Setiap orang yang ditanya tentang kebenaran agama pasti akan mengatakan agamanya yang benar, bahkan orang atheis pun pasti menganggap dirinya yang benar. Tapi pasti ada kebenaran yang objektif. Kebenaran yang pasti diakui oleh setiap orang (jika dia mau jujur terhadap kebenaran itu).
Kebenaran ilmiah barulah kebenaran obyektif.
Kalo saya melihat dan mengalami bhw matahari itu panas,
Maka itulah kebenaran obyektif yang akan diakui semua orang di bumi.
Agama dan moralitas bukanlah kebenaran obyektif.
Sampai tahap tertentu, dia tetap subyektif.
Karenanya kita perlu parameter untuk menguji kebenaran itu. Karena kita bicara tentang agama, tentu saja parameternya harus berkaitan dengan agama. Masak parameternya adalah berapa gol yang telah dicetak, gak mungkin tho.
Coba kita bicara ttg Tuhan sbg aspek sentral dari agama.
Apa sih parameter utk menguji kebenaran ttg Tuhan?
Satu-satunya parameter utk menguji kebenaran ttg Tuhan adl pada saat Tuhan bisa kita lihat secara nyata.
Jika saya tidak pernah melihat Tuhan dg nyata,
Mlainkan mjabarkan ttg Tuhan bdasarkn kata orang maupun bdasarkan logika saya,
Maka kebenaran yg saya tawarkan tidak akan obyektif bagi beberapa orang yg blm pernah melihat Tuhan.
Makanya jgn heran ada golongan Atheis.
Mas Asmaraningtyas sudah memberikan satu tawaran yaitu konsep tentang Tuhan. Mari kita bahas itu terlebih dulu. Biar tidak terlalu melebar. Kita bandingkan konsep ketuhanan yang dimiliki oleh agama-agama di dunia, paling tidak Islam dan Kristen.
Gimana?
Skedar mbandingkan sih oke saja,
Tp utk mnyimpulkan mana yang paling benar ya tidak bisa.
Krn tidak ada parameter obyektif utk mengujinya.
Jika Al Quran diukur dg parameter Alkitab,
Maka ga masuk dia.
Alkitab diukur dg parameter Al Quran juga tidak akan masuk.
Lalu dengan apa?
Dengan logika?
Yang berlogika saja tidak pernah melihat Tuhan dengan nyata, bagaimana dia bisa memastikan apa yang dilogikakannya adalah benar adanya?