Penulis Topik: Bagaimanakah Kita Menyikapi Tahun Baru Masehi?  (Dibaca 796 kali)


Offline maren

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 10.263
  • Lokasi: Ibu Kota RI
  • Jenis kelamin: Wanita
  • Karena damai itu indah
    • Lihat Profil
    • I Love being a Nurse ^_~
« pada: 29 Desember 2009, 23:01:26 »
Diantara kebiasaan orang dalam memasuki tahun baru di berbagai belahan dunia adalah dengan merayakannya, seperti begadang semalam suntuk, pesta kembang api, tiup terompet pada detik-detik memasuki tahun baru, wayang semalam suntuk bahkan tidak ketinggalan dan sudah mulai ngetrend di beberapa tempat diadakan dzikir berjama’ah menyongsong tahun baru. Sebenarnya bagaimana Islam memandang perayaan tahun baru?

Bolehkah Merayakannya?

Tahun baru tidak termasuk salah satu hari raya Islam sebagaimana ‘Iedul Fitri, ‘Iedul Adha ataupun hari Jum’at. Bahkan hari tersebut tergolong rangkaian kegiatan hari raya orang-orang kafir yang tidak boleh diperingati oleh seorang muslim.

Suatu ketika seorang lelaki datang kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam untuk meminta fatwa karena ia telah bernadzar memotong hewan di Buwanah (nama sebuah tempat), maka Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam menanyakan kepadanya: “Apakah disana ada berhala sesembahan orang Jahiliyah?” Dia menjawab, “Tidak”. Beliau bertanya, “Apakah di sana tempat dirayakannya hari raya mereka?” Dia menjawab, “Tidak”. Maka Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Tunaikan nadzarmu, karena sesungguhnya tidak boleh melaksanakan nadzar dalam maksiat terhadap Allah dan dalam hal yang tidak dimiliki oleh anak Adam”. (Hadits Riwayat Abu Daud dengan sanad yang sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan terlarangnya menyembelih untuk Allah di tempat yang bertepatan dengan tempat yang digunakan untuk menyembelih kepada selain Allah, atau di tempat orang-orang kafir merayakan pesta atau hari raya. Sebab itu berarti mengikuti mereka dan menolong mereka di dalam mengagungkan syi’ar-syi’ar kekufuran. Perbuatan ini juga menyerupai perbuatan mereka dan menjadi sarana yang mengantarkan kepada syirik. Apalagi ikut merayakan hari raya mereka, maka di dalamnya terdapat wala’ (loyalitas) dan dukungan dalam menghidupkan syi’ar-syi’ar kekufuran. Akibat paling berbahaya yang timbul karena berwala’ terhadap orang kafir adalah tumbuhnya rasa cinta dan ikatan batin kepada orang-orang kafir sehingga dapat menghapuskan keimanan.

Keburukan yang Ditimbulkan

Seorang muslim yang ikut-ikutan merayakan tahun baru akan tertimpa banyak keburukan, diantaranya:

   1. Merupakan salah satu bentuk tasyabbuh (menyerupai) dengan orang-orang kafir yang telah dilarang oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam.
   2. Melakukan amal ketaatan seperti dzikir, membaca Al Qur’an, dan sebagainya yang dikhususkan menyambut malam tahun baru adalah pebuatan bid’ah yang menyesatkan.
   3. Ikhtilath (campur baur) antara pria dan wanita seperti yang kita lihat pada hampir seluruh perayaan malam tahun baru bahkan sampai terjerumus pada perbuatan zina, Na’udzubillahi min dzaalika…
   4. Pemborosan harta kaum muslimin, karena uang yang mereka keluarkan untuk merayakannya (membeli makanan, bagi-bagi kado, meniup terompet dan lain sebagainya) adalah sia-sia di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Serta masih banyak keburukan lainnya baik berupa kemaksiatan bahkan kesyirikan kepada Allah. Wallahu a’lam…

***

Penulis: A. Akadhinta
Artikel www.muslimah.or.id
Jangan jadi orang yang penuh dendam, jadilah orang yang memiliki banyak kata maaf untuk orang2 yang telah menyakiti kita :) bekerjalah dengan ikhlas

Offline servodaeman

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2007
  • Tulisan: 2.030
  • Lokasi: jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • muslim itu bersaudara
    • Lihat Profil
    • Portal
« Jawab #1 pada: 30 Desember 2009, 13:16:21 »
Pada setiap pergantian tahun Hijriah , banyak tema-tema yang muncul diberbagai media cetak atau elektronik yang melihat, menulis atau menguraikan dengan berbagai sudatu pandang yang berbeda-beda. Dengan banyaknya tulisan yang berhubungan dengan tahun baru Hijriah, semoga akan menambah pengetahuan dan wawasan serta semakin menyadari hakekat Hijrah yang hakiki. Kita sudah sama-sama mengetahui bahwa tahun baru Hijriah adalah gagasan yang cemerlang dari Khalifah Umar Bin Khotob.

Dengan dimulai kalender tahunan atau tahun nol Hijriah ketika Nabi Muhammad SAW hijrah dari Mekkah ke Madinah, maka salah satu tonggak sejarah yang amat gilang gemilang telah amat kokoh ditancapkan. Ummat Islam sudah punya Kalender sendiri yang tidak "mengekor" dengan kelender masehi. Kalender hijriah yang berpatokan pada rotasi bulan, sedangkan kalender masehi berpatokan pada rotasi matahari.

Dengan bulan sebagai patokan, ummat Islam tak perlu repot untuk melengkapi "kekurangan" waktu pada setiap tahun yang habis di bagi empat, yang disebut tahun kabisat seperti yang terjadi pada kalender masehi. Kalender Islam jalan terus, Kalau di Kalender masehi ada orang yang ulang tahunya hanya 4 tahun sekali, yaitu orang yang lahir pada tanggal 29 Pebruari ! Dalam Kalender Hijriah tak akan pernah terjadi ! Nah, dari sini saja sudah ada " keunggulan " antara Kalender Hijriah dengan kelender lain.

Kembali ke titik tolak dimulai tahun Hijriah, dengan hijrahnya Nabi di jadikan awal tahun Hijriah, bukan diambil dari tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW ( maulid Nabi ) sebagai pembawa risalah Islam, itu artinya Islam tidak ingin Nabinya dikultuskan ! Dan Nabi sendiripun tidak ingin ummatnya mengkultuskan dirinya, sampai-sampai Beliau melarang menggambar, melukis, apa lagi sampai membuat patung dirinya ! Wah kalau nabi boleh digambar, dilukis atau dibuatkan patung, jangan-jangan di Masjid , di Mushollah atau di rumah-rumah orang muslim penuh dengan gambar, lukisan atau patung Nabi !

Dan akhirnya, orang lupa pada yang mengutus Nabi yaitu Allah SWT ! Seperti terjadi pada ummat lain. Benar-benar Beliau sangat brilyan, sudah jauh ke depan berpikirnya, sebelumnya tergelincir akidah ummat Islam karena gambar, lukisan atau patung, beliau sudah melarangnya !

Kita tahu bahwa hijrah itu adalah pindah, yang kalau pakai istilah geografi adalah migrasi, pindah dari satu tempat ke tempat lain, dengan berbagai turunannya seperti imigrasi, emigrasi, remigrasi, transmigrasi, urbanisasi dan lain-lain. Namun pengertian hijrah dalam Islam bukan sesederhana itu, yaitu bukan hanya pindah dari kota Mekkah ke kota Madinah, bukan, bukan itu.

Hijrah dalam Islam punya pengertian yang sangat luas, pindah dari buruk ke yang baik, pindah dari prilaku salah ke prilaku yang benar, pindah dari perbuatan maksiat yang penuh dosa ke perbuatan sakinah yang penuh pahala. Yang tadinya " Kutil " (kurang teliti), "Kurap' (kurang rapih), "Kudis" (kurang disiplin), "Kubis" (kurang bisa), "Kumal" (kurang malu) menjadi, teliti, rapih, disiplin, bisa dan punya rasa malu berbuat dosa dan seterus bisa di tambah dengan berbagai "Ku... Ku... " yang lainya.

Kemudianya yang menjadi pertanyaan kita sekarang adalah "Benarkah kita sudah hijrah ? " Bila benar-benar kita sudah hijrah, mari kita bertanya sejenak. Bulan apa sekarang ini ? Pasti sebagian besar ummat Islam bila ditanya seperti itu akan menjawab: " Bulan Desember " Bukan di jawab : " Bulan Muharram " Dan kalau ditanya " Tahun berapa sekarang ?" Pasti sebagian besar ummat Islam akan menjawab: " Tahun 2009 " bukan menjawab : " Tahun 1431 H" atau jangan-jangan lupa, bulan dan tahun hijriahnya ! Tidak salah jawaban tersebut, tapi itu tandanya untuk memasyarakatkan nama bulan dan tahun Hijriah saja, kita belum hijrah dan memang biasanya susah untuk hijrah dari sesuatu sudah terbiasa ke sesuatu yang baru, padahal pencanangan kebangkitan ummat Islam itu dimulai di abad 15 Hijriah ini, itu berarti sudah 31 tahun lalu ... tapi gemanya sayup-sayup.

Atau memang pengertian hijrah kita hanya sesaat saja, yaitu pada saat tahun baru Hijriah saja, pada saat di pengajian saja , pada saat Jum'at saja, pada saat bulan ramadhan saja, pada saat melaksanakan haji saja, dimana kita semua pada hijrah ke pada amal sholeh dari amal yang salah, dari mencintai dunia ke cinta pada akherat, dari sering lupa padaNya kembali begitu dekat padaNya, jika itu yang terjadi, maka kita perlu "kembali" lagi ke awal tahun baru Hijriah yang masih nol tahun, di mana kita melihat perjuangan Nabi Muhammad SAW berserta para sahabatnya dalam meneggakkan risalah illahi dengan tantanganya bukan hanya harta, tapi raga dan jiwanya ikut di kurbankan !

Benarkah kita sudah hijrah yang hakiki ? Mari kita lihat apa yang sudah kita lakukan ditahun lalu, apa yang sudah kita lakukan sekarang dan apa yang kita akan perjuangkan di tahun mendatang ? Apa yang kita sudah perjuangkan untuk Islam ? " Jangan ditanya, apa yang sudah Islam berikan pada kita, tapi apa yang sudah kita perbuat untuk kejayaan Islam? Sekecil apapun yang dapat kita perbuat, mari kita pasang niat, di tahun yang baru ini kita akan lebih giat memperjuangkan Islam, sebisa yang kita lakukan. Jangan segan segan untuk berbuat baik, walau hanya dengan sepotong ayat, segelas air, sebutir kurma atau dengan sebait kalimat !
Mari di tahun baru Hijriah ini, kita hijrah, hijrah pada hidup yang lebih baik, motivasi yang lebih kuat, beramal yang lebih banyak, sebisa yang kita lakukan dengan potensi masing-masing ! Dan jangan lupa, mari kita hitung amal perbuatan kita, sebelum kita di hisabNya !

" SELAMAT TAHUN BARU, 1 MUHARRAM 1431 H " Semoga Allah SWT selalu menyertai dan meridhoi setiap langkah kita.
Terima kasih.

http://eramuslim.com/oase-iman/benarkah-kita-sudah-hijrah.htm
http://www.abdulrahman-oman.co.nr/
God Just One && Mohammed is The last Messenger

Offline servodaeman

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2007
  • Tulisan: 2.030
  • Lokasi: jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • muslim itu bersaudara
    • Lihat Profil
    • Portal
« Jawab #2 pada: 30 Desember 2009, 13:30:08 »
ulama-saudi-muhasabah-akhir-tahun-bid-ah

Syaikh Abdul Karim Khadir seorang anggota dewan ulama senior Saudi menyatakan dalam fatwanya bahwa pesan yang tersebar di ponsel akhir-akhir ini di wilayah kerajaan Saudi, dalam apa yang dikenal sebagai seruan untuk berdoa dan melakukan "muhasabah" yang dihubungkan dengan akhir tahun adalah perbuatan "Bid'ah".

Surat kabar Al-Jazeera pada Senin kemarin (28/12) memberitakan fatwa Syaikh Khadir yang menjelaskan bahwa sms-sms yang banyak beredar pada ponsel warga Saudi akhir-akhir ini yang menyerukan adanya "muhasabah" pada malam tahun baru adalah perbuatan "Bid'ah" karena perbuatan tersebut tidak ada dasar hukumnya dari Al-Quran maupun Sunnah Nabi SAW.

Dia menambahkan:"Jika sms-sms yang datang bertepatan dengan penawaran gratis dari Saudi Telecom Company (STC) hanyalah kampanye yang menganjurkan untuk bermuhasabah, hal tersebut tidak menjadi masalah asalkan tidak dihubung-hubungkan dengan bermuhasabah pada akhir tahun atau pergantian tahun.

Anggota dewan ulama senior Saudi ini juga menekankan bahwa pesan sms yang menganjurkan untuk bermuhasabah jangan dikaitkan dengan peristiwa tertentu khususnya pergantian tahun.

Fatwa Syaikh Khadir ini juga didukung oleh sejumlah ulama Saudi. Syaikh Abdul Mushin Al-Ubaikan yang merupakan penasehat keluarga kerajaan Saudi dalam sebuah pernyataanya kepada IOL menyatakan bahwa:"Jika seruan untuk melakukan bermuhasabah maka hal ini sangat dianjurkan, karena memang ada perintah dari Allah.

Dan jika muhasabah tersebut tidak dimaksudkan untuk membuat suatu "ibadah baru" dan hanya merupakan seruan dan dorongan saja maka hal itu bukan sesuatu yang sesat, ia menekankan bahwa muhasabah dalam waktu tertentu atau mengkhususkan waktu tertentu seperti akhir tahun tidak ada dasarnya dalam agama Islam.

Sejalan dengan Syaikh Ubaikan, Dr.Ahmad Al-Batli profesor pada fakultas Ushuluddin di Universitas Imam Muhammad bin Saud Saudi mengatakan bahwa bermuhasabah atau meminta ampun atas segala kesalahan yang pernah dilakukan sesuatu yang sangat di anjurkan bahkan Nabi Muhammad SAW sendiri tidak kurang dari 70 - 100 kali dirinya beristghfar atau meminta ampun kepada Allah, akan tetapi seruan untuk melaksanakan "ritual" muhasabah dalam waktu tertentu seperti akhir tahun adalah HARAM dan bertentangan dengan ajaran Al-Quran dan Sunnah, karena bisa terkena dengan tasyabbuh atau meniru-meniru perbuatan orang kafir yang sangat antusias menyambut akhir tahun atau pergantian tahun, bedanya umat Islam melakukannya dengan kegiatan muhasabah.

Dr.Ahmad Al-Batli menambahkan:"seruan yang mengajak masyarakat untuk melakukan berdoa, berdzikir dan bermuhasabah pada akhir tahun akan membuka pintu lahirnya ritual "baru" dalam beribadah, sembari mengutip hadits Nabi SAW: "Man Ahdatsa Fi Amrina Laisa Minhu Fahuwa Raddun" yang artinya "Barang siapa yang melakukan amalan yang tidak kami perintahkan, maka amalan tersebut ditolak!"

Namun Dr.Musthofa Makhdum, dekan dari institut Imam dan da'i pada Universitas Taibah Madinah melihat pesan-pesan SMS yang akhir-akhir ini banyak beredar dibawah tajuk untuk bermuhasabah, secara teknis tidak menjadi masalah karena mengajak orang untuk melakukan kebajikan.

Dia menambahkan dalam sebuah pernyataannya kepada IOL, seruan meminta ampun kepada Allah adalah sesuatu yang mutlak harus dilakukan, bahkan Nabi Muhammad SAW bertobat dan meminta ampun kepada ALlah lebih dari 100 kali sehari.

Dari premis tersebut ia menyatakan bahwa sms-sms yang banyak beredar bukan suatu yang menjadi masalah, karena teks-teksnya bersifat umum. Dan semua orang juga diperintahkan oleh Rasululluah untuk berdoa meminta ampunan dari Allah. (fq/iol)

http://eramuslim.com/berita/dunia/ulama-saudi-muhasabah-akhir-tahun-bid-ah.htm
http://www.abdulrahman-oman.co.nr/
God Just One && Mohammed is The last Messenger