Bagian 2 : wawancara Ekslusif dengan Bill Gates (Versi V)Bill Gates sejenak merenung, kemudian sambil menatap RI satu setengah dan sekretarisnya Andi Malpraktek, ia menjelaskan.
"Begini, negara Indonesia ini kan sebenarnya jumlah potensi usernya banyak. Bayangkan saja sekarang ini member Indonesia itu dua ratus lima puluh juta jiwa lebih. Nah, anehnya setelah saya baca sejarah, justru member indonesia ini paling ngawur kalau berurusan dengan informasi, alias ngawur kalau menggunakan IT. Saya tak tahu, mungkin ini faktor genetik dari penghuni komunitas Indonesia yang sejarahnya tidak jelas, atau memang sudah budayanya. Alias kurang suka mendokumentasikan karya cipta masyarakatnya. Dengan kata lain, sebenarnya pemerintah itu kurang peduli - gitu loch maksud saya Bung!".
Saya melirik Andi Malpraktek yang pringisan dan RI satu setengah yang manyun-manyun dan mantuk-mantuk.
Bill Gates meneruskan bicara.
"Sampai-sampai, tetangga sebelah pun bisa mengklaim hasil karya member Indonesia ini dengan tidak malu-malu. Nah saya prihatin saja, apa memang komunitas ini sebenarnya tidak bisa nulis, hobi kupitpaste tulisan, kurang suka menginformasikan, atau memang sebenarnya hanya berpotensi jadi kelas konsumen saja. Menurut staf intelijen marketing saya, generasi mudanya jago-jago ngoprek aplikasi dan ngupipas blog. Yang paling gawat sifat jahilnya selalu muncul tiap generasi.
Mungkin bawaan genetik. Terutama, meng-cra ck software saya, meng-hack, men-deface, dll. Yang negatif-negatif gitulah. Sudah lama saya penasaran dengan Indonesia dan penghuninya. Eeh benar saja, pernah satu kali email dari Indonesia nyasar ke mailbox saya disisipi virus lokal Indonesia yang tak terdeteksi dengan anti virus kami. Masa di layar komputer saya muncul tulisan aneh "Denzuko...N250....Cepe dulu dong...Cape dech....Pale Lu Peyang....EGP....Au ach gelap....dll".
Jadi, meskipun faktanya begitu, saya percaya dengan laporan intelijen marketing yang ada di Jakarta kalau Bangsa Indonesia ini memang perlu diarahkan tentang tatacara menggunakan kemajuan zaman.
Biar nggak selalu diarahkan ke mistik-mistik gitu dech. Soale kan sekarang saya lihat banyak sms mistik. Lha saya baru sampai bandara Soekano-Hatta saja langsung di sodori ponsel bernomor Indonesia. SMS yang pertama masuk malah iklan ramalan hari dan tanggal lahir dari orang yang ngaku Mbah Bojongkenyot. Masa saya dirusuh REG MBAH <nama anda> <tanggal lahir> di jamin masa depan Anda sukses berat.
Ini sudah TERLAAAAALU (modus bicara gaya Bang Haji Rhoma).
Begitulah dik, saya prihatin dengan bangsa yang super duper aneh ini. Mestinya, dengan banyaknya informasi dan pengetahuan seseorang bisa lebih mantap berkarya, hehehe...Tapi disini beda yah, kok malah lebih senang menggunakan sisi negatifnya saja....", katanya mengakhiri penjelasannya.
Saya meneruskan ke pertanyaan lebih serius.
"Mas, sebenarnya apa Anda yakin bangsa kami ini bisa berubah total dengan adanya IT ini. Katakan saja, dulu kami gemar merencanakan transfer teknologi, ada bidang otomotif, penerbangan, dan sekarang IT dengan term "e"-nya, tapi hasilnya tidak jelas. Dengan target operasi dunia pendidikan, apa yang perlu diajarkan kepada anak-anak muda Indonesia. Apakah sebagai pemakai produk aja, pengembang, atau bisa lebih jauh lagi misalnya mengentaskan kemiskinan dan mensejahterakan rakyat. Asal Bapak tahu saja, meskipun di era informasi ini Indonesia nampak gegap gempita, tapi sebenarnya sebagian besar penduduknya masih kere. Gajinya saja mungkin kebanyakan masih dibawah 200 dollar dan ekonomi masih tergantung stabilitas Dollar, BBM, dan Penjarahan Hutan. Selain itu kami cenderung dan gagap gempita ketika berbicara tentang high tech dan pemanfaatannya. Ini mungkin dari pengalaman buruk era sebelumnya. Nah, bagaimana pendapat Bapak sebagai visioner dunia IT".
Dengan antusias, Mas Bill Gates kemudian meluruskan kakinya, tangannya sekarang sudah tidak bersidakep. Ia kemudian menatap kembali ke RI satu setengah dengan serius. Kali ini, tangannya sudah di depan badan dengan posisi akan menjelaskan sesuatu yang penting.
"Pertanyaan yang paling sering ditanyakan (FAQS) kepada saya memang salah satunya adalah pengaruh TI pada suatu masyarakat. Khususnya masyarakat dunia ketiga seperti Indonesia. Saya hanya perlu sekali lagi menjelaskan kalau teknologi itu hanyalah alat semata. Jadi, pepatah militer lama "The Man Behind The Gun" tetap berlaku di dunia IT. Maka, bagaimanakah cara IT bisa mensejahterakan masyarakat suatu bangsa adalah pada niat manusianya juga. Nah, kalau manusianya masih berpola pikir zaman kuda dan onta gigit besi, ya susah juga. Makanya kenapa saya menekankan pada bidang pendidikan, bukan yang lainnya sebagai pokok pangkal. Selain itu tentu aspek-aspek lain yang memungkinkan manusia yang melek IT berkembang juga musti di dukung. Hanya saja, ada penyakit kronis dari Bangsa Indonesia ini...," ia sejenak berhenti sambil menatap RI satu setengah dengan serius.
Yang ditatap agak jengah setengah mengantuk karena kelelahan. Tatapan serius Bill Gates menyadarkannya, ia pun kemudian menyimak kembali.
"Begini, penyakit kronis bangsa ini sebenarnya maunya serba instan saja. Yang ajaib-ajaib gitu.Makanya saya tak pernah ngomong masalah uang disini ketika ingin membantu bangsa Anda. Soalnya takut berceceran kemana-mana kaya sampah di Jakarta. Saya ngomong masalah penyediaan sarana saja, yang memang mirip seperti pengijon, atau janji pramuka. Yang jelas perlu saya tekankan kalau keserbainstanan itu tak akan bisa mewujudkan keberhasilan. Karena disana tak ada proses belajar, proses merenung, dan proses memaknai suatu perbuatan. Tentu saja tak ada perjuangan untuk Menjadi, atau kalau tak salah menurut staff lokal saya tidak akan muncul kekuatan Kun Fayakuun.
Tidak ada itu tidak ada kalau cara-cara model lama diterapkan. Bakal jadi mimpi aje kali....
Jadi, bagaimanapun juga IT tetap alat semata. Manusialah yang menentukan alat itu bisa dijadikan apa atau membuat apa. Kalau cuma sekedar dibajak dan dijual kembali, ya jelas tak ada kemajuan, kalau alat itu digunakan untuk membantu membuat benda lainnya atau melakukan aksi. Nah baru ada reaksi sebagai kemungkinan untuk mencapai peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Jadi, jangan salah kaprah ya, kemajuan itu bukan berarti orang harus diam menjadi pengguna dan pembeli saja. Justru orang harus terus bergerak dan mengembangkan diri dan menghargai karya orang lain dengan proporsional. Sudah tidak jamannya menggunakan mantra-mantra ABRACADABRA atau BENTO...BENTO..BENTO...
Untuk mencapai kesejahteraan, mengurangi kemiskinan, ataupun menjadi bangsa yang eksis, kalian harus mengubah kebiasan lama yang berurat akar itu. Jadi usahakan untuk berjuang dengan kejujuran dan ketulusan lantas berdoa dan merenungkan perjuangan itu supaya ada makna immaterial yang dapat dijadikan pelajaran buat anak cucu kalian nanti. Jadi, jangan kebolak-balik, doa tapi tanpa usaha itu namanya TERLAALU KELIRUUU. Jangan salah kaprah, samalah dengan anak yang mau lulus ujoan nasional, bukankah baru saja Ujian Nasional anak high school dan middle school target operasional saya? Jadi musti belajar dulu baru berdoa untuk lulus. Ingat lloh, jangan sok niru-niru saya yang DO waktu di universitas. Kalau tidak begitu cape dechhhh...
Selain itu, tolong jangan hanya berpikir pendek untuk kepentingan kalian saat ini saja. Kalian punya tanggung jawab etis dan moral untuk masa depan generasi mendatang, kepada semua manusia yang kelak lahir, baik yang ada di indonesia, maupun di seluruh dunia. Negeri kalian kan unik, ia penyangga Bumi ini. Paling utama malah. Saya baca-baca kok buku sejarah Indonesia dan serba-serbinya.".
Mantap sekali ia menjelaskan cara-cara yang seharusnya untuk memanfaatkan IT, hanya saja saya rada pesimis dengan pendapat Bill Gates. Saya pesimis apa dipahami atau tidak oleh RI satu setengah, Andi Malpraktek sekretarisnya, dan staf serta pembantu presiden lainnya, bahwa itulah yang harus disampaikan ke Bangsa Indonesia menurut keterangan Bill Gates dari wawancara V ini. Yah, setidaknya sampaikan saja lah biar sepotong kata kepada rakyat supya mereka dapat merasakan kehebatan dan manfaat Bill Gates sebagai visioner sekaligus praktisi, bukan hanya sekedar menjadi penonton yang termehe-mehe lantas bertanya ,"Emang siape die....".
Saya nanya lagi.
"Kongkritnya bagaimana?", kata saya lugu.
"Nah ini die...",katanya dengan langgam Pos Kota.
"Baru saja saya jelaskan jangan ingin serba instan muncul pertanyaan begini. Ini pertanyaan umum bangsa Anda yang kurang bisa memahami bahasa komunikasi dengan baik dan benar. Jadi, kalau dijelaskan dengan terang malah jadi gelap. Tapi kalau dijelaskan dengan asal bunyi malah jadi salah tafsir....karena banyak yang maunya jadi dukun penafsir", Ia nampak memandang saya mencemooh sambil menatap presiden. Saya panas juga, lantas mencoba mengeles.
"Eh, bukan begitu maksud saya, memang bangsa Indonesia ini suka menafsirkan kata-kata makanya belum lama ada orang yang pabalieut mengira Bloger dan Hacker itu sami mawon, jadi maksud saya..". saya belum tuntas bicara. Ia memotong cepat.
"Nah ini lagi, satu penyakitnya. Suka ngeles kalau dikritik dan diberi saran dengan macem-macem alesan", katanya lagi. Saya mati kutu.
Bill Gates kemudian melanjutkan.
"Yah, memang bagaimanapun juga saya akui Kebiasaan yang berurat akar di bangsa Anda itu susah dihilangkan. Suka mau yang kongkrit padahal duduk perkaranya tak pernah dipelajari dengan serius.
Lantas bikin alasan yang nampak logis untuk mengeles atau menghindar. Untuk pembenaran alasan itu, dikumpulkannya semua orang mas media. Lantas mas media Anda yang kurang punya semangat untuk membuat berita yang unik, ngutip dan nguping berita dari temannya. Maka lahirkan media massa gosip asal njeplak mempromosikan berbagai alasan yang dianggap benar padahal mungkin asbun" katanya sedikit memaklumi kebiasan yang memang sudah mendarah daging Bangsa Indonesia yaitu gosip di gosok makin sip.
"Begini. Yang penting sebenarnya kemauan untuk berubah dan melihat dengan cara pandang baru atas suatu masalah. Cara pandang itu mesti utuh, integralistik-holistik. Masalah negeri Anda kan sebenarnya masalah kemiskinan fisik dan non fisik, banyak orangnya tapi sedikit yang bisa. Dari orang yang banyak seperti buih busa itu sedikit yang bisa, lebih sedikit lagi yang pikirannya maju dan progresif revolusioner. Tapi dari yang sedikit itu lebih sedikit lagi yang mau berbuat nyata, berbuat banyak untuk orang lain dengan tulus, kecuali hanya pada masa kampanye atau ada proyek, atau sebatas dapat dana dengan nyaru jadi LSM saja. Nah intinya - KEMAUAN, SEMANGAT UNTUK BERUBAH!!! Bukan semangad untuk terkenal dan nampang di koran atau TV hanya sekedar untuk sensasi sukses sesaat misalnya mau kampanye atau biar dibilang eksekutif muda yang sukses dan masuk jajaran selebritis. Untuk sukses itu butuh perjuangan, ketulusan dan kejujuran. Bukankah tahun depan kalian bakal hajatan dengan membuang uang dengan sia-sia. Mengumbar janji semata sementara pelaksanaannya tak pernah diukur keberhasilannya dan pertanggunganjawabnya selain menampilkan gambar, foto, dan film proyek-proyek semata?
Saran saya, harus ada kemauan dan semangat pada semua lapisan Bangsa Indonesia kalau mau berubah dan diperhitungkan oleh warga dunia. Jadi tak mungkin perubahan hanya di satu bidang saja misalnya IT thok, atau pertanian thok, atau kesehatan thok, harus di semua lini, harus integralistik holistik. Dan semua orang harus menggunakan potensi terbaiknya.
Jangan suka ketularan penyakit ikutan ah, satu bekas artis sukses jadi calon wagub, masa artis yang lain merasa bisa. Yang benar aja penyakit aneh ikut-ikutan ini harus diberantas. Jika tidak, yah silahkan Anda mencari ladang untuk membuat lubang kubur sendiri".
Kata Bill Gates menatap saya, RI satu setengah, dan Andi Malpraktek yang masih juga ngguyu dan tersenyum senyum malu.
Kami semua di ruang khusus wawancara yang didekor mirip acara Empat Mata Tukul Arowana itu merah mukanya. Saya dan RI Satu Setengah terpana dengan pengetahuan Bill Gates tentang situasi terkini Indonesia. Entah dia subscribe RSS dimana, saya tak tahu, mungkin dia langganan detikcom atau SMS Liputan6.
Saya kemudian mencoba berimprovisasi, "Mas Bill, seandainya Anda jadi Menteri Infokom Indonesia, apa yang akan Anda lakukan?".
Bill Gates sejenak berpikir, tak lama kemudian solusinya keluar.
"Begini, saya ini dari awal karir saya termasuk manusia yang tak begitu suka formalitas. Universitas saja saya DO karena lebih suka ngoprek meningkatkan kreatifitas dan meraih peluang baru abad dijital. Sampeyan tahu teman saya si Allen yang beda jauh umurnya dengan saya kan. Tak ada rasa sungkan diantara kami meskipun kami beda generasi. Makanya,mungkin langkah awal saya adalah mengumpulkan seluruh anak muda yang antusias dengan perkembangan Infokom. Lalu saya biarkan mereka membentuk wacana untuk merumuskan bagaimana sebaiknya. Saya arahkan mereka supaya jangan bermain sendiri-sendiri, kolaborasi kuncinya, kerjasama, kesatuan tekat untuk maju bersama dengan manfaat sebesar-besarnya bagi semua orang BUKAN untuk diri sendiri atau sekelompok orang dan turunannya serta cucu-cicitnya. Infokom itu sebenarnya khas bagi mereka yang berjiwa muda dan gaul. Jadi,kombinasi tua dan muda serta kolaborasi ini akan menjadi sintesa kekuatan dimana kemampuan teknis dan kearifan lokal digali untuk difokuskan pada pemanfaatan perkembangan infokom mulai dari infrastruktur, perangkat keras, lunak dan tentunya brainware. Saya tak akan membiarkan kebijakan infokom Indonesia di atur dan diarahkan untuk kepentingan sekelompok pedagang kelontong hardware maupun software semata. Kalau memang berniat memajukan Infokom Indonesia para penjual hardware maupun sofware harus punya program yang jelas dengan manfaat yang nyata bagi semua masyarakat bukan segelintir profesional yang berkecimpung di bidang infokom semata. Harus ada social responsibility pada masyarakat yang jelas bukan yang menipu-nipu dengan iming-iming iklan korting kaya pulsa handphone yang iklannya saya liat banyak sekaleee di Jakarta ini. Jadi, mungkin pendekatannya akan saya konsepkan sebagai integralisme-holistik dan kreatifitas bertanggung jawab bagi pengembangan IT. Selain itu, Infokom itu industri kreatif, cepat berkembang dan berbelok arah. Makanya tulang punggung utamanya pada pengembangan SDM baik di Infokom, maupun penggunaan dan implementasinya bagi industri maupun masyarakat awam.
Selain itu, tentu perlu ada aturan main yang benar-benar jelas sebagai undang-undang maupun penerapannya misalnya maslaah copyright, copy left, copy paste, atau kopi dangdut...Eh maksud saya tradisi menggunaan karya orang lain harus jelas aturannya. Kalian harus mulai menghargai karya orang lain, meskipun hanya sepotong kata semata. Dengan kata lain, hukum dan aturan yang berhubungan dengan infokom juga harus benar-benar dimantapkan penerapannya" Bill Gates nampak bersemangat menjelaskan programnya seandainya ia menjadi Menteri Infokom.
Saya kemudian nyela, "Apa nanti diwajibkan menggunakan produk Anda?".
Ia nampak sedikit gugup," Eh ya tergantung. Kan kita kompetisi bebas. Jadi ya bebas-bebas saja toch, yang penting HALAL".
Masih beberapa saat lagi, jadi saya mengajukan pertanyaan terakhir yang sensitif.
"Mas, mohon maaf ya, kalau pertanyaan saya terakhir ini lancang." Kata saya agak ragu.
"Ohh, no problem, ajukan saja, saya kan mirip ensiklopedia Encarta kok", kata Bill Gates tertawa lebar-lebar menyebutkan satu produknya yang banyak dibajak di Indonesia. Seperti biasanya dengan gigi yang terlihat jelas dan kedutan mimik wajah khas.
"Begini....", saya ragu sejenak. Akhirnya mantap juga bertanya.
"Begini, apa Mas BIll Gates itu ALIEN?", kata saya polos.
Suara menggelegar terbahak-bahak membahana di ruang itu. Andi Malpraktek dan RI satu setengah terkekeh sambil terbungkuk-bungkuk di kursinya. Andi Malprakltek malah lebih kacau lagi. Ia langsung terguling-guling terbahak-bahak di atas karpet lantai. Bill Gates juga terbahak sambil terbungkuk-bungkuk memegang perutnya.
"Hwalah, pertanyaan sampeyan ini juga termasuk penyakit bangsa Anda. isu dan gosip tak jelas. Huehwehehehehe....", Katanya tidak sanggup melanjutkan kata-katanya karena masih kegelian.
Ia kemudian mendadak menghentikan tawanya yang terbahak. RI satu setengah juga nampak mendadak serius menatap saya. Andi masih terkikik menutup mulut dengan tangannya. Ia sudah duduk kembali di kursinya setelah puas berguling-guling di karpet yang empuk.
Bill Gates serius menatap saya, tiba-tiba saja nampak matanya malah semakin membesar....membesar..dan membesar seperti topeng Barong Bali. Keringat dingin menetes di dahi saja, jangan jangan memang ALIEN pikir saya.
Dan tiba-tiba saja tangannya makin melar menjangkau saya, mencoba meraih kerah baju saya.
Saya panik, Bill Gates kok jadi sepeti Kapten Melar, tokoh komik anggota Dunia Fantasi.
Tiba-tiba tubuh saya berguncang keras, dan air dingin muncrat kemuka saya......Sayup-sayup saya mendengar suara melengking yang semakin keras ditelinga.
"Mass....mass...bangunnnn.....
mass......udah magrib nih...", suatu suara wanita terdengar.
Saya pun gelagapan dan menatap bengong ke istri saya yang masih mengenakan mukena.
"Ngapain sih, magrib-magrib gini berteriak-megap-megap kaya kehabisan nafas...kesambet ya..." kata istri saya sambil melotot.
"Eh..oh....lho kamu tho Non...", kata saya gagap dan kaget karena dibangunkan oleh istri saya.
Suara TV masih terdengar. Weleh, rupanya saya masih di depan TV sambil ketiduran.
"Mimpi ye...", kata istri saya.
"Iya kali mimpi aneh Non. ketemu Bill Gates, RI satu setengah, dan Andi Malpraktek", kata saya sambil menatap bengong.
"Makanya, mau magrib jangan tidur. Disambir setan tuh pikiran Mas", kata isri saya sambil ngeloyor sholat magrib.
Tinggallah saya bengong di depan TV. Rupanya jam enam lewat lima. Hehehe....emang mimpi sore rupanya, lega saya.
Aya-aya wae….

The End
atmnd114912, bekasi 11/05/2008