pertanyaan saya blom kejawab neh..tentang reinkarnasi manusia yang berasal dari binatang....
apakah mas jhana pernah mengenal orang yang dulunya adalah binatang misalnya ikan teri, burung perkutut, beruang salju, jangkrik, ato binatang yang lainnya....
dahulu, ada dua ekor ular cobra sedang kawin. karena dahulu saya sangat gemar memelihara ular, saya egois dengan menangkap kedua ular tersebut. tetapi ular yang satu lepas lagi. dengan senang hati saya membawanya ke rumah dengan mengalungkannya di leher saya. saya menggunakan megic untuk menundukan ular tersebut, sehingga membuatnya tak bedaya dan tidak berani menggigit. waktu itu saya kelas 2 SMU.
sesampainya di rumah, saya memasukannya ke dalam karung terigu, mengikat ujung karung tersebut agar si ular tidak lepas, lalu melemparkannya ke bawah kolong tempat tidur.
tiga hari kemudian, ketika saya sedang menulis, terdengar ada suara yang merintih-rintih. "air...air...air.... aku haus..." katanya. aku terperanjat. dari manakah datangnya suara tersebut. suara tersebut terdengar sayup-sayup. saya mencari-cari sumber suara tersebut. ketika saya berjongkok, suara tersebut terasa lebih jelas lagi. dan ternyata suara itu berasal dari bawah kolong tempat tidurku, dari dalam karung yang berisi ular.
aku cepat-cepat membuka karung yang berisi ular tersebut, ularpun naik dengan menjulur-julurkan lidahnya. dia menatapku seakan sedang menyesali kekejamanku. sungguh, akupun tidak sengaja membiarkan ular itu di situ. aku benar-benar lupa kalau aku menyimpan ular di situ.
aku segera membawa ular tersebut ke kamar mandi, menuangkan air ke dalam gayung kecil dan membiarkan ular itu minum dengan lahapnya. kelihatan sangat kehausan, hingga membuatku meneteskan air mata.
setelah kelihatan kenyang, aku membawanya kembali ke kamar. ular itu aku usap-usap kepalanya. tiba-tiba ular itu berbicara, "kasihanilah aku, lepaskanlah aku, aku ingin bertemu dengan suamiku."
aku terperanjat, dan lalu aku menjawab, "sungguh aku juga kasihan kepadamu, tapi bagaimana lagi, aku terlalu suka denganmu. biarkan aku memeliharamu."
terdengar suara tangisan. "mengapa kau tak punya hati, tega sekali memisahkan kami ketika kami tengah memadu kasih?"
"sudahlah, tidak usah menangis. ini sudah terlanjur, nasi sudah menjadi bubur. kini saya tidak dapat melepaskanmu. bila aku melepaskanmu, dan ditemukan warga, tentulah kau akan mati dipukul mereka. lebih baik bersamaku, kau akan kupelihara secara baik-baik, ku beri minum dan ku beri makan." aku membujuk ular tersebut.
mulut ular itu tidak tampak membuka tutup seperti ketika manusia bicara, tapi tampak tetap menutup,hanya lidahnya yang terus menerus menjulur-julur dan matanya memandang tajam ke arahku. tapi sungguh aku mendengar suara yang berbicara dari arah kepala ular tersebut. "biarkan aku mati dipukul warga, asal jangan aku mati karena terpenjara oleh mu. kini aku sudah terpisah jauh dari kekasihku, untuk apa lagi aku hidup."
"ah, jin keparat!" ku bilang dalam hati. waktu itu, aku menyangka bahwa ular itu jelmaan jin atau ditumpangi jin, karena bisa berbicara. dan aku tidak mau memenuhi kehendaknya untuk dilepaskan. aku menekan kepalanya masuk ke dalam karung, dan mengikatkannya kembali. setelah itu aku sibuk dengan urusanku lagi. sampai tiga hari kemudian, tetanggaku ribut karena mereka menemukan ular. aku segera berlari menuju ke arah halaman rumah tetanggaku. tapi terlambat, ular itu kepalanya telah pecah. aku segera mengampirinya, tampak sisa nyawanya. ular itu sedang sekarat. kasihan sekali.
ketika ular tersebut berhenti bergerak tanda nyawanya telah lenyap, terdengar lagi suara perempuan,"kelak aku akan terlahir sebagai manusia, dan akan membalas perbuatanmu sebagaimana kau telah memisahkan aku dari suamiku!".
aku menguburkan ular itu tanpa mempercayai kata-kata tersebut. dulu saya menganggapnya hal itu sebagai perbuatan jin kafir, dan tidak mempercayai kalau ada sesuatu bisa bereinkarnasi. tapi setelah aku teringat dengan kehidupan masa laluku, maka aku berpikir bisa saja ular itu benar-benar bereinkarnasi menjadi manusia.
aku juga ingat, ketika aku bernama so ung yuk, dulu aku punya seekor monyet namanya cu li. monyet itu amat baik dan setia padaku. karena aku tidak punya kakak ataupun adik, bahkan ayah dan ibuku mati dibunuh pada usiaku 8 tahun, aku menganggap cu li sebagai saudara kandungku sendiri. dia sangat pintar dan mengerti semua yang ku katakan. dia tempat aku curhat. bila aku sedang rindu pada yen mei, aku menceritakan kegelisahan hatiku pada cu li. dia mendengarkanku, seakan mengerti gejolak perasaanku.
ketika suatu pagi, aku sedang duduk termenung cu li berteriak-teriak seperti hendak mengingatkanku akan sesuatu. tapi aku tidak menggubrisnya, karena aku tenggelam di alam pemikiranku. tak lama kemudian, datang sekelompok prajurit yang menenteng senjata. aku telah mengetahui bahwa mereka hendak membunuhku. tidak ada lagi yang dapat aku lakukan, kecuali pasrah saja terhadap apa yang akan terjadi. aku mendorong cu li untuk melompat lewat jendela. aku khawatir cu li akan dibunuh oleh mereka juga. cu li menahan doronganku, seakan dia enggan meninggalkan aku. ia terus berteriak-teriak. tapi aku mendorongnya dengna paksa keluar dan segera menutup jendela.
prajurit itu memeggal kepalaku dari arah belakang. sebelum aku kehilangan kesadaran, aku sempat melihat darah yang mengalir dari tubuh tanpa kepala itu.
stelah aku kehilangan kesadaran dalam beberapa saat, aku menjadi tersadar kembali, tapi kini tubuhku melayang-layang di udara, ringan sekali. aku melihat tubuh dan kepalaku terpisah. lalu aku sdar bahwa aku telah mati.
beberapa orang prajurit menendang mayatku, mengumpat dan lalu mereka pergi. tak lama kemudian, cu li berlari dari arah luar. monyet ini seakan terpukul hatinya, melihat aku sudah tidak bernyawa. dia memegang rambutku, mengguncang tubuhku, seolah ingin membangunkan aku. dia berteriak-teriakn seakan tangisan yang menjerit. gelisah dengan berlari ke sana kemari, melombat, dan berusaha mengangkat tanganku, menyimpannya diatas kepalaku, seolah-olah dia minta tanganku untuk mengusap-usapnya seperti biasanya. kadang-kadang dia mengguncang-guncang tubuhku dengn melompat-lompat di atas perutku.
ruhku mencoba menghampirinya, dan memegang kepalanya. tetapi tidak dapat mengenainya. tubuhku amat halus dan dapat menembus segla sesuatu. cu li pun sepertinya tidak dapat menyadari kehadiranku sebagai arwah.
aku amat kasihan dengan cu li. apakah yang akan terjadi padanya. apakah ia akan menunggui jasadku hingga membusuk ataukah ia akan pergi ke hutan untuk berkelana sendirian. aku tidak dapat menyaksikan cu li lebih lama, karena dari langit tiba-tiba muncul sebuah lubang berputar yang menarikku. aku masuk ke dalam lubang tersebut dan melesat menuju alam lain.
saya tidak tahu, apakah cu li kini telah terlahir menjadi manusia atau tidak. aku melihat tanda-tanda keberadaannya di zaman ini. tapi seandainya aku tahu, tentu aku akan merahasiakannya. bagaimanakah kiranya perasaan seseorang bila aku katakan padanya, "dahulu kau adalah seekor monyet."
Posting Digabung: 09 November 2009, 12:17:27
Bagaimana dengan fenomena anak Indigo 
ada seorang anak kecil di Bekasi... kedua ortunya pribumi... tapi anak tsb setelah berusia 6 tahun hanya bisa berbahasa Inggris dan mengakui bahwa dirinya adalah reinkarnasi seorang dari inggris?
Kalo bro Jhana adalah reinkarnasi chinese/japanese/ koreanese... apakah jhana bisa berbahasa seperti mereka sejak lahir?
saya teringat dengn masa lalu itu berawal dari sebuah kegiatan khalwat yang saya lakukan. selama tiga bulan lamanya, saya berkhalwat, mengisinya dengan dzikir, shalat dan puasa di siang hari, serta menjauhi pergaulan manusia. pada minggu kedua bulan ketiga, saya tiba-tiba teringat dengan peristiwa tersebut.
ketika saya baru saja teringat peristiwa itu dengan begitu jelas, tiba-tiba saya mengerti bahasa korea. bahkan saya berbicara dengn bahasa korea, menirukan dialog-dialog yang pernah saya lakukan pada waktu itu. hingga saya mencoba berbicara kepada istri saya dengan bahasa itu. istri saya kaget dan kemudian memeluk saya dengan ketakutan, dia khawatir ada sesuatu terjadi pada saya, bahkan istriku menyangka aku telah gila, karena berbicara dalam bahasa asing.
ketika aku mengkolsultasikan hal tersebut kepada guruku, dia berkata, "tidak ada reinkarnasi dalam Islam. apapun yang kau lihat, kau mengerti dan kau alami, baik simpanlah untuk dirimu sndiri, kunci rapat-rapat mulutmu, jangan pernah kau beritakan kepada orang lain." begitulah pesan guruku. aku kecewa dengan jawaban guruku. tapi aku patuh padanya. selama hampir 1 tahun aku diam, dan mencoba melupakan kejadian itu. tetapi, entahlah, akhirnya "bocor" juga. aku menceritakannya ke sana kemari. tetapi anehnya, kini aku tidak dapat lagi mengerti atau dapat berbicara dalam bahasa korea. dan bahkan banyak peristiwa yang telah benar-benar ku ingat terlupakan lagi. ku pikir, karena batinku kini penuh noda. dan noda itu menghalangi kejernihan pikiranku, sehingga aku melupakan banyak hal yang dulu pernah ku ingat.