Penulis Topik: Hubungan hati,lisan dan pikiran  (Dibaca 211 kali)


Offline calon_akhwat

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Feb 2007
  • Tulisan: 74
  • Lokasi: Depok
  • Jenis kelamin: Wanita
  • salam ta'aruf
    • Lihat Profil
« pada: 19 Juli 2008, 21:23:10 »
Depok 03 november 2007 16:51

Tujuan Saya menulis artikel ini hanya untuk dijadikan bahan renungan, bagi Saya maupun bagi Antum yang dengan sengaja melihat blog ini atau yang sekedar numpang mampir diblog hijau milik calon akhwat ini.

Entah mengapa, dulu saya belum mampu untuk memahami pepatah ” mulutmu adalah harimaumu ” atau “ lisanmu sepenting hidupmu” dan berbagai pepatah lainnya yang berhubungan dengan masalah lisan.
Marah-marah, menggerutu, mengumpat atau bahkan beristighfar adalah sebuah reaksi emosi yang muncul dari jiwa seseorang. Dari mana munculnya semua reaksi tersebut ? setelah mencari kesana kemari, akhirnya saya menemukan sebuah jawaban yang nyata, yaitu hati.
Seperti hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim berikut ini…:
Rasulullah Shalallahu alaihi Wa Salam bersabda:
"Ketahuilah, di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Bila ia baik maka baik pulalah seluruh tubuh. Dan apabila ia rusak maka rusak pulalah seluruh tubuh. Ketahuilah itu adalah hati”.

Dari hadits diatas, saya berusaha untuk menyelami maksudnya berdasarkan logika yang terbatas ini. Ternyata hati memiliki peran penting bagi seluruh anggota tubuh lainnya. Hati yang memerintahkan seseorang berbuat baik maupun sebaliknya.
Hati yang menggerakkan lisan untuk mengucapkan apa yang terkandung didalamnya. Bagi beberapa orang, sebelum lisannya bergerak, maka otaknya akan bekerja terlebih dahulu, menjadi filter dari setiap kata yang akan dikeluarkannya.
Namun, bagi manusia lainnya diluar dari tipikal manusia yang sudah saya sebutkan diatas, kemampuan otak yang Allah berikan kepadanya tidak dipergunakan dengan baik, bahkan tidak jarang, tidak digunakan sama sekali.

Sekarang saya baru memahami makna dari pepatah tarsebut. Jika mengingat-ingat tausiyah dari Aa Gym, bahwa diri ini ibarat teko. Apa yang dikeluarkan dari mulut teko adalah gambaran dari apa yang ada didalamnya.
Berbagai celaan sudah pernah saya terima, mulai dari yang biasa saja, hingga yang kasarnya bukan main. Bagitu halnya dengan pujian (tapi ndak banyak orang yang memuji saya, karena ndak ada yang pantas dipuji dari diri ini J hehe )
Lagi-lagi saya teringat dengan tausiyah Aa Gym yang beberapa kali saya dengarkan di mp3 komputer saya.
Aa pernah menyampaikan hal ini…(ini sambil diputar ulang tausiyahnya :) )

“ ketika ada yang memuji, kita harus punya ilmunya. Bahwa pujian itu sebenarnya tidak cocok untuk kita. Kita dipuji, karena orang lain tidak tahu siapa kita yang sebenarnya. Yang dipuji adalah topeng, sehingga jika kita dipuji dan tahu ilmunya, maka tidak akan terjebak dalam mendramatisir diri dan membohongi diri menjadi orang yang bangga dan bahagia menghadapi pujian tersebut. Padahal kita tahu, pujian itu tidak sepenuhnya cocok dengan diri kita.

Saat dicaci, kalau kita tahu ilmunya, maka cacian dan penghinaan itu lebih sederhana, dibanding keburukan kita yang sebenarnya. Maka kita tidak akan panik, goyah, stress bahkan kita dengar saja dengan baik dan dijadikan bahan renungan. Siapa tahu, itu bukan cacian, tapi informasi dari Allah untuk perbaikan diri kita. Sebenarnya hinaan mereka adalah perkataan yang sebenarnya…

Penghinaan adalah sarana dari Allah untuk peningkatan kemuliaan kita dan sarana pengetest kearifan kita… ”

Sebenarnya saya sangat menyukai saat seseorang marah, menghina atau mencaci saya. Karena dalam kegiatannya tersebut, saya bisa mendapat bermacam-macam kasus psikologi yang tidak ada dalam literature yang pernah saya baca.

Emosi seseorang bukanlah sebuah skenario yang dibuat sedemikian rupa agar terlihat rapih dan “waw” saat orang lain menyaksikannya. Tapi emosi adalah sebuah letupan jiwa yang dari sanalah karakter seseorang bisa tergali dengan sendirinya, tanpa perlu melakukan riset.
Saat menyaksikan seseorang yang sedang marah, biasanya otak saya mulai terpacu untuk berpikir, mulai dari hal-hal yang dapat tertangkap indera saya.

Kemudian saya cermati bahwa apa yang baru saja keluar dari lisannya adalah gambaran jiwanya, kemudian saya serap baik-baik setiap perkataan yang keluar dari mulutnya, kemudian saya memperhatikan gerak tubuhnya, sejauh mana dia bisa menguasai setiap bagian dari tubuhnya disaat marah.

Bisa saja, karena marah, tangannya bergerak dengan tidak terkendali sehingga melukai lawan bicaranya, atau dampak terhebat dari ketidakmampuannya mengontrol diri adalah tanpa sadar menghilangkan nyawa seseorang yang berada dekat dengannya (naudzubillahi mindzalik!) persis seperti yang ada pada tayangan berita kriminal.

Apa alasan seseorang bisa bertindak diluar batas fitrahnya? Lagi-lagi jawabannya adalah hati. Oleh karena itu, maka kendalikan hatimu, agar bisa berhati-hati dalam setiap tindakan yang akan kamu lakukan.
Sebetulnya hanya diri sendirilah yang mengetahui bagaimana caranya mengendalikan hati dan pikiran. Saya mencoba untuk berbagi saran yang insyaAllah berguna…(amiin)

· Tundukkan hati hanya kepada Allah dengan cara terikat padaNya
· Jauhkan hati dari buruknya perasaan karena dapat menggerakkan pikiran dan perbuatan ke”jalan yang kurang bahkan tidak benar”.
· Jangan jadikan hawa nafsu sebagi “panglima” dan “pengendali”nya.
· Bertemanlah dengan orang-orang yang dapat menjaga hatinya dengan baik.
· Dll (pelajarilah karekter diri sendiri, disana terdapat banyak jawaban. Atau berusaha bertanya kepada orang-orang terpercaya yang jujur ,lembut, dan arif cara penyampaian dakwahnya).

Jadi, bersikap bijaksanalah dengan berusaha untuk memperbaiki diri. Perbaikilah langsung kepada pokoknya, yaitu hati. Jangan tunggu hingga ia sakit, gersang, mengeras ,lalu mati.

“ Adalah hari yang mana harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat." (QS. Asy-Syuara: 88 - 89)

Allahu a'lam bishawwab...

*diambil dari blog saya*
You gonna have to see through my perspective

Offline ipin4u

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 10.926
  • Lokasi: Balikpapan
  • Jenis kelamin: Pria
  • We support Palestine!
    • Lihat Profil
    • my blogs at multiply
« Jawab #1 pada: 21 Juli 2008, 09:24:27 »
thanks for sharing O0

Offline ikh@

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Okt 2006
  • Tulisan: 282
  • Lokasi: jakarta
  • Jenis kelamin: Wanita
  • Perhiasan dunia yg terindah adalah wanita Salihah
    • Lihat Profil
« Jawab #2 pada: 22 Juli 2008, 13:36:12 »
nice artikel  O0 BTW dr artikel diatas ada yg perlu saya tanyaken, pertanyaannya adalah :
1. Bagaimana menjaga hati agar tetep tenang, damai, dan bijak ? krn apabila kita dilingkungan yg kurang baik orang2nya maka menurut saya kok sangat susah ya untuk menjaga hati krn kadang ada org yg sengaja mancing2 amarah kita (saya sendiri kadang memang suka kepancing ;D)
2. Apabila kita rasa hati kita g terang lagi warnanya (mungkin krn byknya dosa2  :hihi:) gimana cara mbersihinnya?
3. Apakah ada resep untuk menjadi bijak dlm mengevaluasi setiap masalah yg ditimbulkan oleh hati kita sendiri (cth: ada org salah sama kita, sebenernya kita g trima apalagi orgnya g mau minta maaf kan kita kesel dan hati jadi gondok terus ngegrundel deh.... :jaim:)
4. Saat ini kayaknya hati saya sedang sakit / terluka, saya dah coba ngobatin ( baca Qur'an tiap abis magrib, denger tauziah, baca2 artikel yg bermanfaat dll) tp sakitnya g ilang2 juga... :'( plz...help me donk....saya bener2 tersiksa nich :mewe:
apalagi ndilalahnya (bhs.jawa, tp bhs indonesianya apa ya?  :hmmm:) banyak banget kejadian2 yg bikin kesel pada saat hati ini spt sekarang ini, capeeeeeeeeeeeeeek bgt deh rasanya  :( :mewe:

help...help...help me yawh.....

jazakallah................
hiasi harimu dengan senyum ......

Offline kosambi amin

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Okt 2007
  • Tulisan: 1.119
  • Jenis kelamin: Pria
  • Bismilaah
    • Lihat Profil
« Jawab #3 pada: 22 Juli 2008, 14:34:57 »
makanya ada tombo ati....
jagalah hati....

banyakan hati yang jadi fokus...

nuhun masukannya...
Bismillaahi laa yadhurru ma'asmihi syai un fil ardhi walaa fis samaa i wahuwas samii 'ul 'aliim