Pelajaran Cinta
Islam lahir karena cinta. Allah yang memiliki keluasan kecintaan-Nya kepada para hambaNya. Manusiapun diciptakan karena hal itu. Sebab semua dasar kehidupan berdasar atas nama cinta. Semua itu memang tidak mudah bagi manusia yang memiliki banyak kekurangan dalam menggapai keilmuan Allah yang Maha luas.
" Tapi sederhananya, cinta banyak macamnya. Ada cinta misi : cinta yang memang kita rencanakan dari awal. Lahir dari misi yang suci, didorong oleh emosi kebajikan dan didukung oleh kemampuan memberi. Misal, cinta para nabi kepada umatnya, guru kepada muridnya, pemimpin kepada rakyatnya, ibu kepada anaknya. Yang jiwa keduanya tidak mesti bersatu. Cinta ini sering tidak berbalas. Bahkan sering berkembang menjadi permusuhan. Lihatlah bagaimana para nabi itu dimusuhi umatnya, atau para ibu yang ditelantarkan oleh anak-anaknya di usia tua, atau pemimpin yang baik yang dibunuh rakyatnya, atau guru yang dilupakan murid-muridnya.
Inilah cinta yang paling luhur. Paling suci. Dan semuanya itu mengandung banyak makna dan pembelajaran dalam sejarah.
Dan kini cinta jiwa. Yang lahir dari kesamaan atau kegenapan watak jiwa. Baik yang sama atau berbeda tapi saling menggenapi yang biasanya saling mencintai. Cinta ini lazim dalam ada dalam hubungan persahabatan, perkawinan atau keluarga. Cinta ini mengharuskan adanya respon yang sama. Tak boleh bertepuk tangan sebelah. Inilah cinta yang paling rumit. Serumit kimia jiwa manusia. Yang terkadang memerlukan sentuhan hati dan fisik untuk melepaskannya. Karena memiliki hasrat dan kerinduan yang sering tak bisa terungkap oleh kata-kata. Hanya tatap dan sentuhan.
Adapun cinta maslahat, yang lahir karena adanya kesamaan . Mereka bisa berbeda watak atau misi. Tapi kepentingan mereka sama maka mereka dapat saling mencintai. Misalnya, hubungan baik yang lazim berkembang di dunia bisnis. Suara ramah dari penjawab telepon, atau senyum manis pramugrari kepada para penumpang pesawat. Semua itu berkembang dari kepentingan tapi efektif menciptakan kenyamanan jiwa. Pelakunya adalah bagian dari pekerjaannya. Bukan jiwanya. Adalah kepentingannya. Bukan misinya. " (1)
Dari cintalah, kita banyak belajar tentang kehidupan. Cinta yang melahirkan rasa tanggung jawab juga kelembutan. Dan juga energi. Energi cinta yang dapat memicu mereka untuk bergerak dan tumbuh dalam menjalankan kehidupannya. Terutama dalam mecari cinta sang Maha khalik yang mengajarkan kita tentang cinta itu sendiri.
Maka pelajaran cinta sangatlah penting, terutama dalam mengarungi samudra kehidupan dalam menggapai Maha cimtanya, Allah SWT.
< NB : (1) Kutipan dari Ust. Anis Matta >( IMS )