Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakaatuh. Innalhamda lillah bi kulli ni’matih. Asshalatu wassalamu ‘alan Saiyidil Mursalin wa Khatamil Anbiya’i Muhammadin wa ‘ala alihi wa ashabih ajma’in. Amma ba’du.
Saya mulai tulisan ini sebuah ayat dari Kitabullah:
“Wahai orang-orang beriman, hendaklah kalian menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencian kalian kepada suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan takutlah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Surat Al Maa’idah: 8).
Kemarin pagi ketika sedang membuka e-mail, saya menerima informasi dari seorang Ikhwan bahwa ada tulisan di Forum MyQuran yang bersifat memojokkan saya. Ia ditulis Irfan Bastian yang dipublikasikan dengan nama “anti turatsi”. Ketika saya cek tulisan yang berjudul “mengenal abu abdurrahman al-thalibi”, apa yang dikatakan oleh Ikhwan itu benar adanya. Saking kecewa, saya sampai mengulang-ulang kalimat “Inna lillahi” mungkin hingga 10 kali.
Setelah pagi membaca tulisan seperti itu, sorenya saya sengaja ingin mengkopi tulisan itu untuk dikaji di rumah. Tetapi ternyata tulisan itu sudah tidak ada. Saya bersyukur tulisan itu segera dihapus, meskipun juga tidak tertutup kemungkinan ia sudah menyebar. Dan saya juga tidak yakin, data seperti ini akan berhenti sampai disini. Di tangan orang-orang “FAKTA”, mereka akan melahap info-info seperti itu sebagai “afdhalu jihad” fi sabilid dhalalah. Mereka sangat gemar membuka aurat saudaranya, tetapi dirinya sendiri tidak diungkap siapa jati dirinya.
Saya tidak sempat detail membaca tulisan itu. Hanya ingat sebagian-sebagian saja. Disini saya ingin mengomentari sekedar yang masih diingat. Tetapi mohon dicatat, ini bukan SEKEDAR MASALAH PRIBADI. Ini adalah contoh nyata cara kita memahami manhaj Islami dan menjalankannya. Saya berharap Ikhwah sekalian tidak salah persepsi. Berikut tanggapan tambahan dari tanggapan sebelumnya:
[[1]] Tuduhan-tuduhan yang ditulis Irfan Bastian itu sebenarnya bukan perkara baru. Topik-topik itu pula yang dulu dia angkat sebagai materi kritik kepada saya. Hanya saja, kritik-kritik itu dia jadikan satu. Sebenarnya, hal ini sudah saya jawab dengan panjang-lebar dalam sebuah surat yang dia katakan –atas takdir Allah- telah dia buang. Kata dia, di dalam surat itu terdapat banyak syubhat. Apa yang Irfan lakukan ini hanya me-recycle ulang apa-apa yang pernah dia tulis. Padahal dulu sudah ada kesepakatan untuk menuntup perselisihan pribadi ini, tetapi akhirnya dia buka kembali. (Sudahlah, tidak usah memakai dalil-dalil tentang ukhuwwah. Orang seperti ini sudah tidak mempan dengan dalil-dalil. Tetapi kalau mendengar “Abu Hamzah berkata” atau “Luqman Ba’abduh berkata” atau “As Sewed berkata”, dijamin akan menyimak dengan telinga super sensitif). Saya sudah menjawab tuduhan-tuduhan dia hingga 9 halaman HVS, 1 spasi, Times New Roman, karakter ukuran 10. Saya juga mengajak dia berdiskusi sampai tuntas, tetapi ditolaknya. Jadi harus bagaimana lagi, manusia berakal?
[[2]] Sama seperti keluhan-keluhan sebelumnya, mengapa kalian harus membuka data-data pribadi? Apa salah saya, Tuan-tuan? Dalam menulis DSDB 1 dan 2, saya tidak menyinggung data-data pribadi kalian. Privacy kalian terjaga dengan baik, kecuali data-data seputar person, lembaga, peristiwa, atau karakter yang memang layak diketahui sebagai contoh-contoh amal. Tetapi saya tidak menyinggung alamat, tempat tanggal lahir, nama isteri, nama anak, nomer HP, even, lingkungan, dll. yang memang tidak ada kaitannya dengan perdebatan ilmiah. Mungkin mereka merasa kesal dengan terbitnya DSDB 2 yang di dalamnya juga terdapat kritik tajam kepada Luqman Ba’abduh dan muridnya. Kalau kesal ya jawab dong secara ksatria, bukan dengan cara-cara seperti itu. Kenyataan ini menjadi bukti kesekian betapa SESAT-nya akidah orang-orang itu. Tidak mungkin dari akidah salimah akan lahir perbuatan pengecut seperti itu. Orang-orang beriman itu Ahlus Syaja’ah (ahlinya keberanian). Mustahil diri kaum muwahhid (bertauhid) akan lahir sikap-sikap seperti itu.
[[3]] Di sekitar Irfan itu ada lulusan teknik planologi, teknik industri, teknik informatika, teknik pangan, jurusan seni musik, dll. Mereka itu kan orang-orang pintar, tetapi mengapa tidak mengerti konsep informasi? Contohnya, Irfan menulis istilah “Curriculum Vitae” (CV). CV itu seharusnya dibuat oleh yang bersangkutan. Jika tidak, boleh dibuat orang lain, tetapi ATAS PERSETUJUAN yang bersangkutan. Persetujuan bisa dari sisi ISI dan PUBLIKASI. Kalau isinya benar, tapi yang bersangkutan tidak mau dipublikasikan, maka CV itu tidak boleh dipublikasikan. Kalau ada yang membuat CV orang lain tanpa persetujuannya, itu sama saja dengan menyebarkan FITNAH.
Data-data yang Irfan sampaikan di tulisan itu belum mendapat reaksi sama sekali dari person yang ditulisnya, tetapi dia sudah mengklaim kata “mengenal” (dalam judulnya “mengenal abu abdurrahman al-thalibi). Darimana Anda bisa yakin bahwa data-data Anda itu sudah mewakili informasi yang benar tentang saya?
Kemudian data itu juga diklaim sebagai kesaksian, sampai-sampai ada beberapa orang yang menjadi saksi. Ya saksinya dari mereka sendiri, yaitu orang-orang yang pro Irfan semua. Sudahkah kalian bertanya kepada orang-orang yang sependapat dengan saya? Ini semacam DAGELAN anak-anak pintar. Ya jelas mereka semua sepakat menjadi saksi, sebab itu dari kalangan mereka sendiri. Dalam Islam itu yang dibutuhkan TIDAK CUMA SAKSI, tetapi SAKSI YANG ADIL. Dalam At Thalaq 2 dikatakan: “Wa asyhidu dzawa ‘adlin minkum” (persaksikan dengan dua orang saksi yang adil dari kalian). Sayang banget ya, sekolahnya tinggi tetapi tidak mengerti hal-hal seperti ini.
[[4]] Sekitar petang hari setelah paginya Irfan membuat sensasi dengan perbuatan yang diharamkan dalam Islam itu, saya berusaha menghubungi nomer HP teman Irfan yang ikut menjadi saksi dalam tulisan itu. Dia dari Cilegon. Kebetulan nomer itu yang tersisa di saya. Nomer Irfan sendiri sudah lama saya hapus. Berkali-kali, hingga sekitar 5 kali saya kontak dia. Alhamdulillah semua bisa masuk, sebab terdengar signal tanda panggilan diterima. Tapi sayangnya panggilan saya tidak pernah dia angkat. Menjelang Shalat Isya’ ada miscall masuk ke HP saya. Ternyata nomer baru, tidak dikenal di daftar nama. Seketika itu nomer itu saya kontak balik, tetapi tidak diangkat juga. Panggilan diterima, jelas ada signalnya, tetapi tidak diangkat-angkat. Beberapa lama kemudian, muncul miscall lagi, segera saya kontak balik lagi, tetapi tidak bisa. Sekali pernah panggilan saya diangkat, terdengar suara anak kecil, tetapi segera ditutup lagi. Daripada terganggu soal miscall ini, saya matikan HP, khawatir lagi dikerjain orang lain.
Saya tadinya masih punya no. kontak Irfan dan teman-temannya itu, tetapi suatu saat sengaja dihapus, karena dianggap tidak prospek lagi. Nomer orang Cilegon, Bekasi, Padalarang, Bandung, Brebes, itu tadinya ada. Isteri masih punya sisa no. adiknya Irfan, saya kirim SMS ke nomer itu, tetapi dalam laporan disebutkan “gagal”. Adapun nomer-nomer yang disebutkan Irfan dalam tulisannya, belum sempat saya salin. Saya akan terus menuntut tanggung-jawab orang-orang itu, mengapa mereka mempublikasikan data-data pribadi kami? Dan saya juga menuntut, mereka membuat publikasi data-data pribadi dari ustadz-ustadz yang mereka panuti selama ini, khususnya data Abu Hamzah Al Atsari. Kalau mereka bisa membuat data saya, berarti mereka bisa juga membuat data ustadz-ustadznya. Ummat ini harus tahu juga siapa Abu Hamzah Cs., dimana lahir mereka dan kapan? Siapa isteri-isteri mereka? Siapa anak-anaknya? Dimana alamat tinggal mereka? Dan apa saja peristiwa penting yang pernah mereka alami?
Pagi harinya, kembali saya hubungi nomer-nomer itu, termasuk nomer telepon saksi yang berasal dari Kopo Bandung. Lagi-lagi tidak muncul tanggapan. Malah dari satu nomer, panggilan saya diganggu. Memang dia angkat, tetapi buru-buru ditutup. Lalu terdengar di HP saya getaran terus-menerus. Saya tidak tahu, apa yang telah dilakukan. Akhirnya saya matikan HP itu. Saya hubungi juga nomer saksi Irfan dari Bandung, hingga tiga kali dihubungi, bisa masuk dan diangkat oleh orang wanita disana. Tetapi orang yang saya tuju, tidak ada. Setelah yang keempat, alhamdulillah bisa sampai kepada orang itu. Saya berbicara keras pada orang itu, sebab dia mau menjadi saksi untuk suatu kebatilan. Dia mengatakan, hanya di saat-saat terakhir membaca sekilas tulisan itu, sebelum akhirnya dipublikasikan oleh Irfan. Saya juga meminta orang ini untuk membaca tawaran Ishlah yang saya tulis disini.
[[5]] Dalam tulisan “Curriculum Vitae” itu Irfan membuat beberapa opini yang jelas hanya bersandar pikiran dia sendiri. Tadinya mau dibuat detail, tapi saya kehilangan copy tulisan dia. Disini saya coba menjawab yang ingat-ingat saja:
a. Kata Irfan Balatkop Lembang tidak mungkin dipakai Daurah, sebab tempatnya seperti aula, masjidnya kecil. Tapi kenyataannya memang begitu, spanduk besar di pinggir jalan di depan Balatkop itu tertulis “Daurah Syar’iyyah”. Lagi pula saya ikut di dalamnya, mendengarkan kajian Syaikhnya, ikut Shalat jamaah bersama mereka, bahkan dapat banyak makalah. Kalau Anda butuh makalahnya, nanti bisa hubungi saya. Lha, apa mungkin saya akan mengingkari apa yang saya alami? Balatkop itu disewakan bagi siapa saja yang butuh, wahai orang-orang yang ‘sok tahu’. Kemudian, kalau Antum harus memilih antara ikut kajian ilmiah para pengajar Universitas di Saudi, dengan ikut daurah ustadz Rabi’iyun (pengikut Syaikh Rabi’) yang isinya indoktrinasi, lalu kita mau ambil yang mana? Jadi, maunya Irfan itu, saya harus masuk ke lingkungan mereka, lalu tunduk dengan “kehebatan” dalil-dalil mereka. Wa nas’alullah al ‘afiah.
b. Irfan mengatakan bahwa saya mengirimkan surat isinya bantahan terhadap SMS dia yang saya titipkan isteri untuk disampaikan kepada dia. Kemudian kata dia, saya mengajak dia melakukan ‘Ishlah”, setelah dia mengirim SMS tersebut.
Ya Ilahi, ceritanya tidak seperti itu. Irfan membuat kedustaan yang disukainya. Kronologinya begini: Semula saya meminjam sebuah ke Irfan. Buku ini judulnya “Kritik Atas Jilbab” yang ditulis oleh Said Al Asymawi, diterbitkan oleh Komunitas Utan Kayu (kalangan JIL). Buku itu tadinya saya pinjam untuk menulis bantahan atas pemikiran yang mengkritik jilbab. Tapi setelah saya berselisih dengan Irfan, saya tidak tenang jika buku dia masih ada di saya. Lalu saya titipkan isteri agar dikembalikan ke dia. Sambil mengembalikan buku, saya sertakan juga tulisan bantahan buat SMS ‘nasehat taqwa’ dia.
Isteri waktu itu setiap hari mengajar di TK. Lokasi TK-nya tidak jauh dari tempat kost Irfan. Tempat kost itu sendiri di pinggir jalan ramai. Sehari-hari isteri berjalan dari tempat pemberhentian angkot sampai tiba di TK. Jalan yang dia lewati itu persis di depan rumah kost Irfan. Jadi sekalian saya titipkan.
Anda semua juga harus tahu, Irfan itu tadinya akrab dengan keluarga kami, dengan isteri juga anak-anak. Anak-anak saya sering memanggil dia “Om Irfan” atau “Ami Irfan”. Di mata isteri, Irfan itu sudah dianggap orang dekat.
Setelah menulis surat bantahan SMS Irfan itu, suatu pagi saya sengaja datang ke rumahnya secara mendadak. Dia kaget melihat saya tiba-tiba datang. Itu terlihat dari sikapnya yang gugup. Saya mengajak dia diskusi baik-baik tidak diterima, ya sudah didatangi langsung saja ke kost-nya. Kalau sengaja janjian, sulit kemungkinan saya bisa bertemu dia.
Disana saya ajak dia membahas materi-materi perselisihan di antara kami selama ini. Tetapi masya Allah, dia bersikap manis, hangat, dan mengakui kekhilafannya. Akhirnya, hari itu kami berpisah baik-baik, dan saya lega sebab perselisihan dengan orang ini sudah selesai. Saya kira masalah akan berakhir disana, tetapi kemudian justru kian panjang. Jadi anggapan saya mengajak “Ishlah” itu tidak benar adanya. Saya datang mengajak diskusi, bukan Ishlah, meskipun hasilnya termasuk Ishlah.
c. Irfan menyebut perkataan atas nama saya, misalnya saya berkata begini-begini kepadanya ketika keluar dari sebuah penerbit. Kalimat-kalimat seperti ini tidak bisa dibuktikan, sebab tidak ada buktinya, dalam bentuk apapun. Mestinya, dia berkata, ‘kira-kira’ Fulan berkata, atau ‘kurang-lebih’ Fulan berkata, atau ‘kalau tidak salah’ Fulan berkata, dan kalimat semisal itu.
Saya akui, saya memang menjalin kerjasama dengan penerbit tertentu yang karyawannya banyak teman-teman PKS. Tetapi penerbit itu bukan milik PKS. Saya pernah ketemu pemiliknya, dan benar memang bukan anggota PKS. Hanya usahawan umum.
Dalam surat jawaban itu panjang-lebar saya jelaskan ke Irfan, jika bermuamalah dengan PKS, memang kenapa? Apa tidak boleh? Bukankah mereka juga Muslim? Rasulullah saw. sendiri bahkan bermuamalah dengan orang-orang Yahudi dalam soal hutang-piutang. Isteri beliau sendiri Maria Qibthiyyah, tadinya beragama Kristen Koptik (makanya dipanggil Qibthiyyah). Ini sudah saya jelaskan, dan Irfan sudah terima, tetapi lagi-lagi diungkit kembali. Hiiih...
d. Irfan mengeritik saya soal walimah khitanan anak kami. Katanya ikhtilat (campur-baur) laki-laki perempuan dan ada nasyid di dalamnya. Ini pun juga sudah dijelaskan, tetapi aneh betul orang ini, selalu mengulang-ulang hal yang sama.
Begini yo, moga-moga akal Anda masih berfungsi! Ide walimah khitan itu dari isteri saya. Saya sendiri tidak ada “mental” untuk kesana. Isteri yang banyak mengelola perkara itu, termasuk mencarikan sumber pendanaan. Isteri sering diundang teman-teman atau kenalannya hadir dalam walimah khitanan mereka. Secara moral, dia merasa berat kalau tidak membuat walimah untuk mengundang mereka.
Harus diketahui, kebanyakan tetangga kami orang biasa dan banyak non muslim (Kristen). Mereka juga diundang hadir. Kalau membuat walimah yang Syar’iyyah benar-benar, seperti yang diinginkan Salafi, saya ragu hal itu bisa dilakukan. Makanya diadakan nasyid itu juga untuk mengerem kesan eksklusif. Soal ikhtilat (campur-baur), memang demikian. Tapi saya jelaskan, kebanyakan yang hadir pasangan suami-isteri dan anak-anak mereka, sebab memang acaranya khitanan anak.
Tetapi harus diingat, Irfan itu di kost-nya sering memasukkan teman-teman wanitanya. Kalau bukan teman Irfan, teman adiknya. Kamar pibadi mereka tidak sepi dari masuknya mahasiswi-mahasiswi non mahram. Sampai Irfan menjadi Salafi pun, kebiasaan wanita bukan mahram masuk kamar pribadi itu masih dilakukan. Setelah perselisihan ini berjalan lama, tentunya Irfan masih teguh dengan kaum Rabi’iyun itu, saya pernah melihat dia datang bersama seorang temannya dari Brebes (adik angkatan) hadir di pameran buku di Braga Landmark. Pameran buku itu jelas ikhtilat sepenuhnya. Bahkan yang menakjubkan, sehari-hari Irfan kuliah di tempat yang sangat ikhtilat. Bahkan banyak gadis-gadis berpakaian seksi di dalamnya.
Dalam soal walimah di atas, saya tidak habis mengerti, mengapa Irfan itu lama betul berada dalam walimah kami? Sudah lama dan ngajak saya ngobrol terus, sampai-sampai saya sering diingatkan isteri, “Itu lho tamunya datang… Itu lho tamunya mau pulang…” Maksudnya, saya diminta memperhatikan tamu-tamu lain, tidak hanya ngobrol pribadi. Sambil ngobrol Irfan sambil menikmati hidangan. Dia pulang pun baik-baik ketika walimah sudah sepi, sudah hampir waktunya selesai. Mengapa saya kesal ketika mendengar nasehat dia soal nasyid? Sebab saya baru saja ketemu dia baik-baik, bisa bincang sana bincang sini, bisa berlama-lama dalam walimah, tiba-tiba dinasehati soal nasyid. Saya kesal, mengapa ketika ketemu saya di walimah, dia tidak bilang apa-apa? Dia baru mengkritik setelah pulang ke rumah. Padahal dia sendiri kenyang dalam walimah itu. Apakah ini manusia yang beradab?
Menariknya, salah satu saksi yang direkomendasikan Irfan dalam tulisan itu, namanya Fulan. Dia itu sarjana Seni Musik. Irfan ini sahabat baik dia. Mengapa harus sampai selesai sarjana, kalau memang anti musik? Dan itu musik umum lho, bukan nasyid. Seingat saya dia spesialis clarinet. Masak soal nasyid di walimah diributkan, sementara ahli musik di sampingnya didiamkan? Malah diajak jadi saksi. Di rumah kost Irfan sendiri itu ada gitar. Anak-anak tertentu kadang main gitar di depan kost-nya. Aneh bin ajaib kalau menghadapi orang-orang ini.