Penulis Topik: Antara Al-Ikhwan Al-Muslimun, Masyumi, dan Ikhwanul Muslimin Indonesia  (Dibaca 86 kali)


Offline Miph

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Okt 2006
  • Tulisan: 875
  • Lokasi: Bandung
  • Jenis kelamin: Pria
  • [ Muslimin harus berkualitas! ]
    • Lihat Profil
    • miphz
« pada: 22 Mei 2008, 07:29:50 »
Adalah Dr. Yusuf Al-Qaradawi yang menyebutkan dalam kitabnya Ummatuna baina qarnain (diterjemahkan menjadi Umat Islam Menyongsong Abad 21, hal 92) bahwa PKS di Indonesia adalah perpanjangan tangan dari Al-Ikhwan Al-Muslimun Mesir. Sebuah jamaah yang didirikan oleh Hasan Al-Banna sejak tahun 1928 yang lalu dan kini telah memiliki cabang di 70negara dunia.

Namun tulisan ulama yang kini bermukim di Qatar itu belum pernah mendapat konfirmasi dari para pengurus DPP PKS. Entahlah apa yang dimaksud oleh Al-Qaradawi dengan istilah 'perpanjangan tangan' itu dan seperti apa bentuknya. Rasanya hal itu tidak penting untuk dibahas di sini.

Yang penting buat kita adalah bahwa semua jamaah itu, baik Al-Ikhwan di Mesir dan 70 negara cabangnya, atau Jamiat Islami di Pakistan, atau FIS di Aljazair, atau Refah di Turki, atau di mana pun, semuanya merupakan mesin kebangkitan umat Islam. Di mana kebangkitan umat Islam banyak diwujudkan dengan keberadaan gerakan-gerakan itu.

Setidaknya, ini adalah fenomena menarik yang mengisi abad 20 dan 21 sejarah umat Islam. Terutama sejak jatuhnya khilafah Islam di awal abad 20 (1924) di Turki serta terjajahnya dunia Islam oleh barat selama ratusan tahun.

Namun demikian, gerakan perjuangan seperti ini bukan berjalan tanpa hambatan. Tribulasi internal dan eksternal seringkali datang menerpa. Kita berdoa saja agar Allah SWT memenangkan agamanya dengan adanya kekuatan-kekuatan alternatif seperti ini.

Tentunya kita juga berdoa agar semua kekuatan ini bisa berhimpun, bekerja sama, bersinergi dan saling mengisi satu dengan yang lain. Mungkin kalau harus berubah menjadi satu tubuh belum memungkinkan, setidaknya bersatu di dalam hati.

Dan buat PKS sendiri, mungkin sudah saatnya untuk melakukan pendekatan lebih jauh ke kalangan umat Islam tradisional di pedesaan, pondok pesantren, jamaah majelis taklim kaum ibu. Di mana tipologi keagamaan mereka agak unik dan para kader PKS mungkin masih perlu belajar lebih banyak untuk punya akses ke kalangan itu.

Tetapi yang paling penting dari semua itu, sebenarnya keberadaan partai, apapun namanya, tidak lebih dari sebuah kendaraan dakwah. Ada masanya di mana kendaraan itu bisa efektif dan berguna, namun jangan lengah kalau suatu saat kendaraan itu menjadi kurang efektif. Karena itu, syuro tetap harus sering kali digelar untuk selalu melakukan up dating.

 :hmmm:

Ada yang tahu perihal Ikhwanul Muslimin di Mesir dengan Ikhwanul Muslimin Indonesia (IMI) - Habib Husein Al-Habsyi,yang menolak berpolitik seperti Ikhwanul Muslimin yang diadopsi PKS? Atau alasan Soekarno mendepak Masyumi?

 :hmmm:



« Edit Terakhir: 22 Mei 2008, 07:40:58 oleh Miph »


“Kita menilai diri kita dari apa yang bisa kita lakukan, padahal orang lain menilai diri kita dari apa yang sudah kita kerjakan”