Mengikis utopia
“Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” Qs. Al Hajj 77
Sering kali kita berbincang-bincang dengan teman sejawat ketika waktu senggang, sering muncul pertanyaan-pertanyaan seputar pekerjaan atau pencarian nafkah, ada yang menanyakan adakah lowongan pekerjaan atau adakah proyek-proyek kecil yang bisa dikerjakan diluar jam kerja biasanya, dengan kata lain freelance?.
Namun tak jarang dari kita merencanakan untuk membuat usaha-usaha baru, ada yang ingin membuat toko, menjual barang-barang dagangan hingga membuat perseroan terbatas, sebagai tambahan atau untuk investasi dihari tua, tapi tak jarang pula muncul keluhan-keluhan tentang bagaimana memulai dan bagaimana membangun semuanya, apalagi sudah disuguhkan realita persaingan usaha, terlebih lagi dengan adanya krisis global yang menambah keterpurukan ekonomi dan minimal membuat ciut semangat memulai. Hal ini bisa menjadikan impian-impian kita berubah menjadi utopia belaka, semakin jauhlah semangat kita untuk menggapainya, ya semua itu seolah menjadi utopia. Ya ini salah satu contoh kondisi dalam kehidupan kita, dan kondisi seperti ini tidak hanya khusus pada kasus membangun usaha saja melainkan banyak pula cerminan-cerminan kehidupan kita yang lain.
Melihat kondisi seperti ini menjadi teringat dengan riwayat perjalanan Rasulullah saw yang dihadapi situasi dan kondisi yang jauh lebih buruk, embargo perekonomian sewaktu di mekkah, hijrah ke Thoif, perang khondaq dan lain-lain. Dan yang menarik adalah kisah perang khondaq yang sangat terkenal itu.
Perang Khondaq adalah perang yang tercipta setelah perang Uhud yang hampir dimenangkan oleh kaum Muslimin, karena tidak taatnya para pemanah Muslim yang ada dibukit, menjadikan kemenangan berbalik berpihak kepada kaum kafir Quraish. Beberapa waktu kemudian para Kabilah Arab yang ada di Mekkah berkumpul dan berhimpun atas hasutan kaum Yahudi untuk menyerang kaum Muslimin yang di Madinah. Rencana penyerangan ini baru diketahui oleh kaum muslimin 20 hari sebelum penyerangan. Kondisi ini menjadikan kepanikan di kota madinah, maka Rasulullah saw mengumpulkan para sahabatnya untuk mendiskusikan bagaimana menghadapi rencana penyerangan ini. Terlahirlah strategi perang oleh sahabat bernama Salman Al Farizi ra. dengan membuat parit yang mengelilingi kota madinah. Rasulullah saw menyetujui strategi ini kemudian dibentuklah kelompok-kelompok untuk membangun parit tersebut. Maka perang ini disebut Perang Khondaq atau Perang Parit.
Kemudian diriwayatkan ketika penggalian parit ini salah satu sahabat Rasulullah saw mengeluhkan tidak bisa menyelesaikan karena terbentur dengan adanya batu yang sangat keras. Dan turunlah Rasulullah saw untuk menghancurkan batu itu. Pada pukulan pertama Rasulullah saw, muncullah kilatan cahaya mengarah ke barat, kemudian Rasulullah saw berkata “Romawi akan kita taklukkan”, pada pukulan kedua muncul kilatan cahaya mengarah ke timur, kemudian Rasulullah saw berkata “Persia akan kita taklukkan” dan pada pukulan yang terakhir muncullah kilatan cahaya mengarah ke selatan beserta hancurnya batu keras itu, kemudian Rasulullah saw berucap lagi “Yamanpun akan kita taklukkan”. Kita bisa melihat dari peristiwa ini bahwa Rasulullah saw bernubuwah kepada sahabat-sahabatnya bahwa Romawi, Persia dan Yaman akan ditaklukan, padahal untuk menghadapi peperangan yang sudah tinggal beberapa hari saja dirasa itu suatu kemustahilan, belum lagi melihat kondisi saat itu digambarkan panik dan takut. Rasulullah saw menanamkan harapan dan impian kepada kaum Muslimin waktu itu, bahwa tak ada kemustahilan di dunia ini selama Allah swt berkehendak.
Begitupula dengan kita, ditengah kekerdilan dan kelemahan kita, tiap muslim diharuskan selalu mempunyai impian atau cita-cita, karena dengan impian itu manusia ingin berubah dan manusia ingin lebih baik. Ustad Hasan Al Banna mengatakan “Hari ini adalah impian kemarin, esok adalah impian hari ini, maka bermimpilah”. Tak ada suatu kemustahilan pada peristiwa-peristiwa di dalam hidup kita selama kita mengusahakan dan kemudian Allah swt berkehendak. Memang ada perbedaan antara impian dan khayalan, meski tipis. Impian adalah mimpi-mimpi yang disertai oleh usaha untuk menggapainya, sedangkan khayalan adalah mimpi yang hanya sekedar di dalam benak, tanpa ikhtiar menggapainya. Selama usaha-usaha manusiawi telah dilakukan, yang tertinggal adalah hanya satu ruang, yaitu ruang takdir, di sinilah peran dari doa. Syeh Muhammad Bin Shaleh Al-Utsaimin menyebutkan dalam bukunya Fatawa arkaanil Islam atau Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa, dan Haji, terj. Munirul Abidin, M.Ag. (Darul Falah 1426 H.) bahwa doa dapat mengubah takdir dan Rasulullah saw bersabda "Sesungguhnya Taqdir dan doa saling bertikai diantara langit dan bumi" (Al Hakim, no 1848, Lihat Majma’ AzZawa’id, no 17192).
Jadi bermimpilah kemudian kikislah utopia-utopia impian kita dengan ikhtiar dan doa. Allah swt berfirman dalam Qs. Ara’d 11 “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
Banyak peristiwa-peristiwa nyata yang menunjukkan bahwa impian bukanlah utopia belaka sebagaimana dalam sirah Rasulullah saw, tak menyangka 13 tahun setelah hijrah ke Madinah, Mekkah ditaklukkan oleh kaum Muslimin dalam peristiwa Fathul Makkah, kemudian juga pada riwayat lain pada peristiwa perang Khondaq yang ditulis oleh seorang ulama Pakistan Muhammad Waliyullah An Nadawi dalam bukunya “Nubuat Rasulullah saw: ma tahaqqaqa minha wa ma yatahaqqaqu” atau “Nubuwah Rasulullah saw yang sudah terjadi maupun yang belum terjadi”, Rasulullah saw bersabda “Konstantinopel akan ditaklukkan dan pasukan yang terbaik adalah pasukan yang menaklukkannya, dan komandan perang yang terbaik adalah komandan perang yang menaklukkannya”, dan 8 abad kemudian, Byzantium ditaklukkan oleh Muhammad Al Fatih Murrad yang berusia 23 tahun.
“Sesungguhnya ini benar-benar kemenangan yang besar. Untuk kemenangan serupa ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja” Qs. Ash Shafaat 60-61
Kebagusan, 15 Ramadhan 1430 H
tapakhati.multiply.com