Penulis Topik: Ini Lho Ustadz Model Salafi  (Dibaca 412 kali)


Offline Sahabat Kecil

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2006
  • Tulisan: 38
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« pada: 28 Mei 2007, 09:58:56 »

Saudaraku Salafi Amerika hadaniyallah wa iyakum, Anda tanyakan: Akhi, mohon dijelaskan yang dimagsut dengan "aib" dalam perkataan antum: "Larangan mengolok-olok berhubungan dengan aib yang tidak perlu disebarkan," itu bagaimana, apa saja batasan2nya?

Jawab:

Kita coba melihat berbagai keadaan:
Si A.  Dia orang awam, shalat shubuh sering kesiangan.  Memakai kaos Osama bin Laden.  Dia bangga, menganggap Osama sebagai pahlawan.
Si B.  Banyak mempelajari Islam, mantan aktifis IM.  Dia mulai tertarik dengan manhaj salaf karena senantiasa menyandarkan diri dengan hujjah.  Tapi terkadang dia berkata,"sebetulnya kita bisa bersatu dengan syi'ah...".
Si C.  Banyak mempelajari Islam, mantan aktifis Jamaah Tabligh.  Dia juga mulai tertarik dengan manhaj salaf.  Si C menulis buku, didalamnya memuat keutamaan berkunjung ke syaikh tarekat yang dikunjungi ulama Jamaah Tabligh.  Si C meninggal dunia, belum sempat menulis perbaikan atas bukunya.
Si D.  Tertarik mempelajari Islam.  Rajin ke masjid.  Secara sembunyi-sembunyi di kamar nenggak minuman keras
Si E.  Muslim, rajin shalat.  Punya penyakit suka ngambil punya orang lain.
Si F. Muslim, giat berda'wah.  Memuji Imam Samudra, Osamah, Dr Azahari, mengajak para pemuda melawan thaghut NKRI, mengajak meledakkan Monas dsb.

Mana yang bisa kita ungkapkan keburukannya dihadapan ummat?

Si A, walaupun memakai kaos Osama bin Laden, tapi dia orang awam.  Tidak bisa kita sampaikan ke ummat bahwa dia adalah sesat.  Mending kita ajak untuk mengenal Allah dengan baik, mengikuti sunnah.

Si B, memang mengucapkan kata-kata yang merupakan manhajnya IM, yaitu persatuan dengan mengesampingkan perbedaan, melihat kesamaan, tetapi dia adalah orang yang sedang 'proses'.  Jika dia menda'wahkan, menyampaikan ke ummat, kita terangkan bahwa itu adalah keliru.  Jika pemahaman itu untuk dia pribadi, maka padanyalah da'wah disampaikan, tanpa perlu menyampaikan ke ummat.

Si C.  Walaupun mulai beranjak dari JT, tetapi pemikirannya masih ada yang melekat.  Apalagi menulis buku.  Si C perlu diterangkan penyimpangannya, supaya ummat yang kadung membaca bukunya tidak tersesat.

Si D.  Walaupun minum minuman keras, tetapi dia lakukan secara sembunyi-sembunyi.  Ini menunjukkan dia masih malu.  Maka, penyebarluasan kemaksiatannya dengan menyampaikan ke orang-orang adalah tercela.  Yang tepat, sampaikan ke orang yang bisa menasehati dia supaya bisa lepas dari kemaksiatannya.

Si E. Penyakit suka mencurinya perlu disampaikan ke orang-orang, supaya orang hati-hati apabila dekat dengannnya.

Si F.  Perlu diterangkan ke ummat bahwa dia adalah orang yang menyimpang, terpengaruh khawarij dsb.

Gitu saja, tinggal diterapkan.

Buat Panglima, maksud 'Jika' disini adalah sekedar mengingatkan supaya tidak jauh membahas sesuatu yang tidak berpengaruh terhadap baik buruknya keislaman kita. Hemat energi kita.  Jika waktu itu kita gunakan untuk mempelajari aqidah Islam yang dipahami oleh ulama salaf, tentu lebih baik.
Semoga Anda dimudahkan mempelajari manhaj dan aqidah salaf, yaitu Islam yang dipahami oleh Nabi Muhammad Shalallahu'alaihi wassalam, diajarkan kepada para shahabat, diteruskan oleh tabi'in dan seterusnya dari generasi penerusnya yang mengikuti jalan mereka.





Ane kira Abu Haidar Mohammad ini orang alim Salafi. Kayaknya dikit-dikit kita perlu saling diskusi ya. Siapa tahu, jawaban dia ada baiknya, dan dia mau mendengar pandangan kita. Betul gak? Bisa aja kan begitu...

Ane lihat ada kelemahan-kelemahan dari jawaban Abu Haidar Mohammad itu, misalnya aja:


-  Abu Haidar Mohammad (AHM) bikin contoh-contoh macam begitu. Di kehidupan aslinya di masyarakat kan gak sesederhana itu. Lagian darimana kita bisa tahu hati masing-masing orang sama kesibukan-kesibukannya. Di masyarakat itu gak sesimple itu ustadz. Tuh lihat, dia bikin contoh "Si D: Rajin ke masjid, tapi di kamar minum-minuman keras". Darimana kita tahu kalau Si D minum minuman keras, kan dia di kamar? Emang kita malaikat?

- "Si B dan Si C" mantan aktifis IM dan JT, disitu disebut "mulai tertarik dengan manhaj Salaf". Ane nanya sama dia, apa sih pengertian manhaj Salaf? Apa batasannya manhaj Salaf? Apa saja yang kita ikuti dari Salaf dan kita tinggalkan darinya? Tahu darimana kita bahwa Si B, Si C, Si K, Si L, bukan pengikut manhaj Salaf? Tahu dari mana bahwa AHM dan teman-temannya pengikut setia manhaj Salaf? (Tolong kalo jawab itu "to the point", jangan diputar-putar, ntar tuliskan asal-usul kata Salaf, perkataan Ibnu Mandzur, Adz Dzahabi, dll. Yang macam gitu udah banyak dimana-mana, gak usah diulang lagi).

- Ane mau tanya secara jujur buat AHM, apa sih kelebihan Salafi (kelompok Antum ini, bukan Salafus Soleh lho) dari IM dan JT. Kan syaikh Antum sudah di-tahdzir menyebarkan akidah Murjiah atas nama Ahlussunnah?

- Buat contoh "Si F", katanya terpengaruh Khawarij. Darimana Antum bisa simpulkan begitu? Apa Antum ulama ahli fatwa yang bisa menghukumi orang ini Khawarij, ini ahli bid'ah, ini mu'tazilah, ini itu, dst. Antum punya ilmu buat menghukumi orang-orang yang dikagumi "Si F" itu sebagai khawarij? Gimana dengan Abdullah bin Zubair ra. yang mengadakan perlawanan ke Yazid bin Muawiyyah? Bagaimana dengan Aisyah ra. dan Muawiyyah yang mengangkat senjata menentang Khalifah Ali ra.? Apa mereka khawarij juga?

- Orang macam Antum dan lain-lainnya itu sudah lama ditantang debat terbuka oleh MMI. Tapi kelompok Antum tidak pernah menjawabnya. Maunya menjawab lewat tulisan-tulisan macam begini, di majalah, buku, atau internet. Dulu Ibnu Abbas ra. mau debat terbuka dengan Khawarij. Jadi yang lebih mirip Ibnu Abbas siapa ya, Salafi atau MMI?

- AHM bilang "Gitu saja, tinggal diterapkan". Ini kata-kata macam apa? Apa dakwah itu semudah orang bilang "Gitu aja kok repot!" Antum gak pantes bilang macam begitu, kayaknya ngremehin banget situasi Umat Islam di lapangan. Lagian orang-orang Salafi di GDI ini apa bisa memenuhi cara-cara yang Antum bilang itu?


Menurut ane, betapa parahnya akal orang-orang Salafi ini. Setahu ane AHM itu tidak tulis dalil-dalil apapun, selain dalil yang sedikit. Tapi buat Salafi, orang macam dia bisa-bisa dianggap sudah "ilmiah". Giliran orang lain bikin kritik ilmiah, ntar dibelokkan kemana-mana,...dengki kek, benci manhaj salaf, attacking, hizbiyyah,... Kok gak sadar-sadar to orang-orang itu? Itu punya akal dan hati dipakai, jangan ta'ashublah.



--- SK --- 
 
 


Offline Abdul Ghafur

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Mar 2007
  • Tulisan: 728
    • Lihat Profil
« Jawab #1 pada: 28 Mei 2007, 11:48:50 »
- Orang macam Antum dan lain-lainnya itu sudah lama ditantang debat terbuka oleh MMI. Tapi kelompok Antum tidak pernah menjawabnya. Maunya menjawab lewat tulisan-tulisan macam begini, di majalah, buku, atau internet. Dulu Ibnu Abbas ra. mau debat terbuka dengan Khawarij. Jadi yang lebih mirip Ibnu Abbas siapa ya, Salafi atau MMI?
antum benar! O0  O0
sepertinya kelompok mereka tidak bakalan berani debat terbuka
hanya berani bicara di majlis2 mereka sendiri
dan di berbagai media asalkan tidak ketemu langsung
MMI udah berkali2 nantang mereka mubahalah
tapi mereka takut
sampai sekarang tidak berani nanggapi
katanya paling benar?

Offline Tigor Mulia Dalimunthe

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Feb 2007
  • Tulisan: 42
    • Lihat Profil
« Jawab #2 pada: 28 Mei 2007, 13:09:26 »
Pemikiran Salafi Syaikh Yusuf Qaradhawy
   Yang dimaksud dengan "Pemikiran Salafi" di sini ialah kerangka berpikir (metode) yang tercermin dalam pemahaman generasi terbaik dari ummat ini. Yakni para Sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan setia, dengan mempedomani hidayah Al-Qur'an dan tuntunan Nabi SAW.
Kriteria Manhaj Salafi yang Benar Menurut Syaikh Yusuf Qaradhawy
Yaitu suatu manhaj yang secara global berpijak pada prinsip berikut :
1.   Berpegang pada nash-nash yang ma'shum (suci), bukan kepada pendapat para ahli atau tokoh.
2.   Mengembalikan masalah-masalah "mutasyabihat" (yang kurang jelas) kepada masalah "muhkamat" (yang pasti dan tegas). Dan mengembalikan masalah yang zhanni kepada yang qath'i.
3.   Memahami kasus-kasus furu' (kecil) dan juz'i (tidak prinsipil), dalam kerangka prinsip dan masalah fundamental.
4.   Menyerukan "Ijtihad" dan pembaruan. Memerangi "Taqlid" dan kebekuan.
5.   Mengajak untuk ber-iltizam (memegang teguh) akhlak Islamiah, bukan meniru trend.
6.   Dalam masalah fiqh, berorientasi pada "kemudahan" bukan "mempersulit".
7.   Dalam hal bimbingan dan penyuluhan, lebih memberikan motivasi, bukan menakut-nakuti.
8.   Dalam bidang aqidah, lebih menekankan penanaman keyakinan, bukan dengan perdebatan.
9.   Dalam masalah Ibadah, lebih mementingkan jiwa ibadah, bukan formalitasnya.
10.   Menekankan sikap "ittiba'" (mengikuti) dalam masalah agama. Dan menanamkan semangat "ikhtira'" (kreasi dan daya cipta) dalam masalah kehidupan duniawi.
   Inilah inti "manhaj salafi" yang merupakan khas mereka. Dengan manhaj inilah dibinanya generasi Islam terbaik, dari segi teori dan praktek. Sehingga mereka mendapat pujian langsung dari Allah di dalam Al-Qur'an dan Hadits-Hadits Nabi serta dibuktikan kebenarannya oleh sejarah. Merekalah yang telah berhasil mentransfer Al-Qur'an kepada generasi sesudah mereka. Menghafal Sunnah. Mempelopori berbagai kemenangan (futuh). Menyebarluaskan keadilan dan keluhuran (ihsan). Mendirikan "negara ilmu dan Iman". Membangun peradaban robbani yang manusiawi, bermoral dan mendunia. Sampai sekarang masih tercatat dalam sejarah.
   Sedangkan, dalam tataran pergerakan terdapat juga faksi gerakan Islam yang menamakan dirinya dengan sebutan Salafi atau Salafiyun yang merupakan gerakan ahlussunnah wal jamaah yang mengaku sebagai gerakan paling representatif mengikuti Al Qur`an dan Sunnah. Kaum inilah yang digolongkan sebagai Tradisonal Salafi menurut Model Kecenderungan Utama Dalam Dunia Pemikiran Islam. Gerakan ini sering disebut juga Wahabi karena arus awal gerakan ini dipelopori oleh seseorang yang bernama Muhammad bin Abdul Wahab, walau kaum Salafiyun sendiri menolak penyebutan istilah Wahabi tersebut. Gerakan Salafi ini kemudian menjadi mainstream pemerintahan negara Saudi Arabia dengan madzhab Hambali sebagai ciri yang melekat kuat.
   Menanggapi hal ini, Syaikh Yusuf Qaradhawy mengatakan Istilah "Salafiah" telah dirusak citranya oleh kalangan yang pro dan kontra terhadap "salafiah". Orang-orang yang pro-salafiah - baik yang sementara ini dianggap orang dan menamakan dirinya demikian, atau yang sebagian besar mereka benar-benar salafiyah - telah membatasinya dalam skop formalitas dan kontroversial saja, seperti masalah-masalah tertentu dalam Ilmu Kalam, Ilmu Fiqh atau Ilmu Tasawuf. Mereka sangat keras dan garang terhadap orang lain yang berbeda pendapat dengan mereka dalam masalah-masalah kecil dan tidak prinsipil ini. Sehingga memberi kesan bagi sementara orang bahwa manhaj Salaf adalah metode "debat" dan "polemik", bukan manhaj konstruktif dan praktis. Dan juga mengesankan bahwa yang dimaksud dengan "Salafiah" ialah mempersoalkan yang kecil-kecil dengan mengorbankan hal-hal yang prinsipil. Mempermasalahkan perbedaan dengan mengabaikan masalah-masalah yang disepakati. Mementingkan formalitas dan kulit dengan melupakan inti dan jiwa.
   Sedangkan pihak yang kontra-salafiah menuduh faham ini "terbelakang", senantiasa menoleh ke belakang, tidak pernah menatap ke depan. Faham Salafiah, menurut mereka, tidak menaruh perhatian terhadap masa kini dan masa depan. Sangat fanatis terhadap pendapat sendiri, tidak mau mendengar suara orang lain. Salafiah identik dengan anti pembaruan, mematikan kreatifitas dan daya cipta. Serta tidak mengenal moderat dan pertengahan.
   Sebenarnya tuduhan-tuduhan ini merusak citra salafiah yang hakiki dan penyeru-penyerunya yang asli. Barangkali tokoh yang paling menonjol dalam mendakwahkan "salafiah" dan membelanya mati-matian pda masa lampau ialah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah beserta muridnya Imam Ibnul-Qoyyim. Mereka inilah orang yang paling pantas mewakili gerakan"pembaruan Islam" pada masa mereka. Karena pembaruan yang mereka lakukan benar-benar mencakup seluruh disiplin ilmu Islam.
   Mereka telah menumpas faham "taqlid", "fanatisme madzhab" fiqh dan ilmu kalam yang sempat mendominasi dan mengekang pemikiran Islam selama beberapa abad. Namun, di samping kegarangan mereka dalam membasmi "kesombongan madzhab" ini, mereka tetap menghargai para Imam Madzhab dan memberikan hak-hak mereka untuk dihormati.

Offline ukasya

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Mar 2007
  • Tulisan: 137
    • Lihat Profil
« Jawab #3 pada: 31 Mei 2007, 21:45:12 »
@atasku

good

Offline kipli

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2007
  • Tulisan: 322
    • Lihat Profil
« Jawab #4 pada: 05 Mei 2008, 08:01:26 »
antum benar! O0  O0
sepertinya kelompok mereka tidak bakalan berani debat terbuka
hanya berani bicara di majlis2 mereka sendiri
dan di berbagai media asalkan tidak ketemu langsung
MMI udah berkali2 nantang mereka mubahalah
tapi mereka takut
sampai sekarang tidak berani nanggapi
katanya paling benar?

kirain sikap mreka gitu baru-baru aja, tnyata dah staun kmrn ya gitu