Assalamu'alaikum wr.wb.
Afwan sebelumnya, ini bukan kisah para nabi maupun alim, namun sebuah kisah yg didalamnya penuh makna. Dan semoga kita bisa belajar dari kisah ini.
Wassalamu'alaikum wr.wb.
Pada suatu siang, seorang pria hendak kembali dari Jakarta. Ia baru saja menyelesaikan urusannya di Bandung. Ia memilih lewat jalan tol Padalarang. Saat baru saja masuk tol, perutnya terasa lapar. Terpikir dibenaknya bahwa ia akan mampir disebuah restoran yang berada ditempat peristirahatan tol. Setelah mamakirkan mobil, ia masuk kedalam dan memilih meja yang kosong,ia pun duduk disana. Makanan yang enak baru saja ia pesan kepada salah seorang pelayan. Ketika sedang menunggu makanan yang dipesan, tiba-tiba datanglah seorang bocah menghampiri dan berkata, “Bang…apakah abang mau beli kue saya ini?!” tangan bocah itu masuk kedalam bakul sekaligus hendak memperlihatkan apa yang ia jual.
Kemudian, pria ini menyusul dengan sebuah kalimat sebelum bocah itu memperlihatkan dagangannya, “Dik…abang baru saja pesan makanan. Kalo abang makan kue adik, nanti makannya tidak lahap. Nanti saja ya, Dik!.” Si bocah penjual kue itu tahu bahwa jualannya ditolak. Ia pun beringsut pergi. Ia hampiri setiap orang yang ada di rumah makan itu. Dengan sopan, ia menawarkan jajanannya.
Makanan sudah disantap dengan lahap oleh pria itu. Sebatang rokok tengah diisap mendalam, lalu ia kepulkan dengan kenikmatan yang tak tergambarkan. Beberapa saat kemudian, sang bocah penjual kue datang ladi dan menyapa, “Bang, enak ya makannya. Mungkin abang masih belum kenyang…silahkan cicipi kue saya!” Kali ini si bocah menunjukkan dua kue terenak yang dimilikinya. Dengan enteng pria ini menjawab dengan sopan, “Dik…abang sudah kenyang. Kayaknya udah nggak muat lagi nih perut. Maaf ya, Dik!” untuk kedua kalinya tawaran itu pun ditolak.
Setelah puas menikmati rokok, pria itu bangkit. Ia pergi menuju kasir dan membayar semua yang ia nikmati di restoran tersebut. Setelah itu, ia pun kembali ke mobilnya untuk melanjutkan perjalanan. Pintu mobil baru saja ditutup, pria itu menunduk untuk memasukkan kunci ketempat starter. Belum lagi mobil tersebut dioperasikan, tiba-tiba terdengar suara …Duk…duk…duk! Kaca mobilnya ada yang mengetuk. Pria itu kemudian menurunkan jendelanya. Rupanya bocah penjaja kue tadi datang lagi. Bocah itu berkata, “Bang…kalo Abang sudah kenyang, mungkin abang mau bawa oleh-oleh untuk keluarga di rumah. Kue saya ini enak lho, Bang!” bocah itu mengatakannya dengan penuh semangat pantang surut. Melihat kegigihannya, akhirnya pria tersebut mengambil dompet yang terletak diantara dashboard mobilnya dan mengambil selembar uang 20 ribuan. Kemudian, uang itu ia berikan sambil berkata, “Dik…nih buat kamu. Abang dah kenyang dan gak perlu kue itu. Simpan ya…atau ditabung!” setelah menerima uang itu, bocah tersebut mengucapkan terima kasih, kemudian pergi.
Mobilnya berjalan mundur, keluar dari pelataran parkir. Pria itu membalikkan punggungnya, ia tidak percaya kepada 3 spion yang ada didalam mobilnya. Ujung matanya memperhatikan bocah penjaja kue itu menghampiri seorang pria buta yang duduk bersimpuh di depan pintu masuk restoran. Bola matanya tetap mengikuti gerakan bocah tadi. Hingga akhirnya, ia terbelalak ketika bocah itu memberikan lembaran uang 20 ribuan yang tadi diberikan kepada bocah tersebut kepada pengemis buta tadi. Melihat kejadian itu, ia mematikan mesin mobilnya, kemudian turun menghampiri bocah penjual kue tersebut.
“Dik…kemari cepat!” pria itu menyuruh dengan nada sedikit meninggi. Bocah penjaja kue tersebut dengan sigap menghampiri. “Ada apa, Bang?” ia bertanya. “Uang itu abang berikan untukmu. Kenapa kau berikan untuk orang lain?!” si pria bertanya keheranan atas sikap yang telah dilakukan boacah.
“Bang…uang itu terlalu banyak untuk saya. Emak dirumah pasti bakal marah kalau dia tahu bahwa saya punya duit sebanyak itu, sementara dagangan nggak laku…Dia pasti mengira kalau bukan mencuri pasti saya mengemis. Emak ngasih tahu saya, bahwa kami pantang mengemis…!” bocah itu menjelaskan.
“Nah…, karena saya tahu bahwa ada yang lebih membutuhkan dan gak bisa berbuat apa-apa, makanya uang itu saya berikan kepada pengemis itu, Bang…pantang bagi saya untuk mengemis, Bang!” anak itu menyudahi penjelasannya.
Seolah diceramahi dan dipertontonkan dengan sebuah kebijaksanaan yang tinggi, sang pria kemudian merasa paham lalu berkata, “Hmmm…kalo begitu berapa kuemu yang tersisa, Dik?!” Anak itu kaget membelalakkan mata kemudian berkata, “Emang abang mau beli kue saya?!” “Ya…abang mau beli semua! Hitung dan bungkus ya…!” pria itu menegaskan.
Dengan semangat ia hitung semua dagangannya. Kemudian setelah dibungkus, anak itu mengatakan, “Dua puluh tujuh ribu, Bang! Saya korting jadi dua puluh lima aja deh!” anak itu berkata sambil senyum.
Sang pria kemudian mengeluarkan uang sejumlah yang disebut. Kemdian memberikannya kepada anak itu sambil mengusapkan tangannya diatas kepala bocah polos tersebut. Pria itu kemudian masuk ke mobilnya, lalu menghidupkan mesinnya sambil melempar senyum kepada bocah penjual kue tadi, ia pergi meninggalkan tempat itu. Sementara itu, si anak berdiri kegirangan karena seluruh dagangannya habis terjual. Ia dapatkan uang sejumlah Rp 25 ribu, karena sebelumnya ia berhasil memberikan uang Rp 20 ribu kepada pengemis. Infaq dari harta terbaik akan mendatangkan pertolongan Alloh Yang Maha Pemurah!!!