Penulis Topik: Nasihatku untuk ‘Salafiyun’ dan yang terjebak di dalamnya (1/2)  (Dibaca 10374 kali)


Offline jun

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2007
  • Tulisan: 6
    • Lihat Profil
« pada: 09 April 2007, 15:32:26 »
Nasihatku untuk ‘Salafiyun’ dan yang terjebak di dalamnya
( :koran: pokoknya rugi gak baca ini sampai selesai) …

by Abu Faqih   %peace%

   Saya telah lama mengenal kelompok ‘salafi’, tepatnya sejak tahun 1993. Kelompok lain sekitar tahun itu juga, atau 94-an, seperti IM, HT, dan Jamaah Tabligh. Pengamatan saya sampai hari ini, ada hal yang tidak berubah pada diri ‘salafi’, yaitu hobi menuduh, memfitnah, mencela, imma dalam bentuk kajian di majelis ta’lim (lalu dikasetkan),  bulletin da’wah, majalah dan buku-buku, belakangan di internet (saya memiliki arsip-arsipnya). Semuanya dibungkus dengan istilah dan kedok  nasihat dan tahdzir, atas nama Ahlus Sunnah wal Jamaah. Maka tidak heran selama itu saya mengenal ‘salafi’, selama itu pula saya tidak berminat mengikutinya. Maka tidak aneh, jika para pemuda yang baru ngaji, termakan provokasi oleh satu atau dua makalah ‘salafi’  yang berisi propaganda, dan pembunuhan karakter bagi yang lainnya. Setelah itu, tahu-tahunya berkata ‘Saya tinggalkan IM’, ‘Dulunya saya IM, sekarang ‘salafi’, (lha promosi ..  siapa yang nanya? Becanda kok)   Anak kecil bila melihat mahasiswa memang  kagum dengan intelektualitasnya, tetapi profesor melihat mahasiswa, tentu berkata ‘Anda harus banyak belajar.’ Tidak sedikit dosen-dosen LIPIA yang heran dengan perilaku pemuda ‘salafi.’ Maka wajar jika saya tidak pernah menganggap ‘salafi’ itu dalam ilmunya, hebat kajiannya, pokoknya tob abiss!.kalla tsumma kalla. Anehnya jika diajak diskusi atau dialog ilmiah terbuka, mereka menghindar.    Jadi, mereka menggunakan strategi Hit n Run (pukul dan lari). Sesungguhnya Ahlus Sunnah terkenal dalam hujjahnya, tinggi akhlaknya, sementara ‘salafi’? sangat ‘dalam’ hujatannya, dan bermasalah dari sisi akhlak. Insya Allah nanti akan saya tunjukkan bukti-buktinya.

  Adapun bagi yang lain yang bukan ‘salafi’, kalian jangan gembira dulu, tulisan ini sama sekali tidak diniatkan membela kalian; IM, HT, JT, atau MMI. Ini sekadar mengembalikan duduk masalah agar kaum ‘salafiyun’ mengoreksi dirinya. Istilah ‘salafi’ akan selalu saya beri tanda petik, karena salafi yang benar-benar salafi sangat berbeda, bahkan super jauh dari pemikiran dan perilaku ‘salafi’ mereka ini (sama saja baik ‘salafi’ pengikut majalah Syariah yang mantan-mantan Lasykar Jihad yang belakangan disebut salafi yamani, atau majalah As Sunnah dan Al Furqan, yang katanya lebih moderat, namun jika membicarakan kejelekan kelompok lain, secara umum mereka sama akhlaknya). Saya tidak membicarakan Syaikh bin Baz, Syaikh Al Albany dan Syaikh Ibnu Utsaimin.  Mereka, kaum ‘salafiyun’ sering mengutip Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Syaikh bin Baz, Syaikh al Albany, dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, semoga Allah merahmati mereka semua, namun tak satu pun akhlak para imam ini diikuti oleh para ‘salafiyun’. Salafi sejati tidak akan bertengkar sesama mereka, walau perbedaan pasti ada, tetapi ‘salafi’ yang  ini? Kita lihat sendiri, imma di Indonesia atau di luar, mereka berpecah dengan perpecahan yang amat mengerikan, saling tabdi’, tafsiq, takfir, saling menuduh hizbi, sururi, turatsy, quthby, dll. Anehnya, mereka menyebut da’wah ‘salafi’ adalah da’wah yang penuh diberkahi. Berkah? Apakah ada keberkahan dibalik perpecahan? Jawablah wahai kaum!

Bagi orang yang berilmu dan mantap keyakinannya terhadap al haq, faham betul makna salafus shalih yang orisinil, akan merasa heran dan geleng-geleng kepala dengan tingkah dan faham ‘salafi’. Namun, kita akui bahwa banyak anak muda yang masih dalam tahap pencarian dan pengembaran ilmiah yang belum jauh, telah terperangkap pemikiran ‘salafi’. Tidak sedikit saudara kita yang pernah  menuntut ilmu di Saudi Arabia, kebingungan dengan tingkah ‘salafi’ di Indonesia. Seakan ada missing link, siapakah mereka ini?

Terus terang, saya tadinya enggan menulis ini, karena telah banyak yang memberikan tanggapan untuk mereka, tapi ibarat pepatah, anjing menggong-gong kafilah tetap berlalu. Namun fadzakkir fainna dzikra tanfa’ul mu’minin. Saya tidak tahu, pembela ‘salafi’ yang sering menghujat IM di forum Myquran ini, apakah ahli ilmu atau penuntut ilmu? Atau sekedar iseng?  Berlayar masih di tepi laut, tingkah seakan sudah seperti pelayar ulung. Membaca baru satu dua kitab, seakan sudah menjadi al ‘Allamah.

Namun harus diakui, ada pula ‘salafi’ yang salafi. Mereka mau mendengar pandangan orang lain, lapang dada terhadap perbedaan, lisannya bersih dari mencela, tawasuth, adab khilafiyahnya juga bagus. Sedangkan yang ‘salafi’ sangat berbeda. Jadi, komentar saya tidaklah untuk semua salafi, tetapi untuk ‘salafi’ saja, sebab kesalahan sebagian orang –lebih tepat disebut oknum-  jangan sampai mengeneralisir semuanya. Semoga Allah Jalla wa ‘Ala menjaga lisan saya dari mencela dan berbuat zalim dengan sesama ahlul kiblat. Amin

Di bawah ini akan saya listing kejanggalan-kejanggalan kaum ‘salafiyun’ gaya baru tersebut. Beserta komentar saya.

1. Mereka –seperti yang sering kita baca dalam tulisan mereka- tidak mau disebut jamaah salafi atau firqah, karena mereka adalah sebuah arus pemikiran yang mengikuti jejak salafus shalih, dan mencoba beramal dengan pemikiran itu, dan  tidak pakai pimpinan, pengurus organisasi, dan lain-lain. Sementara yang lain IM, HT, JT, dan MMI, adalah firqah, (juga hizbiyah).

Komentar:   
Inilah keputusan mereka terhadap yang lain, siapakah yang berwenang mengeluarkan keputusan itu? Siapa yang telah memberikan mandat kepada mereka? Sesungguhnya, ketika ada manusia yang menarik diri dari kelompok yang lain apalagi menyudutkannya, berarti sama saja ia telah membentuk kelompoknya sendiri alias firqah. Walau ribuan kali dikatakan kami bukan firqah, namun faktanya ‘salafi’ telah menjadi firqah (kelompok), disadari atau tidak. Jangan Anda katakan, “tapi, kami ini’kan firqah najiyah,” (iii … cape deeh) sebab klaim menjadi sia-sia jika tidak sesuai kenyataan.

2. ‘Salafi’ menyebut yang lain adalah  hizbiyah, kelompok yang fanatik dan memecah belah umat.

Komentar:
   Benarkah kelompok lain fanatik buta? Saya melihat langung para masyaikh IM dan MMI baik tulisan dan lisan, kerap menggunakan fatwa-fatwa Syaikh bin Baz, Syaikh al Albany, dan lainnya. Bahkan mereka tidak membatasi para pemudanya untuk membaca buku-buku ulama salafi, baik fikih atau nasihat-nasihatnya. Bahkan kawan-kawan saya, baik yang IM atau MMI, ikut juga kajiannya ‘salafi’. Tetapi … jangan harap kita menemukan orang ‘salafi’ mau membaca buku-buku Al Banna, Al Qaradhawy, Sayyid Quthb, sekali pun ada biasanya untuk dicari kelemahannya. Karena mereka dilarang oleh masyaikhnya membaca karya ahli bid’ah.  Maka, siapa yang fanatik sebenarnya? Jika Anda katakan, “Mereka’kan sesat dan kena tahdzir.” Benarkah? Apakah ada orang sesat yang mendapat pujian dan penghargaan para ulama dunia?  Syaikh Mahmud Syaltut, Syaikh Muhibbudin al Khathib, Syaikh Abu Zahrah, Syaikh Amin Husaini, Syaikh Abdurrahman al Jibrin,  Syaikh Manna’ Khalil al Qaththan, Syaikh Ali al Khafif, Syaikh al Maududi, bahkan Syaikh Rasyid Ridha, dan banyak lainnya, mereka memberikan kesaksian positif terhadap Al Banna dan Sayyid Quthb. Kesaksian mereka lebih layak didengar karena mereka hidup sezaman, atau pernah berinteraksi langsung. Sementara yang mendiskreditkannya adalah orang yang tidak sezaman, atau belum pernah bertemu langsung, hanya mengutip dari tulisan lalu ditafsiri sendiri, sebagaimana komentar miring Syaikh Rabi’ bin Hadi (ada seorang murid Syaikh ‘Aidh al Qarny berkata kepada kawan saya, bahwa Syaikh Rabi’ adalah tukang fitnah, ia adalah orang paling bertanggung jawab terhadap perpecahan antara sesama salafi, dan antara IM dan salafi). Lalu kutipan itu dikutip lagi. Sayangnya, anak-anak yang baru ngaji dijejali oleh tulisan dan pandangan yang mendiskreditkan, tanpa diberi kesempatan untuk mengaji dan mendapat klarifikasi dari yang lain, baik IM atau lainnya. Nah, yang seperti itulah yang biasanya terperangkap dalam ‘salafi.’

  Adapun Al Qaradhawy, telah banyak secara bergelombang pujian dan penghargaan baginya dari para ulama dunia, termasuk di Saudi sendiri. Bahkan Syaikh bin Baz memanggilnya ‘Al Ustadz Al Fadhil’ (harian Al Muslimun 19 Sya’ban 1415H/20 Januari 1995) begitu pula Syaikh al Albany memanggil dia dengan sebutan itu (Lihat Muqaddimah Ghayatul Maram). Ada yang lucu, di buku Mereka Adalah Teroris! Al Qaradhawy di sebut teroris dan Khawarij, dan faksi salafi yamani ini juga membuat iklan buku Membongkar Kedok Al Qaradhawy beberapa hari di Kompas, saat kedatangannya ke Jakarta pada Januari lalu. Ternyata datangnya Al Qaradhawy merupakan undangan dari presiden SBY! Jadi, SBY ngundang teroris! Kasihan,  rencana mereka gagal. Al Qaradhawy malah dielu-elukan SBY sebagai ulama moderat, bukan radikal.  Itulah kalau asal tuduh, orang tidak akan mudah percaya.

   Fakta dilapangan, hubungan antara IM,HT, MMI, JT, DDII sangat harmonis. Mereka beberapa kali melakukan pertemuan, di antaranya di Islamic Center (ex lokalisasi Kramat Tunggak). Perbedaan organisasi dan metode praktis da’wah tidak membuat mereka lupa untuk berkoordinasi. Sebenarnya ‘salafi’ diundang tetapi tidak datang, dan dalam pertemuan lain selalu tidak datang. Maka, siapa sebenarnya yang maunya berbeda terus? Siapa yang menyulut perpecahan? Jadi, siapa yang hizbiyah sebenarnya? Ada seorang tokoh JT dari Australia pernah berkata, ‘salafi’ adalah kelompok yang paling berbahaya, sebab di mana saja mereka berada pasti membuat keributan. Bahkan di Eropa, Jepang, Amerika Serikat, Australia,  perbedaan yang ada di Timur Tengah  mereka bawa juga ke sana, membuat para mualaf bingung. Wallahu A’lam, tetapi untuk kalimat ‘pasti membuat keributan’ kayaknya benar tuh!

   Bukti lain Bahwa ‘salafi’ fanatik dengan kelompoknya adalah dalam banyak hal khususnya ibadah, mereka seragam. Anda lihat cara shalat mereka sama, terus terang saya sendiri juga menggunakan Sifat Shalat Nabi-nya Syaikh al Albany, namun sikap mereka seolah tak ada ruang yang untuk berbeda fiqih. Celana pun harus setengah betis, jika belum maka diragukan ‘kesalafiannya’. Anda lihat kelompok Islam yang lain, amat toleran dalam masalah khilaf fiqih, karena memang perbedaan fiqih tak mungkin dihindari. Tidak dibenarkan memaksakan kehendak harus sama dengan si fulan dan fulan.karena setiap orang bisa diambil atau ditolak perkataannya kecuali Rasulullah.

3. ‘Salafi’ dalam berbagai tulisan, baik buku, majalah, dan web, merasa yang lain telah menyerang mereka, seakan ‘salafi’ menjadi pihak terzalimi.

Komentar:
   Ini sandiwara yang bagus.  Data dan fakta yang berbicara. Sejak zaman majalah Salafy awal ada (90-an),  saat itu Ja’far Umar Thalib –saddadallah khuthahu- menjadi pimpinannya, hingga majalah As Sunnah yang lahir belakangan, sampai masa pecahnya mereka sejak sebelum adanya Lasykar Jihad sampai Lasykar Jihad dibubarkan dan hingga saat ini, berapa banyak tulisan dalam berbagai bentuknya (termasuk ceramah kaset) yang menyerang IM, JT, HT, sangat banyak, bahkan buaaanyak!  Contoh: dalam bentuk buku, Dialog Dengan Ikhwani, Hasan al Banna seorang teroris?, Kekeliruan Sayyid Quthb, Membongkar Kedok Al Qaradhawy, Terorisme Dalam Pandangan Islam (isinya menyerang IM dan tokoh-tokohnya, berbeda dengan judul), Al Qaradhawy Dalam Timbangan, Sayyid Quthb Mencela Sahabat?, Fatwa Ulama Tentang Jamaah Tabligh, Hizbut Tahrir Neo Mu’tazilah, dll. Untuk Majalah sangat banyak, baik tulisan khusus atau yang terintegrasi dengan kajian umum, sampai saya bosen,  baik Salafy, As Sunnah, dan Syariah. Contoh, di As Sunnah berjudul Jamaah-Jamaah Menyimpang (tertulis IM, HT, Hamas, dll). Pada Bulletin Al Manhaj ada Sesatkah Jamaah Tabligh?, Penyimpangan Ikhwanul  Muslimin, dll. Kenapa mereka tidak menulis tentang kejahatan Israel, Kekejaman AS, Pemurtadan dan Kristenisasi, atau kalau mau menyerang mbo ya ..yang benar-benar sesat seperti LDII, NII, Ahmadiyah, Isa Bugis, Inkar Sunah.      

   Sementara yang mengkaunter mereka baru ada tahun 2003an, sejak lahirnya buku Al Ikhwan Al Muslimin Anugerah Allah yang Terzalimi, Dakwah Salafiyah Dakwah Bijak, dan Siapa Teroris Siapa Khawarij, dan beberapa tulisan ringan.(bahasanya pun santun, berbeda dengan tulisan kelompok ‘salafi’). Semua itu dibuat sebagai reaksi bukan yang mengawali, sebagai air dari api yang dikobarkan oleh ‘salafi.’  Apakah ‘salafi’ mau menyadari dan mengakui ini? Saya minta kepada para ‘salafiyun’ untuk menunjukkan satu saja buku dari tokoh-tokoh IM (seperti Al Qaradhawy, Fathi Yakan, Sayyid Quthb dan adiknya, Abdullah Nashih Ulwan, Abdul Halim Abu Syuqqah, dll) yang menghujat ‘salafi’, kalau ada saya minta ya!

(bersambung..)

Offline sieems

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.452
  • Lokasi: jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • rania balqis sulaeman bidadari kecilku ^o^
    • Lihat Profil
« Jawab #1 pada: 09 April 2007, 15:42:25 »
wah antum kyaknya fahim sekali ya ttg ilmu "dunia persilatan" tapi intinya yg diserang salafi to? ::)

Offline heri.aza

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 1.749
  • Lokasi: Minomartani - Yogyakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • --Keep Smile Bro--
    • Lihat Profil
    • Kang Heri Ajar Nulis
« Jawab #2 pada: 09 April 2007, 15:46:46 »
Hmmm.... tulisan yang "dalem"...

Offline Abu Fauzan

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 399
  • Lokasi: Muntilan - Klaten - Surabaya
  • Jenis kelamin: Pria
  • Mulailah Segala Sesuatu yang Baik dengan Basmalah
    • Lihat Profil
    • Profil
« Jawab #3 pada: 09 April 2007, 15:51:26 »
ya..ya..ya...gini deh....tulisan koq gak ada ilmiyyahnya blas?? SAMPAH!!!
Barakallahu fiikum!!!
Berkata Imaam 'Ali radhiyallahu 'anhu,"Waktu adalah pedang, jika engkau tidak cepat menebasnya maka ia akan menebasmu terlebih dahulu"


Offline Abu Fauzan

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 399
  • Lokasi: Muntilan - Klaten - Surabaya
  • Jenis kelamin: Pria
  • Mulailah Segala Sesuatu yang Baik dengan Basmalah
    • Lihat Profil
    • Profil
« Jawab #4 pada: 09 April 2007, 15:53:00 »
Artikel kuno, ya gini deh...newbie
kalau blm tau maksudnya, mbok ya tanya sama ustadz2 salafi, kan banyak to forum tanya jawab dengan mereka...jangan cuman bikin opini murahan doank...
Barakallahu Fiik
Berkata Imaam 'Ali radhiyallahu 'anhu,"Waktu adalah pedang, jika engkau tidak cepat menebasnya maka ia akan menebasmu terlebih dahulu"


Offline jun

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2007
  • Tulisan: 6
    • Lihat Profil
« Jawab #5 pada: 09 April 2007, 15:57:20 »
Nasihatku untuk ‘Salafiyun’ dan yang terjebak di dalamnya (2/2)

(lanjutan..)

by Abu Faqih   %peace%

4. Dalam berbagai pernyataan terlihat sekali, ‘salafi’ merasa paling salafi, ahlus sunnah, firqah najiyah,  thaifah manshurah, paling benar hujjahnya, paling pintar ulamanya, pokoknya tob abizz! Yang lain laa yafqah syai’an (gak ngerti apa-apa),_sementara yang berbeda dengan mereka dianggap ahlul bid’ah, ruwaibidhah, jahil, dll. Pokoknya laa Yabqa wahid (tak tersisa satu pun), pernah mengalami serangan ‘salafi.’

Komentar:
 Laa Tuzakkuu anfusakum, wahuwa a’lamu bimanittaqa (jangan kalian merasa suci, dan Dia mengetahui siapa yang bertaqwa). Naudzu billah! Orang baik tidak akan merasa baik, sebab jika ada orang baik merasa sudah baik, berarti dia sombong. Orang ikhlas ketika merasa ikhlas berarti dia belum ikhlas. Saya telah membaca beberapa karya tokoh ‘salafi’ Indonesia, nuansa merasa paling pintar sangat terasa,  seperti Al Masaail dan Risalah Bid’ah (saya akui kedua buku itu bagus, saya pun banyak mengambil manfaat darinya, tetapi ada alumni LIPIA yang berkata buku Risalah Bid’ah itu  la yanfa’- tidak bermanfaat) penulisnya banyak berkata, ‘Saya berkata’, ‘Saya katakan’, kalau penulisnya adalah ulama mungkin tidak apa-apa, tapi siapa Anda? Padahal ‘salafi’ lainnya, yakni Umar As Sewed telah mentahdzir Anda, dan mencela dengan gelar-gelar yang menyakitkan. Itu urusan antuma berdua deh. Adalagi, pemilik blog Abusalma. Wordpress.com, yakni Andi Bangkit yang membuat buku Menyingkap Kerancuan dan Syubhat Ikhwanul Muslimin, sebagai buku bantahan Al Ikhwan Al Muslimun Anugerah Allah Yang Terzalimi.  Andi Bangkit ini lebih parah lagi, lebih banyak ia menggunakan ‘Saya berkata’, ‘Saya katakan’ di banding ustadznya itu, belum lagi bantahannya yang kekanak-kanakan dan jauh dari substansi masalah. Saya sudah baca bukunya, ternyata banyak catatan saya atas buku itu. Mulai dari pemakaian bahasa yang over kasar seperti bodoh, tidak mengerti agama, jahil, kufur, khawrij, dll,  atau salah faham yang amat akut, pembahasan yang ngelantur,  berlagak  tahu di banyak hal ternyata keliru, banyak menafsiri ucapan orang dengan pikiran sendiri agar cocok dengan tuduhannya, satu lagi nampaknya ia belum mencium aroma khilafiyah fiqih.  Kalau ada waktu, insya Allah, akan saya bahas buku itu.  Sungguh Imam Ibnul Qayyim mencela pemakaian ‘Aku berkata’, ‘Menurut pendapatku’, karena kesan sombong sangat terasa.  Saya hanya berharap mudah-mudahan kita semua bisa menjadi Ahlus Sunnah yang sebenarnya, thaifah manshurah, dan firqah najiyah, dan Allah Tabaraka wa Ta’ala  membimbing kita ke arah sana.

 Perilaku ‘salafi’ telah membuat garis hitam putih, bahwa kebenaran hanya ada pada Anda sedang yang lainnya jika berbeda adalah salah dan sesat. Dunia ini seakan hanya ada dua manusia, ‘salafi’ dan non salafi (ahli bid’ah). Ini mengingatkan saya kepada ayat Ana khairu minhu (Aku lebih baik darinya), ucapan Iblis La’natullah ‘Alaih. Hal biasa dalam buku atau tulisan kelompok ‘salafi’ penulisnya mengatakan ‘Kebenaran telah disampaikan,’ atau ‘Iqamatul Hujjah (menegakkan Hujjah),’ ‘Ulama-ulama sunnah sudah menegaskan,’ seakan hujjah hak ‘salafi’ saja yang menggunakan dan layak menafsirinya. Seakan label ulama cuma untuk masyaikhnya saja. Pokoknya yang beda tafsiran pasti salah. Sungguh, penentu surga atau neraka seseorang adalah Allah Ta’ala, bukan ‘salafi’. Sadar gak ya?
 
5. Terbiasa menggunakan label buruk, berkata kasar, menuduh, dan fitnah,  kepada pihak  lain, bahkan ulama.

Komentar:
 Mencaci maki seorang muslim adalah fasik dan membunuhnya adalah kufur (HR. Bukhari dan Muslim). Saya menegaskan, ini bukanlah perilaku mereka semua, melainkan bebarapa saja, walau di banyak sisi mereka sama saja, karena taqlidul a’ma (taqlid buta).

 Yusuf al Qaradhawy –yang menjadi ketua Ikatan Ulama Internasional-  diplesetkan menjadi Yusuf al Quradhi (nisbat pada Yahudi Bani Quraidhah), ‘Aduwullah (musuh Allah), Ibnul Yahud (Anak Yahudi), Al Qaradha (penggunting), ini pada tahun 90-an. Ikhwanul Muslimin menjadi Ikhwanul Muflisin (Persaudaraan orang-orang bangkrut), Abu Bakar Ba’anjir (plesetan dari nama  Ust. Abu Bakar Ba’asyir), Jalaluddin Rahmat menjadi Dajjaluddin Rahmat, atau Dhalaluddin Rahmat (ini pada tahun 90-an), ya dia Syiah, alangkah baiknya dikatakan semoga Allah memberinya hidayah, semoga Allah meluruskan jalannya, dibanding memaki-maki.

 Menuduh Quburiyun kepada IM dan JT, saya telah membaca den berinteraksi dengan orang IM, ternyata mereka sangat anti dengan hal itu. Bahkan jika orang-orang nyekar ke kubur qabla dan ba’da ramadhan mereka mengingkari kebiasaan itu. Bahkan kebiasaan di masyarakat seperti nujuh bulanan, nishfu sya’ban, tahlilan, membaca rawi dan barzanji, mereka juga mengingkarinya, hanya saja mereka tidak mau konfrontatif. Bahkan ketika musim ‘Muludan’ para penggemar Maulid sering menghembuskan ‘Hat-hati terhadap kelompok GAM (Gerakan Anti Maulid),’ maksudnya PKS. Ini langsung saya dengar di daerah saya dari ceramah seorang habib. Perlu Anda tahu, PKS juga disebut Wahabi oleh NU dan kalangan ‘alawiyin.

 IM mewajibkan membaca dan menghafal Al Ma’tsurat, ini dusta, dusta, dan dusta. Jika yang dimaksud ‘wajib menghafal’ adalah sebagaimana guru mewajibkan hafalan surat-surat pendek kepada muridnya di TPA atau sekolah, jelas itu hal yang wajar. Adapun katanya IM melazimkan dalam setiap pertemuan di baca Al Ma’tsurat, jelas dusta. Demikian saya ketahui dari mereka.

 IM dan lainnya, tidak perhatian dengan masalah aqidah. Ini juga dusta. Banyak buku yang ditulis tokohnya tentang aqidah, bahkan ketika awal mereka ta’lim, yang dibahas adalah makna syahadat, macam-macam tauhid, al wala wal bara, tentang ma’rifatullah, Rasul dan Islam. Masih sangat banyak fitnah lainnya.

6. ‘Salafi’ sering mencela orang yang berbeda fiqih dengan mereka.

Komentar:
 Banyak contohnya seperti nasyid, IM diserang habis-habisan. Padahal masalah nasyid adalah benar-benar masalah perbedaan pendapat ulama.  Masa gak tau sih? Kalau benar-benar tidak tahu berarti Anda jangan bicara fiqih deh, karena kata para ulama ‘Orang yang tidak tahu perselisihan pendapat fikih para fuqaha, berarti dia belum mencium aroma fiqh.’ (Lha, kalo aromanya aja belum tau apa lagi isinya?) kalau Anda sudah tahu bahwa nasyid itu memang perbedaan pendapat, kenapa sulit sekali untuk berjiwa besar menerima perbedaan?

 Yang mengharamkan –itupun tidak mutlak- adalah Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Syaikh bin Baz, Syaikh al Albany,  Syaikh Shalih Fauzan, dll. Yang membolehkan seperti Ibnu Hazm, Ibnu Nahwi, Ibnu Thahir, Al Ghazaly, Ahmad Syurbashi, Ali ath Thanthawy, Mutawalli Asy Sya’rawy, Al Qaradhawy, Muh. Al Ghazaly, dll.

 Memakai celana di bawah mata kaki (isbal), juga khilafiyah. Yang mengharamkan kita tahu-lah siapa orangnya. Tapi, harusnya mereka juga memperhatikan bahwa ada juga yang tidak mengharamkan, seperti Imam Asy Syafi’I memakruhkan (kecuali jika sombong maka haram), Ibnu Abdil Bar menegaskan masalah isbal dan pakaian adalah bagian dari adat  disebuah daerah (tentu selama tidak buka aurat lho), juga Ibnu Hajar, haram jika sombong, begitu pula saudara-saudara kita di PERSIS. Lalu, gimana kalo sudah setengah betis tapi sombong juga? Karena merasa sudah paling menjaga sunah. Percuma’kan?  Hayooo … siapa tuh .. Semoga Allah Ta’ala memberikan pahala bagi Anda yang tidak isbal. Amin.

 Juga masalah Al Ma’tsurat, yang katanya beberapa haditsnya dhaif. Padahal banyak kitab kumpulan doa pasti ada yang dhaif sepeti Kalimatut thayyibah-nya Ibnu Taimiyah, atau Al Adzkarnya  An Nawawi. Lalu kenapa mereka berdua gak di cela? Lagi pula berdoa juga gak apa-apa pakai redaksi perkataan sendiri. Apakah ada haditsnya doa berbunyi Ya Allah, mudahkanlah urusan anakku yang hendak SPMB. Tapi apakah salah doa ini? Ya tidak, yang salah kalau itu dianggap dari Nabi. Jangan lupa, banyak ulama yang membolehkan menggunakan hadits lemah selama untuk fadhailul ‘amal, termasuk doa. Seperti Imam Abdurrahman al Mahdi, Ahmad, Abu Zakaria al Anbari, Sufyan ats Tsauri, Tirmidzi, Ibnu Rajab al Hambali, Ibnu Mai’in, Sufyan bin ;Uyainah, Ibnu Hajar, An Nawawi, Daqiq al Id, Izzuddin bin Abdussalam, dll.mereka membolehkan menggunakan hadits dhaif untuk fadhailul amal, tentu dengan syarat-syaratnya. Adapun yang melarang adalah Imam Bukhari, Ibnu Hazm, Ibnul Araby, Abu Syamah, Syaikh Muh. Syakir, Syaikh al Albany, dll. Maka sungguh mengherankan ‘salafi’ yang tidak henti-hentinya mengkritik Al Ma’tsurat, maka wajar ada Ustadz dari IM  begitu pulang dari Saudi Arabia mengatakan bahwa mereka yang mengkritik mungkin gak ngerti fiqih atau mungkin memang mengikuti hawa nafsu kebencian yang luar biasa kepada IM. Sehingga asal bicara, tanpa mau membaca kitab ulama secara utuh.   Pokoknya kalau dari IM, ya salah. Titik. Ini namanya ‘Ainus Sukhti (mata kebencian). .

 Atau khilaf fiqih kontemporer, seperti da’wah melalui parlemen dan partai, para ulama kontemporer berbeda pandangan. (anehnya, ‘salafi’ membid’ahkan partai karena bukan sarana dakwah Rasulullah,  lha Anda sendiri mendirikan yayasan dakwah, emangnya nabi pernah berdakwah pakai yayasan atau forum komunikasi Ahlus Sunnah wal jamaah? Bid’ahin juga donk? Kalau Anda bilang ‘partai’kan bikin pecah umat,’  akhee .. sebelum ada partai juga, umat udah pecah gara-gara beda madzhab fiqih, perbedaan syafiiyah dan hanafiyah sampe perang fisik di beberapa tempat. Harusnya Anda juga melarang madzhab donk karena juga bikin pecah, bahkan Anda sendiri juga pecah’kan sesama salafi? Berarti, keberadaan Anda yang  bikin pecah, seharusnya menjadi alasan agar kelompok Anda  ditiadakan. Tapi kite’kan  kagak tega ama ente … kalau perlu bubarkan kesebelasan sepak bola karena mereka juga sering bikin perpecahan sektarian dan suku). Saya hargai pendapat Anda, toh kalangan IM ada juga yang melarang da’wah parlemen dan partai seperti Sayyid Quthb dan adiknya, juga Fathi yakan. Tetapi apakah anda mau hargai pendapat IM? Berat … berat … )

 Syaikh Rasyid Ridha, Syaikh Abu Zahrah, Syaikh Ali al Khafif, Syiakh Aidh al Qarny, bahkan Syaikh bin Bazz membolehkan da’wah parlemen, sebagaimana dalam kitab Al Fikr AsSiyasy al Mua’shir ‘inda Al Ikhwan Al Muslimun. Maktabah al Manar al Islamiyah. Juga Syaikh Ibnu Utsaimin,  Syaikh Umar Sulaiman al Asyqar, Syaikh Al Maududi,Syaikh Nashir ‘Umar, Syaikh Salman al ‘Audah, Syaikh Safar al Hawali, Syaikh Abdurrahman As Sa’di, dll,  sebagaimana dalam buku Pemilu dan Parpol Dalam Perspektif Syariah Karya Abdul Karim Zaidan, Abdul Majid Az Zindany, dan Muhammad Yusuf Harbah. (kira-kira ‘salafiyun’ mau terima gak pendapat ulama-ulama ini ..?)

 Di atas contoh saja, masih banyak lagi ketidakmampuan ‘salafi’ untuk dewasa menghadapi perbedaan fiqih. Inga –inga … para ulama ushul berkata Al Ijtihad Laa yanqudhu bil Ijtihad (Ijtihad tidak bisa mementahkan  ijtihad yang lain) karena sama-sama ijtihad koq, bisa benar bisa salah. Tidak boleh merasa paling benar. Kaidah lain, Laa inkara fi masail ijtihadiyah (tidak boleh saling mengingkari dalam masalah yang masih ijtihadi). Perselisihan fiqih adalah ruang untuk toleran, bukan ruang nahi munkar. Adapun keharaman yang disepakati seperti mabuk, judi, korup, zina, adalah ruang untuk nahi munkar. Fahimtum ..? seharusnya itu agenda kita ..

7. Menuduh yang lain adalah Khawarij terhadap IM, HT, MMI.

Komentar:
 Ini namanya menepuk air di dulang terpercik muka sendiri, atau maling teriak maling. Emangnya khawarij itu apa sih? Ciri khawarij itu, sebagaimana yang kita ambil pelajaran dari perilaku Dzul Khuwaisirah (Muttafaq ‘Alaih) dan juga sejarah lainnya tentang mereka, adalah lancang terhadap Rasulullah, keras sesama ahli kiblat, sementara banci terhadap orang kafir. Saat ini Rasulullah tidak ada, berarti pewarisnya yakni para ulama. Nah, siapakah yang hobinya mencaci maki para ulama?  Ayoo jujur …, terus siapa yang keras terhadap sesama muslim, wah jelas … sejelas matahari di siang hari, siapa yang hobi menyerang sana-sini sampai akhirnya sesama teman sendiri?, siapa yang justru bermesraan dengan Amerika Serikat bahkan meminta pertolongan mereka untuk menyerang Iraq? Kita juga benci karena Allah kepada Sadam, tapi apakah dibenarkan mengorbankan Rakyat Iraq melalui tangan kotor AS?  Jadi, sopo sing khawarij? (maka wajar Ust. Halawi Makmun, LC, MA. Meminta agar mereka jangan lagi dipanggil salafi, tetapi murji’i (murji’ah) atau khariji (khawarij). Ust. satu ini keras tapi lucu, dengan keras ia menyebut ‘salafi’ sesat, bodoh, khawarij, murjiah, bahkan ada syiahnya, bahkan untuk Luqman Ba’abduh, lantaran pendapatnya dalam buku Mereka Adalah Teroris! yang membolehkan meminta pertolongan AS untuk menyerang Irak, Ust. Halawi mengatakan itu perbuatan kafir dan seharusnya  langsung tebas, gak usah nunggu keputusan mahkamah. Saya juga tidak sreg dengan bahasa dari Ust. Halawi ini. Tapi, tidak ada asap tanpa api,  tidak ada reaksi tanpa aksi yang memulai.)

 Dalam ciri lainnya, khawarij itu memberontak kepada penguasa yang adil yang menggunakan syariat Islam yaitu Ali. Apakah ada orang IM, HT, MMI, memberontak kepada pemerintah yang adil? Tidak, justru mereka akan siap menjadi prajuritnya.  Ingat kalau pun ada IM, HT, MMI, memberontak kepada penguasa yang zalim, maka itu bukan termasuk khawarij. Ibnu Khaldun mengatakan menurunkan kekuasaan penguasa yang zalim bukanlah termasuk bughat, bahkan Ibnu hazm membenarkan mencopot penguasa yang zalim. Banyak ulama yang membenarkannya, seperti Al Ghazaly, Ar razi, dan lain-lain. Dengan syarat penguasa tersebut telah zalim, tidak menggunakan syariat, dll. Adapun menurut ‘salafi’, khawarij hukumnya jika memberontak atau melawan pemerintah yang sah.  Lho, kalau sah tapi zalim gimana mas?  Wah bisa-bisa  Nabi Musa juga khawarij karena melawan Fir’aun selaku penguasa yang sah saat itu, atau Nabi Ibrahim karena melawan penguasa zalim Namrudz.

O iya, kan PKS jadi bagian dari pemerintah yang sah, nah mana mungkin mereka khawarij lha wong pemerintahnya dia sendiri koq, kan gak mungkin mereka memberontak diri sendiri. Justru bila kita gunakan jalan berfikir orang ‘salafi’,  maka sebenarnya ‘salafi’-lah yang layak disebut bughat karena sehari-harinya menjelek-jelekkan PKS (pemerintah) melulu. Ayoo kena’kan …? Makanya kalau berpendapat pake dalil,  pendapat para ulama, berbagai sudut pandang, otak yang tajam, perenungan mendalam, dan hati yang jernih. Sehingga penuh pertimbangan dan tidak rapuh. Saya sudah menerjemahkan nasihat ulama Timur Tengah untuk kaum ‘salafiyun’, Insya Allah saya akan tampilkan kalau sikap Anda belum berubah, itu pun jika saya masih tertarik diskusi dengan Anda dan ada waktu luang. (Cape tau … ngurusin kaya beginian,  saya’kan juga banyak urusan) 
 
8. Terakhir untuk saudaraku seiman dan seperjuangan, seluruhnya tanpa kecuali … mari kita berjalan bersama, duduk bersama, membicarakan hal-hal yang dibutuhkan umat. Sungguh umat bingung melihat perilaku aktifis Islam seperti ini. Mereka tak ada tempat bertanya dan tak ada yang menolong ketika butuh pertolongan, maka datanglah misionaris yang akan menerkam mereka.  Anda tahu, bahwa orang kafir bertepuk tangan karena kita saling bercakaran? Jangan-jangan mereka mengucapkan ‘terima kasih’ karena PR mereka untuk menghancurkan  kita sudah diselasaikan oleh kita sendiri.

Saudaraku fiddin …Ibnu Umar pernah marah kepada pemuda yang bertanya apa hukum membunuh lalat, padahal di negeri pemuda itu Husein cucu nabi dipenggal kepalanya? Artinya, ada masalah besar di depan pemuda itu justru tidak ditanyakan, sementara lalat dibunuh malah ditanya. Wajar Ibnu Umar marah.  Itulah fiqih salafus shalih. Imam al Qarrafi menyatakan bahwa ulama itu seperti dokter ia akan menyembuhkan penyakit yang paling membahayakan keselamatan jiwa pasien, sebelum penyakit yang ringan-ringan.

 Kondisi aktifis Islam hari ini, seperti seorang gadis yang bersolek di kamarnya, sementara rumahnya kebakaran. Ia bersolek mengurus jerawat, atau make up, padahal nyawanya terancam dan ia mengetahuinya, tentu gadis cerdas akan menelpon pemadam kebakaran, bukan semakin asyik dengan mainannya. Itulah kita, asyik tentang perselisihan ulama masa lalu yang memang mereka juga tidak ada mampu untuk sepakat, tentang maulid nabi (walau kita meyakini itu bid’ah), atau menggerakan jari telunjuk ketika tasyahud, zakat fithrah pakai uang atau pakai makanan pokok, isbal, padahal –sekali lagi- itu masalah lama yang memang tidak bakal selesai sampai hari kiamat. Sementara moncong tank musuh sudah di depan rumah kita, pesawat pengintai mereka bolak-balik masuk ke teritori kita, mereka menyebarkan jasus (intel) di antara umat Islam. (Myquran ada intelnya ga ya?). saya akui masalah perselisihan  itu juga harus diperhatikan, tapi ingat tak mungkin ada kata sepakat! Sekuat apapun anda mencoba menjelaskan dalil, sebab para ulama dahulu juga tidak mampu. .Kalau tahu demikian, maka gunakanlah senjata kita baik berupa tulisan, lisan, hujjah, untuk melawan kaum yang benar-benar memusuhi seperti AS, Inggris, Australi, Israel, atau musuh dalam selimut seperti JIL, Ahmadiyah, LDII, Inkar Sunnah, NII, dan sempalan lainnya.

Ada hadits-hadits yang cocok banget buat para pemuda yang suka nyalah-nyalahin orang, mencela ulama, berbangga dengan ilmu padahal masih belajar, doyan jidal, tidak hormat dengan yang lebih tua. Ini bukan hanya untuk ‘salafi’ tapi untuk yang lain juga. Sebab perilaku Khawarij  mungkin saja dilakukan oleh yang lainnya.

Akan datang di akhir zaman, anak-anak muda yang mempunyai impian bodoh, mereka mengucapkan sebaik-baiknya ucapan makhluk, mereka menyimpang dari Islam seperti lepasnya anak panah dari busurnya, iman mereka tidak lebih dari kerongkongan mereka. Maka di mana pun kalian menemui mereka maka perangilah mereka, sesungguhnya memerangi mereka akan mendapat balasan di akhirat kelak. (HR. Bukhari)
 
Sesungguhnya yang paling Allah benci adalah orang yang sengit dalam berdebat (HR. Bukhari)

Jangan kalian menuntut ilmu untuk berbangga-bangga di depan ulama, membantah orang bodoh, dan jangan memilih-milih majelis, barang siapa yang melakukan itu .. neraka, neraka (HR. Ibnu Majah dan  Ibnu Hibban)

Tidaklah tersesat sebuah kaum yang telah mendapat hidayah, kecuali jika mereka larut dalam perdebatan. (HR. Tirmidzi, hasan shahih dan Ibnu Majah)

Seorang mu’min itu bukanlah yang suka melaknat (HR. Tirmidzi, hasan)

Bukan golongan umatku yang tidak menghormati orang besar kami, tidak menyayangi anak kecil kami, dan tidak mengetahui hak orang alim kami. (HR. Ahmad dan Thabrani, hasan)


 Semoga Allah memaafkan saya, Astaghfirullahal ‘Azim, dan mohon maaf kepada ‘salafi’ kalau ada kata-kata ynag memanaskan telinga, sungguh IM, HT, MMI, dan JT, sebelumnya amat sering merasakan itu (bahkan lebih perih rasanya),  yang terlontar dari lisan  atau tulisan kelompok ‘salafi.’ Anda. Namun pada akhirnya menjadi biasa dan kebal.

Hadanallahu wa Iyyakum. Wallahu A’lam bish Shawab

Offline servoman1salam

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2006
  • Tulisan: 1.169
  • Lokasi: banten
  • Jenis kelamin: Pria
  • Tawakal Niat Ikhtiar
    • Lihat Profil
    • MyWeb
« Jawab #6 pada: 09 April 2007, 16:05:26 »
ini dari per orang pengalaman...
mungkin isi nya gak ada dalilnya............
Negara Barat Penuh Dengan Tipu Daya.....     (Dunia - Nasyeed - Raihan ) :) ;)

Offline Scorpion14

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 11.251
  • Lokasi: Bandung
  • Jenis kelamin: Pria
  • Ya Allah... jadiknlah aku trmsuk orang2 yang sabar
    • Lihat Profil
« Jawab #7 pada: 09 April 2007, 16:06:01 »
@TS
:) terima kasih atas nasehatnya

Offline hanifah

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 164
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Wanita
    • Lihat Profil
« Jawab #8 pada: 09 April 2007, 16:13:32 »
yupz.....thanks waelah buat infonya...  :)

jazakumullah khairan katsiran..smo9a bermanfaatlah..  8-)

Offline luxmile

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 409
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #9 pada: 09 April 2007, 16:38:38 »
weleh, opo iki... :o

Ooooo, gerakan pluralisme antar firqah rupanya... :hihi: %peace%
Hanya setitik tinta-Nya...

Offline -azra-

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Mar 2007
  • Tulisan: 440
  • Jenis kelamin: Wanita
  • hello......
    • Lihat Profil
« Jawab #10 pada: 09 April 2007, 16:43:30 »
makasi loh atas artikelnya, halus tp "dalem" bgt ya :D  :hihi:

btw siapa tuh abu faqih  ??? atas dasar apa dia buat artikel spt itu  ???

apa bedanya yg nulis artikel spt ini ama tulisannya sendiri  ^-^ ^-^

azra imoet ga ngerti mksd dan tujuan tersembunyi dr penulisnya nih  :hihi: :hihi: :hihi: %peace%

baru nyoba nih

Offline haitan

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 1.378
  • Lokasi: Bandung
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #11 pada: 09 April 2007, 17:50:07 »
Assalamu 'alaikum wr. wb.

Kita perlu banyak belajar, karena saat ini kita masih jauh dalam proses perjalanan itu. Dan semuanya bergantung kepada kita semua, apakah kita berkeinginan membangun kaum muslimin yang lebih berwibawa, berkarismatik dan berkarakter. Semuanya bergantung kepada kita juga. Saat ini kita sangat lemah dalam berbagai kehidupan kita, termasuk juga dalam karakter sebagai pribadi muslim. Meskipun agama ini telah lama kita pegang dan dipelajari, tetapi karakteristik agama itu sendiri masih jauh dari kita sendiri. Sehingga kita semua perlu belajar, termasuk juga dengan salafi, IM, JT, HT dll. Siapakah yang pantas menjadi pemimpin di masa depan, bergantung kepada wibawa, karismatik dan karakteristik yang dipunyainya.

http://haitanrachman.wordpress.com (Moh. Haitan Rachman)

http://usahadawah.com (Madrasah Da'wah dan Islam)

http://indonesianstrategic.wordpress.com (INDONESIAN STRATEGIC 2025)

Offline -azra-

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Mar 2007
  • Tulisan: 440
  • Jenis kelamin: Wanita
  • hello......
    • Lihat Profil
« Jawab #12 pada: 09 April 2007, 17:57:09 »
@om haitan
trus om klu seandainya ada nih golongan islam yg penuh dgn kesesatan, yg pandai bgt berdalih sana sini, dan

dia memiliki wibawa, karismatik dan berkarakteristik spt om bilang. apa dia akan menjadi pemimpin dimasa depan?

wah serem dong om klu gt.

apa ga sebaiknya kita cari pemimpin yg sesuai berdasarkan quran dan hadis aja jgn berdasarkan wibawa dan

sejenisnya  %peace%
baru nyoba nih

Offline exblopz

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 5.083
  • Lokasi: Malang
  • Jenis kelamin: Pria
  • Pingin ke Masjid Nabawi
    • Lihat Profil
    • Abu Aisyah Official Web Site
« Jawab #13 pada: 09 April 2007, 19:27:17 »
Pengalaman pribadi TS, tidak memberikan nilai apapun.
Masalah nasyid, apakah para ulama melarang nasyid? Jawabannya tidak. Tetapi kalau musik, jelas dilarang, lha kalau nasyid plus musik?
Masalah isbal, orang yang pakaiannya di bawah mata kaki sholatnya tidak sah, itu haditsnya shohih silakan teliti lagi. Kemudian juga ada salah satu hadits yang juga shohih Ibnu Umar radhiyallahu'anhum disuruh rasululloh shallallahu'alaihi wa sallam menaikkan pakaiannya hingga sampai betis.

Ada masalah bagus yang ditulis oleh TS, yaitu masalah 'saya berkata', 'saya katakan'. Kalau saya menulis buku untuk membedakan perkataan ulama, hadits, dalil dan pendapat pribadi maka tentu perkataan ini dipakai. Adapun kaidah yang dijadikan pegangan adalah apabila perkataannya melenceng dari Al Qur'an dan As Sunnah silakan ditolak dengan akal sehat, kalau masih sejalan silakan diterima dengan akal sehat. Ingatlah kita harus menerima dari siapapun nasehat itu, termasuk dari seorang budak belia. Dan kita juga harus faham bahwa tidak sedikit kita sering lupa untuk dinasehati.

Bab masalah tahzir, telah saya tulis dalam sebuah thread di GDI, sudah lama thread ini, tentang kaidah-kaidah mentahdzir. Ada beberapa alasan kenapa harus mentahdzir dan siapakah yang pantas untuk mentahdzir.
1. Tahdzir dilakukan oleh para ulama dan umara', tidak boleh seorang ustadz mentahdzir ustadz lainnya.
2. Tahdzir dilakukan karena seseorang tersebut telah berbuat atau menyebarkan pemahaman yang menyesatkan sehingga tahdzir ini dimaksudkan untuk menyelamatkan umat.
3. Tahdzir dilakukan dimaksudkan agar orang yang ditahdzir itu segera bertaubat dan kembali ke jalan yang benar.
Dan apakah yang anda lihat itu tahdzirnya sudah benar atau belum? Saya rasa banyak yang tidak benar. Dan terkadang ada seorang ustadz yang mentahdzir ustadz yang lainnya. Ini bukanlah cerminan akhlaq dari para salaf.

Menjelek-jelekkan pemerintah bukanlah sifat salafi, saya tak pernah melihat dikajian yang selalu saya ikuti menjelek-jelekkan pemerintah, justru setiap kajian mendo'akan pemerintah agar dipimpin oleh orang-orang yang benar. Entah TS ikut salafi yang mana saya tak tahu.

IM mengharuskan hafal al ma'tsurat kata anda dusta, mungkin anda lihat yang bukan IM, sebagai mana yang telah diberitahukan TS, kalau dia lama di salafi, sedangkan saya dan istri lama di PKS. Istri saya sendiri orang PKS dan faham betul tentang PKS. Seperti perekutan kadernya, dengan cara membentuk sebuah organisasi alumni di sekolah-sekolah, bahkan atas nama PKS juga setiap kader yang mau masuk harus hafal ini dan itu. Entah kenapa saya juga tidak faham.

Kalau memang IM itu merekut kader untuk dijadikan para mujahid muda yang berdakwah dengan dakwah Ilallah, maka pertanyaannya adalah kenapa harus dengan kepartaian? Apakah tidak ada cara yang lebih baik selain kepartaian?

Ya, memang kalau soal birokrasi (mungkin) bisa mudah. Tapi bukan masalah itu. Ingatlah para ulama sejak zaman Abu Hanifah rahimullohuta'alaa sampai kepada Imam Ahmad bin Hanbal rahimullahuta'alaa tidak pernah menerima gaji dari pemerintah. Bahkan Imam Nawawi rahimullohuta'alaa lantang bicara kepada pemerintah karena dia tidak butuh kepada pemerintah, baik itu kedudukan, gaji, dan juga kekuasaan. Mereka ikhlas melakukan ini hanya kepada Allah.

Kalau dikaitkan dengan fiqih, TS menuduh bahwa banyak orang-orang salafi yang tak faham terhadap fiqih. Siapakah yang anda katakan "orang-orang salafi" tersebut?

Dalam mensikapi perbedaan TS rupanya melupakan satu hal. Yang pertama, apabila perbedaan itu dalam masalah tafsir ayat, maka harus didudukkan kepada ulama tafsir. Dan dilihat keilmuan mereka. Kemudian dalam permasalahan hadits, harus didudukkan kepada ulama hadits.

Apabila ulama A lebih tinggi ilmu haditsnya  daripada ulama B, maka ijtihad ulama A tentu lebih dapat diambil daripada ulama B. Kemudian apabila ulama A adalah ahlu hadits, sedangkan ulama B tidak, maka ijtihad ulama A lebih diutamakan. Dalam permasalahan fiqih maka harus dikaji beberapa hal, yaitu permasalahan yang ada, kemudian adakah dalil-dalil yang mendukung, kemudian bagaimanakah para shahabat memahami dalil ini dari rasululloh shallallahu'alaihi wa sallam, yang berikutnya bagaimanakah para shahabat mengamalkan dalil-dalil tersebut.

Kalau dalam sebuah masalah misalkan, nasyid, adakah dalil yang mengatakan nasyid itu harom, jawabnya tidak, bagaimanakah para shahabat terhadap nasyid itu? mereka faham, bahwa nasyid adalah syair dan nyanyian untuk menggugah hati. Ternyata mereka pernah melagukannya yaitu ketika jihad fii sabililah dan ketika bekerja keras, itupun tak terlalu sering mereka lakukan.

Kemudian masalah musik, adakah dalil yang mengharamkan musik, banyak. Adakah dalil yang memperbolehkan musik, ada, tapi pada waktu-waktu tertentu. Bagaimanakah para shahabat memahami dalil tersebut? Ternyata para shahabat faham bahwa musik itu haram, karena banyak hadits-hadits yang menjelaskannya, dan kemudian bagaimana mereka mengamalkannya, musik hanya mereka mainkan pada saat hari 'Ied dan walimah. Selain itu? Para shahabat tidak pernah melakukannya, terlebih lagi rasululloh shallallahu'alaihi wa sallam.

Dan masih banyak lagi persoalan-persoalan fiqih lainnya.

Apakah salafi pernah menuduh yang lain adalah khawarij? Apakah saya pernah menuduh orang lain khowarij, bahkan kalau saya menuduh khawarij, tentu saja keluarga saya yang akan saya tuduh pertama kali. Bahkan adik-adik saya juga akan saya tuduh pertama kali sebagai khawarij, teman-teman saya juga akan saya tuduh sebagai khawarij. Tidak wahai @TS, khawarij adalah orang yang memberontak dan berlebihan dalam ibadah mereka.
Apakah anda pernah menemui orang-orang pemberontak, yang mereka berlebihan dalam beribadah, dan sering mengkafirkan orang lain, tapi mereka terkenal jujur, dan banyak menghina para shahabat? Itulah khawarij. Khawarij yang digambarkan oleh para shahabat adalah demikian. Bahkan salah seorang khawarij berani mengajarkan bid'ahnya terang-terangan dan di dalam salah satu riwayat membunuh salah seorang shahabat dengan cara memenggal lehernya, bahkan salah seorang tabi'in (anak salah seorang shahabat rasululloh shallallahu'alaihi wa sallam) hanya gara-gara salah dalam menafsirkan ayat dianggap kafir dan dibunuh. Inilah khawarij.

Kemudian saya mengomentari lagi permasalahan melawan pemerintahan. Nabi Musa 'alaihissallam dan nabi Ibrahim 'alaihissallam melawan pemerintahan karena diperintah oleh Allah. Ayatnya sudah jelas dan gamblang yaitu bahwa Allah mengutus mereka, seperti surat Al 'araaf ayat 103. Sedangkan nabi Ibrahim 'alaihissallam, beliau berdakwah kepada kaumnya, hingga kemudian dibawa ke hadapan raja karena menghancurkan berhala-berhala.

Nabi muhammad shallallahu'alaihi wa sallam juga berdakwah semata-mata kepada kaumnya. Kemudian pembesar-pembesar kaum Quraisy pun mengusir beliau dari Makkah. Apakah ini juga disebut sebagai pemberontakkan, sedangkan rasululloh shallallahu'alaihi wa sallam sendiri melarang yang namanya pemberontakan apabila negara tersebut dipimpin oleh seorang pemimpin muslim. Dan kita boleh tidak ta'at kepada pemimpin itu apabila menyuruh kepada hal-hal yang diharamkan.

Tentang Fadhilatul 'amal, TS ternyata tidak mengerti tentang hal ini. Banyak memang para ulama memakai hadits tentang fadhilatul 'amaal, coba anda teliti lagi perkataan para ulama tentang hal ini. Yang dimaksud dibolehkan sebelumnya anda harus faham dulu tentang Harus menggunakan hadits shohih dalam permasalahan hukum-hukum syar'i. Ingat seluruh ulama sepakat bahwa kalau dalam masalah hukum-hukum syar'i, haruslah menggunakan hadits shohih. Dan tidak boleh menggunakan hadits dho'if ataupun maudhu'.

Nah, bab menggunakan hadits dho'if adalah pada amal-amal yang sudah jelas kebolehannya. Contohnya adalah membaca Al Qur'an. Membaca Al Qur'an apakah boleh? Boleh dan bahkan disunnnahkan, sebagian mewajibkan. Adapun tentang memperkuat alasan dibolehkannya membaca Al Qur'an maka dipakailah hadits-hadits dho'if sebagai fadhilatul 'amal, bahwa membaca Al Qur'an itu adalah termasuk amalan yang utama.

Nah, tapi permasalahannya jadi melebar kepada dzikir-dzikir yang ada pada hadits dho'if. Karena biasanya hadits dho'if yang dijadikan pegangan dalam dzikir-dzikir. Contoh juga membahas tahlilan kepada orang mati, tentunya ini juga sudah menjadi pertanyaan apakah dalilnya ada? Ingat permasalahan fiqih yang saya kemukakan di atas?
Dan seterusnya.

Tulisan yang TS berikan bukanlah tulisan karena dia berasal dari salafi, tapi saya yakin dia berasal dari luar salafi, atau mungkin berasal dari sebuah golongan yang mengaku salafi, kemudian dia keluar dari golongan tersebut.

Ingat akhi, siapapun yang berjalan lurus dengan Al Qur'an dan As Sunnah, sebagaimana pemahaman para shahabat, tabi'in dan tabi'ut tabi'in serta mengikuti mereka dengan baik, maka dialah salafi, apapun orang memanggilnya. Siapapun dia, dari golongan manapun kalau dia berbuat demikian dialah salafi. Entah antum dari NU, IM, HT, JT, tapi kalau sikap anda seperti itu, dilihat dari kelakuan, dilihat dari ibadah-ibadah yang dilakukan, niscaya anda tetap disebut sebagai salafi, apapun nama anda.

Dalam permasalahan keutamaan dakwah, antum harus melihat dakwah yang antum bawa. Apakah melawan orang-orang kufur itu lebih dulu ataukah membenahi umat? Kalau misalkan kita dihadapkan dalam perang besar, misalnya semuanya bersatu entah dengan cara apa yang penting bersatu. Namun mereka masih mengasah pedang mereka dengan jimat, mereka masih menggantungkan pedang mereka di pohon biar sakti, atau bahkan mereka melayat dulu syaikh mereka agar bisa menang di jihadnya, niscaya amalan mereka dalam jihad tersebut sia-sia. Nol besar.

Satu saja yang harus dibenahi yaitu tauhid mereka, setelah itu barulah bersatu. Jangan berpecah belah dalam masalah aqidah. Kalau berpecah belah, yang muncul adalah kehancuran. Seandainya yang diinginkan rasululloh shallallahu'alaihi wa sallam adalah kemenangan dalam jihadnya, tentunya sebelum berperang seorang shahabat akan dibiarkannya langsung pergi ke medan jihad tanpa mengucapkan kalimat tahlil. Tapi apa yang dilakukan oleh rasululloh shallallahu'alaihi wa sallam? Beliau menghentikan dulu shahabat tersebut, disuruh untuk bersyahadat masuk Islam. Karena rasululloh shallallahu'alaihi wa sallam tahu, kalau shahabat ini meninggal dalam keadaan masih kufur, maka bukan surga tempatnya tapi neraka.

Maka dari itulah akhi, sebenarnya tulisan yang antum berikan ini bagus. Tapi antum masih belum faham tentang salafi, dan mungkin antum juga salah masuk salafi. Atau wallahu'alam bishawab, saya juga tak tahu tentang TS.

Tulisan TS, merupakan sebuah pelajaran bahwa bahtera dakwah salafiyah di Indonesia ini sering mendapat guncangan. Yaitu guncangan dari orang-orang yang tidak faham dengan apa yang mereka dakwahkan sendiri, ataupun guncangan dari orang-orang yang tidak suka dakwah yang mengajak kembali kepada sunnah dan meninggalkan bid'ah.

Wallahubishawab.
http://alatsari.wordpress.com/
http://www.abuaisyah.org/
join blogger malang di blogger-ngalam@googlegroups. com

Offline faridridho

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2006
  • Tulisan: 13
  • Just Other Ordinary People
    • Lihat Profil
« Jawab #14 pada: 09 April 2007, 20:06:01 »
Setelah membaca tulisan TS saya jadi teringat ketika saya pertama kali mengenal salafi, waktu itu saya disuruh membaca sebuah website salafi oleh teman saya, saya terkejut karena isi web itu adalah celaan kepada organisasi-organisa dakwah yang memperjuangkan islam.

saya lalu berkata kepada teman saya " kenapa sesama muslim kok ya mencela seperti itu?", lalu teman saya menjawab "pelajari dahulu dengan baik, lalu baru ambil kesimpulan, jangan terlalu cepat menyimpulkan." sayapun menurut dan terus mempelajari artikel-artikel yang ada di dalam web tersebut, setelah saya membaca banyak artikel yang ada saya lalu tiba pada suatu kesimpulan " memang inilah kebenaran itu, dan terkadang memang kebenaran itu terasa pahit bagi kita"

mungkin pengalaman saya ini bisa bermanfaat bagi ikhwah semuanya, terutama bagi TS, sebelum kita faham akan sesuatu masalah janganlah mudah untuk mengambil kesimpulan, begitu juga dengan dakwah salafiyah, bahwa dakwah salafiyah hanyalah dakwah yang ingin memurnikan islam seperti pada mulanya islam muncul, dikala semakin maraknya penyimpangan-penyimpangan yang muncul ditengah-tengah kaum muslimin sekarang ini, baik itu fenomena Syirik, Bid'ah sampai dengan masalah firqah-firqah yang memecah belah islam.

Saya juga paham dengan keadaan saudara TS sekarang ini, karena memang di zaman sekarang ini nilai suatu kebenaran dan kesalahan sudah sangat tersamar dan sulit untuk dibedakan, kecuali oleh orang-orang yang dirahmati oleh Allah Ta'ala.  Barakallahu fiik...