Penulis Topik: Menjawab Kritik Abu Umar Basyir (2)  (Dibaca 521 kali)


Offline Abdul Ghafur

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Mar 2007
  • Tulisan: 728
    • Lihat Profil
« pada: 18 Mei 2007, 16:40:43 »
Pengantar Untuk Syaikh Al Madkhali
Abu Umar Basyir: “Di awal buku sendiri, penyusun menukil tanggapan seorang dai terhadap syaikh Rabi’ dengan bahasa yang kasar. Di luar apakah penyusun setuju ataukah tidak setuju dengan pernyataan kasar itu terhadap Syaikh Rabi’, meletakkan pernyataan itu di awal buku sudah menunjukkan sebuah kekeliruan fatal. Selama ini belum kita dapatkan para ulama Ahlussunnah yang mengecam Syaikh Rabi’. Beliau adalah salah satu dari ulama Ahlussunnah yang cukup dihormati oleh para penuntut ilmu.” (I)

Banyak sudah yang bertanya soal ‘kata pengantar’ DSDB yang ditulis oleh Abu Abdillah Al Mishri. Sebenarnya, ada rasa malas untuk berkomentar, sebab ia memang hanya pengantar, bukan bagian dari isi buku. Namun begitu banyaknya suara-suara pembelaan terhadap Syaikh Rabi’ Al Madkhali, akhirnya saya jengah juga. Begitu hebat pembelaan mereka terhadap Al Madkhali, seolah beliau itu sosok suci yang tidak boleh cidera sedikit pun kehormatannya? Apakah demikian manhaj Ahlus Sunnah dalam memuliakan ulama, yaitu membelanya secara mutlak (100 %), tanpa sedikit pun tersisa ruang untuk mengkritiknya? Saya merasa, pembelaan seperti ini sudah berlebihan, sehingga perlu kita saling berbagi nasehat di sini, khususnya dengan Ustadz Abu Umar Basyir Al Maidani hafizhahullah wa iyyana.

Kata pengantar, apalagi ‘pengantar penerbit’, tidak ada kaitannya dengan kebijakan penulis. Ia ada karena diadakan oleh penerbit. Jika seorang penulis terlibat, paling sifatnya hanya memberi rekomendasi nama-nama tertentu. Dalam hal ini, keputusan mencantumkan ‘kata pengantar’ dari Abu Abdillah Al Mishri adalah murni keputusan penerbit, bukan penulis.

Mula-mula saya ingin bertanya kepada Salafi, “Apakah dilarang seseorang atau suatu kaum melontarkan celaan kepada seorang ulama?” Saya yakin, rata-rata Salafi akan menjawab, “Haram mencela ulama! Daging ulama itu racun!”

Jika demikian jawabannya, saya bertanya kembali, “Lalu bagaimana dengan tradisi cela-mencela dalam khazanah ilmiah Islam?” Bukankah sering terjadi ikhtilaf di bidang fiqih, penafsiran dalil, pensahihan hadits, intepretasi sejarah, dll. lalu muncul sikap saling menyalahkan satu ulama dengan ulama lainnya? Khusus dalam bidang hadits dikenal salah satu cabang ilmu Jarah wa Ta’dil (celaan dan pujian terhadap perawi-perawi hadits). Al Madkhali sendiri dikenal luas dalam soal Jarah wa Ta’dil ini.  

Sekarang persoalannya, apakah celaan itu bersifat konstruktif atau destruktif? Jika celaan ditujukan kepada tokoh-tokoh sesat, pemimpin-pemimpin bid’ah, manusia-manusia zhalim, penolong-penolong syaithan dan musuh Islam, dan siapa saja yang serupa itu, maka jelas celaan menjadi konstruktif. Betapa banyak ayat-ayat Al Qur’an yang mencela manusia-manusia yang berhak dicela, seperti kaum Nuh, Tsamud, ‘Aad, Sodom, Namrudz, Fir’aun, Qarun, kaum pendurhaka Bani Israil, Jalut dan tentaranya, tokoh-tokoh musyrikin Quraisy, dll.    

Tetapi jika celaan itu ditujukan kepada ulama Ahlus Sunnah yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mendalami ilmu, ketika orang lain menghambur-hamburkan untuk hiburan; (2) Mengamalkan ilmu, bertakwa, wara’, ikhlas dalam ibadah, serta menyembunyikan amal; (3) Berakhlak mulia, bersikap adil terhadap lawan dan kawan, lembut hati terhadap orang-orang beriman, bersikap tegas terhadap orang-orang kafir; (4) Berdakwah di jalan Islam dengan lemah-lembut, hikmah, pelajaran yang baik, berdebat dengan kaum yang menyimpang secara ihsan; (5) Berjuang di jalan Allah, mendukung kaum mujahidin, mendoakan mereka, menyantuni anak dan isteri mereka, melindungi Ummat dari makar kufar, baik melalui tulisan maupun diplomasi; (6) Menasehati para penguasa agar menunaikan amanah, menyayangi rakyat, menjaga Islam dan Ummatnya; Menasehati penguasa agar takut terhadap siksa, jika berbuat zhalim; Agar gembira hatinya, ketika mampu bersikap adil; Serta tulus mendoakan kebaikan pemimpin-pemimpin Islam.

Celaan-celaan yang ditujukan kepada ulama-ulama seperti di atas jelas salah sasaran, bahkan ia merupakan mushibah besar yang harus ditangisi dengan berlinang air-mata. Ketika kita mencela ulama-ulama Rabbani yang lurus, saat itu juga kita telah mencela para Waratsatul Anbiya’ (pewaris Nabi-nabi). Jika para ulama Rabbani sudah dianggap tidak mulia lagi, lalu siapa lagi dari Ummat ini yang pantas dimuliakan? Sikap buruk kita kepada mereka tidak ada bedanya dengan sikap jahat Bani Israil kepada Musa 'alaihissalam dan saudaranya. Hingga ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dituduh telah berlaku tidak adil, beliau berkata: “Semoga Allah merahmati Musa, sungguh dia telah diganggu dengan (gangguan) yang lebih banyak dari ini, namun dia tetap sabar.” (HR. Bukhari-Muslim).

Dalam konteks Syaikh Al Madkhali, beliau adalah ulama yang dikenal memiliki keluasan ilmu, dalam bidang akidah, fiqih, dan hadits. Ada yang menyebut beliau dengan gelar ‘Doktor’, ada juga yang menyebutnya dengan ‘Profesor’. Dalam soal ilmu, Al Madkhali termasuk ulama yang mumpuni. Namun dalam rangka Dakwah Islam, beliau telah mempersulit dirinya dengan membuka front permusuhan dengan elemen-elemen Kebangkitan Islam. Metode Jarah wa Tajrih (celaan) yang beliau kembangkan telah menyulut perselisihan luas di tengah-tengah Ummat. (II)  Al Madkhali sangat intensif dalam mengkritik pemikiran Sayyid Quthb rahimahullah, kemudian mengkritik Syaikh Abdurrahman Abdul Khaliq, Syaikh Salman Al ‘Audah, dan lainnya. Perlawanan Al Madkhali terhadap pemikiran-pemikiran Sayyid Quthb sudah tidak diragukan lagi. Itu baru dalam konteks buku (khazanah ilmiah). Belum lagi dalam dakwah di lapangan, yaitu sikap kerasnya terhadap pihak-pihak yang dituduhnya sebagai Hizbiyyah dan Ahli Bid’ah. Begitu kerasnya sikap Al Madkhali hingga pernah ada yang memberinya gelar, “Pemegang bendera Jarah Wa Ta’dil di jaman ini.”

Seandainya Al Madkhali mencukupkan sikap kritisnya di atas metode ilmiah, tidak memperpanjang celaan, tidak menyulut emosi, tentu banyak pihak akan menghargai jasa-jasanya. Sebagai perbandingan, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga dikenal sebagai pembela Sunnah dan pembantah alairan-aliran sesat. Tetapi bantahan beliau murni bersifat ilmiah, tidak masuk ke wilayah pribadi, tidak tercampuri oleh emosi-emosi. Hampir-hampir kita tidak pernah mendengar Syaikhul Islam mendendam kepada seseorang (meskipun musuhnya), menyumpahinya, mencelanya habis-habisan, bahkan melaknatnya. Kisah Ibnu Taimiyyah dengan Ibnu Makhluf adalah catatan sejarah yang selalu dikenang sampai saat ini. Kemudian lihatlah bagaimana tulisan-tulisan Al Madkhali ketika mengkritik tokoh-tokoh tertentu?      

Apa jadinya jika setiap tokoh yang dikritik pedas oleh Al Madkhali ternyata memiliki banyak pengikut? Apakah pengikutnya akan diam saja? Jika pengikutnya bertindak, baik dengan ucapan atau perbuatan untuk menolong panutan-panutan mereka, apakah hal itu dianggap berlebihan? Setahu saya, penulis pengantar dalam buku DSDB itu termasuk kalangan dai yang bersimpati besar kepada tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin, termasuk Sayyid Quthb di dalamnya. Jika kemudian, ada yang ingin membela Sayyid Quthb dengan mencela balik para pencelanya, maka ia bukan perkara aneh.

Lihatlah ayat ini: “Jika kalian menimpakan balasan, balaslah dengan balasan yang setimpal dengan apa yang telah menimpa kalian. Namun jika kalian bersabar, maka hal itu lebih baik bagi orang-orang penyabar.” (Surat An Nahl: 126). Serangan terhadap Sayyid Quthb, lalu dibalas serangan balik kepada para penyerang, adalah sesuatu yang lumrah terjadi. Meskipun, seandainya suatu kaum mau memaafkan kesalahan kaum lainnya, hal itu lebih baik akibatnya.    

Justru saya heran dengan Salafi. Mereka jelas-jelas sudah tahu bahwa Al Madkhali telah mengkritik habis tokoh-tokoh tertentu, termasuk mantan sahabat baiknya sendiri, Syaikh Abdurrahman Abdul Khaliq. Jika demikian, mengapa mereka seperti marah besar ketika ada pihak-pihak yang mengkritisi Al Madkhali? Apakah guru mereka boleh mengkritik keras orang lain, tetapi tidak boleh dikritik sama sekali? Apakah kebenaran itu mutlak ada di sisi Al Madkhali, dan kesalahan mutlak di sisi orang-orang yang dimusuhinya? Apakah yang demikian ini termasuk manhaj Ahlus Sunnah? Bukankah manhaj Ahlus Sunnah berada di atas timbangan keadilan?
Ibnul Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah berkata, “…Kelompok ketiga ini adalah kaum yang adil dan inshaf, memberikan kepada setiap yang berhak akan haknya, dan menempatkan setiap yang memiliki posisi pada posisinya, mereka tidak menghukumi orang-orang yang sehat dengan hukum bagi orang-orang sakit, dan tidak pula hukum bagi yang sakit dengan hukum bagi yang sehat. Akan tetapi menerima yang bisa diterima, dan mengambil yang bisa diambil.” (Madarijus Salikin, 2/39-40. Dinukil dari Inshaf Ahlus Sunnah Wal Jamaah).
Abu Umar Basyir: “Selama ini belum kita dapatkan para ulama Ahlussunnah yang mengecam Syaikh Rabi’. Beliau adalah salah satu dari ulama Ahlussunnah yang cukup dihormati oleh para penuntut ilmu.”
Kalau dikatakan tidak ada ulama Ahlus Sunnah yang mencela sikap Syaikh Al Madkhali, justru itu kesimpulan aneh. Bagaimana mungkin seorang ustadz Salafi hingga tidak tahu perkara seperti ini? Al Madkhali itu namanya telah dikenal luas di Dunia Islam. Tidak mungkin seluruh kaum Muslimin, para ulama dan masyarakat awamnya, memuji-muji Al Madkhali seluruhnya, tanpa sedikit pun mencelanya. ‘Ajiib…

Surat terbuka yang ditulis Syaikh Bakr Abu Zaid untuk Al Madkhali adalah salah satu contoh nyata celaan terhadapnya. (Lihat Siapa Teroris Siapa Khawarij, hal. 321-326). Kemudian Syaikh Abdurrahman Al Jibrin dengan tegas mendukung surat terbuka Syaikh Bakr Abu Zaid. Kedua ulama ini adalah anggota Hai’ah Kibaril Ulama Saudi. Bahkan ketua Al Hai’ah setelah wafatnya Syaikh Abdullah bin Baz rahimahullah, yaitu Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh, memuji kitab Fi Zhilalil Qur’an dan mengatakan terhadap orang-orang yang mencela kitab itu, “Kalau saja mereka mau menyelaminya lebih dalam, dan mengulangi bacaannya, sungguh akan jelas bagi mereka kesalahan mereka, dan kebenaran Sayyid Quthb.” (STSK, hal. 326). Disana juga ada Syaikh Abdullah bin Al Hasan Al Qu’ud rahimahullah yang juga mencela sikap Al Madkhali. Saya sendiri menyangka, ulama seperti Syaikh Hamud Al ‘Uqla Asy Syua’ibi tidak jauh sikapnya dari ulama-ulama di atas. (III)

Dalam salah satu rekaman seperti yang pernah dimuat oleh islamgold.com, Syaikh
Nashiruddin Al Albani rahimahullah pernah ditanya oleh seseorang tentang perlunya men-tahdzir kitab-kitab Sayyid Quthb, maka beliau menjawab, “Perlu diperingatkan dari kitab-kitabnya, yaitu orang-orang yang di sisi mereka tidak memiliki wawasan keislaman yang lurus.” (Sumber situs Islamgold.com). (IV)  Mungkin, ini bukan celaan khusus yang ditujukan kepada Al Madkhali, tetapi semua orang tahu betapa kerasnya sikap Al Madkhali dalam mengingkari buku-buku Sayyid Quthb rahimahullah. Al Albani mengatakan, “Mereka tidak memiliki wawasan keislaman yang lurus!” Perhatikan ya Syaikh Fadhil, apakah kalimat ini berisi ta’dil atau jarah?  

bersambung insya Allah
(dinukil dari DSDB 2 Menjawab Tuduhan/Al Thalibi/hal 192-200/hujjah press/2007)
= = = = = = = = = = = = = =
(I)  Pembelaan Al Ustadz Abu Umar Basyir hafizhahullah terhadap Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali ini sesungguhnya justru menunjukkan (maaf) kejahilan beliau sendiri. Entah beliau ini memang benar-benar jahil (baca: tidak tahu) tentang siapa gerangan Syaikh Rabi’ atau yatajaahal (pura-pura jahil)? Bagaimana mungkin beliau berani mengatakan “Selama ini belum kita dapatkan para ulama Ahlussunnah yang mengecam Syaikh Rabi’?” Sungguh, ini adalah perkataan yang mendahului ilmu. Belum mengetahui, namun sudah berani mengatakannya. Padahal, tidak ada seorang ulama salaf pun yang berani mengatakan sesuatu yang tidak diketahuinya. Dan memang ini adalah ajaran Al-Qur`an, dimana Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Israa`: 36). Untuk langkah praktisnya, kami nasehatkan kepada beliau dan juga kepada kaum muslimin semuanya yang menghendaki kebenaran; silakan buka http://www.alathary.org/rabee/, di sana terdapat judul besar “Al-Majmuu’ul Badii’ fir Raddi ‘Alaa Rabii’ Al-Madkhali” (Kumpulan Tulisan yang Mengagumkan yang Membantah Rabi’ Al-Madkhali). Di dalamnya terdapat 186 (seratus delapan puluh enam!) tulisan ilmiah karya para syaikh dan thalibul ilmi di Timur Tengah yang semuanya berupa kritikan dan bantahan terhadap berbagai penyimpangan pemikiran dan sikap Syaikh Rabi’ beserta para pengikutnya. Atau bisa juga klik http://www.almeshkat.net/books/open.php?cat=28&book=2918. Di sini, Anda bisa mendownload gratis sebuah buku (ebook) berjudul “Mudzakkirah Al-Watsaa`iq Al-Jaliyyah Allatii Yata’aamaa ‘Anhaa Ad’iyaa` As-Salafiyyah” (Himpunan Berbagai Dokumen Penting dimana Para Pengklaim Salafiyah Tidak Mau Tahu Isinya). Buku ini adalah kumpulan tulisan dan fatwa para ulama yang keseluruhannya berjumlah sekitar 120 judul yang mengkritisi serta membantah Syaikh Rabi’ bin Hadil Al-Madkhali berikut kelompoknya. Ini belum termasuk berbagai buku yang ditulis khusus membantah Syaikh Rabbi’, seperti buku yang berjudul “Nazharaat Salafiyyah fii Araa`i Asy-Syaikh Rabii’ Al-Madkhaliy” (Pandangan dan Kritik Salafi Terhadap Berbagai Pemikiran Syaikh Rabi’ Al-Madkhali) karya Syaikh Abu Abdillah Shalih An-Najdi. Ada juga buku (ebook) bermutu berjudul “Syubuhaat wa Abaathiil Tashaddaa Lahaa Al-‘Ulamaa` Al-Akaabir Atsaarahaa Rabii’ Al-Madkhaliy” (Berbagai Syubhat dan Kebatilan yang Dihadapi Para Ulama Besar Terhadap Masalah yang Ditimbulkan Oleh Rabi’ Al-Madkhali) yang merupakan kumpulan fatwa para ulama besar dalam menanggapi pendapat Syaikh Rabi’ yang menyimpang dalam masalah jinsul ‘amal, yang bisa didownload gratis dari situs http://www.alathary.net/books/book.php?book_id=292. Ada juga artikel ilmiah berjudul “Al-Bayaanaat An-Najdiyyah fi Dahdhi Al-Jahaalaat Ar-Rabii’iyyah” (Penjelasan dari Nejed yang Mematahkan Kebodohan-kebodohan Rabi’ Al-Madkhali) karya Syaikh Abu Syuqran Al-Jabri, yang bisa dibaca di http://www.alathary.net/books/book.php?book_id=26. Atau artikel tentang “Mukhaalafaat Al-Jaamiyyah wal Madkhaliyyah” (Penyimpangan-penyimpangan Para Pengikut Syaikh Aman Al-Jami dan Syaikh Rabi’ Al-Madkhali) karya Syaikh Abu Abdillah As-Sunni di http://islammessage.com/vb/index.php?showtopic=8182&st=20 yang sebetulnya lebih menyoroti berbagai penyimpangan Syaikh Rabi’ yang memang mantan murid Syaikh Muhammad Aman Al-Jami. Atau makalah berjudul “Akhthaa` Ar-Rabii’ Al-Aqdiyyah” (Kesalahan-kesalahan Syaikh Rabi’ dalam Masalah Aqidah) yang ditulis oleh Ustadz Zhahir Musthafa di http://www.muslm.net/vb/showthread.php?t=168699&page=6. Atau buku kecil yang sudah dikenal luas di kalangan salafi yang berjudul “Ar-Raddul Wajiiz ‘Alasy Syaikh Rabii’ Al-Madkhaly” (Bantahan Ringkas Terhadap Syaikh Rabi’ Al-Madkhali) yang merupakan bantahan dari Syaikh DR. Abdurrahman Abdul Khaliq hafizhahullah terhadap Syaikh Rabi’ Al-Madkhali yang dulu pernah menjadi teman sekelas beliau semasa masih menuntut ilmu di Madinah. Atau tulisan berjudul “Fadhiihah ‘Ilmiyyah lid Duktur Rabii’” (Skandal Ilmiah DR. Rabi’ Al-Madkhali) karya Syaikh As-Suhaimi Al-Atsari di http://alathary.net/vb2/showthread.php?t=6176&highlight=%C7%E1%E3%CF%CE%E1%ED. Ada juga artikel berjudul “Ash-Shawaa’iq An-Naariyah: Rabii’ Al-Madkhali Yukaffirul Hukkaam wa Yahiijul ‘Awwaam.. Fahal Min Mubtadi’?” (Kilatan petir Api: Rabi’ Al-Madkhali Mengafirkan Penguasa dan Meresahkan Masyarakat Awam.. Apakah Dia Seorang Ahlu Bid’ah?) yang ditulis oleh Ustadz Ibnu Abbas Al-Mishri di http://www.muslm.net/vb/showthread.php?t=137332. Kemudian ada juga tulisan berjudul “Tahdziirul Bariyyah Min Dhalaalaatil Firqah Al-Jaamiyah wal Madkhaliyah” (Peringatan Solutif tentang Kesesatan-kesesatan Firqah Jamiyah dan Madkhaliyah) dari Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi di http://hewar.khayma.com/showthread.php?t=55378&page=2. Dan ada juga artikel dari Abu Muhammad Al-Anshari yang berjudul “Rabii’ Al-Madkhali fi Miizaan An-Naqdi Al-‘Ilmiy Min Khilaali Asyrithatihi wa Aqwaalih” (Rabi’ Al-Madkhali di Dalam Timbangan Kritikan Ilmiah Melalui Rekaman-rekaman Kasetnya dan Perkataan-perkataannya) yang mengkritisi rekaman-rekaman kaset ceramah Syaikh Rabi’ di http://hewar.khayma.com/showthread.php?t=55378. Dan lain-lain masih sangat banyak lagi. Jika sedemikian banyaknya tulisan yang mengkritik Syaikh Rabi’, apakah masih bisa dikatakan bahwa tidak ada seorang ulama pun yang mengecam Syaikh Rabi’? Mungkin, ini adalah ‘hukum karma’ bagi seseorang yang mempunyai hobi menyerang dan mendiskreditkan orang lain. Karena, Allah membalasnya di dunia dengan memunculkan orang-orang lain yang melakukan hal yang sama terhadap orang tersebut. Wallaahu a’lamu bish shawaab. (Edt.)
(II)  Dalam surat terbukanya kepada Al Madkhali, Syaikh Bakr Abu Zaid mengatakan, antara lain, “Sesungguhnya, buku ini (Adhwa Islamiyyah karya Al Madkhali –pen.) tidak boleh diterbitkan dan diedarkan, karena di dalamnya terdapat pelecehan yang amat berat dan pengaruh yang sangat besar  terhadap para pemuda Ummat ini untuk terjerumus ke dalam perbuatan mencela ulama, mendiskreditkan ulama, meremehkan kemampuan mereka, dan melalaikan segala keutamaan mereka.” (STSK, hal. 322, bagian catatan kaki no. 632).    
(III)  Sangkaan penulis benar adanya. Syaikh Hamud Al-Uqla Asy-Syu’aibi rahimahullah (bersama Syaikh Syaikh Bakr Abu Zaid dan Syaikh Abdullah Al-Jibrin, dan sejumlah kibar ulama lainnya) memang termasuk salah seorang yang membantah DR. Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali, sekaligus membela kehormatan Asy-Syahid Sayyid Quthub. Fatwa Syaikh Hamud dalam hal ini bisa dirujuk di http://www.saowt.com/forum/showthread.php?t=151. (Edt.)
(IV)  Judul tulisan, Kalimah Haqq Wa Inshaf Fi Sayyid Quthb Rahimahullah. Sumber publikasi, www.islamgold.com. Bisa juga merujuk informasi kepada am_hassan@hotmail.com atau altaqwa24@hotmail.com.  
 

Offline Abu Ahmad Abdul Alim

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 325
    • Lihat Profil
    • Alwajiz Ringkasan Ilmu Islam dan Ilmu Elektronika
« Jawab #1 pada: 19 Mei 2007, 15:59:36 »
TS
Nashiruddin Al Albani rahimahullah pernah ditanya oleh seseorang tentang perlunya men-tahdzir kitab-kitab Sayyid Quthb, maka beliau menjawab, “Perlu diperingatkan dari kitab-kitabnya, yaitu orang-orang yang di sisi mereka tidak memiliki wawasan keislaman yang lurus.” (Sumber situs Islamgold.com). (IV)  Mungkin, ini bukan celaan khusus yang ditujukan kepada Al Madkhali, tetapi semua orang tahu betapa kerasnya sikap Al Madkhali dalam mengingkari buku-buku Sayyid Quthb rahimahullah. Al Albani mengatakan, “Mereka tidak memiliki wawasan keislaman yang lurus!” Perhatikan ya Syaikh Fadhil, apakah kalimat ini berisi ta’dil atau jarah? 

Abu Ahmad:

Sudahkah anda tabayyun kepada murid murid beliau?. Kenapa anda tidak mengambil sumber dari murid syaikh al Albani yang menyertai beliau selama hidupnya?. Yang kami tahu dari ustadz ustadz yang dekat dengan Syaikh Yordan Syaik al Albani juga menjelaskan CELA SAYYID QUTHB.

Offline Abdul Ghafur

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Mar 2007
  • Tulisan: 728
    • Lihat Profil
« Jawab #2 pada: 21 Mei 2007, 15:08:55 »
TS
Nashiruddin Al Albani rahimahullah pernah ditanya oleh seseorang tentang perlunya men-tahdzir kitab-kitab Sayyid Quthb, maka beliau menjawab, “Perlu diperingatkan dari kitab-kitabnya, yaitu orang-orang yang di sisi mereka tidak memiliki wawasan keislaman yang lurus.” (Sumber situs Islamgold.com). (IV)  Mungkin, ini bukan celaan khusus yang ditujukan kepada Al Madkhali, tetapi semua orang tahu betapa kerasnya sikap Al Madkhali dalam mengingkari buku-buku Sayyid Quthb rahimahullah. Al Albani mengatakan, “Mereka tidak memiliki wawasan keislaman yang lurus!” Perhatikan ya Syaikh Fadhil, apakah kalimat ini berisi ta’dil atau jarah? 

Abu Ahmad:

Sudahkah anda tabayyun kepada murid murid beliau?. Kenapa anda tidak mengambil sumber dari murid syaikh al Albani yang menyertai beliau selama hidupnya?. Yang kami tahu dari ustadz ustadz yang dekat dengan Syaikh Yordan Syaik al Albani juga menjelaskan CELA SAYYID QUTHB.
kok kayaknya antum 'panas' banget syekh robi' dikritik?  :hmmm:

Offline abizechaabizecha

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 4.213
  • Lokasi: saudi arabia
  • Jenis kelamin: Pria
  • meniti jejak generasi salaf
    • Lihat Profil
    • mylink
« Jawab #3 pada: 14 Juni 2007, 13:57:01 »
hemm..........lihat dulu , entar kalo dah gatel nick tangan pasti coment???????????????????/!!!!!!!!!

Offline zaad

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Okt 2006
  • Tulisan: 1.530
  • Lokasi: jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • APAKAH ENGKAU TIDAK PUNYA MALU ?
    • Lihat Profil
« Jawab #4 pada: 15 Juni 2007, 09:43:24 »
kok antum panas banget sayid quthb di kritik
(silahkan baca di syariah online http://syariahonline.com/new_index.php/id/1/cn/20882) di paragraph akhir
apakah engkau tidak merasa cukup dengan sunnahnya sehingga harus melakukan bid'ah ?

Achmad irzan bin sukamto from pekalongan, jawa engah, hidup di kabupaten tangerang.

Offline Abdul Ghafur

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Mar 2007
  • Tulisan: 728
    • Lihat Profil
« Jawab #5 pada: 15 Juni 2007, 10:40:05 »
kok antum panas banget sayid quthb di kritik
kalo orang IM dikritik ama salafi itu mah sangat biasa
baik yg berbentuk buku terbit ataupun artikel lepas
banyak buanget jumlahnya
yg udah diterjemahin juga banyak
sayangnya orang2 'IM' di indonesia pada ogah meladeni
buku2 timur tengah yg mengkritik syekh robi dan 'salafi'
ndak diterjemahkan ama mereka