Alhamdulillah, saya merasa Antum memiliki niat baik. Ini harus dihargai. Insya Allah, saya akan mencoba menghargai sekuat kemampuan. Afwan atas kata-kata yang kasar dan buruk sebelum-sebelumnya. Maklum, ana manusia juga, ana bisa emosi ketika sebagian orang melakukan kezhaliman sesuka hatinya. Saya yakin, jika Antum di posisi ana, Antum akan memahaminya.
Ala kulli haal, tawakkaltu 'alallah, Rabbi wa Rabbukumul A'la.
Bismillaahir Rahmaanir Rahiimi,
Alhamdulillaah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad Shallallaahu 'alaihi wa sallam, keluarganya dan para shabatnya serta orang-orang yang mengikuti beliau dengan baik hingga akhir zaman, amma ba'du.
Alhamdulillah bi husnil iftitah.
Melanjutkan kembali beberapa catatan dari jawaban Saudara AMW. Setelah kemarin saya ketengahkan dua catatan dan sudah direspons oleh Saudara AMW, maka berikutnya adalah:
3. Saudara AMW dalam beberapa jawabannya sering menggunakan kata "mereka" dan kata "sederhana saja". Sebenarnya boleh-boleh saja menggunakan kata seperti itu. Namun kata-kata tersebut menjadi bias ketika Saudara AMW mengatakan
Buktinya sederhana saja, mereka sangat tunduk dengan "kata ustadz", sekalipun nasehat-nasehat sudah disampaikan sedemikian rupa. Tahu tidak, sebenarnya dalam DSDB 1 sudah ada nasehat-nasehat bagi kaum ghuluw dari ulama-ulama Ahlus Sunnah, tapi nasehat macam begitu tak berguna bagi mereka. Di STSK Ust. Abduh juga ada nasehat-nasehat yang bisa diambil, tapi Ba'abduh Cs. malah bikin buku baru yang semakin menyingkap kesesatan mereka, MDMTK
Mereka siapa? Kalau boleh disebutkan, siapa orangnya? Di mana saya bisa mendapatkan informasi mengenai mereka itu?
[/b][/color]
Mereka itu banyak, yang jelas mewakili orang-orang ghuluw yang saya sebut mereka
KBS (Khawarij Berbaju Salafi).
Sifat inti mereka: Menjelek-jelekkan Ummat Islam, memudah-mudahkan menuduh ahli bid'ah, menerapkan tahdzir dan hajr tanpa merinci lebih jauh, menghalalkan penghinaan, pelecehan, membongkar aib-aib sesama Muslim, tidak berdakwah secara bijak, dst dst.
Contoh kongkrit siapa? Sebenarnya itu sudah saya sampaikan dalam jawaban kemarin-kemarin. Misal Luqman Ba'abduh dan para pengikutnya, orang-orang yang berlisan tajam ketika keluar buku DSDB 1 & 2, serta STSK. Hal itu dinyatakan dalam internet, sms, telepon teror, dan lainnya. Saya sendiri dua kali difitnah oleh pemilik blog Fakta. Terakhir adalah peristiwa minggu lalu.
Secara umum, mantan-mantan Laskar Jihad yang dalam dakwahnya kemudian menetapkan sekitar
80 Ustadz yang direkomendasikan, yang masih gemar memusuhi harakah-harakah dakwah Islam, menuduh Surury, Quthby, dst. menetapkan bara' kepada para pemuda Islam di luar kelompoknya karena dianggap "ahlul bid'ah", orang-orang itulah yang saya sebut MEREKA.
Walhamdulillaah, Asaatidzah salafiyyin senantiasa mengajarkan kepada kaum Muslimin untuk hanya tunduk kepada Kitaabullah dan Sunnah RAsulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam yang shahiihah sesuai dengan pemahaman salafus shaalih..
JAdi sangat kontradiktif jika Saudara AMW mengatakan "mereka" sangat tunduk dengan "kata ustadz". MAka saya juga ingin mengatkan kepada AMW:
Sederhana saja, tolong sebutkan satu bukti yang menyatakan bahwa Asaatidzah salafiyyin mengajarkan kepada kaum Muslimin dalam hal ini (menurut istilah AMW) khususnya salafy ekstrem untuk tunduk kepada perkataan ustadz-nya...Baarakallaahufiikum...
Saya tidak percaya itu... Mungkin itu hanya anggapan Antum saja. Apa buktinya?
Kalau antum lihat blog Fakta atau "Tuk Pencari Al Haq", data-data orang yang mereka sesatkan masih terus bertambah. Disesatkan jika secara ilmiah dan bertanggung-jawab masih lumayan, ini "lempar batu sembunyi tangan".
Luqman Ba'abduh sendiri tetap menulis MDMTK, padahal sudah mendapat nasehat berharga ketika menulis MAT. Sambutan bagi buku Luqman tetap meriah. Bukan hanya sambutan, tapi sambil mencaci dan menteror orang lain. Mau tahu buktinya? Baca buku Ust. Abduh yang baru, Belajar dari Akhlak Ustadz Salafi. Disitu di bagian akhir, ada SMS2 mengerikan dari kelompok "mereka" itu.
Antum sendiri bisa melihat buktinya di forum ini. Apa tidak tampak bagaimana sikap [Fulan], DPR, PK, refleksi, dst. Ini bukti-bukti juga.
Bukti lain, sebelum Al Qaradhawi datang ke Indonesia sekitar tahun lalu, ada iklan dari kalangan "mereka" itu di harian Kompas. Katanya, akan terbit segera buku "Membongkar Kedok Qaradhawi". Pertanyaan, kalau gentle kenapa tidak debat saja dengan Qaradhawi atau murid-muridnya, daripada "lempar batu sembunyi tangan"?
Termasuk sebelum HTI membuat Konferensi Khilafah di Istiqlal, majalah Syariah juga pasang iklan akan bahas "kesesatan HT". Kalau memang merasa mereka sebagai kelompok yang benar (bukan berarti saya sepakat dengan semua pendapat tokoh atau organisasi di atas) mengapa tidak berdebat terbuka, melakukan uji shahih, mana yang paling kuat hujjahnya?
Ingat, kedua peristiwa tersebut baru tahun 2007 lalu.
Walhamdulillaah, mengenai nasihat para 'ulama Ahlus Sunnah kepada kaum ghuluw, maka itu adalah nasihat yang sangat berharga bagi seluruh kaum Muslimin. Dan Insya Allahu Ta'ala, salafiyyin akan mengikuti nasihat tersebut.
Siapa yang bilang nasihat para 'ulama Ahlus Sunnah tersebut tidak berguna? Aku (Abu Zaid) baru mendengarnya dari ucapan AMW ini.....Wallaahul Musta'an...
Kalau mau melihat atsar sebuah nasehat, lihatlah pada pengaruh nasehat itu. Kalau hanya dalam ucapan saja, setiap orang bisa mengatakan hal itu.
Saya akui, perubahan sikap itu ada dan nyata. Walhamdulillah. Tetapi sikap keras kepala itu juga masih ada. Masih kuat bercokol. Saya rasa, bukti-bukti sudah saya tunjukkan. Tidak usah diulang lagi.
4. Saudara AMW menggunakan dugaan di dalam melakukan kritikan, seperti dalam ucapannya:
Antum dinasehati dengan wahyu yaitu Al Qur'an dan hadits shahih seperti tidak mempan. Kenapa itu? Karena ikut "pendapat ustadz". Antum sadar tidak bahwa telah menempatkan "ucapan ustadz" lebih tinggi dari Al Qur'an dan Sunnah. Apa ada buktinya? Ya Ilahi, sangat banyak yang begini. Hujjah Al Qur'an dan Sunnah kalau dari luar kelompok mereka, seketika akan dihempaskan. Fahimtum, Aba Zaid?
@ Aba Zaid, kalau Antum mengikuti seperti dalam forum MyQuran ini, bahkan seperti dalam Forum Hidayatullah.com, pihak-pihak yang menasehati dengan Kitabullah dan Sunnah itu banyak, sungguh banyak. Tetapi semua itu tidak menjadi peringatan, jika bukan datang dari "ustadz", Syaikh Rabi', Syaikh Muqbil, Syaikh Yahya Najmi, Syaikh Ubaid Al Jabiri, dan semisal mereka.
Bukti lain, kalau mereka benar-benar Thalabul 'Ilmu (pencari ilmu), mereka akan mau mencari ilmu dari tempat-tempat lain, selain majlis taklim mereka sendiri. Sebab itu kan ada dimana-mana.
Tapi kalian kan sudah berburuk sangka, ilmu dari orang lain, ayat atau hadits dari orang lain,
meskipun benar lafadznya, tetapi selalu dianggap salah pemahamannya. Sampai di kalangan kalian itu kan berbagi informasi, "Ini nih ustadz yang kita rekomendasikan. Ustadz Fulan di kota anu dan anu. Jangan ambil dari lainnya. Hati-hati kepada ustadz Ikhwani, Sururi, Quthbi, dst."
Padahal yang membaca Ibnu Katsir, Shahih Bukhari, Bulughul Maram, Kitabut Tauhiid, dst. kan bukan hanya kelompok Antum. Pertanyaannya, maukah Antum belajar di luar majlis Antum?
Dikarenakan Saudara AMW, menggunakan lafadz "antum" dalam kalimat di atas, maka berarti ini telah menunjuk kepada diri saya (Abu Zaid).
Maka saya jawab:
Jazaakumullaahu khairan atas kritikannya. Namun walhamdulillaah dengan keutamaan dan rahmat dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, saya berusaha sesuai dengan kemampuan saya untuk menjadikan hujjah dari Kitaabullah dan Sunnah Rasulullaah Shallallaahu 'alaihi wa sallam di atas ucapan semua manusia.
Dan justru nasihat yang seperti ini saya dapatkan dari buku-buku para 'ulama Ahlus Sunnah yang disampaikan melalui ceramah asaatidzah salafiyyin.
Ya, seperti itulah yang seharusnya. Pertanyaannya, apakah nasehat ikut Kitabullah dan Sunnah hanya ada di kelompok Antum? Kemudian, bagaimana jika ada nasehat serupa dari kalangan di luar Antum? Kira-kira akan diterima tidak? Bagaimana jika ada nasehat serupa dari kalangan yang Antum sebut Sururi? Antum mau menerima nasehatnya?
Terus, siapa yang Antum sebut sebagai
asatidzah salafiyin? Mohon Antum jawab dulu masalah ini dengan tegas dan jelas, tidak diplomatis dan mendayu-dayu. Kalau Antum tidak menjawabnya, saya enggan melanjutkan dialog ini.
Mengenai ucapan Anda (AMW), yang mengatakan bahwa saya secara tidak sadar telah menempatkan ucapan ustadz di atas Al Quran dan As Sunnah, maka saya berlindung kepada Allah Tabaraka wa TA'ala dari sifat yang sangat berbahaya tersebut....dan Saya memohon kepada Allah Jalla wa 'Alaa agar senantiasa membimbing langkah kami untuk istiqomah di dalam berpegang teguh dengan Kitaabullah dan Sunnah RAsulullaah Shallallaahu 'alaihi wa sallam...
Amin Allahumma amin ya Mujibas sa'ilin. Mohon maaf jika terlontar ucapan yang salah atau zhalim. Astaghfirullah min kulli dzanbiy. Innahu Ghafurur Rahiim.
Adapun setiap manusia, dalam hal ini setiap firqah pun mereka mengeluarkan hujjah dari Al Quran dan Sunnah yang sesuai dengan manhaj firqah tersebut. Khawarij, Mu'tazilah bahkan Syi'ah Rafidhah sekalipun mereka mengeluarkan dalil dari Kitaabullah dan Sunnah. Apakah lantas jika kita tidak mengikuti mereka, kita "dituduh" menghempaskan Al Qur'an dan As Sunnah??? tentu saja tidak. Baarakallaahufiikum...
Ya, kita harus menjauhi Khawarij, Murji'ah, Mu'tazilah, Rafidhah, dan kelompok-kelompok sesat semisal itu. Inilah komitmen kita di atas Ahlus Sunnah.
Tapi masalahnya, apa Ikhwanul Muslimin, Yayasan As Sofwah, Wahdah Islamiyyah, Ihyaut Turats, Al Muntada Al Islamy, Ansharus Sunnah, Dewan Dakwah Islamiyyah, Rabithah Alam Islami, dan seterusnya, apakah mereka terindikasi sebagai kelompok yang sesat seperti Mu'tazilah, Murji'ah, Khawarij, Syi'ah, Ahmadiyyah, dan sejenisnya?
Mohon Antum benar-benar jawab pertanyaan itu! Coba datangkan bukti-bukti bahwa mereka "sesat" seperti penilaian kelompok Antum!
Dan saya ingin mengatakan kepada Anda (AMW), hendaknya kita semua kaum Muslimin juga menyadari, bahwa di dalam melihat dalil dari AL Quran dan As Sunnah kita memerlukan bimbingan para 'ulama salafus shaalih.....bukan di atas hawa nafsu dan perasaan kita
Ya Akhi, kita berusaha ke arah itu, dengan sekuat kesanggupan. Tetapi mohon Antum jangan membatasi istilah "ulama" itu hanya buat Syaikh Rabi', Syaikh Muqbil, Syaikh Ubaid, Syaikh Najmi, Syaikh Aman Jami, dst. Banyak lho ulama-ulama di kalangan Muslimin.
Contoh, Syaikh Sayyid Sabiq, Syaikh Ahmad Syakir, Syaikh Al Mubarakfury, Syaikh Shidiq Hassan Khan, Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh, bahkan Syaikh Safar Al Hawali, Syaikh Aidh Al Qarni, dll. mereka itu juga ulama-ulamanya Ummat Islam.
Ya, kalau saya selalu memakai perasaan, Antum akan mendapati disana kalimat seperti ini "menurut perasaanku" akan saya ulang-ulang. Justru saya bertanya balik, apa buktinya saya menggunakan ukuran perasaan sebagai dalil?
Maaf ya, dulu saya dituduh macam2 karena "majhul" tidak dikenal. Sekarang ada lagi istilah lain, "memakai perasaan". Nanti kalau dijawab, saya yakin akan ada lagi lainnya.
Wallahu a'lam bisshawaab.
Barakallah fikum barakatan katsirah wa wasi'ah ala kulli jiddiyatikum lil haqqi, wa as'alullah min fadhlihil karim liy, wa laka, wa lana jami'an. Allahumma amin.