Menikah itu sekarang hanya sekedar
keraguan ikhwan, dan
penantian akhwat…
iya gak segh?

SMASH!!! Pukul telak. Karena kek na emang gitu banyakan kasusnya. Di sesi itu juga ada segh seorang ikhwan yang bercerita tentang niatnya untuk menikah, tapi sayangnya kok belum ada sesuatu yang bisa memotivasinya untuk menyegerakan. Walo katanya dia juga udah baca koleksi-koleksi buku mas Salim yang notabene *katanya* rada berbau Aktifis yang romantis *simpulan beliau logh ya*. Nek tak pikir, mesti juga karena segh ruk mantep! Segh banyak keraguan… *gomen nek salah ya akh*
Ada juga seorang akhwat yang dari SMA udah membangun komunikasi soal menikah kepada orang tuanya. Pengennya dulu, SMA kelas 3 dah mo nikah. Tapi gak jadi. Sekarang… setelagh kuliah, melihat para ikhwan yang kadang rada aneh-aneh… dia merasa rada ilfil *ehm… semacam jijay* Walo dia sendiri merasa gak semua.
Ya… mang soal kek gini, banyak akhwat yang tak kira dah siap. Tapi stok dari ikhwan yang rada mlempem. He he… gak sebanding, makanya trus kok di simpulannya “.. keraguan ikhwan dan penantian akhwat”. Lha lom ready stock masalahnya :twisted:
Selain itu, ada juga nasehat kepada kita. Bahwa sebaiknya kita memulai komunikasi positif kepada orang tua soal menikah semenjak dini. Karena… Eh tahu gak segh, kalo ternyata kalo setelah ikhwan itu baligh, dan dirasa mampu. Maka sebenere sudah menjadi tanggung jawab seorang ikhwan untuk hidup mandiri. Istilahnya rada lupa aku, ta’lif atau apa gtu. Pada intinya mengenai tanggung jawab. Dimana ketika seorang ikhwan sudah mampu, maka sudah tidak wajib lagi bagi orang tua untuk membiayai hidupnya, adapun masih, itu adalah sedekah. Untuk akhwat, baru lepas dari kewajiban orang tua setelah dia menikah. Baru tahu juga aku tadi, ternyata….
Jadi rada termotivasi untuk terus maju, dan membangun komunikasi soal menyegerakan menikah kepada orang tua

. Oh ya, sebelum yang ini tadi… ada juga soal ba’ah yang ada di hadits riwayat Bukhori dan Muslim. Mampu (ba’ah) yang dimaksud dalam hal ini apa segh? Begitu inti diskusnya. Ada salah satu rekan yang berpendapat bahwa ba’ah yang sering disebutkan di buku-buku mas Salim adalah ba’ah dalam arti “kemampuan biologis”. Hem… iya emang yang ini ada benarnya. Tapi juga harus diikuti dengan kemapuan yang lain. Bai de wai juga, tadi pas blogwalking aku nemu beberapa persiapan yang perlu dilihat sebelum menikah. this!
Ya begitulah menikah, emang sudah saatnya dipikirkan. Terutama ditengah budaya masyarakat sekarang yang arghhhh… entah mo di kasih istilah apa lagi. Entah kapan semua ini bermulai. Sampe dulu juga sempat tercetus niatan untuk melakukan ini, sebagai pembuktian kepada sekitar bahwa… inilah solusi yang telah islam gariskan agar selamat. Tapi, afwan…. masih kepentok.
Terakhir, kita diingatkan. Bahwa menikah bukanlah satu-satunya solusi. Karena dengan menikah sebenere kita justru akan berhadapan dengan masalah-masalah yang lebih besar dan lebih kompleks dari apa yang kita alami sebelumnya. Hanya saja, masalah-masalah itu mendewasakan. So, buat yang masih bermasalah. Ati-ati aja ya…. ahsannya mending memperbaiki dulu *kek yang nulis*.
Semoga dengan tulisan ini, ana jadi termotivasi juga. Untuk terus berusaha menyegerakan. Niat udah ada, cuman usahanya yang mungkin kurang di pompa. Dan emang kek na aku dah kudu bilang…
Aku harus melakukan sesuatu.
Yeah… something real, bukan lagi hanya sekedar plan dan plan tanpa realisasi. Do it akh! And belive that Allahu ma’ana
dikutip dari
http://camagenta.wordpress.commod ana pernah buat juga dengan judul yang sama, jika berkenan mohon disatukan saja, jazakallah
