Kebanyakan manusia berencana berbagi kepada orang lain bila dalam kondisi ‘lapang’, menurut mereka. Padahal sebenarnya, sempit dan lapang adalah masalah kemauan saja. Siapa yang dapat berinfak disaat sempit, ia akan sanggup berbagi dalam kondisi lapang. Berinfak dalam kondisi sempit itulah yang akan mendapatkan ganjaran terbesar. Jadi, tidak ada yang alasan untuk tidak berinfak, jika kita benar-benar ingin mengejar ridlo dan pahala semata-mata karena Alloh swt.
”Hendaklah orang yang mampu berinfak menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah berinfak dari harta yang diberikan Alloh kepadanya. Alloh tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan apa yang Alloh berikan kepadanya. Alloh kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan”. (QS. 65: 7)
Hakim (bukan nama sebenarnya) adalah salah satu dari sekian orang yang yakin terhadap kedahsyatan infak. Ia kerap menyisihkan apa yang ia miliki untuk diberikan kepada orang yang membutuhkan. Namun, ia hanya terbiasa berinfak disaat kondisi lapang. Hingga saatnya, kesempitan itu datang menghampirinya.
Hari itu, senin 3 April 2006. Gaji dari kantor baru saja ia terima beberapa hari yang lalu. Tapi, senasib dengan pegawai kebanyakan, gaji itu sudah habis selama beberapa hari saja, sementara masih ada kewajiban yang belum dicadangkan. Hakim tiba di rumah selepas kerja pukul 17.30. Ia hanya menjumpai anaknya yang paling tua dan khadimat, yang ada di rumah. Sementara istri dan anaknya yang kedua belum pulang dari pengajian. Hari itu, ia berpuasa sunnah.
Hakim pulang dengan hati gundah. Di dompetnya tersisa uang Rp 500 ribu saja. Padahal, besok pagi ia harus membayar uang sejumlah Rp 1 juta sebagai setoran arisan yang ia ikuti pada pengajian orangtuanya. Ia bingung, entah mau mencari pinjaman kemana. Beberapa menit sebelum adzan Maghrib, Hakim meminta khadimat membuatkan secangkir teh manis untuk berbuka puasa. Adzan Maghrib pun tiba. Hakim berbuka puasa dengan minuman tersebut, kemudian ia shalat berjamaah di mushola dekat rumahnya.
Rasa bingung itu masih ia bawa saat hendak mendirikan shalat. Sesudah shalat, ia bermunajat panjang di dalam doa memohon agar rezekinya dilapangkan. Subhanallah, usai berdoa hatinya berubah menjadi tenang. Hakim kembali ke rumah. Disana, sudah tersedia makanan untuk disantap. Sebelum makan, tiba-tiba ia berpikir untuk menginfakkan Rp 100 ribu kepada tetangga yang membutuhkan. Sang khadimat disuruh untuk menyalurkannya, kemudian Hakim pun makan. Aneh…, seharusnya Hakim mengumpulkan uang Rp 1 juta, namun entah kenapa ia rela memberikan uang tersebut, hingga yang tersisa pada dirinya hanyalah uang sebesar Rp 400 ribu.
Tak lama kemudian, istrinya pulang. Hakim lalu menceritakan permasalahan itu kepadanya. Sang istri hanya mampu menjawab dengan helaan nafas yang dalam. Malam itu, Hakim dan istri berharap Alloh swt memberi pertolongan. Mereka berdua amat yakin akan pertolongan itu.
Esok paginya usai shalat Subuh, pintu rumah Hakim diketuk. Terdengar ucapan salam dari mulut seorang wanita. Istri Hakim bangkit dan membuka pintu. Begitu pintu terbuka, perempuan yang datang langsung meledakkan tangis. Rupanya, ia datang hendak meminta pertolongan. Sebab 11 hari sudah, suaminya menahan sakit. Namun karena tidak ada dana, mereka memutuskan untuk tetap di rumah saja, tidak usah di rumah sakit. Ibu itu datang hendak meminjam uang sekadar untuk biaya rumah sakit.
Istri Hakim ingin sekali menolong, tapi ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia pun lari kedalam menemui suaminya. Sang istri mendapat jawaban yang amat meyakinkan dari mulut Hakim, “Suruh ibu itu pulang, Insya Alloh hari ini suaminya akan kita antar ke rumah sakit. Duit…, Insya Alloh ada!” Sang istri kemudian pergi menemui ibu lagi dan menyampaikan apa yang telah dikatakan oleh suaminya.
Begitu perempuan itu pergi, sang istri baru berpikir dari mana Hakim punya uang untuk membantu. Ia pun datang mendatangi suaminya dan menanyakan hal itu. Hakim sendiri tidak tahu dari mana, tapi hatinya membisikkan bahwa uang itu akan datang hari ini. Ya…, hari ini!
“Pak, coba temui Haji Endin, untuk pinjam uang buat biaya berobat tetangga kita. Kas mushola mungkin masih tersisa. Nggak ada salahnya, kas itu digunakan untuk kebutuhan warga yang membutuhkan!” sang istri berseru kepada Hakim. Seolah mendapat ide, Hakim langsung mengiyakan. Ia bangkit dan berganti pakaian. Ia keluar dari rumahnya untuk menemui Haji Endin. Baru saja beberapa langkah, tiba-tiba ia merasa enggan untuk ke rumah Haji Endin. Akhirnya, ia malah berbelok ke arah rumah ibunya untuk membicarakan uang arisan.
Baru saja dia masuk ke halaman rumah ibunya, rasa takut menghantuinya. Ia tahu, ia bakal kena marah besar, sebab tidak bisa membayar uang arisan. Tapi, ia membulatkan hati dan mencoba memberanikan diri untuk menemui ibunya. Ia mengucapkan salah, kemudian ia mencium telapak tangan ibunya. Setelah itu, mencoba membicarakan beberapa tema dengan ibunya. Ia ajak ibunya berbicara ini dan itu agar tidak lekas marah sat mendengar inti permasalahan. Begitu menemukan saat yang tepat, Hakim pun menyampaikan keadaannya. Ia katakan pada ibunya, bahwa ia tidak mampu membayar uang arisan.
Hakim sukses, karena ibunya tidak marah. Namun sang ibu masih mengejar, “Masa kamu gak punya uang sama sekali? Ayo sini berikan seadanya, nanti ibu tambahkan!” ujar sang ibu. Hakim kemudian mengeluarkan dompetnya. Empat lembar uang Rp 100 ribu-an yang tersisa pun ia berikan. Ia serahkan uang itu dengan rasa ‘plong’ tanpa keluh sedikitpun. Meski ia tahu, bahwa ia sudah tidak punya uang sama sekali. Sambil merasa malu, ia berkelakar kepada ibunya, “Tambahin ya Bu, nanti kalau dapat kita bagi dua deh…!” Ibunya mengiyakan dengan mulut cemberut.
Lega rasa di dada Hakim. Permasalahan terberat sudah berhasil ia kompromikan. Ia pun berjalan pulang. Jam di tangannya menunjukkan pukul 9. Ia harus segera berangkat kerja. Sesampainya di rumah, istrinya bertanya, “Bagaimana, apakah sudah engkau bicarakan dengan Haji Endin?!” Hakim menjawab, “Aku malu pergi kesana!” “Aduh pak…bisa mati tetangga kita kalo gak segera ditolong! Begini aja deh, kita jual aja semua barang berharga di rumah ini untuk menolong tetangga kita. Sini berikan apa yang kira-kira berharga!” sang istri menjulurkan tangannya dengan telapak terbuka.
Aneh…, dengan tenang Hakim melepas jam yang melingkar ditangannya serta beberapa benda berharga yang ia simpan di lemari, TV dan beberapa alat elektronik langsung dikemas oleh istrinya untuk dijual. Semua itu mereka lakukan tanpa rasa berat sedikitpun.
Usai mandi dan berpakaian, Hakim pun berangkat kerja. Tak lama kemudian, istrinya juga pergi ke pasar untuk menjual semua barang tersebut. Saat itu waktu menunjukkan pukul 12.01 WIB. Handphone milih Hakim bergetar, sebuah sms rupanya baru masuk.
URGENT… KEMANA HARUS AKU JUAL BARANG-BARANG INI? TETANGGA KITA SEMAKIN PARAH, HARUS SEGERA DI BAWA KE RS. BLS SGR!
Sms tersebut berasal dari HP istrinya. Hakim menghela nafas, ia tidak tahu harus menjawab apa. Sejenak ia berdoa kepada Alloh Yang Mahakuasa dan ia pasrahkan masalah ini kepadaNya. Lalu ia pun melanjutkan pekerjaannya tanpa membalas sms tadi. Tidak lama berselang, HP bergetar kembali, ia menduga istrinya yang menelepon. Ketika ia lihat, ternyata nomor ibunya yang muncul, “Assalamu’alaikum!” suara ibunya terdengar bersemangat di ujung telepon. Hakim pun membalas salam. “Eih… Ibu mau nanya, omongan tadi pagi bener gak, Nak?” ibunya bertanya dengan nada menggoda. “Omongan yang mana , Bu?” Hakim balik bertanya. “Itu lho yang kamu bilang, kalo kamu dapat arisan bakal dibagi dua dengan ibu?!” ibunya menjelaskan.
Sontak Hakim kaget. Ia berucap tasbih begitu mendengarnya. Sambil mengatur nafas, Hakim bertanya kembali, “Memangnya dapat berapa, Bu?!” “27 juta rupiah, Nak…bagaimana, dibagi dua dengan ibu tidak?!” “Iya deh Bu. Ibu boleh ambil setengahnya!” ia menjawab. Hakim senang betul mendengar berita baik ini. Ia bersyukur kepada Alloh swt yang begitu pemurah telah memberikan pertolongan kepadanya dalam kondisi sempit yang sedang ia alami.
Ia perhatikan lagi HP ditangannya. Kemudian, ia memeriksa waktu saat ibunya menelpon, yaitu pukul 12.05. Hanya empat menit berselang setelah istrinya mengirim sms. Dengan senang hati, ia pun menelpon istrinya dan mengatakan bahwa dana untuk pengobatan tetangganya sudah Alloh SWT sediakan.
Sungguh, hari itu ia mendapatkan bukti kebenaran janji Alloh SWT. Ia berinfak hanya Rp 100 ribu dalam kondisi sempit, lalu Alloh SWT membayarnya hingga Rp 27 juta. Hingga uang yang ada, bisa ia berikan kepada tetangganya yang sakit sebesar 3 juta. Untuk ibunya Rp 13,5 juta. Sedangkan sisanya, untuk dirinya dan keluarganya. Akhirnya, keluarga Hakim dapat tersenyum bahagia karena biaya rumah tangga mereka cukup hingga akhir bulan. Alhamdulillah!
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit. Alloh menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. 3: 133-134)