@bayan
Berarti anda memandang bahwa di "tangani" (memaksa) adalah satu-satunya cara,
sedangkan cara penyadaran lainnya selain di "tangani" (melalui aksi dominasi mayoritas) adalah aksi "membiarkan",
kan dipaksa tobat ga mau, ya mau tidak mau ya dipaksa minggat (ngaku murtad atau pergi dari komunitasnya sendiri)...
begitukah?
mas lux....
klo sampeyan ngebaca tulisan saya dari awal...maka sampeyan akan menemukan bahwa saya cukup konsisten untuk menyarankan mas jhana untuk melaporkan kelompok ini kepada pihak yang berwenang karena di negara ini urusan hal ini tentu ada yang menangani dari pihak2 yang memiliki kewenangan...ini jauh lebih baik daripada melakukan aksi One Man Show seperti yang mas jhana lakukan sekarang...
kemudian alur berubah menjadi penanganan oleh pihak yang berwenang menjadi reaksi anarki dgn mengambil contoh ahmadiyah...
saya mencoba mengikuti alur tersebut dgn argumen seperti di atas bahwa membiarkan ahmadiyah dengan alasan kebebasan beragama sama dengan membiarkan aksi destruktif terhadap akidah umat islam.... kebayang ga saudara, anak, keponakan, sepupu mas lux terdestruksi akidahnya oleh paham semacam ini....
jika kemudian kelompok2 seperti ini tidak dapat merubah diri setelah ditangani oleh pihak yang berwenang maka sah2 aja jika kemudian hukum negara di terapkan kepada mereka..dan biasanya pada fase inilah reaksi dari masyarakat akan muncul.... jadi reaksi ini hanya karena dipicu oleh kelompok2 yang "bandel" tadi....
gitu mas lux.....
nah klo mas lux sendiri...dalam kasus seperti ini sebaiknya seperti apa penanganannya? dan apakah menurut mas lux aksi One Man Show mas jhana ini efektif untuk menyadarkan kelompok2 seperti ini?
logikanya aja mas... secara itung2an jika menurut mas jhana or mungkin mas lux penanganan oleh pihak berwenang tidak akan membawa hasil apa iya aksi One Man Show mas jhana akan membawa hasil?
