Penulis Topik: adakah 'ulama di negeri ini?  (Dibaca 1815 kali)


Offline abie1102

  • Moderator
  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Jan 2007
  • Tulisan: 8.230
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #45 pada: 23 Juli 2008, 21:04:26 »
ulama su' itu macam musdah mulia dkk

pak mustafa yaqub ulama, daud rasyid ulama..dll bnyak dh ... stock plg bnyk mgkn d NU..

Zaman dulu tentunya prlu memasukkan kh.ahmad dahlan dan hasyim asyari. Buya hamka jg patut dperhtungkan...


Offline abu_tahara

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 1.707
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #46 pada: 24 Juli 2008, 08:49:12 »
Tuanku Imam Bonjol sepertinya termasuk 'ulama juga

Offline refleksi

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Jan 2008
  • Tulisan: 1.523
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #47 pada: 24 Juli 2008, 09:07:13 »
Ulama...ya.

biasanya yang namanya ulama tentunya menguasai jika tidak seluruh keilmuan dalam islam secara mutlak..atau ia mengusai satu cabang ilmu.

Dan ulama adalah orang yang diakui keilmuannya oleh ulama juga bukan oleh orang awam...

seperti imam ahmad mengakui kefaqihan dari imam syaf'i. Hingga imam ahmad berpendapat dengan hadits bahwa alloh akan membangkitkan pada tiap penghujung 100 tahun seorang pembaharu dalam agama..dan ia adalah imam as-syafi'i...

begitu pula imam syafi'i mengakui keilmuan imam ahmad...

Dan karya dari ulama-ulama tersebut tidak hanya di gunakan di lokal suatu daerah saja .. namun di dunia islam secara umum...itu artinya para ulama dan tholibul ilmu mengakui nilai keilmuan dalam karya tersebut...bahkan menjadi standart umum..seperti shohih hadits al-bukhari muslim.

gimana adakah ulama di indonesia yang di akui oleh ulama-ulama lain di belahan negeri islam lainnya misalnya saudi atau yaman sebagai seorang yang berilmu dan di terima keilmuannya?

wallahu a'lam
Orang kafir aja Bangga dan PD pake Bikini & Rok Mini
(udah kaya Binatang)....
Masa Muslim malu kalau pake Busana Muslim + Sunnah Jenggot dan Tidak Isbal

Kite Musti Bangga Ama Ciri Khas KITA...dan Ga Niru Ciri Khas ORANG KAFIR

Offline DodyKurniawan 07

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2007
  • Tulisan: 4.230
  • Lokasi: Magelang City
  • Jenis kelamin: Pria
  • fayaa ilaahiththufbinaa...
    • Lihat Profil
    • IstanaIslamku
« Jawab #48 pada: 24 Juli 2008, 09:39:50 »
ulama yg didefiniskan antum tsb adalah dalam level tinggi, seorang faqih, hafizh, mujhatid baik mujtahid muthlaq atau mujtahid dalam mazhab...

kalau jaman dulu ada akh,,
mungkin syaikh nawawi al jaw masuk kriteria....beliau menjadi mufti di mekkah, banyak juga pujian2 dari ulama2 mekkah lainnya....beliau banyak mengarang kitab berbahasa arab....

Offline fattahillahe

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.174
  • Lokasi: Gunung Lawu
  • Jenis kelamin: Pria
  • Sepiro gedene sengsoro yen tinompo amung dadi cobo
    • Lihat Profil
    • Jasa Exspedisi
« Jawab #49 pada: 24 Juli 2008, 10:42:25 »
mungkin syaikh nawawi al jaw masuk kriteria....beliau menjadi mufti di mekkah, banyak juga pujian2 dari ulama2 mekkah lainnya....beliau banyak mengarang kitab berbahasa arab....

insyaallah sangat mungkin gus .....  :)

Syekh An-Nawawi bahkan termasuk dalam kategori salah satu ulama besar di abad ke 14 H/19 M. Karena kemasyhurannya ia mendapat gelar:A’yan ‘Ulama’ al-Qarn aI-Ra M’ ‘Asyar Li al-Hijrah,. AI-Imam al-Mul1aqqiq wa al-Fahhamah al-Mudaqqiq, dan Sayyid ‘Ulama al-Hijaz [pemimpin Ulama daerah Hijaz, red.]

« Edit Terakhir: 24 Juli 2008, 10:59:59 oleh fattahillahe »
Dahar Ketupat Kuahipun Santen - Menawi Lepat Nyuwun Pengapunten
http://hastransport.blogspot.com/

Offline Abu Ziyad

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Mar 2008
  • Tulisan: 217
    • Lihat Profil
« Jawab #50 pada: 24 Juli 2008, 10:47:32 »
Mungkin copas ini bisa memberikan penjelasan. Ada atau tidak ulama' di indonesia terutama saat ini?

Ciri-Ciri Ulama

Oleh Ustadz Abu Usamah bin Rawiyah An Nawawi

Siapa yang dinamakan Ulama?
Terdapat beberapa ungkapan ulama dalam mendefinisikan ulama. Ibnu Juraij rahimahullah menukilkan (pendapat) dari ‘Atha, beliau berkata: “Barangsiapa yang mengenal Allah, maka dia adalah orang alim.” (Jami’ Bayan Ilmu wa Fadhlih, hal. 2/49)
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dalam kitab beliau Kitabul ‘Ilmi mengatakan: “Ulama adalah orang yang ilmunya menyampaikan mereka kepada sifat takut kepada Allah.” (Kitabul ‘Ilmi hal. 147)
Badruddin Al-Kinani rahimahullah mengatakan: “Mereka (para ulama) adalah orang-orang yang menjelaskan segala apa yang dihalalkan dan diharamkan, dan mengajak kepada kebaikan serta menafikan segala bentuk kemudharatan.” (Tadzkiratus Sami’ hal. 31)
Abdus Salam bin Barjas rahimahullah mengatakan: “Orang yang pantas untuk disebut sebagai orang alim jumlahnya sangat sedikit sekali dan tidak berlebihan kalau kita mengatakan jarang. Yang demikian itu karena sifat-sifat orang alim mayoritasnya tidak akan terwujud pada diri orang-orang yang menisbahkan diri kepada ilmu pada masa ini. Bukan dinamakan alim bila sekedar fasih dalam berbicara atau pandai menulis, orang yang menyebarluaskan karya-karya atau orang yang men-tahqiq kitab-kitab yang masih dalam tulisan tangan. Kalau orang alim ditimbang dengan ini, maka cukup (terlalu banyak orang alim). Akan tetapi penggambaran seperti inilah yang banyak menancap di benak orang-orang yang tidak berilmu. Oleh karena itu banyak orang tertipu dengan kefasihan seseorang dan tertipu dengan kepandaian berkarya tulis, padahal ia bukan ulama. Ini semua menjadikan orang-orang takjub. Orang alim hakiki adalah yang mendalami ilmu agama, mengetahui hukum-hukum Al Quran dan As Sunnah. Mengetahui ilmu ushul fiqih seperti nasikh dan mansukh, mutlak, muqayyad, mujmal, mufassar, dan juga orang-orang yang menggali ucapan-ucapan salaf terhadap apa yang mereka perselisihkan.” (Wujubul Irtibath bi ‘Ulama, hal. 8)
Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan ciri khas seorang ulama yang membedakan dengan kebanyakan orang yang mengaku berilmu atau yang diakui sebagai ulama bahkan waliyullah. Dia berfirman:

إِنَّماَ يَخْشَى اللهَ مِنْ عِباَدِهِ الْعُلَمآءُ

“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah adalah ulama.” (Fathir: 28)

Ciri-ciri Ulama
Pembahasan ini bertujuan untuk mengetahui siapa sesungguhnya yang pantas untuk menyandang gelar ulama dan bagaimana besar jasa mereka dalam menyelamatkan Islam dan muslimin dari rongrongan penjahat agama, mulai dari masa terbaik umat yaitu generasi shahabat hingga masa kita sekarang.
Pembahasan ini juga bertujuan untuk memberi gambaran (yang benar) kepada sebagian muslimin yang telah memberikan gelar ulama kepada orang yang tidak pantas untuk menyandangnya.
a. Sebagian kaum muslimin ada yang meremehkan hak-hak ulama. Di sisi mereka, yang dinamakan ulama adalah orang yang pandai bersilat lidah dan memperindah perkataannya dengan cerita-cerita, syair-syair, atau ilmu-ilmu pelembut hati.
b. Sebagian kaum muslimin menganggap ulama itu adalah orang yang mengerti realita hidup dan yang mendalaminya, orang-orang yang berani menentang pemerintah -meski tanpa petunjuk ilmu.
c. Di antara mereka ada yang menganggap ulama adalah kutu buku, meskipun tidak memahami apa yang dikandungnya sebagaimana yang dipahami generasi salaf.
d. Di antara mereka ada yang menganggap ulama adalah orang yang pindah dari satu tempat ke tempat lain dengan alasan mendakwahi manusia. Mereka mengatakan kita tidak butuh kepada kitab-kitab, kita butuh kepada da’i dan dakwah.
e. Sebagian muslimin tidak bisa membedakan antara orang alim dengan pendongeng dan juru nasehat, serta antara penuntut ilmu dan ulama. Di sisi mereka, para pendongeng itu adalah ulama tempat bertanya dan menimba ilmu.
Di antara ciri-ciri ulama adalah:
1. Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan: “Mereka adalah orang-orang yang tidak menginginkan kedudukan, dan membenci segala bentuk pujian serta tidak menyombongkan diri atas seorang pun.” Al-Hasan mengatakan: “Orang faqih adalah orang yang zuhud terhadap dunia dan cinta kepada akhirat, bashirah (berilmu) tentang agamanya dan senantiasa dalam beribadah kepada Rabbnya.” Dalam riwayat lain: “Orang yang tidak hasad kepada seorang pun yang berada di atasnya dan tidak menghinakan orang yang ada di bawahnya dan tidak mengambil upah sedikitpun dalam menyampaikan ilmu Allah.” (Al-Khithabul Minbariyyah, 1/177)
2. Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan: “Mereka adalah orang yang tidak mengaku-aku berilmu, tidak bangga dengan ilmunya atas seorang pun, dan tidak serampangan menghukumi orang yang jahil sebagai orang yang menyelisihi As-Sunnah.”
3. Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan: “Mereka adalah orang yang berburuk sangka kepada diri mereka sendiri dan berbaik sangka kepada ulama salaf. Dan mereka mengakui ulama-ulama pendahulu mereka serta mengakui bahwa mereka tidak akan sampai mencapai derajat mereka atau mendekatinya.”
4. Mereka berpendapat bahwa kebenaran dan hidayah ada dalam mengikuti apa-apa yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَيَرَى الَّذِيْنَ أُوْتُوْا الْعِلْمَ الَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ هُوَ الْحَقَّ وَيَهْدِي إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيْزِ الْحَمِيْدِ

“Dan orang-orang yang diberikan ilmu memandang bahwa apa yang telah diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Rabbmu adalah kebenaran dan akan membimbing kepada jalan Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Terpuji.” (Saba: 6)
5. Mereka adalah orang yang paling memahami segala bentuk permisalan yang dibuat Allah Subhanahu wa Ta'ala di dalam Al Qur’an, bahkan apa yang dimaukan oleh Allah dan Rasul-Nya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَتِلْكَ اْلأَمْثاَلُ نَضْرِبُهاَ لِلنَّاسِ وَماَ يَعْقِلُهاَ إِلاَّ الْعاَلِمُوْنَ

“Demikianlah permisalan-permisalan yang dibuat oleh Allah bagi manusia dan tidak ada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (Al-’Ankabut: 43)
6. Mereka adalah orang-orang yang memiliki keahlian melakukan istinbath(mengambil hukum) dan memahaminya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَإِذَا جآءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ اْلأَمْنِ أَوْ الْخَوْفِ أَذَاعُوْا بِهِ وَلَوْ رَدُّوْهُ إِلَى الرَّسُوْلِ وَإِلَى أُولِي اْلأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِيْنَ يَسْتَنْبِطُوْنًهُ مِنْهُمْ وَلَوْ لاَ فَضْلَ اللهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لاَتَّبَعْتُمُ الشَّيْطاَنَ إِلاَّ قَلِيْلاً

“Apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Kalau mereka menyerahkan kepada rasul dan ulil amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang mampu mengambil hukum (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (rasul dan ulil amri). Kalau tidak dengan karunia dan rahmat dari Allah kepada kalian, tentulah kalian mengikuti syaithan kecuali sedikit saja.” (An-Nisa: 83)
7. Mereka adalah orang-orang yang tunduk dan khusyu’ dalam merealisasikan perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

قُلْ آمَنُوا بِهِ أَوْ لاَ تُؤْمِنُوا إِنَّ الَّذِيْنَ أَوْتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذِا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّوْنَ لِلأًذْقاَنِ سُجَّدًا. وَيَقُوْلُوْنَ سُبْحاَنَ رَبِّناَ إِنْ كاَنَ وَعْدُ رَبِّناَ لَمَفْعُوْلاً. وَيَخِرُّوْنَ لِلأَذْقاَنِ يَبْكُوْنَ وَيَزِيْدُهُمْ خُشُوْعاً

“Katakanlah: ‘Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: “Maha Suci Tuhan kami; sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi”. Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (Al-Isra: 107-109) [Mu’amalatul ‘Ulama karya Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Umar bin Salim Bazmul, Wujub Al-Irtibath bil ‘Ulama karya Asy-Syaikh Hasan bin Qasim Ar-Rimi]
Inilah beberapa sifat ulama hakiki yang dimaukan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala di dalam Al-Qur’an dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam di dalam Sunnahnya. Dengan semua ini, jelaslah orang yang berpura-pura berpenampilan ulama dan berbaju dengan pakaian mereka padahal tidak pantas memakainya. Semua ini membeberkan hakikat ulama ahlul bid’ah yang mana mereka bukan sebagai penyandang gelar ini. Dari Al-Quran dan As-Sunnah mereka jauh dan dari manhaj salaf mereka keluar.

Contoh-contoh Ulama Rabbani
Pembahasan ini bukan membatasi mereka akan tetapi sebagai permisalan hidup ulama walau mereka telah menghadap Allah Subhanahu wa Ta'ala. Mereka hidup dengan jasa-jasa mereka terhadap Islam dan muslimin dan mereka hidup dengan karya-karya peninggalan mereka.
1. Generasi shahabat yang langsung dipimpin oleh empat khalifah Ar-Rasyidin: Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali.
2. Generasi tabiin dan di antara tokoh mereka adalah Sa’id bin Al-Musayyib (meninggal setelah tahun 90 H), ‘Urwah bin Az-Zubair (meninggal tahun 93 H), ‘Ali bin Husain Zainal Abidin (meninggal tahun 93 H), Muhammad bin Al-Hanafiyyah (meninggal tahun 80 H), ‘Ubaidullah bin Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud (meninggal tahun 94 H atau setelahnya), Salim bin Abdullah bin ‘Umar (meninggal tahun 106 H), Al-Hasan Al-Basri (meninggal tahun 110 H), Muhammad bin Sirin (meninggal tahun 110 H), ‘Umar bin Abdul ‘Aziz (meninggal tahun 101 H), dan Muhammad bin Syihab Az-Zuhri (meninggal tahun 125 H).
3. Generasi atba’ at-tabi’in dan di antara tokoh-tokohnya adalah Al-Imam Malik (179 H), Al-Auza’i (107 H), Sufyan bin Sa’id Ats-Tsauri (161 H), Sufyan bin ‘Uyainah (198 H), Ismail bin ‘Ulayyah (193 H), Al-Laits bin Sa’d (175 H), dan Abu Hanifah An-Nu’man (150 H).
4. Generasi setelah mereka, di antara tokohnya adalah Abdullah bin Al-Mubarak (181 H), Waki’ bin Jarrah (197 H), Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i (203 H), Abdurrahman bin Mahdi (198 H), Yahya bin Sa’id Al-Qaththan (198 H), ‘Affan bin Muslim (219 H).
5. Murid-murid mereka, di antara tokohnya adalah Al-Imam Ahmad bin Hanbal (241 H), Yahya bin Ma’in (233 H), ‘Ali bin Al-Madini (234 H).
6. Murid-murid mereka seperti Al-Imam Bukhari (256 H), Al-Imam Muslim (261 H), Abu Hatim (277 H), Abu Zur’ah (264 H), Abu Dawud (275 H), At-Tirmidzi (279 H), dan An-Nasai (303 H).
7. Generasi setelah mereka, di antaranya Ibnu Jarir (310 H), Ibnu Khuzaimah (311 H), Ad-Daruquthni (385 H), Al-Khathib Al-Baghdadi (463 H), Ibnu Abdil Bar An-Numairi (463 H).
8. Generasi setelah mereka, di antaranya adalah Abdul Ghani Al-Maqdisi, Ibnu Qudamah (620 H), Ibnu Shalah (643 H), Ibnu Taimiyah (728 H), Al-Mizzi (743 H), Adz-Dzahabi (748 H), Ibnu Katsir (774 H) berikut para ulama yang semasa mereka atau murid-murid mereka yang mengikuti manhaj mereka dalam berpegang dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah sampai pada hari ini.
9. Contoh ulama di masa ini adalah Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz,Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, Asy-Syaikh Muhammad Aman Al-Jami, Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i, dan selain mereka dari ulama yang telah meninggal di masa kita. Berikutnya Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi, Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, Asy-Syaikh Zaid Al-Madkhali, Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz Alu Syaikh, Asy-Syaikh Abdul Muhsin Al-’Abbad, Asy-Syaikh Al-Ghudayyan, Asy-Syaikh Shalih Al-Luhaidan, Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali, Asy-Syaikh Shalih As-Suhaimi, Asy-Syaikh ‘Ubaid Al-Jabiri dan selain mereka yang mengikuti langkah-langkah mereka di atas manhaj Salaf. (Makanatu Ahli Hadits karya Asy-Syaikh Rabi bin Hadi Al-Madkhali dan Wujub Irtibath bi Ulama)
Wallahu a’lam

Sumber :
http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_on
Jadikanlah hidupmu seperti orang yang sehari berpuasa, dan berbukanya adalah kematian (Nasehat Slaf)

Offline Orla-Waba

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2008
  • Tulisan: 39
  • Lokasi: Indonesia
  • Jenis kelamin: Pria
  • The male chicken (ayam jago)
    • Lihat Profil
« Jawab #51 pada: 24 Juli 2008, 11:30:45 »
Imam An Nawawi berkata dalam Mukaddimah Tadriebur Rawi: "Ulama (hadits) paling tidak adalah orang yang telah menguasai Bahasa Arab, Nahwu, Sharaf, Balaghah dan lain-lain, menguasai ilmu Ushul Fiqih, ilmu Ushul Hadits, telah mempelajari dengan baik paling tidak kitab-kitab hadits yang tujuh: Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan At-Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah, Sunan An-Nasa'i, dan Musnad Imam Ahmad, ditambah telah hafal sejumlah besar hadits, puluhan atau ratusan ribu hadits..."

Dari penjelasan di atas -penjelasan sejenis juga pernah diungkapkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan sering disebut-sebut meski dengan bahasa berbeda oleh para ulama- menjadi ulama adalah hal yang teramat sulit, kecuali dengan rahmat Alloh.

(Diketik kembali dari Majalah Elfata Edisi 7/I/2001 dengan sedikit perubahan kata-kata)

seringkali rasa penasaran saya membuncah, ketika saudara2ku di sini menyebut ulama indonesia, ulama NU dan yang sejenisnya. Saya sangat ingin tahu apakah di indonesia pernah lahir seseorang dengan klasifikasi yang disebutkan Imam An Nawawi di atas.




Ini pertanyaan hebat banget, telak sekali.

Maka jawabnye juga harus telak juga, biar sepadan.

Jawabnye begini:



1. Sebenarnye, abu_tahara mau bilang gini: "Di Indonesia gak ada ulama, maka tidak boleh didengar ilmunye. Ulama cuma ada di Saudi sono, sama Yaman tentunye. Lain tempat kagak ada, yang ada cuma 'bau ulama'." Begitu kali ye maunya abu_tahara, ini cuma prasangka. Maaf kalau salah sangka ye.


2. Apa yang disebut abu_tahara adalah definisi ulama menurut An Nawawi dan mungkin Ibnu Taimiyah juga. Tapi itu kan pendapat ulama, sifatnya tidak mutlak kan. Yang mutlak ya Al Qur'an dan sunnah shohih itu. Bener kan ?


3. Definisi ulama kalau dikembalikan ke Al Qur'an, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.” (Q.s. 35: 28). Mereka berilmu, mengimani ilmu, beramal sholeh dan takut kepada Allah, takut jatuh dalam dosa. Itu sudah cukup disebut ulama, terserah dia orang terkenal atau tidak.



4. Harus dibedakan antara keadaan jaman dulu dengan keadaan jaman sekarang. Dulu umat Islam punya banyak ulama, sebab situasi kondusif untuk menjadi ulama. Sekarang keadaan gini, wajar kalau standar keulamaan perlu direvisi. Jangan samain jamannya Imam Nawawi dengan jaman sekarang. Jelas beda dong. Di hadits juga di bilang, ilmu itu makin lama makin menurun. Iya kan? Jadi bersikap adillah.


5. Kalau di Indonesia dibilang "gak ada ulama", yang ada "cuman di Saudi ama Yaman aman Jordan aja". Itu bahaya banget lho. Lalu yang ngajarin kita ilmu-ilmu Islam di Indonesia siapa ya? Siapa yang ngajarin dan menjaga Islam selama ini? Mereka itu apaan ya?

Sehebat-hebatnye ulama Saudi, tetap aja orang Indonesia lebih paham kondisi di negerinya. Soal ilmu oke deh, tapi soal waqi'iyah jelas orang Indonesia lebih tahu. Misale disepakati, orang Indonesia jahil mutlak, mau gak ulama-ulama Saudi tinggal di Indonesia? Gak usah banyak-banyak, satu aja anggota Kibarul Ulama Saudi tinggal di Indonesia. Mau gak?



6. Misale standar ulama dibuat seperti Imam Nawawi, terutama pada bagian ini, hafal puluhan sampai ratusan ribu hadits Nabi. Kita mau tanya, apa seluruh ulama-ulama di Saudi, Yaman, Jordan, Mesir, Aljazair, Maroko, Sudan, dst. pokoknya siapa saja yang disono disebut ulama, apa mereka hafal sampai puluhan ribu ratusan ribu hadits ? Tolong dijawab secara jujur ya!


7. Syaikh Albani itu sangat dikenal sebagai ahli hadits, beliau sangat banyak baca kitab-kitab hadits. Tapi pertanyaan, apa beliau hafal puluhan ribu ampe ratusan ribu hadits Nabi ?

Tolong jawab jujur ye, apa Albani hafal hadits sebanyak itu! Tolong ye dijawab ye! Sebabe Albani itu dikenal bukan sebagai penghafal hadits, beliau ahli tapi bukan penghafal hadits yang bagus

Apa karena itu, ilmunya Albani tak usah diambil, sebab "belum ulama"?



Tolong ye abu-tahara, Antum jujur ye...

 



 

 
Alasan orang memeluk iman Kristiani: (1) Ikut orangtua atau keluarga. (2) Karena kesulitan ekonomi dan butuh bantuan sosial. (3) Terpaksa karena pernikahan dan sudah punya anak. (4) Karena kecewa dengan perilaku orang-orang Muslim yang zhalim. (5) Karena merasa tentram dg memusuhi Islam.

Offline abu_tahara

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 1.707
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #52 pada: 24 Juli 2008, 12:48:38 »
Ini pertanyaan hebat banget, telak sekali.
Maka jawabnye juga harus telak juga, biar sepadan.
Jawabnye begini:
1. Sebenarnye, abu_tahara mau bilang gini: "Di Indonesia gak ada ulama, maka tidak boleh didengar ilmunye. Ulama cuma ada di Saudi sono, sama Yaman tentunye. Lain tempat kagak ada, yang ada cuma 'bau ulama'." Begitu kali ye maunya abu_tahara, ini cuma prasangka. Maaf kalau salah sangka ye.
absolutely, you're wrong

Kutip
2. Apa yang disebut abu_tahara adalah definisi ulama menurut An Nawawi dan mungkin Ibnu Taimiyah juga. Tapi itu kan pendapat ulama, sifatnya tidak mutlak kan. Yang mutlak ya Al Qur'an dan sunnah shohih itu. Bener kan ?
bener

Kutip
3. Definisi ulama kalau dikembalikan ke Al Qur'an, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.” (Q.s. 35: 28). Mereka berilmu, mengimani ilmu, beramal sholeh dan takut kepada Allah, takut jatuh dalam dosa. Itu sudah cukup disebut ulama, terserah dia orang terkenal atau tidak.
seorang 'ulama akan dikenal karena keilmuannya

Kutip
4. Harus dibedakan antara keadaan jaman dulu dengan keadaan jaman sekarang. Dulu umat Islam punya banyak ulama, sebab situasi kondusif untuk menjadi ulama. Sekarang keadaan gini, wajar kalau standar keulamaan perlu direvisi. Jangan samain jamannya Imam Nawawi dengan jaman sekarang. Jelas beda dong. Di hadits juga di bilang, ilmu itu makin lama makin menurun. Iya kan? Jadi bersikap adillah.
jadi yang adil yang bagaimana?

Kutip
5. Kalau di Indonesia dibilang "gak ada ulama", yang ada "cuman di Saudi ama Yaman aman Jordan aja". Itu bahaya banget lho. Lalu yang ngajarin kita ilmu-ilmu Islam di Indonesia siapa ya? Siapa yang ngajarin dan menjaga Islam selama ini? Mereka itu apaan ya?
bukan bahaya, tapi sotoy  :jaim:
ada guru agama, ada ustadz. mungkin termasuk 'ulama juga tetapi secara bahasa aja.

Kutip
Sehebat-hebatnye ulama Saudi, tetap aja orang Indonesia lebih paham kondisi di negerinya. Soal ilmu oke deh, tapi soal waqi'iyah jelas orang Indonesia lebih tahu. Misale disepakati, orang Indonesia jahil mutlak, mau gak ulama-ulama Saudi tinggal di Indonesia? Gak usah banyak-banyak, satu aja anggota Kibarul Ulama Saudi tinggal di Indonesia. Mau gak?
OOT, no comment

Kutip
6. Misale standar ulama dibuat seperti Imam Nawawi, terutama pada bagian ini, hafal puluhan sampai ratusan ribu hadits Nabi. Kita mau tanya, apa seluruh ulama-ulama di Saudi, Yaman, Jordan, Mesir, Aljazair, Maroko, Sudan, dst. pokoknya siapa saja yang disono disebut ulama, apa mereka hafal sampai puluhan ribu ratusan ribu hadits ? Tolong dijawab secara jujur ya!
wah kurang tau saya

Kutip
7. Syaikh Albani itu sangat dikenal sebagai ahli hadits, beliau sangat banyak baca kitab-kitab hadits. Tapi pertanyaan, apa beliau hafal puluhan ribu ampe ratusan ribu hadits Nabi ?

Tolong jawab jujur ye, apa Albani hafal hadits sebanyak itu! Tolong ye dijawab ye! Sebabe Albani itu dikenal bukan sebagai penghafal hadits, beliau ahli tapi bukan penghafal hadits yang bagus

Apa karena itu, ilmunya Albani tak usah diambil, sebab "belum ulama"?

Tolong ye abu-tahara, Antum jujur ye...
honestly saya belum tau Syaikh Al Albani hafal berapa hadits, tapi pujian dari Syaikh Bin Baaz dan syaikh-syaikh lainnya dan karya-karya beliau cukup bagi saya bahwa Syaikh Al Albani adalah seorang 'ulama.

anyway, berbaik sangkalah....

Offline Orla-Waba

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2008
  • Tulisan: 39
  • Lokasi: Indonesia
  • Jenis kelamin: Pria
  • The male chicken (ayam jago)
    • Lihat Profil
« Jawab #53 pada: 24 Juli 2008, 12:55:17 »

honestly saya belum tau Syaikh Al Albani hafal berapa hadits, tapi pujian dari Syaikh Bin Baaz dan syaikh-syaikh lainnya dan karya-karya beliau cukup bagi saya bahwa Syaikh Al Albani adalah seorang 'ulama.

anyway, berbaik sangkalah....


Maaf, kalau ane salah. Maafin.

Tapi kalau saklek harus seperti standar An Nawawi, ulama-ulama itu harus di-test satu per satu. Boleh oleh gurunya, boleh oleh sebuah dewan.

Kalau mereka lolos, harus murajaah terus, sebab kalau cuma "pernah hafal" dia kan belum bisa disebut seorang Hafizh. Barangkali "mantan Hafizh".


Alasan orang memeluk iman Kristiani: (1) Ikut orangtua atau keluarga. (2) Karena kesulitan ekonomi dan butuh bantuan sosial. (3) Terpaksa karena pernikahan dan sudah punya anak. (4) Karena kecewa dengan perilaku orang-orang Muslim yang zhalim. (5) Karena merasa tentram dg memusuhi Islam.

Offline abu_tahara

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 1.707
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #54 pada: 24 Juli 2008, 13:56:48 »
Maaf, kalau ane salah. Maafin.
Tapi kalau saklek harus seperti standar An Nawawi, ulama-ulama itu harus di-test satu per satu. Boleh oleh gurunya, boleh oleh sebuah dewan.
Kalau mereka lolos, harus murajaah terus, sebab kalau cuma "pernah hafal" dia kan belum bisa disebut seorang Hafizh. Barangkali "mantan Hafizh".
never mind Akh, saya juga minta maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan.
itu kan hanya salah satu pandangan/pendapat 'ulama Akh, 'ulama yang lain mungkin akan berbeda pula pendapatnya, so ngga mesti saklek lah saya kira...
soal mengetest 'ulama saya belum pernah dengar, tapi saya rasa tanpa ditest pun, hasil karya/buah pena para 'ulama sudah membuktikan. kalo murajaah mah emang kudu, seperti pisau yang lama tidak diasah akan menjadi tumpul.

Offline Abu Ziyad

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Mar 2008
  • Tulisan: 217
    • Lihat Profil
« Jawab #55 pada: 24 Juli 2008, 14:20:14 »
Ana mendapatkan link, berapa hadist yang dihafal oleh syaikh Albany. Mungkin sebagai referensi awal, memang jarang sekali seorang ulama' yang tawadlu' akan mengakui saya hafal sekian ribu hadist. Sebagaimana kisah tentang Syaikh Al Bany yang ana dengar dari ustadzuna Muhtarom. Suatu hari beliau kedatangan seorang ibu kemuadian Ibu itu berkata " Saya bermimpi bertemu Rasullullah dan Beliau shalallahu wa 'alaihi wa salam titip salam buat Engkau" Maka apa jawab syaikh. "Tolong jangan ceritakan kepada seorangpun" dan kisah ini baru kita dengar setelah meninggalnya. Ini contoh tawadlu' nya ulama'. Demikian juga syaikh bin Baz yang hapal kutubutsittah, yaitu enam kitab hadist yang utama, Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Nasa'i, Sunan turmizi, Sunan Abu Dawud dan Ibnu Majah.

Berapa Banyak Hadits yang di hafal oleh Syaikh Al-Albany (rahimahullah)?
 

يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجاَتٍ
“ Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat.” (Al-Mujadilah: 11)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata : “Oleh karena itu, kita dapati orang-orang yang berilmu selalu menyandang pujian. Setiap (nama mereka) disebut, pujian pun tercurah untuk mereka. Ini merupakan wujud diangkatnya derajat (mereka) di dunia. Adapun di akhirat, akan menempati derajat yang tinggi lagi mulia sesuai dengan apa yang mereka dakwahkan di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan realisasi dari ilmu yang mereka miliki.” (Kitabul Ilmi, hal.14)

Segala puji bagi Allah, sungguh Syaikh (Al-Albany) hafal 100 ribu hadist…

Syaikh Asyisy menceritakan sebuah kejadian ketika Al-Muhadist Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albany rahimahullah menjelaskan perbedaan tingkat ulama ahli hadist, dan Syaikh Al-Albany berkata: “Al-Hafidz itu adalah seseorang yang mampu menghafal 100 ribu hadist beserta rantai-rantai periwayatannya atas berita/cerita dan teks (pada setiap hadist).”

Kemudian, Syaikh Asyisy menyahut: “Bisakah saya tahu bahwa Syaikh kami (Syaikh Al-Albany) ini telah menghafal 100 ribu hadist?”

Syaikh Al-Albany menjawab: “Ini tidak penting bagi Anda.”

Syaikh Asyisy menimpali: “Agaknya, ini penting bagi saya.”

Syaikh Al-Albany menjawab: “..Tidak penting bagi Anda.”

Syaikh Asyisy berkata: “Jadi, sangat mungkin bagi saya untuk mengatakan bahwa Syaikh adalah seorang Hafidz.”

Kemudian, Syaikh Al-Albany diam.Syaikh Asyisy berkata lagi: “Jadi, barangkali akan saya katakan bahwa diamnya Anda merupakan sebuah jawaban (sebagai pembenaran).”

Syaikh Al-Albany berkata: “Bukankah sudah saya katakan bahwa ini tidak penting bagi Anda?”

Syaikh Asyisy berkata: “Ya. Hal ini penting bagi saya. Dan saya mengartikan bahwa kurangnya tanggapan Anda merupakan sebuah jawaban iya?”

Syaikh Al-Albany pun diam.

Dan Syaikh Asyisy mengulangi pertanyaannya kepada Syaikh Al-Albany di waktu itu. Syaikh Al-Albany berujar: “(Dan apa pun yang datang kepadamu, semua dari Allah).”

Syaikh Asyisy dengan cepat berkata: “Bolehkah saya mengartikan ucapan ini sebagai jawaban Anda?”

Syaikh Al-Albany menjawab: “Silakan Anda mengartikan ini sebagai jawaban dan silakan mengartikan apa pun yang Anda inginkan.”

Syaikh Asyisy melanjutkan ceritanya: “Kemudian saya menyatakan dengan gembira: “Allahu Akbar” dan berseru kegirangan: “Laa ilaaha illallaah”, dan berkata: “Segala puji bagi Allah, sungguh-sungguh Syaikh telah menghafal 100 ribu hadist.”

Kemudian, Syaikh kami (Syaikh Al-Albany) tertawa: “Itu karena dia ngotot terhadap apa yang saya katakan.”

Syaikh Asyisy melanjutkan cerita: “Dari tanggapan beliau mulai dari awal sampai akhir, tidak pernah ada jawaban yang jelas dari Syaikh, dan tidak ada pernyataan secara langsung kecuali karena kerendahan hati beliau yang sangat.”

Semoga Allah merahmati beliau dan menjaga yang masih hidup.

Sumber: Safahaat Baydhaa min Hayaat Syaikhinaa Al-Albany, hlm. 40

Diterjemahkan oleh Abu Maulid dari www.fatwa-online.com

Teks bahasa Inggris:

al-Hamdu Lillaah, indeed the Shaykh has memorised a hundred thousand hadeeth…
*Please appropriately reference this quote to: www.fatwa-online.com, thankyou!*
Shaykh ‘Asheesh narrates an incident when the Imaam of Hadeeth, the Shaykh - Muhammad Naasiruddeen al-Albaanee (rahima-hullaah) was explaining the different scholarly levels of hadeeth, and Shaykh al-Albaanee went on to say:
“al-Haafidth is one who has memorised a hundred thousand hadeeth along with their chains of narration and the text (of each hadeeth).”

So Shaykh ‘Asheesh responds:
“Is it possible for me to be satisfied in the knowledge that our Shaykh has memorised a hundred thousand hadeeth?”

Shaykh al-Albaanee said:
“This does not concern you.”

Shaykh ‘Asheesh said:
“Rather, it is from that which does concern me.”

Shaykh al-Albaanee said:
“…does not concern you.”

Shaykh ‘Asheesh said:
“So is it possible for me to say that our Shaykh is a haafidth?”

So Shaykh al-Albaanee became quiet.

Shaykh ‘Asheesh said:
“So is it possible for me to take your silence as an answer?”

Shaykh al-Albaanee said:
“Have I not told you that this does not concern you?”

Shaykh ‘Asheesh said:
“Yes. This is from that which does concern me. Is it possible for me to interpret (your) lack of response as an answer?”

So the Shaykh became quiet.

And Shaykh ‘Asheesh repeated his question to him a number of times.

Shaykh al-Albaanee recited:
“{And whatever you have of the blessings, then it is from Allaah}.”

And Shaykh ‘Asheesh quickly said:
“Can I interpret this as an answer?”

Shaykh al-Albaanee said:
“It is for you to interpret it as an answer and it is for you to interpret it as whatever you wish.”

Shaykh ‘Asheesh narrates:
“So I happily proclaimed: “Allaahu Akbar”, and jubilantly exclaimed: “Laa ilaaha ill-Allaah”, and said:
“al-Hamdu Lillaah, indeed the Shaykh has memorised a hundred thousand hadeeth.”

So our Shaykh laughed; It was as if he confirmed what I was saying.”

Shaykh ‘Asheesh further narrates:
“From his responses from the beginning to the end there never was a clear answer from the Shaykh, so this does not imply anything except his extreme humility.”

Safahaat baydhaa. min hayaat Shaykhinaa al-Albaanee – Page 40

http://antosalafy.wordpress.com/2007/03/27/berapa-banyak-hadist-yang-dihafal-oleh-syaikh-al-albany-rahimahullah/

Jadikanlah hidupmu seperti orang yang sehari berpuasa, dan berbukanya adalah kematian (Nasehat Slaf)

Offline abu_tahara

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 1.707
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #56 pada: 24 Juli 2008, 14:32:34 »
@Abu Ziyad
JazakaLlaah Akhi atas postingannya.

sedikit OOT, antum ngaji di Masjid Raya Bintaro ya?

Offline Abu Ziyad

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Mar 2008
  • Tulisan: 217
    • Lihat Profil
« Jawab #57 pada: 24 Juli 2008, 14:44:46 »
Ana tinggal di Bekasi, kerja di Sudirman Jkt, Insyaallah setiap selasa selepas shalat dhuhur Beliau mengajar Riyadhus shalihin di masjid Sudirman tower, alhamdulillah kalau nggak ada udzur ana sempatkan hadir. Beliau juga beliau mengajar tafsir di Mushola Summitmas setiap rabu dari jam 15.00 s.d maghrib. Kalau antum dekat silahkan hadir.
Jadikanlah hidupmu seperti orang yang sehari berpuasa, dan berbukanya adalah kematian (Nasehat Slaf)

Offline DodyKurniawan 07

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2007
  • Tulisan: 4.230
  • Lokasi: Magelang City
  • Jenis kelamin: Pria
  • fayaa ilaahiththufbinaa...
    • Lihat Profil
    • IstanaIslamku
« Jawab #58 pada: 24 Juli 2008, 22:15:32 »
wah jadi 'perang' ulama nih....

btw ada kriteria tambahan tentang definisi ulama ttg persyaratan seorang faqih :

Ibnul Qayyim berkata,
"Muhammad bin Abdullah bin al munadi berkata, aku mendengar seorang bertanya kepada al Imam Ahmad,"Jika seseorang hapal 100 ribu hadits, dapatkah menjadi faqih?"
Ia menjawab,"Tidak."
Ia bertanya lagi,"Jika 200 ribu hadits?"
Ia menjawab,"Tidak."
Ia ditanya lagi,"Jika 300 ribu hadits?"
Ia menjawab,"Tidak."
Ia ditanya lagi,"Jika 400 ribu hadits?"
Ia mengisyaratkan "ya" dengan tangannya.
(Ibnul Qayyim, A'lamul Muwaqqi'in, 1/45)

adakah ulama seperti itu di jaman ini....

masalah mengetes ulama, jaman dulu pernah kejadian, waktu Imam Bukhari dites kekuatan hapalan dan ilmu haditsnya oleh ulama2 yang sengaja berkumpul untuk mengacak2 hadits beserta sanadnya...kisahnya sangat masyhur....bisa dilihat di kitab Fii Rihaabissunnah Dr. Muhammad Abu Syuhah...
« Edit Terakhir: 24 Juli 2008, 22:25:43 oleh DodyKurniawan 07 »

Offline tuingtuing

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 9.715
  • Grrr... gue jitak!!!!
    • Lihat Profil
« Jawab #59 pada: 25 Juli 2008, 07:48:51 »
400 ribu hadist? 300 ribu hadist? wow.....

Bagaimanapun, yang seperti itu memang harus diuji
Saya tidak menyembah tuhan yang bisa ketusuk, kelaperan, dan kagak bisa nyuruh pohon berbuah 

Inna-Llaha 'ala kulli syaiin qadiir... :)