saya berkomentar dari fraksi akhwat... (yang sering diperbincangkan dalam hal ini...)
teman-teman, saya kira... pertanyaan "ada atau tidak" itu, jawabnya pastilah ADA. karena sifat ada atau tidak itu adalah hal yang manusiawi. saya punya dua orang saudari yang bisa menjawab pertanyaan semula. seorang saudari A akhirnya menikah dengan orang lain. karena sang ikhwan tidak PD dengan ketidakmapanannya. padahal sang akhwat gak masalah. sedangkan seorang saudari B, akhirnya tetap menikah dengan sang ikhwan. kini, si ikhwan masih berstatus pencari kerja (ada yang punya kerjaan buat si ikhwan..??).
nah, saya pikir... bukan masalah ada atau tidaknya akhwat yang seperti itu. tapi, bagaimana sang ikhwan berusaha terlebih dahulu dalam hal financial. mapan atau tidak... itu adalah hal yang subjektif menurut saya. ada yang berpendapat ada maisyah saja berarti cukup. ada yang bilang dengan penghasilan tertentu baru bisa disebut mapan. nah, tergantung si ikhwan dan akhwat sendiri... bagaimana versi mapan dari mereka.
yang jelas... menikah adalah sebuah sarana untuk saling bersinergi satu sama lain. kata MAPAN bukanlah pra syarat utama sebagaimana yang telah diungkapkan teman-teman sebelumnya. saya pikir banyak orang yang sepakat tentang hal ini. tak mapan, bukan berarti tak ada sama sekali financial atau usaha menuju kesana.
keluarga adalah usaha yang bersama-sama dimulai dari "0". maksudnya, ketika dua insan bersatu disanalah mereka bersama menyatukan potensi... (sinergi) sehingga lebih berdaya guna.
tentang kemapanan. kalau si Ikhwan merasa kurang mapan (tapi sudah punya penghasilan, meski tidak tetap) dan merasa PD, yah silahkan berusaha (ta'aruf). kalau kata Alalh... jodoh.... yah pasti sijodoh itu akan dipertemukan. tapi, kalau kata Allah memang belum jodoh... mau semapan apapun juga pasti bakal terus mencari-cari.
yang penting ikhtiar untuk berproses menuju kesana. bagaimana kita (ikhwan dan akhwat) saling meng-Upgrade diri, baik hal financial... tsaqofah... dan lain-lain. saya kira, banyak juga akhwat yang"tak mau merepotkan sang calon". sehingga mereka tak terlalu mengharapkan kata "mapan" yang sering diperbincangkan ini. ada juga akhwat yang tak ingin terlalu bergantung pada sang calon suami, namun tak menampikkan atau tetap menghormati sang calon.
ah, saya tidak tahu apakah paparan diatas sudah bisa mewakili suara dari fraksi akhwat. yang jelas... kata yang mengeneralisir itu mirip dengan judgment. saya harap kita terus belajar untuk bersikap matang. belajar untuk rendah hati.
terkadang memang banyak hal yang tidak kita tahu dari sang maha Tahu. mungkin kita memang belum saatnya tahu, atau bahkan memang tak perlu tahu atas apa-apa yang tak kita tahu. yang jelas, tak perlu sok tahu atau malah pura-pura tak tahu?
cukuplah kelak, sang maha Tahu lah yang memberi tahu... atas hal-hal yang tak diketahui....
tapi, mencari tahu bukanlah larangan .. karena ia berkorelasi dengan kata ikhtiar.
selamat saling mencari dan memberi tahu... karena, orang yang tahu atas ketidaktahuannya lebih baik dari pada orang yang tidaktahu ke-tahu-annya.