Penulis Topik: Dari Penulis Buku "Dakwah Salafiyah Dakwah Bijak" Untuk Situs Muslim.Or.Id  (Dibaca 1533 kali)


Offline Hak Jawab

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Okt 2006
  • Tulisan: 16
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« pada: 02 Oktober 2006, 09:44:56 »
Surat Terbuka Dari Penulis
Buku “Dakwah Salafiyah Dakwah Bijak”
Untuk Situs Muslim.or.id





Assalamu’alikum Warahmatullah Wabarakaatuh.

Bismillah walhamdulillah, wasshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabih ajmain. Amma ba’du.

Di bulan Ramadhan 1427 Hijriah ini perkenankan saya menyampaikan suatu perkara yang cukup penting. Alhamdulillah, atas pertolongan Allah saya telah dimudahkan untuk menulis buku berjudul “Dakwah Salafiyah Dakwah Bijak” (DSDB). Setelah muncul buku tersebut, datang berbagai tanggapan dari para pembaca. Ada tanggapan yang bersikap positif dan ada pula yang negatif. Secara umum, tanggapan yang saya terima merupakan kebaikan yang patut disyukuri, walhamdulillahil Karim.

Disini ada satu tanggapan negatif yang layak dicermati, yaitu tanggapan dari administrator (pengelola) situs Muslim.or.id. Tanggapan mereka terlontar ketika menanggapi komentar seseorang di website mereka. Karena hal itu sudah tersebar luas, maka perlu kiranya saya memberikan tanggapan agar masalahnya clear (jernih). Semula saya sudah menyusun jawaban atas tanggapan Muslim.or.id itu, lalu meminta penerbit memasukkannya ke bagian lampiran cetakan baru. Tetapi pihak penerbit tidak bisa memenuhi permintaan itu karena alasan bisa merubah harga buku. Saya pun mengalah dan sengaja mendiamkan jawaban tersebut.

Baru-baru ini, ketika saya mencoba membuka-buka arsip “lama”, saya coba menimbang-nimbang kembali kemungkinan untuk mempublikasikan jawaban atas kritik keras Muslim.or.id itu melalui internet. Pertimbangannya:  Satu, kritik Muslim.or.id sangat keras (kalau bisa dikatakan tidak beradab), sehingga ia bisa dikategorikan sebagai sikap syadid (keras) dalam dakwah; Dua, jawaban atas tanggapan ini sekaligus menjadi klarifikasi atas kritikan-kritikan yang dialamatkan ke buku DSDB dari berbagai kalangan. Perlu diketahui, selain Muslim.or.id, ada juga pihak-pihak lain yang memberikan kritik, meskipun tidak selalu kasar seperti mereka. Mudah-mudahan publikasi ini bisa menjawab kritikan-kritikan yang ada. Perlu diketahui, jawaban terhadap opini negatif di atas telah disusun sekitar bulan Maret 2006. Adapun jika kini ia baru dipublikasikan, itu karena alasan teknis saja.

Disini saya hanya mencoba mempublikasikan jawaban yang tadinya diusulkan bisa masuk bagian lampiran buku DSDB. Saya tidak melakukan perubahan terhadap naskah jawaban, selain sedikit editing pada beberapa kata (insya Allah kurang dari 15 kata). Sebelum dan sesudahnya, saya mengucapkan terimakasih atas perhatian para pembaca budiman. Dan khusus buat pengelola situs Muslim.or.id, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya jika publikasi ini tidak mengenakkan hati Anda semua. Yakinlah Akhi, saya akan bertindak sebijaksana mungkin. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan ampunan.

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.
Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh.



Ramadhan 1427 Hijriyah  
Abu Abdurrahman At Thalibi  
_____________________________ _____________________________ ___________



Jawaban Atas Kritik yang Dilontarkan Pengelola Situs Muslim.or.id
   
   
Seorang penanya bernama Prima melontarkan pertanyaan kepada pengasuh muslim.or.id tentang isu seputar pengaruh Sururiyyah (Haraki) di Madinah dan tentang lembaga tertentu, serta nama-nama ustadz tertentu yang disinyalir termasuk bagian dari Sururiyyah. Pertanyaan itu lalu dijawab oleh Ustadz Abdullah bin Taslim dalam tulisan yang berjudul, Konsultasi Ustadz: Fitnah Sururiyyah! Tulisan ini dimuat tanggal 17 Februari 2006.

Jawaban yang diajukan Ustadz Abdullah Taslim cukup memadai sehingga memuaskan banyak pembaca artikel tersebut. Respon pembaca artikel itu dimuat di bawah tulisan beliau. Saya semula hanya membaca artikel bagian atas, tidak sampai komentar di bagian bawahnya. Ternyata di akhir komentar-komentar itu saya temukan opini seputar buku Dakwah Salafiyah Dakwah Bijak ini. Dan lebih menarik lagi ketika pengelola situs tersebut memberikan opini buruk dan peringatan kepada para pembaca agar berhati-hati terhadap buku ini.    

Seorang penanggap tulisan Ustadz Abdullah Taslim bernama Abdirrazzaq Al Fitrah dari Surabaya semula menyampaikan pujian terhadap buku ini, tetapi pihak pengelola situs segera membuat opini sebaliknya. Pada 1 Maret 2006, jam 19.58, Abdirrazzaq Al Fitrah menyampaikan pujiannya, pada 2 Maret 2006, jam 13.47, Abdirrazzaq menyatakan dukungannya terhadap pengelola situs. Disini bukan soal puji-memuji yang perlu dicermati, tetapi begitu cepatnya sikap berubah karena pengaruh opini yang belum tentu obyektif. Bayangkan, sebuah buku seketika terpental hanya gara-gara satu paragraf opini yang dilontarkan.

Disini saya merasa perlu untuk menanggapi opini dari pengelola situs itu. Saya tidak bermaksud memperlebar perselisihan atau melakukan debat-kusir yang tidak ada ujungnya dengan didasari rasa dendam-kesumat satu sama lain. Saya hanya ingin membuktikan bahwa sikap sabar dan tenang itu sungguh menguntungkan, sedang sikap emosional kerap kali berujung merugikan diri sendiri.

Seperti sabda Nabi shallallah 'alaihi wa sallam kepada Asyaj Abdil Qaisy radhiyallahu 'anhu: “Sesungguhnya pada dirimu ada dua perkara yang keduanya dicintai Allah, yaitu kelembutan dan ketenangan.” (HR. Muslim).

Berikut saya sebutkan keseluruhan isi peringatan yang disampaikan oleh pengelola situs tersebut di atas, tanpa dilakukan editing sama sekali, yaitu sebagai berikut:

Assalamu’alaikum warohmatullah wabarokatuhu
Satu catatan dari kami tentang buku tersebut (Dakwah Salafiyah Dakwah yang Bijaksana - tolong dikoreksi judulnya) yang ditulis oleh Abdurrahman Al Thalibi (begitulah yang tertulis pada buku tersebut, mungkin maksudnya “Abdurrahman At-Thalibi”). Pertama, pengarang buku tersebut sangat majhul dan tidak dikenal, baik oleh para ustadz salafiyin maupun para thulabul ilmi. Kedua, penerbit buku tersebut juga majhul. Ketiga, isi buku tersebut sangat tidak ilmiah, dia (Abdurrahman Al Thalibi - mungkin maksudnya “Abdurrahman At-Thalibi”) membagi salafi di Indonesia menjadi 2 (Yamani dan Haroki) dan memaparkan pandangan-pandangannya yang sangat tidak ilmiah (juga tidak objektif) disertai dengan fakta-fakta yang juga tidak ilmiah, dan bagi para thulabul ilm yang sudah lama belajar niscaya mengetahui bahwa tajamnya pena si Abdurrahman Al Thalibi tertuju menikam dada para salafiyyin. Kami (muslim.or.id) berlepas diri dari buku tersebut!! dan kami nasehatkan kepada saudara-saudara kami agar tidak termakan oleh buku tersebut, dan sebaiknya ikhwah yang sudah terlanjur membaca buku tersebut agar mendiskusikan semua isi buku tersebut dengan ustadz yang benar-benar mengetahui realita yang sebenarnya…

Secara umum saya menilai opini di atas adalah opini negatif. Tentu saya tidak berharap semua orang akan memuji apa yang saya tulis, tetapi melihat orang-orang tertentu membangun opini negatif tanpa dasar yang jelas, hal itu tentu merupakan kesalahan yang nyata. Jika membaca opini di atas, sangat terlihat bahwa pembuat opini tersebut belum membaca buku yang dia kritik. Bahkan, dengan mengenali tipe kalimat-kalimat yang dipakai, disini ada indikasi-indikasi syadid (sikap keras) seperti yang ditunjukkan oleh kalangan Salafiyun lain.

Disini saya akan menguraikan satu per satu kalimat yang perlu dikomentari dari peringatan situs di atas. Mungkin, modelnya seperti syarah, tetapi tujuannya untuk menjawab kritikan yang dilontarkan. Kalimat dari pengelola situs ditulis dengan huruf tebal, sedang komentar di letakkan di bawahnya.

Berikut jawaban yang bisa diberikan, wallahu Mualana wa ni’mal Maula:

Assalamu’alaikum warohmatullah wabarokatuhu.
Wa’alaikumussalam Warahmatullah Wabarakaatuh.

(1) “Satu catatan dari kami tentang buku tersebut”
   
Dalam paragraf di atas pengelola situs itu jelas telah menyebutkan kata Pertama, Kedua, Ketiga. Ini menandakan bahwa mereka tidak menulis satu catatan, tetapi minimal tiga catatan. Belum lagi setelah catatan ketiga ada beberapa catatan lain yang ditambahkan. Artinya, istilah satu catatan itu tidak tepat.


(2) “(Dakwah Salafiyah Dakwah yang Bijaksana - tolong dikoreksi judulnya)”  
   
Kalimat ini menjadi bukti bahwa yang memberi komentar belum membaca buku yang saya tulis, oleh karena itu dia keliru dalam menyebutkan judul dan meminta pembaca membetulkan judulnya kalau keliru. Anda tahu sendiri bahwa buku ini judulnya tidak seperti itu.

Disini ada beberapa kemungkinan, yaitu: Satu, pengelola situs tersebut benar-benar belum pernah membaca buku ini, tetapi dia mendengar keberadaannya dari suara-suara yang muncul. Dua, dia pernah membaca secara sekilas, tetapi tidak sampai tuntas atau tidak sampai memiliki bukunya. Misalnya, dia melihat buku ini di tangan temannya, di etalase buku, di emperan, dll. Tiga, dia mendapat informasi global dari seniornya tentang buku ini, lalu diperintahkan bersikap begini-begini, tanpa tahu isi buku itu secara langsung. Empat, yang paling buruk, dia adalah seseorang yang sering medengar kabar burung, lalu cepat bereaksi terhadapnya. Semoga kemungkinan keempat itu tidak terjadi.

Kalau membaca komentar pengelola itu selanjutnya, tampak benar bahwa dia tidak membaca buku yang telah dia tahdzir dengan keras itu. Seharusnya, kalau belum tahu, katakanlah wallahu a’lam, atau katakan, “Insya Allah akan kami sampaikan jawaban kami setelah jelas persoalannya.” Para Salafy tentu sangat kenal bahwa ungkapan “laa adriy” (aku tidak tahu) merupakan setengah ilmu.


(3) …yang ditulis oleh Abdurrahman Al Thalibi (begitulah yang tertulis pada buku tersebut, mungkin maksudnya “Abdurrahman At-Thalibi”).

Ini juga salah lagi, nama penulis disebut Abdurrahman Al Thalibi, padahal lebih tepatnya Abu Abdurrahman Al Thalibi. Bahkan dalam cover bukunya disebut Abu Abdirrahman Al Thalibi. Jika demikian, maka kalimat “Begitulah yang tertulis pada buku tersebut” menjadi tidak berguna sama sekali. Yang tertulis di buku lebih berbeda lagi dari yang disebutkan oleh pengelola situs itu.  

Penulisan nisbah Al Thalibi dalam buku sebenarnya sudah benar, sebab yang dipakai disini adalah kaidah penulisan, bukan kaidah pengucapan. Pada aslinya, memang tertulis Al Thalibi (dengan alif-lam), meskipun untuk membacanya lebih tepat diucapkan At Thalibi. Seluruh nama-nama nisbah, jika memakai kaidah penulisan baku, seharusnya ditulis dengan Al (alif-lam), bukan At, Ad, Ar, As, Asy, dan sebagainya. Kalau mau konsisten dengan kaidah pengucapan (hukum alif-lam syamsiyyah), penulisan Al Thalibi lebih tepat ditulis Ath Thalibi, bukan At Thalibi.

Contoh pemakaian Al dalam penulisan, misalnya Yayasan Al Sofwa. Jika memakai kaidah pengucapan yang tepat, ia seharusnya ditulis Yayasan Ash Shof-wah (artinya, yang terpilih atau yang terbaik). Atau misalnya nama Nur Al Rahman, Al Salam, Al Syarif dan sebagainya. Disini alif-lam tidak melebur, tetapi bagi yang membacanya ia tetap dibaca melebur.  

Penulisan kata Alloh, subhanalloh, warohmatulloh, atau shollallohu dsb. –secara jelas disebutkan huruf “o”- yang banyak terdapat dalam tulisan-tulisan di internet, sebenarnya menurut kaidah penulisan, ia keliru. Dalam bahasa Arab tidak dikenal huruf “o”, namun yang ada ialah fat-hah yang berbunyi “a”. Kata Allah, dalam pengucapannya diucapkan Alloh (memakai “o”), tetapi dalam penulisan Arabiyyah tetap memakai fat-hah (“a”). Disini, kita tidak perlu khawatir akan memiliki kesamaan dengan tulisan Allah yang dikenal di kalangan Kristen. Orang-orang kafir itu sebenarnya meniru kita, mengapa kita harus “menyingkir” gara-gara mereka banyak memakai tulisan Allah? Kalau kita selalu “menyingkir”, lama-lama penulisan Allah itu akan diklaim oleh kaum kafir. Tulisan Allah dalam Injil berbahasa Arab yang dibaca orang-orang Arab Kristen, tidak ada bedanya dengan tulisan Allah yang kita baca dalam Al Qur’an.


(4) Pertama, pengarang buku tersebut sangat majhul dan tidak dikenal, baik oleh para ustadz salafiyin maupun para thulabul ilmi. Kedua, penerbit buku tersebut juga majhul.

Harus diakui, keberadaan saya dalam Dakwah Salafiyah di Indonesia bukanlah apa-apa, bahkan mungkin tidak memiliki posisi sama sekali. Sangat berbeda dengan nama ustadz-ustadz tertentu, lembaga atau yayasan tertentu yang telah dikenal secara luas sebagai bagian dari Dakwah Salafiyah, baik melalui karya tulis, kegiatan dakwah, pembelaan terhadap manhaj, kedekatan dengan para ulama Salafy di Timur Tengah, dan indikasi-indikasi lain. Inilah yang disebut oleh pengelola situs di atas sebagai majhul (tidak dikenal). Sepenuhnya saya setuju dengan kesimpulan seperti itu.

Bagi yang terbiasa membaca takhrij hadits, seorang perawi yang majhul dapat membuat cacat kualitas sebuah hadits ke tingkat dhaif (lemah). Tetapi jika ada perawi dari jalur-jalur lain (syawahid) yang dikenal tsiqah (terpercaya), maka ia bisa menguatkan hadits itu ke tingkat hasan atau shahih. Jika perawi dari jalur lain tidak ada, tetapi ada matan-matan lain yang serupa itu dan dikuatkan oleh kokohnya perawi yang mendukung matan-matan tersebut, minimal ia bisa naik menjadi hasan. Jika yang menjadi dasar cacatnya sebuah hadits hanya ke-majhul-an salah satu perawinya, maka ia tidak akan sampai dihukumi sebagai hadits maudhu’ (palsu) yang tertolak. Wallahu a’lam bisshawaab.

Dalam lingkup ilmu hadits, para ulama Ahlus Sunnah telah menetapkan metode yang sangat ketat. Seorang imam hadits di jaman Salaf pernah berkata, “Saya mendapatkan di Madinah seratus orang yang semuanya terbebas dari bohong, namun tidak dapat diambil haditsnya dan dikatakan bukan ahlinya.” Keshalihan dan ketakwaan seseorang tidak cukup untuk menjadi perawi hadits yang terpercaya. Disana masih dibutuhkan kuatnya hafalan dan pemahaman terhadap tradisi periwayatan hadits. Bagi sebagian imam hadits, masih ditambah syarat lain, misalnya hidup sejaman dengannya, pernah berjumpa dengannya, bahkan dikuatkan oleh petunjuk Allah yang diperoleh melalui shalat istikharah. Sungguh, sangat panjang jalan untuk menentukan derajat keshahihan sebuah hadits.

Syarat ketat dalam penentuan keshahihan hadits sangatlah dimaklumi, sebab hakikat hadits adalah wahyu Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Dalam perkara wahyu tentu harus benar-benar terjaga dari intervensi hawa nafsu manusia. Oleh karena itu para ulama sering menyebut istilah Sunnah Muthahharah (Sunnah yang suci), sebab hadits yang shahih memang merupakan wahyu Allah (Surat An Najm: 3-4). Rasulullah shallallah 'alaihi wa sallam sendiri tidak mungkin akan menciptakan hadits, sebab jika beliau mampu berbuat demikian, sudah tentu beliau akan melakukannya sejak sebelum menjadi Nabi. Siapapun yang bisa melihat keselarasan antara Al Qur’an dan Sunnah, dia akan menyimpulkan bahwa sangat mustahil hadits merupakan hasil ciptaan (gubahan) Nabi sendiri.

Syarat ketat dalam memelihara kejernihan wahyu (hadits) sudah tentu sangat berbeda dengan syarat-syarat penyebaran ilmu dan penggaliannya. Dalam penyebaran dan penggalian ilmu tidak mungkin diterapkan syarat-syarat seketat proses penshahihan sebuah hadits. Mungkin, jika sekedar meminjam istilah, seperti makruf (dikenal) atau majhul (tidak dikenal), itu tidak mengapa. Tetapi jika menerapkan metode hadits secara penuh, tentu tidak ada satu pun ustadz Salafy di muka bumi ini yang berhak diterima ilmunya, sebab tidak satu pun dari mereka yang bisa mencapai derajat perawi hadits yang tsiqah. Seperti yang pernah disinggung sebelumnya, perkara majhul atau makruf dalam penyebaran dan penggalian ilmu, lebih sebagai rekomendasi yang bersifat ahsan (lebih baik), bukan wajib mutlak.

Dalam kenyataannya, sifat majhul di kalangan dai Salafy sifatnya relatif. Apalagi jika ukurannya seperti yang dikatakan oleh pengelola situs itu, “tidak dikenal, baik oleh para ustadz salafiyin maupun para thulabul ilm.” Disini pertanyaan bisa dibalik, “Ustadz salafiyin dan thulabul ilmi mana yang Anda maksud?” Di Indonesia tumbuh beberapa majlis dakwah yang menasabkan dirinya kepada Dakwah Salafiyah. Masing-masing majlis memiliki ustadz dan penuntut ilmu yang berbeda-beda. Seorang ustadz yang dikenal di suatu majlis, belum tentu dikenal di majlis lain; Penuntut ilmu yang dikenal di suatu majlis, juga belum tentu dikenal di majlis lain. Ukuran “ustadz salafiyin” dan “thulabul ilmi” akhirnya sangat subyektif dan eksklusif, tergantung siapa yang mengucapkannya.

Seandainya ada seseorang yang telah dikenal luas sebagai ustadz Salafy (bahkan disebut sebagai ustadz besar), tetapi ternyata dia menyimpang dari manhaj Ahlus Sunnah, tidak otomatis dia diterima ilmunya, meskipun dia termasuk tokoh yang makruf (dikenal) di kalangan Salafy maupun masyarakat luas. Tokoh-tokoh serupa itu banyak contohnya, baik di Indonesia atau di Timur Tengah. Contoh, Zuhair Syawisy, pemilik Maktab Al Islami, di Libanon. Tokoh satu ini semula disebut-sebut sebagai murid Al Albany rahimahullah, bahkan dianggap shahabat baik beliau. Tetapi di kemudian hari Al Albany mengingkari perilaku buruknya. Apa artinya kemakrufan dalam hal seperti ini?

Alangkah baik jika disini kita bersimpuh untuk mendengarkan petuah dari Al Imam Ahlus Sunnah, Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baz  rahimahullah. “Kita harus bijak, netral, dan adil dalam menilai sesuatu. Kebenaran lebih utama dari yang lain, maka bila ia memiliki kebenaran dan kebathilan, kita ambil kebenaran dan meninggalkan kebathilan, sehingga bila ia salah dalam suatu masalah, haruslah diperingatkan dan mengatakan kepadanya: ‘Anda salah dalam masalah ini, karena dalil tersebut maksudnya begini dan begini,’ tidak malah menjatuhkan kebenarannya secara keseluruhan, tetapi kita harus mensyukuri apa-apa yang benar darinya seperti imam-imam yang empat dan lainnya. Karena setiap orang memiliki kesalahan dalam beberapa persoalan.” (Baca kembali wawancara Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah dengan majalah Ishlah, seperti tertera dalam buku ini, hal. 165-166).

Pendapat beliau di atas dikuatkan oleh sebuah ayat dalam Al Qur’an: “Maka sampaikan berita gembira kepada hamba-hamba-Ku, yaitu orang-orang yang mendengar perkataan, kemudian mengikuti yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah kaum ulul albaab.” (Az Zumar: 17-18).





Offline Hak Jawab

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Okt 2006
  • Tulisan: 16
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #1 pada: 03 Oktober 2006, 08:47:30 »
Jawaban Atas Kritik yang Dilontarkan Pengelola Situs Muslim.or.id (Lanjutan)


Catatan Pembuka:

Assalamu’alikum Warahmatullah Wabarakaatuh. Kemarin pagi, 2 Oktober 2006, saya mencoba posting sebuah surat terbuka untuk situs Muslim.Or.Id,  di Forum GDI MyQuran. Mula-mula posting-an saya gagal karena karakter melebihi batas maksimum (20.000 karakter). Untuk menyiasati keadaan, saya atur posting-an menjadi 2 bagian, sesuai batas karakter maksimum itu. Kemudian saya coba lagi posting. Namun sayang, berkali-kali saya gagal. Keterangan dari server MyQuran, ada proses yang error. Karena saya tidak bisa berlama-lama menanti, saya tinggalkan upaya itu, meskipun telah mencoba cukup lama. Tidak lama kemudian, datang informasi dari seorang teman (via SMS) yang mengabarkan bahwa postingan saya tampil di Forum GDI MyQuran. Terus-terang saya terkejut, tetapi gembira juga. Semula saya mengira upaya ini akan mengalami hambatan-hambatan, tetapi Alhamdulillah dimudahkan.

Setelah lihat ke Forum GDI ini lagi, ternyata telah masuk dua posting yang sama dari saya. Saya pilih postingan yang belum dikomentari sehingga bisa runut antara bagian pertama dan lanjutannya. Mohon user-user yang sudah memberi komentar di postingan terputus itu, silakan Antum pindah kesini saja.

Akhi, sebenarnya tulisan ini harusnya masuk ke buku, tapi pihak penerbit (Al Hujjah) keberatan, karena alasan nanti bisa lebih menebalkan buku sehingga harga berubah. Ini sudah ana tulis sekitar Maret 2006 lalu, tak lama setelah Muslim.Or.Id membangun opini negatifnya.

Bagaimanapun ini ana anggap sebagai "latihan kedewasaan" saja. Kan selama ini, grup Majalah Syariah atau Grup Majalah As Sunnah & Al Furqan dianggap sebagai kalangan yang "paling Salafy". Ya sekali-kali kita saling berbagi nasehat, tidak harus terus-menerus "memberi" nasehat, biar tidak terjadi tirani dalam kebenaran. Insya Allah sekeras apapun komentar saya kepada Muslim.Or.Id, saya tetap menyediakan ruang toleransi. Mohon tulisan ini dibaca tuntas, terutama bagian paragraf-paragraf terakhir.

Mohon maaf kalau karena proses 'error' yang sempat terjadi, postingan jadi ganda. Mohon admin -entah gimana caranya- bisa mengatur lagi, sehingga bisa rapi dan enak dilihat, tidak perlu ada postingan ganda. Terimakasih untuk semuanya. Mohon maaf atas semua kesalahan dan kekurangan. Selamat shaum Ramadhan, semoga diberi kekuatan lahir dan bathin. Sekaligus saya pamit. Lain kali mampir ke forum GDI MyQuran lagi.  

Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.
 


Berikut ini lanjutan postingan kemarin:


(5)  Ketiga, isi buku tersebut sangat tidak ilmiah,… dan memaparkan pandangan-pandangannya yang sangat tidak ilmiah (juga tidak objektif) disertai dengan fakta-fakta yang juga tidak ilmiah,…
   
Isi buku yang saya tulis disebut sangat tidak ilmiah, di dalamnya terdapat pandangan-pandangan yang sangat tidak ilmiah dan tidak obyektif, juga buku itu didasari fakta-fakta yang juga tidak ilmiah. Ini adalah sebuah penilaian yang sangat negatif, bahkan ia bisa disebut sebagai penolakan keras. Dasar yang dipakai pengelola situs itu adalah kualitas keilmiahan buku saya.

Istilah ilmiah berasal dari kata ilmu (al ilmu). Para ulama mendefinisikan ilmu sebagai idrakus syai’i bi haqiqatih (pengertian tentang sesuatu sesuai hakikatnya). Syaikh Al Utsaimin rahimahullah ketika memberikan syarah atas kitab Tsalatsatul Ushul juga menyebutkan deifinisi ini. Sementara Syaikh Abdurrahman Qasim An Najdiy rahimahullah dalam syarah-nya terhadap kitab yang sama, berkata: “(Al Ilmu) adalah mengenal suatu petunjuk dengan dalilnya. Al Ilmu secara mutlak, maka yang dikehendaki dengannya ialah Ilmu Syar’i, yang mendatangkan manfaat dengan mengetahuinya, dimana hal itu diwajibkan atas setiap mukallaf (setiap Muslim yang telah terbebani hukum Syar’i) dari perkara agamanya.”

Jika merujuk penjelasan di atas, maka suatu pandangan disebut ilmiah jika ia merupakan pandangan yang benar, yaitu sesuai dengan hakikat apa-apa yang dipandangnya. Adapun jika pandangan itu dibangun berdasarkan kekeliruan, kerancuan, atau dusta, maka ia tidak bisa disebut ilmiah.

Adapun parameter kebenaran bagi setiap Muslim adalah Al Qur’an dan Sunnah Shahihah. Hal ini sesuai dengan petunjuk Al Qur’an Al Karim: “Maka jika kamu berselisih pendapat tentang suatu perkara, maka kembalikanlah kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul-Nya (Sunnah Shahihah), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhir.” (An Nisaa’: 59). Al Qur’an dan Sunnah Shahihah merupakan referensi tertinggi ketika terjadi perselisihan. Siapa yang mendasarkan pandangannya kepada keduanya akan mendapati kebenaran, sedang siapa yang menyelisihi keduanya, maka dia berada di atas kesesatan. “Tidak ada sesudah kebenaran itu, kecuali kesesatan, maka bagaimanakah kamu bisa dipalingkan?” (Yunus: 32).

Contoh, seorang budak di jaman Nabi shallallah 'alaihi wa sallam, ketika ditanya dimanakah Allah? Maka dia menjawab, “Di atas langit.” Ini adalah jawaban yang ilmiah, meskipun budak itu tidak menyebutkan satu pun ayat yang memuat penjelasan bahwa Allah bersemayam di atas Arsy. Sebaliknya, teori Evolusi Darwin merupakan pandangan yang tidak ilmiah, meskipun beribu-ribu ilmuwan Biologi berusaha mendukung teori tersebut dengan bukti-bukti yang mereka klaim.

Disini sering muncul kerancuan. Sebagian orang memandang bahwa suatu pandangan disebut ilmiah ialah jika di dalamnya bisa ditemui banyak kutipan pendapat tokoh-tokoh, banyak judul buku yang disebut, banyak catatan kaki, serta terdapat daftar pustaka yang memuat ratusan judul buku rujukan. Dalam dunia akademis, ukuran seperti ini banyak dipakai, termasuk untuk mendukung pemikiran-pemikiran sesat. Tokoh-tokoh Syiah sering menulis buku yang ditujukan untuk kalangan di luar Syiah dengan menerapkan metode yang seolah-olah ilmiah, padahal isinya menyesatkan. Contoh buku sesat yang ditulis seolah ilmiah itu ialah Al Murajaat, karya Sharafuddin Al Musawi, tokoh Syiah di Libanon. Para orientalis dan pemikir liberal juga menempuh cara yang sama. Pemikiran-pemikiran mereka didukung data-data, fakta, kutipan, referensi, dll. seolah mengesankan sesuatu yang benar, padahal hakikatnya adalah bathil.

Sebaliknya, banyak sekali ulama-ulama Ahlus Sunnah yang menulis buku dengan pendekatan sederhana. Disana tidak banyak judul-judul buku yang disebut, kadang hanya disebutkan pendapat ulama tertentu tanpa menyebutkan sumbernya, kadang hanya menyebut, “Qala Rasulullah shallallah 'alaihi wa sallam,” tanpa menyebut imam periwayat haditsnya, bahkan kadang mereka hanya menyebut “Qalallah,” tanpa menyebut alamat ayat yang dituju dalam Al Qur’an. Jika mereka berfatwa, keadaannya bisa lebih sederhana lagi. Kalau Anda membaca kitab Tafsir Ibnu Katsir, disana beliau banyak menyebut pendapat Salafus Shalih radhiyallahu 'anhum. Tapi coba perhatikan, ketika Ibnu Katsir menyebut sebuah pendapat ulama, apakah beliau menyebutkan pendapat itu diambil dari buku apa, jilid berapa, halaman berapa, terbitan mana,dsb.? Ternyata tidak. Begitu pula dengan buku-buku yang ditulis Syaikh Al Imam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah. Buku-buku beliau umumnya ringkas, tidak tebal, tidak berjilid-jilid. Namun pengaruh buku-buku itu –atas nikmat Allah- bagiperbaikan Ummat sangat besar. Hanya Allah saja yang tahu seberapa besar pengaruhnya bagi Ummat ini. Para ulama pun seolah tidak lelah-lelahnya membuat syarah atas buku-buku beliau dalam kitab-kitab ilmiah yang sangat berharga.

Walaupun begitu, Ummat Islam telah memaklumi bahwa buku-buku yang ditulis oleh para ulama dengan metode sederhana itu sebagian besarnya benar (benar dari segi isi dan metodenya). Ummat tidak pernah khawatir, sebab mereka percaya bahwa para ulama rahimahumullah itu adalah sosok-sosok yang kokoh ilmunya, dalam pemahamannya, serta bersih aqidahnya dari penyimpangan.

Bukan berarti metode yang mencantumkan banyak referensi itu keliru, tidak sama sekali. Metode seperti ini sangat dihargai di dunia akademis. Tetapi yang perlu dicermati adalah tidak semua orang berada dalam kelapangan ketika mengemukakan pendapat-pendapat. Kadang ada hambatan-hambatan yang dihadapi, misalnya tidak tersedia buku-buku rujukan, sulit memahami kalimat-kalimat yang rumit, terlupa dengan suatu ayat, hadits, atau pendapat ulama. Juga ada yang sengaja menulis secara sederhana agar memudahkan para pembaca (terutama yang kurang terbiasa dengan kerumitan dalil-dalil) dan tidak membebani dari segi biaya.

Kalau Anda baca buku Luqman Ba’abduh berjudul Mereka Adalah Teroris. Secara metode, buku itu sangat ilmiah, disana terdapat berbagai rujukan buku, takhrij hadits, pendapat ulama, dsb. Tetapi metode itu tidak lantas membuat buku Luqman Ba’abduh sepi dari kritik. Kenyataannya, di tempat-tempat tertentu dia banyak mengutip sumber-sumber yang benar (dari kalangan ulama Ahlus Sunnah), tetapi ketika menggiring ke arah opini, Luqman Ba’abduh banyak melontarkan pikiran-pikirannya sendiri, sehingga kemudian dia terjatuh dalam hal-hal yang sebenarnya sangat diingkarinya. Jika kebenaran sekedar dilihat dari banyaknya referensi dan kutipan, buku Luqman Ba’abduh tersebut pasti lolos.  

Sungguh sangat disayangkan ketika ada sebagian orang yang menyebut buku ini dengan istilah sangat tidak ilmiah (diulang sampai tiga kali) dan tidak obyektif. Seolah dalam buku ini terdapat kesesatan-kesesatan yang akan menjerumuskan para pembacanya ke pintu-pintu neraka. Na’udzubillah min dzalik. Lebih ironis lagi ketika orang itu menyebut sangat tidak ilmiah, tanpa didasari alasan yang jelas. Bahkan dia menyebut buku ini tidak obyektif, sementara dia sendiri belum membaca buku ini secara tuntas, sehingga ketika menyebutkan judul dan penulisnya, dia keliru. Coba Anda lihat baik-baik, sebenarnya siapa yang tidak ilmiah dan tidak obyektif? Dalam buku ini saya sebutkan ayat-ayat Al Qur’an, petunjuk hadits-hadits Nabi shallallah 'alaihi wa sallam, pandangan sebagian ulama Ahlus Sunnah, juga disertai penyebutan sumber-sumber data yang saya ketahui. Jika semua itu dianggap tidak ilmiah, lalu apa kata kita tentang sebuah paragraf pendek (dari Muslim.or.id), kering dari dalil, berisi tahdzir kasar yang bisa menjatuhkan nama baik orang lain? Ya, Anda bisa menjawabnya sendiri.

Kalau Anda membaca artikel Ustadz Muhammad Arifin, MA. yang berjudul Bahtera Dakwah Salafiyah di Lautan Indonesia, dan artikel yang ditulis Ustadz Abdullah bin Taslim yang berjudul Menjawab Tudingan Pada Dakwah Salafiyah dan Konsultasi Ustadz: Fitnah Sururiyyah! Disana Anda akan mendapati bahwa beberapa hal yang saya kemukakan dalam buku ini,juga dikemukakan oleh ustadz-ustadz tersebut. Karena alasan itu pula saya sengaja mengutip sebagian isi tulisan-tulisan beliau. Bahkan kalau dilihat dari sisi fakta-fakta seputar gerakan dakwah kelompok Salafy tertentu, maka buku ini lebih baik dari artikel-artikel itu, sebab di dalamnya dimuat fakta-fakta tertulis sebagaimana yang ada di media-media. Apa yang diutarakan Ustadz Muhammad Arifin atau Ustadz Abdullah Taslim umumnya berupa fakta kesaksian pribadi.

Bagi sebagian orang, mereka akan memberi maaf atas kekurangan tokoh-tokohnya, tetapi tidak mau memberi toleransi sedikit pun atas kekurangan saudaranya yang lain. Ya, tidak mengapa, setiap orang akan memikul amal-amalnya sendiri.

   
(6) …dia (Abdurrahman Al Thalibi -mungkin maksudnya “Abdurrahman At-Thalibi”) membagi salafi di Indonesia menjadi 2 (Yamani dan Haroki)

Kalimat dari pengelola situs itu yang berbunyi,  (Abdurrahman Al Thalibi -mungkin maksudnya “Abdurrahman At-Thalibi”), ini diulang sampai dua kali. Padahal seandainya dia menulis sekali saja, itu sudah cukup. Entahlah, apa maksudnya pengulangan kalimat ini dengan redaksi 100 % sama dengan kalimat yang disebutkan di bagian sebelumnya.

Saya menduga, pengelola situs itu menuduh buku ini sangat tidak ilmiah dan tidak obyektif  berdasarkan alasan kalimat di atas. Dia tidak setuju atau tidak terima dengan pembagian Salafy di Indonesia menjadi dua, yaitu Salafy Yamani dan Salafy Haraki (bukan Haroki). Disini saya akan coba menjawab tuduhan di atas secara runut, yaitu sebagai berikut:

1. Pembagian Salafy di Indonesia menjadi Salafy Yamani dan Haraki bukanlah tujuan inti dari buku ini. Ia hanya sebagian fakta yang tidak mungkin diabaikan ketika kita hendak melihat sepak-terjang Salafiyun mantan Laskar Jihad dari berbagai sisi. Mohon perhatian kita diarahkan ke maksud awal buku ini, yaitu menasehati sebagian orang yang bersikap keras dalam dakwah Islam.

2. Coba perhatikan kalimat dari situs itu…dia (Abdurrahman Al Thalibi) membagi salafi di Indonesia menjadi 2 (Yamani dan Haroki). Sungguh, sejak awal buku sampai akhirnya, saya tidak pernah sama sekali melakukan pembagian Salafy seperti yang dituduhkan tersebut. Itu adalah kesimpulan dari penuduh sendiri. Kalimat yang saya gunakan dalam buku ini ialah, “Selama ini muncul kesan kuat bahwa komunitas Salafiyah di Indonesia terpecah dalam dua kelompok besar yang satu sama lain saling ‘bermusuhan’.” (Lihat kalimat pertama di bab Antara Salafy Yamani dan Haraki, di hal. 20).*) Bagi orang-orang berakal, mereka pasti memahami bahwa kalimat tersebut maknanya adalah indikasi (tampak tanda-tanda), bukan klasifikasi (pembagian secara tegas). Akhiy, bagaimana mungkin saya berani membagi-bagi komunitas Ahlus Sunnah seperti yang Engkau tuduhkan? Malah kalau kalian membaca benar-benar buku ini, kalian akan tahu bahwa sejak awal saya telah meminta maaf jika pemilihan istilah-istilah yang ditempuh dalam buku ini tidak memuaskan pihak-pihak yang disebut. (Lihatlah kembali bagian Metode Penetapan Istilah, pada hal.5-7).  

*) Kalimat selengkapnya dalam paragraf  tersebut ialah: “Selama ini muncul kesan kuat bahwa komunitas Salafiyah di Indonesia terpecah dalam dua kelompok besar yang satu sama lain saling “bermusuhan”. Satu kelompok ialah Salafy Yamani yang merupakan kelanjutan dari Laskar Jihad di masa lalu, dan mereka merupakan jaringan para dai Salafy yang berafiliasi kepada syaikh-syaikh Salafy di Yaman dan Timur Tengah. Sedang satu kelompok lagi ialah Salafy Haraki, yaitu dakwah Salafiyah yang menerapkan sistem pergerakan (harakah).” (Hal. 20). 
     
3. Penyebutan istilah Haraki dalam buku ini memiliki asal-usul. Referensi terbanyak yang saya gunakan ketika memahami Sururiyyah, bersumber dari media-media yang dikelola Salafy fraksinya Umar As Sewed, terutama dari situs salafy.or.id. Sedangkan disana, berbagai kalangan Salafy dimasukkan dalam kategori Sururi, termasuk pihak-pihak yang tidak ada hubungan dengannya. Ustadz-ustadz Salafy yang selama ini dikenal di Indonesia, baik yang berdomisili di Yogyakarta, Solo (grup majalah As Sunnah), Jakarta,Bogor, Gresik, Bandung, Surabaya, bahkan sampai yang di Makasar, mereka disebut Sururi. Padahal di antara ustadz-ustadz itu ada yang membantah keras Sururiyyah. Kalangan Ihyaut Turats Al Islamy tidak suka jika disebut sebagai Sururi, seperti pengakuan Syarif bin Muhammad Fuad Hazza yang telah disebutkan sebelumnya (hal. 34-36). Penyebutan yang ditempuh oleh fraksinya Umar As Sewed inilah yang kemudian saya pilih, meskipun untuk menyatukan berbagai elemen Dakwah Salafiyah di luar kelompok mereka dalam satu sebutan (yaitu Sururi), tidaklah tepat. Tetapi penyatuan sebutan ini lebih memudahkan,daripada menyebut berbagai elemen Salafiyah dengan sebutan masing-masing.

Adapun ketika dipilih istilah Haraki, hal itu dimaksudkan untuk menjangkau kalangan yang lebih luas, meskipun pada akhirnya ada yang tidak suka dengan penyebutan tersebut.  

4. Menyebut Ustadz Mubarak Bamuallim, Ustadz Abdurrahman At Tamimi, serta ustadz-ustadz di Yogya, Solo, Jakarta, Bogor, Gresik dan yang selainnya sebagai Haraki tidaklah tepat. Setahu saya, mereka hanya membina majlis taklim, melaksanakan daurah, mengelola media, mengelola lembaga pendidikan dan sejenisnya. Sangat sulit untuk mengatakan bahwa mereka terlibat aktif dalam tanzhim Salafy Haraki.
 
Namun untuk menyebut mereka bebas sama sekali dari hubungan dengan Salafy Haraki, hal itu juga tidak mungkin. Ustadz-ustadz yang tersebut di atas dikenal memiliki hubungan baik dengan Ihyaut Turats Al Islamy. Sejak lama, lembaga Al Irsyad Al Islamy menjalin hubungan baik dengan Ihyaut Turats. Saya sendiri pernah membaca sebuah versi Al Qur’an dan Terjemahnya, dari Depag. RI yang dicetak atas kerjasama Al Irsyad dengan Ihyaut Turats Al Islamy. Disana ada kata pengantar dari mantan Ketua Umum PP Al Irsyad, Ustadz Geys Amar, dalam bahasa Arab yang menjelaskan bahwa penerbitan Al Qur’an dan Terjemahnya itu atas kerjasama dengan pihak Ihyaut Turats Al Islamy. Kalau ustadz-ustadz di atas terlibat aktif dalam tanzhim Haraki, mungkin tidak, tetapi kalau bekerjasama baik (misalnya dalam penyaluran dana bantuan sosial dan dakwah), hal itu jelas terjadi. Begitu pula dengan dai-dai Salafy yang selama bertahun-tahun mendapat dukungan dana dari sebuah lembaga dakwah Salafiyah di Jakarta Selatan.    
  
5. Barangkali sebagian kalangan Salafy tidak suka disebut sebagai Haraki, tetapi jika melihat kenyataan di lapangan, eksistensi Salafy Haraki sendiri tidaklah bisa ditutup-tutupi. Bahkan versi dan pola Harakah Salafiyah itu sendiri bermacam-macam. Disana ada Al Muntada Al Islamy, Ihyaut Turats Al Islamy, Al Wahdah, Darul Birr, dan HASMI. HASMI sendiri secara tegas menyebut diri sebagai Harakah Sunniyyah Islamiyyah. Di luar nama-nama tersebut, mungkin masih ada nama-nama lain yang luput disebutkan. Seluruh Harakah Salafy rata-rata membawa missi dakwah menyebarkan ajaran Tauhid dan Ittiba’ Sunnah. Hal inilah yang membuat mereka dengan mudah dikenal sebagai Salafy (Ahlus Sunnah).  Meskipun, dari sisi pemikiran, kebijakan,dan praktik dakwah, mereka memiliki perbedaan-perbedaan. Keberadaan Harakah Salafy memiliki kontribusi besar dalam penyebaran Dakwah Salafiyah di Indonesia, meskipun sebagian orang merasa kelu untuk mengakui kontribusi tersebut.      
   
Pada intinya, penyebutan istilah Haraki itu memiliki latar-belakang, yaitu untuk mengganti istilah Sururi yang banyak dipakai Salafiyun mantan Laskar Jihad untuk menyebut elemen-elemen Dakwah Salafiyah di luar kelompok mereka. Meskipun, pada kenyataannya,ada di antara elemen-elemen Salafiyah yang tidak suka dengan istilah tersebut. Seandainya mereka benar-benar tidak suka, maka hal itu tidak bisa menjadi dalih untuk mengingkari keberadaan Harakah Salafy dan kontribusi mereka dalam Dakwah Salafiyah di Indonesia.

« Edit Terakhir: 04 Oktober 2006, 07:49:21 oleh Hak Jawab »

Offline Hak Jawab

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Okt 2006
  • Tulisan: 16
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #2 pada: 03 Oktober 2006, 08:51:48 »
Jawaban Atas Kritik yang Dilontarkan Pengelola Situs Muslim.or.id (Selesai)



(7) …dan bagi para thulabul ilm yang sudah lama belajar niscaya mengetahui bahwa tajamnya pena si Abdurrahman Al Thalibi tertuju menikam dada para salafiyyin.

Perhatikan kalimat di atas …tajamnya pena si Abdurrahman Al Thalibi. Pengelola situs itu menyebut nama penulis dengan kata-kata “Si”. Pada sebagian masyarakat di Indonesia, istilah “Si” memiliki konotasi negatif, yaitu digunakan untuk menyebut binatang. Selama saya menulis buku “Dakwah Salafiyah” ini saya tidak pernah menyebut Ja’far Umar, Umar As Sewed, Luqman Ba’abduh dan lainnya dengan kata-kata “Si”. Bahkan kadang mereka saya sebut dengan panggilan Ustadz (bukan Al Ustadz). Tentu kita tidak bisa memaksakan agar setiap orang bersikap lebih sopan, tetapi kata-kata “Si” itu jika diletakkan di depan nama-nama tertentu yang dianggap sebagai panutan kelompok tertentu, maka mereka pasti akan kesal. Sekedar contoh, bagi sebagian Muslim di Indonesia, menyebut nama Usamah bin Ladin tanpa disertai kata-kata “Syaikh”, hal itu sudah dianggap sebagai kekeliruan.

Melalui kalimat di atas, pengelola situs itu menuduh saya telah menikam dada Salafiyin. Kalimat di atas jika disederhanakan bisa menjadi, “Bagi para Salafy senior, mereka pasti tahu bahwa tulisan Abdurrahman Al Thalibi itu diarahkan untuk menikam dada Salafiyin (di Indonesia).” Paling tidak, demikianlah pemahaman yang secara sederhana bisa saya tangkap dari kalimat itu.

Saya tidak pernah bermaksud menikam seseorang, apalagi Ahlus Sunnah. Apa yang dituju dengan buku “Dakwah Salafiyah” ini adalah mengingatkan sebagian orang agar tidak mudah-mudah berbuat kekerasan kepada sesama saudaranya (Muslim). Sikap kekerasan itu tidak sesuai dengan prinsip dakwah Islam yang hikmah, mauizhah hasanah, dan mujadalah secara ihsan. Bahkan sikap kekerasan itu bisa mencoreng nama baik Salafus Shalih radhiyallahu 'anhum dan Dakwah Salafiyah secara umum. Jika ada penyimpangan-penyimpangan dalam Syariat, alangkah baik jika disikapi secara ilmiah, dengan dialog, bayan, dan sebagainya.

Bagi orang-orang tertentu yang telah dikuasai oleh sempitnya fanatisme dan eksklusifisme, bisa jadi sebagian pandangan yang dikemukakan dalam buku ini sulit mereka terima. Tetapi jika mereka berani mengakui bahwa Salafiyah adalah manhaj yang bersifat ‘alamiyyah (universal) yang tidak dibatasi oleh sekat-sekat geografis, organisasi, kelompok dsb., mereka akan tahu bahwa apa yang dikemukakan disana tidaklah berlebihan. Disini ingin ditekankan, bahwa Salafiyah itu milik semua kaum Muslimin, sebab istilah Salafiyah itu dinisbahkan kepada Salafus Shalih radhiyallahu 'anhum yang merupakan nenek-moyang seluruh Ummat Islam, baik yang di Timur maupun Barat. Salafiyah bukan milik syaikh tertentu, ustadz tertentu, madrasah tertentu, majlis taklim tertentu, situs internet tertentu, majalah tertentu dsb. Mungkin, inilah perkara yang menyebabkan buku ini disebut menikam dada Salafiyin.

Alangkah bahagianya jika keberkahan Salafiyah bisa diterima oleh Ummat Islam secara luas. Semakin banyak yang menerima hikmah Tauhid dan Sunnah, maka hal itu merupakan kemenangan besar. Berbeda jika tujuan dakwah itu adalah demi kebanggaan diri, merasa tinggi dengan gelar Salafy, lalu menganggap orang lain di luar kelompoknya sebagai calon “Fin Naar”. Keangkuhan seperti inilah yang kemudian kerap melatar-belakangi sikap-sikap keras (syadid) dalam dakwah.

Dalam Al Qur’an, Allah Subhanahu Wa Ta'ala menggambarkan betapa mulianya akhlak Nabi shallallah 'alaihi wa sallam.“Sungguh benar-benar telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kalangan kalian sendiri. Sangat berat baginya penderitaan yang menimpa kalian, dia sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagi kalian, dan kepada orang-orang beriman dia sangat penyantun dan belas-kasih.” (At Taubah: 128). Seharusnya, para dai Salafy mengambil pelajaran seluas-luasnya dari ayat di atas, sebab sifat Nabi kita terhadap Ummatnya sangatlah penyantun. Sampai-sampai menjelang wafatnya pun,beliau terus memikirkan nasib Ummatnya.   

Jika kemudian saya dituduh telah “menikam dada Salafiyah”, tentu saya menuntut disebutkannya bukti-bukti. Janganlah seseorang dihukumi begitu buruknya, sedangkan bukti-bukti untuk menghukuminya tidak disebutkan sedikit pun. Buktinya hanya satu, yaitu tentang kesenioran dalam mengaji Salafy.
   
8) (8)Kami (muslim.or.id) berlepas diri dari buku tersebut!!

Kalimat di atas aslinya memang ditebalkan. Ia merupakan satu-satunya kalimat dalam pernyataan situs itu yang ditebalkan. Hal itu menunjukkan, bahwa kalimat di atas merupakan kesimpulan besar yang ingin diperlihatkan pihak pengelola situs kepada pembaca-pembacanya.

Kalimat berlepas diri (bara’ah) seperti di atas, merupakan tanda bahwa pengelola situs itu –mungkin sebagiannya saja-, adalah orang-orang yang tidak mengerti prinsip-prinsip dasar Islam. Seharusnya mereka membaca Surat Al ‘Ashr dengan baik. Disana dikatakan: “Demi waktu. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, dan saling nasehat-menasehati dalam kebenaran dan keshabaran.” (Surat Al ‘Ashr).

Setiap Muslim, satu dengan lainnya saling bersaudara. Jika seorang Muslim melakukan kekeliruan, maka Muslim yang lain harus mengingatkan, atau menasehatinya dengan baik. Dalam kaitan dengan buku ini, nasehat, kritik, atau bahkan bantahan pun belum disampaikan, tetapi sudah buru-buru mengatakan, “Kami berlepas diri dari buku tersebut!!” Mengapa mereka begitu cepat berlepas diri, sedangkan membaca isinya saja mereka belum tuntas? Apakah mereka melihat bahwa dalam buku ini terdapat perkara-perkara kebathilan, kesesatan, kemungkaran, serta kedustaan besar? Wal ‘Iyadzubillah. Kita semua memohon perlindungan kepada Allah dari semua keburukan itu.

Tentu sangat enak menjadi seorang Salafy jika boleh berlepas diri sesuka hati, boleh mencela sesuka hati, boleh merendahkan sesuka hati, boleh menuduh sesuka hati, boleh men-tahdzir sesuka hati, dsb. Tetapi kenyataannya, jalan yang akan menghantarkan kepada syurga bukanlah jalan seperti itu. Setiap Muslim dituntut untuk bertanggung-jawab atas semua perbuatannya, baik lisan maupun tangannya. Bahkan di antara kita terikat hubungan persaudaraan (ukhuwwah) yang harus selalu dibina dan dipelihara. Bukan sedikit-sedikit bara’, sedikit sedikit tahdzir, sedikit-sedikit hajr (boikot), sedikit-sedikit mencela, menuduh, dsb.   

Rasulullah shallallah 'alaihi wa sallam berpesan: “Seorang Muslim itu saudara Muslim yang lain, dia tidak boleh dizhalimi, tidak boleh dibiarkan (tidak ditolong), tidak boleh dihina. Taqwa itu ada disini!, lalu beliau memberi isyarat ke arah dadanya tiga kali. Cukuplah seseorang disebut telah berbuat suatu kejahatan jika menghina saudaranya. Setiap Muslim terhadap Muslim yang lain, diharamkan darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (HR. Muslim).


(9) …dan kami nasehatkan kepada saudara-saudara kami agar tidak termakan oleh buku tersebut,

Dari kalimat di atas jelas-jelas pengelola situs itu hendak memberikan nasihat… dan kami nasehatkan kepada saudara-saudara kami. Seharusnya, yang namanya nasihat itu sifatnya baik-baik, bijaksana, dan lembut. Istilah nasihat tidak dihubungkan dengan sesuatu yang bersifat keras atau kasar. Tapi perhatikan kelanjutan kalimat tersebut …agar tidak termakan oleh buku tersebut. Kata “termakan” disana sudah tentu konotasinya negatif atau kasar. Seolah buku ini merupakan karya tidak bertanggung-jawab yang bersifat menipu atau menjerumuskan orang lain. Kalimat seperti itu bukan nasihat, tetapi tahdzir (peringatan) agar manusia bersikap waspada. 

Sebenarnya saya lebih berhak mengatakan agar Ummat tidak “termakan” oleh peringatan tak bertanggung-jawab yang disebarkan oleh para pengelola situs itu. Mereka sudah menghukumi karya orang lain, tetapi tidak menyebutkan alasan-alasan apapun, selain beberapa baris kalimat yang sangat subyektif.

Nasihat saya kepada orang-orang itu, baik operator maupun aktor intelektualnya, berhati-hatilah saudara dalam bertindak, menulis, bersikap dan sebagainya. Jangan hanya karena persoalan-persoalan yang belum jelas, Anda sudah menghukumi orang lain, dimana jika karya Anda sendiri dihukumi secara semena-mena Anda akan keberatan. Bersikap adillah, sebab seseorang yang Anda tahdzir itu pada dasarnya masih saudara Anda sendiri. Jika kepada orang kafir saja kita dilarang bersikap zhalim, apalagi kepada sesama saudara Muslim. Atau jangan-jangan, mereka sudah tidak lagi memandang saya sebagai saudaranya lagi? Semoga tidak sampai sejauh itu.

   
(10) …dan sebaiknya ikhwah yang sudah terlanjur membaca buku tersebut agar mendiskusikan semua isi buku tersebut dengan ustadz yang benar-benar mengetahui realita yang sebenarnya…
   
Sepertinya para pengelola situs itu sudah terjangkiti rasa khawatir yang begitu kuat. Sejak awal kalimat sampai akhir (di bagian ini), isinya bersifat merendahkan, menuduh, menghina, menghakimi, berlepas-diri, memperingatkan dan seterusnya. Tidak ada kata-kata yang begitu indah didengar, kecuali kalimat Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakaatuh yang ditulis di bagian terdepan. Sebenarnya, sejak awal kalimat tahdzir mereka sudah jelas, tetapi itu masih ditambah lagi dengan kalimat…dan sebaiknya ikhwah yang sudah terlanjur… Tampak sekali, mereka begitu khawatir dengan munculnya buku ini, sampai-sampai harus mengingatkan agar mereka yang sudah terlanjur membaca, mendiskusikan semua isi buku ini dengan ustadz-ustadz yang lebih tahu waqi’ (realitas). Padahal biasanya, mereka sangat risih mendengar istilah waqi’.

Saya kira hal seperti ini tidak perlu dikomentari lebih jauh. Sikap pengelola situs itu sewarna sejak awal sampai akhir, mereka bersikap negatif terhadap kemunculan buku ini. Ya, itu hak setiap orang, kita tidak bisa memaksakan.


Pandangan Umum


Sebenarnya kita tidak boleh apriori menghadapi kritik dari siapapun. Adanya kritik menunjukkan adanya perhatian dan komitmen kepada kebenaran (al shawab). Tetapi kita juga bisa membedakan apakah suatu kritik bersifat ilmiah, atau ia hanya didasari emosi belaka. Apa yang ditunjukkan oleh situs di atas sebenarnya sudah jauh lebih serius dari sekedar kritik. Mereka telah mencela, merendahkan, menghakimi, juga men-tahdzir dengan keras. Tidak tercermin dari kalimat-kalimat mereka adab orang-orang beriman kepada saudaranya.

Sikap orang-orang itu merupakan contoh nyata sikap keras (syadid) dalam dakwah. Bahkan mereka telah menghakimi orang lain secara tidak bertanggung-jawab. Buktinya, mereka tidak menyebutkan alasan-alasan yang jelas di balik penghakimannya. Bahkan mereka tampaknya belum tuntas membaca buku ini, sehingga sekedar menyebutkan nama penulis dan judul bukunya saja, mereka keliru. Lalu apa yang akan kita katakan terhadap kenyataan seperti ini?

Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaly hafizhahullah dalam buku beliau tentang “Mengapa Memilih Manhaj Salaf”, menyebutkan riwayat-riwayat dari Nabi shallallah 'alaihi wa sallam bahwa suatu masa nanti akan muncul jaman fitnah. Di jaman itu, sumpah mendahului kesaksian, dan kesaksian mendahului sumpah. Maksudnya, banyak manusia telah bersumpah sebelum menjadi saksi atas suatu perkara. Sebaliknya, mereka berani memberi kesaksian sebelum diminta sumpahnya.

Hal ini tidak berbeda jauh dengan orang-orang yang begitu mudah menghakimi orang lain, tetapi mereka sendiri tidak tahu perkara-perkara yang dihakiminya. Seolah, di tangan mereka terdapat wewenang untuk menjatuhkan penilaian, sedang apakah penilaian itu bertanggung-jawab atau tidak, dipikirkan kemudian.

Akhirnya, saya berbaik sangka bahwa kritikan keras situs tersebut terhadap buku ini hanyalah sikap emosional satu atau dua orang saja, dan tidak mewakili keseluruhan suara pengelola situs itu. Jawaban yang saya sampaikan disini hanyalah berkaitan dengan penggunaan hak-jawab atas kritik yang ditujukan kepada saya. Nama baik situs itu tetap terpelihara dan Ummat pun tidak perlu meragukan situs itu. Disana ada indikasi-indikasi upaya membangun komunikasi dakwah secara lebih bijaksana. Sesinis apapun jawaban yang dikemukakan disini, ia tidak berhubungan dengan citra situs itu secara keseluruhan, ia hanya berkaitan dengan hak-jawab.

Mohon maaf atas segala kesalahan dan kekurangan. Kepada Allah jua saya memohon ampunan dan menghiba rahmat-Nya. Wallahu a’lam bisshawaab.




Abu Abdirrahman At Thalibi
pronusantari@yahoo.com



Offline Khilafah

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 1.032
  • Ittiba' Salafus shalih
    • Lihat Profil
    • Ittiba' Salafus shalih
« Jawab #3 pada: 03 Oktober 2006, 10:03:06 »
Jazakallah ya ustadz, Insyaallah ana masukan http://at-tabayyun.tripod.com/

Offline kiripayun

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 734
  • Lokasi: jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #4 pada: 03 Oktober 2006, 11:28:00 »


Assalamu’alikum Warahmatullah Wabarakaatuh.


Ramadhan 1427 Hijriyah 
Abu Abdurrahman At Thalibi 



Pak, mengapa  pake nama samaran?(ini saya dapatkan dari tulisan pak Ust.Abduh Zulfidar Akaha penulis buku STSK). 

Sekedar mengingatkan, ada orang lain protes nih Pak dengan nama Bapak (ko nama sendiri di protes orang yah:-) ),yg protes ini teman Bapak ,yakni Ust.Abduh Zulfidar Akaha dalam sebuah situs.Berikut saya kutipkan:

Kutip
Mas , yang benar itu Abu Abdirrahman, bukan Abu Abdurrahman. Antum bisa bahasa arab kan?
Kalo antum mudhaf mudhaf ilaih seperti ini saja belum paham, bagaimana antum bisa memahami yang lebih dari itu? Lagi pula, namanya yang benar adalah Abu Abdirrahman. Pake huruf “i”. Meski ini adalah nama samaran.

Note :
-bold dari saya
-"mas" disini ditujukan kpd lawan dialog Pak Abduh
« Edit Terakhir: 03 Oktober 2006, 11:31:01 oleh kiripayun »

Offline fei shin muslim

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 2.440
  • Lokasi: klaten-bandung-jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • Hanya manusia biasa
    • Lihat Profil
« Jawab #5 pada: 03 Oktober 2006, 13:07:46 »
apakah ada pihak yg akan memecah dakwah salaf lagi??

Karena Al Haq itu Lebih kami Cintai

Akan lahir dari ilmu: kemuliaan walaupun orangnya hina, kekuatan walaupun orangnya lemah, kedekatan walaupun orangnya jauh, kekayaan walaupun orangnya fakir, dan kewibawaan walaupun orangnya tawadhu'

Wahab bin Munabbih - rahimahullah

Offline kiripayun

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 734
  • Lokasi: jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #6 pada: 03 Oktober 2006, 15:45:30 »
Lantas siapa pula pemberi mukadimah yang menggunakan nama (samaran) Abu Abdillah Al-Mishri?

Offline fei shin muslim

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 2.440
  • Lokasi: klaten-bandung-jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • Hanya manusia biasa
    • Lihat Profil
« Jawab #7 pada: 03 Oktober 2006, 15:58:19 »
Apakah penulis buku ini adalah orang2 yg megaku-ngaku pengikut dakwah salaf atau ingin menyebarkan syubhat dari dalam....?
Manhaj salaf adalah manhajnya ummat Islam,jadi wajib bagi ummat Islam untuk mengikutinya...,bukan malah mencelanya dan menuduhnya manhaj buatan pemerintah........,astaghfirullah...........
Karena Al Haq itu Lebih kami Cintai

Akan lahir dari ilmu: kemuliaan walaupun orangnya hina, kekuatan walaupun orangnya lemah, kedekatan walaupun orangnya jauh, kekayaan walaupun orangnya fakir, dan kewibawaan walaupun orangnya tawadhu'

Wahab bin Munabbih - rahimahullah

Offline Buldozer

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 385
  • Lokasi: kampung sunnah, desa salaf, kecamatan Iman, Kabupaten Ihsan, Kerajaan Allah swt
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
    • Merentas Jalan menuju Jannah
« Jawab #8 pada: 03 Oktober 2006, 17:26:13 »
apakah ada pihak yg akan memecah dakwah salaf lagi??



banyak om....siapa yang senang kalau salafiyah bersatu.....karena kalau salaf bersatu maka hizbiyun akan kocar-kacir......

sayang....merindukan kembali jaman disaat belum ada laskar jihad...disaat Jafar Umar Thalib, Yazid Jawas dan Hakim Abdat masih satu barisan  .......

apakah itu akan terulang kembali......

Offline fei shin muslim

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 2.440
  • Lokasi: klaten-bandung-jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • Hanya manusia biasa
    • Lihat Profil
« Jawab #9 pada: 04 Oktober 2006, 11:03:54 »
semoga saja akh buldozer.........
Karena Al Haq itu Lebih kami Cintai

Akan lahir dari ilmu: kemuliaan walaupun orangnya hina, kekuatan walaupun orangnya lemah, kedekatan walaupun orangnya jauh, kekayaan walaupun orangnya fakir, dan kewibawaan walaupun orangnya tawadhu'

Wahab bin Munabbih - rahimahullah

Offline amar

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Sep 2006
  • Tulisan: 2.945
  • Lokasi: Makassar
  • Jenis kelamin: Pria
  • Andai kukatakan dahulu kalau diri ini mencintaimu
    • Lihat Profil
« Jawab #10 pada: 05 Oktober 2006, 01:15:20 »
Salaamun 'Alaykum
Buku ini sudah pernah dibahas khusus pada DAURAH SALAFY makassar sebelum masuk ramadhan. Intinya adalah isinya BAIK, insya Allah.
saya berharap dan berdo'a semoga ustadz-ustadz salafy semisal Ja'far Umar Thalib, Luqman Ba'abduh, Yazid Jawwas, Jamaluddin Askary, Abu Abdillah Dzulkarnain dan lainnya bisa dipersatukan kembali oleh Allah dalam jama'ah kokoh sehingga dakwah salafy ini semakin menyebar." Kalau Allah menghendaki maka tidak ada sesuatu yang sulit".
Amar-Makassar
"Biarkan Takdir itu mencari jalannya sendiri. Fa idzaa 'azamta fatawakkal 'Alallaah"
BERPIKIR BAHWA KITA BISA ADALAH SATU SOLUSI

Offline Khilafah

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 1.032
  • Ittiba' Salafus shalih
    • Lihat Profil
    • Ittiba' Salafus shalih
« Jawab #11 pada: 09 Oktober 2006, 16:04:34 »
Ana menduga 'tikamannya' ada tiga:

1. Mengkritik Syaikh Rabi'
2. Ada Pujian buat Syaikh Yusuf al-Qaradhawi
3. Artikel Syaikh bin Baz yang membolehkan masuk parlemen
4. ?

silakan..

Offline Abdul Ghafur

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Mar 2007
  • Tulisan: 728
    • Lihat Profil
« Jawab #12 pada: 04 April 2007, 16:41:34 »
@ pak ustad al thalibi
katanya udah bikin buku DSDB 2?
ana dapet bocoran buku ustad malah udah terbit tuh...
betul gak sih?

yg ada informasinya, sharing ke kita ya?
(wah bakal seru lagi neh!)

Offline kriukkriuk

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 273
    • Lihat Profil
« Jawab #13 pada: 04 April 2007, 16:53:57 »
bocoran dr mana pak?
Pengen punya Maktabah Syamilah (Arab): Tafsir, Ulumul Qur'an, Fiqh, Tasawuh, Mushtalah Hadits, Sejarah, Kamus, Ensiklopedi, dsb?
Anda dapat nikmati dalam paket DVD 1800 Kitab + Upgrade ke 2000 kitab
Hub. saya via Private Message.

Offline Abdul Ghafur

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Mar 2007
  • Tulisan: 728
    • Lihat Profil
« Jawab #14 pada: 05 April 2007, 09:25:49 »
bocoran dr mana pak?

kbetulan ane di jakarta. ada temen di penerbitan.
malah katanya bukunya udah ada di senen. cuma ane belom sempet ke sana.