Penulis Topik: Ayo Menulis!!!  (Dibaca 1008 kali)


Offline andaleh

  • Moderator
  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.929
  • Lokasi: Bandar Lampung
  • Jenis kelamin: Pria
  • The King Of OOT :D
    • Lihat Profil
    • my blog
« pada: 03 November 2009, 16:27:20 »
Thread ini tujuannya untuk sharing artikel2 tips & trik dalam menulis artikel. Silakan kalau teman2 mau copas dari tulisan orang lain, atau ingin menulis sendiri tentang bagaimana menulis artikel dengan baik, kemudian kita diskusikan :)



Posting Digabung: [time]Tue Nov  3 16:28:05 2009[/time]


http://ayo-nulis.blogspot.com/2007/07/teknik-menulis-artikel.html

Teknik Menulis Artikel
Oleh: O. Solihin

Penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Itu sebabnya, jika Anda tertarik untuk terjun ke dunia kepenulisan, syarat utamanya adalah harus merajinkan dan membiasakan diri untuk membaca. Membaca apa saja yang bisa dibaca. Insya Allah, dengan banyak membaca akan sangat menumpuk ide yang bisa dijadikan sebagai bahan tulisan. Khusus dalam pembahasan ini (dan yang paling sering ditulis) adalah menulis artikel.

Artikel sendiri bisa berarti karya tulis seperti berita atau esai. Esai adalah karangan prosa (bukan menggunakan kaidah puisi) yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya. Itu sebabnya, artikel di media massa itu bertaburan data-data teknis, tapi lebih ke arah pemaparan sepintas lalu dan itu murni pendapat pribadi penulisnya setelah membaca pendapat lain dari begitu banyak karya yang telah dibacanya. Nah, bagaimana memulainya? Ada beberapa tips sederhana yang bisa dicoba:

Memilih topik

Memilih topik sebenarnya tidaklah terlalu sulit. Hanya saja, bagi penulis pemula memilih topik sama beratnya dengan membuat judul atau isi tulisan. Padahal, tema atau topik yang bisa diangkat menjadi tulisan begitu banyak dan mudah kita dapatnya. Coba cari yang dekat dengan kita deh. Tanya teman kanan-kiri, nguping dari sana-sini. Atau bisa juga baca koran pagi ini, cari berita yang menarik. Setelah dapat, Anda bisa menulis ulang dengan sudut pandang Anda. Misalnya, judul berita yang Anda ambil adalah perilaku seks bebas remaja. Setelah baca berita itu, dari mulai fakta dan arahnya ke mana, Anda bisa bikin ulang dengan pengembangan yang Anda suka, dengan cara Anda sendiri. Anggap saja misalnya Anda sebagai wartawan yang menyelidiki kasus itu. Andi bisa ubah dengan versi baru tentang penyelidikan kasus seks bebas di kalangan remaja. Sebagai latihan aja kan? Mungkin kok. Coba deh!

Meski demikian, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih topik:

1) Cari yang sedang menjadi tren.

2) Atau bisa juga kita menciptakan tren.

3) Pilih yang dekat dengan kebanyakan sasaran pembaca kita.

4) Hindari topik yang tidak kita kuasai atau menimbulkan polemik yang tak perlu.

5) Biasakan berlatih mengikuti peristiwa yang berkembang untuk bahan tulisan.

Membuat kerangka tulisan

Ada baiknya memang membuat kerangka tulisan. Dalam bahasa kerennya, Anda perlu membuat outline. Alasannya, kerangka tulisan berguna untuk membatasi apa yang harus kita tulis. Ibarat Pak Tani yang akan menggarap sawah, ia harus menentukan batas garapannya. Supaya tak melebar kemana-mana, apalagi sampe ngambil jatah orang.

Dengan membuat kerangka tulisan, kita akan mudah untuk menentukan maksud dan arah tulisan. Bahkan kita juga bisa berhemat dengan kata-kata, termasuk pandai memilih kosa kata yang pas untuk alur tulisan kita. Beberapa panduan untuk membuat kerangka tulisan:

1) Paparkan fakta-fakta seputar tema yang akan kita bahas.

2) Lakukan penilaian atas fakta-fakta itu. Sudut pandang rasional dan syariat.

3) Kumpulkan bahan-bahan pendukung argumentasi kita.

4) Kesimpulan.

Menabung kosa kata

Untuk menjadi penulis, bolehlah kita mencoba untuk menabung kosa kata. Mengumpulkan setiap hari lima saja. Maka dalam sebulan kita punya tabungan kosa kata sekitar 150 buah. Banyak bukan? Kosa kata itu cukup untuk memoles tulisan yang kita buat. Sebab, menulis adalah keterampilan mengolah data-data dalam suatu rangkaian kata. Ibarat kita mau membangun rumah, batu-bata sudah siap, semen dan pasir udah banyak, batu untuk pondasi udah menumpuk. Begitupun dengan kayu, bambu, cat, keramik dan genteng, sampe yang pernik-pernik seperti paku dan instalasi listrik semua udah lengkap.

Perlu keahlian khusus tentunya untuk merangkai semua itu jadi sebuah rumah. Menata batu untuk pondasi, memasang batu-bata dan merekatkannya dengan campuran semen, kapur, dan pasir. Memasang kayu-kayu untuk jendela dan pintu. Tembok yang sudah jadi, perlu dilapisi dempul sebelum akhirnya dicat dengan warna kesukaan kita. Menyusun genteng untuk menutupi atap rumah kita. Sampe rumah itu jadi dan enak dipandang mata. Mengasyikan tentunya.

Buatlah judul yang menarik

Pembaca akan mudah tertarik untuk membaca sebuah tulisan, jika judulnya juga menarik. Anggap saja judul itu sebagai pancingan. Itu sebabnya, boleh dibilang membuat judul perlu ‘keterampilan’ khusus. Tapi jangan kaget dulu, kita bisa belajar untuk membuatnya. Hanya perlu waktu dan sedikit kerja keras dan kerja cerdas untuk terus berlatih. Yakin bisa deh.

Sebagai latihan awal, cobalah Anda sering membaca tulisan orang lain. Kalau Anda mau, coba baca majalah-majalah ibu kota yang oke mengolah kata dalam membuat judul (misalnya TEMPO, GATRA, GAMMA, dan KONTAN). Perhatikan judul-judul tulisannya. Makin banyak Anda membaca judul tulisan-tulisan tersebut, kian terasah imajinasi Anda untuk membuat judul yang menarik hasil kreasi Anda sendiri. Terus terang saya juga banyak menggali ide untuk membuat judul dari majalah-majalah tersebut (selain banyak juga dari buku-buku dan majalah lainnya).

Untuk jenis tulisan yang ngepop, buatlah judul yang pendek. Paling tidak dua sampai empat kata. Jangan sampe panjang seperti rangkaian kereta api (ini cocoknya untuk skripsi). Sebab, jika judul yang kita buat panjang--padahal tulisan ngepop--membuat orang tak tertarik untuk membacanya. Mungkin akan dilewati aja tulisan Anda tersebut. Padahal, boleh jadi isinya sangat menarik.

Judul yang menarik, tidak saja membuat orang penasaran untuk membaca tulisan Anda, tapi juga menunjukkan kelihaian kamu dalam mengolah kata-kata.

Pastikan membuat subjudul

Subjudul amat menolong kita untuk menggolongkan dan membatasi pembahasan dalam sebuah tulisan jenis artikel dan berita. Pembaca pun dibuat mudah membaca alur tulisan yang kita rangkai. Sehingga mereka terus bertahan untuk mengikuti tulisan kita sampai habis. Mereka juga akan sangat terbantu memahami apa yang kita tulis. Itu sebabnya, sub-judul menjadi begitu penting dalam sebuah tulisan.

Subjudul dalam sebuah tulisan, juga berfungsi untuk menghilangkan kejenuhan dalam membaca. Kita juga jadi ada nafas baru untuk menyegarkan kembali tulisan yang akan kita buat. Jadi, berlatihlah untuk membagi alur dengan tanpa memenggal rangkaian dari inti tulisan kita. Itu sebabnya, membuat subjudul adalah solusi paling jitu untuk membagi alur.

Lead menggoda

Lead, alias teras berita adalah sebuah tulisan pembuka yang menjadi titik penting bagi pembaca. Lead yang menarik, sangat boleh jadi akan merangsang pembaca untuk terus membaca isi berita atau artikel yang kita buat. Jika lead-nya kurang menarik, pembaca akan mengucapkan “wassalam” saja. Mereka merasa cukup membaca sebatas judul, atau satu kalimat atau alinea di depan yang tak menarik itu. Jadi, perlu mendapat perhatian juga supaya tulisan yang kita buat mampu menggoda pembaca untuk melanjutkan bacaannya. Boleh dibilang selain judul, lead adalah jajanan yang ‘wajib’ memikat hati pembaca. Itu sebabnya, lead menjadi begitu penting, meski tidak pokok tentunya.

Nah, sekarang, cobalah berlatih menulis artikel ini. Oke?
« Edit Terakhir: 03 November 2009, 16:30:21 oleh andaleh »

Offline andaleh

  • Moderator
  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.929
  • Lokasi: Bandar Lampung
  • Jenis kelamin: Pria
  • The King Of OOT :D
    • Lihat Profil
    • my blog
« Jawab #1 pada: 05 November 2009, 14:51:22 »
http://www.kodokijo.net/10-cara-mendapatkan-inspirasi-menulis.html

10 Cara Mendapatkan Inspirasi Menulis

inspirasi menulis Tidak peduli kita suka menulis, serajin apa kita menulis, selalu ada waktu dimana kita memang membutuhkan inspirasi untuk mendapatkan gagasan atau tema dari tulisan kita. Kebanyakan justru inspirasi didapat dari luar diri kita, karena bisa jadi pikiran kita memang sudah cukup letih atau jenuh untuk menggali topik atau tema apa yang hendak kita tulis.

Berikut 10 cara mendapatkan inspirasi untuk menulis :

1. Blog, lagi-lagi blog. Satu kata ini memang tidak ada habis habisnya menjadi sumber inspirasi. Caranya mudah saja, kita tinggal Blogwalking ke Blog - Blog yang bagus dari segi ide atau gagasan. Dan ini berlaku buat saya, benar-benar menginspirasi untuk menulis dengan gaya khas saya sendiri.

2. Majalah, hmm pastinya sih. Jujur saja, banyak sekali tema dan ide sangat menarik bila kitasuka membaca majalah. Justru terkadang kita banyak mengambil pelajaran yang bagus saat membaca majalah. Ulasan suatu topik yang dikemas dengan bahasa jurnalisme yang baik, terkadang membuat kita iri. So ? jangan mau kalah, kita tulis dengan gaya kita !
(btw, saya paling suka baca majalah wanita, dari segi topik dan warna banyak menginspirasi saya, swear!)

3. Film, nah ini termasuk cara yang paling asyik. Dari film kita banyak mendapat gagasan untuk apa yang akan kita tulis. Bisa resensi film itu sendiri, karakter tokohnya atau situasi dan kondisi yang kita olah ulang sedemikian rupa untuk di tulis. Untuk yang ini, siapin bugdet khusus dech, gak seru donk kalo nontonnya sendiri :P

4. Peristiwa, setiap saat dan dimanapun kita pasti tak bisa lepas dari peristiwa yang terjadi disekeliling kita. Nah coba kita pilah-pilah, mana yang kira-kira menarik untuk dijadikan tema tulisan. Peristiwa sehari-hari yang sepertinya biasa saja, tapi bila kita kemas dengan tutur gaya penulisan yang asyik, tentunya tetap menarik untuk dibaca oleh orang lain.

5. Teman, kalau kita mau jujur, sebenarnya teman bisa dijadikan sumber inspirasi yang menarik. Coba perhatikan dari sekian banyak teman kita, pastinya ada beberapa yange memiliki karakter yang unik. Ini bisa kita gali lebih dalam. Karakter seperti suka marah, bisa kita jadikan tema tentang sifat marah tsb. Apa dan bagaimana mengendalikan sifat tsb.

6. Seni, apakah itu seni lukis atau lainnya, ini salah satu sumber inspirasi yang kaya makna. Seperti misalnya kalau kita lihat lukisan yang indah. Menggambarkan apa lukisan itu, apa maksud dari goresan lukisan itu. , bisa kita jadikan ide untuk menulis.

7. Tamasya, Kalau yang ini sih sudah pasti. Lokasi tempat kita bertamasya adalah sumber inspirasi yang bagus. Apa dan bagaimana tempat tamasya itu, mengapa tempat itu layak dikunjungi, sejarah tempat tsb. Semua merupakan bahan yang bagus untuk menulis.

8. Ibadah, adakalanya kita lupa, bahkan ibadah pun bisa dijadikan tema sebuah tulisan. Kita mungkin bisa menceritakan bagaimana perasaan, harapan dan syukur kita saat melakukan ibadah. Saat beribadah biasanya justru kita mendapatkan inspirasi yang tulus.

9. Jalan-jalan, lho jalanan ? iya benar. Cobalah sejenak berjalan-jalan bila perasaan kita sudah suntuk atau jenuh. Jalan-jalan untuk melihat sekeliling maksudnya. Berjalan dan berhentilan sejenak untuk memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang, kendaraan yang melintas, papan reklame yang bertebaran. Coba dech !

10. Kumpul bareng, nah ini yang paling saya suka. Istilah gaulnya “nongkrong”. Kita cukup jadi perdengar yang baik. Biarkan teman-teman kita berbicara satu sama lain, simak dan dengarkan dengan santai. Cara ini sering saya lakukan dan berhasil mengispirasi saya untuk mendapatkan tema tulisan.

Nah itulah 10 cara mendapatkan inspirasi menulis yang menurut saya cukup mudah dipraktekkan. Seperti biasa, ada yang ingin menambahkan ?

Offline oomnya fahrel

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Okt 2007
  • Tulisan: 12.064
  • Lokasi: Bumi Allah
  • Jenis kelamin: Pria
  • Kage Mane no Jutsu
    • Lihat Profil
    • Open house
« Jawab #2 pada: 05 November 2009, 15:11:52 »
O.Solihin? sosok luar biasa dalam kepenulisan, ana banyak belajar dari beliau O0

Offline andaleh

  • Moderator
  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.929
  • Lokasi: Bandar Lampung
  • Jenis kelamin: Pria
  • The King Of OOT :D
    • Lihat Profil
    • my blog
« Jawab #3 pada: 06 November 2009, 17:25:48 »
Menangkap Inspirasi

Penulis: Octaviana Dina

Setiap penulis pasti pernah mengalami kebuntuan dalam menulis. Mendadak macet di tengah-tengah proses penulisan, atau justru melepem saat baru ingin mulai menulis. Penyebabnya karena padamnya lentera inspirasi. Jalan pikiran menjadi gelap. Alhasil sang penulis terjebak, tak tahu harus melanjutkan ke arah mana. Tak ubahnya bagai perahu layar yang mendadak berhenti melaju akibat mati angin. Tidak maju, tidak pula mundur. Hanya mengapung-apung di tengah samudera. Jika sudah begitu, haruskah penulis berhenti menulis sementara menunggu kembalinya inspirasi?

Inspirasi adalah motor penggerak bagi penulis. Kehadirannya memang tak bisa ditebak. Kadang datang begitu saja tanpa diminta, kadang tak kunjung tiba meski sudah dinanti-nanti. Lantas bagaimana seandainya inspirasi tidak datang juga setelah sekian lama, haruskah penulis hanya terus menunggunya? Tentu saja tidak, karena jika seorang penulis baru menulis setelah inspirasi yang ditunggunya tiba, ini akan menyulitkan si penulis itu sendiri. Ia sulit menjadi produktif apabila hanya mengandalkan kedatangan inspirasi alias hanya pasif menunggu sampai inspirasi itu hinggap di kepalanya. Oleh sebab itu, penulis harus aktif mencari inspirasi. Menangkap inspirasi.

Di mana inspirasi berada? Thornton Wilder (1897-1975), seorang novelis dan penulis sandiwara terkenal asal Amerika, berkata demikian: “bahan mentah karya-karya besar hanyut mengapung mengitari dunia, menunggu untuk dibungkus kata-kata.” Dengan kata lain, inspirasi ada di mana-mana. Dunia di sekeliling kita adalah harta karun inspirasi yang terus bertambah jumlahnya seiring dengan perjalanan waktu. Setiap hari selalu ada yang baru. Matahari di hari Senin tak pernah seratus persen sama dengan Matahari di hari Selasa keesokan harinya. Lagu X yang kita nikmati di bawah langit cerah pastilah menghasilkan nuansa berbeda dengan lagu X yang sama yang kita nikmati saat langit kelabu berhujan. Selalu ada sesuatu yang baru. Betapa melimpahnya inspirasi itu di sekitar kita. Keseharian kita sesungguhnya bertaburan inspirasi : filem, berita, buku, musik, langit, bunga, kucing, pakaian, tutur kata, gerak-gerik, tatapan mata, deru mobil, angin sore, lilin yang menyala, bulan purnama….; terlalu banyak untuk disebutkan. Itu hanya sebagian kecil dari sarang inspirasi.

Inspirasi selalu sedang menunggu kita, para penulis, untuk menemukan dan menangkapnya. Dan kita pasti bisa, sebab kita semua telah diperlengkapi dengan seperangkat alat penangkapnya: indera. Jadi, apapun aktivitas keseharian atau kegiatan favorit kita, jangan biarkan inspirasi berlalu begitu saja tanpa arti. Jangan biarkan filem yang kita tonton, musik yang kita nikmati, buku yang kita baca, berita yang kita dengar, kejadian yang kita saksikan, orang-orang yang kita temui dan sebagainya, lewat dan sirna tanpa kita sempat menangkap inspirasi yang bertebaran di dalamnya.

Tangkaplah inspirasi itu. Lalu catat dalam sebaris atau dua baris kalimat agar jangan sampai hilang terlibas keseharian kita yang lain sebelum akhirnya kita menjadikannya sebagai nafas dari tulisan kita kemudian.

sumber : penulislepas.com

Offline andaleh

  • Moderator
  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.929
  • Lokasi: Bandar Lampung
  • Jenis kelamin: Pria
  • The King Of OOT :D
    • Lihat Profil
    • my blog
« Jawab #4 pada: 12 November 2009, 08:51:34 »
Tips-sederhana penulisan artikel nonfiksi

http://jonru.multiply.com/journal/item/49

Bagi saya pribadi, menulis artikel nonfiksi justru lebih mudah ketimbang fiksi (cerpen, novel, dst). Entah kenapa, saya sendiri tidak tahu. Tapi walau begitu, saya ingin menjadi penulis fiksi dan nonfiksi sekaligus, karena keduanya punya keunggulan masing-masing.

Untuk artikel nonfiksi, menurut saya, kiat dasarnya cukup sederhana. Kita hanya membutuhkan "bahan dasar" sebagai berikut:

   1. Ide
   2. Berpikir sistematis
   3. Data (ini cukup relatif, karena ada juga artikel yang bisa ditulis tanpa harus mencari data)
   4. Fokus pada masalah. Jangan suka melebarkan topik ke mana-mana.

Jika keempat poin ini sudah kita miliki, maka Insya Allah, menulis nonfiksi bisa menjadi pekerjaan yang sangat mudah.

Untuk lebih jelasnya, mari kita pelajari contoh sederhana ini.

1. Ide

Ide itu ada di mana-mana. Kali ini, kita mengambil contoh ide yang sederhana saja, yakni: "saya ingin membaca buku sebanyak-banyaknya, tapi saya tidak punya waktu dan tidak punya uang untuk membeli buku yang banyak."

Nah, ini adalah ide yang cukup bagus dan bisa kita angkat menjadi sebuah tulisan. Di dalam ide ini terdapat sebuah masalah yang dapat kita kembangkan nantinya.

2. Berpikir sistematis

Setelah idenya ketemu, saatnya kita berpikir sistematis. Menurut saya, berpikir sistematis ini penting sekali. Salah satu kegagalan para penulis pemula adalah: mereka belum terbiasa berpikir secara sistematis. Akibatnya, mereka punya ide, tapi bingung harus mulai dari mana, bagaimaan cara mengembangkannya, dan seterusnya. Karena itu, kalau kita ingin jadi seorang penulis nonfiksi yang berhasil, cobalah mulai berlatih berpikir sistematis. Begitu ada ide, kita analisis dia secara runut, poin per poin, langkah demi langkah.

Dari contoh di atas, mari kita coba mengembangkannya berdasarkan pemikiran yang sistematis:

    * Saya berpendapat bahwa membaca itu sangat penting. Karena itu, saya harus membaca buku sebanyak-banyaknya.
    * Apa saja sih, manfaat membaca buku itu?
    * Kendala #01: Saya tak punya waktu yang banyak. Saya kan sibuk, banyak kerjaan, dst...
    * Kendala #02: Uang saya terbatas, sehingga saya tidak bisa membeli buku yang banyak.
    * Alternatif pemecahan masalah:
         1. Pinjam di perpustakaan.
         2. Pinjam buku ke teman. Perluas pergaulan sehingga makin banyak teman yang bisa meminjamkan buku.
         3. Membaca ketika dalam perjalanan.
         4. Membaca di sela-sela tugas kantor.
         5. Sering-sering browsing di internet,
         6. Dan seterusnya.
    * Pembahasan terhadap "alternatif pemecahan masalah":
          o Tentang pinjam di perpustakaan: Wah, tidak bisa! Saya juga tak punya waktu untuk minjam ke perpustakaan. Lagipula, saya seringkali belum membaca bukunya, padahal sudah saatnya dikembalikan lagi.
          o Tentang pinjam ke teman: wah, teman saya sedikit. Saya kan orangnya kuper.
          o dan seterusnya...
    * Pemecahan masalah secara menyeluruh
    * Kesimpulan

Nah, dari sistem berpikir sistematis tersebut, kita sudah menemukan KERANGKA KARANGAN. Ya, kerangka karangan ini sangat penting, karena dari sini kita bisa mengembangkan tulisan. Kerangka tulisan ini bisa kita tulis di kertas, atau cukup disimpan di kepala saja. Terserah kita memilih yang mana, tergantung kebiasaan dan kemampuan masing-masing.

3. Data

Alangkah bagusnya jika tulisan ini kita lengkapi dengan data pendukung. Misalnya: berapa koleksi buku yang telah saya miliki, berapa rata-rata harga buku. Dari total penghasilan saya, berapa rupiah yang dapat saya sisihkan untuk membeli buku. Dan seterusnya. Data ini akan membuat tulisan kita lebih "kaya".

4. Fokus. Jangan melebarkan topik

Nah, ini adalah masalah yang seringkali tidak kita sadari ketika menulis. Sebab, kita merasa bahwa apa yang kita tulis masih berhubungan dengan tema utamanya, padahal sebenarnya tidak terlalu berhubungan, dan tidak perlu dibahas.

Misalnya begini:
Ketika menulis tentang ide di atas (kendala saya dalam membaca buku), kita tanpa sadar membahas tentang "gerakan gemar membaca yang dicanangkan pemerintah." Kita uraikan tema ini panjang lebar, ditambah berbagai data penunjang.

Hm, kalau tema ini dibahas sekilas saja, mungkin tidak terlalu masalah, karena justru bisa menjadi penguat argumen kita bahwa membaca itu memang sangat penting. Dan memang, tema "gerakan gemar membaca" ini masih berkaitan erat dengan ide yang sedang kita tulis. Masalahnya adalah, jika kita mulai membahas tema tambahan ini secara panjang lebar, tulisan kita menjadi tidak fokus lagi. Di dalamnya sudah ada dua tema besar yang sama-sama kuat. Dan pembaca nantinya akan bingung, "si penulis ini sebenarnya  sedang membahas apa, sih?"

*     *     *

Nah, menurut saya, inilah tips utama dalam menulis karya nonfiksi. Selanjutnya, yang dibutuhkan hanyalah latihan dan penambahan jam terbang.

Ok deh, semoga bermanfaat dan maaf bila tidak berkenan.

Jonru

Offline andaleh

  • Moderator
  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.929
  • Lokasi: Bandar Lampung
  • Jenis kelamin: Pria
  • The King Of OOT :D
    • Lihat Profil
    • my blog
« Jawab #5 pada: 18 November 2009, 16:30:14 »
http://mahad-abubakar.com/index.php/2008080222/Ustadz-Habiburrahman/MENYALAKAN-INSPIRASI-DI-UJUNG-PENA.html

MENYALAKAN INSPIRASI DI UJUNG PENA

Habiburrahman El Shirazy
Penulis Novel Ayat-ayat Cinta
Tentang Inspirasi atau Ilham

MAHAD-ABUBAKAR.COM Inspirasi, dalam bahasa Arab disebut ilham. Biasanya ilham lazim digunakan untuk menyebut petunjuk Tuhan yang timbul di hati. Di sini, bedanya dengan wahyu; ilham atau inspirasi adalah petunjuk dari Tuhan untuk semua makhluk Allah sedangkan wahyu hanya khusus untuk para nabi dan rasul.

Bisa juga ilham berarti pikiran yang timbul dari hati. Bagi seorang penulis ilham adalah sesuatu yang menggerakkan hati untuk mencipta karya. Aswendo mendefinisikan ilham atau inspirasi adalah letikan yang membuat seorang pengarang tergugah.

Inspirasi untuk meletikkan munculnya ide seringkali menjadi problem bagi penulis pemula. Dalam durus idhafiyyah, - pelajaran tambahan berupa pelajaran menulis kreatif,- yang saya sampaikan pada siswa-siswa MAKN MAN I Surakarta seminggu sekali setiap habis pelajaran Al Lughah Al `Arabiyyah Lin Nasyi`in, keluhan mereka seringkali seputar tidak menyalanya inspirasi. Ide yang tidak muncul. Seringkali mereka mengeluh,

“Mau nulis apa, bingung Ustadz?”

 

“Nulis sih ingin Ustadz, tapi masalahnya mencari inspirasinya itu lho susah banget!”

Masih ada yang beranggapan bahwa ilham bagi penulis itu seperti wahyu bagi nabi. Tidak sembarang orang yang dapat ilham dan tidak sembarang waktu. Ilham hanya muncul pada saat-saat tertentu saja. Benarkah demikian?

 

Belajar dari Beberapa Pengalaman Penulis Terkemuka

 

Pengalaman para penulis terkemuka di dunia membuktikan bahwa ilham bisa diusahakan kehadirannya. Ernest Hemingway, sastrawan Amerika peraih Hadiah Nobel itu misalnya, pergi berlayar sendirian untuk mengail inspirasi dan menyiapkan batinnya. Hasilnya buku The Old Man and The Sea. Gerson Poyk banyak menemukan ilhamnya di rumah sakit, di stasiun kereta api. Ia tidak diam saja di rumahnya. Untuk menjaring inspirasi ia bahkan harus tidur di stasiun.

Lain lagi dengan Gola Gong, ia biasa mendapatkan inspirasi dari berita koran. Ia sangat jeli membaca berita. Novelnya Kupu-kupu Pelangi, idenya ia peroleh setelah membaca berita tentang “anak jalanan yang kedapatan menstruasi pertama langsung dicomot ‘mami’ untuk dijadikan pelacur jalanan." A.A. Navis, sastrawan dari Padang, sering mendapatkan ilham waktu jongkok di Kakus. Gara-gara sering berlama-lama jongkok di kakus ia sampai menderita ambaien. Agatha Christie suka menunggu ilham sambil berendam di bak mandi air hangat sambil mengupas apel.

Dalam bedah novel Ayat Ayat Cinta di Fakultas Teknik UGM Ramadhan yang lalu, Ustadz M. Fauzil Adhim mengaku seringkali ia mendapatkan inspirasi bagi bahan tulisannya saat membaca Al Quran. Bahkan ada permulaan kalimat dalam tulisannya yang terilhami oleh sebuah ayat. Bagi Ali Muakhir, bahkan sobekan koran sekalipun bisa melahirkan inspirasi menulis. Cerpennya Sekeping Logam Cinta yang meraih Juara I dalam ajang Lomba Cipta Cerpen Remaja, idenya ia dapatkan dari sebuah sobekan koran.

Dan, masih banyak fakta yang menunjukkan bahwa ide bisa diusahakan kehadirannya. Bisa datang dari mana saja dan kapan saja. Pengalaman para penulis di atas bisa jadikan pelajaran. Sekali lagi: inspirasi bisa diusahakan kehadirannya di ujung pena! Dan itu dengan cara menguatkan azam kita dan memaksimalkan pancaindera kita terhadap keadaan di sekeliling kita. Bambang Trim dalam buku terbarunya Saya Bermimpi Menulis Buku mengibaratkan inspirasi dan ide sebagai ikan-ikan beraneka yang bertebaran di lautan mahaluas. Kitalah yang mesti mengailnya. Dan memang diperlukan kemauan keras di samping kepiawaian untuk mengailnya. Jangan sampai ikan (ilham) yang membahayakan Anda dan manusia lainnya yang tertangkap.

Namun tidak kita pungkiri, terkadang memang inspirasi itu datang begitu saja tanpa kita susah-susah mengusahannya. Bisa jadi ketika sedang santai di siang hari hendak tidur tiba-tiba berkelebat ilham untuk menulis sesuatu. Saat itu yang diperlukan adalah kesiapan batin kita menerima ilham `ngeget' tersebut. Jangan menyia-nyiakannya sebab itu adalah juga karunia Allah yang sangat mahal harganya.

 

Komitmen : Sumber Kekuatan Inspirasi

 

            Komitmen pada jalan yang kita yakini kebenarannya serta komitmen menyampaikannya pada orang lain ternyata bisa menjadi sumber kekuatan inspirasi untuk menulis. Benarlah M. Fauzil Adhim ketika berkata dalam Dunia Kata –nya:

            "Apabila hatimu dipenuhi oleh kepedihan, keinginan yang kuat untuk menunjukkan orang lain kepada jalan yang kamu yakini kebaikannya, maka pikiranmu akan hidup. Gagasan bermunculan dan inisiatif akan saling bersusulan. Apa pun yang kamu lihat, akan selalu mengalirkan inspirasi ke dalam jiwamu sesuai dengan apa yang menjadi kegelisahanmu."

            Kegelisahan Hujjatul Islam Imam Al Ghazali melihat keangkuhan cara berpikir para filosof yang sedemikian mengagungkan akal yang menurutnya kurang pas membuatnya menulis karya yang sangat terkenal sampai sekarang yaitu: Tahafutul Falasifah (Runtuhnya Para Filosof). Dan pada abad berikutnya ketika Ibnu Rusyd menemukan hal-hal yang ia anggap janggal dalam Tahafutul Falasifahnya Al Ghazali, ia lantas menulis tanggapan yang sangat masyhur di seluruh dunia sampai sekarang yaitu Tahafutut Tahafut (Runtuhnya Kitab Tahafut). Belakangan ini ada seorang Doktor Filsafat di Mesir yang menulis buku membela tulisan Al Ghazali dan balik mengkritisi tulisan Ibnu Rusyd. Buku berjudul Tahafutu Tahafutit Tahafut (Runtuhnya Kitab Tahafutut Tahafut).

            Ketika Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah melihat fenomena banyaknya kaum muslimin yang mencampuradukkan ajaran Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani) dengan ajaran Islam tergugahlah kesadarannya untuk menyampaikan kebenaran yang ia yakini. Maka ditulislahlah salah satu karyanya, sebuah kitab yang terkenal sampai sekarang, yaitu Iqtidha`ush Shirath Al Mustaqiim.

            Begitu juga dengan Syaikh Dr. Yusuf Al Qaradhawi, ulama besar jebolan Al Azhar University ini menulis karya-karyanya karena komitmennya pada kebenaran yang ia yakini. Tatkala melihat fenomena ketidakberesan dalam memandang, memahami menempatkan geliat kebangkitan umat Islam, ia langsung menulis buku yang luar biasa isinya, yaitu Ash Shahwah Islamiyyah Baina Al Juhud Wat Tatharruf. Dan baru-baru ini dia mengeluarkan buku yang mendapat pujian dari para sejarawan yaitu Taarikhuna Al Muftara `Alaih (Sejarah Kita yang Tertuduh). Dalam buku ini beliau mengkritisi siapapun yang tidak obyektif dalam membaca sejarah kaum muslimin. Termasuk para sejarawan muslim klasik tak luput dari kritikannya.

            Dan siapa yang tidak kenal WS. Rendra? Sastrawan yang baru saja menginjak umur 70 tahun ini dikenal dengan puisi-puisinya yang sangat komitmen memperjuangkan apa yang ia yakini. Jika kita teliti dengan seksama banyak karya besar yang lahir dari kekuatan yang bernama komitmen. Dan banyak dari karya itu, yang mempengaruhi perjalanan sejarah manusia.

           

Cinta : Sumber Inspirasi yang Luar Biasa

 

Jika Anda bertanya pada ulama dan cendekiawan muslim yang dapat dipercaya tentang kitab apa yang paling bisa disebut karya monumental umat Muhammad saw., maka tak akan ragu mereka akan menjawab kitab Al Jaami` As Shahiih, yang dikenal dengan kitab Shahih Al Bukhari , yang ditulis oleh Imam Al Bukhari. Para ulama bahkan sepakat bahwa kitab Shahih Al Bukhari yang hanya menghimpun hadits-hadits shahih ini adalah kitab paling shahih setelah Al Quran di muka bumi ini. Tak ada yang meragukan kecuali para orientalis dan para pengikut orientalis yang selalu berpurbasangka pada sumber-sumber ajaran Islam.

Yang mungkin menarik bagi kita, para penulis muda, untuk kita tanyakan adalah apa yang menginpirasikan seorang Al Bukhari bisa menulis karya yang sedemikian monumental?

Di dalam kitab Hadyu Al Saari, Ibnu Hajar Asqalani menuliskan tentang apa yang menginspirasikan Imam Bukhari menuliskan kitab Shahih Bukhari. Ibnu Hajar berkata,

"Kami riwayatkan dengan sanad yang dapat dipercaya, dari Muhammad bin Sulaiman bin Faris, ia berkata : Aku mendengar Al Bukhari berkata, 'Aku bermimpi bertemu Nabi, seolah aku berdiri di hadapan beliau. Aku memegang kipas yang aku gunakan untuk membersih kotoran dari beliau. Lalu aku tanyakan pada seorang ulama yang ahli menafsirkan mimpi. Ia menjelaskan kepadaku, 'Engkau akan membersihkan kedustaan dari beliau. Itulah yang menggugahku untuk menulis Al Jaami` As Shahiih'."

Karena kecintaannya pada Rasulullah saw. yang luar biasa Imam Al Bukhari sampai diimpeni oleh Rasulullah saw.. Kecintaannya yang luar biasa pada Rasulullah saw. menggugahnya untuk membersihkan hadits-hadits Rasulullah saw. dari noda-noda kedustaan. Kecintaan Al Bukhari yang luar biasa pada Rasul menggerakkannya untuk menyusun kitab Al Jaami` Ash Shahiih dengan kesabaran luar biasa yang belum bisa ditandingi oleh penulis manapun sampai sekarang. Lebih dari 16 tahun Imam Al Bukhari harus mengais dan mengumpulkan hadits-hadits yang berserakan di pelbagai negeri. Ia harus melakukan perjalanan ribuan kilo untuk itu. Lalu ia harus menapisnya dengan ketelitian yang tiada tandingnya. Dari enam ratus ribu hadits yang ia hafal, ia menapiskan menjadi empat ribuan hadits. Dan saat menulisnyapun ia melakukan penyucian jiwa yang sangat susah dicari semisalnya.

Tentang caranya menulis kitab Al Jaami` As Shahiihnya, Imam Al Bukhari bercerita, sebagaimana dituturkan Ibnu Hajar dalam Hadyu Al Saari, "Aku tidak menulis satu haditspun dalam kitab As Shahiih kecuali aku mandi dulu dan shalat dua rakaat."

Apa yang menginspirasikan pada Imam Bukhari untuk melakukan itu semua? Kekuatan apakah yang mendorongnya untuk melakukan pekerjaan yang luar biasa itu?

Jawabannya adalah CINTA. Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Dalam sejarahnya cinta telah menginspirasikan lahirnya karya yang tiada terhitung jumlahnya. Ribuan karya, baik itu syair, draman, cerpen, novel, bahkan film telah lahir dari percikan cahaya cinta. Termasuk novel saya: AYAT AYAT CINTA. Wa akhiiran, selamat menulis dengan pena yang menyala!

 

Ma`had Abu Bakar Ash Shiddiq UMS, 2/12/05, 20:56

Dimohon tidak menyebarkan artikel ini untuk tujuan bisnis oriented.  (Red)

 

 

Daftar Bacaan

1. Hadyu Al Saari, Imam Ibnu Hajar Al Asqalaani, Dar Al Kutub, Beirut, Cet.III, 2000

2. Iqtidha`ush Shirath Al Mustaqiim, Ibnu Taimiyyah, Maktabah Thalibul Ilmi, Riyadh, 1999

3. Menulis Nggak Perlu Bakat, Among Kurnia Ebo, MU:3 Book, Jakarta.

4. Dunia Kata, M. Fauzil Adhim, Dar Mizan, Bandung, 2000

5. Saya Bermimpi Menulis Buku, Bambang Trim, Kolbu MQS, Bandung, 2005

6. Proses Kreatif Penulis Hebat, Gola Gong dkk., Dar Mizan, Bandung, 2003

7. Buku Sakti Menulis Fiksi, Annida, Jakarta, 2004
Pemutakhiran Terakhir ( Friday, 15 May 2009 )

Offline andaleh

  • Moderator
  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.929
  • Lokasi: Bandar Lampung
  • Jenis kelamin: Pria
  • The King Of OOT :D
    • Lihat Profil
    • my blog
« Jawab #6 pada: 24 November 2009, 14:21:07 »
Tips Menulis dari Mas Anjar

(semacam rekaman dari sebuah proses kreatif)

Apa bedanya Samuel Mulia dengan saya? Wew, kok saya? Narsis amat. Ya, sudah, lupakan. Bedanya adalah, Samuel Mulia cuma nulis gitu doang, dia dapet duit. Sedangkan saya, nulis gitu doang, nggak dapet apa-apa. Tapi, sudahlah. Kita lewatkan soal duit yang menjadi problem seluruh bangsa Indonesia. Kita masuk ke persamaan saja. Kami sama-sama menulis. Yah, walaupun tidak saling mengenal dan saya tidak terkenal, saya menjadikannya ikon favorit ketika membaca Kompas Minggu, setelah Benny dan Mice tentunya. Tapi, yang harus diperhatikan di sini adalah, apa yang ditulis? Samuel Mulia selalu memulai tulisannya dengan berangkat dari kejadian sehari-hari yang kemudian menyentil pembaca untuk care terhadap suatu fenomena. Bahkan terkadang fenomena yang kecil seperti budaya mengantri, mohon izin pada bos, dan sebagainya. Menggiring pembaca untuk melihat hal-hal satir yang didapat sehari-hari terlebih dahulu seakan ia menertawakan diri sendiri, dan selanjutnya pembaca secara tidak langsung terseret untuk menertawakan diri mereka sendiri, lantas bergumam, “Oh begitu ya…”. Lalu saya melihat hal ini semacam hal yang kecil untuk sebuah perubahan yang besar. Mungkin begitu.

Nah. Itu yang membuat saya menjadikannya ikon favorit ketika saya membaca Kompas Minggu. Karena saya juga menyukai hal-hal yang satir dan terkadang menertawakan diri sendiri, lalu saya tulis ke dalam sebuah tulisan, sehingga pada akhirnya (saya harap) pembaca setia blog saya atau notes di facebook saya pun ikut menertawakan diri mereka. Ha ha bercanda. Nggak ding. Serius. Tapi, yang bagian itu tadi. Hal yang kecil untuk sebuah perubahan yang besar.

Lalu apa hubungannya dengan judul di atas?

Baiklah.

Bergulat selama tiga tahun—waktu yang masih terlalu sedikit—dalam dunia kepenulisan sejak diperkenalkannya saya dengan Forum Lingkar Pena yang waktu itu saya anggap keren banget, membuat saya agak sedikit berani berbicara, “Ayo pada nulis o.” Tiga tahun memang bukan waktu yang banyak apalagi kalau tidak ditekuni secara mendalam, namun pasti ada sebuah hal yang dapat dibagi kepada semua orang dari sebuah pelajaran kecil yang telah diambil, terlebih lagi orang yang ingin menulis tapi selalu kesulitan untuk memulai kalimat pertama mereka. Tiga tahun juga tidak dapat dibanggakan karena secara tidak langsung menulis itu sebenarnya sama seperti bermain piano, bermain sepakbola, dan online di Kaskus. Butuh jam terbang agar jari-jari itu lihai dalam memainkan tuts, kaki-kaki itu piawai dalam mengolah si kulit bundar, dan tentu saja menjadi seorang pertamax yang dapat dibanggakan oleh seluruh Kaskuser di Indonesia.

Maka dari itu, saya merasa tersentil untuk membagi beberapa pelajaran yang telah saya temukan dari percintaan saya dengan dunia tulis menulis yang masih balita ini. Pertanyaannya, apakah saya telah menjadi orang sukses, kok berani-beraninya membagi sebuah pelajaran yang masih teoritis banget? Tenang saja. Al-Qur’an juga diturunkan secara bertahap, toh? Tidak menunggu 114 Surat turun semua kan? Ya, secara bertahap diberikan kepada Nabi Muhammad biar dijadikan pedoman dalam kehidupan manusia secara langsung. Nanti kalau saya sudah jadi orang sukses, ya saya tulis yang lain lagi lah. Gitu aja kok repot…

Jadi… Apa tips menulis versi saya yang culun ini? Culun? Edward Culun?

1. Milikilah semangat layaknya mahasiswa dalam mengejar IPK dan wartawan Gosip dalam menguak fakta perselingkuhan para artis.

Saya belajar satu hal dari editor yang menerbitkan buku pertama saya bahwa pembaca itu butuh hal yang simpel. Bukan hal yang berat dan rumit. Biarlah hal yang berat dan rumit itu menjadi milik penulis seorang. Tapi, penerjemahan dari proses membaca hal-hal yang rumit itu haruslah sederhana dan mudah dicerna. Saya pun akhirnya menyadari hal lain bahwa pembaca itu memang seharusnya diperlakukan seperti teman atau bahkan pacar. Saat teman atau pacar kita curhat, yang mereka butuhkan sebenarnya bukanlah pendapat kita yang penuh dengan retorika, tapi hanyalah sebuah telinga yang memang disiapkan untuk mendengarkan keluh kesanya. Maksudnya mereka tidak butuh hal yang rumit, tapi cukup yang sederhana. Ingat! Kita tidak sedang berhadapan dengan dosen pembimbing atau dosen penguji Thesis. Tapi, pembaca yang budiman. Ya, walaupun tidak menutup kemungkinan segmentasi pasar kita nantinya pun akan mencakup dosen.

Tapi, ingat! Walaupun sederhana, segalanya harus disusun secara matang dan terpercaya. Kalau menurut saya, modalnya hanya dua. Semangat dan Bertanya. Kalau ditanya, semangat apa yang paling pas? Ya, mungkin adalah semangat yang dimiliki oleh mahasiswa yang mengejar IPK Cumlaude dengan sungguh-sungguh. Kehidupan sehari-harinya didedikasikan kepada akademis sampai berdarah-darah. Halah lebay. Mencari dan terus mencari literatur-literatur yang pas yang dapat digunakan kmenjadi bahan untuk membuat sebuah tulisan menjadi lebih berbobot. Lalu apa? Satu hal lagi yang pasti, apa yang membuat wartawan Gosip menjadi satu hal yang paling ditakuti oleh para artis? Yaitu keberanian mereka untuk menguak fakta. Apalagi yang menyangkut perselingkuhan. Mak Nyus!!! Selalu akan ada pertanyaan di benak mereka kalau melihat fenomena yang janggal. Selalu bertanya. Selalu bertanya. Dengan bertanya, mereka akan menemukan jawaban yang pasti dari sumbernya. Dengan bertanya, menjadikan mereka sebuah senjata yang ditakuti oleh setiap individu yang menyeleweng. Untuk memangkas proses membaca suatu literatur yang tebal dan memakan waktu lama, mencari Narasumber dan lakukan wawancara adalah langkah yang tepat. Dari pertanyaan-pertanyaan itu pastinya akan ada diskusi yang menarik yang dapat dijadikan bahan tulisan. Selain itu, secara tidak langsung kita akan belajar sesuatu hal yang baru dari sumbernya langsung. Asyik, kan?

2. Tertarik untuk membaca hal-hal baru

Ada hal yang menarik yang saya dapatkan pada acara Musyawarah Wilayah Forum Lingkar Pena Yogyakarta tahun lalu. Seorang pembicaranya mengatakan hal yang membuat saya tergelak, “Pertama, kita harus menyadari satu hal bahwa Nabi kita bukan penulis…” Benar. Nabi Muhammad buta huruf. Namun, apa yang diturunkan kepada beliau pada peristiwa turunnya Al-Qur’an? Benar. Peristiwa bersejarah dimana Malaikat Jibril sampai mengulangi kata Iqra’ sebanyak tiga kali! Itu berarti ada makna di balik suatu maksud. Makna yang terkandung dari sebuah pembacaan kalam Ilahi. Dan perlu diingat, setelahnya Allah melanjutkan, “Yang mengajarkan manusia dari perantara kalam.” Sekali lagi. Ada maksud di balik dari proses membaca dan menulis.

Selain itu, dengan membaca hal-hal baru, pikiran kita menjadi lebih terbuka, loncatan-loncatan ide liar akan selalu beterbangan. Saat semua ide itu beterbangan, baru ikatlah semua ide ke dalam sebuah tulisan yang keren. Tulisan apa yang keren? Dan bagaimana caranya membuat tulisan itu menjadi keren? Menulis dengan hati dan bersungguh-sungguh. Walaupun tulisan itu tidak bernyawa, tapi rasa yang terekam dari proses kreatif yang mengkristal akan terus tertinggal di dalam karya tersebut. Sehingga saya pun harus sepakat dengan ST 12. Ada rasa yang tertinggal.   

Membaca dan menulis itu tidak dapat dipisahkan. Seperti bernafas. Membaca itu seperti menghirup udara, dan menulis adalah menghembuskannya. Ini katanya Mbak Dee, sih. Bukan kata saya. Keren, kan?

3. Punya Blog dan teman-teman setia yang selalu mengunjungi Blog kamu

Ada yang masih saya ingat sampai sekarang. Dulu waktu kecil saya sering diajak oleh Mama saya untuk bermain tenis bersama teman-teman kantornya. Saya pun dikenalkan dengan teman-temannya, termasuk pelatih tenisnya yang juga merupakan salah satu karyawan di Bank tempat Ibu saya bekerja. Saya begitu bersemangat. Lalu, apa yang saya lakukan setelahnya? Saya pikir saya akan langsung dibolehkan bermain tenis di lapangan tersebut dan melawan teman-teman ibu saya yang tinggi badannya jelas lebih tinggi daripada saya. Tapi, tidak. Saya disuruh memantul-mantulkan bola tenis ke lantai dengan raket. Tujuannya satu, kata pak pelatih waktu itu: untuk membiasakan diri dengan bola dan mengontrol pukulan kita. Ah, gampang. Saya pikir begitu. Tapi, ternyata tidak juga. Sulit sekali. Bolanya memantul-mantul tidak karuan, kadang lepas kontrol dan keluar dari jangkauan raket. Setelah sukses dan pantulan kita menjadi lebih baik dan telaten, barulah kita boleh menyicipi lapangan.

Sama halnya dengan menulis. Dengan memiliki Blog, ada dua hal yang akan kita dapatkan. Pertama, kamu mendapatkan sebuah “kebiasaan”. Kebiasaan untuk menulis. Kebiasaan untuk melontarkan kata, mengomentari satu hal. Dan kebiasaan ini nantinya akan sangat membantu kita dalam membuat sebuah tulisan. Sebelum menulis, tulislah hal-hal yang dekat dengan kita terlebihd ahulu. Lalu, secara sederhana “terbitkan” tulisan itu di Blog pribadi. Kedua, secara tidak langsung, kita pun pasti akan memiliki “pembaca” setia yang akan selalu berkomentar dan menanti-nanti tulisan kita selanjutnya. Ibaratnya, sebelum terbang, sebaiknya kita belajar dulu untuk menapak. Seperti sewaktu awal-awal kuliah saya dulu. Membuat garis lurus pada selembar kertas A3 tanpa penggaris secara melintang, sebelum belajar teknik gambar perspektif secara free hand.

4. Patuhilah deadline

Dead artinya mati. Dan line artinya garis. Jadi, deadline berarti kalau keluar garis, kita bakal mati. Halah. Bekerja dengan deadline tertentu membuat kita terpacu. Banyak dari teman saya pada waktu kuliah dulu menyelesaikan gambar desainnya hanya di beberapa hari terakhir sebelum pengumpulan. Deadline dan tanggapan dosen yang nylekit biasanya menjadi pemicu dari teman-teman saya untuk membuat desain sebaik mungkin di batas akhir pengumpulan. Begitu juga saya pada saat Tugas Akhir dulu. Padahal waktu yang diberikan adalah dua bulan, tapi baru di bulan kedua saya mendapatkan ide untuk menggambar dan menyelesaikan desain saya. Di hari-hari terakhir, saya dapat menggambar empat buah sketsa ukuran A3 di atas dua kertas kalkir ukuran 60 cm x 100 cm dalam sehari. Saya masih tidak percaya dengan keajaiban itu. Seperti dikejar anjing tetangga rasanya. Deadline adalah suatu hal yang mujarab yang mendatangkan keajaiban. Proses kreatif memang terjadi terus menerus dan tidak akan pernah selesai, tapi dengan adanya deadline, proses kreatif itu menjadi menjadi semakin meluap-luap dan menubuhkannya menjadi hal nyata yang dapat diapresiasi. Jadi, berilah deadline pada diri Anda sendiri.

5. Kenalan sama editor

Teman saya yang lain lagi yang berkecimpung di dunia bisnis dan batik membatik pernah memberitahu saya, “Kalau kamu pengen minjem uang di Bank, langsung ketemuan sama kepala Cabangnya! Jangan sama Costumer Service-nya! Ribet! Kamu bakal dipersulit!”. Begitu juga dengan menulis atau menerbitkan sebuah buku. Kalau ada kenalan orang dalam khususnya editor sebuah penerbit yang Anda sasar, akan mempercepat proses penerbitan buku Anda. Karena nantinya Anda akan berdiskusi panjang lebar tentang isu apa yang sering ditulis atau buku apa yang sedang dicari oleh penerbit tempat beliau bekerja. Kalau sudah begitu, segalanya akan menjadi mudah, walaupun nantinya juga akan selalu ada proses revisi dan revisi dari tulisan yang Anda ajukan. Tapi, dengan begitu, pelajaran lain yang akan Anda petik lagi adalah Anda akan belajar ilmu tulis menulis langsung dari ahlinya. Karena selain mengerti trik dan tips menulis, mereka juga mengerti kondisi pasar. Kalau tidak ada kenalan bagaimana? Gampang! Cari Facebook penerbit tempatnya bekerja. Setelah itu, kenalan aja sama orang-orang di grup penerbit tersebut. Salah satunya, pasti ada editor, kan? SKSDPGTA adalah cara terjitu untuk melangkah. Sok kenal sok dekat padahal ga tahu apa-apa: cara terampuh yang kata teman saya sebagai anak kos agar kita tidak kelaparan saat kiriman kita terlambat datang. He he he

6. Jalan-jalan

Dengan mengamati jalan, suasana kota, orang-orang yang berlalu lalang, ekspresi orang-orang di jalan, pohon-pohonnya, lampu-lampunya, akan membuat kita bersemangat, lalu membuat kita berkesimpulan bahwa dunia ini begitu luas dan tidak sesempit kamar kos 3x3 dengan komputer jadul di dalamnya yang dipakai buat menulis. Saya yakin, dengan jalan-jalan inspirasi akan datang kapan saja. Inspirasi pun dapat datang dari mana saja dan kapan saja. Bsia dengan hanya melihat sebuah detil dari satu bangunan, ekspresi bodoh seorang cowok saat dicubit oleh pacarnya, pengemis buta yang sedang meinta-minta, atau bahkan lampu kota yang tidak menyala, saya rasa bisa mendatangkan inspirasi buat kita semua untuk menciptakan sebuah tulisan. Dari satu hal remeh pun orang dapat menciptakan sebuah kreasi maha dahsyat. Ha lebay. Tapi, memang benar. Ada arsitek bernama Frank Gehry yang mendapatkan inspirasi berarsitekturnya dari ikan peliharaannya sewaktu kecil yang tiba-tiba digoreng oleh ibunya menjadi makan siang. What? How dare you… Tapi, ini Cuma Bullshitan dia aja sih, biar karya dia ada maksudnya… Ha ha ha… Ya tidak boleh begitu juga, sih. Proses orang berkreasi kan bisa dengan cara apa pun juga, kan? Ya, sama seperti rejeki dan jodoh lah yang datang dengan cara yang tidak diduga-duga. Loh kok begitu?
 
Jadi…

Saat Anda sudah jengah dengan kamar Anda yang gitu-gitu saja. Saat Anda bosan dengan tokoh yang Anda ciptakan di sebuah karangan. Saat Anda muak dengan kekauan bahasa artikel yang Anda buat, itu berarti sudah saatnya Anda jalan-jalan. Melihat dunia luar yang begitu luas. Hemm… lebih baik lagi kalau ada orang di samping kita yang bisa digandeng…   

7. Ingat baik-baik pelajaran bahasa Indonesia yang diberikan waktu SMA

Ingatlah teknik-teknik penulisan sewaktu diberikan guru  bahasa Indonesia dulu. Paragraf tekuk, EYD, kalimat praktis, kalimat majemuk bertingkat, kata depan, awalan, dan lain sebagainya. Karena para editor yang biasanya berada di penerbit besar selalu melihat teknis kepenulisan, apakah sudah benar atau belum. Karena ada beberapa penerbit yang hanya melihat halaman pertama naskah Anda. Apakah Anda sudah memakai paragraf tekuk dengan font TNR 12 (font TNR berkaki adalah jenis tipografi yang mudah dibaca dan tidak membuat mata menjadi mudah lelah karena membacanya. Saya sendiri sebenarnya tidak menyukai TNR karena terlalu formal dan kurang keren. Tapi apa boleh buat, karena kepentingan fungsional kita harus mulai mencintai TNR) dan spasi 1.5? Kalau sudah, berarti selanjutnya adalah mengecek isi naskah Anda, apakah menarik dan layak diterbitkan atau tidak. Tapi kalau belum sesuai dengan teknis kepenulisan, bisa jadi naskah Anda akan dilempar ke gudang pembuangan dan tentu saja melupakan siapa penulisnya. Ingat! Mereka (beberapa penerbit sih) tidak akan memberitahu penulisnya kalau tulisannya tidak diterima. Penulis sendirilah yang harus mengeceknya.

8. Bikin kalimat pertama yang nendang!

Meminjam dari Blog Raditya Dika, agar tulisan kita dibaca, kita harus membuat kalimat pertama yang nendang! Misalnya, ya tulisan blog ini? Kalimat pertamanya sudah cukup membuat Anda penasaran, kan? Ha ha (Maaf-maaf… Sedang kumat). Selain judul karangan, artikel, Bab atau sub-bab, kalimat pertama memegang peranan penting apakah tulisan Anda akan menyedot bahkan menghipnotis perhatian pembaca atau tidak. Berilah kesan pertama begitu menggoda. Selanjutnya terserah Anda, apakah ingin membuat pembaca menjadi begitu antusias dengan tulisan Anda atau malah bosan dengan apa yang Anda tulis.

Yap. Begitulah 8 tips menulis yang saya dapatkan dari porses perenungan yang begitu singkat ini. Namun, kesingkatan itu baru saya sadari ternyata telah disusupi oleh Doraemon sehingga membuatnya berjalan menembus zonasi empat dimensi yang absurd dan tidak jelas. Sampai akhirnya membuatnya terasa cukup lama untuk mengumpulkan ide-ide yang tercecer dan mengulur benang-benang yang kusut. Apa, sih?
Selamat menulis! Semoga tidak menertawakan diri sendiri seperti saya.


Notes:
November tiga tahun lalu saya membuat sebuah essay jelek dan cerpen norak, lalu saya kirimkan ke Forum Lingkar Pena Jogjakarta yang waktu itu sedang menyelenggarakan open rekrutmen. Dan anehnya, saya diterima. Sampai sekarang, saya masih tidak percaya. Well, memang benar kata seorang teman, butuh jumpalitan tiga tahun untuk menemukan apa bakat saya. Butuh jalan panjang yang begitu memutar untuk tahu siapa diri saya. Asyik! Jadi kalau saya ditanya Pak Guru dan Bu Guru, “Apa bakat kamu?” Akan saya jawab, “Menulis!” Tapi sayang, saya menemukannya setelah saya berusia 22 tahun dan lulus dari pendidikan arsitek, tur (tapi_bahasa Jawa_ red.) UGM… Ga pa pa…Toh Erwin Gutawa juga dulu kuliah di arsitektur… Halah…

Jadi, bagi yang punya adek yang masih kecil atau bahkan udah punya anak, bantulah mereka dalam menemukan bakat mereka. Menemukan bakat sejak usia dini adalah hal yang paling menyenangkan di dunia ini… Lalu bantu mereka menemukan jawaban untuk menjawab pertanyaan, “Apa cita-citamu?”

Kalo kata mas-mas mentor saya pas SMA, untuk menjawab dan mengerti apa itu Ma’rifatul Insaan (Mengenal kodrat manusia, Who Am I)…

(Pesan layanan masyarakat ini tidak disampaikan oleh Kak Seto)

Notes2:
Tips ini berlaku bagi Anda yang ingin menulis artikel di Blog, Majalah, buku populer ataupun fiksi. Tidak berlaku untuk Anda yang sedang menyusun Skripsi, Thesis, apalagi Disertasi. Tidak berlaku juga untuk Anda yang sedang menyusun laporan penelitian ataupun PKM…


Sumber: http://archoholic.multiply.com/journal/item/232/Cuap-cuap_Aneh_Tips_Menulis_dari_Mas_Anjar

Offline laela awalia

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2009
  • Tulisan: 6
  • Lokasi: Lampung
  • Jenis kelamin: Wanita
    • Lihat Profil
    • Negeri Azkia
« Jawab #7 pada: 30 November 2009, 10:59:57 »
wah... banyak bgt ya yg kasih tips menulis...  :topOK:

Offline Lemahabang

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2006
  • Tulisan: 514
  • Lokasi: Jung Galuh
  • Jenis kelamin: Pria
  • Aku orang Indonesia
    • Lihat Profil
« Jawab #8 pada: 01 Desember 2009, 14:05:22 »
mas andaleh, kalau saya mo kirim tulisan ke forum lingkar pena, piye caranya?
semisal saya pengen kirim tulisan ke penerbit, apa saja tips2nya?
« Edit Terakhir: 01 Desember 2009, 14:09:46 oleh Lemahabang »
Knocking on heaven's door ....

Offline andaleh

  • Moderator
  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.929
  • Lokasi: Bandar Lampung
  • Jenis kelamin: Pria
  • The King Of OOT :D
    • Lihat Profil
    • my blog
« Jawab #9 pada: 02 Desember 2009, 08:58:36 »
Ana udah lama gak aktif di FLP. Ana kurang tahu. Coba cari info di situsnya. Afwan :)

Offline ninedesember

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2007
  • Tulisan: 1.866
  • Lokasi: Depok
  • Jenis kelamin: Wanita
  • ~~Rajin pangkal Pandai~~ Malas pangkal....
    • Lihat Profil
« Jawab #10 pada: 30 Agustus 2011, 15:06:30 »
TFS O0

Offline andaleh

  • Moderator
  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.929
  • Lokasi: Bandar Lampung
  • Jenis kelamin: Pria
  • The King Of OOT :D
    • Lihat Profil
    • my blog
« Jawab #11 pada: 23 September 2011, 15:12:11 »
Ayo #Write Seperti @salimafillah
[/size]

1. Menulis adalah mengikat jejak pemahaman. Akal kita sebagai kurniaNya, begitu agung dayanya menampung sedemikian banyak data-data. #Write

2. Tapi kita kadang kesulitan memanggil apa yang telah tersimpan lama; ilmu dahulu itu berkeliaran & bersembunyi di jalur rumit otak. #Write

3. Maka menulis adalah menyusun kata kunci tuk buka khazanah akal; sekata tuk sealinea, sekalimat tuk se-bab, separagraf tuk sekitab. #Write

4. Demikianlah kita fahami kalimat indah Asy Syafi’i; ilmu adalah binatang buruan, & pena yang menuliskan adalah tali pengikatnya. #Write

5. Menulis juga jalan merekam jejak pemahaman; kita lalui usia dengan memohon ditambah ilmu & dikaruniai pengertian; adakah kemajuan? #Write

6. Itu bisa kita tahu jika kita rekam sang ilmu dalam lembaran; kita bisa melihat perkembangannya hari demi hari, bulan demi bulan. #Write

7. Jika tulisan kita 3 bulan lalu telah bisa kita tertawai; maka terbaca adanya kemajuan. Jika masih terkagum juga; itu menyedihkan. #Write

8. Lebih lanjut; menulis adalah mengujikan pemahaman kepada khalayak; yang dari berbagai sisi bisa memberi penyeksamaan & penilaian. #Write

9. Kita memang membaca buku, menyimak kajian, hadir dalam seminar & sarasehan; tapi kebenaran pemahaman kita belum tentu terjaminkan. #Write

10. Maka menulislah; agar jutaan pembaca menjadi guru yang meluruskan kebengkokan, mengingatkan keterluputan, membetulkan kekeliruan. #Write

11. Penulis hakikatnya menyapa dengan ilmu; maka ia berbalas tambahan pengertian; kian bening, kian luas, kian dalam, kian tajam. #Write

12. Agungnya lagi; sang penulis merentangkan ilmunya melampaui batas-batas waktu & ruang. Ia tak dipupus usia, tak terhalang jarak. #Write

13. Adagium Latin itu tak terlalu salah; Verba Volant, Scripta Manent. Yang terucap kan lenyap tak berjejak, yang tertulis mengabadi. #Write

14. Tapi bagi kita, makna keabadian karya bukan hanya soal masyhurnya nama; ia tentang pewarisan nilai; kemaslahatan atau kerusakan. #Write

15. Andaikan benar bahwa Il Principe yang dipersembahkan Niccolo Machiavelli pada Cesare de Borgia itu jadi kawan tidur para tiran… #Write

16. ..seperti terisyu tentang Napoleon, Hitler, & Stalin; akankah dia bertanggungjawab atas berbagai kezhaliman nan terilham bukunya? #Write

17. Sebab bukan hanya pahala yang bersifat ‘jariyah’; melainkan ada juga dosa yang terus mengalir. Menjadi penulis adalah pertaruhan. #Write

18. Mungkin tak separah Il Principe; tapi tiap kata yang mengalir dari jemari ini juga berpeluang menjadi keburukan berrantai-rantai. #Write

19. Dan bahagialah bakda pengingat; huruf bisa menjelma dzarrah kebajikan; percikan ilhamnya tak putus mencahaya sampai kiamat tiba. #Write

20. Lalu terkejutlah para penulis kebenaran, kelak ketika catatan amal diserahkan, “Ya Rabbi, bagaimana bisa pahalaku sebanyak ini?” #Write

21. Moga kelak dijawabNya, “Ya, amalmu sedikit, dosamu berbukit; tapi inilah pahala tak putus dari ilham kebajikan nan kau tebarkan.” #Write

22. Tulisan sahih & mushlih; jadi jaring yang melintas segala batas; menjerat pahala orang terilham tanpa mengurangi si bersangkutan. #Write

23. Menulis juga bagian dari tugas iman; sebab makhluq pertama ialah pena, ilmu pertama ialah bahasa, & ayat pertama berbunyi “Baca!” #Write

24. Tersebut di HR Ahmad & ditegaskan Ibn Taimiyah dalam Fatawa, “Makhluq pertama yang diciptaNya ialah pena, lalu Dia berfirman… #Write

25. ..”Tulislah!” Tanya Pena; “Apa yang kutulis, Rabbi?” Kata Allah; “Tulis segala ketentuan yang Kutakdirkan bagi semua makhluqKu.” #Write

26. Adapun ilmu yang diajarkan pada Adam & membuatnya unggul atas malaikat nan lalu bersujud adalah bahasa; kosa kata. (QS 2: 31) #Write

27. Dan “Baca!”; wahyu pertama. Bangsa Arab nan mengukur kecerdasan dari kuatnya hafalan hingga memandang rendah tulis-baca , tiba-tiba meloncat ke ufuk, jadi guru semesta. #Write

29. Muhammad hadir bukan dengan mu’jizat yang membelalakkan; dia datang dengan kata-kata yang menukik-menghunjam, disebut ‘Bacaan’. #Write

30. Maka Islam menjelma peradaban Ilmiah, dengan pena sebagai pilarnya; wawasan tertebar mengantar kemaslahatan ke seantero bumi. #Write

31. Semoga Allah berkahi tiap kata yang mengalir dari ujung jemari kita; sungguh, buku dapat menggugah jiwa manusia & mengubah dunia. #Write

32. Bagaimana sebuah tulisan bisa mengilhami; tak tersia, tak jadi tragika, & tak menjatuhkan penulisnya dalam gelimang kemalangan? #Write

33. Saya mencermati setidaknya ada 3 kekuatan yang harus dimiliki seorang penulis menggugah; Daya Ketuk, Daya Isi, & Daya Memahamkan. #Write

34. Daya Ketuk ini paling berat dibahas; yang mericau ini pun masih jauh & terus belajar. Ia masalah hati; terkait niat & keikhlasan. #Write

35. Pertama, marilah jawab ini: 1) Mengapa saya harus menulis? 2) Mengapa ia harus ditulis? 3) Mengapa harus saya yang menuliskannya? #Write

36. Seberapa kuat makna jawaban kita atas ke-3 tanya ini, menentukan seberapa besar daya tahan kita melewati aneka tantangan menulis. #Write

37. Alasan kuat tentang diri, tema, & akibat dunia-akhirat jika tak ditulis; akan menggairahkan, menggerakkan, membakar, menekunkan. #Write

38. Keterlibatan hati & jiwa dengan niat menyala itulah yang mengantarkan tulisan ke hati pembaca; mengetuk, menyentuh, menggerakkan. #Write

39. Tetapi; tak cukup hanya hati bergairah & semangat menyala saja jika yang kita kehendaki adalah keinsyafan suci di hati pembaca. #Write

40. Menulis memerlukan kata yang agung & berat itu; IKHLAS. Kemurnian. Harap & takut hanya padaNya. Cinta kebenaran di atas segala. #Write

41. Allah gambarkan keikhlasan sejati bagai susu; terancam kotoran & darah, tapi terupayakan; murni, bergizi, memberi tenaga suci… #Write

42. …dan mudah diasup, nyaman ditelan, lancar dicerna oleh peminum-peminumnya, menjadi daya untuk bertaat & bertaqwa (QS 16: 66). #Write

43. Maka menjadi penulis yang ikhlas sungguh payah & tak mudah, ada goda kotoran & darah, kekayaan & kemasyhuran, riya’ & sum’ah. #Write

44. Jika ia berhasil dilampaui; jadilah tulisan, ucapan & perbuatan sang penulis bergizi, memberi arti, mudah dicerna jadi amal suci. #Write

45. Sebaliknya; penulis tak ikhlas itu; tulisannya bagai susu dicampur kotoran & darah, racun & limbah; lalu disajikan pada pembaca. #Write

46. Ya Rabbi; ampuni bengkoknya niat di hati, ampuni bocornya syahwat itu & ini, di tiap kali kami gerakkan jemari menulis & berbagi. #Write

47. Sebab susu tak murni, tulisan tak ikhlas, memungkinkan 2 hal: a) pembaca muak, mual, & muntah bahkan saat baru mengamati awalnya. #Write

48. Atau lebih parah: b) pembaca begitu rakus melahap tulisan kita; tapi yang tumbuh di tubuhnya justru penyakit-penyakit berbahaya. #Write

49. Menulis berkeikhlasan, menabur benih kemurnian; agar Allah tumbuhkan di hati pembaca pohon ketaqwaan. Itulah daya ketuk sejati. #Write

50. Daya sentuh, daya ketuk, daya sapa di hati pembaca; bukan didapat dari wudhu’ & shalat yang dilakukan semata niat menoreh kata.. #Write

51. …Ia ada ketika kegiatan menghubungkan diri dengan Dzat Maha Perkasa, semuanya, bukan rekayasa, tapi telah menyatu dengan jiwa.. #Write

52. …lalu menulis itu sekedar 1 dari berbagai pancaran cahaya yang kemilau dari jiwanya; menggenapi semua keshalihan nan mengemuka. #Write

53. Setelah Daya Ketuk, penulis harus ber-Daya Isi. Mengetuk tanpa mengisi membuat pembaca ternganga, tapi lalu bingung berbuat apa. #Write

54. Daya Ketuk membuat pembaca terinsyaf & tergugah; tapi jika isi yang kemudian dilahap cacat, timpang, rusak; jadilah masalah baru. #Write

55. Daya Isi adalah soal ilmu. Mahfuzhat Arab itu sungguh benar; “Fakidusy Syai’, Laa Yu’thi: yang tak punya, takkan bisa memberi.” #Write

56. Menjadi penulis adalah menempuh jalan ilmu & berbagi; membaca ayat-ayat tertulis; menjala hikmah-hikmah tertebar. Tanpa henti. #Write

57. Ia menyimak apa yang difirmankan Tuhannya, mencermati yang memancar dari hidup RasulNya; & membawakan makna ke alam tinggalnya. #Write

58. Dia fahami ilmu tanpa mendikotomi; tapi tetap tahu di mana menempatkan yang mutlak terhadap yang nisbi; mencerahkan akal & hati. #Write

59. Penulis sejati memiliki rujukan yang kuat, tetapi bukan tukang kutip. Segala yang disajikan telah melalui proses internalisasi. #Write

60. Penulis sejati kokoh berdalil bukan hanya atas yang tampak pada teks; tapi disertai kefahaman latar belakang & kedalaman tafsir. #Write

61. Dengan proses internalisasi; semua data & telaah yang disajikan jadi matang & lezat dikunyah; pembacanya mengasup ramuan bergizi. #Write

62. Sebab konon ‘tak ada yang baru di bawah matahari’; tugas penulis sebenarnya memang cuma meramu hal-hal lama agar segar kembali. #Write

63. Atau mengungkap hal-hal yang sudah ada, tapi belum luas dikenali. Diperlukan ketekunan untuk melihat 1 masalah dari banyak sisi. #Write

64. Atau mengingatkan kembali hal-hal yang sesungguhnya telah luas difahami; agar jiwa-jiwa yang baik tergerak kuat untuk bertindak. #Write

65. Maka dia suka menghubungkan titik temu aneka ilmu dengan pemaknaan segar & baru, dengan tetap berpegang kaidah sahih & tertentu. #Write

66. Dia hubungkan makna nan kaya; fikih & tarikh; dalil & kisah; teks & konteks; fakta & sastra; penelitian ilmiah & sisi insaniyah. #Write

67. Dia menularkan jalan ilmu untuk tak henti menggali; tulisannya tak membuat orang mengangguk berdiam diri; tapi kian haus mencari. #Write

68. Ia bawakan pemaknaan penuh warna; beda bagi masing2 pembaca; beda bagi pembaca sama di saat lainnya. Membaru, mengilhami selalu. #Write

69. Maka karyanya melahirkan karya; syarah & penjelasan, catatan tepi & catatan kaki, juga sisi lain pembahasan, & bahkan bantahan. #Write

70. Seorang penulis menggugah memulai Daya Memahamkan-nya dengan 1 pengakuan jujur; dia bukanlah yang terpandai di antara manusia. #Write

71. Sang penulis sejati juga memahami; banyak di antara pembacanya yang jauh lebih berilmu & berwawasan dibandingkan dirinya sendiri. #Write

72. Maka dalam hati, dia mencegah munculnya rasa lebih dibanding pembaca: “Aku tahu. Kamu tidak tahu. Maka bacalah agar kuberitahu.” #Write

73. Setiap tulisan & buku yang disusun dengan sikap jiwa penulis “Aku tahu! Kamu tak tahu!” pasti berat & membuat penat saat dibaca. #Write

74. Kadang senioritas atau lebih tingginya jenjang pendidikan tak tersengaja lahirkan sikap jiwa itu. Sang penulis merasa lebih tahu. #Write

75. Sikap jiwa kepenulisan harus diubah; dari “Aku tahu! Kamu tak tahu!” menjadi suatu rasa nan lebih adil, haus ilmu, & rendah hati. #Write

76. Penulis sejati ukirkan semboyan, “Hanya sedikit ini yang kutahu, kutulis ia untukmu, maka berbagilah denganku apa yang kau tahu.” #Write

77. Penulis sejati sama sekali tak berniat mengajari. Dia cuma berbagi; menunjukkan kebodohannya pada pembaca agar mereka mengoreksi. #Write

78. Penulis sejati berhasrat tuk diluruskan kebengkokannya, ditunjukkan kelirunya, diluaskan pemahamannya, dilengkapi kekurangannya. #Write

79. Penulis sejati jadikan dirinya seakan murid yang mengajukan hasil karangan pada guru; berribu pembaca menjelma guru berjuta ilmu. #Write

80. Inilah yang jadikan tulisan akrab & lezat disantap; pertama-tama sebab penulisnya adil menilai pembaca, haus ilmu, & rendah hati. #Write

81. Pada sikap sebaliknya, kita akan menemukan tulisan yang berribu kali membuat berkerut dahi, tapi pembacanya tak kunjung memahami. #Write

82. Lebih parahnya; keinginan untuk tampil lebih pandai & tampak berilmu di mata pembaca sering membuat akal macet & jemari terhenti. #Write

83. Jika lolos tertulis; ianya jadi kegenitan intelektual; inginnya dianggap cerdas dengan banyak istilah yang justru membuat mual. #Write

84. Kesantunan Allah jadi pelajaran buat kita. RasulNya menegaskan surga itu tak terbayangkan. Tapi dalam firmanNya, Dia menjelaskan. #Write

85. Dia gambarkan surga dalam paparan yang mudah dicerna akal manusia; taman hijau, sungai mengalir, naungan rindang, buahan dekat.. #Write

86. ..duduk bertelekan di atas dipan, dipakaikan sutra halus & tebal, pelayan hilir mudik siap sedia, bidadari cantik bermata jeli.. #Write

87. Allah Maha Tahu, tak bersombong dengan ilmu; Dia kenalkan diriNya bukan sebagai Ilah awal-awal, melainkan Rabb nan lebih dikenal. #Write

88. Penulis sejati hayati pesan Nabi; bicaralah pada kaum sesuai kadar pemahamannya, bicaralah dengan bahasa yang dimengerti mereka. #Write

89. Penulis sejati mengerti; dalam keterbatasan ilmu nan dimiliki, tugasnya menyederhanakan yang pelik, bukan merumitkan yang sahaja. #Write

90. Itupun tidak dalam rangka mengajari; tapi berbagi. Dia haus tuk menjala umpan balik dari pembaca; kritik, koreksi, & tambah data. #Write

91. Penulis sejati juga tahu; yang paling berhak mengamalkan isi anggitannya adalah dirinya sendiri. Daya Memahamkan berhulu di sini. #Write

92. Sebab seringkali kegagalan penulis memahamkan pembaca disebabkan diapun tak memahami apa yang ditulisnya itu dalam amal nyata. #Write

93. Begitulah Daya Memahamkan; dimulai dengan sikap jiwa yang adil, haus ilmu, & rendah hati terhadap pembaca kita, lalu dikuatkan.. #Write

94. ..dengan tekad bulat tuk menjadi orang pertama nan mengamalkan tulisan, & berbagi pada pembaca dengan hangat, akrab, penuh cinta. #Write

95. Kali ini, tercukup sekian ya Shalih(in+at) bincang #Write. Maafkan tak melangkah ke hal teknis, sebab banyak nan lebih ahli tentangnya:)

96. Kita lalu tahu; menulis bukanlah profesi tunggal & mandiri. Ia lekat pada kesejatian hidup sang mukmin; tebar cahaya pada dunia. #Write

97. Maka menulis hanya salah satu konsekuensi sekaligus sarana bagi si mukmin tuk menguatkan iman, ‘amal shalih, & saling menasehati. #Write

98. Jika ada ‘amal lain yang lebih kuat dampaknya dalam ketiga perkara itu; maka kita tak boleh ragu: tinggalkan menulis menujunya:) #Write

http://www.islamedia.web.id/2011/06/ayo-write-seperti-salimafillah.html

Offline okebos

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2011
  • Tulisan: 4
  • Jenis kelamin: Pria
  • myQer
    • Lihat Profil
    • Media Dakwah dan Informasi Dunia Islam
« Jawab #12 pada: 15 November 2011, 20:04:58 »
Banyak teori menulis malah mumet ga jadi nulis

Offline Tamandesa

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2011
  • Tulisan: 370
  • Jenis kelamin: Wanita
  • Menjadi diri sendiri karenaNya ^_^
    • Lihat Profil
« Jawab #13 pada: 01 Februari 2012, 12:32:12 »
Dulu mencoba menulis tanpa memikirkan teori... well tulisan jadi tapi maknanya nga ada. Hanya sebatas coretan diary saja  :toktok:


Jazakumullah untuk yang sudah berbagi seluk beluk dunia penulisan...  :topOK:
Hidup adalah ketika kita berbagi ^_^