Penulis Topik: Langkah Mengukir Prestasi  (Dibaca 131 kali)


Offline zero_to_hero

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2007
  • Tulisan: 1.003
  • Jenis kelamin: Pria
  • Hidup adalah Petualangan
    • Lihat Profil
« pada: 30 November 2009, 14:59:39 »
Sungguh beruntung mereka yang dikaruniai Allah dengan potensi dan bakat untuk unggul. Dan lebih beruntung lagi mereka yang dikaruniai kemampuan mengoptimalkan potensi dan bakatnya sehingga menjadi manusia unggul serta prestatif.
Setiap orang pada dasarnya memiliki potensi untuk unggul. Namun, pada kenyataannya betapa banyak orang yang cukup potensial tapi tidak pernah menjadi manusia unggul. Betapa banyak orang yang memiliki bakat terpendam dan tak tergali, karena dia tak tahu ilmu untuk mengoptimalkannya. Oleh karena itu, mungkin yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana caranya untuk menjadi seorang pribadi prestatif? Setidaknya ada lima hal yang dapat memacu seseorang menjadi pribadi prestatif, yakni sebagai berikut:

Percepatan Diri
Orang yang akan unggul adalah orang yang berbuat lebih banyak dari orang lain dalam rentang waktu yang sama. Jatah waktu kita dalam sehari adalah sama yaitu 24 jam. Marilah kita mulai dari sekarang dalam waktu yang sama, tapi isi berbeda!
Sosok pribadi unggul pantang berbuat sia-sia. Dia akan sangat menjaga waktu, sebab semua yang kita perbuat pasti butuh waktu, sedangkan ia sangat berharga. Dalam Al-Quran Allah Swt. Berfirman, "Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syetan dan syetan itu sangat ingkar kepada Tuhannya." (QS. Al-Israa 17:27)

Sistem yang Kondusif
Ada dua ekor kupu-kupu. Kupu-kupu yang satu masuk ke mobil dan mobilpun melesat melaju. Sedangkan kupu-kupu yang lain tidak masuk ke mobil, hanya terbang menggunakan sayapnya. Lalu ukur dalam waktu lima menit, mana yang lebih dulu sampai ke tujuan? Jelas akan ada beda kecepatan dan jarak tempuh yang signifikan. Kupu-kupu yang terbawa mobil tentu lebih unggul.
Tapi, kalau mobilnya berhenti atau mogok, maka mungkin yang lebih cepat adalah dengan terbang sendiri. Artinya, sistem yang kita masuki sangat mempengaruhi percepatan diri. Salah dalam memilih lingkungan, akibatnya akan segera kita rasakan. Ingatlah akan riwayat "Bergaul dengan tukang minyak wangi akan terbawa wangi dan bergaul dengan pandai besi akan terbawa bau bakaran". Kita harus mencari sistem lingkungan dan teman-teman pergaulan yang berkualitas, unggul, terjaga, memiliki kehalusan budi pekerti.

Berdaya Saing Positif
Setiap orang memiliki naluri untuk berlomba-lomba dalam kebajikan. Celakanya, kita sering melihat pesaing kita itu sebagai musuh yang dapat merintangi kita untuk berbuat kebajikan. Padahal jika kita lihat hal itu dengan hati yang jernih, maka pesaing itu adalah karunia Allah yang tak ternilai.
Sebuah ungkapan, "Lebih baik jadi juara kedua diantara para juara umum, daripada jadi juara pertama diantara yang lemah". Berani bersaing secara sehat dan positif adalah kunci menuju gerbang kesuksesan.

Mampu Bersinergi (Berjamaah)
Masih ingat kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang yang bulang Agustus 1945 luluh lantak oleh bom atom sekutu? Ya, ingatan kita akan segera menerawang, ketika bagaimana sebuah benda yang besarnya tidak lebih dari manusia itu bisa meratakan hampir seisi kota dengan hanya satu kali ledakan yang sangat dahsyat. Menurut para ahli fisika, ledakan dahsyat ini terjadi karena adanya sinergi beberapa proses berantai, yaitu sinergi antara atom satu yang bersinggungan dengan atom yang lainnya. Atom-atom ini saling bersinggungan satu sama lain. Dalam waktu beberapa detik saja, jutaan bahkan miliaran atom telah saling bersinggungan menghasilkan benturan kekuatan yang sangat dahsyat. Belajar dari fenomena atom, jika kita ingin unggul, nikmati hidup berjamaah. Kita harus senang hidup berjamaah dengan yang lain. Tapi tentu saja berjamaah dalam arti positif, karena adakalanya dalam berjamaah itu juga saling melemahkan atau saling melumpuhkan.

Manajemen Qolbu
Tidak bisa tidak, bagi pribadi yang ingin unggul dan prestatif, maka dia harus mampu mengendalikan suasana hatinya. Rasulullah Saw. bersabda, "ingatlah dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging. Kalau segumpal daging itu baik, maka akan baiklah seluruh tubuhnya, tetapi bila rusak, niscaya akan rusak pula seluruh tubuhnya. Segumpal daging itu bernama hati." (HR. Bukhori Muslim).
Untuk dapat mengelola hati dengan baik, maka bekal yang utama adalah ilmu, ingatlah konsep perubahan. Seseorang itu berubah bukan karena tahu, tapi karena paham. Orang bisa paham karena ada informasi atau ilmu. Oleh karena itu dari sekarang sisihkanlah waktu, tenaga, biaya untuk menggali ilmu. Ingat upaya itu selain untuk tahu, adalah juga untuk paham. Setelah tahu ilmu, segera amalkan! Bagi mereka yang ahli dalam menjaga hati, insya Allah lulus menjadi pribadi unggul.
“SETIAP JUARA SELALU BERFIKIR DAN BERFIKIR DENGAN SEKUAT TENAGA BAGAIMANA CARANYA UNTUK BERHASIL”
“BAGAIMANA MUNGKIN SEORANG JUARA SANTAI-SANTAI