Penulis Topik: Shahih Muslim, Keutamaan Abu Sufyan  (Dibaca 973 kali)


Offline Akhwat Lover

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2007
  • Tulisan: 75
  • Lokasi: On the way to hereafter
  • Jenis kelamin: Pria
  • Love Seeker
    • Lihat Profil
    • Situs alumni sekolah saya(saya angkatan 2009)
« pada: 06 November 2009, 10:41:03 »
Assalamualaykum. Telah menceritakan kepada kami Abbas bin Abdul ‘Azim Al ‘Anbari dan Ahmad bin Ja’far Al Ma’qiri yang keduanya berkata telah menceritakan kepada kami An Nadhr (dia Ibnu Muhammad Al Yamami) yang berkata telah menceritakan kepada kami Ikrimah yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Zumail yang berkata telah menceritakan kepadaku Ibnu Abbas yang berkata “kaum muslimin tidak memandang Abu Sufyan dan tidak pula mereka duduk menyertainya. Kemudian Abu Sufyan berkata kepada Nabi SAW “Wahai Nabi Allah penuhilah tiga permintaanku”. Beliau SAW menjawab “Ya”. Abu Sufyan berkata “Saya mempunyai seorang putri yang paling baik dan paling cantik di kalangan orang Arab yaitu Ummu Habibah putri Abu Sufyan, aku ingin menikahkannya dengan anda”. Beliau menjawab “Ya”. Abu Sufyan berkata “Dan agar anda mengangkat Muawiyah sebagai juru tulis anda”. Beliau SAW menjawab “Ya”. Abu Sufyan berkata “Dan anda mengangkat saya sebagai pemimpin untuk memerangi orang-orang kafir sebagaimana dulu saya memerangi orang-orang islam”. Beliau SAW menjawab “Ya”. Abu Zumail berkata “Seandainya Abu Sufyan tidak menuntut hal tersebut kepada Nabi SAW tentu beliau tidak akan memberinya karena jika Beliau SAW dimintai sesuatu, Beliau SAW tidak akan menjawab selain “ya”. [Shahih Muslim 4/1945 no 2501 Bab Keutamaan Abu Sufyan bin Harb tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi] . Saya mau nanya, ada yang bilang bahwa hadist ini bertentangan dengan fakta sejarah (Ummu Habibah dinikahi Nabi sebelum Fathu Makkah seingat saya, dan hadist ini setelah Fathu Makkah). Bagaimana kita bersikap dengan hadist ini?


Posting Digabung: 06 November 2009, 17:01:18


atau, ada myqers yang tahu sebaiknya saya bertanya kepada siapa/ di mana?
« Edit Terakhir: 18 November 2009, 22:45:44 oleh Kak Husain »
And then last breath escape my lips
It's time to leave
And I must go...

Offline Kak Husain

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2008
  • Tulisan: 2.270
  • Lokasi: Syam Bumi Berkah
  • Jenis kelamin: Pria
  • Belajarlah sebelum kau memimpin (Imam Syafii)
    • Lihat Profil
    • I'm Danns
« Jawab #1 pada: 07 November 2009, 00:13:09 »
Dalam Syarah Shahih Muslim, Imam Nawawi menukil komentar beberapa ulama mengenai masalah ini. Diantaranya adalah pendapat ekstrim yang dilontarkan oleh Ibnu Hazm. Beliau menuduh salah seorang perawi telah keliru dalam meriwayatkan hadits itu. Akan tetapi, pendapat ini ditolak mentah-mentah oleh Ibnu Sholah. Beliau menguatkan makna hadits ini sekaligus menyatakan bahwa Ibnu Hazm terlalu gegabah melontarkan pendapat itu. Ibnu Sholah juga menyatakan bahwa kemungkinan yang dimaksud di situ adalah pembaharuan akad (tajdid al-aqd), bukan akad nikah awal. Wallahu a'lam.

Offline Akhwat Lover

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2007
  • Tulisan: 75
  • Lokasi: On the way to hereafter
  • Jenis kelamin: Pria
  • Love Seeker
    • Lihat Profil
    • Situs alumni sekolah saya(saya angkatan 2009)
« Jawab #2 pada: 07 November 2009, 05:05:34 »
oohh, oke oke. terimakasih Kak Husain. nyaris saya bingung sama hadist ini.
And then last breath escape my lips
It's time to leave
And I must go...

Offline eagle

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2007
  • Tulisan: 54
    • Lihat Profil
« Jawab #3 pada: 13 Desember 2009, 23:04:12 »
Dalam Syarah Shahih Muslim, Imam Nawawi menukil komentar beberapa ulama mengenai masalah ini. Diantaranya adalah pendapat ekstrim yang dilontarkan oleh Ibnu Hazm. Beliau menuduh salah seorang perawi telah keliru dalam meriwayatkan hadits itu. Akan tetapi, pendapat ini ditolak mentah-mentah oleh Ibnu Sholah. Beliau menguatkan makna hadits ini sekaligus menyatakan bahwa Ibnu Hazm terlalu gegabah melontarkan pendapat itu. Ibnu Sholah juga menyatakan bahwa kemungkinan yang dimaksud di situ adalah pembaharuan akad (tajdid al-aqd), bukan akad nikah awal. Wallahu a'lam.

Apa itu istilah Pembaharuan aqad ?
Apakah benar seperti itu bunyi haditsnya...?
Ataukah memang seperti itu pendapat syaikh Abu Amru bin shalah  dlm kitabnya yg dikutip Imam Nawawi?
tdk kah dalam penjelasan An nawawi disebutkan kalau syaikh abu amru mengatakan telah terjadi kesalahan dan kekeliruan dlm teks hadits ini...

terserah anda membandingkannya ...dlm runtutan berfikirnya

Kalo anda mampu berdialog dgn penulisnya dipersilahkan membawa hujjah yg kuat...
insya Allah pendapat anda akan dimuat bila sesuai tema pembahasan...bkn oot apalagi..cuma gerundelan,...

artikel lengkapnya...anda bisa baca di blog dibawah ini  O0

http://secondprince.wordpress.com/2009/10/22/hadis-palsu-dalam-shahih-muslim-keutamaan-abu-sufyan/


Hadis Palsu Dalam Shahih Muslim : Keutamaan Abu Sufyan?
Posted on Oktober 22, 2009 by secondprince

Hadis Palsu Dalam Shahih Muslim : Keutamaan Abu Sufyan?


Benarkah ada hadis palsu dalam kitab monumental Shahih Muslim?. Bagaimana mungkin hal seperti itu bisa terjadi?. Jangan terlalu risau, silakan cek di kitab Shahih Muslim terbitan manapun hadis keutamaan berikut
حدثني عباس بن عبدالعظيم العنبري وأحمد بن جعفر المعقري قالا حدثنا النضر ( وهو ابن محمد اليمامي ) حدثنا عكرمة حدثنا أبو زميل حدثني ابن عباس قال كان المسلمون لا ينظرون إلى أبي سفيان ولا يقاعدونه فقال للنبي صلى الله عليه و سلم يا نبي الله ثلاث أعطنيهن قال نعم قال عندي أحسن العرب وأجمله أم حبيبة بنت أبي سفيان أزوجكها قال نعم قال ومعاوية تجعله كاتبا بين يديك قال نعم قال وتؤمرني حتى أقاتل الكفار كما كنت أقاتل المسلمين قال نعم قال أبو زميل ولولا أنه طلب ذلك من النبي صلى الله عليه و سلم ما أعطاه ذلك لأنه لم يكن يسئل شيئا إلا قال نعم

Telah menceritakan kepada kami Abbas bin Abdul ‘Azim Al ‘Anbari dan Ahmad bin Ja’far Al Ma’qiri yang keduanya berkata telah menceritakan kepada kami An Nadhr (dia Ibnu Muhammad Al Yamami) yang berkata telah menceritakan kepada kami Ikrimah yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Zumail yang berkata telah menceritakan kepadaku Ibnu Abbas yang berkata “kaum muslimin tidak memandang Abu Sufyan dan tidak pula mereka duduk menyertainya. Kemudian Abu Sufyan berkata kepada Nabi SAW “Wahai Nabi Allah penuhilah tiga permintaanku”. Beliau SAW menjawab “Ya”. Abu Sufyan berkata “Saya mempunyai seorang putri yang paling baik dan paling cantik di kalangan orang Arab yaitu Ummu Habibah putri Abu Sufyan, aku ingin menikahkannya dengan anda”. Beliau menjawab “Ya”. Abu Sufyan berkata “Dan agar anda mengangkat Muawiyah sebagai juru tulis anda”. Beliau SAW menjawab “Ya”. Abu Sufyan berkata “Dan anda mengangkat saya sebagai pemimpin untuk memerangi orang-orang kafir sebagaimana dulu saya memerangi orang-orang islam”. Beliau SAW menjawab “Ya”. Abu Zumail berkata “Seandainya Abu Sufyan tidak menuntut hal tersebut kepada Nabi SAW tentu beliau tidak akan memberinya karena jika Beliau SAW dimintai sesuatu, Beliau SAW tidak akan menjawab selain “ya”. [Shahih Muslim 4/1945 no 2501 Bab Keutamaan Abu Sufyan bin Harb tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi]

Hadis ini dimasukkan Imam Muslim ke dalam kitab Shahih-nya berarti beliau mengakui bahwa hadis ini shahih. Tetapi tidak diragukan lagi kalau hadis ini tidak shahih. Sebaik-baik bukti bahwa hadis ini tidak shahih adalah isi hadis tersebut. Hadis tersebut menyebutkan permintaan Abu Sufyan yang ingin menikahkan putrinya Ummu Habibah kepada Nabi SAW. Padahal disepakati dalam kitab tarikh bahwa Nabi SAW telah menikah dengan Ummu Habibah jauh sebelum Abu Sufyan masuk islam ketika Fathul Makkah. Oleh karena itu terang sekali kemusykilan hadis ini yang menunjukkan kepalsuannya. Pertanyaannya adalah jika hadis tersebut palsu, siapakah yang memalsukannya?.

An Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim mengutip perkataan Ibnu Hazm yang menyatakan bahwa hadis ini palsu dan yang bertanggung jawab untuk itu adalah Ikrimah bin Ammar. Kami katakan : kepalsuannya benar tetapi pernyataan bahwa yang bertanggung-jawab adalah Ikrimah bin Ammar layak diberikan catatan. Ikrimah bin Ammar disebutkan dalam kitab biografi perawi hadis adalah perawi yang tsiqat, mereka yang mempermasalahkan Ikrimah hanya mempersoalkan hadis Ikrimah dari Yahya bin Abi Katsir.

Ibnu Hajar dalam At Tahdzib juz 7 no 475 menyebutkan bahwa Ikrimah bin Ammar dinyatakan tsiqat oleh sekumpulan ulama diantaranya Ibnu Ma’in, Syu’bah, Ali bin Madini, Al Ajli, Abu Dawud, As Saji, Ali bin Muhammad Al Thanafisi, Ishaq bin Ahmad Al Bukhari, Daruquthni, Ibnu Hibban, Yaqub bin Syaibah, Ibnu Syahin dan Ahmad bin Shalih. Hanya ada sebagian orang yang memperbincangkannya yaitu Ahmad dan Yahya Al Qattan itu pun hanya sebatas hadis Ikrimah dari Yahya bin Abi Katsir yang mudhtharib. Sedangkan hadis di atas bukan riwayat Ikrimah dari Yahya bin Abi Katsir.

Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Bashar Awad Ma’ruf dalam Tahrir At Taqrib no 4672 mengatakan

    Ikrimah bin Ammar tsiqat kecuali riwayatnya dari Yahya bin Abi Katsir yang dhaif karena idhthirab, ia dinyatakan tsiqah oleh Ayub As Sakhtiati, Al Ajli, Ali bin Madini, Ahmad bin Hanbal, Ibnu Ma’in, Ahmad bin Shalih Al Mishri, Abu Dawud, Abu Zar’ah Ad Dimasyq, Ibnu Ammar, Ali bin Muhammad Ath Thanafisi, Ishaq bin Ahmad bin Khalaf Al Bukhari Al Hafiz, Daruquthni dan yang lainnya. Disepakati bahwa riwayatnya dari Yahya bin Abi Katsir mudhtharib dan oleh karena itulah Yahya bin Sa’id Al Qaththan membicarakannya.

An Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim juga mengutip Syaikh Abu Amru bin Shalah yang membantah Ibnu Hazm. Ia menolak bahwa Ikrimah bin Ammar memalsu hadis ini, hadis tersebut hanyalah kesalahan atau kekeliruan saja. Kami katakan : tentu saja ini pembelaan yang menarik, tapi siapa yang keliru dan salah itu, apakah Ikrimah bin Ammar? Bukankah ia tsiqah tsabit riwayatnya kecuali riwayatnya dari Yahya bin Abi Katsir. Atau ada yang mau mengatakan namanya juga manusia, perawi bisa saja melakukan kesalahan. Kalau begitu semua perawi hadis tersebut termasuk Imam Muslim bisa saja menjadi yang tertuduh melakukan kekeliruan. Tidak ada alasan untuk mempermasalahkan Ikrimah bin Ammar saja.

Bicara soal pembelaan hadis di atas, ada hal lucu yang harus diperhatikan. Silakan lihat hadis-hadis keutamaan Ahlul Bait, jika hadis tersebut dipermasalahkan oleh ulama. Mereka tidak ragu untuk mengatakan bahwa perawinya harus dicacat karena meriwayatkan hadis tersebut. Mereka tidak begitu berbaik hati untuk mengatakan perawi tersebut hanya keliru saja. Terkadang hanya karena seorang perawi meriwayatkan hadis keutamaan Ahlul Bait yang mereka pandang aneh maka dengan seenaknya mereka menjarh perawi tersebut dengan keras dan tidak ragu menyatakan hadis tersebut palsu. Ataukah kalau hadis tersebut soal keutamaan Ahlul bait maka tidak perlu berbaik hati tetapi kalau hadis tersebut berbicara tentang keutamaan Abu Sufyan dan Muawiyah maka harus berbaik-hati. Itu namanya Inkonsistensi yang menyebalkan (baca : menjijikkan). Nah seharusnya mereka konsisten, hadis Shahih Muslim di atas tentang keutamaan Abu Sufyan isinya sudah jelas palsu.

Maka pertanyaannya, siapa yang memalsukan hadis ini?. Siapa perawi yang harus dicacatkan karena meriwayatkan hadis ini?. Atau hadis ini sebenarnya tidak palsu. Tidak jarang hadis ini dijadikan hujjah oleh para muqallid untuk membuktikan keutamaan Abu Sufyan dan Muawiyah. Imam Muslim bahkan membuat judul bab “Keutamaan Abu Sufyan bin Harb Radiallahu’anhu” dan hanya mengandalkan satu hadis ini saja. Itu artinya Imam Muslim berhujjah dengan hadis ini untuk menyatakan keutamaan Abu Sufyan. Bagaimana mungkin seorang ulama sekaliber Imam Muslim tidak mengetahui fakta sejarah kalau Nabi SAW menikahi Ummu Habibah sebelum Fathul Makkah dimana Abu Sufyan masih kafir?. Sungguh hadis yang membingungkan atau sikap ulamanya yang membingungkan.

DIarsipkan di bawah: Hadis
« Edit Terakhir: 13 Desember 2009, 23:08:42 oleh eagle »

Offline duniadakwahislam

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2009
  • Tulisan: 81
    • Lihat Profil
« Jawab #4 pada: 22 Desember 2009, 10:14:07 »
yang benar hadits itu tidak menunjukan keutamaan abu sufyan sedikitpun..konteknya dari mana hal itu menjadi utama buat dia?

Offline Bad Boy

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 2.384
  • Lokasi: Dalam kekuasaan Allah...
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #5 pada: 25 Desember 2009, 15:57:19 »
Saya mau nanya, ada yang bilang bahwa hadist ini bertentangan dengan fakta sejarah (Ummu Habibah dinikahi Nabi sebelum Fathu Makkah seingat saya, dan hadist ini setelah Fathu Makkah).
kalo ngikut sejarah, ummu Habibah RaH dinikahi nabi SAW sejak masih berada di habasyah, setelah suaminya yang pertama murtad. jadi memang jauh2 hari sebelum fathu mekah.

:hmmm:
ياهو يامن لا هو الاّ هو
    يامن اجاب نوحا في قومه    يامن نصر ابراهيم عل اعدائه    يامن ردّ يوسف عل يعقوب    يامن كشف ضرّ ايوب    يامن قبل تسبيح يونس بن متا   
لا اله الاّ هو

Offline rachmadi78

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Okt 2007
  • Tulisan: 1.270
    • Lihat Profil
« Jawab #6 pada: 24 Agustus 2011, 14:27:01 »
Harap dipahami bahwa para perawi hadits hidup dizaman penuh fitnah ketika bani umayah dan bani abas berkuasa. Bukan tdk mungkin mereka menekan para perawi ini untuk meriwayatkan hadits2 ganjil untuk mendukung keutamaan leluhur mereka. Semacam kitab-kitab yang ditulis pujangga jawa utk menceritakan keutamaan raja-raja mereka.

Dalam konteks ini ada kaidah dalam ilmu hadits bahwa jarh (celaan) di dahulukan dari ta'dil. Maka pendapat ibnu hazm layak utk diperhatikan bahwa hadits ini palsu. 
« Edit Terakhir: 08 September 2011, 20:59:08 oleh rachmadi78 »

Offline Kak Husain

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2008
  • Tulisan: 2.270
  • Lokasi: Syam Bumi Berkah
  • Jenis kelamin: Pria
  • Belajarlah sebelum kau memimpin (Imam Syafii)
    • Lihat Profil
    • I'm Danns
« Jawab #7 pada: 03 September 2011, 12:46:32 »
Maaf, beberapa komentar sengaja saya hapus tanpa konfirmasi demi kenyamanan diskusi. Terima kasih.

Moderator

Offline telo_godhog

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2011
  • Tulisan: 371
  • Jenis kelamin: Pria
  • myQer
    • Lihat Profil
« Jawab #8 pada: 05 September 2011, 16:17:53 »
Mengapa Syi'ah mencari2 dalil dari kitab hadits ahlussunnah? Mengapa tidak pada kitab hadits mereka sendiri?? Tanya Kenapa??  :hmmm:

Offline keumatan

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Sep 2011
  • Tulisan: 113
  • Jenis kelamin: Pria
  • myQer
    • Lihat Profil
« Jawab #9 pada: 14 September 2011, 11:16:37 »
Gak nyangka ternyata Abu Salafi telah mencaci maki Abu Sufyan dan Muawiyah .... jelas ini adalah syiah yg bertaqqiyah menjadi sunni

Offline Muhammad Abdullah

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.314
    • Lihat Profil
« Jawab #10 pada: 14 September 2011, 15:00:12 »
Maaf, beberapa komentar sengaja saya hapus tanpa konfirmasi demi kenyamanan diskusi. Terima kasih.

Moderator


Kepada KAK HUSAIN yang pintar dan yang terhormat

Saya sangat menghormati kebijaksanaan KAK HUSAIN sebagai moderator; walaupun bukan pendapat saya yang telah dihapus oleh KAK HUSAIN; tetapi saya tidak setuju KAK HUSIAN menghapus pendapat2 orang lain; hanya untuk menjaga kenyamanan diskusi.

Kaum Sunni sudah lama berperang dengan Kaum Syiah. Saya percaya lebih baik perang menggunakan lidah (perguaman, perdebatan, perbedaan pendapat) dari pada perang menggunakan pedang.

Kebenaran harus ditegakan walaupun tidak nyaman untuk orang2 tertentu. Kebenaran harus ditegakan melalui perguaman (perbedaan pendapat, perselisihan, debat, hujat dll) dengan cara yang sopan dan baik.

ALQURAN 39:18
Mereka yang mendengarkan perkataan (diskusi, dialog, perguaman); kemudian mengikuti perkataan (pendapat) yang terbaik; mereka adalah orang2 yang telah diberikan petunjuk oleh ALLAH dan mereka adalah orang2 yang mempunyai akal

HADITH

Rasulullah berkata: "Perbedaan pendapat di antara ummat saya adalah rahmat!"

Para pembaca di forum ini adalah orang2 pintar; sehingga biarkanlah mereka yang menilai masing masing tentang kebenaran; sesaui dengan akal sehat mereka masing masing tentang Pro Abu Sufyan atau Kontra Abu Sufyan (anti Abu Sufyan).
« Edit Terakhir: 14 September 2011, 15:09:53 oleh Muhammad Abdullah »
ALQURAN 2:21
Hai manusia; sembahlah Allah; Tuhan yang telah menciptakan kamu dan orang orang sebelum kamu; supaya kamu beruntung.

Offline ichreza

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2011
  • Tulisan: 1.249
  • Lokasi: Alun-Alun Kota
  • Jenis kelamin: Pria
  • nada dan dakwah
    • ichreza
    • Lihat Profil
    • www.laskarislam.tk
« Jawab #11 pada: 22 September 2011, 19:00:24 »
Abu Sufyan Bin Haris
(Habis Gelap terbitlah Terang)
 
Ia adalah Abu Sufyan bin Harits, dan bukan Abu Sufyan bin Harb ayah Mu'awiyah. Kisahnya merupakan kisah kebenaran setelah kesesatan, sayang setelah benci dan bahagia setelah celaka .... Yaitu kisah tentang rahmat Allah yang pintu-pintu-nya terbuka lebar, demi seorang hamba menjatuhkan diri diharibaan-Nya, setelah penderitaan yang berlarut-larut ... !
Bayangkan, waktu tidak kurang dari 20 tahun yang dilalui Ibnul Harits dalam kesesatan memusuhi dan memerangi Islam ... ! Waktu 20 tahun, yakni semenjak dibangkitkan-Nya Nabi saw. sampai dekat hari pembebasan Mekah yang terkenal itu. Selama itu Abu Sufyan menjadi tulang punggung Quraisy dan sekutu-sekutunya, menggubah syair-syair untuk menjelekkan serta menjatuhkan Nabi, juga selalu mengambil bagian dalam peperangan yang dilancarkan terhadap Islam.
Saudaranya ada tiga orang, yaitu Naufal, Rabi'ah dan Abdullah, semuanya telah lebih dulu masuk Islam. Dan Abu Sufyan ini adalah saudara sepupu Nabi, yaitu putera dari pamannya, Harits bin Abdul Mutthalib. Di samping itu ia juga saudara sesusu dari Nabi karena selain beberapa hari disusukan oleh ibu susu Nabi, Halimatus Sa'diyah.
Pada suatu hari nasib mujurnya membawanya kepada peruntungan membahagiakan. Dipanggilnya puteranya Ja'far dan dikatakannya kepada keluarganya bahwa mereka akan bepergian. Dan waktu ditanyakan ke mana tujuannya, jawabnya ialah:
"Kepada Rasulullah, untuk menyerahkan diri bersama beliau kepada Allah Robbul'alamin .. . !"
Demikianlah ia melakukan perjalanan dengan mengendarai kuda, dibawa oleh hati yang insaf dan sadar ....
Di Abwa' kelihatan olehnya barisan depan dari suatu pasukan besar. Maklumlah ia bahwa itu adalah tentara Islam yang menuju Mekah dengan maksud hendak membebaskannya. Ia bingung memikirkan apa yang hendak dilakukannya. Disebabkan sekian lamanya ia menghunus pedang memerangi Islam dan menggunakan lisannya untuk menjatuhkannya, mungkin Rasulullah telah menghalalkan darahnya, hingga ia bila tertangkap oleh salah seorang Muslimin, ia langsung akan menerima hukuman qishas. Maka ia harus mencari akal bagaimana caranya lebih dulu menemui Nabi sebelum jatuh ke tangan orang lain.
Abu Sufyan pun menyamar dan menyembunyikan identitas dirinya. Dengan memegang tangan puteranya Ja'far, ia berjalan kaki beberapa jauhnya, hingga akhirnya tampaklah olehnya Rasulullah bersama serombongan shahabat, maka ia menyingkir sampai rombongan itu berhenti. Tiba-tiba sambil membuka tutup mukanya, Abu Sufyan menjatuhkan dirinya di hadapan Rasulullah. Beliau memalingkan muka daripadanya, maka Abu Sufyan mendatanginya dari arah lain, tetapi Rasulullah masih menghindarkan diri daripadanya.
Dengan serempak Abu Sufyan bersama puteranya berseru:
"Asyhadu alla ilaha illallah. Wa-asyhadu anna Muhammadar Rasulullah . Lalu ia menghampiri Nabi saw. seraya katanya: "Tiada dendam dan tiada penyesalan, wahai Rasulullah".
Rasulullah pun menjawab:
"Tiada dendam dan tiada penyesalan, wahai Abu Sufyan!"
Kemudian Nabi menyerahkannya kepada Ali bin Abi Thalib, katanya: -- "Ajarkanlah kepada saudara sepupumu ini cara berwudlu dan sunnah, kemudian bawa lagi ke sini".
Ali membawanya pergi, dan kemudian kembali. Maka kata Rasulullah: "Umumkanlah kepada orang-orang bahwa Rasulullah telah ridla kepada Abu Sufyan, dan mereka pun hendaklah ridla pula…!"
Demikianlah hanya sekejap saat…! Rasulullah bersabda:
"Hendaklah kamu menggunakan masa yang penuh berkah…!" Maka tergulunglah sudah masa-masa yang penuh kesesatan dan kesengsaraan,  dan terbukalah pintu rahmat yang tiada terbatas....                   
Abu Sufyan sebetulnya hampir saja masuk Islam ketika melihat sesuatu yang mengherankan hatinya ketika perang Badar, yakni sewaktu ia berperang di pihak Quraisy. Dalam peperangan itu, Abu Lahab tidak ikut serta, dan mengirimkan 'Ash bin Hisyam sebagai gantinya. Dengan hati yang harap-harap cemas, ia menunggu-nunggu berita pertempuran, yang mulai berdatangan menyampaikan kekalahan pahit bagi pihak Quraisy.
Pada suatu hari, ketika Abu Lahab sedang duduk dekat sumur Zamzam bersama beberapa orang Quraisy, tiba-tiba kelihatan oleh mereka seorang berkuda datang menghampiri. Setelah dekat, ternyata bahwa ia adalah Abu Sufyan bin Harits.
Tanpa bertangguh Abu Lahab memanggilnya, katanya: - "Mari ke sini hai keponakanku! Pasti kamu membawa berita! Nah, ceritakanlah kepada kami bagaimana kabar di sana …!"
Ujar Abu Sufyan bin Harits: - "Demi Allah! Tiada berita, kecuali bahwa kami menemui suatu kaum yang kepada mereka kami serahkan leher-leher kami, hingga mereka sembelih sesuka hati mereka dan mereka tawan kami semau mereka ...! Dan Demi Allah! Aku tak dapat menyalahkan orang-orang Quraisy Kami berhadapan dengan orang-orang serba putih mengendarai kuda hitam belang putih, menyerbu dari antara langit dan bumi, tidak serupa dengan suatu pun dan tidak terhalang oleh suatu pun…!"
-- yang dimaksud Abu Sufyan dengan mereka ini ialah para malaikat yang ikut bertempur di samping Kaum Muslimin -
Menjadi suatu pertanyaan bagi kita, kenapa ia tidak beriman ketika itu, padahal ia telah menyaksikan apa yang telah disaksikannya?
Jawabannya ialah bahwa keraguan itu merupakan jalan kepada keyakinan. Dan betapa kuatnya keraguan Abu Sufyan bin Harits, demikianlah pula keyakinannya sedemikian kukuh dan kuat jika suatu ketika ia datang nanti .... Nah, saat petunjuk dan keyakinan itu telah tiba, dan sebagai kita lihat, ia Islam, menyerahkan dirinya kepada Tuhan Robbul'alamin ... !
Mulai dari detik-detik keislamannya, Abu Sufyan mengejar dan menghabiskan waktunya dalam beribadat dan berjihad, untuk menghapus bekas-bekas masa lain dan mengejar ketinggalannya selama ini....
Dalam peperangan-peperangan yang terjadi setelah pempembebasan Mekah ia selalu ikut bersama Rasulu!lah. Dan di waktu perang Hunain orang-orang musyrik memasang perangkapnya dan menyiapkan satu pasukan tersembunyi, dan dengan tidak diduga-duga menyerbu Kaum Muslimin hingga barisan mereka porak poranda.
Sebagian besar tentara Islam cerai berai melarikan diri, tetapi Rasulullah tiada beranjak dari kedudukannya, hanya
berseru: "Hai manusia ... ! Saya ini Nabi dan tidak dusta... ! Saya adalah putra Abdul Mutthalib ... !"
Maka pada saat-saat yang maha genting itu, masih ada beberapa gelintir shahabat yang tidak kehilangan akal disebabkan serangan yang tiba-tiba itu. Dan di antara mereka terdapat Abu Sufyan bin Harits dan puteranya Ja'far.
Waktu itu Abu Sufyan sedang memegang kekang kuda Rasulullah. Dan ketika dilihatnya apa yang terjadi, yakinlah ia  bahwa kesempatan yang dinanti-nantinya selama ini, yaitu berjuang fi sabilillah sampai menemui syahid dan di hadapan Rasulullah, telah terbuka. Maka sambil tak lepas memegang tali kekang dengan tangan kirinya, ia menebas batang leher musuh dengan tangan kanannya.
Dalam pada itu Kaum Muslimin telah kembali ke medan pertempuran sekeliling Nabi mereka, dan akhirnya Allah memberi mereka kemenangan mutlak.
Tatkala suasana sudah mulai tenang, Rasulullah melihat berkeliling .... Kiranya didapatinya seorang Mu'min sedang memegang erat-erat tall kekangnya. Sungguh rupanya semenjak berkecamuknya peperangan sampai selesai, orang itu tetap berada di tempat itu dan tak pernah meninggalkannya.
Rasulullah menatapnya lama-lama, lalu tanyanya:  "Siapa ini ... ? Oh, saudaraku, Abu Sufyan bin Harits... !" Dan demi didengarnya  Rasulullah  mengatakan  "saudaraku", hatinya bagaikan terbang karena bahagia dan gembira. Maka diratapinya kedua kaki Rasulullah, diciuminya dan dicucinya dengan air matanya ....
Ketika itu bangkitlah jiwa penyairnya, maka digubahnya pantun menyatakan kegembiraan atas keberanian dan taufik yang telah dikaruniakan Allah kepadanya: -
"Warga Ka'ab dan 'Amir sama mengetahui
Di pagi hari Hunain ketika barisan telah cerai berai
Bahwa aku adalah seorang ksatria berani mati
Menejuni api peperangan tak pernah nyali
Semata mengharapkan keridla;in Ilahi
Yang Maha Asih dan kepada-Nya sekalian urusan akan kembali".
Abu Sufyan menghadapkan dirinya sepenuhnya kepada ibadat. Dan sepeninggal Rasulullah saw. ruhnya mendambakan kematian agar dapat menemui Rasulullah di kampung akhirat. Demikianlah walaupun nafasnya masih turun naik, tetapi kematiantetap menjadi tumpuan hidupnya... !
Pada suatu hari, orang melihatnya berada di Baqi' sedang menggali lahad, menyiapkan dan mendatarkannya. Tatkala orang-orang menunjukkan keheranan mereka, maka katanya:
"Aku sedang menyiapkan kuburku ....".
Dan setelah tiga hari berlalu, tidak lebih, ia terbaring dirumahnya sementara keluarganya berada di sekelilingnya dan sama menangis. Dengan hati puas dan tenteram dibukanya matanya melihat mereka, lalu katanya: -- "Janganlah daku ditangisi, karena semenjak masuk Islam tidak sedikit pun daku berlumur dosa...!"
Dan sebelum: Kepalanya terkulai di atas dadanya, diangkatkannya sedikit keatas seolah-olah hendak menyampaikan selamat tinggal kepada dunia fana ini  ...
 

Offline mushab bin umair

  • Moderator
  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Mar 2008
  • Tulisan: 2.180
  • Lokasi: Bandung
  • "Ya Allah, ampunilah dosa2ku...semuanya.."
    • Lihat Profil
« Jawab #12 pada: 22 September 2011, 19:50:27 »
Para pembaca di forum ini adalah orang2 pintar; sehingga biarkanlah mereka yang menilai masing masing tentang kebenaran; sesaui dengan akal sehat mereka masing masing tentang Pro Abu Sufyan atau Kontra Abu Sufyan (anti Abu Sufyan).

Wew??? Enak saja!!
Kebenaran, adalah bagi yang pro terhadap Abu Sufyan radhiyallaahu 'anhu.
Sedang bagi yang anti, jelas dia berada dalam kesalahan dan perlu dipertanyakan akal sehatnya.
"Astaghfirullaahal 'azhiim.."