiqih, perbedaan syafiiyah dan hanafiyah sampe perang fisik di beberapa tempat. Harusnya Anda juga melarang madzhab donk karena juga bikin pecah, bahkan Anda sendiri juga pecah’kan sesama salafi? Berarti, keberadaan Anda yang bikin pecah, seharusnya menjadi alasan agar kelompok Anda ditiadakan. Tapi kite’kan kagak tega ama ente … kalau perlu bubarkan kesebelasan sepak bola karena mereka juga sering bikin perpecahan sektarian dan suku). Saya hargai pendapat Anda, toh kalangan IM ada juga yang melarang da’wah parlemen dan partai seperti Sayyid Quthb dan adiknya, juga Fathi yakan. Tetapi apakah anda mau hargai pendapat IM? Berat … berat … )
Syaikh Rasyid Ridha, Syaikh Abu Zahrah, Syaikh Ali al Khafif, Syiakh Aidh al Qarny, bahkan Syaikh bin Bazz membolehkan da’wah parlemen, sebagaimana dalam kitab Al Fikr AsSiyasy al Mua’shir ‘inda Al Ikhwan Al Muslimun. Maktabah al Manar al Islamiyah. Juga Syaikh Ibnu Utsaimin, Syaikh Umar Sulaiman al Asyqar, Syaikh Al Maududi,Syaikh Nashir ‘Umar, Syaikh Salman al ‘Audah, Syaikh Safar al Hawali, Syaikh Abdurrahman As Sa’di, dll, sebagaimana dalam buku Pemilu dan Parpol Dalam Perspektif Syariah Karya Abdul Karim Zaidan, Abdul Majid Az Zindany, dan Muhammad Yusuf Harbah. (kira-kira ‘salafiyun’ mau terima gak pendapat ulama-ulama ini ..?)
Di atas contoh saja, masih banyak lagi ketidakmampuan ‘salafi’ untuk dewasa menghadapi perbedaan fiqih. Inga –inga … para ulama ushul berkata Al Ijtihad Laa yanqudhu bil Ijtihad (Ijtihad tidak bisa mementahkan ijtihad yang lain) karena sama-sama ijtihad koq, bisa benar bisa salah. Tidak boleh merasa paling benar. Kaidah lain, Laa inkara fi masail ijtihadiyah (tidak boleh saling mengingkari dalam masalah yang masih ijtihadi). Perselisihan fiqih adalah ruang untuk toleran, bukan ruang nahi munkar. Adapun keharaman yang disepakati seperti mabuk, judi, korup, zina, adalah ruang untuk nahi munkar. Fahimtum ..? seharusnya itu agenda kita ..
7. Menuduh yang lain adalah Khawarij terhadap IM, HT, MMI.Komentar: Ini namanya menepuk air di dulang terpercik muka sendiri, atau maling teriak maling. Emangnya khawarij itu apa sih? Ciri khawarij itu, sebagaimana yang kita ambil pelajaran dari perilaku Dzul Khuwaisirah (Muttafaq ‘Alaih) dan juga sejarah lainnya tentang mereka, adalah lancang terhadap Rasulullah, keras sesama ahli kiblat, sementara banci terhadap orang kafir. Saat ini Rasulullah tidak ada, berarti pewarisnya yakni para ulama. Nah, siapakah yang hobinya mencaci maki para ulama? Ayoo jujur …, terus siapa yang keras terhadap sesama muslim, wah jelas … sejelas matahari di siang hari, siapa yang hobi menyerang sana-sini sampai akhirnya sesama teman sendiri?, siapa yang justru bermesraan dengan Amerika Serikat bahkan meminta pertolongan mereka untuk menyerang Iraq? Kita juga benci karena Allah kepada Sadam, tapi apakah dibenarkan mengorbankan Rakyat Iraq melalui tangan kotor AS? Jadi, sopo sing khawarij? (maka wajar Ust. Halawi Makmun, LC, MA. Meminta agar mereka jangan lagi dipanggil salafi, tetapi murji’i (murji’ah) atau khariji (khawarij). Ust. satu ini keras tapi lucu, dengan keras ia menyebut ‘salafi’ sesat, bodoh, khawarij, murjiah, bahkan ada syiahnya, bahkan untuk Luqman Ba’abduh, lantaran pendapatnya dalam buku Mereka Adalah Teroris! yang membolehkan meminta pertolongan AS untuk menyerang Irak, Ust. Halawi mengatakan itu perbuatan kafir dan seharusnya langsung tebas, gak usah nunggu keputusan mahkamah. Saya juga tidak sreg dengan bahasa dari Ust. Halawi ini. Tapi, tidak ada asap tanpa api, tidak ada reaksi tanpa aksi yang memulai.)
Dalam ciri lainnya, khawarij itu memberontak kepada penguasa yang adil yang menggunakan syariat Islam yaitu Ali. Apakah ada orang IM, HT, MMI, memberontak kepada pemerintah yang adil? Tidak, justru mereka akan siap menjadi prajuritnya. Ingat kalau pun ada IM, HT, MMI, memberontak kepada penguasa yang zalim, maka itu bukan termasuk khawarij. Ibnu Khaldun mengatakan menurunkan kekuasaan penguasa yang zalim bukanlah termasuk bughat, bahkan Ibnu hazm membenarkan mencopot penguasa yang zalim. Banyak ulama yang membenarkannya, seperti Al Ghazaly, Ar razi, dan lain-lain. Dengan syarat penguasa tersebut telah zalim, tidak menggunakan syariat, dll. Adapun menurut ‘salafi’, khawarij hukumnya jika memberontak atau melawan pemerintah yang sah. Lho, kalau sah tapi zalim gimana mas? Wah bisa-bisa Nabi Musa juga khawarij karena melawan Fir’aun selaku penguasa yang sah saat itu, atau Nabi Ibrahim karena melawan penguasa zalim Namrudz.
O iya, kan PKS jadi bagian dari pemerintah yang sah, nah mana mungkin mereka khawarij lha wong pemerintahnya dia sendiri koq, kan gak mungkin mereka memberontak diri sendiri. Justru bila kita gunakan jalan berfikir orang ‘salafi’, maka sebenarnya ‘salafi’-lah yang layak disebut bughat karena sehari-harinya menjelek-jelekkan PKS (pemerintah) melulu. Ayoo kena’kan …? Makanya kalau berpendapat pake dalil, pendapat para ulama, berbagai sudut pandang, otak yang tajam, perenungan mendalam, dan hati yang jernih. Sehingga penuh pertimbangan dan tidak rapuh. Saya sudah menerjemahkan nasihat ulama Timur Tengah untuk kaum ‘salafiyun’, Insya Allah saya akan tampilkan kalau sikap Anda belum berubah, itu pun jika saya masih tertarik diskusi dengan Anda dan ada waktu luang. (Cape tau … ngurusin kaya beginian, saya’kan juga banyak urusan)
8. Terakhir untuk saudaraku seiman dan seperjuangan, seluruhnya tanpa kecuali … mari kita berjalan bersama, duduk bersama, membicarakan hal-hal yang dibutuhkan umat. Sungguh umat bingung melihat perilaku aktifis Islam seperti ini. Mereka tak ada tempat bertanya dan tak ada yang menolong ketika butuh pertolongan, maka datanglah misionaris yang akan menerkam mereka. Anda tahu, bahwa orang kafir bertepuk tangan karena kita saling bercakaran? Jangan-jangan mereka mengucapkan ‘terima kasih’ karena PR mereka untuk menghancurkan kita sudah diselasaikan oleh kita sendiri.
Saudaraku fiddin …Ibnu Umar pernah marah kepada pemuda yang bertanya apa hukum membunuh lalat, padahal di negeri pemuda itu Husein cucu nabi dipenggal kepalanya? Artinya, ada masalah besar di depan pemuda itu justru tidak ditanyakan, sementara lalat dibunuh malah ditanya. Wajar Ibnu Umar marah. Itulah fiqih salafus shalih. Imam al Qarrafi menyatakan bahwa ulama itu seperti dokter ia akan menyembuhkan penyakit yang paling membahayakan keselamatan jiwa pasien, sebelum penyakit yang ringan-ringan.
Kondisi aktifis Islam hari ini, seperti seorang gadis yang bersolek di kamarnya, sementara rumahnya kebakaran. Ia bersolek mengurus jerawat, atau make up, padahal nyawanya terancam dan ia mengetahuinya, tentu gadis cerdas akan menelpon pemadam kebakaran, bukan semakin asyik dengan mainannya. Itulah kita, asyik tentang perselisihan ulama masa lalu yang memang mereka juga tidak ada mampu untuk sepakat, tentang maulid nabi (walau kita meyakini itu bid’ah), atau menggerakan jari telunjuk ketika tasyahud, zakat fithrah pakai uang atau pakai makanan pokok, isbal, padahal –sekali lagi- itu masalah lama yang memang tidak bakal selesai sampai hari kiamat. Sementara moncong tank musuh sudah di depan rumah kita, pesawat pengintai mereka bolak-balik masuk ke teritori kita, mereka menyebarkan jasus (intel) di antara umat Islam. (Myquran ada intelnya ga ya?). saya akui masalah perselisihan itu juga harus diperhatikan, tapi ingat tak mungkin ada kata sepakat! Sekuat apapun anda mencoba menjelaskan dalil, sebab para ulama dahulu juga tidak mampu. .Kalau tahu demikian, maka gunakanlah senjata kita baik berupa tulisan, lisan, hujjah, untuk melawan kaum yang benar-benar memusuhi seperti AS, Inggris, Australi, Israel, atau musuh dalam selimut seperti JIL, Ahmadiyah, LDII, Inkar Sunnah, NII, dan sempalan lainnya.
Ada hadits-hadits yang cocok banget buat para pemuda yang suka nyalah-nyalahin orang, mencela ulama, berbangga dengan ilmu padahal masih belajar, doyan jidal, tidak hormat dengan yang lebih tua. Ini bukan hanya untuk ‘salafi’ tapi untuk yang lain juga. Sebab perilaku Khawarij mungkin saja dilakukan oleh yang lainnya.
Akan datang di akhir zaman, anak-anak muda yang mempunyai impian bodoh, mereka mengucapkan sebaik-baiknya ucapan makhluk, mereka menyimpang dari Islam seperti lepasnya anak panah dari busurnya, iman mereka tidak lebih dari kerongkongan mereka. Maka di mana pun kalian menemui mereka maka perangilah mereka, sesungguhnya memerangi mereka akan mendapat balasan di akhirat kelak. (HR. Bukhari)
Sesungguhnya yang paling Allah benci adalah orang yang sengit dalam berdebat (HR. Bukhari)
Jangan kalian menuntut ilmu untuk berbangga-bangga di depan ulama, membantah orang bodoh, dan jangan memilih-milih majelis, barang siapa yang melakukan itu .. neraka, neraka (HR. Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)
Tidaklah tersesat sebuah kaum yang telah mendapat hidayah, kecuali jika mereka larut dalam perdebatan. (HR. Tirmidzi, hasan shahih dan Ibnu Majah)
Seorang mu’min itu bukanlah yang suka melaknat (HR. Tirmidzi, hasan)
Bukan golongan umatku yang tidak menghormati orang besar kami, tidak menyayangi anak kecil kami, dan tidak mengetahui hak orang alim kami. (HR. Ahmad dan Thabrani, hasan)
Semoga Allah memaafkan saya, Astaghfirullahal ‘Azim, dan mohon maaf kepada ‘salafi’ kalau ada kata-kata ynag memanaskan telinga, sungguh IM, HT, MMI, dan JT, sebelumnya amat sering merasakan itu (bahkan lebih perih rasanya), yang terlontar dari lisan atau tulisan kelompok ‘salafi.’ Anda. Namun pada akhirnya menjadi biasa dan kebal.
Hadanallahu wa Iyyakum. Wallahu A’lam bish Shawab