Jawaban Atas Kritik yang Dilontarkan Pengelola Situs Muslim.or.id (Lanjutan)
Catatan Pembuka:
Assalamu’alikum Warahmatullah Wabarakaatuh. Kemarin pagi, 2 Oktober 2006, saya mencoba posting sebuah surat terbuka untuk situs Muslim.Or.Id, di Forum GDI MyQuran. Mula-mula posting-an saya gagal karena karakter melebihi batas maksimum (20.000 karakter). Untuk menyiasati keadaan, saya atur posting-an menjadi 2 bagian, sesuai batas karakter maksimum itu. Kemudian saya coba lagi posting. Namun sayang, berkali-kali saya gagal. Keterangan dari server MyQuran, ada proses yang error. Karena saya tidak bisa berlama-lama menanti, saya tinggalkan upaya itu, meskipun telah mencoba cukup lama. Tidak lama kemudian, datang informasi dari seorang teman (via SMS) yang mengabarkan bahwa postingan saya tampil di Forum GDI MyQuran. Terus-terang saya terkejut, tetapi gembira juga. Semula saya mengira upaya ini akan mengalami hambatan-hambatan, tetapi Alhamdulillah dimudahkan.
Setelah lihat ke Forum GDI ini lagi, ternyata telah masuk dua posting yang sama dari saya. Saya pilih postingan yang belum dikomentari sehingga bisa runut antara bagian pertama dan lanjutannya. Mohon user-user yang sudah memberi komentar di postingan terputus itu, silakan Antum pindah kesini saja.
Akhi, sebenarnya tulisan ini harusnya masuk ke buku, tapi pihak penerbit (Al Hujjah) keberatan, karena alasan nanti bisa lebih menebalkan buku sehingga harga berubah. Ini sudah ana tulis sekitar Maret 2006 lalu, tak lama setelah Muslim.Or.Id membangun opini negatifnya.
Bagaimanapun ini ana anggap sebagai "latihan kedewasaan" saja. Kan selama ini, grup Majalah Syariah atau Grup Majalah As Sunnah & Al Furqan dianggap sebagai kalangan yang "paling Salafy". Ya sekali-kali kita saling berbagi nasehat, tidak harus terus-menerus "memberi" nasehat, biar tidak terjadi tirani dalam kebenaran. Insya Allah sekeras apapun komentar saya kepada Muslim.Or.Id, saya tetap menyediakan ruang toleransi. Mohon tulisan ini dibaca tuntas, terutama bagian paragraf-paragraf terakhir.
Mohon maaf kalau karena proses 'error' yang sempat terjadi, postingan jadi ganda. Mohon admin -entah gimana caranya- bisa mengatur lagi, sehingga bisa rapi dan enak dilihat, tidak perlu ada postingan ganda. Terimakasih untuk semuanya. Mohon maaf atas semua kesalahan dan kekurangan. Selamat shaum Ramadhan, semoga diberi kekuatan lahir dan bathin. Sekaligus saya pamit. Lain kali mampir ke forum GDI MyQuran lagi.
Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.
Berikut ini lanjutan postingan kemarin:
(5) Ketiga, isi buku tersebut sangat tidak ilmiah,… dan memaparkan pandangan-pandangannya yang sangat tidak ilmiah (juga tidak objektif) disertai dengan fakta-fakta yang juga tidak ilmiah,…
Isi buku yang saya tulis disebut sangat tidak ilmiah, di dalamnya terdapat pandangan-pandangan yang sangat tidak ilmiah dan tidak obyektif, juga buku itu didasari fakta-fakta yang juga tidak ilmiah. Ini adalah sebuah penilaian yang sangat negatif, bahkan ia bisa disebut sebagai penolakan keras. Dasar yang dipakai pengelola situs itu adalah kualitas keilmiahan buku saya.
Istilah ilmiah berasal dari kata ilmu (al ilmu). Para ulama mendefinisikan ilmu sebagai idrakus syai’i bi haqiqatih (pengertian tentang sesuatu sesuai hakikatnya). Syaikh Al Utsaimin rahimahullah ketika memberikan syarah atas kitab Tsalatsatul Ushul juga menyebutkan deifinisi ini. Sementara Syaikh Abdurrahman Qasim An Najdiy rahimahullah dalam syarah-nya terhadap kitab yang sama, berkata: “(Al Ilmu) adalah mengenal suatu petunjuk dengan dalilnya. Al Ilmu secara mutlak, maka yang dikehendaki dengannya ialah Ilmu Syar’i, yang mendatangkan manfaat dengan mengetahuinya, dimana hal itu diwajibkan atas setiap mukallaf (setiap Muslim yang telah terbebani hukum Syar’i) dari perkara agamanya.”
Jika merujuk penjelasan di atas, maka suatu pandangan disebut ilmiah jika ia merupakan pandangan yang benar, yaitu sesuai dengan hakikat apa-apa yang dipandangnya. Adapun jika pandangan itu dibangun berdasarkan kekeliruan, kerancuan, atau dusta, maka ia tidak bisa disebut ilmiah.
Adapun parameter kebenaran bagi setiap Muslim adalah Al Qur’an dan Sunnah Shahihah. Hal ini sesuai dengan petunjuk Al Qur’an Al Karim: “Maka jika kamu berselisih pendapat tentang suatu perkara, maka kembalikanlah kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul-Nya (Sunnah Shahihah), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhir.” (An Nisaa’: 59). Al Qur’an dan Sunnah Shahihah merupakan referensi tertinggi ketika terjadi perselisihan. Siapa yang mendasarkan pandangannya kepada keduanya akan mendapati kebenaran, sedang siapa yang menyelisihi keduanya, maka dia berada di atas kesesatan. “Tidak ada sesudah kebenaran itu, kecuali kesesatan, maka bagaimanakah kamu bisa dipalingkan?” (Yunus: 32).
Contoh, seorang budak di jaman Nabi shallallah 'alaihi wa sallam, ketika ditanya dimanakah Allah? Maka dia menjawab, “Di atas langit.” Ini adalah jawaban yang ilmiah, meskipun budak itu tidak menyebutkan satu pun ayat yang memuat penjelasan bahwa Allah bersemayam di atas Arsy. Sebaliknya, teori Evolusi Darwin merupakan pandangan yang tidak ilmiah, meskipun beribu-ribu ilmuwan Biologi berusaha mendukung teori tersebut dengan bukti-bukti yang mereka klaim.
Disini sering muncul kerancuan. Sebagian orang memandang bahwa suatu pandangan disebut ilmiah ialah jika di dalamnya bisa ditemui banyak kutipan pendapat tokoh-tokoh, banyak judul buku yang disebut, banyak catatan kaki, serta terdapat daftar pustaka yang memuat ratusan judul buku rujukan. Dalam dunia akademis, ukuran seperti ini banyak dipakai, termasuk untuk mendukung pemikiran-pemikiran sesat. Tokoh-tokoh Syiah sering menulis buku yang ditujukan untuk kalangan di luar Syiah dengan menerapkan metode yang seolah-olah ilmiah, padahal isinya menyesatkan. Contoh buku sesat yang ditulis seolah ilmiah itu ialah Al Murajaat, karya Sharafuddin Al Musawi, tokoh Syiah di Libanon. Para orientalis dan pemikir liberal juga menempuh cara yang sama. Pemikiran-pemikiran mereka didukung data-data, fakta, kutipan, referensi, dll. seolah mengesankan sesuatu yang benar, padahal hakikatnya adalah bathil.
Sebaliknya, banyak sekali ulama-ulama Ahlus Sunnah yang menulis buku dengan pendekatan sederhana. Disana tidak banyak judul-judul buku yang disebut, kadang hanya disebutkan pendapat ulama tertentu tanpa menyebutkan sumbernya, kadang hanya menyebut, “Qala Rasulullah shallallah 'alaihi wa sallam,” tanpa menyebut imam periwayat haditsnya, bahkan kadang mereka hanya menyebut “Qalallah,” tanpa menyebut alamat ayat yang dituju dalam Al Qur’an. Jika mereka berfatwa, keadaannya bisa lebih sederhana lagi. Kalau Anda membaca kitab Tafsir Ibnu Katsir, disana beliau banyak menyebut pendapat Salafus Shalih radhiyallahu 'anhum. Tapi coba perhatikan, ketika Ibnu Katsir menyebut sebuah pendapat ulama, apakah beliau menyebutkan pendapat itu diambil dari buku apa, jilid berapa, halaman berapa, terbitan mana,dsb.? Ternyata tidak. Begitu pula dengan buku-buku yang ditulis Syaikh Al Imam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah. Buku-buku beliau umumnya ringkas, tidak tebal, tidak berjilid-jilid. Namun pengaruh buku-buku itu –atas nikmat Allah- bagiperbaikan Ummat sangat besar. Hanya Allah saja yang tahu seberapa besar pengaruhnya bagi Ummat ini. Para ulama pun seolah tidak lelah-lelahnya membuat syarah atas buku-buku beliau dalam kitab-kitab ilmiah yang sangat berharga.
Walaupun begitu, Ummat Islam telah memaklumi bahwa buku-buku yang ditulis oleh para ulama dengan metode sederhana itu sebagian besarnya benar (benar dari segi isi dan metodenya). Ummat tidak pernah khawatir, sebab mereka percaya bahwa para ulama rahimahumullah itu adalah sosok-sosok yang kokoh ilmunya, dalam pemahamannya, serta bersih aqidahnya dari penyimpangan.
Bukan berarti metode yang mencantumkan banyak referensi itu keliru, tidak sama sekali. Metode seperti ini sangat dihargai di dunia akademis. Tetapi yang perlu dicermati adalah tidak semua orang berada dalam kelapangan ketika mengemukakan pendapat-pendapat. Kadang ada hambatan-hambatan yang dihadapi, misalnya tidak tersedia buku-buku rujukan, sulit memahami kalimat-kalimat yang rumit, terlupa dengan suatu ayat, hadits, atau pendapat ulama. Juga ada yang sengaja menulis secara sederhana agar memudahkan para pembaca (terutama yang kurang terbiasa dengan kerumitan dalil-dalil) dan tidak membebani dari segi biaya.
Kalau Anda baca buku Luqman Ba’abduh berjudul Mereka Adalah Teroris. Secara metode, buku itu sangat ilmiah, disana terdapat berbagai rujukan buku, takhrij hadits, pendapat ulama, dsb. Tetapi metode itu tidak lantas membuat buku Luqman Ba’abduh sepi dari kritik. Kenyataannya, di tempat-tempat tertentu dia banyak mengutip sumber-sumber yang benar (dari kalangan ulama Ahlus Sunnah), tetapi ketika menggiring ke arah opini, Luqman Ba’abduh banyak melontarkan pikiran-pikirannya sendiri, sehingga kemudian dia terjatuh dalam hal-hal yang sebenarnya sangat diingkarinya. Jika kebenaran sekedar dilihat dari banyaknya referensi dan kutipan, buku Luqman Ba’abduh tersebut pasti lolos.
Sungguh sangat disayangkan ketika ada sebagian orang yang menyebut buku ini dengan istilah sangat tidak ilmiah (diulang sampai tiga kali) dan tidak obyektif. Seolah dalam buku ini terdapat kesesatan-kesesatan yang akan menjerumuskan para pembacanya ke pintu-pintu neraka. Na’udzubillah min dzalik. Lebih ironis lagi ketika orang itu menyebut sangat tidak ilmiah, tanpa didasari alasan yang jelas. Bahkan dia menyebut buku ini tidak obyektif, sementara dia sendiri belum membaca buku ini secara tuntas, sehingga ketika menyebutkan judul dan penulisnya, dia keliru. Coba Anda lihat baik-baik, sebenarnya siapa yang tidak ilmiah dan tidak obyektif? Dalam buku ini saya sebutkan ayat-ayat Al Qur’an, petunjuk hadits-hadits Nabi shallallah 'alaihi wa sallam, pandangan sebagian ulama Ahlus Sunnah, juga disertai penyebutan sumber-sumber data yang saya ketahui. Jika semua itu dianggap tidak ilmiah, lalu apa kata kita tentang sebuah paragraf pendek (dari Muslim.or.id), kering dari dalil, berisi tahdzir kasar yang bisa menjatuhkan nama baik orang lain? Ya, Anda bisa menjawabnya sendiri.
Kalau Anda membaca artikel Ustadz Muhammad Arifin, MA. yang berjudul Bahtera Dakwah Salafiyah di Lautan Indonesia, dan artikel yang ditulis Ustadz Abdullah bin Taslim yang berjudul Menjawab Tudingan Pada Dakwah Salafiyah dan Konsultasi Ustadz: Fitnah Sururiyyah! Disana Anda akan mendapati bahwa beberapa hal yang saya kemukakan dalam buku ini,juga dikemukakan oleh ustadz-ustadz tersebut. Karena alasan itu pula saya sengaja mengutip sebagian isi tulisan-tulisan beliau. Bahkan kalau dilihat dari sisi fakta-fakta seputar gerakan dakwah kelompok Salafy tertentu, maka buku ini lebih baik dari artikel-artikel itu, sebab di dalamnya dimuat fakta-fakta tertulis sebagaimana yang ada di media-media. Apa yang diutarakan Ustadz Muhammad Arifin atau Ustadz Abdullah Taslim umumnya berupa fakta kesaksian pribadi.
Bagi sebagian orang, mereka akan memberi maaf atas kekurangan tokoh-tokohnya, tetapi tidak mau memberi toleransi sedikit pun atas kekurangan saudaranya yang lain. Ya, tidak mengapa, setiap orang akan memikul amal-amalnya sendiri.
(6) …dia (Abdurrahman Al Thalibi -mungkin maksudnya “Abdurrahman At-Thalibi”) membagi salafi di Indonesia menjadi 2 (Yamani dan Haroki)
Kalimat dari pengelola situs itu yang berbunyi, (Abdurrahman Al Thalibi -mungkin maksudnya “Abdurrahman At-Thalibi”), ini diulang sampai dua kali. Padahal seandainya dia menulis sekali saja, itu sudah cukup. Entahlah, apa maksudnya pengulangan kalimat ini dengan redaksi 100 % sama dengan kalimat yang disebutkan di bagian sebelumnya.
Saya menduga, pengelola situs itu menuduh buku ini sangat tidak ilmiah dan tidak obyektif berdasarkan alasan kalimat di atas. Dia tidak setuju atau tidak terima dengan pembagian Salafy di Indonesia menjadi dua, yaitu Salafy Yamani dan Salafy Haraki (bukan Haroki). Disini saya akan coba menjawab tuduhan di atas secara runut, yaitu sebagai berikut:
1. Pembagian Salafy di Indonesia menjadi Salafy Yamani dan Haraki bukanlah tujuan inti dari buku ini. Ia hanya sebagian fakta yang tidak mungkin diabaikan ketika kita hendak melihat sepak-terjang Salafiyun mantan Laskar Jihad dari berbagai sisi. Mohon perhatian kita diarahkan ke maksud awal buku ini, yaitu menasehati sebagian orang yang bersikap keras dalam dakwah Islam.
2. Coba perhatikan kalimat dari situs itu…dia (Abdurrahman Al Thalibi) membagi salafi di Indonesia menjadi 2 (Yamani dan Haroki). Sungguh, sejak awal buku sampai akhirnya, saya tidak pernah sama sekali melakukan pembagian Salafy seperti yang dituduhkan tersebut. Itu adalah kesimpulan dari penuduh sendiri. Kalimat yang saya gunakan dalam buku ini ialah, “Selama ini muncul kesan kuat bahwa komunitas Salafiyah di Indonesia terpecah dalam dua kelompok besar yang satu sama lain saling ‘bermusuhan’.” (Lihat kalimat pertama di bab Antara Salafy Yamani dan Haraki, di hal. 20).*) Bagi orang-orang berakal, mereka pasti memahami bahwa kalimat tersebut maknanya adalah indikasi (tampak tanda-tanda), bukan klasifikasi (pembagian secara tegas). Akhiy, bagaimana mungkin saya berani membagi-bagi komunitas Ahlus Sunnah seperti yang Engkau tuduhkan? Malah kalau kalian membaca benar-benar buku ini, kalian akan tahu bahwa sejak awal saya telah meminta maaf jika pemilihan istilah-istilah yang ditempuh dalam buku ini tidak memuaskan pihak-pihak yang disebut. (Lihatlah kembali bagian Metode Penetapan Istilah, pada hal.5-7).
*) Kalimat selengkapnya dalam paragraf tersebut ialah: “Selama ini muncul kesan kuat bahwa komunitas Salafiyah di Indonesia terpecah dalam dua kelompok besar yang satu sama lain saling “bermusuhan”. Satu kelompok ialah Salafy Yamani yang merupakan kelanjutan dari Laskar Jihad di masa lalu, dan mereka merupakan jaringan para dai Salafy yang berafiliasi kepada syaikh-syaikh Salafy di Yaman dan Timur Tengah. Sedang satu kelompok lagi ialah Salafy Haraki, yaitu dakwah Salafiyah yang menerapkan sistem pergerakan (harakah).” (Hal. 20).
3. Penyebutan istilah Haraki dalam buku ini memiliki asal-usul. Referensi terbanyak yang saya gunakan ketika memahami Sururiyyah, bersumber dari media-media yang dikelola Salafy fraksinya Umar As Sewed, terutama dari situs salafy.or.id. Sedangkan disana, berbagai kalangan Salafy dimasukkan dalam kategori Sururi, termasuk pihak-pihak yang tidak ada hubungan dengannya. Ustadz-ustadz Salafy yang selama ini dikenal di Indonesia, baik yang berdomisili di Yogyakarta, Solo (grup majalah As Sunnah), Jakarta,Bogor, Gresik, Bandung, Surabaya, bahkan sampai yang di Makasar, mereka disebut Sururi. Padahal di antara ustadz-ustadz itu ada yang membantah keras Sururiyyah. Kalangan Ihyaut Turats Al Islamy tidak suka jika disebut sebagai Sururi, seperti pengakuan Syarif bin Muhammad Fuad Hazza yang telah disebutkan sebelumnya (hal. 34-36). Penyebutan yang ditempuh oleh fraksinya Umar As Sewed inilah yang kemudian saya pilih, meskipun untuk menyatukan berbagai elemen Dakwah Salafiyah di luar kelompok mereka dalam satu sebutan (yaitu Sururi), tidaklah tepat. Tetapi penyatuan sebutan ini lebih memudahkan,daripada menyebut berbagai elemen Salafiyah dengan sebutan masing-masing.
Adapun ketika dipilih istilah Haraki, hal itu dimaksudkan untuk menjangkau kalangan yang lebih luas, meskipun pada akhirnya ada yang tidak suka dengan penyebutan tersebut.
4. Menyebut Ustadz Mubarak Bamuallim, Ustadz Abdurrahman At Tamimi, serta ustadz-ustadz di Yogya, Solo, Jakarta, Bogor, Gresik dan yang selainnya sebagai Haraki tidaklah tepat. Setahu saya, mereka hanya membina majlis taklim, melaksanakan daurah, mengelola media, mengelola lembaga pendidikan dan sejenisnya. Sangat sulit untuk mengatakan bahwa mereka terlibat aktif dalam tanzhim Salafy Haraki.
Namun untuk menyebut mereka bebas sama sekali dari hubungan dengan Salafy Haraki, hal itu juga tidak mungkin. Ustadz-ustadz yang tersebut di atas dikenal memiliki hubungan baik dengan Ihyaut Turats Al Islamy. Sejak lama, lembaga Al Irsyad Al Islamy menjalin hubungan baik dengan Ihyaut Turats. Saya sendiri pernah membaca sebuah versi Al Qur’an dan Terjemahnya, dari Depag. RI yang dicetak atas kerjasama Al Irsyad dengan Ihyaut Turats Al Islamy. Disana ada kata pengantar dari mantan Ketua Umum PP Al Irsyad, Ustadz Geys Amar, dalam bahasa Arab yang menjelaskan bahwa penerbitan Al Qur’an dan Terjemahnya itu atas kerjasama dengan pihak Ihyaut Turats Al Islamy. Kalau ustadz-ustadz di atas terlibat aktif dalam tanzhim Haraki, mungkin tidak, tetapi kalau bekerjasama baik (misalnya dalam penyaluran dana bantuan sosial dan dakwah), hal itu jelas terjadi. Begitu pula dengan dai-dai Salafy yang selama bertahun-tahun mendapat dukungan dana dari sebuah lembaga dakwah Salafiyah di Jakarta Selatan.
5. Barangkali sebagian kalangan Salafy tidak suka disebut sebagai Haraki, tetapi jika melihat kenyataan di lapangan, eksistensi Salafy Haraki sendiri tidaklah bisa ditutup-tutupi. Bahkan versi dan pola Harakah Salafiyah itu sendiri bermacam-macam. Disana ada Al Muntada Al Islamy, Ihyaut Turats Al Islamy, Al Wahdah, Darul Birr, dan HASMI. HASMI sendiri secara tegas menyebut diri sebagai Harakah Sunniyyah Islamiyyah. Di luar nama-nama tersebut, mungkin masih ada nama-nama lain yang luput disebutkan. Seluruh Harakah Salafy rata-rata membawa missi dakwah menyebarkan ajaran Tauhid dan Ittiba’ Sunnah. Hal inilah yang membuat mereka dengan mudah dikenal sebagai Salafy (Ahlus Sunnah). Meskipun, dari sisi pemikiran, kebijakan,dan praktik dakwah, mereka memiliki perbedaan-perbedaan. Keberadaan Harakah Salafy memiliki kontribusi besar dalam penyebaran Dakwah Salafiyah di Indonesia, meskipun sebagian orang merasa kelu untuk mengakui kontribusi tersebut.
Pada intinya, penyebutan istilah Haraki itu memiliki latar-belakang, yaitu untuk mengganti istilah Sururi yang banyak dipakai Salafiyun mantan Laskar Jihad untuk menyebut elemen-elemen Dakwah Salafiyah di luar kelompok mereka. Meskipun, pada kenyataannya,ada di antara elemen-elemen Salafiyah yang tidak suka dengan istilah tersebut. Seandainya mereka benar-benar tidak suka, maka hal itu tidak bisa menjadi dalih untuk mengingkari keberadaan Harakah Salafy dan kontribusi mereka dalam Dakwah Salafiyah di Indonesia.