Penulis Topik: adakah 'ulama di negeri ini?  (Dibaca 1814 kali)


Offline DodyKurniawan 07

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2007
  • Tulisan: 4.230
  • Lokasi: Magelang City
  • Jenis kelamin: Pria
  • fayaa ilaahiththufbinaa...
    • Lihat Profil
    • IstanaIslamku
« Jawab #90 pada: 02 September 2008, 17:34:37 »
ya demikianlah saudara badar....untuk no. 1 - 8 memang mereka adalah para ulama, tapi kenapa yang no. 9 menjadi menyempit...

Offline e0d0i

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Jun 2008
  • Tulisan: 947
    • Lihat Profil
    • FAHAM
« Jawab #91 pada: 02 September 2008, 19:54:25 »
ya demikianlah saudara badar....untuk no. 1 - 8 memang mereka adalah para ulama, tapi kenapa yang no. 9 menjadi menyempit...

Betul sekali.
Lebih mirip klaim sepihak ya ...
Dapatkan e-book: "Islam, Pemilu dan Demokrasi  (Sebuah Antitesis Atas Pemikiran Kelompok Salafy)" di:
http://faham.wordpress.com/salafy-dan-politik/

Offline shafiq

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2007
  • Tulisan: 1.114
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #92 pada: 02 September 2008, 22:30:27 »
mungkin yang dimaksud di sini adalah ulama pewaris nabi.

kreteria seorang ulama pewaris nabi tentunya bukan sekedar ia hafal Al-quran,hafal kitab2 hadits dan kitab2 lainnya atau plus seoarng akademis atau plus seorang tokoh masyarakat yang disegani,karena kalau kriterianya macam ini semua orang bisa menjadi ulama pewaris nabi.

ciri seorang ulama pewaris nabi,berpulangnya seoarang ulama dalam satu generasi maka hilanglah berpuluh-puluh ilmunya kembali kehadirat Allah terbawa bersama2 dirinya,mungkin hanya 40% yang tersisa di dunia ini yg bisa dipelajari,selebihnya tak akan mampu kita mengerti waluapun kita memikirkannya beratus tahun lamanya.
.
jika benar2 sudah tidak ada ulama pewaris nabi di dunia ini,tentunya Islam akan tinggal sebuah nama dan Al`quran tinggal sebuah bacaan.

semogga Allah berkenan masih menurunkan Ulama2 pewaris nabi,khusunya dinegeri ini Indonesia beratus-ratus generasi lagi.


"Perumpamaan orang yang mengingat Rabbnya dengan orang yang tidak mengingat Rabbnya seperti orang yang hidup dengan yang mati" (H.R. Bukhari 5928).

Offline teroris_bagi_barat

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Feb 2008
  • Tulisan: 226
    • Lihat Profil
« Jawab #93 pada: 06 September 2008, 13:22:45 »
Kenapa sih wacananya hanya hapal Quran, ribuan hadist dan ilmu2 alat saja??
Orang yang banyak Ilmu seperti itu sedangkan ia menyembunyikan kebenaran karena alasan2 dunia seperti takut pada manusia, penguasa, gak dapat posisi, maka:

"Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila'nati Allah dan dila'nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela'nati, (AL BAQARAH (Sapi betina) ayat 159)

Bahkan mereka itu seperti kebanyakan ulama2 bani israil, banyak ayat dan hujjah tapi mereka gak mau melaksanakan/mengamalkan atau menyampaikan maka seperti keledai2 yg hina...

"Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. (AL JUMU'AH (HARI JUM'AT) ayat 5)

Offline Ibnu Abdul Shomad

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Jun 2007
  • Tulisan: 144
    • Lihat Profil
« Jawab #94 pada: 08 September 2008, 09:31:31 »
apakah ada kriteria ulama dari al-quran dan sunnah?

Offline Kenzou

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2008
  • Tulisan: 504
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #95 pada: 08 September 2008, 10:00:56 »
Kalau menurut pendapatku, silahkan di koreksi jika salah. Secara prinsip, ulama adalah yang PALING TAKUT kepada Allah SWT. Takut disini, berarti takut untuk tidak menjalankan ketaatan kepada Allah SWT, takut untuk melanggar larangan-larangan Allah SWT, dan takut untuk tidak memelihara aturan-aturan Allah SWT, dan juga takut untuk tidak menegakkan Islam.

Ulama bukan hanya tau ilmu-ilmu tentang agama, tapi yang paling utama adalah ketakutannya kepada Allah SWT..

Wallahu'alam
Kemerdekaan bangsa, kemerdekaan umat, kemerdekaan sejati

Offline shafiq

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2007
  • Tulisan: 1.114
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #96 pada: 09 September 2008, 01:51:50 »
Kenapa sih wacananya hanya hapal Quran, ribuan hadist dan ilmu2 alat saja??
Orang yang banyak Ilmu seperti itu sedangkan ia menyembunyikan kebenaran karena alasan2 dunia seperti takut pada manusia, penguasa, gak dapat posisi, maka:

"Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila'nati Allah dan dila'nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela'nati, (AL BAQARAH (Sapi betina) ayat 159)

Bahkan mereka itu seperti kebanyakan ulama2 bani israil, banyak ayat dan hujjah tapi mereka gak mau melaksanakan/mengamalkan atau menyampaikan maka seperti keledai2 yg hina...

"Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. (AL JUMU'AH (HARI JUM'AT) ayat 5)

tidak ada ulama Allah yang menyembunyikan ilmunya,hanya kita umat muslim yang sudah terlanjur menganggap dirinya telah memenuhi syarat taqwa dalam beragama tanpa dicarinya cara untuk menguji coba akan ketaqwaannya itu,sehingga kebenaran tampak menjadi buram hati menjadi keras untuk mempelajarinya apalagi menerimanya sebagai bentuk suatu ilmu.

tapi ini sudah menjadi kehendak Allah bahwa suatu saat Islam benar2 tinggal sebuah nama :

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru bin Al-'Ash ra, dia berkata: Saya pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda, "Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu agama dengan cara mencabutnya dari hati manusia, tetapi Allah mencabut dengan cara mewafatkan para ulama, sehingga apabila sudah tidak ada lagi ulama yang tersisa, maka orang-orang akan menjadikan orang-orang yang bodoh sebagai pemimpin yang apabila ditanya mereka akan menjawab tanpa dasar ilmu agama, sehingga mereka tersesat dan menyesatkan semua orang".( Bukhari 100 )

saya yakin jika benar2 para ulama pewaris nabi ini semua sudah diwafatkan Alqur`an dan Hadits sebagai dasar agama tulisannya tidak akan hilang yang akan hilang adalah powernya.
power yag menjadikan Islam ini hidup.

coba saja jika kabel tanpa listrik atau listrik tanpa kabel
"Perumpamaan orang yang mengingat Rabbnya dengan orang yang tidak mengingat Rabbnya seperti orang yang hidup dengan yang mati" (H.R. Bukhari 5928).

Offline teroris_bagi_barat

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Feb 2008
  • Tulisan: 226
    • Lihat Profil
« Jawab #97 pada: 14 September 2008, 20:59:26 »
Ya, maksud ana itu selain mengetahui ilmu agama, juga amanah dan jujur dalam menyampaikan kebenaran. Minimal 2 syarat itu. Karena percuma jika mengetahui kebenaran tapi tidak disampaikan (disembunyikan) maka sang penanya tidak mendapatkan kebenaran tsb. Sehingga ilmu juga terputus.

Contoh saja jika ada pertanyaan apakah pemimpin2 negeri sekuler di negeri2 yg mayoritas kaum muslim ini yg mana mereka tidak menerapkan syari'at Islam apakah mereka kafir???
Maka seorang ulama wajib menjawab dengan tegas walau yg nanya penguasa itu sendiri atau pejabat2nya atau aparat2nya...

Ana ingat suatu hadist sahih dari An-Nasaai tentang surat Al-Maaidah 44-45: yg isinya kira2 sbb:
"Ketika raja Bani Israil dan para pejabatnya berkumpul, berkata para pejabat2 kepada raja mereka, mereka mengeluhkan tentang ulama2 mereka yg mengecap raja dan mereka para pejabat sebagai orang kafir berdasarkan kitab taurat karena mereka tidak berhukum dengan apa yg diturunkan Alloh. Maka raja menyuruh mereka memanggil para ulama mereka untuk dihadapkan pada raja. Raja berkata benarkah apa yg mereka katakan bahwa kalian mencap kami sebagai kafir?? Lalu raja menyuruh mereka mengubah pandangan/ucapan mereka itu atau mereka tidak diperbolehkan membaca kitab lagi...."

Demikian juga imam Ahmad bin hambal ketika berhadapan dengan khalifah yg zalim, beliau menyampaikan kebenaran walau khalifah murka....




Offline i_cry_when_i_fly

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 100
  • Maka, aku tiba di tempat yang sangat jauh...
    • Lihat Profil
    • My Bloggy
« Jawab #98 pada: 23 September 2008, 03:43:55 »
ULAMA RABBANI PELITA UMAT

di tulis oleh Dr. Abdurrahman Luwaihiq

PEDOMAN DALAM BERINTERAKSI DENGAN ULAMA

Anugrah Allah Ta'ala kepada ummat Islam

Diantara nikmat yang Allah Ta’ala berikan kepada ummat ini adalah diutusnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam (kepada mereka). Allah Ta’ala berfirman,
“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata”. (Qs. Aali ‘Imraan 3: 164)

Maka diutusnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam adalah diantara nikmat yang terbesar bagi ummat ini.
Dan dari kesempurnaan nikmat tersebut adalah, Allah Ta’ala jadikan para ulama mewarisi ilmu-ilmu dari Nabi yang mulia ini Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Sehingga merekalah sang pewaris Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang berperan dalam menyampaikan (risalah) kepada ummat, mengajarkan, mengarahkan, dan menjelaskan kepada mereka batasan-batasan yang halal dari yang haram.

Apabila ulama adalah pewaris ilmu para nabi, mereka pun mewarisi kemuliaan yang selayaknya, dan kedudukan dalam syariat, sehingga sudah menjadi kewajiban bagi ummat untuk mentaati mereka dalam hal ketaatan kepada Allah, dan bersikap loyal, menghormati, tunduk, dan mengambil ilmu dari mereka. Seperti inilah dahulu para salaful ummat (generasi pertama ummat ini).

Dahulu ulama adalah pemimpin mereka, pengasuh majlis-majlis, rujukan ummat dalam segala hal, dan sandaran dalam masalah-masalah yang besar. Manusia seluruhnya mengakui kedudukan dan kehormatan ulamanya.

Kondisi ummat di akhir zaman
Kemudian datanglah generasi yang sedikit ilmunya dan sedikit pula ulamanya. Dan sangat jarang terdapat pada mereka imam-imam yang besar. Dan sedikit dari manusia yang mengakui kedudukan sisa-sisa kaum salaf (ulama). Mereka tidak mendudukkan ulama pada tempat yang semestinya, akan tetapi bersikap dengan sikap berbeda-beda:

1- Sekelompok orang melihat ulama seperti halnya manusia biasa. Ulama dimata mereka tidak memiliki kedudukan dalam syariat, sehingga mereka tidak menghormati ulama. Kelompok ini memiliki kesamaan dengan kaum Khawarij yang tidak mengakui hak para pemimpin ulama dari kalangan shahabat Radhiyallahu ‘Anhu. Hal ini berakibat kepada kerugian mereka, mereka sesat dan menyesatkan. Mereka memecah belah agamanya menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok merasa bangga dengan kelompoknya.

2- Kelompok yang lain memuliakan ulama, akan tetapi mereka mengangkat para ulama diatas kedudukan yang semestinya diberikan kepada mereka. Kelompok ini bersikap taklid buta kepada ulama dalam perkara agama mereka. Dalil bukan ukuran mereka, yang menjadi ukuran adalah perkataan Syaikh (guru/ustadz). Dari sini mereka memiliki kesamaan dengan Rafidhah yang menganggap imam-imam mereka ma’shum, dan memberikan kepada imam-imam mereka kedudukan yang tidak dapat dicapai walau oleh nabi yang diutus, dan tidak pula oleh malaikat yang dekat kedudukannya dengan Allah Ta’ala. Mereka pun terpecah menjadi beberapa golongan sesuai jumlah syaikh yang ada. Setiap kelompok bersikap fanatik dengan pendapat syaikh-nya dan mencampakkan perkataan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.

3- Kelompok yang mengakui kedudukan ulama, akan tetapi mereka tidak menyikapi para ulama tersebut sebagaimana layaknya manusia yang bisa salah dan memiliki hawa nafsu, bahkan kebalikannya. Kapan kelompok ini mendapati kesalahan pada seorang ulama mereka langsung membesar-besarkan kesalahan tersebut dan menyebar luaskannya dikalangan manusia.

Terdapat pada kelompok ini dua hal yang saling bertolak belakang:
- Mengagungkan ulama dengan menempatkan mereka pada posisi orang yang tidak mungkin melakukan kesalahan.
- Menginjak kehormatan ulama dengan membicarakan mereka apabila mereka keliru, menyebarkan kesalahan mereka dan melukai mereka. Hal ini mereka lakukan apabila kesalahan tersebut tidak disengaja, adapun apabila kesalahan tersebut disengaja maka keadaannya tentu lebih besar lagi.
Maka wajib menghormati mereka tanpa ifrath dan tafrith serta mendudukkan mereka pada posisi yang selayaknya.

Bagaimana Mengenali Ulama?

1. Ulama adalah: orang-orang yang Allah Ta’ala jadikan sebagai sandaran manusia dalam perkara fikih, ilmu dan urusan-urusan dunia dan agama.

2. Ulama adalah: fuqaha’ul islam (ahli fikih islam), lisan-lisan mereka adalah tempat kembalinya fatwa, mereka adalah orang-orang pilihan yang berhak untuk meng-istimbath hukum-hukum, dan menetapkan batasan-batasan halal dan haram

3. Ulama adalah: para pemimpin agama mereka mendapatkan kedudukan mulia ini dengan kesungguhan, kesabaran dan keyakinan yang sempurna,
“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami”. (Qs. As-Sajdah (32): 24)
Dan dahulu dikatakan,
“Dengan ilmu dan keyakinan diraih kepemimpinan di dalam agama”.

4. Ulama adalah: pewaris para nabi, yang mewarisi dari mereka ilmu, membawanya didada-dada mereka, dan –secara garis besar- ilmu-ilmu tersebut terlihat dalam kesehari-harian mereka. Dan kepada ilmu itulah mereka menyeru sekalian manusia.
“Dan sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Dan para nabi tidak mewariskan dinar atau dirham, melainkan mereka mewariskan ilmu, barangsiapa yang mengambilnya sungguh dia telah mengambil bagian yang besar”. HR Abu Daud dari Abu Darda’ Radhiyallahu ‘Anhu.
Dan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
“Yang mengemban ilmu ini dari setiap generasinya, orang-orang yang adil. Mereka menepis dari agama ini penyimpangan orang-orang yang kelewat batas dan penyelewengan orang-orang yang batil dan ta’wilan orang-orang jahil”. HR Al Baihaqi dari Ibrahim bin Abdurrahman Al Hudzari dan At-Thabrani di dalam Musnad Asy-Syamiyyin dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu dan dihasankan oleh sebagian ahlul ilmi.

5. Ulama adalah: segolongan dari ummat ini yang pergi demi agama Allah Ta’ala, kemudian mereka menunaikan kewajiban berdakwah, dan memberikan peringatan,
“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu'min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (Qs. At-Taubah (9): 122)

6. Ulama adalah: pemberi petunjuk kepada manusia, yang tidaklah berlalu suatu zaman kecuali mereka ada diantara manusia sampai datangnya hari kiamat. Mereka adalah pemimpin At-Thaifah Al Manshurah (golongan yang menang) sampai hari kiamat, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
“Akan senantiasa ada segolongan dari ummatku yang menegakkan ajaran Allah tidak mencelakakan mereka orang-orang yang mencelakakan mereka, atau menyelisihi mereka sampai datangnya keputusan Allah, dan mereka menang diantara manusia”

Al Imam An-Nawawi Rahimahullah berkata, “Al Imam Al Bukhari berkomentar tentang thaifah (golongan) yang dimaksud: “Mereka adalah para ulama”.



Sumber :
www.mimbarislami.or.id
Every difficulty faced in our lives
Makes us realise that it’s just part of Allaah’s Plan
Feeling stronger, we take it in our stride
He will always favour the patient one

Please Visit My Blog http://akuberusaha.blogspot.com/

Offline i_cry_when_i_fly

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 100
  • Maka, aku tiba di tempat yang sangat jauh...
    • Lihat Profil
    • My Bloggy
« Jawab #99 pada: 23 September 2008, 03:45:29 »
Beberapa Pedoman Dalam Mengenali Ulama

1. Ulama dikenali dengan ilmunya. Ilmu adalah pembeda yang membedakan mereka dari selainnya. Apabila manusia tidak mengetahui (hukum suatu perkara) mereka menyampaikan dengan ilmu yang diwarisi dari imam para rasul yaitu Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

2. Ulama diketahui dengan kekokohan pijakan mereka ketika merebak syubhat, ketika banyak pemahaman-pemahaman yang tergelincir dan tidak selamat kecuali orang-orang yang Allah Ta’ala anugrahkan kepada mereka ilmu, atau orang-orang yang mengikuti ahli ilmu. Allah Ta’ala berfirman,
وَإِذَا جَاءهُمْ أَمْرٌ مِّنَ الأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُواْ بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُوْلِي الأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلاَ فَضْلُ اللّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لاَتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلاَّ قَلِيلاً
“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebagian kecil saja (di antaramu)”. (Qs. An-Nisaa’: 83)

Al Imam Hasan Al Bashri Rahimahullah berkata,
إن هذه الفتنة إذا أقبلت عرفها كل عالم ، وإذا أدبرت عرفها كل جاهل
“Sesungguhnya fitnah apabila datang diketahui oleh semua ulama dan apabila telah pergi diketahui oleh semua orang jahil”. Dinukil dari Wujubul Irtibath

3. Ulama juga dapat dikenal dengan jihad mereka, dan dakwah mereka kepada jalan Allah Ta’ala, mereka mengorbankan waktunya (karena Allah Ta’ala), dan mereka bersungguh-sungguh dijalan Allah Ta’ala.
Al Imam Ahmad berkata,
بقايا من أهل العلم يدعون من ضل إلى الهدى ويصبرون منهم على الأذى يحيون بكتاب الله الموتى ويبصّرون بنور الله أهل العمى فكم من قتيل لإبليس قد أحيوه وكم من ضال تائه قد هدوه فما أحسن أثرهم على الناس وأقبح أثر الناس عليهم ينفون عن كتاب الله تحريف الغالين وانتحال المبطلين وتأويل الجاهلين
“Yang tersisa dari para ulama, mereka menyeru orang-orang sesat kepada petunjuk dan bersabar dari gangguan mereka. Dengan Kitabullah mereka menghidupkan (hati-hati) yang telah mati dan membuka orang-orang yang buta dengan cahaya Allah Subhanahu Wa Ta’aala. Berapa banyak pembunuh-pembunuh Iblis yang sudah mereka hidupkan dan berapa banyak orang-orang sesat mereka tunjuki. Alangkah besar jasa mereka kepada manusia dan alangkah buruk balasan orang-orang kepada para ulama. Mereka menepis dari Kitabullah penyimpangan orang-orang yang kelewat batas dan penyelewengan orang-orang yang batil dan ta’wilan orang-orang jahil”. Dinukil dari Wujubul Irtibath dan lihat Ar-Radd ‘Ala Az-Zanadiqah wal Jahmiyah hal 6.

4. Ulama juga dikenal dengan ibadah dan rasa takut mereka kepada Allah Ta’ala, karena mereka orang yang paling tahu tentang Allah Ta’ala, Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (Qs. Faathir (35): 28)
Dan Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu berkata,
ليس العلم عن كثرة الحديث إنما العلم خشية الله
“Ilmu tidak dinilai dengan banyaknya hadits seseorang, karena ilmu adalah rasa takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’aala”. Lihat Wujubul Irtibath

5. Ulama dikenal dengan jauhnya mereka dari dunia dan kesenangannya. Al Imam Ibnu Rajab Al Hambali Rahimahullah,
قال الحسن : إنما الفقيه الزاهد في الدنيا الراغب في الآخرة البصير بدينه المواظب على عبادة ربه ،وفي رواية عنه قال : الذي لا يحسد من فوقه ولا يسخر ممن دونه ولا يأخذ على علم الله أجرا
“Al Hasan mengatakan: sesungguhnya faqih adalah orang yang zuhud terhadap dunia, cinta kepada akhirat, mengerti akan agamanya dan selalu beribadah kepada Rabb-nya”. Dinukil dari Wujubul Irtibath

6. Diantara tanda-tanda seseorang dikatakan alim (berilmu) adalah adanya kesaksian dari guru-gurunya bahwa ia seorang yang alim.
Al Imam Malik Rahimahullah berkata,
لا ينبغي لرجل يرى نفسه أهلا لشيء حتى يسأل من كان أعلم منه، وما أفتيت حتى سألت ربيعة ويحي بن سعيد فأمراني بذالك، ولو نهياني لانتهيت
“Tidak boleh seseorang menganggap dirinya pantas memegang suatu urusan sebelum bertanya kepada orang yang lebih alim darinya, dan saya tidak berfatwa sampai saya bertanya kepada Rabi’ah dan Yahya bin Sa’id lalu keduanya memerintahkanku demikian, dan seandainya keduanya melarangku pasti tidak aku lakukan” (Dinukil dari Ibnu Hamdan dalam Sifat Al Fatwa wa Al Mustafti (7)).

Dan beliau juga berkata,
ليس كل من أحب أن يجلس في المسجد للتحديث والفتيا جلس، حتى يشاور فيه أهل الصلاح والفضل، وأهل الجهة من المسجد فإن رأوه أهلا لذالك جلس، وما جلست حتى شهد لي سبعون شيخا من أهل العلم أني موضع لذالك
“...tidak setiap orang yang ingin duduk dimasjid menyampaikan hadist dan berfatwa dibolehkan duduk sebelum ia bertanya kepada orang-orang shalih dan mereka yang memiliki keutamaan dan pandangan dimasjid (ulama). Apabila mereka menganggap orang tersebut ahli dalam hal itu, maka boleh baginya untuk duduk, dan saya tidak duduk sampai tujuh puluh orang ulama bersaksi bahwa saya layak untuk itu”. (Dinukilkan dari Ibnu Farhun dalam Ad-Diibaaj (21), dan lihat perkataan Ibnu Hamdan dalam Sifat Al Fatwa wa Al Mustafti (7))



Sumber :
www.mimbarislami.or.id
Every difficulty faced in our lives
Makes us realise that it’s just part of Allaah’s Plan
Feeling stronger, we take it in our stride
He will always favour the patient one

Please Visit My Blog http://akuberusaha.blogspot.com/

Offline i_cry_when_i_fly

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 100
  • Maka, aku tiba di tempat yang sangat jauh...
    • Lihat Profil
    • My Bloggy
« Jawab #100 pada: 23 September 2008, 03:54:06 »
Sepertinya di Indonesia saat ini belum ada Ulama (menurut Istilah yang dipaparkan oleh Imam Nawawi, Imam Malik, dan Juga Imam Hambal).

Namun, untuk kalangan luas : istilah Ulama di gunakan di Indonesia ketika menyebut seorang yang mempunyai Ilmu dan Kedudukan yang Lebih. Misal : MUI, Ulama NU, Ulama Muhammadiyah (majelis tarjih Muhammadiyah).

Saya pernah denger di Indonesia pernah lahir Ulama (menurut istilah Imam Nawawi dan Imam Malik) dan menjadi Mufti di Mekah, mungkin beliau adalah seperti yang di sebutkan oleh seorang Akh. di Atas.

Saya heran mengapa ada sentimen kalau suatu kalangan hanya bilang Ulama hanya di Yaman, Saudi dan Jordan?
Bukankah Imam Bukhari berasal dari Uzbekistan, Imam Albani berasal dari Albania (eropa), Abdul Malik Ramadhani berasal dari Aljazair?

Saya berharap akan ada Ulama yang tinggal di Indonesia.
Every difficulty faced in our lives
Makes us realise that it’s just part of Allaah’s Plan
Feeling stronger, we take it in our stride
He will always favour the patient one

Please Visit My Blog http://akuberusaha.blogspot.com/

Offline aziziqalbii

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 1.267
  • Lokasi: Di Dekatmu
  • Jenis kelamin: Pria
  • Hari ini aku disini
    • Lihat Profil
    • mubaraq
« Jawab #101 pada: 23 September 2008, 08:44:50 »
Kayaknya keliru nih pak,

Kalau yang anda kutip ini khusus untuk 'ulama hadits. Apakah selain kriteria di atas maka tidak ada yang berhak disebut 'ulama ?

'ulama عُلَمَاء kata jama' dari عَالِمٌ artinya '[orang] yang mengetahui', 'yang mengerti/memahami' sesuatu.

Dari sini jelas, bahwa 'ulama ini bisa disandang oleh setiap orang yang mengetahui/mengerti/memahami sesuatu. Bidang-bidang 'ilmu (عِلْمٌ) banyak, dan tidak terbatas hanya pada 'ilmu hadits semata, bahkan 'ilmu hadits ini banyak cabang 'ilmunya.

Nampaknya memang, sebutan 'ulama (عُلَمَاء) mengalami penyempitan arti, hanya berlaku bagi yang mengerti ilmu-ilmu agama islam saja, sedangkan di luar ilmu-ilmu agama tidak bisa dikatakan 'ulama. Lalu bagaimana dengan sebutan mu'allim (مُعَلِّمٌ) ? Apakah ini khusus bagi yang mengajarkan ilmmu-ilmu agama ?

Banyak kriterian 'ulama itu dan tidak terbatas pada kriteria 'ulama hadits semata. Ada 'ulama Tafsir, ada 'ulama Fiqh, ada 'ulama Nahwu, ada 'ulama kimia, fisika, matematika, dll.

Apakah syarat yang ditetapkan oleh Imam Nawawi mencakup semua 'ulama ? dimana jika sudah menguasai kriteria di atas maka semua kepintaran dan pengetahuan berada di tangannya ?

 :hmmm:


salah kata ulama jama' dari kata alim عَالِمٌ Tapi dari kata Aliim yaitu 'ain - lam - ya - mim..

Alim dan aliim beda artinya...krn aliim pake ya adalah bagian dari kata ism mubalaghah... lihat kamus munjid...