Penulis Topik: TELAH KAFIR BIN UTSAIMIN, BIN BAZ, DLL DALAM KACA MATA "SALAFY".  (Dibaca 3684 kali)


Offline fei shin muslim

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 2.440
  • Lokasi: klaten-bandung-jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • Hanya manusia biasa
    • Lihat Profil
« Jawab #30 pada: 13 Januari 2008, 11:46:06 »
ataskuh..hahaha mulai lagi..........

coba dehh kl emang beneran mo ikut manhaj salaf..pake fatwa  lajnah daimah semuanya jgn cuma yg itu............

syaikh ali hasan juga udah memberi penjelasan pada lajnah daimmah (udah pernah ane bilang,cari aja ndiri...)



mungkin ada baiknya kl ana lampirkan lagi.....

MENYIKAPI FITNAH DAN TUDUHAN MURJI’AH

Pertanyaan.
Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Al-Halaby Al-Atsary ditanya : Aku membaca sebuah buku yang berjudul " Raf'ul la'imah 'an fatwa lajnah ad-daimah karya Syeikh Muhammad Ibn Salim ad-Dausari, apa komentar anda tentang buku ini dan penulisnya? Apa nasehat anda kepada kami penuntut ilmu dalam menyikapi fitnah irja' yang membuat goncang pemikiran ?

Jawaban.
Buku ini penuh dengan kebatilan dari alif-nya hingga ya-nya (seluruhnya -peny), penuh kebatilan dari segi isinya dan penukilan-penukilan yang terdapat dalamnya, batil dari segi alur pikirannnya. Adapun rincian bantahan ini di dalam bukuku yang hampir selesai dicetak yang kuberi judul" at-Tanbihat al-Mutawaimahfi nusrati al-ajwibati al-mutalaimah fi ar-raddi 'ala raf'i al-laimah" Dalam buku ini kuterangkan dengan rinci berbagai macam tahrif / penyimpangan yang telah ditulis oleh penulis yang jahil ini baik dalam bentuk ucapan-ucapan maupun penukilan-penukilannya, setelah itu aku membantah berbagai macam bantahannya yang sebenarnya sedikitpun tidak memiliki bobot. Semoga ikhwan mau sedikit bersabar berhubung waktu yang tidak memungkinkan terpaksa kuterangkan secara sangat global.

Adapun nasehatku kepada penuntut ilmu dalam menyikapi fitnah tuduhan murjiah (terhadap Syeikh al-Albani, -pent) belakangan ini yang membingungkan pikiran, sebenarnya sangatlah sederhana.

Pertama bahwa bantahan-bantahan kami dan bantahan dari ikhwan kami (ulama Jazirah, -pent)sangat kuat sekali dan seluruhnya berdiri diatas kaedah dasar keilmuan yang sangat tuntas. Kami para penuntut ilmu di Jordan yang berada di Markaz Imam al-Albani pernah menulis sebuah risalah yang kami beri judul" Mujmal Masail iman al-'ilmiyyah fi Usul aqidah as-Salafiyyah". Kami telah terangkan masalah ini ? yaitu oleh Syeikh Salim Hilali pada acara Daurah tahun lalu yang bertempat di Ma'had ini (al-Irsyad-Surabaya). Semoga Allah memberikan berkah kepada kalian dalam ilmu dan ijtihad kalian.

Adapun kedua aku bertanya kepada orang-orang yang selalu berbicara mengenai tuduhan murjiah ini dan hendaknya kalian juga bertanya kepada mereka, Apa sih sebenarnya makna dari murjiah itu? Dan apa kritikan kalian terhadap Syeikh al-Albani dan para Muridnya mengenai hal tersebut? Aku memastikan bahwa mereka pasti diantara dua jawaban.

Pertama, mereka pasti akan mengatakan tidak tahu, dan hal ini pernah terjadi di negeri kami (Jordan). Seseorang mengatakan dengan lantangnya "Al-Albani Murjiah, al-Albani Murjiah" lantas seseorang bertanya kepadanya : Apa maksudnya al-Albani Murjiah ?? dia menjawab : "Aku tidak tahu apa artinya yang penting al-Albani Murjiah.

Kedua, dia akan menjawab dalam hal ini ada dua pendapat, -pendapat pertama begini dan kedua begini -yang berdasarkan kejahilan atau mencampur adukkan permasalahan atau berkata dusta. Atau perkataan yang diterangkan oleh orang setelahnya yang lebih fasih dan lebih jelas daripada perkataan orang yang pertama yang. Keadaan dan kebenaran juga yang akhirnya memutuskan agar perkataan yang lebih jelas dan lebih fasih mengadili perkataan yang masih umum. Sampai di sini dahulu salawat dan salam atas Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi wa sallam.

Pertanyaan.
Syaikh Hussain bin Abdul-Aziiz Aalu asy-Syaikh (Imaam dan Khathib Masjid Nabawi, Madinah, dan juga Hakim Mahkamah Tinggi Syari'ah di Madinah) ditanya pada tanggal 5 Rabi'ul-Awwal 1422 H, selama konferensi QSS (Quran Sunnah Society) yang diadakan di Chicago, Illinois, dengan pertanyaan berikut: "Fadhilatusy-Syaikh – semoga Allaah memberikan balasan kepada Anda –apa pandangan Anda mengenai fatwa yang dikeluarkan oleh Al-Lajnah Ad-Daaimah berkenaan dengan dua kitab yang ditulis oleh Syaikh Ali [Hasan al-Halabi], "at-Tahdziir" dan "Shaihatu Nadziir", di mana keduanya menyerukan kepada madzhab Al-Irja' yang mana perbuatan itu bukanlah termasuk kesempurnaan iman, sementara mengingat kembali bahwa kitab ini bahkan tidak memuat pembahasan mengenai persoalan akan syarat sahnya atau syarat sempurnanya iman? Juga sudahkah Al-Lajnah membaca kitab-kitab Syaikh Ali tersebut atau cukupkah dengan pandangan atau penyelidikan orang lain? Jazaakumullahu khairan.

Jawaban
Pertama-tama, wahai saudaraku! Syaikh Ali dan Syaikh-syaikh yang lain (dari Al-Lajnah) adalah dalam kesatuan dan kesesuaian. Dan Syaikh Ali adalah ikhwah senior dan dituakan, dari kebanyakan Masyaayikh, yang telah mengeluarkan putusan tersebut. Dan beliau mengenal mereka dan mereka pun mengenal beliau, dan mereka saling mencintai. Dan Syaikh Ali sungguh telah diberikan – Alhamdulillah – ilmu dan bashiirah yang memungkinkan beliau benar-benar menghadapi masalah yang terjadi antara beliau dengan Masyayaikh ini dengan berlandaskan ilmu, dan kebenaran akan hal ini sedang dijernihkan.

Mengenai Syaikh Ali dan guru beliau, Syaikh al-Albaani - semoga Allah memberikah rahmat kepadanya dengan rahmat yang luas, maka mereka adalah orang-orang yang berada di atas manhaj As-Sunnah dan tidak ada keraguan mengenai mereka, bahwa mereka berada di atas manhaj yang sesuai dan menyenangkan, Alhamdulillah.

Dan Syaikh Ali merupakan di antara orang-orang yang membela manhaj Ahlus-Sunnah wal-Jamaaah - Alhamdulillah. Fatwa tersebut (dari Lajnah Daaimah)tidaklah menyatakan bahwa Syaikh (Ali) adalah seorang Murji (penganut faham Murjiah) - Allaah melarang untuk menyatakan seperti itu. Lebih dari itu, fatwa tersebut membantah Syaikh Ali berkenaan denganapa yang ada di dalam kitab(Syaikh Ali), dan juga menggugatnya berkaitan dengan hal ini.

Dan banyak orang yang berharap akan memperoleh hasil dari gugatan fatwa ini yakni vonis/keputusan atas Syaikh Ali bahwa beliau adalah seorang Murji. Selama ini saya belum memahami akan hal ini dan saya juga berfikir bahwa saudara-saudara saya (para Masyayaikh) tidak memahami hal ini (harapan orang akan putusan tersebut). Dan ini (yakni fatwa ini) tidak merubah apa yang ada di antara Syaikh Ali dan para Masyayaikh tersebut (yakni saling mencintai dan menghormati). Karena mereka (para Masyaayaikh Al-Lajnah Ad-Daaimah) menghormati dan memuliakan beliau (Syaikh Ali).

Dan Syaikh Ali telah menulis jawaban ilmiah terhadap mereka "al- Ajwibat al-Mutalaaimah `alaa Fatwaa al-Lajnah ad-Daaimah", yang sesuai dengan apa yang Salaf Hadzihil Ummah (Pendahulu Umat Ini) berada di atasnya, yang mana tidak ada seorangpun di antara kita kecuali bahwa ia seorang yang mengambil atau memberikan (ucapan) dan setiap orang dapat diambil atau ditinggalkan ucapannya, kecuali penghuni kubur ini, yakni Rasulullah (Shallallaahu alaihi wa sallam) – sebagaimana telah dikatakan oleh Asy-Syafi'i atau Imaam Maalik:

"Segala perkataan dapat diambil dan dapat ditolak, kecuali apa yang datang dari Rasulullah"

Dan saya menganggap bahwa Syaikh Ali akan setuju denganku bahwa Lajnah (Daimah) tidak mengatakan – sebagaimana yang sering dinyatakan mengenainya (yakni Syaikh Ali) bahwa Syaikh Ali adalah seorang Murji' (penganut faham Murjiah)! Tidak sama sekali. Mereka (Lajnah Daimah) tidaklah mengatakan hal ini. Mereka hanya menggugat apa yang ada di dalam buku tersebut! Dan untuk apakah jenis penggugatan di antara para Salaf ini, tidak lain untuk kecintaan akan ilmu As-Sunnah dan untuk menjaganya. Lebih lagi, perselisihan ini hanya mengenai sebagian kecil dari buku tersebut.

Samahatusy-Syaikh Abdul-Aziiz Aalu asy-Syaikh adalah di antara orang- rang yang mencintai Syaikh Ali - dan saya mengetahuinya - dan beliau menghormatinya dan juga berdo’a baginya, dan bahkan setelah Syaikh Ali bertemu dengan Samahatusy-Syaikh.

Apabila orang menerima fatwa ini dan kemudian bergembira dengannya –karena sesuai dengan mereka - dan mereka tidak menerima apa yang idak bersesuaian dengan mereka, maka ini adalah cara Ahlul-Bid'ah.

[Disalin dari tanya jawab dalam konferensi QSS (Quran Sunnah Society) pada tanggal 5 Rabi'ul-Awwal 1422 H, yang diadakan di Chicago, Illinois, diterjemahkan dari bahasa inggris ke bahasa Indonesia oleh her_tris@yahoo.com]

« Edit Terakhir: 13 Januari 2008, 12:06:27 oleh fei shin muslim »
Karena Al Haq itu Lebih kami Cintai

Akan lahir dari ilmu: kemuliaan walaupun orangnya hina, kekuatan walaupun orangnya lemah, kedekatan walaupun orangnya jauh, kekayaan walaupun orangnya fakir, dan kewibawaan walaupun orangnya tawadhu'

Wahab bin Munabbih - rahimahullah

Offline Ansh4r

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2007
  • Tulisan: 2.151
  • Cukuplah Al Quran dan Sunnah Sebagai Pedoman
    • Lihat Profil
« Jawab #31 pada: 13 Januari 2008, 11:50:13 »
ataskuh..hahaha mulai lagi..........

coba dehh kl emang beneran mo ikut manhaj salaf..pake fatwa  lajnah daimah semuanya jgn cuma yg itu............

syaikh ali hasan juga udah memberi penjelasan pada lajnah daimmah (udah pernah ane bilang,cari aja ndiri...)

dasar ndablekkkk........

cari sendiri ??? cari bantahannya hsan halaby dah ada bantahannya lagi tuh cari di google hhehe..

sebenernye seh mau diskusi serius tapi karena fei shin dikit dikit google yah berenti disitu emang ilmunya hehehe

Sebenernye pointnye ada tiga diatas dijawab cuman atu dengan landasan google lage

Offline fei shin muslim

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 2.440
  • Lokasi: klaten-bandung-jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • Hanya manusia biasa
    • Lihat Profil
« Jawab #32 pada: 13 Januari 2008, 12:12:39 »
cari sendiri ??? cari bantahannya hsan halaby dah ada bantahannya lagi tuh cari di google hhehe..

sebenernye seh mau diskusi serius tapi karena fei shin dikit dikit google yah berenti disitu emang ilmunya hehehe

Sebenernye pointnye ada tiga diatas dijawab cuman atu dengan landasan google lage

ilmu ana emang masih sangat sedikit sekali banget kl dibandingkan dengan para ustadz dan ulama...,dan ana sadar akan hal itu......

kl ilmu antum lebih tinggi harusnya antum tau itu kebenaran...bisa membdakan mana kebenaran dan mana kebathilan......,ana ga bakalan bilang ilmu antum sedikit ......

coba akhi.....renungkan.....selama ini kita masih sombonng dihadapan kebenaran atau tidak....

ana bertaubat kl bersikap sombong diatas kebenaran.............

ya ustadz anshar.......kembalilah pada manhaj salaf.......pasti mau...iya kan........hehehehe.........
Karena Al Haq itu Lebih kami Cintai

Akan lahir dari ilmu: kemuliaan walaupun orangnya hina, kekuatan walaupun orangnya lemah, kedekatan walaupun orangnya jauh, kekayaan walaupun orangnya fakir, dan kewibawaan walaupun orangnya tawadhu'

Wahab bin Munabbih - rahimahullah

Offline Ansh4r

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2007
  • Tulisan: 2.151
  • Cukuplah Al Quran dan Sunnah Sebagai Pedoman
    • Lihat Profil
« Jawab #33 pada: 13 Januari 2008, 15:40:30 »
Kutip
MENYIKAPI FITNAH DAN TUDUHAN MURJI’AH

Pertanyaan.
Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Al-Halaby Al-Atsary ditanya : Aku membaca sebuah buku yang berjudul " Raf'ul la'imah 'an fatwa lajnah ad-daimah karya Syeikh Muhammad Ibn Salim ad-Dausari, apa komentar anda tentang buku ini dan penulisnya? Apa nasehat anda kepada kami penuntut ilmu dalam menyikapi fitnah irja' yang membuat goncang pemikiran ?

Jawaban.
Buku ini penuh dengan kebatilan dari alif-nya hingga ya-nya (seluruhnya -peny), penuh kebatilan dari segi isinya dan penukilan-penukilan yang terdapat dalamnya, batil dari segi alur pikirannnya. Adapun rincian bantahan ini di dalam bukuku yang hampir selesai dicetak yang kuberi judul" at-Tanbihat al-Mutawaimahfi nusrati al-ajwibati al-mutalaimah fi ar-raddi 'ala raf'i al-laimah" Dalam buku ini kuterangkan dengan rinci berbagai macam tahrif / penyimpangan yang telah ditulis oleh penulis yang jahil ini baik dalam bentuk ucapan-ucapan maupun penukilan-penukilannya, setelah itu aku membantah berbagai macam bantahannya yang sebenarnya sedikitpun tidak memiliki bobot. Semoga ikhwan mau sedikit bersabar berhubung waktu yang tidak memungkinkan terpaksa kuterangkan secara sangat global.

Adapun nasehatku kepada penuntut ilmu dalam menyikapi fitnah tuduhan murjiah (terhadap Syeikh al-Albani, -pent) belakangan ini yang membingungkan pikiran, sebenarnya sangatlah sederhana.

Pertama bahwa bantahan-bantahan kami dan bantahan dari ikhwan kami (ulama Jazirah, -pent)sangat kuat sekali dan seluruhnya berdiri diatas kaedah dasar keilmuan yang sangat tuntas. Kami para penuntut ilmu di Jordan yang berada di Markaz Imam al-Albani pernah menulis sebuah risalah yang kami beri judul" Mujmal Masail iman al-'ilmiyyah fi Usul aqidah as-Salafiyyah". Kami telah terangkan masalah ini ? yaitu oleh Syeikh Salim Hilali pada acara Daurah tahun lalu yang bertempat di Ma'had ini (al-Irsyad-Surabaya). Semoga Allah memberikan berkah kepada kalian dalam ilmu dan ijtihad kalian.

Adapun kedua aku bertanya kepada orang-orang yang selalu berbicara mengenai tuduhan murjiah ini dan hendaknya kalian juga bertanya kepada mereka, Apa sih sebenarnya makna dari murjiah itu? Dan apa kritikan kalian terhadap Syeikh al-Albani dan para Muridnya mengenai hal tersebut? Aku memastikan bahwa mereka pasti diantara dua jawaban.

Pertama, mereka pasti akan mengatakan tidak tahu, dan hal ini pernah terjadi di negeri kami (Jordan). Seseorang mengatakan dengan lantangnya "Al-Albani Murjiah, al-Albani Murjiah" lantas seseorang bertanya kepadanya : Apa maksudnya al-Albani Murjiah ?? dia menjawab : "Aku tidak tahu apa artinya yang penting al-Albani Murjiah.

Kedua, dia akan menjawab dalam hal ini ada dua pendapat, -pendapat pertama begini dan kedua begini -yang berdasarkan kejahilan atau mencampur adukkan permasalahan atau berkata dusta. Atau perkataan yang diterangkan oleh orang setelahnya yang lebih fasih dan lebih jelas daripada perkataan orang yang pertama yang. Keadaan dan kebenaran juga yang akhirnya memutuskan agar perkataan yang lebih jelas dan lebih fasih mengadili perkataan yang masih umum. Sampai di sini dahulu salawat dan salam atas Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi wa sallam.

Pertanyaan.
Syaikh Hussain bin Abdul-Aziiz Aalu asy-Syaikh (Imaam dan Khathib Masjid Nabawi, Madinah, dan juga Hakim Mahkamah Tinggi Syari'ah di Madinah) ditanya pada tanggal 5 Rabi'ul-Awwal 1422 H, selama konferensi QSS (Quran Sunnah Society) yang diadakan di Chicago, Illinois, dengan pertanyaan berikut: "Fadhilatusy-Syaikh – semoga Allaah memberikan balasan kepada Anda –apa pandangan Anda mengenai fatwa yang dikeluarkan oleh Al-Lajnah Ad-Daaimah berkenaan dengan dua kitab yang ditulis oleh Syaikh Ali [Hasan al-Halabi], "at-Tahdziir" dan "Shaihatu Nadziir", di mana keduanya menyerukan kepada madzhab Al-Irja' yang mana perbuatan itu bukanlah termasuk kesempurnaan iman, sementara mengingat kembali bahwa kitab ini bahkan tidak memuat pembahasan mengenai persoalan akan syarat sahnya atau syarat sempurnanya iman? Juga sudahkah Al-Lajnah membaca kitab-kitab Syaikh Ali tersebut atau cukupkah dengan pandangan atau penyelidikan orang lain? Jazaakumullahu khairan.

Jawaban
Pertama-tama, wahai saudaraku! Syaikh Ali dan Syaikh-syaikh yang lain (dari Al-Lajnah) adalah dalam kesatuan dan kesesuaian. Dan Syaikh Ali adalah ikhwah senior dan dituakan, dari kebanyakan Masyaayikh, yang telah mengeluarkan putusan tersebut. Dan beliau mengenal mereka dan mereka pun mengenal beliau, dan mereka saling mencintai. Dan Syaikh Ali sungguh telah diberikan – Alhamdulillah – ilmu dan bashiirah yang memungkinkan beliau benar-benar menghadapi masalah yang terjadi antara beliau dengan Masyayaikh ini dengan berlandaskan ilmu, dan kebenaran akan hal ini sedang dijernihkan.

Mengenai Syaikh Ali dan guru beliau, Syaikh al-Albaani - semoga Allah memberikah rahmat kepadanya dengan rahmat yang luas, maka mereka adalah orang-orang yang berada di atas manhaj As-Sunnah dan tidak ada keraguan mengenai mereka, bahwa mereka berada di atas manhaj yang sesuai dan menyenangkan, Alhamdulillah.

Dan Syaikh Ali merupakan di antara orang-orang yang membela manhaj Ahlus-Sunnah wal-Jamaaah - Alhamdulillah. Fatwa tersebut (dari Lajnah Daaimah)tidaklah menyatakan bahwa Syaikh (Ali) adalah seorang Murji (penganut faham Murjiah) - Allaah melarang untuk menyatakan seperti itu. Lebih dari itu, fatwa tersebut membantah Syaikh Ali berkenaan denganapa yang ada di dalam kitab(Syaikh Ali), dan juga menggugatnya berkaitan dengan hal ini.

Dan banyak orang yang berharap akan memperoleh hasil dari gugatan fatwa ini yakni vonis/keputusan atas Syaikh Ali bahwa beliau adalah seorang Murji. Selama ini saya belum memahami akan hal ini dan saya juga berfikir bahwa saudara-saudara saya (para Masyayaikh) tidak memahami hal ini (harapan orang akan putusan tersebut). Dan ini (yakni fatwa ini) tidak merubah apa yang ada di antara Syaikh Ali dan para Masyayaikh tersebut (yakni saling mencintai dan menghormati). Karena mereka (para Masyaayaikh Al-Lajnah Ad-Daaimah) menghormati dan memuliakan beliau (Syaikh Ali).

Dan Syaikh Ali telah menulis jawaban ilmiah terhadap mereka "al- Ajwibat al-Mutalaaimah `alaa Fatwaa al-Lajnah ad-Daaimah", yang sesuai dengan apa yang Salaf Hadzihil Ummah (Pendahulu Umat Ini) berada di atasnya, yang mana tidak ada seorangpun di antara kita kecuali bahwa ia seorang yang mengambil atau memberikan (ucapan) dan setiap orang dapat diambil atau ditinggalkan ucapannya, kecuali penghuni kubur ini, yakni Rasulullah (Shallallaahu alaihi wa sallam) – sebagaimana telah dikatakan oleh Asy-Syafi'i atau Imaam Maalik:

"Segala perkataan dapat diambil dan dapat ditolak, kecuali apa yang datang dari Rasulullah"

Dan saya menganggap bahwa Syaikh Ali akan setuju denganku bahwa Lajnah (Daimah) tidak mengatakan – sebagaimana yang sering dinyatakan mengenainya (yakni Syaikh Ali) bahwa Syaikh Ali adalah seorang Murji' (penganut faham Murjiah)! Tidak sama sekali. Mereka (Lajnah Daimah) tidaklah mengatakan hal ini. Mereka hanya menggugat apa yang ada di dalam buku tersebut! Dan untuk apakah jenis penggugatan di antara para Salaf ini, tidak lain untuk kecintaan akan ilmu As-Sunnah dan untuk menjaganya. Lebih lagi, perselisihan ini hanya mengenai sebagian kecil dari buku tersebut.

Samahatusy-Syaikh Abdul-Aziiz Aalu asy-Syaikh adalah di antara orang- rang yang mencintai Syaikh Ali - dan saya mengetahuinya - dan beliau menghormatinya dan juga berdo’a baginya, dan bahkan setelah Syaikh Ali bertemu dengan Samahatusy-Syaikh.

Apabila orang menerima fatwa ini dan kemudian bergembira dengannya –karena sesuai dengan mereka - dan mereka tidak menerima apa yang idak bersesuaian dengan mereka, maka ini adalah cara Ahlul-Bid'ah.

[Disalin dari tanya jawab dalam konferensi QSS (Quran Sunnah Society) pada tanggal 5 Rabi'ul-Awwal 1422 H, yang diadakan di Chicago, Illinois, diterjemahkan dari bahasa inggris ke bahasa Indonesia oleh her_tris@yahoo.com]


Bantahannya terlalu umum, bukankah salafy menolak pembelaan kepada beberapa tokoh seperti hasan al banna dan sayyid qutb oleh syaikh jibrin dengan alasan pembelaannya bersifat umum ?, sekarang salafy menjilat ludahnya sendiri dengan pembelaan yang bersifat umum.

Kita lihat bunyi fatwanya:

FATWA AL-LAJNAH AD DAIMAH TENTANG ALI HASAN AL HALABY
Fatwa Nomor:21517, Tanggal 14/06/1421 H

Segala puji hanyalah milik Allah Ta'ala. Semoga shalawat dan salam sejahtera senantiasa terlimpah kepada seorang Nabi yang tidak ada nabi lagi sesudahnya. Amma ba'du:
Sesungguhnya Komisi Tetap Riset Ilmiyyah dan Fatwa telah  meniliti surat yang diterima oleh yang mulia Mufti Umum, yang dikirimkan oleh sebagian pemberi nasihat dari permintaan fatwa yang ditujukan kepada Majelis Umum Dewan Ulama Senior No.2928, tanggal 13/05/1421 H, perihal dua kitab yang berjudul" at-Tahdzir min Fitnah at- Takfir" dan "Shayhah Nadzir", keduanya dihimpun oleh Ali Hasan al Halabiy. Kedua kitab tersebut ternyata menyerukan kepada madzhab Irja' yang berpandangan bahwa amal perbuatan tidak termasuk syarat sahnya iman. pendapat ini dalam kitab tersebut disandarkan madzhab ahlusunnah wal jama'ah. kedua kitab mendasarkan pandanganya dengan memberikan penukilan yang telah diselewengkan dari syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnu Katsir, dan ulama' lainnya rahimahumullah. Oleh karena itu, para pemberi nasihat berharap mendapat penjelasan tentang kedua kitab tersebut, agar pembaca dapat mengetahui kebenaran dan menjauhi kebathilan.
Setelah lajnah (Komisi) mempelajari dan menelaah kedua kitab tersebut, jelaslah bagi lajnah bahwa kitab " at-Tahdzir min Fitnah at-Takfir" dan "Shayhah Nadzir", keduanya dihimpun oleh Ali Hasan al Halabiy, serta adanya tambahan beberapa pendapat dari para ulama' dalam muqoddimah dan catatan kakinya, maka keduanya mengandung unsur-unsur sebagai berikut:
1. Penyusun melandaskan kitab tersebut berdasarkan kepada madzhab MURJI"AH yang bid'ah lagi bathil, yang membatasi terjadinya kekufuran hanya terjadi pada Kufr al-Juhud (kufur karena penentangan), at Takdzib (kufur karena mendustakan) dan al istihlal al qalbiy (kufur karena adanya penghalaln didalam hati), seperti yang termuat pada hal.6 footnote 2 dan hal.22. Pandangan ini bertentangan dengan manhaj ahlussunnah wal jama'ah yang menetapkan bahwa kufur dapat terjadi pada i'tiqod (keyakinan), perkataan, perbuatan ataupun karena keraguan.
2. Menyelewengkan penukilan dari Imam Ibnu Katsir rahimahulah dalam kitab al-Bidayah wa an-Nihayah 13/118, dimana dalam footnote hal.15 penyusun menukil perkataan Ibnu Katsir bahwa "Jengis Khan mengaku bahwa Yasiq berasal dari Allah, dan ini adalah sebab kekufurannya". setelah merujuk pada kitab Ibnu Katsir yang dimaksud, ternyata tidak didapati kalimat tersebut.
3. Kebohongan penyusun terhadap Syaikh Islam Ibnu Taymiyah rahimahullah pada hal.17-18, dimana penyusun menisbatkan kepada beliau bahwa penggantian hukum tidak menjadi kufur kecuali didasari oleh pengetahuan, i'tiqod dan istihlal. Hal ini merupakan kedustaan terhadap Syaikh Islam Ibnu Taymiyyah rahimahullah, padahal beliau adalah penyebar madzhab Ahlus Sunnah wal Jama'ah, sedangkan madzhab mereka (termasuk penyusun) sebagaimana diketahui bersama adalah membawa madzhab murji'ah.
4. Penyusun menyelewengkan maksud dari perkataan Syaikh Muhammad bin Ibrahim rahimahullah dalam risalah Tahkim al- Qawanin al Wad'iyyah, dimana penyususn menuduh syaikh bahwa beliau mensyaratkan adanya istihlal al qalbiy. padahal perkataan syaikh sangat jelas dan gamblang sekali, seterang cahaya sinar matahari, dan selaras dengan madzhab ahlus sunnah wal jama'ah.
5. Komentar penyusun tentang perkataan para ulama'  dengan maksud yang tidak pernah dikehendaki oleh  mereka, seperti pada hal. 108 footnote 1, hal.109 footnote 21, dan hal. 110 footnote 2.
6. Di dalam kitab tersebut, mengandung sikap meremehkan terhadap kasus berhukum tidak kepada hukum Allah Subhanahu wa Ta'ala, khususnhya pada hal. 5 footnote 1, dimana penyusun beranggapan bahwa memberikan perhatian bagi terwujudnya tauhid dalam masalah hukum merupakan sikap yang sama persis dengan kelompok Syiah Rafidhah. Hal ini adalah kekeliruan yang sangat besar sekali.
7. Setelah  meniliti risalah kedua, yaitu " Shayhah Nadzir", ternyata didapati bahwa risalah tersebut hanyalah dukungan terhadap kitab sebelumnya ( at-Tahdzir min Fitnah at-Takfir'). Oleh karena itu, maka lajnah daimah  berkesimpulan pandang, bahwa kedua kitab tersebut tidak boleh (tidak layak) dicetak, disebarluaskan dan dikonsumsi sebagai bacaan, karena didalamnya mengandung kebathilan dan juga penyelewengan. Kami menasihati penyusunnya agar bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, baik terhadap dirinya maupun terhadap kaum muslimin (yang sesat karenanya), terutama para pemuda. Hendaknya penyusun bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu syar'i dengan berguru langsung kepada para ulama' yang terpercaya keilmuan dan kelurusan aqidahnya. Ilmu adalah amanat, yang tidak boleh didakwahkan kecuali bila selaras dengan al-kitab dan as-Sunnah. dan Penyusun pun hendaknya membuang jauh-jauh pandangan dan sikapnya yang hobi menyelewengkan perkataan para ulama. Telah dimaklumi bahwa ruju' (kembali) kepada kebenaran adalah sebuah kemuliyaan, sekaligus merupakan kehormatan dan harga diri bagi seorang muslim.
Hanya Allahlah yang maha memberikan taufiq. semoga shalawat dan salam sejahtera senantiasa melimpah kepada Nabi kita, Muhammad Shallaahu alahi wa sallama, keluarga dan juga para sahabatnya.

Komisi Tetap Riset Ilmiyyah dan Fatwa
Ketua: Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Muhammad Alu Syaikh
Anggita: Syaikh 'Abdullah bin 'Abdurrahman al-Ghudyan, Syaikh Shalih bin Fawzan al Fawzan, Syaikh Bakar bin Abdillah Abu Zayd.


Jadi mana yang rinci dan mana yang berlindung dibawah ketek ulama untuk menyebarkan paham murjiahnya

Offline Ansh4r

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2007
  • Tulisan: 2.151
  • Cukuplah Al Quran dan Sunnah Sebagai Pedoman
    • Lihat Profil
« Jawab #34 pada: 13 Januari 2008, 15:45:19 »
Kutip
ilmu ana emang masih sangat sedikit sekali banget kl dibandingkan dengan para ustadz dan ulama...,dan ana sadar akan hal itu......

kl ilmu antum lebih tinggi harusnya antum tau itu kebenaran...bisa membdakan mana kebenaran dan mana kebathilan......,ana ga bakalan bilang ilmu antum sedikit ......

Heheh dah ana bilang ane gak keberatan disebut muqalid tapi yah nt sendiri yang sombong bilang orang lain taklid lid lid, nah nt sendiri apa ?

yah mungkin nt ilmunya lebih tinggi dari ane, tapi orang yang berilmu bisa salah, ane ngingetin dan nt juga gak usah merasa sombong kalau diingetin dengan berselimut ini untuk salafy saja, itukan cermin orang sombong bukan begitu ?

Kutip
coba akhi.....renungkan.....selama ini kita masih sombonng dihadapan kebenaran atau tidak....

ana bertaubat kl bersikap sombong diatas kebenaran.............

ya ustadz anshar.......kembalilah pada manhaj salaf.......pasti mau...iya kan........hehehehe.........

Ana selalu berusaha berjalan diatas manhaj salaf tapi sangat jauh berbeda dengan manhaj murjiah yang mengaku ngaku pengikut manhaj salaf, jadi ayo kita tinggalkan murjiah kembali kepaham yang diajarkan ulama salaf..

Offline ikhsanrindu

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Jan 2008
  • Tulisan: 95
    • Lihat Profil
« Jawab #35 pada: 13 Januari 2008, 20:25:44 »
saya bingung dg sikap orang salafy. mereka selalu mengatakan mereka tidak punya imam, dan selalu menganggap diri mereka berada di pertengahan (emangnya sifat2 orang2 islam yang berada dipertengahan seperti ini?) dan selalu membiaskan seluruh fatwa yg berhubungan dg jamaahnya, bahkan mereka tidak menganggap bahwa kumpulan mereka bukan harakah!
saya jadi teringat politiknya suharto ketika membangun golkar, dg menganggap organisasi yg dibangunnya bukan partai tetapi ikut kegiatan politik bahkan pemilu!!!
Mereka ini memiliki sikap yg sama, bahkan dg menganggap tidak memiliki imam di dlm perkumpulannya membuat saya berfikir : ini orang belajar islam tapi tidak punya imam, jelas orang-orang ini seharusnya patut dipertanyakan ilmu keagamaannya!

Offline irzan

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Sep 2007
  • Tulisan: 1.348
  • Lokasi: jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • apakah engkau tidak punya rasa malu ?
    • Lihat Profil
« Jawab #36 pada: 14 Januari 2008, 14:29:21 »
dalam thread yang di buat abu jauzaa ada penjelasan, bahwa yang di tuliskan dalam kitab itu yang menyebabkan keluarnya fatwa murji'ah adalah tentang tidak mengkafirkannya beliau kepada orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja namun masih mengakui kewajiban perintah sholat, dan ini sesuai dengan oendapat ayng dikemukakan oleh imam syafi'i (dan ini juga yang kupegang). jadi jika karena ketidak mauanku mengkafirkan orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja, namun dia masih mengakui kewajibannya dianggap sebagai murjiah, maka aku lebih suka di sebut murjiah, dan jika engkau ingin mengkafirkan saudaramu yang meninggalkan sholat karena kemalasannya, maka silahkan saja, apakah anda mengkafirkan mereka ?
aku keluar

Offline izzulIslam

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2007
  • Tulisan: 137
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #37 pada: 14 Januari 2008, 21:07:21 »
salafi sok iye ngafirin ulama2.....
memang ulama2 mereka punya jasa apa dalam penegakan daulah Islam??
apa mereka pernah mendpat siksaan para penguasa lalim???
apa mereka pernah melakukan sprt apa yg dilakukan ikhwan2 kita imam samudra, muklas dan amrozi yg menyebabkan kemarahan org2 kafir dalam melaksanakan ayat:

"Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badwi yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik" (QS: at-Taubah ayat 120)
Ya Alloh berilah rahmat kemenangan kepada mujahidin dimana saja mereka berada. Lemparkanlah kepada musuh2 mereka kekalahan dan kerugian yg besar.Tegakkanlah kekhalifahanMu di muka bumi. Hancurkanlah sistem kebatilan.Karena jika sistem kebatilan itu tegak makayg ada kesesatan dan kesengsaraan manusia

Offline saifullah azzam

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Jan 2008
  • Tulisan: 75
    • Lihat Profil
« Jawab #38 pada: 15 Januari 2008, 08:02:21 »
salafi sok iye ngafirin ulama2.....
memang ulama2 mereka punya jasa apa dalam penegakan daulah Islam??
apa mereka pernah mendpat siksaan para penguasa lalim???
apa mereka pernah melakukan sprt apa yg dilakukan ikhwan2 kita imam samudra, muklas dan amrozi yg menyebabkan kemarahan org2 kafir dalam melaksanakan ayat:

"Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badwi yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik" (QS: at-Taubah ayat 120)

akhi yang baik..kalo masalahnya hanya menyebabkan kemarahan orang kafir,, itu perkara yang semua muslim (baik yang baik maupun yang buruk) bisa dengan mudah melakukannya.. masalahnya, ayat diatas bukanlah dukungan terhadap tindakan anarkis yang (mungkin) dilakukan oleh imam samudra cs. ana tidak membenci imam sumadra,amrozi,dan teman-temannya, bahkan ana mencintainya karna Allah. namun jika memang benar jika imam samudra cs melakukan pengeboman di bali, ana dengan tegas menolak kebenaran tindakan tersebut sebagai tindakan jihad. Allah Subhanahu wa Ta'la berfirman tentang orang-orang kafir –yang memiliki perjanjian perlindungan dalam hukum pemubunuhan tidak disengaja-

"Artinya : Dan jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang mukmin" [An-Nisa : 92]

jika membunuh seorang kafir yang memiliki perlindungan terhadap kemanannya saja dikenakan diyat dan kafarat, bagaimana jika ia (kafir) dibunuh secara sengaja ? Jika demikian tindakan tersebut lebih parah dan dosanya lebih besar.

Dan telah shahih dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda.

"Artinya : Barangsiapa yang membunuh orang yang dalam perjanjian maka ia tidak akan mencium bau surga" [Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitab Al-Jizyah, bab Itsmun Man Qatala Muahidan Bighairi Jarmin, hadits no. 3166]

sedangkan orang-orang yang terbunuh di Bali merupakan orang-orang yang berada dalam perlindungan negara ini. adapun perbuatan pengeboman hendaknya dilakukan dimedan pertempuran, bukan di negeri yang aman ini. semoga Allah memaafkan kekeliruan mereka dan memberikan mereka pemahaman yang benar.


Offline awal

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2007
  • Tulisan: 26
    • Lihat Profil
« Jawab #39 pada: 15 Januari 2008, 09:06:44 »
sejarah mengatakan bahwa demokrasi yang terhebat yang pernah dilaksanakan adalah pada jamannya Nabi Muhammad SAW O0

Offline bakekok

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2007
  • Tulisan: 1.554
  • TONG NUNGGUAN "UCING ENDOGAN, HAYAM ANAKAN"
    • Lihat Profil
« Jawab #40 pada: 15 Januari 2008, 14:37:26 »
kalau hukum pidana islam diterapkan, yg artinya qishos berlaku, amroji itu harus di pancung karena membunuh. apalag1 yg di bunuh banyak umat islam.

Offline izzulIslam

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2007
  • Tulisan: 137
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #41 pada: 15 Januari 2008, 20:24:11 »

namun jika memang benar jika imam samudra cs melakukan pengeboman di bali, ana dengan tegas menolak kebenaran tindakan tersebut sebagai tindakan jihad. Allah Subhanahu wa Ta'la berfirman tentang orang-orang kafir –yang memiliki perjanjian perlindungan dalam hukum pemubunuhan tidak disengaja-

"Artinya : Dan jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang mukmin" [An-Nisa : 92]

jika membunuh seorang kafir yang memiliki perlindungan terhadap kemanannya saja dikenakan diyat dan kafarat, bagaimana jika ia (kafir) dibunuh secara sengaja ? Jika demikian tindakan tersebut lebih parah dan dosanya lebih besar.

Dan telah shahih dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda.

"Artinya : Barangsiapa yang membunuh orang yang dalam perjanjian maka ia tidak akan mencium bau surga" [Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitab Al-Jizyah, bab Itsmun Man Qatala Muahidan Bighairi Jarmin, hadits no. 3166]

sedangkan orang-orang yang terbunuh di Bali merupakan orang-orang yang berada dalam perlindungan negara ini. adapun perbuatan pengeboman hendaknya dilakukan dimedan pertempuran, bukan di negeri yang aman ini. semoga Allah memaafkan kekeliruan mereka dan memberikan mereka pemahaman yang benar.


Barat yg diwakili amerika, inggris, australia, dll TDK MEMILIKI PERJANJIAN DAMAI DENGAN NEGERI ISLAM...
adapun yg anda maksud negeri SEKULER KAFIR indonesia ini ketahuilah: indonesia bukan negeri Islam (daulah Islam) tapi adalah negeri kafir karena tidak menerapkan aqidah(sistem) dan syari'at Islam!!
Sedangkan daulah2 Islam yg ada seperti daulah Islam FIl Iraq, Daulah Islam Fil Afghan, Daulah Islam Fil Somalii, Daulah Islam Fil Kaukasus menyatakan PERANG dengan negara2 kapitalis....

sejarah mengatakan bahwa demokrasi yang terhebat yang pernah dilaksanakan adalah pada jamannya Nabi Muhammad SAW O0

bedakan antara demokrasi dengan syuro dalam Islam. Syuro dalam Islam tidak memusyawarahkan hal2 yg sudah jelas hukumnya dalam sumber2 hk. Islam, yaitu Alquran, Assunnah dan Ijma' Shohabat. Tapi yg diluar hal tsb seperti taktik, pemimpin, dsb.....
demokrasi umurnya lebih tua dari lahirnya Islam yg dibawa Rosul, bicara demokrasi berarti tak lepas dari sejarah dan pembuatnya, yaitu yunani dan romawi kuno, misal yg dipraktekkan oleh julius cesar...
demokrasi dalam pengertian mereka bahwa kekuasaan tertinggi di tangan rakyat.. bukan Alloh SWT.
Jadi jelas Rosullulloh tidak menggunakan demokrasi walau dipakai oleh kafir romawi saat itu.....

kalau hukum pidana islam diterapkan, yg artinya qishos berlaku, amroji itu harus di pancung karena membunuh. apalag1 yg di bunuh banyak umat islam.


jelas di sini (Indonesia) tidak berlaku hukum Islam. Jika berlaku Hk. Islam tentunya tidak ada tempat bagi kedubes2 asing yg berperang melawan teroris (baca: Islam), tidak ada orang2 asing warganegara yg memusuhi Islam berlenggak lenggok seenaknya, dan tidak ada cafe2 maksiyat seperti di Bali.....
Ya Alloh berilah rahmat kemenangan kepada mujahidin dimana saja mereka berada. Lemparkanlah kepada musuh2 mereka kekalahan dan kerugian yg besar.Tegakkanlah kekhalifahanMu di muka bumi. Hancurkanlah sistem kebatilan.Karena jika sistem kebatilan itu tegak makayg ada kesesatan dan kesengsaraan manusia

Offline bakekok

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2007
  • Tulisan: 1.554
  • TONG NUNGGUAN "UCING ENDOGAN, HAYAM ANAKAN"
    • Lihat Profil
« Jawab #42 pada: 16 Januari 2008, 11:23:34 »
jelas di sini (Indonesia) tidak berlaku hukum Islam. Jika berlaku Hk. Islam tentunya tidak ada tempat bagi kedubes2 asing yg berperang melawan teroris (baca: Islam), tidak ada orang2 asing warganegara yg memusuhi Islam berlenggak lenggok seenaknya, dan tidak ada cafe2 maksiyat seperti di Bali.....
Jadi gmana?. Kerna disini tdk diterapkan hk Islam, Amroji cs boleh membunuh muslim!. begitu?. dan kalau di hukum mati, dianggap mati syahid!. ? begitu?.

yg penting ntu, jangan pernah di hukum matinya si amroji dianggap jihad, dan matinya dianggap syahid. tapi dia itu terpidana mati baik dgn hukum yg sekarang berlaku maupun dlm kaca mata hukum islam.

Offline izzulIslam

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2007
  • Tulisan: 137
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #43 pada: 16 Januari 2008, 16:36:42 »
Sesungguhnya sasaran mereka jelas terungkap dalam pengadilan toghut..... dari pengakuan mereka sendiri. Adapun jika dalam peperangan tsb menimbulkan efek samping dari korban2 yg tidak dikehendaki mereka menjawab: "saya akan bertanggung jawab kpd Alloh akan hal ini..."
Jika ana atau siapapun dari orang Islam yg tidak sengaja terbunuh dalam aksi itu adalah SYAHID. tidak susah khan???
Dan kami yakin jika mereka2 ini dieksekusi, mereka adalah SYUHADA.Walau dimata hukum kafir sbg pelaku kejahatan.
yak... karena mereka telah berhasil menggentarkan/ menteror(turhibuu) musuh2 Alloh:

"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan/menteror musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)."
(QS Al-Anfaal:60)
Lihatlah wasiat ust. Muklas yg sangat berguna bagi kalian pada:

http://multivindo.multiply.com/photos/album/22/Wasiat_Ustad_Muklas
« Edit Terakhir: 16 Januari 2008, 16:56:40 oleh izzulIslam »
Ya Alloh berilah rahmat kemenangan kepada mujahidin dimana saja mereka berada. Lemparkanlah kepada musuh2 mereka kekalahan dan kerugian yg besar.Tegakkanlah kekhalifahanMu di muka bumi. Hancurkanlah sistem kebatilan.Karena jika sistem kebatilan itu tegak makayg ada kesesatan dan kesengsaraan manusia

Offline adi2

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 545
  • Lokasi: bandung
  • Jenis kelamin: Pria
  • punya karya apa hari ini ?
    • Lihat Profil
« Jawab #44 pada: 17 Januari 2008, 11:19:56 »
@izzul islam
benarkah orang2 kafir (AS dan sekutunya) merasa gentar dan takut terhadap apa2 yg saudara imam&amrozi lakukan dengan mengebom disana-sini????
benarkah bumi nusantara ini kalian anggap sebagai medan perang dan pemerintahnya serta negaranya kalian hardik dengan sebutan kafir?? lalu membuat kalian leluasa membuat "kerusuhan" dengan label jihad???
Bolehkah saya melihat nash yang ekplisit menyebutkan dunia ini terbelah menjadi Negeri Islam dan Negeri Kafir dan tidak ada yang ketiga selain daerah perang???

setau saya...orang2 kafir (AS dan sekutunya) tidaklah mungkin merasa takut dan gentar dengan "perilaku jihad" seperti itu.mana mungkin mereka takut pada bom sekecil itu padahal mereka punya ratusan rudal berhulu ledak nuklir....

Mana mungkin mereka merasa rugi dan miskin dengan hancurnya bangunan2 yang anda hancurkan sedangkan mereka bisa membuat ribuan tempat yang sama dengan intensitas maksiat yg lebih glamour dan besar....

Sungguh yang saya lhat adalah kepolosan cara berpikir yang begitu kentara pada sebagian kita yang senang dengan jalan "ekstrim".
mengambil teks qur'an dan sunnah nabi dan meninggalkan ruhnya.

Pola pikir dan jalan jihad seperti itu justru sangat menguntungkan agresi AS dan sekutunya, melempangkan jalannya serta memudahkan penguasannnya atas negeri2 kaum muslimin
Tahukah anda bahwa untuk menghancurkan dunia Islam , orang2 kafir itu tidak hanya memerangi dengan senjata dan bom. Senjata dan bom hanya digunakan untuk menghancurkan negara islam yang secara geopolitik layak untuk mereka serang (seperti irak, afganistan, cechnya).tapi senjata lain yg juga tak kalah efektifnya adalah dengan perang informasi dan penjajahan ekonomi.
dua senjata terakhir itu yang paling sering digunakan untuk menjajah indonesia.dan senjata untuk melawan perang semacam itu adalah dengan jihad di bidang politik, ekonomi,sosial. jihad secara kultural maupun struktural.

Lahirnya pebisnis-pebisnis besar muslim yg taat pada islam dan komit pada dakwah lebih menakutkan bagi amerika daripada bom2 anda.
Lahirnya partai politik dan organisasi/yayasan yang profesional melayani umat dan komit pada syariat lebih menggetarkan washington daripada teriakan2 tanpa amal manfaat.

Namun jihad seperti ini memang perlu kesabaran dan penuh jalan berliku.tidak sekedar duduk2 dan mengkaji panjang lebar suatu tema tsaqofah Islam lalu mengarahkan corong tajassuss pada pihak yang sedang berjuang di panggung kehidupan.

sementara gerakan "ekstrim" yang terlihat dengan kecenderungannya pada salah satu aspek kegiatan saja biasanya mudah dikenali dan bahkan dimanfaatkan untuk kepentingan imperialis asing itu.soalnya mereka punya seabrek ahli yang mengawasi setiap perkembangan kaum muslimin dari berbagai harokah, organisasi, atau partai politik dan kemudian memanfaatkan mereka demi kepentingannya.

bom-bom anda di negeri ini...wahai saudaraku...semakin membantu perang wacana orang kafir yang menyatakan bahwa kaum muslimin itu barbar dan jauh panggang dari api untuk memimpin kebudayaan dunia.
Dan yang lebih utama lagi.....apakah kontribusi gerakan seperti itu dalam dunia yg sudah serba rumit ini dan butuh solusi konkret dari kaum muslimin dengan islamnya yang katanya Rahmatan lil 'alamin

Wallahua'lam bishshawab
Memaknai yang sederhana
biar bisa mencintai apa adanya