Bagian I
Sebelumnya mohon maaf kepada ikhwan akhwat pengunjung MyQ jika akhir-akhir ini saya aktif memposting tulisan-tulisan. Sementara waktu saya perlu menghujani para Khawarij ‘alal haqiqah itu dengan apa yang mereka rindukan. Saya anggap, Abu Google Jahalah (pemilik Fakta blogsome) sudah “menggunting pita”, tanda dimulainya “sesuatu”. Ya, tantangan manusia rusak ini tak layak diabaikan.
Saya sudah baik-baik “bersembunyi” di balik nama At Thalibi, biar perseteruan pendapat yang ada tidak berlangsung terbuka, cukup antar kita-kita saja. Tapi rupanya, orang-orang sesat itu menghendaki yang tertutup biar terbuka. Ya sudah, kita buka-bukaan saja. Saya komitmen untuk melawan kesesatan berpikir ini, sampai saat datangnya ajal, ‘ala masyi'atillah wa bi nashrihil Karim.
Antara pemikiran Liberal dan Khawarij, saya tidak membedakannya. Mereka sama buasnya terhadap Islam dan kaum Muslimin. Jika para Liberaliyun menyerang Islam dari luar, maka Khawarij modern ini menyerang Islam dari dalam. Lihatlah mereka, Khawarij Rabi’iyun itu, agenda hidupnya adalah melawan misi gerakan-gerakan Islam yang komitmen dengan Syariat Islam.
Pada dasarnya mereka tidak mengikuti manhaj Salafus Shalih, selain klaim yang penuh kepalsuan. Berikut sekian bukti-bukti bahwa Khawarij Rabi’iyun itu tidak serupa dengan Salafus Shalih:
1. Rasulullah (Saw) dan Para Shahabat (Ra) ketika di Makkah, beliau menyerang sesembahan orang-orang musyrikin, beliau menghancurkan konsepsi ibadah jahiliyah ala orang-orang musyrikin Quraisy. Orang-orang Makkah sangat kewalahan, sampai berkali-kali mengirim utusan dan menawarkan fasilitas-fasilitas untuk melunakkan hati Nabi. Saking marahnya, mereka membuat makar untuk membunuh Rasulullah (Saw). Jadi, dakwah tauhid saat itu benar-benar hebat; konfrontasi antara tauhid dan kemusyrikan sangat hitam-putih. Meskipun disana sifatnya baru konfrontasi dakwah, belum konfrontasi kekuatan fisik. Baru setelah di Madinah, Rasulullah (Saw) diijinkan konfrontasi fisik.
Lalu lihatlah para Khawarij ini! Mana dakwah tauhid mereka? Mana konfrontasi mereka terhadap kemusyrikan? Tidak ada, atau sangat sedikit sekali. Kalau hati mereka peka dengan tauhid, hidupnya tidak akan tenang melihat kemusyrikan merebak dimana-mana. Omong kosong mereka mendakwahkan tauhid. Jauh, jauh, jauh sekali. Dengan mengajarkan Kitabut Tauhid mereka merasa telah “segala-galanya” dalam dakwah tauhid. Kalian itu tidak ada apa-apanya dibandingkan Tuanku Nan Renceh, Haji Miskin, Haji Piobang, Imam Bonjol, dll. rahimahumullah.
2. Rasulullah (Saw) dan Para Shahabat (Ra) di Makkah, mereka rela mengalami berbagai intimidasi, perlakuan keras, bahkan diboikot sampai tiga tahun, demi membela kalimat Laa Ilaha Illallah. Bahkan Khadijah Al Kubra (Ra), isteri tercinta Nabi, wafat dalam perjuangan penuh kesabaran, hingga harta benda beliau habis untuk membela Islam.
Adapun para Khawarij ini justru bermesraan, memuji-muji, bahkan mendoakan regim sekuler yang sebenarnya tidak Islami. Alasannya, taat kepada ulil amri. Mungkin, para Khawarij di Amerika sana juga menyerukan ketaatan murni kepada regim George Bush.
3. Rasulullah (Saw) mengutus Mush’ab bin Umair (Ra) untuk berdakwah ke kaum Aus dan Khajraj di Madinah. Beliau berdakwah penuh bijaksana, hingga ketika Saad bin Mu’adz (kalau tidak salah) hendak menghalangi dakwahnya, beliau berkata dengan lembut, “Tidakkah sebaiknya Anda duduk dulu, dengarkan apa yang saya sampaikan. Kalau yang saya sampaikan baik, terimalah. Tetapi kalau yang saya sampaikan buruk, saya akan berhenti.” Begitu pula ketika Rasulullah (Saw) mengutus Mu’adz bin Jabal (Ra) ke Yaman, beliau berpesan agar Mu’adz berdakwah secara bertahap. Mula-mula disuruh mengajarkan kalimat Laa ilaha illallah, lalu menyuruh shalat, lalu menyuruh membayar zakat.
Adapun Khawarij ini sama sekali tidak bijaksana. Dalam dakwahnya, manhaj mereka adalah mengajarkan kebencian, permusuhan, dan pertikaian antar satu Muslim dengan lainnya. Boro-boro mau bijaksana seperti kaum Salaf, mereka malah merusak citra Salafus Shalih itu sendiri.
4. Rasulullah (Saw) dan Para Shahabat (Ra) mereka membela Islam bukan hanya dengan ilmu, akidah, ibadah, dan akhlak. Mereka juga membela Islam dengan pedang (al jihad). Ada sejarawan yang mengatakan selama hidupnya Rasulullah (Saw) terlibat 80 kali peperangan. Mungkin maksudnya, termasuk ekspedisi-ekspedisi perang kecil yang beliau perintahkan. Hadits-hadits tentang jihad Nabi ini sangat banyak. Para Imam hadits rata-rata membuat bab tersendiri disana.
Lalu bagaimana dengan para Khawarij ini? Na’udzubillah wa na’udzubillah. Mereka benar-benar telah sesat dari jalan lurus. Seluruh amal-amal jihad yang dilakukan kaum Muslimin di jaman ini, meskipun sifatnya jihad defensif, mereka kecam habis-habisan. Dalam buku MAT itu Luqman Ba’abduh mencela habis-habisan jihad Ummat Islam. Perjuangan almarhum Kartosoewiryo, Relawan Kompak Dewan Dakwah di Ambon, Komandan Ibnul Khattab di Chechnya, mujahidin Afghanistan, sampai-sampai Hamas, Syaikh Yasin, dst. tidak selamat dari lidah api mereka.
5. Rasulullah (Saw) dan Para Shahabat (Ra) menegakkan Syariat Islam, menegakkan negara Islami, melindungi Islam dan Ummat dengan Pemerintahan Islami. Hingga ketika Rasulullah (Saw) wafat, para Shahabat lebih mendahulukan mengurus kepastian kepemimpian setelah Nabi, dari mengurus jenazah beliau. Artinya, urusan kepemimpinan Islami itu sangat-sangat penting dan prioritas. Dari jaman ke jaman Ummat Islam melindungi agama dan Ummatnya dengan penegakan Syariat Islam, bahkan dalam konteks Daulah Islam maupun Khilafah Islamiyyah.
Namun sangat aneh dengan para Khawarij ini. Mereka justru sangat memusuhi gerakan-gerakan dakwah yang berjuang menegakkan Syariat Islam. Gerakan-gerakan Islam mereka tuduh sebagai Hizbiyun yang wajib untuk dicela, dimusuhi, disesatkan, diahli-bid’ahkan, ditahdzir, bahkan diboikot. Saya tidak mengerti, atas dasar apa kita menyebut mereka Salafi atau Salafiyun? Justru kalau kebencian mereka kepada gerakan dakwah Islam sudah sedemikian mengkristal di hati dan mengendap di dasar otak, jangan-jangan mereka telah murtad tanpa disadari. Seperti kata Nabi, “Yamruquna minad dini kama yamruqu as sahmu minr ramiyyah” (mereka melesat dari agama ini seperti anak panah melesat dari busurnya).
6. Rasulullah (Saw) dan Para Shahabat (Ra) membangun peradaban Islam secara menyeluruh. Beliau melibatkan Para Shahabat dengan kemampuan dan spesialis apapun untuk mendukung peradaban Islam. Ada yang terlibat di bidang ilmiyah, ada yang terjun di dunia bisnis, ada yang mengerjakan administrasi, ada yang memelihara hadits-hadits Nabi, ada yang terjun di kemiliteran, ada yang menangani urusan intelijen, ada ahli bahasa, ada pendakwah, ada penyair, ada petani, dst. Nabi (Saw) benar-benar membangun Islam secara kaaffah, seperti yang diminta oleh Pembuat Syariat Islam (Allah Ta’ala).
Namun di tangan Khawarij jaman modern, segalanya jadi berubah. Mereka membenci urusan dunia, mendoktrin pengikut-pengikutnya untuk “belajar din saja”, tidak mau tahu urusan masyarakat, membenci masalah politik, tidak tahu perkembangan ekonomi, informasi, budaya, dst. Bahkan di Ma’had Daarul Hadits Syaikh Muqbil di Yaman, disana tidak ada listrik, rumah-rumah dari tembok tanah, tidak tersentuh teknologi. Padahal Islam hancur justru ketika urusan-urusan dunia diserahkan kepada orang-orang fasik, zhalim, kafir, bahkan musyrik.
7. Rasulullah (Saw) menjaga keutuhan Ukhuwwah Islamiyyah di antara Para Shahabat (Ra) dan Ummat Islam. Beliau mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar; beliau menjalin ikatan kekeluargaan dengan Shahabat-shahabat utama seperti Abu Bakar As Shiddiq (Ra), Umar bin Khattab (Ra), Utsman bin ‘Affan (Ra), Ali bin Abi Thalib (Ra), dan lainnya; Nabi mendamaikan pertikaian antara kaum Aus dan Khajraj; Beliau mendamaikan perselisihan antara Bilal bin Rabbah (Ra) dan Abu Dzar Al Ghifari (Ra); Beliau tidak bersikap keras kepada Abdullah bin Ubay, pemimpin kaum munafik, untuk menjaga perasaan orang-orang Madinah pengikutnya; Beliau bersikap lembut kepada pembesar-pembesar Makkah yang mengikuti Perang Hunain, untuk melunakkan hatinya; Beliau memaafkan Ahlul Makkah, khususnya Abu Sufyan dan Hindun, meskipun mereka dulu sangat banyak menyakiti hati beliau; dan seterusnya. Lihatlah Nabi sangat-sangat menjaga keutuhan Ummat, persaudaraan Islam, hingga beliau tidak mau membongkar fondasi Ka’bah, karena khawatir Ummat Islam saat itu belum siap.
Tetapi kaum Khawarij Rabi’iyun ini amal “jihad akbar” mereka justru mematahkan Ukhuwwah Islamiyyah, menyuburkan pertikaian antara sesama Muslim, mengobral penghinaan, pelecehanan, membongkar aib-aib Muslim, merusak kehormatan para dai, menghancurkan nama baik lembaga-lembaga Islam. Kalau ditanya, siapakah mereka? Aku tak ragu untuk mengatakan, bahwa mereka adalah musuh-musuh Islam. Mereka bukan pengikut Salaf, tetapi penghina Salaf.
Bersambung ke bagian II
Pak @ exblopz mohon jangan dikunci dong...