Penulis Topik: Ajakan ISHLAH Untuk Al Akh Irfan Bastian  (Dibaca 200 kali)


Offline AM Waskito

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Jun 2007
  • Tulisan: 2
    • Lihat Profil
« pada: 23 Juni 2007, 10:36:07 »
Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakaatuh. Innalhamda lillah bi kulli ni’matih. Asshalatu wassalamu ‘alan Saiyidil Mursalin wa Khatamil Anbiya’i Muhammadin wa ‘ala alihi wa ashabih ajma’in. Amma ba’du.

Saya mulai tulisan ini sebuah ayat dari Kitabullah:

Wahai orang-orang beriman, hendaklah kalian menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencian kalian kepada suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan takutlah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Surat Al Maa’idah: 8).


Kemarin pagi ketika sedang membuka e-mail, saya menerima informasi dari seorang Ikhwan bahwa ada tulisan di Forum MyQuran yang bersifat memojokkan saya. Ia ditulis Irfan Bastian yang dipublikasikan dengan nama “anti turatsi”. Ketika saya cek tulisan yang berjudul “mengenal abu abdurrahman al-thalibi”, apa yang dikatakan oleh Ikhwan itu benar adanya. Saking kecewa, saya sampai mengulang-ulang kalimat “Inna lillahi” mungkin hingga 10 kali.

Setelah pagi membaca tulisan seperti itu, sorenya saya sengaja ingin mengkopi tulisan itu untuk dikaji di rumah. Tetapi ternyata tulisan itu sudah tidak ada. Saya bersyukur tulisan itu segera dihapus, meskipun juga tidak tertutup kemungkinan ia sudah menyebar. Dan saya juga tidak yakin, data seperti ini akan berhenti sampai disini. Di tangan orang-orang “FAKTA”, mereka akan melahap info-info seperti itu sebagai “afdhalu jihad” fi sabilid dhalalah. Mereka sangat gemar membuka aurat saudaranya, tetapi dirinya sendiri tidak diungkap siapa jati dirinya.

Saya tidak sempat detail membaca tulisan itu. Hanya ingat sebagian-sebagian saja. Disini saya ingin mengomentari sekedar yang masih diingat. Tetapi mohon dicatat, ini bukan SEKEDAR MASALAH PRIBADI. Ini adalah contoh nyata cara kita memahami manhaj Islami dan menjalankannya. Saya berharap Ikhwah sekalian tidak salah persepsi. Berikut tanggapan tambahan dari tanggapan sebelumnya:


[[1]] Tuduhan-tuduhan yang ditulis Irfan Bastian itu sebenarnya bukan perkara baru. Topik-topik itu pula yang dulu dia angkat sebagai materi kritik kepada saya. Hanya saja, kritik-kritik itu dia jadikan satu. Sebenarnya, hal ini sudah saya jawab dengan panjang-lebar dalam sebuah surat yang dia katakan –atas takdir Allah- telah dia buang. Kata dia, di dalam surat itu terdapat banyak syubhat. Apa yang Irfan lakukan ini hanya me-recycle ulang apa-apa yang pernah dia tulis. Padahal dulu sudah ada kesepakatan untuk menuntup perselisihan pribadi ini, tetapi akhirnya dia buka kembali. (Sudahlah, tidak usah memakai dalil-dalil tentang ukhuwwah. Orang seperti ini sudah tidak mempan dengan dalil-dalil. Tetapi kalau mendengar “Abu Hamzah berkata” atau “Luqman Ba’abduh berkata” atau “As Sewed berkata”, dijamin akan menyimak dengan telinga super sensitif). Saya sudah menjawab tuduhan-tuduhan dia hingga 9 halaman HVS, 1 spasi, Times New Roman, karakter ukuran 10. Saya juga mengajak dia berdiskusi sampai tuntas, tetapi ditolaknya. Jadi harus bagaimana lagi, manusia berakal?


[[2]] Sama seperti keluhan-keluhan sebelumnya, mengapa kalian harus membuka data-data pribadi? Apa salah saya, Tuan-tuan? Dalam menulis DSDB 1 dan 2, saya tidak menyinggung data-data pribadi kalian. Privacy kalian terjaga dengan baik, kecuali data-data seputar person, lembaga, peristiwa, atau karakter yang memang layak diketahui sebagai contoh-contoh amal. Tetapi saya tidak menyinggung alamat, tempat tanggal lahir, nama isteri, nama anak, nomer HP, even, lingkungan, dll. yang memang tidak ada kaitannya dengan perdebatan ilmiah. Mungkin mereka merasa kesal dengan terbitnya DSDB 2 yang di dalamnya juga terdapat kritik tajam kepada Luqman Ba’abduh dan muridnya. Kalau kesal ya jawab dong secara ksatria, bukan dengan cara-cara seperti itu. Kenyataan ini menjadi bukti kesekian betapa SESAT-nya akidah orang-orang itu. Tidak mungkin dari akidah salimah akan lahir perbuatan pengecut seperti itu. Orang-orang beriman itu Ahlus Syaja’ah (ahlinya keberanian). Mustahil diri kaum muwahhid (bertauhid) akan lahir sikap-sikap seperti itu.   


[[3]] Di sekitar Irfan itu ada lulusan teknik planologi, teknik industri, teknik informatika, teknik pangan, jurusan seni musik, dll. Mereka itu kan orang-orang pintar, tetapi mengapa tidak mengerti konsep informasi? Contohnya, Irfan menulis istilah “Curriculum Vitae” (CV). CV itu seharusnya dibuat oleh yang bersangkutan. Jika tidak, boleh dibuat orang lain, tetapi ATAS PERSETUJUAN yang bersangkutan. Persetujuan bisa dari sisi ISI dan PUBLIKASI. Kalau isinya benar, tapi yang bersangkutan tidak mau dipublikasikan, maka CV itu tidak boleh dipublikasikan. Kalau ada yang membuat CV orang lain tanpa persetujuannya, itu sama saja dengan menyebarkan FITNAH.   

Data-data yang Irfan sampaikan di tulisan itu belum mendapat reaksi sama sekali dari person yang ditulisnya, tetapi dia sudah mengklaim kata “mengenal” (dalam judulnya “mengenal abu abdurrahman al-thalibi). Darimana Anda bisa yakin bahwa data-data Anda itu sudah mewakili informasi yang benar tentang saya?

Kemudian data itu juga diklaim sebagai kesaksian, sampai-sampai ada beberapa orang yang menjadi saksi. Ya saksinya dari mereka sendiri, yaitu orang-orang yang pro Irfan semua. Sudahkah kalian bertanya kepada orang-orang yang sependapat dengan saya? Ini semacam DAGELAN anak-anak pintar. Ya jelas mereka semua sepakat menjadi saksi, sebab itu dari kalangan mereka sendiri. Dalam Islam itu yang dibutuhkan TIDAK CUMA SAKSI, tetapi SAKSI YANG ADIL. Dalam At Thalaq 2 dikatakan: “Wa asyhidu dzawa ‘adlin minkum” (persaksikan dengan dua orang saksi yang adil dari kalian). Sayang banget ya, sekolahnya tinggi tetapi tidak mengerti hal-hal seperti ini. 


[[4]] Sekitar petang hari setelah paginya Irfan membuat sensasi dengan perbuatan yang diharamkan dalam Islam itu, saya berusaha menghubungi nomer HP teman Irfan yang ikut menjadi saksi dalam tulisan itu. Dia dari Cilegon. Kebetulan nomer itu yang tersisa di saya. Nomer Irfan sendiri sudah lama saya hapus. Berkali-kali, hingga sekitar 5 kali saya kontak dia. Alhamdulillah semua bisa masuk, sebab terdengar signal tanda panggilan diterima. Tapi sayangnya panggilan saya tidak pernah dia angkat. Menjelang Shalat Isya’ ada miscall masuk ke HP saya. Ternyata nomer baru, tidak dikenal di daftar nama. Seketika itu nomer itu saya kontak balik, tetapi tidak diangkat juga. Panggilan diterima, jelas ada signalnya, tetapi tidak diangkat-angkat. Beberapa lama kemudian, muncul miscall lagi, segera saya kontak balik lagi, tetapi tidak bisa. Sekali pernah panggilan saya diangkat, terdengar suara anak kecil, tetapi segera ditutup lagi. Daripada terganggu soal miscall ini, saya matikan HP, khawatir lagi dikerjain orang lain.

Saya tadinya masih punya no. kontak Irfan dan teman-temannya itu, tetapi suatu saat sengaja dihapus, karena dianggap tidak prospek lagi. Nomer orang Cilegon, Bekasi, Padalarang, Bandung, Brebes, itu tadinya ada. Isteri masih punya sisa no. adiknya Irfan, saya kirim SMS ke nomer itu, tetapi dalam laporan disebutkan “gagal”. Adapun nomer-nomer yang disebutkan Irfan dalam tulisannya, belum sempat saya salin. Saya akan terus menuntut tanggung-jawab orang-orang itu, mengapa mereka mempublikasikan data-data pribadi kami? Dan saya juga menuntut, mereka membuat publikasi data-data pribadi dari ustadz-ustadz yang mereka panuti selama ini, khususnya data Abu Hamzah Al Atsari. Kalau mereka bisa membuat data saya, berarti mereka bisa juga membuat data ustadz-ustadznya. Ummat ini harus tahu juga siapa Abu Hamzah Cs., dimana lahir mereka dan  kapan? Siapa isteri-isteri mereka? Siapa anak-anaknya? Dimana alamat tinggal mereka? Dan apa saja peristiwa penting yang pernah mereka alami?     

Pagi harinya, kembali saya hubungi nomer-nomer itu, termasuk nomer telepon saksi yang berasal dari Kopo Bandung. Lagi-lagi tidak muncul tanggapan. Malah dari satu nomer, panggilan saya diganggu. Memang dia angkat, tetapi buru-buru ditutup. Lalu terdengar di HP saya getaran terus-menerus. Saya tidak tahu, apa yang telah dilakukan. Akhirnya saya matikan HP itu. Saya hubungi juga nomer saksi Irfan dari Bandung, hingga tiga kali dihubungi, bisa masuk dan diangkat oleh orang wanita disana. Tetapi orang yang saya tuju, tidak ada. Setelah yang keempat, alhamdulillah bisa sampai kepada orang itu. Saya berbicara keras pada orang itu, sebab dia mau menjadi saksi untuk suatu kebatilan. Dia mengatakan, hanya di saat-saat terakhir membaca sekilas tulisan itu, sebelum akhirnya dipublikasikan oleh Irfan. Saya juga meminta orang ini untuk membaca tawaran Ishlah yang saya tulis disini.       


[[5]] Dalam tulisan “Curriculum Vitae” itu Irfan membuat beberapa opini yang jelas hanya bersandar pikiran dia sendiri. Tadinya mau dibuat detail, tapi saya kehilangan copy tulisan dia. Disini saya coba menjawab yang ingat-ingat saja: 


a.  Kata Irfan Balatkop Lembang tidak mungkin dipakai Daurah, sebab tempatnya seperti aula, masjidnya kecil. Tapi kenyataannya memang begitu, spanduk besar di pinggir jalan di depan Balatkop itu tertulis “Daurah Syar’iyyah”. Lagi pula saya ikut di dalamnya, mendengarkan kajian Syaikhnya, ikut Shalat jamaah bersama mereka, bahkan dapat banyak makalah. Kalau Anda butuh makalahnya, nanti bisa hubungi saya. Lha, apa mungkin saya akan mengingkari apa yang saya alami? Balatkop itu disewakan bagi siapa saja yang butuh, wahai orang-orang yang ‘sok tahu’. Kemudian, kalau Antum harus memilih antara ikut kajian ilmiah para pengajar Universitas di Saudi, dengan ikut daurah ustadz Rabi’iyun (pengikut Syaikh Rabi’) yang isinya indoktrinasi, lalu kita mau ambil yang mana? Jadi, maunya Irfan itu, saya harus masuk ke lingkungan mereka, lalu tunduk dengan “kehebatan” dalil-dalil mereka. Wa nas’alullah al ‘afiah.   


b. Irfan mengatakan bahwa saya mengirimkan surat isinya bantahan terhadap SMS dia yang saya titipkan isteri untuk disampaikan kepada dia. Kemudian kata dia, saya mengajak dia melakukan ‘Ishlah”, setelah dia mengirim SMS tersebut.

Ya Ilahi, ceritanya tidak seperti itu. Irfan membuat kedustaan yang disukainya. Kronologinya begini: Semula saya meminjam sebuah ke Irfan. Buku ini judulnya “Kritik Atas Jilbab” yang ditulis oleh Said Al Asymawi, diterbitkan oleh Komunitas Utan Kayu (kalangan JIL). Buku itu tadinya saya pinjam untuk menulis bantahan atas pemikiran yang mengkritik jilbab. Tapi setelah saya berselisih dengan Irfan, saya tidak tenang jika buku dia masih ada di saya. Lalu saya titipkan isteri agar dikembalikan ke dia. Sambil mengembalikan buku, saya sertakan juga tulisan bantahan buat SMS ‘nasehat taqwa’ dia.

Isteri waktu itu setiap hari mengajar di TK. Lokasi TK-nya tidak jauh dari tempat kost Irfan. Tempat kost itu sendiri di pinggir jalan ramai. Sehari-hari isteri berjalan dari tempat pemberhentian angkot sampai tiba di TK. Jalan yang dia lewati itu persis di depan rumah kost Irfan. Jadi sekalian saya titipkan.

Anda semua juga harus tahu, Irfan itu tadinya akrab dengan keluarga kami, dengan isteri juga anak-anak. Anak-anak saya sering memanggil dia “Om Irfan” atau “Ami Irfan”. Di mata isteri, Irfan itu sudah dianggap orang dekat.

Setelah menulis surat bantahan SMS Irfan itu, suatu pagi saya sengaja datang ke rumahnya secara mendadak. Dia kaget melihat saya tiba-tiba datang. Itu terlihat dari sikapnya yang gugup. Saya mengajak dia diskusi baik-baik tidak diterima, ya sudah didatangi langsung saja ke kost-nya. Kalau sengaja janjian, sulit kemungkinan saya bisa bertemu dia. 

Disana saya ajak dia membahas materi-materi perselisihan di antara kami selama ini. Tetapi masya Allah, dia bersikap manis, hangat, dan mengakui kekhilafannya. Akhirnya, hari itu kami berpisah baik-baik, dan saya lega sebab perselisihan dengan orang ini sudah selesai. Saya kira masalah akan berakhir disana, tetapi kemudian justru kian panjang. Jadi anggapan saya mengajak “Ishlah” itu tidak benar adanya. Saya datang mengajak diskusi, bukan Ishlah, meskipun hasilnya termasuk Ishlah.     


c.  Irfan menyebut perkataan atas nama saya, misalnya saya berkata begini-begini kepadanya ketika keluar dari sebuah penerbit. Kalimat-kalimat seperti ini tidak bisa dibuktikan, sebab tidak ada buktinya, dalam bentuk apapun. Mestinya, dia berkata, ‘kira-kira’ Fulan berkata, atau ‘kurang-lebih’ Fulan berkata, atau ‘kalau tidak salah’ Fulan berkata, dan kalimat semisal itu.

Saya akui, saya memang menjalin kerjasama dengan penerbit tertentu yang karyawannya banyak teman-teman  PKS. Tetapi penerbit itu bukan milik PKS. Saya pernah ketemu pemiliknya, dan benar memang bukan anggota  PKS. Hanya usahawan umum.

Dalam surat jawaban itu panjang-lebar saya jelaskan ke Irfan, jika bermuamalah dengan PKS, memang kenapa? Apa tidak boleh? Bukankah mereka juga Muslim? Rasulullah saw. sendiri bahkan bermuamalah dengan orang-orang Yahudi dalam soal hutang-piutang. Isteri beliau sendiri Maria Qibthiyyah, tadinya beragama Kristen Koptik (makanya dipanggil Qibthiyyah). Ini sudah saya jelaskan, dan Irfan sudah terima, tetapi lagi-lagi diungkit kembali. Hiiih...     


d. Irfan mengeritik saya soal walimah khitanan anak kami. Katanya ikhtilat (campur-baur) laki-laki perempuan dan ada nasyid di dalamnya. Ini pun juga sudah dijelaskan, tetapi aneh betul orang ini, selalu mengulang-ulang hal yang sama.

Begini yo, moga-moga akal Anda masih berfungsi! Ide walimah khitan itu dari isteri saya. Saya sendiri tidak ada “mental” untuk kesana. Isteri yang banyak mengelola perkara itu, termasuk mencarikan sumber pendanaan. Isteri sering diundang teman-teman atau kenalannya hadir dalam walimah khitanan mereka. Secara moral, dia merasa berat kalau tidak membuat walimah untuk mengundang mereka. 

Harus diketahui, kebanyakan tetangga kami orang biasa dan banyak non muslim (Kristen). Mereka juga diundang hadir. Kalau membuat walimah yang Syar’iyyah benar-benar, seperti yang diinginkan Salafi, saya ragu hal itu bisa dilakukan. Makanya diadakan nasyid itu juga untuk mengerem kesan eksklusif. Soal ikhtilat (campur-baur), memang demikian. Tapi saya jelaskan, kebanyakan yang hadir pasangan suami-isteri dan anak-anak mereka, sebab memang acaranya khitanan anak. 

Tetapi harus diingat, Irfan itu di kost-nya sering memasukkan teman-teman wanitanya. Kalau bukan teman Irfan, teman adiknya. Kamar pibadi mereka tidak sepi dari masuknya mahasiswi-mahasiswi non mahram. Sampai Irfan menjadi Salafi pun, kebiasaan wanita bukan mahram masuk kamar pribadi itu masih dilakukan. Setelah perselisihan ini berjalan lama, tentunya Irfan masih teguh dengan kaum Rabi’iyun itu, saya pernah melihat dia datang bersama seorang temannya dari Brebes (adik angkatan) hadir di pameran buku di Braga Landmark. Pameran buku itu jelas ikhtilat sepenuhnya. Bahkan yang menakjubkan, sehari-hari Irfan kuliah di tempat yang sangat ikhtilat. Bahkan banyak gadis-gadis berpakaian seksi di dalamnya.   

Dalam soal walimah di atas, saya tidak habis mengerti, mengapa Irfan itu lama betul berada dalam walimah kami? Sudah lama dan ngajak saya ngobrol terus, sampai-sampai saya sering diingatkan isteri, “Itu lho tamunya datang… Itu lho tamunya mau pulang…” Maksudnya, saya diminta memperhatikan tamu-tamu lain, tidak hanya ngobrol pribadi. Sambil ngobrol Irfan sambil menikmati hidangan. Dia pulang pun baik-baik ketika walimah sudah sepi, sudah hampir waktunya selesai. Mengapa saya kesal ketika mendengar nasehat dia soal nasyid? Sebab saya baru saja ketemu dia baik-baik, bisa bincang sana bincang sini, bisa berlama-lama dalam walimah, tiba-tiba dinasehati soal nasyid. Saya kesal, mengapa ketika ketemu saya di walimah, dia tidak bilang apa-apa? Dia baru mengkritik setelah pulang ke rumah. Padahal dia sendiri kenyang dalam walimah itu. Apakah ini manusia yang beradab?

Menariknya, salah satu saksi yang direkomendasikan Irfan dalam tulisan itu, namanya Fulan. Dia itu sarjana Seni Musik. Irfan ini sahabat baik dia. Mengapa harus sampai selesai sarjana, kalau memang anti musik? Dan itu musik umum lho, bukan nasyid. Seingat saya dia spesialis clarinet. Masak soal nasyid di walimah diributkan, sementara ahli musik di sampingnya didiamkan? Malah diajak jadi saksi. Di rumah kost Irfan sendiri itu ada gitar. Anak-anak tertentu kadang main gitar di depan kost-nya. Aneh bin ajaib kalau menghadapi orang-orang ini.

« Edit Terakhir: 23 Juni 2007, 11:09:39 oleh AM Waskito »

Offline AM Waskito

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Jun 2007
  • Tulisan: 2
    • Lihat Profil
« Jawab #1 pada: 23 Juni 2007, 10:36:55 »
Lanjutan...



e. Irfan juga bilang, kebanyakan yang hadir dalam walimah khitanan anak kami adalah orang-orang DT dan PKS.

Ya Ilahi, kasihanilah dirimu, wahai saudaraku. Darimana Anda tahu data-data tentang mereka? Apakah sudah Anda periksa kartu mereka satu per satu? Ini hanya klaim saja, tanpa bukti.

Saya beri tahu Anda, kebanyakan yang hadir ialah dari teman-teman dan kenalan isteri di kantornya (DT). Dalam hal ini Irfan benar. Kemudian, banyak yang hadir keluarga murid-murid isteri di TK, dan itu kebanyakan orang-orang umum. Kemudian banyak juga dari tetangga-tetangga kami di lingkungan. Adapun teman PKS yang datang, bisa dihitung dengan jari. Setahu saya, hanya 1 orang teman kader PKS yang hadir, teman jamaah di masjid. Jadi kata “kebanyakan” itu tidak tepat. 

Saya tidak bisa mengundang banyak teman-teman PKS, sebab memang saya kurang memiliki kontak dengan mereka. Minim sekali jumlah kontaknya. Kebanyakan teman-teman kami orang biasa, atau cukup peduli dengan Islam, tetapi bukan aktivis dakwah. Kalau banyak kenalan baik disana, tentu diundang juga. Dan tidak masalah, sebab mereka juga Muslim. Mereka masuk dalam kalimat “haqqul Muslim ‘alal Muslim” (hak Muslim yang satu atas Muslim lainnya). Maka itu jangan sok tahu deh… 


f. Soal Shalat memakai celana, baju lengan panjang ditekuk lengannya, dan tidak memakai penutup kepala.

Secara syar’i saya belum membaca pembahasan spesifik tentang masalah ini. Katanya Masyhur Hasan Salman membahas “Akhtha’ul Mushallin” (kesalahan orang-orang yang mengerjakan shalat) yang membahas hal itu, tapi saya belum membacanya. Tapi tema-tema begini ini kan debatable (bisa diperdebatkan). Saya pernah mendengar ada buku yang mengkritik “Shifat Shalat Nabi Syaikh Albani”, judulnya “Laa Jadida Fis Shalat” (tidak ada yang baru dalam shalat). Kalau pendapat Syaikh Al Albani saja maih bisa didiskusikan, apalagi Masyhur Hasan Salman.

Secara sederhana saya memahami, hal-hal yang dikritikkan Irfan itu bukan termasuk RUKUN dan SYARAT WAJIB Shalat, sehingga kita bisa bersikap lebih longgar, selama masih menutup aurat dengan rapi. Dia sendiri mengakui bahwa perkara ini sifatnya afdhaliyyah (lebih utama), bukan syarat wajib.

Jika Irfan Cs. mempermasalahkan perkara itu, mohon mereka membantu saya menjawab pertanyaan ini: (1) Apakah batal shalat seorang laki-laki yang memakai celana panjang, baju panjang lengan ditekuk, dan tidak memakai penutup kepala? Mohon dijawab dengan tegas, tidak usah muter-muter (nanti pusing). (2) Kalau shalat seperti itu batal, apakah pelakunya dianggap tidak/belum melaksanakan shalat? (3) Kalau dia dianggap tidak/belum melaksanakan shalat, bolehkah kita mengkafirkan mereka? Sebab kata Nabi, batas perbedaan antara Mukmin, kafir, dan musyrik adalah meninggalkan shalat. (4) Bisa juga pertanyaan begini, apakah shalat seperti di atas tidak mendapat pahala sama sekali alias sia-sia?

Irfan bilang saya MARAH BESAR gara-gara dia ingatkan soal pakaian ketika shalat. Wih, darimana dia tahu kalau saya marah besar? Apakah karena saya mencak-mencak, menjerit-jerit, membentak-bentak, memukul-mukul meja, membanting pintu, dll? Saya cuma bereaksi melalui SMS dibilang marah besar. Lagi pula apakah dalam SMS itu saya bilang, “Lihat nih saya mulai marah besar…” Tidak ada buktinya.

Saya kesal memang dengan dia, tetapi bukan karena soal pakaian dalam shalat itu, tetapi karena “keusilan” dia terus memonitor perbuatan orang lain. Iya kalau mau diajak diskusi membicarakan suatu perkara secara ilmiah, tetapi dia tidak mau. Maunya menasehati orang dari jarak jauh, tetapi giliran mendapat kritik balik, tutup mata tutup telinga. Betapa arogannya “nasehat taqwa” Irfan itu, tetapi setelah dijawab panjang-lebar, akhirnya jawaban saya dia buang. Itu disebut “atas takdir Allah”.

Kalian itu tipe manusia aneh…  Kalau mengkritik orang tidak ukur-ukur, giliran dikritik balik tidak mau tahu. Jadi kapan dong masalahnya selesai? Atau memang spesialisasi kalian membuat keonaran? Cukup sekian koreksi dari saya. Saya sudah mual menghadapi perilaku orang-orang ini. Biarlah yang lain-lain tidak usah dibahas. 


[[6]] Saya bertekad akan sungguh-sungguh menghadapi pemikiran orang-orang seperti ini, termasuk mendoakan orang-orang zhalim. Ini bukan perkara sederhana. Mohon Irfan, keluarganya, teman-temannya, Abu Hamzah, dan lainnya memperhatikan serius. Kalian sudah layak disebut sebagai orang-orang zhalim yang menyebarkan fitnah di tengah-tengah Ummat. Ingat pesan Nabi, “Fattaqu zhulma fa innaz zhulma zhulumatun Yaumal Qiyamah.” (Takutlah kalian akan kezhaliman, sebab kezhaliman itu adalah kegelapan di Hari Kiamat nanti. HR. Muslim dari Jabir ra.). Juga ingat pesan berikut, “Wattaqi da’watal mazhlum fa innahu laisa bainaha wa bainallah hijaab.” (Takutlah engkau dengan doa orang-orang yang dizhalimi, sebab antara dia dengan Allah tidak ada hijab. HR. Bukhari Muslim dari Mu’adz bin Jabal ra.).

Kalau ada pihak netral yang bisa memfasilitasi, saya ingin berdiskusi terbuka dengan Abu Hamzah, Luqman Ba’abduh, Muhammad As Sewed, Usamah Mahri, Ja’far Umar, atau lainnya. Debat itu harus dilakukan di tempat netral, ada jaminan tanpa kekerasan, dan jangan mendadak. Saya akan mempersiapkan diri, jika Anda menyetujuinya.     


[[7]] Walau bagaimanapun, Allah Ta’ala senantiasa memberikan hikmah dalam kehidupan ini. Ketika saya sedang kecewa berat menghadapi orang-orang itu, isteri memberikan sebuah nasehat baik. Dia sempat bertanya, apakah saya mengurusi Irfan lagi? Saya jelaskan tentang beberapa perbuatan Irfan di internet (forum MyQuran). Tetapi isteri memberi pandangan yang layak dihargai. Dia mengatakan, bahwa Irfan berbuat seperti itu bukan karena dirinya sendiri, tetapi karena pengaruh guru-guru atau lingkungan. Dia meminta supaya saya tidak bersikap keras kepadanya. Seketika itu saya merasa lebih adem. Walhamdulillah Rabbil ‘alamin. Saya kira, masukan isteri itu bisa dipahami. Tadinya saya sudah terpikir akan mendokumentasikan nama Irfan Bastian dalam sebuah buku. Tapi saya cenderung mengikuti saran isteri.


Baiklah Kang Irfan, di kesempatan ini SAYA MENAWARKAN ISHLAH kepada Anda. Ini benar-benar tawaran resmi dari saya. Saya mengajak Anda untuk mengakhiri pertikaian PRIBADI yang selama ini terjadi. Sebagai konsekuensinya, saya bisa melupakan dan memaafkan perbuatan Anda kepada kami. Termasuk saya bisa memaafkan orang-orang di sekitar Anda yang selama ini mendukung.

Kongkretnya, temuilah saya dimanapun Anda bisa menemui saya. Nanti kita berbincang-bincang untuk mengakhiri perselisihan pribadi ini, dan saling memaafkan satu sama lain. Tetapi Anda harus punya komitmen untuk tidak mengulang lagi serangan-serangan pribadi itu. Adapun soal perbedaan pandangan, saya tidak akan mengusik pilihan pribadi dia. Apa yang saya lakukan selama ini, toh masih dalam batas debat ilmiah. 

Anda tidak harus menjawab saat ini. Bicarakanlah dengan siapapun, termasuk keluarga Anda dan teman-teman Anda. Berpikirlah sejernih-jernihnya. Berdoalah memohon petunjuk kepada Allah Ta’ala. Anda memiliki waktu sampai Ramadhan 1428 Hijriah ini (bulan September-Oktober 2007). Selama itu saya menanti tanggapan Anda soal tawaran Ishlah ini. Jika Anda sudah mantap hati untuk Ishlah, tidak perlu menanti Ramadhan, kapan saja Anda bisa meminta bertemu saya.

Adapun untuk syarat Ishlah ini, Anda jangan teruskan melakukan serangan-serangan pribadi itu. Jika tetap Anda lakukan, maka saya menutup peluang Ishlah dengan orang-orang zhalim. Syarat Ishlah ini, Anda tidak melakukan kezhaliman lebih jauh. Namun jika Anda semakin menjadi-jadi kezhalimannya, sungguh saya tidak membiarkan Anda hidup tenang di dunia. Saya akan melakukan upaya doa, bantahan, publikasi, dan lobi untuk melawan kezhaliman Anda.

Ya Irfan dan kawan-kawan, jika suatu perkara telah mendapatkan legitimasi dari Syariat untuk dilakukan, sungguh kalian akan mendapatkan kesulitan besar. Sebab, orang-orang yang membela diri dan menolak kezhaliman, mereka mendapat pahala dari amal-amalnya, bahkan layak ditolong. Bukankah Nabi saw. bersabda: “Unshur akhaka zhaliman au mazhluman!” (Tolonglah saudaramu yang zhalim dan dizhalimi. HR. Bukhari dari Anas ra.). Maksud, menolong orang yang zhalim kata Rasulullah, “Tamna’uhu minaz zhulmi fa inna dzalika nasharahu” (cegahlah dia dari berbuat zhalim, itulah maksud menolong orang zhalim).   

Dari hati yang tulus saya katakan kepada Irfan: Hidup Antum masih panjang. Keluarga Antum layak diperhatikan. Bukankah Antum pernah mengatakan, kurang lebih, “Saya ingin membahagiakan orangtua!” Sungguh Akhi, dalam diri Antum itu ada kebaikan-kebaikan, saya menyaksikan sendiri hal itu, maka syukurilah semua itu. Sudahlah, akhiri semua petualangan ini. Hal ini tidak membuat Antum semakin pandai dalam ilmu, tidak membuat Antum semakin bermanfaat bagi Ummat, tidak membuat keluarga Antum semakin berbahagia, bahkan Antum justru mendapat kesulitan-kesulitan.

Akhi rahimakallah, kami tahu Antum itu mendapat pengaruh kuat dari guru-guru dan lingkungan Antum. Antum dulu tidak seperti ini. Ya, mereka hanya bisa menjerumuskan pemuda-pemuda itu dalam kesulitan. Sementara mereka hanya berdiam diri, menanti laporan. Salah satu buktinya, Abu Hamzah itu, dia rela menjadi saksi tulisan Antum. Tetapi siapakah dia? Adakah Ummat ini yang tahu siapa dia? Dia mau menjadi saksi atas kebatilan, sementara isteri dan anak-anaknya disembunyikan.

Apa yang selama ini terjadi, anggaplah sebagai pengalaman hidup yang tidak perlu terulang lagi. Dari sisi dakwah pun, insya Allah Antum juga sudah menyumbang kebaikan. Alhamdulillah, nasehat kepada Rabi’iyun dan Salafiyun, dimana setiap Muslim layak mendapat nasehat, momentumnya atas takdir Allah, dilewatkan melalui perselisihan ini.

Saya sarankan dengan hati terbuka, tinggalkan majlis-majlis kaum Rabi’iyun itu. Mereka jelas-jelas telah terbukti mengubah karakter Antum secara dramatis. Dulu Antum saya kenal ramah, terbuka, toleran, antusias, banyak relasi. Tetapi dengan sikap-sikap mau menang sendiri itu, apa yang Antum peroleh? Bahkan keluarga diikut-ikutkan dalam pertikaian ini. Akhi, jauhi orang-orang itu sebab mereka hanya menawarkan doktrin, tidak memberi kesempatan para pemuda mencerna suatu pemikiran.

Jangan sampai terjadi, riwayat Antum telah “tamat” ketika usia masih sangat muda. Antum masih memiliki masa depan yang harus dipikirkan. Insya Allah, masih banyak kalangan Muslim lain yang bisa kita mengambil manfaat darinya.

Untuk memutuskan sikap, saya sangat berharap Antum berbicara dengan keluarga, terutama orangtua. Buktikan bahwa Antum sangat memuliakan mereka. Dengarkan nasehat mereka, jangan hanya Abu Hamzah dan semisalnya.

Saya membuka diri kepada Antum untuk Ishlah hingga Ramadhan 1428 (sampai akhir Ramadhan-nya). Tetapi jika Antum merasa berat untuk bertemu saya, tulislah e-mail ke langitbiru1000@gmail.com. Atau tulislah suatu pernyataan di Forum MyQuran, bahwa Antum telah mencabut tulisan-tulisan yang berisi kezhaliman itu, sehingga Antum berlepas diri dari orang-orang yang menyebarkannya.

Atau jika masih berat juga, bolehlah kita tidak perlu berkomunikasi, asalkan Antum telah meninggalkan serangan-serangan ke arah pribadi kami. Pokoknya, Antum tinggalkan cara-cara seperti itu. Itu haram, Akhi! Sejahat-jahatnya Rafidhah, para ulama Sunnah tidak sampai masuk ke data-data pribadi mereka dan keluarganya. Kemudian, ingatkan juga teman-teman Antum, terutama orang-orang yang dulu saya kenal baik, agar menghentikan semua konspirasi ini. Perbuatan ini sudah tidak berpahala, menodai kehormatan diri, zhalim lagi.
 





Demikian yang bisa saya sampaikan. Mohon dimaafkan atas semua kesalahan dan kekurangan. Syukran jazakumullah atas perhatian baiknya. Astaghfirullaha li walakum. Walhamdulillah Rabbil ‘alamin.




Bandung: 23 Juni 2007. Jam: 09.00 WIB.



[ Abu Muhammad Waskito ].



Tambahan: Jika Irfan Bastian tidak membaca tulisan ini, mohon yang lain memberitahunya. Mohon dibantu disampaikan kepada dia. Jazakumullah khair.

 

 


« Edit Terakhir: 23 Juni 2007, 11:14:24 oleh AM Waskito »

Offline Yassin El Cordova

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2006
  • Tulisan: 3.014
  • Lokasi: INDONESIA
  • Jenis kelamin: Pria
  • Pohon Pun Tumbuh Tidak Tergesa-gesa
    • Lihat Profil
« Jawab #2 pada: 23 Juni 2007, 11:17:45 »
kapan selasainya neh perang dingin di MyQuran ?
dI dALAM rELUNG hATIMU aKAN TETAP tERJAGA Rahsia Cinta tatkala dikuakan segala Cinta

(Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah )

Offline GI-JOE

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 3.845
  • Lokasi: Maunya sih...Palestina
  • Jenis kelamin: Pria
  • Love Palestine
    • Lihat Profil
    • http://godmeone.wordpress.com/
« Jawab #3 pada: 23 Juni 2007, 11:31:20 »
ikut prihatin  :-\

Semoga lekas selesai dan damai. ajakan Islah yg baik, semoga sukses.

Offline Abdul Ghafur

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Mar 2007
  • Tulisan: 728
    • Lihat Profil
« Jawab #4 pada: 23 Juni 2007, 11:34:18 »
wash shulhu khoir
peace is better (qs. an nisa' : 128)

Offline exblopz

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 5.083
  • Lokasi: Malang
  • Jenis kelamin: Pria
  • Pingin ke Masjid Nabawi
    • Lihat Profil
    • Abu Aisyah Official Web Site
« Jawab #5 pada: 23 Juni 2007, 13:54:22 »
Buat Irfan dan juga buat Joko Waskito, saya mempersilakan anda untuk ada di sini, tapi jangan membahas tentang keburukan-keburukan kalian. Demi Allah, thread-thread yang tujuannya untuk saling menyerang antara kalian akan saya hapus, kecuali thread ini agar kalian tahu peringatan dari saya.

Kalau kalian memang benar-benar mengikuti salafus sholeh, maka buat apa menampakkan keburukan orang lain? Terkecuali memang orang itu mengajarkan keburukannya kepada orang lain. Dan silakan membuat buku-buku bantahan, silakan. Buku dibalas dengan buku itu lebih baik daripada mulut dibalas dengan mulut.

Ingat saudaraku, Al Qur'an ini diberikan kepada seorang yang beriman tapi juga berbuat fasiq, Al Qur'an ini juga diberikan kepada orang yang beriman tapi dia hanya melaksanakan perkara yang wajib dan meninggalkan sunnah, Al Qur'an ini juga diberikan kepada orang yang istiqomah di atas jalan Allah dan Rasul-Nya. Jadi kita sadari kelemahan masing-masing, kita sadari kesalahan masing-masing, tiada manusia yang sempurna. Tiada satupun makhluk yang terhindar dari cela.

Saya lebih senang kalau kalian membahas tentang Firqoh-firqoh sesat yang sekarang ini menyesatkan masyarakat. Lebih senang lagi kalau kalian berdua meneruskan thread saya tentang awwalun iftiroq, karena saya kekurangan sumber. Dan membahas agar seluruh umat Islam berhati-hati terhadap firqoh-firqoh tersebut.

Kalian adalah sesama ahlussunnah, cuman gara-gara yang satu berbuat maksiat, dan yang satunya kurang ilmu jadi saling ajang menjatuhkan. Ketahuilah nilai kalian sama dihadapanku, tapi wallahu'alam dihadapan-Nya.

Saya berusaha keras untuk bisa menegakkan dien Islam di dalam hati saya, walaupun sulit. Mencoba untuk menjadi orang yang baik mengajarkan Islam kepada anak-anak saya, dan rela meninggalkan segala yang dulu saya senangi untuk memperbaiki diri saya. Saya sudah tidak lagi mengurusi kebaikan dan keburukan orang, kalau tujuannya bukan untuk menasehati. Kalau tujuannya hanya menjatuhkan, kalian sama saja. Tak ada yang lebih diunggulkan tak ada yang lebih direndahkan.

Juga seperti user-user yang membahas tentang para ulama mereka, ada satu yang mengatakan dengan sebutan anjing, dan satunya membela. Bahkan sampai penyebutan kepada khawarij. Saya lebih suka mengatakan kalian adalah ahlissunnah tapi kurang ilmu, maka jangan cela saudara kalian karena hanya khilaf dan kurang ilmu.

Kita faham siapa ahlu bid'ah, kita juga faham siapa yang berhak untuk di tahdzir.

Nasehat saya untuk kalian berdua:

1. Yang membuat buku, tolong buatlah buku seputar fiqih! Karena kalau kalian jahil terhadap perkara yang mutasyabbih, ataupun terhadap perkara firqoh maka sesungguhnya kalian membuat buku sesat. karena sampai sekarang pun masih banyak manusia yang berbuat bid'ah dan meninggalkan sunnah.

2. Yang menasehati, tetaplah istiqomah dan nasehati saudaramu. Jangan engkau tampakkan keburukannya kalau dia tidak mengajarkan keburukannya kepada orang lain. Dan peganglah amanah seorang muslim, sekalipun itu pahit bagimu. Kenapa anda harus berpisah dengan saudara anda? Tetap nasehati sampai nyawa itu habis, toh dia juga teman anda.

3. Buat yang mengikuti ajang debat ini. Muliakanlah akal kalian dengan memahami nash-nash Al Qur'an dan As sunnah, jangan mendahului sebuah perkataan yang akan membuat perkataan-perkataan yang baru. Toh kalian juga sama saja seperti saya, masih kurang ilmu, masih perlu diasah. Lalu kenapa harus mengandalkan urat leher dalam menyelesaikan masalah? Hindarilah, karena sesungguhnya yang demikian tidak ada gunanya, dan hanya menghabiskan waktu, serta membuang tenaga sia-sia. Harusnya waktu yang digunakan debat itu lebih baik digunakan untuk belajar. Waktu yang dihabiskan untuk menampakkan kejelekan saudara kalian itu lebih baik digunakan untuk muhasabah. Waktu yang anda habiskan untuk mengetik disini, itu lebih baik digunakan untuk mengetik yang ilmiah dan digunakan untuk mencari ilmu di internet.

wallahu'alam bishawab.
http://alatsari.wordpress.com/
http://www.abuaisyah.org/
join blogger malang di blogger-ngalam@googlegroups. com