ikutan sharing ah..,
Sebenarnya ga pernah punya niat menunda menikah.., tapi sampe umur 38 masih hidup sendiri. Jujur saya kagum (juga iri) sama adek laki-laki saya yang telah menikah dua tahun setelah lulus SMA. Hanya saja barangkali saya tidak ditakdirkan seperti itu.
Selama itu saya sempat mencoba membangun hubungan dengan wanita menuju jenjang pernikahan, tapi Allah masih berkehendak lain. Yang membuat saya tetap bersabar dan punya keyakinan kuat adalah pengalaman hidup yang mengajarkan saya kalau ada satu kekurangan yang paling fatal dalam diri saya yang belum menemukan jodoh ini adalah "bersyukur".
Setiap orang punya cita-cita atau gambaran ideal tentang apa yang ingin dicapai baik dalam pekerjaan, teman hidup dsb. Dari pengalaman saya belajar bahwa sering kali cita-cita lebih baik tetap menjadi cita-cita tanpa harus terealisasi.
Selulus sekolah saya punya gambaran tetang bagaimana saya menghabiskan sisa hidup saya lengkap dengan pekerjaan, pendaping hidup, lingkungan dsb. Akan tetapi ketika semua itu sedikit-demi sedikit menjadi kenyataan.., Allah menunjukkan bahwa selain ia pemurah (dengan memberi jalan mewujudkan cita-cita saya) juga memperlihatkan bahwa KehendakNya lebih sempurna dan bahwa imaginasi, angan, cita-cita yang saya bangun memiliki banyak kelemahan dan keterbatasan.
Akhirnya saya coba jalani hidup dengan menerima apa adanya Meski kadang muncul pertanyaan dimana jodoh yang Ia pilihkan bagi saya.
Ketika waktu terus bergulir, pencarian saya masih belum mencapai titik terang. Terus mencoba dan beberapa kali gagal. Ada yang melalui pertemuan langsung. Ada yang melalui bantuan teman, orang tua, saudara dsb.
Karena seringnya "dicarikan" teman, saya jadi membuat kriteria calon pendamping ideal. yaitu se-iman, pendidikan SLTA (tidak lebih dari saya), tidak harus bekerja, tidak gemuk (maaf) dan siap menjadi ibu yang baik bagi anak-anak kami jika diberi amanah itu oleh Allah.
Sekitar lima bulan lalu, ibu saya yang mulai sangat khawatir mengajak saya bicara berdua. Intinya dia mau memberikan apapun satu-satunya rumah yang ia miliki, sisa pensiunnya tanpa menuntut imbalan apapun, tapi juga tidak meminta saya segera menikah meski seperti itulah harapan yang tersirat dari ucapan dan cara dia melihat saya.
Dari situ, saya lebih memfokuskan usaha untuk membahagiakan ibu. Saya menemui teman untuk diperkenalkan dengan jemaah-nya (kebetulan dia pengurus Masjid), tapi Allah berkehendak lain. nomor teleponnya terhapus dan saya kehilangan kontak. Beberapa teman yang berusaha memperkenalkan saya juga tidak berjalan mulus karena berbagai sebab. Sementara beberapa teman kost yang jauh lebih muda mulai menemukan calon pasangan hidupnya dan menikah satu persatu. Sementara saya masih berkutat dalam kesendirian.
Perkenalan saya dengan dia dimulai dari situs jejaring sosial yang mulai populer. Itu terjadi sebulan sebelum Ramadhan 1429 ini. Awalnya sama seperti teman digital lain kami hanya saling bertegur sapa secara sopan (teman saya sering kesal dengan sikap terlalu sopan ini).
Memasuki bulan puasa hubungan kami semakin intens di internet. Saya berusaha menahan diri karena takut menganggu ibadah puasa saya. Terus terang pada awalnya saya punya perasaan hubungan ini tidak akan mengarah serius karena kami punya tujuan dan latar belakang pemikiran yang sepertinya berbeda. Sederhananya saya mendapat kesan dia tidak siap untuk hubungan yang lebih serius.
Meski berlanjut ke kopdar sebanyak dua kali hubungan itu hanya sebatas teman.
Saya terkejut ketika saat chatting dia menanyakan kesungguhan saya terhadap dia. Akhirnya saya hubungi dia via telp supaya bisa berkomunikasi lebih lancar. Malam itu saya tidak memberi kepastian dan akhirnya karena bingung saya telepon sahabat dekat saya untuk minta pertimbangannya.
Di telpon dia mengingatkan saya akan kriteria yang pernah saya buat tapi menyerahkan semua keputusan pada saya.
Kemudian saya mulai meyakinkan diri dan melakukan shalat Istikharah. Ketiga kalinya saya bertemu dia dan untuk pertama kalinya saya bertemu Ibu-nya. Selanjutnya semua berjalan sesuai kehendakNya dan saat ini dia sudah resmi menjadi istri saya.
Dalam proses menuju pernikahan banyak peristiwa menarik yang saya temui tapi tidak bisa saya terangkan secara rinci. Intinya saya mengalami flashback perjalanan hidup saya 39 tahun kebelakang. Saya seperti diberi Allah gambaran tentang perjalanan hidup sebelumnya dengan cara-cara yang unik. Juga beberapa cobaan hati yang terus terang tidak ringan. Tapi pada akhirnya itu meyakinkan saya bahwa semua sudah menjadi kehendakNya.
Akhirnya satu fitrah saya sebagai manusia dan pengikut Muhammad SAW. saya jalankan, satu do'a seorang ibu telah Dia kabulkan. Saya tidak tahu apa yang akan saya hadapi selanjutnya. Saya hanya berharap semoga apapun itu, tidak membuat saya lupa bersyukur.
Sekian dulu maaf kalau dianggap OOT ...