Saat engkau lahir, aku memberimu makan
Saat engkau beranjak besar, aku selalu menjagamu
Engkau diberi minum atas jerih payahku
Jika kau sakit dimalam hari, selama itu mataku tak terpejam
Tak bisa ku tidur karena memikirkan sakitmu
Hingga tubuhku limbung sebab kantuk yang menyerang
Seolah akulah yang sakit, bukan engkau wahai anakku
Aku meneteskan air mata sebab khawatir engkau akan mati
Padahal aku tahu bahwa ajal manusia telah digariskan
Saat engkau beranjak dewasa
Saat dimana telah pantas aku menggantungkan diri padamu
Kau balas diriku dengan kekerasan dan kekasaran
Seakan engkau adalah satu-satunya pemberi kebaikan padaku
Andai saja ketika tak dapat kau penuhi hakku sebagai ayah
Kau perlakukan aku tak ubahnya seperti seorang jiran yang hidup bertetangga.Itu adalah sebuah syair yang diucapkan seorang ayah untuk seorang pemuda; buah hati dan belahan jiwa ayahnya karena sang pemuda telah menyia-nyiakan ayahnya yang begitu mencintainya. Syair itu diucapkan di depan Rasulullah, dan Rasulullah meneteskan air mata mendengarnya, lalu menghardik sang anak dengan bersabda, “Anta wa maaluka li abiika. Engkau dan hartamu adalah milik ayahmu.” (HR. Abu Daud & Ibnu Majah)
Firman Alloh swt,
“Mereka bertanya kepadamu tentag apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan”. Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Alloh Maha Mengetahuinya.” (QS. 2: 215)
Sebuah kisah nyata, seorang ibu tua yang tinggal dikampung memiliki seorang anak pria yang hidup sukses dikota. Anak tersebut menikah dengan seorang wanita karir dan dikaruniai seorang anak yang pintar. Merasa kesepian, sang ibu tinggal di kampung berkirim surat kepada anaknya bahwa dua minggu lagi ia akan pergi ke kota menjumpai anak cucunya dan tinggal disana demi mengusir rasa kesepian.
Saat menerima surat dari ibunya, sang anak berurun-rembug dengan istrinya bagaimna menyikapi kehadiran sang ibu di tengah mereka. Sang istri menukas,
“Mas, engkau bekerja seharian penuh hingga larut malam, demikian pula aku. Aku akan merasa risih bila ibumu tinggal di rumah ini, aku takut ia akan mencibirku dan mengatakan bahwa aku adalah ibu yang tidak pandai mengurus anak sendiri’. Sang istri melanjutkan,
“Aku pun tidak tega bila menyuruhmu untuk menaruh beliau di panti jompo. Nah…, bagaimana kalau kita buatkan saja sebuah saung dari bambu di halaman belakang rumah. Lalu kita tempatkan ibumu disana. Ia akan bebas melakukan apa saja. Sementara kita dengan kesibukan yang ada tidak akan pernah merasa terusik”.
Sang suami mengangguk tanda setuju atas usul istrinya. Dibuatkanlah sebuah saung bambu dibelakang rumah untuk sang ibu. Begitu ibunya datang, anak dan menantu tersebut menerimanya dengan penuh kehangatan, tapi sayang mereka benar-benar menempatkan sang ibu di saung bambu yang telah dibuat di halaman belakang rumah mereka. Ibu yang datang ke kota demi mengusir kesepian di desa malah merasa terisolasi ditengah anak cucunya sendiri.
“Ma…, jangan lupa untuk mengirimkan makan 3 kali sehari untuk ibuku ya!” itulah kalimat yang diucapkan sang suami kepada istrinya setiap kali ia hendak berangkat kerja. Sang istri lalu menyampaikan lagi pesan ini kepada pembantunya untuk melakukan hal yang diminta suaminya. Maka, 3 kali sehari makanan diantar oleh pembantu kepada si ibu tua yang berada di dalam saung. Namun karena kesibukan mereka berdua, rupanya keuanya kerap alpa untuk mengingatkan pembantunya untuk mengantarkan makanan kepada si ibu tua. Tadinya 3 kali sehari, terkadang 2 kali atau 1 kali. Setelah berbulan-bulan tinggal di dalam saung, pesan untuk mengirimkan makanan sudah tidak mereka ingat lagi. Sehingga pembantu pun sering lalai untuk mengirimkan makanan
Alloh SWT sungguh murka terhadap anak yang melalaikan hidup orang tuanya! Piring kotor masih teronggok dipinggir saung. Sudah lama tidak diambil oleh pembantu yang biasa mengantarnya. Tiba-tiba karena cahaya yang redup didalam saung, sang nenek tanpa sengaja menginjak piring itu hingga akhirnya pecah. Ketika tidak ada lagi makanan yang dikirmkan oleh anaknya, nenek itu alapar. Hingga terpaksa ia harus pergi ke warung membeli makanan untuk sekedar pengganjal perutnya yang lapar. Makanan telah terbeli, lalu dengan apa ia harus meletakkan, sebab tiada alas lagi.
Kemudian, sang nenek pergi mencari alas untuk makanannya. Ia tidak menemukan apa-apa kecuali sebuah batok kelapa. Ia cuci dan bersihkan batok tersebut. Usai dibersihkan, batok itu menjadi tempat makan si nenek setiap hari. Demikianlah, kebiasaan makan yang dilakukan nenek. Hingga suatu hari, Alloh berkenan untuk memberlakukan kehendaknya!!
Pada suatu pagi, lepas dari pengawasan baby-sitter, seorang anak bocah laki-laki berusia sekitar 5 tahun pergi kehalaman belakang. Rupanya, sudah lama ia tidak bermain ke halaman tersebut. Bocah itu bengong, terperangah…ketika melihat ada sebuah saung bambu disana. Anak itu pergi menghampiri. Ia dorong pintunya hingga terbuka. Karena terdorong oleh rasa ingin tahu yang tinggi, ia pun masuk kedalamnya …
“Eh…ada pangeran kecil rupanya!” suara nenek terdengar mengguratkan senyum dibibir.
“Nenek ini siapa?” tanya sang bocah polos.
“Aku ini adalah nenekmu. Ibu dari ayahmu!” nenek itu mencoba mencoba menjelaskan. Beberapa saat kemudia, keduanya sudah menjalin kehangatan. Kehangatan tali persaudaraan. Persaudaraan antara seorang nenek dengan cucunya, yang tidak dipisahkan oleh jarak apapun. Keduanya membaur tak ubahnya seperti darah daging. Semenjak itu, sang bocah sering mengunjungi neneknya tanpa sepengetahuan orangtuanya, apa yang dilakukan anaknya selama ini. Hingga muncullah sebuah pertanyaan kecil dari mulut si bocah saat ia melihat sebuah benda aneh di pojok saung.
“Itu benda apa, Nek?” si cucu menunjuk ke sebuah benda dengan perasaan ingin tahu. Si nenek melempar pandangan ke arah yang ditunjuk cucunya. Sejurus ia tahu bahwa yang dimaksud cucunya adalah sebuah batok kelapa.
“Oh…itu adalah piring nenek. Tempat makan nenek. Lucu ya…?!” nenek menjawab dengan wajah tersenyum.
“Iya, nek. Ini bagus sekali” sambut sang cucu. Sang cucu merekam kejadian itu.
Selang beberapa waktu, pada liburan akhir pekan, bocah ini diajak tamasya keluar kota oleh papa dan mamanya, pergi membawa mobil ketempat wisata. Sesampainya di sebuah taman wisata yang begitu rimbu, teduh dan indah mereka pun berbagi tawa dan kebahagiaan. Mereka berlari, berkejaran, berjalan dan melompat. Hari tiu pebu keceriaan bagi mereka bertiga.
“Haaaap!” sang papa melompat sambil berteriak. Diikuti suara dan lompatan yang sama dari sang mama. Rupanya, keduanya telah melompat melintasi bibir selokan kecil disana.
“Ayo Nak…lompati selokan itu. Kamu pasti bisa!” teriak keduanya berseru kepada anak mereka.
Sang anak berdiri terdiam di seberang. Ia melemparkan pandangan ke dalam selokan. Ia tak mau melompat, namum malah berujar,
“Pa…Ma…, tolong ambilkan benda itu dong!” Papa melihat kearah benda yang ditunjuk anaknya, ia tahu benda yang dimaksud adalah ‘batok kelapa’ di dalam selokan.
“Apa sih, Nak? Nggak usah diambil…itu kotor!” kata si papa. Sang mama menimpali dengan kalimat serupa. Namun si anak tetap berkeras, merengek dan mengancam bahwa dirinya tidak mau meneruskan tamasya jika mama atau papanya tidak mau mengambilkan benda tersebut. Keduanya mengalah. Diangkatlah ‘batok kelapa’ yang telah membau dari selokan. Keduanya repot mencari keran air untuk mencucinya. Setelah agak bersih, batok itu pun diberikan kepada sang anak. Keduanya merasa heran melihat perilaku buah hatinya yang begitu hangat memeluk batok kelapa tersebut.
Dalam perjalanan pulang, ketiganya masih berada dalam mobil. Tak sabar dan penuh rasa penasaran, sang mama bertanya kepada anaknya,
“Mama jadi bingung sama kamu…sebenarnya untuk apa sih batok kelapa itu, Nak…?!” si ana masih memeluk batok itu. Ia angkat kepalanya lalu berkata,
“Aku mau kasih kejutan ke Mama!”. Dengan kepolosannya ia melanjutkan,
“kalau sampai di rumah, benda ini akan aku cuci sampai bersih. Setelah itu akan aku beri bungkus yang rapih. Bila sudah rapih, aku akan berikan ini untuk Mama sebagai alas untuk makan.”“Untuk makan…?!” mamanya bertanya keheranan dengan rasa jijik.
“Iya…untuk makan. Aku melihat nenek di saung belakang rumah, makan dengan ini. Papa dan mama yang berikan itu untuk nenek kan?” katanya polos. Keduanya merinding. Alloh SWT sungguh telah menegur mereka berdua melalui lidah anak mereka sendiri. Selama ini, sungguh mereka telah menyia-nyiakan orangtua sendiri. Hingga ia harus makan dengan alas dari sesuatu yang menjijikkan bagi mereka, yaitu batok kelapa.
Apakah Anda masih menyia-nyiakan hidup orangtua?!
