Alhamdulillah Rabbil 'alamin. Wasshaalatu wassalaamu 'ala Rasulillah Muhammad wa alihi wa ashabih ajma'in. Amma ba'du.
Ada seorang pemuda Salafi yang bernama IRFAN BASTIAN. Dia kuliah di Universitas Pasundan Jl. Setiabudi Bandung. Jurusan Teknologi Pangan, angkatan 2000 (saya lupa tepatnya). Dia berasal dari Cilacap. Pemuda ini adalah "pintu awal" bagi munculnya buku "Dakwah Salafiyah Dakwah Bijak 1 & ".
Dari interaksi dengan dialah, saya mendapatkan info-info penting seputar penyimpangan kaum Salafi asuhan Abu Hamzah Al Atsari di Masjid LIPI Bandung. Tanpa info dari dia saya tidak banyak tahu soal penyimpangan mereka. Dia memberi info-info begitu ketika masih terikat kerjasama lembaga dengan saya. Tetapi setelah dia sepenuhnya mengikuti dakwah Abu Hamzah Al Atsari, dia tidak lagi berhubungan komunikasi seperti sebelumnya. Dari sikap ekstrem dia pula, saya bertekad menasehati dia dan Salafi lainnya. Hingga kemudian muncul buku DSDB 1 dan 2.
Dulu IRFAN itu sering menasehati saya agar rujuk manhaj Salaf (di buku DSDB 2 saya sebutkan). Saya pernah menantang dia untuk berdebat sampai tuntas, tapi dia tidak mau. Setelah muncul DSDB 1, dia mengaku rujuk, bisa mengambil manfaat dari buku itu. Dia berjanji akan selektif memilah-milah ustadz Salafi.
Yang menarik, ketika datang ancaman kekerasan dari Salafi ekstrim itu, saya meminta IRFAN untuk menyembunyikan data-data diri saya. Terutama data pribadi. Dia komitmen untuk tidak membocorkan kepada siapapun. Tapi belakangan, orang-orang Salafi FAKTA (benarkah Fakta? Atau Dusta) bisa menjangkau data-data pribadi yang semula tersimpan. Saya tidak ragu lagi, siapa lagi yang melakukan ini semua, kalau bukan IRFAN BASTIAN. Sebab sampai saat ini dia masih terus berkumpul dengaan Salafi ekstrim itu.
Atas jasa-jasa IRFAN juga alhamdulillaah, tanpa disadari, lahir buku DSDB 1 dan 2. Tanpa peran dia, mungkin sulit DSDB 1 akan lahir (otomatis DSDB 2 juga sulit). Sebab semula saya memang tidak mau berhadap-hadapan dengan Salafi mantan Laskar Jihad itu.
Sungguh, saya tidak keberatan orang-orang Salafi akan mengetahui nama saya. Sebab memang hal itu tidak terlalu penting. Tetapi saya sangat keberatan ketika mereka membuka data-data pribadi. Saya kira, itu sudah berlebihan. Saya tidak membuka data-data pribadi mereka, mengapa mereka melakukan hal itu?
Kalaupun saya tulis tentang IRFAN BASTIAN di atas, itu karena apa yang dia lakukan dengan membuka data-data yang seharusnya disimpan. Bahkan itu sudah komitmen dia sejak semula. Kalau saya tetap membiarkan dia, tentu akan bersenang-senang dirinya dengan "kemenangan" yang diraihnya. Selama dia komitmen saya akan komitmen, tetapi dengan keadaan seperti sekarang, berarti tidak ada komitmen lagi.
Harus disadari oleh Salafi ekstrim itu, bahwa:
- Sebab khusus munculnya DSDB 1 adalah kasus dengan IRFAN BASTIAN. Saya banyak mendapat info-info seputar Salafi dari dia.
- IRFAN itu termasuk salah satu pendukung ketika DSDB 1 baru muncul. Dia juga datang ke rumah silaturahim dan kami berbincang hangat disana.
- IRFAN itu dulu pernah sengaja akan memproses seorang akhwat PKS untuk menjadi isterinya, padahal dia sendiri sudah mengaji Salafi. Dia sempat mengarahkan akhwat itu dengan cara menitip dibelikan barang-barang tertentu oleh akhwat tersebut. Dia nitip belanja, padahal tujuannya lain.
- Dia pernah mengkritik saya ketika saya memutar nasyid dalam walimah khitanan putra saya di rumah. Sebelum dia datang saya telah memutar MP3 murattal. Anehnya, orang ini lama sekali berada dalam acara walimah, sehingga banyak orang melihat penampilan dia yang memakai baju koko, kopiah putih, dan sarung setengah betis. Saking lamanya sampai isteri saya mengeluh, kenapa dia terlalu lama? Masalahnya, penampilan dia asing dengan masyarakat sekitar. Setelah lewat beberapa lama dia kritik soal nasyid itu. Padahal nasyidnya sudah dipilih seselektif mungkin. Dia sendiri di kamarnya sering mendengar lagu-lagu Barat dari teman sekamarnya.
Sebenarnya masih banyak info-info lain, tetapi cukup sekian saja dulu. Ini pun saya lakukan karena saya sudah tidak bisa terima mereka masuk ke data pribadi keluarga kami. Ini sudah berlebihan. Ke depan saya berjanji akan menghadapi mereka secara terbuka dalam berbagai kesempatan, dalam berbagai tulisan. Apa yang saya jumpai ini bukan lagi dakwah Salafiyah, tetapi KESESATAN.
Wallahu a'lam bisshawaab.
Abu Abdurrahman An Nusantari
(Joko Waskito).