MODERNISASI DAN WESTERNISASI
Leopold Weiss (Mohammad Asad) dalam bukunya "Islam at The Crossroad" menyatakan bahwa sebenarnya akar atau inti dari peradaban barat adalah irreligious (tanpa agama). Itulah sebuah alasan kuat, mengapa kita tidak seharusnya begitu mudah untuk mengadopsi berbagai konsep barat baik di bidang politik, ekonomi, social, dsb. Sangat jelas bahwa perjalanan sejarah dua peradaban ini sangatlah berbeda.
Tetapi diluar pembahasan itu, kita telah sepakat bahwa di satu sisi kita ingin nilai-nilai islami, namun di sisi lain kita ingin menjadi modern. Islam di satu sisi dan modern di sisi yang lain.
Persoalan sesungguhnya adalah akan terlihat pada implementasinya. Seringkali kita tak mampu membedakan antara modernisasai dan westernisasai. Apalagi barat tentunya ingin berkuasa. Peradaban barat tidak ingi mempunyai saingan. Dan barat sadar betul bahwa satu-satunya musuh yang berbahaya di era modern ini adalah ISLAM. Hal ini diabadikan Huntington dalam bukunya "The Clash of Civilization" (Benturan-benturan peradaban) khususnya pasca perang dingin.
Inilah masalah umat Islam di era modern ini. Pasca perang salib (Holy War), barat sadar betul bahwa umat islam tidak bisa dikalahkan secara fisik/konfrontasi. Satu-satunya cara adalah dengan menjauhkan umat islam dari ajaran-ajrannya. Menghancurkan umat islam melalui propaganda-propaganda. Melalui pola pikir yng sangat gencar akhir-akhir ini dijajakan.
Namun, tidak fair, kalu kita menimpakan penyebab keruntuhan islam hanya kepada barat. Tak bisa dipungkiri bahwa kadang kita lemah karena masalah intern kita. Kita tidak serius untuk benar-benar memperjuangkan islam. Tubuh intern kita sendiri masih sangat lemah. Barat kita ibaratkan virus, kalau tubuh kita kuat, maka segala hal yng dijajakan barat tidak akan mampu untuk merusak/menimbulkan penyakit pada diri umat islam.