Menjuluki saudara seiman dengan sebutan dajjal:
Ustadz Abu bertanya, "siapa yang dimaksud dengan dajjal-dajjal itu?"
"Dajjal itu maksudnya, ya Adnan Arsal, Fauzan, dan lain-lain" kata Jakfar.
"Mengapa antum begitu gampang dan seenaknya mendajjal-dajjalkan orang, bagaimana itu?"
"Dajjal itu artinya pembohong. Termasuk antum juga dajjal, karena menyebar berita yang datang dari dajjal," kata Jakfar emosional.
"Menuduh orang lain bohong, harus ada bukti dan saksi. Sekarang kita datangkan saja Fauzan –Fauzan dan yang lain menunggu di luar ruang pertemuan– dia sudah bawa saksi," tantang Ustadz Abu.
Tetapi, Jakfar Umar menolak. “Nanti kita jadi jotos-jotosan di sini,” kata Jakfar.
http://www.arrahmah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=597&Itemid=96Dalam buku Mereka adalah teroris.
Cetakan I, Hal 66-67
"Di Indonesia ada DI/TII, ada Hizbut tahrir, ada Ihwanul Muslimin, ada PERSIS,
ada NU, ada Muhammadiyah, dll. Kelompok-kelompok tersebut telah keluar dari kriteria al-jamaah atau al-firqatunnajiyyah (kelompok yang selamat) yang telah disebutkan oleh Rasulullah Shalallahu'alihi wasallam dalam haditsnya. Mereka adalah sesat tidak termasuk al-firqatunnajiyyah juga ahlussunnah wal jamaah.
Ini mbantah bukunya Imam Samudra kenapa NU disebut-sebut juga? apakah Imam Samudra itu warga nahdhiyyin? ataukah NU juga mendukung Imam Samudra? Apakah dia pernah jadi warga nahdhiyyin atau hanya mendengar dan percaya orang lain yang menuduh bahwa NU sesat?
Menjuluki saudara seiman dengan anjing dalam buku "Iskat al-Kalbi al-'Awi Yusuf ibn 'Abdillah al-Qaradhawi": Menjinakkan Anjing yang Menggonggong: Yusuf bin Abdillah Al-Qaradhawi.
Insyaallah menyusul kritik yang lain