“Wahai orang-orang yang beriman,tetaplah beriman kepada Allah dan Rosul-Nya, dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rosul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya… “(An-Nisaa :136)
Sahabatku,
Allah SWT telah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk (tetap) beriman, ini dapat kita pahami sebagai perintah untuk memperbaharui iman kita terus menerus. Mengapa demikian? Karena iman bisa bertambah dan dan berkurang.
Iman itu adalah ucapan dan perbuatan, tidak hanya ucapan kosong, tidak hanya perasaaan kosong, ia paduan dari hati yang meyakini, lidah yang mengucapkan, dan jasad kita yang membuktikan. Ucapan dan perbuatan mencerminkan keyakinan, karenanya ia bisa bertambah dan berkurang.
Dengan adanya kemungkinan iman bertambah dan berkurang, maka dapatlah kita pahami mengapa Allah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk beriman.
Sahabatku,
Kita dapat mengukur iman kita tatkala ditimpa musibah. Pada hakekatnya musibah adalah ujian keimanan, “Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan ‘kami beriman’ sedang mereka tidak diuji lagi?” (Al Ankabuut :2)
Keberhasilan dari ujian ini akan nampak dari bagaimana seseorang bisa menyingkap rahasia kehidupan. Sangat manusiawi seseorang yang ditelepon istrinya bahwa anaknya sakit, sangat manusiawi jika tiba-tiba tergambar wajah dokter spesialis, tergambar merek obat paten, tergambar rumah sakit rujukan.
Tapi dia akan sangat malu di hadapan Allah, karena dia sudah menjadi orang beriman. Mestinya, refleksi awal ketika problem datang (anak sakit, istri sakit) bukan obat, bukan dokter, tapi “Apabila aku sakit, Dia-lah yang menyembuhkan” (Asy syua’ara :80)
Soal ikhtiar sesudah itu adalah hal yang biasa, tapi yang istemewa dari orang yang beriman, refleksi pertama ketika problem datang adalah Allah, karena ia beriman pada Allah, yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, Dia-lah yang Maha Menyembuhkan.
Sahabatku,
Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah. Sekuat apapun ikhtiar kita, semaksimal apapun usaha kita, tidak akan memberi manfaat kecuali dengan apa-apa yang telah Allah kehendaki untuk kita. Tidak berguna kita lari dari masalah jika Allah menghendaki kita untuk menghadapinya, untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Kita bisa lihat bagaimana ada ada seorang ikwan dan atau akhwat yang sudah puluhan kali melakukan proses ta’aruf, tapi hasilnya nihil. Tapi ada juga yang baru sekali proses, langsung dengan lancarnya menuju ke pelaminan. Semua terjadi atas kehendak Allah, dan Dia Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk hamba Nya.
Hasil bukanlah kekuasaan kita, itu menjadi wilayah mutlak kekuasaan Allah, tugas kita hanyalah memaksimalkan potensi yang telah Allah berikan, karena Allah hanya ingin menguji hamba-Nya, siapakah yang benar-benar bersunguh-sungguh beriman.
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh mencari keridhoan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” ( Al Ankabuut : 69)
Wallohu a’lam bish showab
Sumber : MurobbiSukses.com