Penulis Topik: Membantah MDMTK  (Dibaca 1139 kali)


Offline su - root

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Jan 2007
  • Tulisan: 18
    • Lihat Profil
« pada: 24 Maret 2008, 13:00:00 »
Mari fokus, semoga tidak dilock sama moderatornya lagi (kalau dilock, create baru lagiii..  :topOK: )


Daftar Isi
BELAJAR DARI AKHLAK USTADZ SALAFY

MISYKAT NUBUWAH

PENGANTAR PENERBIT
Kata Mereka

PENGANTAR PENULIS

KATA PENGANTAR (Abdurrahim Umar: Pemerhati Gerakan Dakwah)

MUQADIMAH
Anti-Dialog
Pemilihan Judul
Manhaj Penulisan

CATATAN 1
Mengabaikan Kemanusiaan Seorang Manusia

CATATAN 2
Pustaka Qaulan Sadida pun Bicara Tanpa Ilmu

CATATAN 3
Buku STSK Mengaburkan Al-Haq?

CATATAN 4
Al Ustadz Luqman Terlalu Memaksakan Opini Seakan-akan Kami Orang Ikhwanul Muslimin

CATATAN 5
Al Ustadz Luqman Melecehkan Pembaca STSK

CATATAN 6
Pemakaian Kata-kata yang Jauh dari Norma Kesantunan, Kasar, Bernada Menuduh, dan Berlebihan

CATATAN 7
Khawarij Bisa Dibilang Sudah Punah?

CATATAN 8
Terlalu Berlebihan dalam Mencari-cari Kesalahan
a. Penulisan Riwayat Abu Dawud yang Keliru
b. Penulisan Salafush Shalih yang Disalahkan
c. Salah Sedikit dalam Menukil dan Tidak Memberi Tanda Baca Dikatakan Berdusta serta Tidak Amanah
d. Tuduhan Dusta dan Pembodohan Umat Karena Menghilangkan Tanda Sukun dan Memberi Harakat
e. Kekeliruan Penulisan Sya'ir Imam Asy-Syafi'i

CATATAN 9
Tidak Becus dan Tidak Amanah dalam Menukil Versi Al Ustadz Luqman
a. Kurang Kata "Mengajak Serta"
b. Kurang Satu Kalimat
c. Mengubah Dr. menjadi DR. dan huruf "p" kecil menjadi "P" besar
d. Penulisan Ahlu Sunnah dan Kurang Kata "Yang"
e. Kurang Tanda Tanya (?) dan Titik Dua ( : )

CATATAN 10
MDMTK & Kacang Goreng

CATATAN 11
Arogansi Seorang Ustadz Salafy

CATATAN 12
Ghibah Versi Al Ustadz Luqman
Enam Kondisi Ghibah yang Diperbolehkan
Hadits Pertama; Sejelek-jelek Saudara
Hadits Kedua; Kisah Fathimah binti Qais
Hadits Ketiga; Hindun & Abu Sufyan

CATATAN 13
Ghibah Versi Al Ustadz Luqman II
Perkataan Hasan Al-Bashri & Ibrahim An-Nakha'i
Perkataan Syu'bah bin Al-Hajjaj
Perkataan Abdullah bin Al-Mubarak
Perkataan Ahmad bin Hambal
Perkataan Muhammad bin Sirin

CATATAN 14
Antara Ghibah Al Ustadz Luqman & Al-Jarh wat Ta'dil
Al-Jarh wat Ta'dil Khusus untuk Para Perawi Hadits
Syaikh Shalih Fauzan: Tidak Ada Ulama Al-Jarh wat Ta'dil Pada Masa Ini
Syaikh Abdurrahman Abdul Khaliq: Itu Bukan Al-Jarh wat Ta’dil Melainkan Kebodohan & Penghancuran

CATATAN 15
Ghibah Harus Disebutkan Namanya?
Pendapat Syaikh Bin Baz yang Dinukil Al Ustadz Luqman
Fatwa Syaikh Bin Baz tentang Haramnya Meng-ghibah Ulama
Syaikh Bin Baz: Jika Mengkritik Tidak Usah Menyebutkan Nama!
Pendapat Syaikh Al-Utsaimin yang Dinukil Al Ustadz Luqman
Fatwa Syaikh Al-Utsaimin tentang Mengghibah Ulama
Syaikh Al-Utsaimin Tidak Pernah Menyebut Nama Orang dalam Mengkritik
Syaikh Al-Utsaimin: Menyebut Secara Umum Lebih Baik Daripada Menyebut Langsung Nama Orangnya

CATATAN 16
Penyematan Gelar "Si Fulan Sesat" & "Si Fulan Khawarij"
Ibnu Abbas & Nauf Al-Bakali
Asy-Sya'bi & Al-Harits Al-A'war
Pelecehan Al Ustadz Luqman Terhadap Seorang Tabi'in
Imam Muhammad Al-Qurazhi & Qadariyah
Imam Hasan Al-Bashri & Ma'bad Al-Juhani
Imam Sufyan Ats-Tsauri & Tsuwair bin Abi Fakhitah
Imam Hammad bin Zaid & Abu Harun Al-Abdi
Imam Za'idah bin Qudamah & Jabir Al-Ju'fi
Imam Asy-Syafi'i & Ibrahim bin Ismail
Imam Asy-Syafi'i & Katsir Al-Muzanni
Imam Abdullah bin Al-Mubarak & Amr bin Tsabit
Imam Syu'bah bin Al-Hajjaj & Abbad bin Katsir

CATATAN 17
Al Ustadz Luqman & Manhaj Muwazanah
Dalil-dalil dari Al-Qur'an versi Al Ustadz Luqman
Dalil-dalil dari Sunnah versi Al Ustadz Luqman
Dalil-dalil dari Atsar Salafush Shalih Versi Al Ustadz Luqman
Pernyataan Para Ulama Versi Al Ustadz Luqman
Al-Qur'an Al-Karim & Muwazanah
Muwazanah dalam Sunnah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam
Muwazanah Para Sahabat & Tabi'in
1. Perkataan Ibnu Abbas terhadap Muawiyah
2. Perkataan Ali terhadap Thalhah
3. Perkataan Ibnu Umar terhadap Ibnu Az-Zubair
4. Perkataan Ibnu Sirin terhadap Al-Hajjaj bin Yusuf
5. Perkataan Muhammad bin Al-Hanafiyah terhadap Yazid bin Muawiyah
6. Muwazanah Abu Sufyan bin Harb Sebelum Masuk Islam

Muwazanah Para Imam & Ulama Salaf
Sekilas Antara Muwazanah & Al-Jarh wa At-Ta'dil
Muwazanah Sufyan Ats-Tsauri
Muwazanah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
Muwazanah Imam Adz-Dzahabi
Muwazanah Imam As-Sakhawi
Muwazanah Al-Hafizh Ibnu Hajar
Muwazanah Syaikh Al-Muradi
Muwazanah Imam Ash-Shafadi
Muwazanah Imam Ibnul Qayyim
Muwazanah Al-Hafizh Ibnu Katsir
Muwazanah Imam Ibnul Jauzi
Muwazanah Imam Al-Yafi'i
Muwazanah Syaikh Al-Utsaimin
Keplin-planan Al Ustadz Luqman dalam Muwazanah

CATATAN 18
Tidak Suka Kesantunan dan Menjaga Etika dalam Mengkritik
Catatan Kecil Tentang Fatwa Syaikh Bin Baz
Mengkritisi Dalil-dalil Al Ustadz Luqman
a. Dalil-dalil dari Al-Qur'an Al-Karim
b. Dalil-dalil dari Hadits-hadits Rasulullah
Ayat-ayat Al-Qur'an Al-Karim Tentang Etika Mengkritik, Berdakwah, & Menjaga Akhlaqul Karimah
Dalil-dalil dari Sunnah Nabawiyah Tentang Keharusan Berkata yang Baik, Bersikap Santun, & Larangan Mencela Saudara Sesama Muslim

CATATAN 19
Kitab Rifqan yang Dipolitisir & Dimonopoli

CATATAN 20
Seputar Hadits Iftiraqul Ummah
Hadits Pertama
Hadits Kedua Bukan Matan Ath-Thabarani
Dua Hadits Iftiraqul Ummah yang Disebutkan Al Ustadz Luqman Adalah Hadits Dha'if
Hadits Hasan Gharibnya At-Tirmidzi Bukan Hadits Shahih Menurut At-Tirmidzi
Beberapa Contoh Hadits Shahih At-Tirmidzi
Beberapa Contoh Hadits Hasan Shahih At-Tirmidzi
Beberapa Contoh Hadits Hasan Shahih Gharib At-Tirmidzi
Beberapa Contoh Hadits Hasan Gharib At-Tirmidzi
Beberapa Contoh Hadits Gharib At-Tirmidzi
Beberapa Contoh Hadits Mungkar dan/atau Dha'if At-Tirmidzi
Contoh-contoh Kedha'ifan Hadits Hasan Gharibnya At-Tirmidzi

CATATAN 21
Tidak Ada Gelar Al-Mursyid Al-Kamil

CATATAN 22
Tidak Berani Mubahalah

CATATAN 23
Dusta Atas Nama Imam At-Tirmidzi & Imam Adz-Dzahabi Versi Al Ustadz Luqman
Kedustaan Atas Imam Adz-Dzahabi Versi Al Ustadz Luqman

CATATAN 24
Tidak Semua Hadits Mursal Berderajat Dha’if
Pendapat Para Ulama
Hadits Mursal yang Dihasankan/Dishahihkan
Para Ulama yang Menjadikan Hadits Ini Sebagai Hujjah

CATATAN 25
Biografi & Tulisan yang dibantah

KHATIMAH

LAMPIRAN 1

LAMPIRAN 2
Bukti Tulisan Al Ustadz Luqman yang Diingkari
Sendiri

DAFTAR PUSTAKA

SEKILAS TENTANG PENULIS

INDEX

Offline Abu Hammad Abdul Halim

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Mar 2007
  • Tulisan: 68
    • Lihat Profil
« Jawab #1 pada: 24 Maret 2008, 15:10:44 »
@ TS
mau yg mana duluan nih yg dibahas? smoga ilmiah dan santun ya pembahasannya...
yg bahasanya kasar, berarti salafy palsu :)

Offline oomnya fahrel

  • Moderator
  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Okt 2007
  • Tulisan: 12.074
  • Lokasi: Bumi Allah
  • Jenis kelamin: Pria
  • Kage Mane no Jutsu
    • Lihat Profil
    • Open house
« Jawab #2 pada: 24 Maret 2008, 15:15:23 »
Wuih mas Ts, semangat banget nich, sampai semua isi buku di posting disini   
 Well nonton dulu ah

Offline sifatmu.salah

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Mar 2008
  • Tulisan: 60
  • Lokasi: JABOTABEK
  • Jenis kelamin: Pria
  • "karena Ahlusunnah bukan hanya kelompokmu aza bro"
    • Lihat Profil
    • jikaandaingin yang aseli
« Jawab #3 pada: 24 Maret 2008, 15:58:14 »
hayoh sopo yang bisi posting bab yang menarik kita diskusikan disini
SITUS-SITUS PENUH USWAH, TELADAN, AKHLAK KARIMAH,MARI REGUK KESEGARANNYA.....
fakta.blogsome.com
turotsi.wordpress.com
http://abdurrahman.wordpress.com/
tukpencarialhaq.wordpress.com
antosalafy.wordpress.com (sudah Gulung tikar ?)

Offline irzan

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Sep 2007
  • Tulisan: 1.348
  • Lokasi: jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • apakah engkau tidak punya rasa malu ?
    • Lihat Profil
« Jawab #4 pada: 24 Maret 2008, 16:49:27 »
cappeeek deeeeh. banyak banget thread kayak ginian, usul ama momod, digabung aja semuanya.
aku keluar

Offline exblopz

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 5.083
  • Lokasi: Malang
  • Jenis kelamin: Pria
  • Pingin ke Masjid Nabawi
    • Lihat Profil
    • Abu Aisyah Official Web Site
« Jawab #5 pada: 24 Maret 2008, 16:54:08 »
@sifatmu.salah
pake nickmu yang lain pliss, yaa..bukannya saya nggak memperbolehkan, cuman nggak enak aja dibaca.

@irzan
Biar diselesaikan sama tsnya dulu, kan dia blom komentar lagi. Kalau cuman nyampah di forum sih sudah ane lock seperti sebelumnya.
http://alatsari.wordpress.com/
http://www.abuaisyah.org/
join blogger malang di blogger-ngalam@googlegroups. com

Offline kuringtea

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Jan 2007
  • Tulisan: 2.834
  • Lokasi: Bandung-bogor-bekasi
  • Jenis kelamin: Pria
  • Inspirasi "mujahid" dilampu motorku
    • Lihat Profil
    • www.perisaidakwah.com
« Jawab #6 pada: 27 Maret 2008, 01:52:34 »
Heem , ya sudah , kita mulai aza pembahasan buku BAUS dari yang Kalem-kelem aza dulu yaitu :

PENGANTAR PENULIS (Ustadz abduh Zulfidar) , heem walau buku dah punya tapi akhir bulan nech bayar nya : :hihi:
bagi yang sama -sam punya bisa dilihat pada halaman xvii
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Dalam kitab Siyar A’lam An-Nubala`, Imam Al-Hafizh Syamsuddin Adz-Dzahabi rahimahullah (w. 748 H) mengisahkan, ketika Khalifah Abu Ja’far Al-Manshur pergi haji, dia berkata kepada Imam Malik, “Sesungguhnya aku telah bertekad hendak menyuruhmu agar memperbanyak kitab (Al-Muwaththa`) yang engkau susun ini untuk aku sebarkan ke setiap kota di seluruh penjuru negeri kaum muslimin, masing-masing satu buah. Lalu aku perintahkan mereka agar mengamalkan apa yang ada di dalamnya dan hendaknya mereka meninggalkan selain itu. Sesungguhnya aku melihat, pokok dasar ilmu adalah riwayat Ahli Madinah dan ilmu mereka.”
   Imam Malik bin Anas rahimahullah (w. 179 H) berkata, “Jangan engkau lakukan ini, wahai Amirul Mukminin. Karena sebelumnya orang-orang telah mendapatkan berbagai pendapat, mendengar banyak hadits, dan juga meriwayatkannya. Masing-masing kaum mengambil pendapat yang lebih dulu sampai kepada mereka, mereka mengamalkannya, dan menjalankan agama dengannya, sekalipun para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri banyak yang berbeda satu sama lain. Sungguh, mengubah mereka dari apa yang telah mereka yakini adalah suatu hal yang sangat berat. Oleh karena itu, biarkanlah mereka dengan apa yang mereka yakini dan yang telah dipilih oleh masing-masing penduduk negeri untuk diri mereka.”

Abu Ja’far berkata, “Sayang sekali… Kalau saja engkau mau, sungguh telah aku perintahkan hal tersebut.”
Kisah senada juga dinisbatkan pada Khalifah Harun Ar-Rasyid, dimana dia minta pendapat Imam Malik tentang bagaimana jika kitab Al-Muwaththa` digantungkan di Ka’bah, untuk kemudian orang-orang disuruh mengikuti apa yang terdapat di dalamnya. Imam Malik pun berkata, “Jangan engkau lakukan. Sebab, sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam saja saling berbeda pendapat dalam masalah furu’, dan mereka berpencar di berbagai kota. Dan semuanya adalah Sunnah yang berlaku.”

Harun Ar-Rasyid berkata, “Semoga Allah memberikan taufiq-Nya kepadamu, wahai Abu Abdillah.”

   Demikianlah fakta perbedaan pendapat. Sesungguhnya perbedaan itu sudah ada sejak dulu dan masih ada sampai sekarang dan akan terus ada hingga kapan pun. Perbedaan pendapat adalah sunnatullah. Dan, kita tidak mungkin dapat mengubah sunnah-Nya, meskipun tidak semua perbedaan pendapat itu baik.


Amirul Mukminin Umar bin Abdil Aziz rahimahullah (w. 101 H) berkata, “Aku tidak suka jika para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak berbeda pendapat. Sebab, sekiranya mereka hanya mempunyai satu pendapat saja, maka orang-orang pun berada dalam kesempitan. Sungguh, mereka (para sahabat) adalah para imam yang diikuti pendapatnya, dimana jika seseorang mau mengambil salah satu pendapat mereka, maka dia bebas melakukannya.”

Menyikapi perbedaan pendapat secara membabi-buta dan mau menang sendiri dimana yang diklaim paling benar adalah hanya dirinya dan kelompoknya, sementara yang lain dianggap salah bahkan sesat; jelas merupakan sikap yang tidak bijak dan tidak sesuai dengan yang dipraktikkan oleh generasi salafush shalih. Selain itu, sikap semacam ini juga menunjukkan ketidakmatangan ilmu dan kerendahan akhlaq seseorang. Lebih tragis lagi, jika orang tersebut tidak mau menjelaskan letak kebenaran yang ada pada diri dan kelompoknya kepada orang atau pihak lain yang dituduhnya sesat dan ahlu bid’ah secara langsung. Bagaimana mungkin seseorang bisa mengklaim dirinya benar dan yang lain salah sementara dia tidak bisa membuktikan kebenaran berada di pihaknya dan kesalahan berada di pihak orang lain?


   Pedang dan lisan adalah senjata orang mukmin. Dengan pedang, kaum muslimin menaklukkan negara-negara kafir dan memperluas wilayah teritorial daulah Islamiyah. Adapun dengan lisan, para ulama membungkam kesesatan ahlu bid’ah dan membuktikan kebenaran agama Islam.

   Al Ustadz Luqman Ba’abduh beserta kelompoknya di satu pihak dan kami serta siapa pun yang sependapat dengan kami di pihak lain, adalah sama-sama umat Islam. Kita semua bersaudara. Tidak mungkin kita menegakkan hujjah dengan pedang terhadap sesama saudara. Dengan demikian, lisanlah senjata yang bisa digunakan untuk membuktikan kebenaran masing-masing. Percuma saja seseorang menyalah-nyalahkan dan menyesat-nyesatkan orang lain kalau dia tidak bisa membuktikan kesesatan orang tersebut langsung di hadapan orangnya. Artinya, orang itu adalah pengecut.

   Kebenaran tidak mungkin ditegakkan di balik layar.  Kebenaran harus ditegakkan di hadapan semua umat. Sekiranya Al Ustadz Luman dan kelompoknya yang sering menjelek-jelekkan kelompok lain tidak mau menyampaikan langsung kebenaran yang diyakininya di hadapan pihak yang senantiasa dibid’ah-bid’ahkannya, maka hal ini sama saja dengan menyembunyikan kebenaran. Dan ini haram hukumnya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

“Dan janganlah kalian mencampur-adukkan kebenaran dengan kebatilan, dan (jangan pula) kalian menyembunyikan kebenaran sementara kalian mengetahui.”

   
Dan, sekiranya Al Ustadz Luqman dan kelompoknya ternyata berada di pihak yang salah dan terkungkung dalam kesesatan, tetapi mereka tetap bersikukuh dengan kesalahannya, maka jelas ini adalah sikap takabur (sombong) yang diharamkan dalam Islam. Dan, mereka tidak mungkin berjalan terus menerus dalam kesombongannya ini di muka bumi ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman

“Dan janganlah kamu memalingkan muka dari manusia (karena sombong) dan jangan pula kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” 


Kalaupun toh mereka menyadari akan kesalahannya, namun mereka masih tetap saja dengan perilakunya buruknya yang hobi menjelek-jelekkan dan senang mencari-cari kesalahan orang lain yang tidak disukainya; maka ini pun namanya sombong. Bertahan diri dalam kesalahan dan enggan menerima kebenaran dihiasi dengan merendahkan orang lain, adalah kesombongan yang tidak selayaknya terdapat pada diri seorang muslim yang baik, apalagi mengaku sebagai pengikut salafush shalih. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda

“Sombong itu menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.” (HR. Muslim)

Namun, sungguh aneh dan mengherankan, justru kami yang mengajak secara baik-baik pihak Al Ustadz Abu Abdillah Luqman bin Muhammad Ba’abduh hafizhahullah untuk melakukan dialog secara terbuka di hadapan umat Islam dari berbagai kalangan dikatakan sombong oleh sebagian dari mereka. Terlalu sering kami mendapatkan SMS (dan email) yang isinya memojokkan dan meneror kami.  Tetapi setiap kali kami jawab bahwa kami sanggup mempertangjawabkan apa yang kami tulis dalam “Siapa Teroris? Siapa Khawarij?” langsung di hadapan umat secara terbuka, mereka malah mengatakan kami sombong. Para pendukung berat dan pentaqlid buta Al Ustadz Luqman ini lebih marah lagi dan mengatakan kami sombong seraya menyuruh    kami bertaubat, ketika kami katakan kepada mereka bahwa kami siap berdialog langsung bersama Al Ustadz Luqman di forum terbuka kapan pun dan di mana pun.


Sesungguhnya, sikap kami ini tak lain adalah dikarenakan rasa tanggung jawab kami kepada Allah dan kepada umat atas apa yang kami tulis dalam STSK.  Sekiranya kami benar, maka kami ucapkan alhamdulillah. Dan jika kami salah, maka kami akan mengakui kesalahan tersebut dan segera bertaubat kepada-Nya. Sebaliknya, demikian pula yang sewajarnya mereka lakukan, bahkan seharusnya memang demikian. Bagaimanapun juga membedah dan membahas isi buku yang ditulis di hadapan umat dari berbagai kalangan secara terbuka adalah salah satu bentuk pertanggungjawaban seorang penulis atas apa yang telah ditulisnya. Kami tegaskan di sini, di hadapan umat dari berbagai kalangan secara terbuka. Bukan hanya membedahnya di kalangan sendiri atau seolah-olah membedah secara terbuka tetapi tanpa mengundang pihak lain yang didiskreditkan sebagai pembicara.


Berani berbuat berani bertanggung jawab. Begitulah seharusnya sikap seorang mukmin. Jadi, tidak selayaknya kita menghindar dengan alasan yang dibuat-buat ketika diajak pihak lain untuk mendialogkan apa yang telah kita tulis. Jika memang niat kita ikhlas karena Allah untuk mengajak kepada kebenaran, kenapa kita mesti menghindar ketika diajak bersama-sama untuk menuju kepada kebenaran? Allah Ta’ala berfirman,

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Mari (kita kembali) kepada apa yang telah Allah turunkan dan kepada Rasul,’ niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.”  (An-Nisaa`:  61)


Dialog bukan berarti berdebat. Apalagi jika dialognya saja belum terjadi kita mengatakan tidak mau berdebat. Memangnya siapa yang mau mengajak debat? Apakah kita mengetahui bahwa yang akan terjadi dalam dialog nanti adalah perdebatan? Insya Allah tidak. Bukan perdebatan dan bukan pula debat kusir yang kami inginkan. Kami menginginkan dialog yang sehat yang bernuansa saling menasehati dan mengingatkan. Masing-masing dipersilakan mengeluarkan hujjah dan argumentasinya. Dan, diharapkan masing-masing bisa menghormati apa yang disampaikan oleh pihak lain.

Imam Abu Bakr Muhammad bin Al-Husain Al-Ajurri rahimahullah (w. 360 H) berkata, “Maka jika ada orang yang mengatakan; Bagaimana mungkin kita berdebat? Katakan saja kepadanya; Kita saling menasehati. Jika dia berkata; Bagaimana caranya saling menasehati? Saya akan katakan kepadanya; Tatkala ada masalah di antara kita, dimana saya mengatakan ini halal, sementara Anda mengatakan ini haram; maka kita semua memutuskan agar membicarakan masalah ini dengan pendapat orang yang mencari selamat. Maksud saya, mudah-mudahan saya bisa mendapatkan kebenaran dari lisan Anda, sehingga saya pun akan mengikuti apa yang Anda katakan. Atau, bisa saja Anda mendapatkan kebenaran dari lisan saya, dimana Anda bisa mengikuti apa yang saya katakan. Sekiranya ini adalah tujuan kita bersama, maka saya berharap kita akan mengucapkan alhamdulillah setelah dialog ini dan semoga kita dibimbing oleh-Nya menuju kebenaran. Dengan demikian, setan tidak akan mempunyai celah lagi untuk mengganggu kita.”

Ya, dialog seperti yang digambarkan oleh Imam Al-Ajurri lah yang kami inginkan. Dialog yang dilandasi semangat mencari kebenaran dan saling memberi nasehat. Jangan sampai kita merasa benar dengan apa yang kita yakini namun diiringi dengan menjatuhkan dan menyesat-nyesatkan pihak lain. Padahal, pihak yang kita tuduh sesat dan ahlu bid’ah, belum tentu seperti yang dituduhkan. Lebih menyedihkan lagi, sekiranya kelompok yang kita tuduh bersalah, ternyata dia mendasarkan pendapatnya pada Al-Qur`an dan Sunnah. Sehingga, secara tidak langsung kita pun menyalahkan Al-Qur`an dan Sunnah! Tentu ini tidak kita harapkan.

Imam Al-Ajurri berkata, “Dan lebih parah dari ini semuanya, adalah jika salah seorang dari keduanya berhujjah dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terhadap lawannya, lalu lawannya tersebut membantahnya tanpa memperinci. Hal ini dia lakukan hanya karena takut hujjahnya dipatahkan. Sehingga, ketika sang lawan
berbicara dengan Sunnah yang benar-benar berasal dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka dia berkata, ‘Ini batil! Saya tidak setuju pendapat ini.’ Maka, dia pun menolak Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan pendapatnya tanpa memperinci.”

Sekiranya, Al Ustadz Luqman Ba’abduh dan kelompoknya masih juga bersikukuh tidak mau berdialog dengan kami secara langsung dalam forum terbuka, maka setidaknya ada dua hal yang harus mereka lakukan.
Pertama; Hendaknya mereka segera bertaubat atas segala kesalahannya. Hendaknya mereka menyudahi kebiasaan buruk mencari-cari dan membahas kesalahan orang lain. Hendaknya mereka mengakhiri perilaku tak terpuji yang senang menuduh dan menyesat-nyesatkan kelompok lain. Dan hendaknya mereka menghentikan perbuatan jelek yang hobi memberikan cap kepada pihak lain sebagai ahlu bid’ah, teroris, khawarij, dan berbagai label buruk lainnya. Sebaiknya mereka diam dari membicarakan dan mengungkit-ungkit kesalahan orang yang sudah meninggal. Dan lebih baik mereka menghitung aib diri mereka sendiri saja daripada sibuk mengurusi aib orang lain.

Dalam kitab Jami’ Bayan Fadhli Al-‘Ilm, Imam Ibnu Abdil Barr rahimahullah (w. 463 H) menyebutkan, ada seorang laki-laki bertanya kepada Ibrahim bin Adham rahimahullah (w. 162 H), “Wahai Ibrahim, Allah Ta’ala berfirman, ‘Berdoalah kalian kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan doa kalian’,  tetapi kenapa doa kami tidak dikabulkan?” Ibrahim menjawab, “Hal itu dikarenakan lima hal.” Orang tersebut berkata, “Apa itu?” Ibrahim berkata, “Kalian mengenal Allah tetapi kalian tidak menunaikan hak-Nya. Kalian membaca Al-Qur`an, tetapi kalian tidak mengamalkan isinya. Kalian mengaku mencintai Rasul-Nya, tetapi kalian meninggalkan Sunnahnya. Kalian mengaku melaknat iblis, namun kalian menaatinya. Dan kelima, kalian lupa pada kekurangan kalian sendiri, tetapi kalian malah sibuk mengurusi kekurangan orang lain.”

Syaikh DR. Ahmad Farid hafizhahullah berkata, “Jagalah lisanmu, wahai saudaraku. Karena sesungguhnya orang yang menyobek saku baju orang lain, maka orang lain pun akan menyobek saku bajunya. Dan hendaknya engkau lupakan dirimu jika engkau menemukan aib saudaramu sesama muslim. Bahkan sudah menjadi kewajibanmu untuk menjadikan hal itu sebagai pengingat aibmu. Bagaimanapun juga asal penciptaan kita adalah sama, dimana apa bisa terjadi pada selainmu juga bisa terjadi padamu.”

Imam Amir bin Syarahil Asy-Sya’bi rahimahullah (w. 104 H) berkata, “Barangsiapa yang suka menghitung-hitung aib saudara-saudaranya, maka tinggallah dia sendirian tanpa teman.”

Dan kedua; Hendaknya mereka mulai belajar untuk menghargai dan menghormati saudara-saudaranya yang berbeda pendapat dengan mereka, sebagaimana yang dipraktikkan oleh para ulama salaf yang saling menghormati satu sama lain.

Dan, sikap saling menghormati perbedaan pendapat inilah yang juga telah ditunjukkan dengan baik oleh dua orang ulama besar di zaman kita ini, yaitu Syaikh Al-Allamah Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah (w. 1420 H) dan Syaikh Prof. DR. Yusuf bin Abdillah Al-Qaradhawi hafizhahullah.
Syaikh Al-Qaradhawi berkata, “Syaikh Bin Baz rahimahullah pernah mengirim surat kepada saya lebih dari seperempat abad yang lalu. Dalam surat tersebut, beliau memberitahukan kepada saya, bahwa Departemen Penerangan memberikan kitab saya (Al-Halal wa Al-Haram fi Al-Islam) kepada beliau; Apakah kitab tersebut boleh masuk ke wilayah Kerajaan Saudi Arabia atau tidak? Beliau menginginkan agar jangan sampai para pembaca di Saudi dilarang membaca kitab-kitab saya yang menurut istilah beliau, ‘Mempunyai nilai tersendiri di duina Islam.’ Beliau mengabarkan, bahwa para syaikh di Saudi mempunyai delapan catatan atas kitab saya tersebut, dimana beliau menyebutkan semuanya di dalam suratnya. Beliau meminta kepada saya agar mau menelaah kembali isi kitab saya tersebut. Sebab, ijtihad manusia itu bisa saja berubah di lain waktu.
Ketika itu, saya membalas surat Syaikh Bin Baz dengan sebuah surat sederhana. Saya katakan di dalamnya, ‘Sesungguhnya ulama umat yang paling saya cintai dimana saya enggan menyelisihinya dalam berpendapat, dia adalah Syaikh Bin Baz. Akan tetapi, sunnatullah telah berlaku bahwasanya tidak pernah ada para ulama yang sependapat dalam semua masalah. Para sahabat saling berbeda pendapat satu sama lain. Dan para  imam juga berbeda pendapat satu sama lain. Namun demikian, hal ini sedikit pun tidak membawa madharat pada mereka. Mereka memang berselisih pendapat, namun hati mereka tidak berselisih. Dan sebagian dari delapan masalah ini, para ulama sejak dulu memang telah berselisih pendapat di dalamnya... dst.’
Dan pada akhir surat saya katakan kepada Syaikh, ‘Saya berharap agar jangan sampai perbedaan pendapat yang terjadi antara saya dengan para syaikh (di Saudi) dalam sebagian masalah ini menjadi sebab dilarangnya buku saya masuk ke Saudi.’ Dan sejauh yang saya ketahui, Syaikh Bin Baz –rahimahullah– pun mengabulkan keinginan saya tersebut. Beliau mengizinkan kitab saya dan juga yang lain masuk ke pasar Saudi.”
Ya, menghargai dan menghormati pendapat orang lain adalah akhlaq para ulama, dari sejak dulu hingga sekarang. Bagaimanapun juga persatuan dan kesatuan umat jauh lebih penting dan utama daripada sekadar mencari-cari dalil yang melemahkan pendapat orang lain dalam suatu masalah demi untuk menjatuhkannya. Apalagi, jika masalah yang dipermasalahkan tersebut tak lebih dari sekadar mustahab saja atau masalah furu’iyah dimana para ulama memang telah berbeda pendapat di dalamnya dari sejak dulu.

Syaikhul Islam Abul Abbas Ahmad bin Abdil Halim Ibnu Taimiyah Al-Harrani rahimahullah (w. 728 H) berkata, “Disukai bagi seseorang agar hendaknya dia lebih mengutamakan penyatuan hati dengan meninggalkan hal-hal mustahab. Sebab, dalam agama, maslahat penyatuan hati ini lebih penting daripada maslahat hal-hal yang mustahab. Sebagaimana Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak jadi mengubah bentuk bangunan Ka’bah karena dengan membiarkannya dalam bentuk aslinya akan dapat menyatukan hati. Dan sebagaimana Ibnu Mas’ud tetap shalat secara sempurna  di belakang Utsman dalam safar padahal dia mengingkarinya. Utsman berkata,; ‘Perselisihan itu buruk’.”
Seorang penyair berkata
Sesungguhnya yang tersisa dari suatu umat ialah akhlaqnya
Kalau hilang akhlaq mereka maka hilanglah mereka semua
   

Terakhir, kami ucapkan terima kasih kepada Ibunda kami tercinta atas segala doanya untuk kami. Terima kasih juga kepada istri dan anak-anak kami tercinta. Juga kepada Pak Tohir Bawazir atas dukungan semangat dan masukannya, Pak Nurkholis atas editannya, Pak Hasan atas program Maktabah Syamilah-nya, Pak Cipto atas settingannya, Pak Eko atas kavernya, dan juga kawan-kawan semuanya yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu.
Jakarta Timur, 8 Shafar 1429 H
15 Februari 2008 M

Abduh Zulfidar Akaha

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Catatan kaki dari pengantar penulis menyusul < kekecileun
Sahabat ‘Umar Ibn al-Khaththab berkata,

“Bukanlah orang yang berakal itu adalah yang dapat mengetahui kebaikan dari keburukan, namun orang yang berakal adalah yang mampu mengetahui yang terbaik dari dua keburukan.”

[ Raudhatul Muhibbin,hal 8)
Mangga mampir di : makadir.wordpress.com

Offline Avatar Aang

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2007
  • Tulisan: 240
    • Lihat Profil
« Jawab #7 pada: 27 Maret 2008, 09:27:09 »
Terakhir, kami ucapkan terima kasih kepada Ibunda kami tercinta atas segala doanya untuk kami. Terima kasih juga kepada istri dan anak-anak kami tercinta. Juga kepada Pak Tohir Bawazir atas dukungan semangat dan masukannya, Pak Nurkholis atas editannya, Pak Hasan atas program Maktabah Syamilah-nya, Pak Cipto atas settingannya, Pak Eko atas kavernya, dan juga kawan-kawan semuanya yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu.

oh ini to yg dimaksud "TIM" nya ustad abduh?  :hihi:

Offline Abu Hammad Abdul Halim

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Mar 2007
  • Tulisan: 68
    • Lihat Profil
« Jawab #8 pada: 27 Maret 2008, 13:49:01 »
Kebenaran tidak mungkin ditegakkan di balik layar.  Kebenaran harus ditegakkan di hadapan semua umat. Sekiranya Al Ustadz Luman dan kelompoknya yang sering menjelek-jelekkan kelompok lain tidak mau menyampaikan langsung kebenaran yang diyakininya di hadapan pihak yang senantiasa dibid’ah-bid’ahkannya, maka hal ini sama saja dengan menyembunyikan kebenaran. Dan ini haram hukumnya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

“Dan janganlah kalian mencampur-adukkan kebenaran dengan kebatilan, dan (jangan pula) kalian menyembunyikan kebenaran sementara kalian mengetahui.”

setuju pisan  O0
   
Kutip
Dan, sekiranya Al Ustadz Luqman dan kelompoknya ternyata berada di pihak yang salah dan terkungkung dalam kesesatan, tetapi mereka tetap bersikukuh dengan kesalahannya, maka jelas ini adalah sikap takabur (sombong) yang diharamkan dalam Islam. Dan, mereka tidak mungkin berjalan terus menerus dalam kesombongannya ini di muka bumi ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman

“Dan janganlah kamu memalingkan muka dari manusia (karena sombong) dan jangan pula kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” 

bener banget  O0

Kutip
[Kalaupun toh mereka menyadari akan kesalahannya, namun mereka masih tetap saja dengan perilakunya buruknya yang hobi menjelek-jelekkan dan senang mencari-cari kesalahan orang lain yang tidak disukainya; maka ini pun namanya sombong. Bertahan diri dalam kesalahan dan enggan menerima kebenaran dihiasi dengan merendahkan orang lain, adalah kesombongan yang tidak selayaknya terdapat pada diri seorang muslim yang baik, apalagi mengaku sebagai pengikut salafush shalih. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda

“Sombong itu menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.” (HR. Muslim)

tepat sekali  O0

Offline Abu Hammad Abdul Halim

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Mar 2007
  • Tulisan: 68
    • Lihat Profil
« Jawab #9 pada: 27 Maret 2008, 14:00:18 »
Berani berbuat berani bertanggung jawab. Begitulah seharusnya sikap seorang mukmin. Jadi, tidak selayaknya kita menghindar dengan alasan yang dibuat-buat ketika diajak pihak lain untuk mendialogkan apa yang telah kita tulis. Jika memang niat kita ikhlas karena Allah untuk mengajak kepada kebenaran, kenapa kita mesti menghindar ketika diajak bersama-sama untuk menuju kepada kebenaran? Allah Ta’ala berfirman,

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Mari (kita kembali) kepada apa yang telah Allah turunkan dan kepada Rasul,’ niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.”  (An-Nisaa`:  61)

seharusnya memang begitu  O0

Kutip
Dialog bukan berarti berdebat. Apalagi jika dialognya saja belum terjadi kita mengatakan tidak mau berdebat. Memangnya siapa yang mau mengajak debat? Apakah kita mengetahui bahwa yang akan terjadi dalam dialog nanti adalah perdebatan? Insya Allah tidak. Bukan perdebatan dan bukan pula debat kusir yang kami inginkan. Kami menginginkan dialog yang sehat yang bernuansa saling menasehati dan mengingatkan. Masing-masing dipersilakan mengeluarkan hujjah dan argumentasinya. Dan, diharapkan masing-masing bisa menghormati apa yang disampaikan oleh pihak lain.

dialog yg sehat kan? sebab kalo dialognya gak sehat, ntar malah bisa sakit.  :'(


Kutip
Sekiranya, Al Ustadz Luqman Ba’abduh dan kelompoknya masih juga bersikukuh tidak mau berdialog dengan kami secara langsung dalam forum terbuka, maka setidaknya ada dua hal yang harus mereka lakukan.

dua hal aja to? konsekuensi atas ketidak mauannya berdialog.  :ehm:

Kutip
Pertama; Hendaknya mereka segera bertaubat atas segala kesalahannya. Hendaknya mereka menyudahi kebiasaan buruk mencari-cari dan membahas kesalahan orang lain. Hendaknya mereka mengakhiri perilaku tak terpuji yang senang menuduh dan menyesat-nyesatkan kelompok lain. Dan hendaknya mereka menghentikan perbuatan jelek yang hobi memberikan cap kepada pihak lain sebagai ahlu bid’ah, teroris, khawarij, dan berbagai label buruk lainnya. Sebaiknya mereka diam dari membicarakan dan mengungkit-ungkit kesalahan orang yang sudah meninggal. Dan lebih baik mereka menghitung aib diri mereka sendiri saja daripada sibuk mengurusi aib orang lain.

sip  O0

Kutip
Dan kedua; Hendaknya mereka mulai belajar untuk menghargai dan menghormati saudara-saudaranya yang berbeda pendapat dengan mereka, sebagaimana yang dipraktikkan oleh para ulama salaf yang saling menghormati satu sama lain.

smoga bisa  %peace%

Offline PK

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2007
  • Tulisan: 144
    • Lihat Profil
« Jawab #10 pada: 27 Maret 2008, 17:02:18 »
saya lebih setuju dgn sikap ust luqman yg tidak menghiraukan ajakan ust abduh...krn apa?...sebab sudah jelas manhajnya berbeda....misalnya aja masalah maulid nabi, hukum mengkritik  pemerintah di muka umum, hukum demokrasi, hukum wanita jadi pemimpin, hukum wanita karier dll

dan yg lebih penting hukum asal berdebat adalah haram kecuali ada manfaatnya
Telah diriwayatkan dari hadits Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَبْغَضُ الرِّجَالِ إِلىَ اللهِ اْلأَلَدُّ الْخَصِمُ
“Orang yang paling dibenci Allah adalah yang suka berdebat.” (Muttafaq Alaihi)
Juga dari hadits Abu Umamah radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوا عَلَيْهِ إِلاَّ أُوْتُوا الْجَدَلَ. ثُمَّ تَلاَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ اْلآيَةَ: {مَا ضَرَبُوْهُ لَكَ إِلاَّ جَدَلاً بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُوْنَ}
“Tidaklah tersesat satu kaum setelah mendapatkan hidayah yang dahulu mereka di atasnya, melainkan mereka diberi sifat berdebat.....” (Az-Zukhruf: 58) [HR.Tirmidzi dan Ibnu Majah, dihasankan Al-Albani t dalam Shahih Al-Jami’ no. 5633]

perkataan ulama salaf
Abdurrahman bin Abiz Zinad berkata: “Kami mendapati orang-orang yang mulia dan ahli fiqih -dari orang-orang pilihan manusia- sangat mencela para ahli debat dan yang mendahulukan akalnya. Dan mereka melarang kami bertemu dan duduk bersama orang-orang itu. Mereka juga memperingatkan kami dengan keras dari mendekati mereka.” (lihat Al-Ibanah Al-Kubra 2/532, Mauqif Ahlis Sunnah, Asy-Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili 2/591)
Demikian pula Al-Imam Ahmad rahimahullahu mengatakan: “Pokok-pokok ajaran As-Sunnah menurut kami adalah: berpegang teguh di atas metode para sahabat Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengikuti mereka, dan meninggalkan bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah sesat. Dan meninggalkan pertengkaran serta duduk bersama pengekor hawa nafsu, juga meninggalkan dialog dan berdebat serta bertengkar dalam agama ini.” (Syarh Al-Lalika`i, 1/156, Mauqif Ahlis Sunnah, Ar-Ruhaili 2/591)
Wahb bin Munabbih rahimahullahu berkata: “Tinggalkan perdebatan dari perkaramu. Karena sesungguhnya engkau tidak akan terlepas dari menghadapi salah satu dari dua orang: (1) orang yang lebih berilmu darimu, lalu bagaimana mungkin engkau berdebat dengan orang yang lebih berilmu darimu? (2) orang yang engkau lebih berilmu darinya, maka bagaimana mungkin engkau mendebat orang yang engkau lebih berilmu darinya, lalu dia tidak mengikutimu? Maka tinggalkanlah perdebatan tersebut!” (Lammud Durr, karangan Jamal Al-Haritsi hal. 158)


Offline PK

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2007
  • Tulisan: 144
    • Lihat Profil
« Jawab #11 pada: 27 Maret 2008, 17:09:14 »
tentang jeleknya berdebat tanpa ada manfaat klik sini http://salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=591


Offline kuringtea

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Jan 2007
  • Tulisan: 2.834
  • Lokasi: Bandung-bogor-bekasi
  • Jenis kelamin: Pria
  • Inspirasi "mujahid" dilampu motorku
    • Lihat Profil
    • www.perisaidakwah.com
« Jawab #12 pada: 27 Maret 2008, 17:16:38 »
Hmm..bedakan berdebat dan dialog. Tetap salut ama ibnu abbas yg mendatangi,dan berdialog dgn khawarij! (Pdahl sudah masalah aqidah nech,). Hmm.
Sahabat ‘Umar Ibn al-Khaththab berkata,

“Bukanlah orang yang berakal itu adalah yang dapat mengetahui kebaikan dari keburukan, namun orang yang berakal adalah yang mampu mengetahui yang terbaik dari dua keburukan.”

[ Raudhatul Muhibbin,hal 8)
Mangga mampir di : makadir.wordpress.com

Offline PK

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2007
  • Tulisan: 144
    • Lihat Profil
« Jawab #13 pada: 27 Maret 2008, 17:25:20 »
Hmm..bedakan berdebat dan dialog. Tetap salut ama ibnu abbas yg mendatangi,dan berdialog dgn khawarij! (Pdahl sudah masalah aqidah nech,). Hmm.
kayaknya anda terlalu terburu2,.... debat atau dialog harus kita tinggalkan kalo kita yakin bahwa dialoq atau debat itu tidak ada manfaatnya. Mungkin inilah yg dilakukan ust luqman, beliau merasa yakin bila dialoq dgn ust abduh tidak ada hasilnya, maka dia menjauhinya

saya ulangi tulisan saya diatas
Al-Imam Ahmad rahimahullahu mengatakan: “Pokok-pokok ajaran As-Sunnah menurut kami adalah: berpegang teguh di atas metode para sahabat Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengikuti mereka, dan meninggalkan bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah sesat. Dan meninggalkan pertengkaran serta duduk bersama pengekor hawa nafsu, juga meninggalkan dialog dan berdebat serta bertengkar dalam agama ini.” (Syarh Al-Lalika`i, 1/156, Mauqif Ahlis Sunnah, Ar-Ruhaili 2/591

Offline hashishin

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2006
  • Tulisan: 3.086
  • Lokasi: The city of angelines
  • Jenis kelamin: Pria
  • - = [ distingushing the inferiors ] = -
    • Lihat Profil
    • Blog gw ( masih baru... )
« Jawab #14 pada: 28 Maret 2008, 11:28:17 »
mungkin someone harus bikin buku : "mendamaikan Ustadz Luqman dan Ustadz Abduh" :hihi:

sebenernya sih, klo kita membahas dua pihak tsb ga bisa dari 1 sisi aja.. ga bakalan beres.
mari kita lihat dari sudut pandang netral, toh 2 2 nya sama2 mengajukan hujjah. cari titik temu dan cari titik bedanya lalu simpulkan... yuk?

oia, intermezzo nih, tebak2an yuk kapan buku bantahan BDAUS keluar :hihi: terus kapan bantahan bantahan BDAUS keluar, terus bantahan bantahan bantahan BDAUS keluar dst. hehehe...

%peace%
Cinta Allah , Cinta Rasulullah, Cinta Ahlul Bayt, Cinta Shahabat-Shahabat Rasulullah, Cinta Tabi'in, wat Tabi'utTabi'in... Insya Allah...

-= HIBERNATING FOR A WHILE... DO NOT DISTURB!!! =-